medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

CEPF: Kawasan Wallacea, Pusat Biodiversity Dunia Yang “Mutlak” di Konservasi

Published in Nasional
Rabu, 11 Juni 2014 17:01
  • Email
Biodiversity laut kawasan perairan Wallacea (gambar:istimewa) Biodiversity laut kawasan perairan Wallacea (gambar:istimewa)

Medialingkungan.com - Wallacea adalah kawasan biogeografis yang mencakup sekelompok pulau-pulau dan kepulauan di wilayah Indonesia bagian tengah, terpisah dari paparan benua-benua Asia dan Australia oleh selat-selat yang dalam.

Kawasan Wallacea memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Wilayah yang mencakup kawasan Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara ini sebagai zona transisi yang terkurung oleh laut dalam, terpisah dari Asia ataupun Australia.

Sejak tahun 2000 sebuah organisasi global Critical Ecosystem Partnership Fund (CEPF) yang mendukung masyarakat sipil dalam melestarikan ekosistem penting yang terancam mengkaji daerah Wallacea sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia.

 “Hal itu dimulai dengan analisis Conservation International, yang pada tahun 2000 menentukan kriteria apakah sebuah wilayah masuk hotspot keanekaragaman hayati atau tidak,” jelas Pete Wood, ketua tim Studi Profil Ekosistem Wallacea.

Di seluruh dunia tak kurang ada 35 hotspot keragaman hayati yang sekaligus juga terancam keberadaannya. “Salah satu patokannya, kawasan itu telah kehilangan 30 persen habitat aslinya,” lanjut Pete saat ditanyai di Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Pete melakukan studi dengan berbekal keberadaan jenis-jenis yang terancam punah. Salah satu tujuan pokok program CEPF ini untuk menghindari kepunahan berbagai spesies penting.

“Otomatis, agar kita tahu di mana tempat paling mendesak dan paling terancam adalah mengetahui jenis-jenis yang di ambang kepunahan,” tegasnya.

“sehingga, kita beranjak dari data-data jenis yang terancam punah.”

Daftar itu mengacu kriteria IUCN (persatuan konservasi dunia) yang menyusun Daftar Merah (Redlist) spesies dengan berbagai kategori: kritis, rentan, dan terancam punah. Dari analisis itu, terdapat 558 spesies yang terancam punah, yang sebagian ada di Wallacea. “Sebagian yang lain ada di luar cakupan Wallace, tapi juga kita perhatikan.”

Tahap selanjutnya adalah menyusun lokasi-lokasi keberadaan spesies tersebut yang terancam. Pete menuturkan kalau ingin menyelamatkan spesies yang terancam punah, informasi itu tidak cukup. “Kita harus tahu persis suatu spesies berada di kawasan mana, di sungai mana, atau di gunung mana.”

Lantaran itulah, Pete mengindentifikasi lokasi-lokasi penting itu, yang kemudian menjadi daerah penting bagi keanekaragaman hayati (key biodiversity area/KBA) Wallacea. “Jadi, pada dasarnya KBA adalah kawasan yang memiliki sedikitnya satu populasi spesies yang terancam punah,” terangnya.

Berdasarkan data-data yang diperoleh tim medialingkungan.com hasilnya ada sekitar 393 kawasan penting bagi keanekaragaman hayati di wilayah tersebut. “Ada 251 lokasi di daratan dan di perairan 68 kawasan. Tapi ada tambahan 74 lokasi.

Di Laut Banda misalnya terdapat 35 lokasi KBA, seluas 5,16 juta hektare. Sementara itu, di Halmahera ada 14 lokasi, seluas 471,2 ribu hektare; kawasan Sunda Kecil 56 lokasi, seluas 214,3 ribu hektare, dan Selat Makassar 20 lokasi, seluas 1,6 juta hekater dan Teluk Tomini, 8 lokasi, seluas 447 ribu hekater. Untuk kawasan KBA di daratan meliputi luas 8,7 juta hektare atau 25% wilayah Wallacea. (MFA)

 

 

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini