medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Gempa di Aceh Berpotensi Gempa Susulan?

Published in Nasional
Sabtu, 10 Desember 2016 20:19

Medialingkungan.com – Gempa 6.5 SR yang menguncang Aceh pada (7/12) kemarin menyisakan duka mendalam khususnya masyarakat di dua Kabupaten yang terkena dampak paling parah yaitu Kabupaten Pidie Jaya dan Kabupaten Bireun. Gempa yang mengguncang Aceh pada pukul 05.03 tersebut berpusat di 18 km timur laut Pidie Jaya dengan kedalaman gempa 15 km. Analisis BMKG mengatakan gempa tersebut berasal dari aktifitas sesar lokal mendatar (strike-slip-fault) dan berpotensi adanya gempa susulan hingga dua sampai tiga hari kedepan.

Daryono, Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG melaporkan bahwa potensi gempa susulan tersebut ada, namun kekuatannya kecil dan tak ada potensi gempa susulan yang besar. Berdasarkan data BNPB, sudah terjadi gempa susulan sebanyak 12 kali hingga kemarin (9/12) sampai pukul 08:15 WIB. Namun Daryono menegaskan bahwa, gempa yang cukup kuat tersebut tidak akan berpengaruh terhadap lempengan lain di Sumatera. Untuknya, Ia menghimbau agar warga tetap tenang dan tak terpancing isu yang beredar.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Moch Riyadi, seperti yang dikutip dari Mongabay mengatakan bahwa gempa tersebut termasuk dalam kategori dangkal. Dugaan kuat sesar aktif gempa tersebut adalah sesar Samalanga-Sipopok Fault-jalur sesar kearah barat daya-timur laut dengan analisis peta tingkat guncang menunjukkan bahwa dampak gempa tersebut akan dirasakan oleh 9 daerah yaitu Busugan, Meukobrawang, Pangwabaroh, Meukopuue, Tanjong, Meukobrawang, Pangwabaroh, Angking dan Pohroh.

Kamis malam (8/12) Presiden Jokowi mengatakan bahwa penanganan terhadap korban bencana gempa Pidie Jaya sudah sangat baik dan sudah mencapai 99% proses evakuasi. Jokowi juga mengatakan akan langsung melihat kebutuhan yang diperlukan terutama terkait dengan perbaikan pemukiman dan fasilitas sosial. Ia mengatakan bahwa yang paling penting saat ini adalah evakuasi penanganan korban dirumah sakit.

Gubernur Aceh sendiri menetapkan status Tanggap Darurat Bencana terhadap tiga Kabupaten yaitu, Pidie Jaya, Pidie dan Bireun hingga 20 Desember 2016. Hingga Kamis pukul 09.00 korban meninggal dilaporkan mencapai 102 jiwa, 700-an orang luka-luka dan 10.000 santri yang terkena dampaknya. Ia memperkirakan korban akan terus bertambah, mengingat masih ada warga yang tertimbun reruntuhan.

Saat ini sudah ada ribuan personil Tim SAR, BPBD Aceh, Polri, PMI Tagana (Taruna Siaga Bencana) Aceh, TNI, relawan dan masyarakat yang berfokus pada pencarian dan penyelamatan korban. Kepada wartawan, Gubernur Aceh mengungkapkan fakta bahwa sekitar 429 rumah rusak, 105 ruko roboh dan 14 mesjid, 6 musholah, 1 sekolah, 3 bangunan dan RSUD Pidie mengalami rusak berat. Kerusakan terparah dialami oleh Kabupaten Pidie Jaya.

Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (PNBP) membenarkan bahwa pemerintah masih lemah dalam implementasi tata ruang pada zona merah peta rawan rencana. Banyaknya korban akibat gempa disebabkan oleh reruntuhan bangunan. Untuk itu, bangunan tahan gempa sangat penting di zona merah (rawan) gempa.

Ia juga mengungkapkan bahwa kesadaran masyarakat akan peta rawan bencana juga sangat minim. Banyak infrastruktur baik di Aceh maupun diwilayah lain belum memiliki rumah tahan gempa. Masyarakat terkendala dalam masalah biaya. Rumah tahan gempa 30-50% lebih mahal dibandingkan dengan bangunan biasa. Untuk itu Sutopo menganjurkan adanya aturan dana insentif untuk membuat bangunan tahan gempa, utamanya bagi mereka yang berasal dari kelas menengah kebawah. (Suterayani)

Informasi terbaru gempa Aceh dalam bentuk infografis (Sumber: Badan Nasional Penangguan Bencana)

 

Sri Sultan HB X: Perawatan dan Peremajaan Pohon Sangat Penting Untuk Antisipasi Bencana

Published in Nasional
Rabu, 23 November 2016 15:27

Medialingkungan.com – Di Yogyakarta dan Bantul, Senin (21/11) petang kemarin, terjadi hujan lebat dan angin kencang. BPBD DIY mencatat ada 46 kejadian pohon tumbang, reklame roboh dan kerusakan fasilitas pribadi atau umum di Yogyakarta dan Bantul.

Untuk mengantisipasi hal serupa terjadi, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan HB X mengingatkan pentingnya perawatan dan peremajaan pohon berusia tua untuk mengantisipasi pohon tumbang saat terjadi hujan lebat disertai angin kencang.

Sultan berharap instansi terkait dapat melakukan peremajaan pohon dengan melakukan penebangan pohon apabila diketahui telah berusia tua dan keropos serta mengganti dengan tanaman yang baru.

Masyarakat juga dihimbau untuk meningkatkan kewaspadaan karena setiap memasuki masa peralihan musim dari hujan ke musim panas memang kerap muncul angin puting beliung karena DIY dikelilingi Gunung Merapi Gunung Sewu, serta Pegunungan Menoreh.

Sementara itu, mengenai kesiapan bantuan dana tanggap bencana alam, Sultan mengatakan, telah tersedia di masing-masing pemerintah Kabupaten/Kota.

"Anggaran untuk bencana ada semua. Kalau mereka (Kabupaten/Kota) tidak mampu, baru kami bantu," kata Sultan di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, dikutip dari Antara.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY Krido Suprayitno menyatakan pihaknya akan memantau secara "real time" terhadap lokasi-lokasi yang terkena bencana untuk mengetahui perkembangan atau kondisi di lapangan sedini mungkin sebagai bagian dari mitigasi. (Andi Wahyunira)

 

NU Gelar Pelatihan Pengurangan Resiko Bencana Di Wajo

Published in Nasional
Selasa, 06 September 2016 11:21

Medialingkungan.com – Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) bekerja sama dengan Departmen of Foreign and Trade (DFAT) Australia melakukan pelatihan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dan Participatory Disaster Risk Assessment (PDRA) untuk masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana di di Gedung PKK, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Pelatihan ini berlangsung selama empat hari, mulai 2 September 2016 sampai 5 September 2016.

Pelatihan yang ini diikuti oleh 30 peserta yang berasal dari berbagai institusi, diantaranya LPBI NU Kabupaten Wajo, Banom NU, BPBD, PMI, tokoh masyarakat, PKK, LSM kebencanaan/lingkungan, tokoh pemuda/karang taruna, lembaga pendidikan/guru, dan pelaku usaha kecil & menengah. Mayoritas peserta merupakan masyarakat Desa Salomenraeng. 

Desa Salomenraleng dipilih sebagai lokasi praktek pelatihan dengan pertimbangan bahwa desa ini memiliki risiko tinggi terjadi bencana banjir. Hampir setiap tahun di Desa Salomenraleng terjadi banjir akibat luapan air dari Danau Tempe. Danau tempe mengalami sedimentasi 5-7 cm setiap tahun, dan menjadi potensi ancaman banjir terutama saat musim hujan.

Menurut Kepala Pelaksanan Harian BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kabupaten Wajo, Drs. H. Alamsyah, M.Si. dalam sambutannya bahwa potensi kejadian bencana di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami peningkataan. Dalam kurun waktu 2012-2015, terjadi angin putting beliung 396 kali, banjir 289 kali, longsor 240 kali, dan erupsi gunung berapi 5 kali. Di Kabupaten Wajo, pada tahun 2016, sudah terjadi 3 kali banjir, yaitu pada Bulan Februari, Mei dan Juni.

“Rangkaian bencana yang terjadi seharusnya tidak membuat putus asa, tetapi justru menggerakkan berbagai pihak terkait bencana di Kabupaten Wajo merumuskan solusi untuk menanggulangi bencana melalui pendekatan pengurangan risiko bencana,” ujarnya.

Dalam Pelatihan PRB dan PDRA ini sedikitnya akan dibahas 7 materi, meliputi: Konsep dasar manajemen risiko bencana; Kebijakan dan sistem Penanggulangan Bencana; Daur bencana dan tahapan dalam penyelenggaraan Penanggulangan Bencana; Kajian risiko partisipatif dan pengorganisian komunitas; Kajian Analisis Bencana (Ancaman, Kerentanan, Kapasitas, dan Risiko Bencana) dan Tindakan PRB; Pendekatan Kajian/Analisis Pengurangan Risiko Bencana dengan Teknik Participatory Disaster Risk Assessment (PDRA); dan Menakar risiko bencana partisipatif.

“Dengan adanya pelatihan PRB dan PDRA ini, mudah-mudahan dapat menambah wasasan dan melahirkan tindakan reaksi yang akan dijadikan isu sentral penyusunan pembangunan daerah, baik di tingkat desa maupun tingkat kabupaten/kota. BPBD Kabupaten Wajo sangat mengapresiasi dan memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan ini. Diharapkan rekomendasi dari pelatihan ini dapat disampaikan kepada BPBD untuk dijadikan bahan Penyusunan Penyelenggaraan PB,” tambahnya.

Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta diharapkan memiliki pemahaman tentang konsep dan pengertian dasar penanggulangan bencana dan pengurangan risiko bencana, dan mampu menjelaskan upaya PRB secara komprehensif. Serta diharapkan pula peserta mampu menyusun kajian risiko bencana dengan teknik PDRA dan memiliki kemampuan dasar dalam menyusun rencana aksi pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat.  (Muchlas Dharmawan)

Gempa di Jepang dan Ekuador, Ilmuan : Indonesia Juga Berpotensi Kena

Published in Internasional
Rabu, 20 April 2016 18:18

Medialingkungan.com – Dunia digemparkan oleh bencana gempa yang terjadi beberapa hari terakhir. Di Jepang, berpusat di Prefektur Kumamoto Pulau Kyushu, gempa telah terjadi dua kali. Pertama pada Kamis (15/04) yang berkekuatan 6,2 Skala Richter (SR), dan dalam kurun waktu 28 jam kedepan terjadi gempa kedua dengan kekuatan yang lebih besar, yaitu 7,4 – 7,8 SR. Gempa ini menewaskan 41 orang tewas, dan ribuan orang lainnya cedera.

Selang beberapa jam setelah gempa kedua di Jepang, terjadi lagi gempa di Negara Ekuador dengan kekuatan 7,8 SR. Gempa ini menewaskan sekitar 413 orang dan juga sebabkan sekitar 2527 orang terluka. Kerusakan yang terjadi sangat luas, selain merusak rumah warga gempa tersebut juga menghancurkan infrastruktur seperti jembatan di selatan Guayaquil yang berjarak sekitar 300 km dari pusat gempa.

Kedua wilayah gempa tersebut dipastikan masuk dalam kawasan Cincin Api atau Ring of Fire. Wilayah Cincin Api ini merupakan pertemuan antar lempeng, utamanya lempeng pasifik. Kawasan ini membentang sepanjang 40ribu km, mulai dari Pantai Barat Amerika Selatan, Amerika Utara, Kanada, Semenanjung Kamtschatka, Jepang, Indonesia, Selandia Baru dan kepulauan Pasifik Selatan.

Untuk wilayah Indonesia yang juga termasuk dalam kawasan cincin api, gempa tak bisa di hindari. Indonesia termasuk daerah rawan gempa bumi karena dilalui oleh jalur pertemuan 3 lempeng tektonik, yaitu: Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik.

Seperti yang di lansir Kompas.com Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Daryono mengatakan, "Dibanding Ekuador, ancaman gempa subduksi lempeng lebih besar dialami Indonesia yang seolah dikepung generator gempa dari berbagai arah”.

Para ilmuan yang termasuk dalamnya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), tim ahli Institut Teknologi Bandung (ITB), dan BKMG memprediksi adanya potensi gempa dengan kekuatan 9 SR di wilayah Mentawai, Sumatera Barat dan juga bagian selatan Jawa tak luput dari ancaman gempa dengan perkiraan kekuatan gempa 8,2 – 8,8 SR. {Suterayani}

Peranan Agama Dalam Perubahan Iklim

Published in Nasional
Minggu, 16 Agustus 2015 13:45

Medialingkungan.com – Terjadinya perubahan iklim membuat sejumlah pemerintah hingga ilmuan melakukan penanganan yang intensif agar mengurangi dampak perubahan iklim yang terjadi di muka bumi. Untuk itu, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsudin mengungkapkan dengan melalui jalur pendekatan agama penting dalam menanggulangi berbagai persoalan yang terjadi.

“Kenapa melalui jalur agama? Karena hampir seluruh manusia di dunia adalah pemeluk suatu agama oleh karenanya pendekatan agama menjadi penting dalam menyelesaikan persoalan perubahan iklim dan lingkungan,” kata Din Syamsuddin.

Ketu MUI ini mengatakan, kesadaran akan pentingnya pendekatan agama juga sudah disadari oleh dunia internasional dalam beberapa tahun terakhir karena melihat agama memiliki peran besar terutama karena masalah lingkungan ini terkait dengan budaya.

“Pun demikian juga dengan agama,” ujarnya, seperti yang dikabarkan republika, Minggu (16/08).

Tetapi, 'senses of crisis' dari masyarakat nusantara tidak terlalu tinggi sehingga penanganan masalah lingkungan hidup dan perubahan iklim yang membutuhkan kerja sama semua pihak kurang berjalan baik, tuturnya.

“Belum begitu mengena sense of crisis, karena kita kini dininabobokan oleh cuaca yang masih aman-aman saja hingga saat ini. Tapi, kita tidak tahu kedepannya bagaimana,” ucapnya.

Posisi Indonesia memang terasa stabil jika dibandingkan dengan negara lain seperti Jepang, India, Pakistan atau dan lain sebagainya, namun beberapa waktu belakangan suhu di Indonesia mengalami peningkatan yang cukup drastis, katanya. (Angga Pratama)

Dampak El Nino, Petani di Provinsi Banten Gulung Tikar

Published in Nasional
Kamis, 13 Agustus 2015 10:10

Medialingkungan.com – Musim Kemarau yang melanda sejumlah wilayah Indonesia mengakibatkan kekeringan dan kurangnya pasokan air bersih buat petani. Salah satu wilayah yang terkena dampak tersebut yaitu Provinsi Banten, sejumlah petani harus kehilangan mata pencaharian mereka dikarenakan kurangnya pasokan air dan kondisi lahan yang sulit digarap.

Menurut Sekretaris Komisi 5 DPRD Banten, Ade Rossi Khaerunisa mengungkapkan, kekeringan menjadi pemicu social dan melemahnya perekonomian yang terjadi di Banten. Selain itu, para petani yang seharusnya bisa menikmati hasil tanamannya, terancam gulung tikar.

“Diprediksi kekeringan makin meluas dan akan berakhir pada akhir tahun ini. Luas wilayah di Banten yang terkena dampak kekeringan yaitu 11.335 hektare,” kata Ade Rossi, seperti yang diberitakan Liputan6.

Dia menjelaskan penanganan bencana kekeringan di Banten harus melibatkan banyak sektor, karena puncak kekeringan akan terjadi pada bulan September-oktober mendatang. “Penanganan ini mesti lintas sektoral guna menangani bencana tersebut,” ucapnya.

“Saat ini kami sudah berkoordinasi dengan Distanak, Disnaker, dan Dinsos dalam penanganan pengangguran, pengemis, dan gelandangan yang disebabkan oleh El Nino,” tambahnya. (Arif Hidayat)

Hujan Ekstrim di Kashmir Renggut 17 Nyawa

Published in Internasional
Selasa, 31 Maret 2015 23:29

Medialingkungan.com – Hujan lebat disertai dengan longsor di wilayah Kashmir, India, pada Selasa (31/03). Intensitas hujan dikhawatirkan menimbulkan banjir bandang di bagian utara pegunungan negara tersebut.

Seperti yang diberitakan Reuters, sebanyak 15 orang tewas ketika longsor terjadi di desa Ledhan, sekitar 40 km dari ibukota Srinagar, terjadi sebelum fajar pada hari Senin.

Sementara itu,dua lainnya tewas dalam banjir bandang di wilayah lain dari Kashmir.

Beradsarkan keterangan polisi setempat dikatakan bahwa hujan ekstim ini sudah merenggut 17 jiwa secara keseluruhan.Aparat kepolisian dibatu tentara dan warga sekitar terus berupaya mencari korban yang masih hilang akibat tertimbun reruntuhan.

"Kami masih mencari satu orang lagi yang masih tertimbun," kata Fayaz Ahmad Lone, inspektur polisi setempat.

Ratusan orang terpaksa meninggalkan rumah mereka ketika sungai utama Kashmir mulai meluap dan ramalan cuaca memprediksikan hujan lebat akan terjadi di daerah yang dilanda banjir tujuh bulan yang lalu itu.

Berdasarkan studi Badan Meteorologi Tropis Institut Indiadari data 50 tahun terakhirdikatakan bahwa India mengalami curah hujan lebih ekstrim akibat perubahan iklim global.Beberapa bulan terakhir merupakan bulan terbasah dala kurun waktu satu abad.

Selain itu, dalam beberapa pekan terakhirditemukan banyak kasus petani yang bunuh diri akibat frustasi. Hal ini disebabkan kerusakan tanaman pertanian, sehingg para petani ini gagal memanen padi-padinya. (Mirawati)

Praktisi Lingkungan Dunia Desak Keputusan Iklim PBB Pertimbangankan Krisis Imigrasi Global

Published in Internasional
Sabtu, 14 Maret 2015 13:54

Medialingkungan.com – Bulan lalu para pengamat dan praktisi bidang lingkungan di dunia beramai-ramai berkomentar mengenai muculnya video beruang kutub yang sangat memilukan, terengah-engah jalan di atas gunung es.

Menurut para aktor gerakan lingkungan ini, beruag kutub merupakan potret ukuran bahwa perubahan iklim saat ini berada pada posisi darurat. “Bukan hanya bagi beruang namun juga umat manusia,” ujarnya pada VOA.

“Perubahan iklim kemungkinan menyebabkan jutaan orang mengungsi. Perubahan iklim tidak hanya berdampak bagi beruang kutub tapi juga bagi hidup umat manusia karena bisa menyebabkan jutaan orang terpaksa mengungsi dari tempat tinggalnya.”

Mereka juga menekankan, krisis imigrasi yang membayangi manusia akibat perubahan iklim harus dimasukkan dalam kesepakatan iklim dunia di Paris, Desember mendatang. Untuk itu, mereka mendesak para negosiator yang sedang merancang kesepakatan tersebut agar menyertakan ketentuan-ketentuan yang ditujukan untuk mencegah migrasi massal dengan membantu komunitas yang rentan terhadap resiko itu untuk beradaptasi dengan realitas iklim baru.

Sementara itu, penasihat khusus Direktur Perlindungan Internasional di Badan Pengungsi PBB (UNCHR), Jose Riera mengatakan, beruang kutub menjadi gambar yang paling mewakili perubahan iklim di bumi.

“Beruang kutub hidup di es laut. Dengan menghangatnya atmosfir bumi, habitat beruang kutub menurun. Mereka tidak bisa berburu di perairan yang terbuka, dan mereka sekarat, kadang-kadang tenggelam ketika mencoba mencari gumpalan es yang menghilang.”

UNHCR telah membantu 46,3 juta pengungsi, orang-orang yang tidak mempunyai negara, orang-orang yang kembali ke negara mereka, dan para pengungsi dalam negeri. Banyak dari mereka yang terkonsentrasi di wilayah yang terkena dampak perubahan iklim di seluruh dunia.

Riera mengungkapkan, migrasi yang berkaitan dengan iklim dan pengungsian akan menimbulkan tantangan besar di masa yang akan datang. Para pejabat UNHCR juga menambahkan bahwa tidak banyak waktu lagi untuk mengatasi masalah-masalah penting yang dikemukakan oleh jutaan imigran akibat perubahan iklim yang terpaksa membuat mereka pergi dari dari tempat tinggalnya.

“Kami berharap pihak-pihak yang berkepentingan akan mengakui bahwa perubahan iklim memang faktor penentu dalam mobilitas manusia dan kemungkinan besar akan meningkatkan populasi pengungsi bila tidak ada tindakan konkrit yang diambil," kata Riera.

"Pesan kedua yang penting adalah mendorong Amerika Serikat untuk mengambil langkah-langkah untuk mencegah dan mengatasi pengungsian dalam konteks perubahan iklim, termasuk melalui strategi adaptasi."

Pusat Pengawasan Pengungsian Internal (IDMC) yang berkantor di Geneva, Swiss, mencatat, jumlah orang-orang yang terpaksa mengungsi akibat bencana alam. “Trennya tidak kelihatan bagus,” seloroh Direktur IDMC, Alfredo Zamudio.

“Bukti-bukti yang kami miliki menunjukkan bahwa sejak tahun 1970 sampai 2013, resiko terkena dampak pengungsian internal telah meningkat dua kali lipat," sampung Zamudio.

"Pada tahun 2013 hampir 22 juta orang mengungsi ke setidaknya 119 negara, hampir tiga kali lipat jumlah orang-orang yang terpaksa mengungsi akibat konflik dan kekerasan di tahun yang sama."

Sejak 2008, ketika pusat pengawasan itu mulai memonitor pengungsian, 160 juta orang telah mengungsi di 161 negara. Resiko tertinggi adalah di Asia di mana negara-negara secara berkala terkena topan, banjir dan gempa bumi.

Para ilmuwan setuju pengungsian akan meningkat di beberapa dekade mendatang karena naiknya permukaan air laut dan pemanasan global meningkatkan frekuensi dan intensitas peristiwa-peristiwa cuaca yang ekstrim. (Fahrum Ahmad)

WFP Beberkan 8 Fakta Hubungan Bencana Alam dan Kelaparan via Twitter

Published in Internasional
Kamis, 12 Maret 2015 21:30

Medialingkungan.com – World Food Programme (WFP) atau Program Pangan Dunia melakukan kampanye menggunakan media sosial, twitter, pada tanggal 9 Maret 2015 lalu. Organisasi yang didirikan oleh Food and Agriculture Organization (FAO) pada tahun 1960 ini rupanya tak ingin ketinggalan dalam memanfaatkan pesatnya pekembangan teknologi informasi saat ini. Dalam kampanyenya, WFP mengangkat tema ‘8 Facts On Disasters, Hunger and Nutrition’ atau 8 Fakta Pada Bencana, Kelaparan dan Gizi. Hal ini dilatar belakangi oleh risiko besar yang menimpa masyarakat akibat bencana alam, yang salah satunya penyebabnya adalah perubahan iklim.

Sesuai dengan temanya, kedelapan fakta yang ditulis ini antara lain, (1) Lebih dari 80 persen orang di dunia berada pada kondisi 'rawan' pangan dan orang-orang ini mayoritas tinggal di negara-negara yang memiliki potensi besar tejadi bencana alam dengan risiko kerusakan lingkungan yang parah. (2) Lebih dari 10 pesen populasi dunia (980 juta orang) berpenghasilan kurang dari US $ 1,25 atau Rp 16.468 (Kurs Rupiah hari ini: 1$ = Rp13.175) per hari untuk daerah pedesaan, di mana mereka sangat bergantung pada sektor pertanian dan menghadapi risiko bencana alam.

(3) Pada tahun 2050, kelaparan dan kekurangan gizi pada anak bisa meningkat hingga 20 persen akibat dari bencana terkait perubahan iklim. (4) Lebih dari 20 persen atas variasi risiko tersebut berada di negara-negara berkembang yang ditentukan oleh faktor lingkungan, terutama kekeringan. (5) Studi dari Bangladesh menunjukkan peningkatan angka anak yang kurus dan kurang gizi setelah dilanda banjir, yang dikarenakan kurangnya asupan makanan, akibat sulitnya memberikan penanganan yang tepat pada makanan yang telah terkontaminasi.

(6) Di Filipina, selama dua dekade terakhir, angka kematian bayi meningkat 15 kali lipat dalam 24 bulan pasca peristiwa angin topan yang terjadi di wilayah tersebut, dan kebanyakan dari korban itu adalah anak-anak perempuan. (7) Kekeringan memiliki dampak yang besar pada keanekaragaman makanan, dan akan mengurangi konsumsi makanan secara keseluruhan Di Niger, tanpa memandang dari tempat kelahiran mereka, dan anak yang lahir selama musim kemarau 2x lebih rawan mengalami kekurangan gizi pada usia antara 1 dan 2 tahun.

Dan (8) Kelaparan tidak bisa dihilangkan dalam hidup kita tanpa membangun ketahanan masyarakat yang rentan terhadap meningkatnya risiko bencana dan perubahan iklim.

Kedelapan temuan ini merupakan informasi penting yang menyangkut hubungan antara bencana dan kelaparan, yang juga merupakan program prioritas utama WFP yang akan dipaparkan pada Konferensi Dunia untuk Pengurangan Risiko Bencana (WCDRR) di Jepang, 14-18 Maret mendatang. (Fahrum Ahmad)

Akibat Kabut Asap, Terumbu Karang Terancam Mati

Published in Nasional
Jumat, 17 Oktober 2014 09:52

Medialingkungan.com – Sekilas, memang tak tampak pengaruh kabut asap yang menyelimuti Kota Padang, Sumatera Barat, terhadap ekosistem bawah laut yang berada di wilayah itu.

Pengamat terumbu karang dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta (UBH), Suparno, pada Rabu (15/10) mengatakan bahwa kabut asap tersebut menyebabkan masuknya cahaya matahari untuk aktivitas fotosintesis terumbu karang menjadi relatif rendah. Di samping itu, mangrove dan padang lamun maupun ekosistim pesisir lainnya akan terkena imbasnya.

"Kami masih ingat, akhir 2000 pernah terjadi kematian masal terumbu karang di perairan laut Sumbar, penyebabnya kabut asap yang menutupi sinar matahari masuk ke laut, sehingga memicu berkembangnya fitoplanton alga merah. Blooming fitoplankton tersebut menyebabkan kematian massal bagi terumbu karang," ujarnya.

Terumbu karang memiliki sensitifitas yang tinggi jika terjadi ketidakseimbangan dalan sebuah ekosistem. Untuk melakukan fotosintesis, zooxanthela pada struktur tubuh terumbu karang membutuhkan cahaya yang cukup untuk memproduksi makanan terumbu karang. Pasalnya, jika terumbu karang tidak disuplai makanan, maka tempat bergantung hidup ikan-ikan ini akan mengalami pemutihan (coral bleaching) hingga akhirnya mati.

Tak hanya itu, kematian terumbu karang juga dipengaruhi suhu dalam air. Untuk batas toleransi suhu terumbu karang berkisar sekitar 30-31 derajat Celcius.

Suparno menyebutkan, dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pertumbuhan terumbu karang itu kembali, sampai saat ini pertumbuhan kembalinya (recovery) baru diperkirakan sekitar 30 hingga 40 persen, jika blooming terjadi lagi, kondisinya akan kembali nol.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa proses pertumbuhannya kembali bisa secara alamiah dan bantuan manusia, salah satu usaha untuk mempercepatnya adalah dengan metode transplantasi, tetapi itu hanya bisa dilakukan pada jenis dan spesies tertentu.

Menurutnya, jika kabut asap sampai hari ini masih berlangsung hingga tiga bulan kedepan, blooming fitoplanton dikhawatirkan dapat terjadi lagi.

Ia mengkhawatirkan pertumbuhan sekitar 10 ribuan transplantasi karang yang dilakukan di UKM Diving Proklamator UBH sejak 2013 yang tersebar di Pulau Sironjong Gadang Kawsan Mandeh, Taman Nirwana dan Pulau Pasumpahan Padang akan terganggu dan mati.

Terhadap bencana asap ini, Suparno sendiri sangat menyayangkan, semua orang hanya mempertimbangkan korelasi asap dengan kesehatan dan ekosistem daratan saja. Sedangkan upaya transplantasi 5000 karang yang berada di Pulau Sironjong Gadang, Kawasan Mandeh, yang dilaksanakan pemuda-pemuda dan masyarakat setempat yang sejauh ini mengalami pertumbuhan yang baik, tak mendapat respon yang baik. (MFA)

Halaman 1 dari 4

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini