medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

WHO: Polusi Udara Bunuh 1,7 Juta Anak Setiap Tahun

Published in Internasional
Rabu, 08 Maret 2017 11:43

Medialingkungan.com - World Health Organization (WHO) menyebutkan sekitar 1,7 juta jiwa anak di bawah usia 5 tahun meninggal dunia setiap tahun akibat polusi udara. Penyebab kematian tersebut diantaranya, air yang tidak bersih, kurangnya sanitasi, praktik kebersihan yang buruk, serta polusi udara indoor atau outdoor.

Menurut laporan WHO, sebanyak 570.000 anak di bawah 5 tahun meninggal setiap tahun akibat infeksi pernapasan terkait dengan polusi udara serta asap di dalam dan luar ruangan. Kemudian ada 361.000 yang meninggal setiap tahun akibat diare dan sanitasi yang buruk, isu kebersihan, dan keterbatasan akses terhadap air minum yang aman. Lalu 270.000 meninggal selama bulan pertama mereka yang itu bisa dihindari dengan meningkatkan sanitasi, akses air bersih, dan mengurangi polusi udara. Lalu sebanyak 200.000 kematian karena malaria yang sebenarnya bisa dicegah dengan mengontrol kembang biak nyamuk serta mengelola air yang lebih baik.

“Lingkungan tercemar sangat mematikan terutama untuk anak-anak,” ujar Direktur Jenderal WHO Margaret Chan seperti yang dilansir oleh Okezone.com

“Organ dan sistem kekebalan tubuh mereka sedang berkembang dan tubuh lebih kecil serta saluran pernafasan belum sempurna membuat mereka sangat rentan terhadap udara dan air kotor,” tambahnya.

Organisasi kesehatan itu juga menjelaskan bahwa peningkatan volume sampah elektronik dari ponsel dan perangkat lain dapat mengekspos racun yang dikaitkan pada penurunan kecerdasan, kerusakan paru-paru, serta kanker. Volume tersebut diprediksi mencapai 50 juta metrik ton pada tahun 2018 atau tumbuh 19 persen dibandingkan tahun 2014.

Untuk mengurangi risiko ini, WHO meminta pemerintah di berbagai negara untuk menekan polusi udara di dalam maupun luar ruangan, lalu melindungi ibu hamil dari paparan asap, juga menyediakan air serta sanitasi bersih.

“Investasi dalam penghapusan bahaya lingkungan terhadap kesehatan, seperti, peningkatan mutu air atau menggunakan bahan bakar bersih, akan menghasilkan manfaat besar bagi kesehatan,” Ungkap salah satu ahli WHO, Maria Neira. {Dedy. M}

Tesco dan Sainsbury Larang Penggunaan Plastik Pada Cotton Buds

Published in Internasional
Jumat, 02 Desember 2016 13:14

Medialingkungan.com - Dua jaringan supermarket terbesar di Inggris telah berkomitmen untuk segera mengakhiri penjualan cotton buds berbahan dasar plastik batang, yang merupakan sampah paling umum ditemukan di toilet negara itu.

Seperti dilansir The Guardian, kedua supermarket tersebut yakni Tesco dan Sainsbury berencana akan menggantikan tongkat plastik cotton buds dengan kertas pada akhir 2017 di produk yang mereka produksi sendiri.

Perusahaan besar lainnya, termasuk Morrisons, Asda dan Boots, saat ini juga sedang mempertimbangkan larangan plastik pada produk itu. Sementara Waitrose, Koperasi-Koperasi dan Johnson telah berkomitmen untuk beralih kekertas batang.

"Kami berkomitmen untuk memastikan semua produk kapas label bud kita sendiri akan dibuat dengan kertas batang, dan hal ini akan dilakukan pada akhir 2017," kata seorang juru bicara Tesco.

Sementara itu, juru bicara Sainsbury mengatakan, "Kami telah bekerja keras untuk meningkatkan produk ini. cotton buds baru kami, dengan 100% batang biodegradable, akan tersedia sebelum akhir 2017."

Natalie Fee, pendiri City to Sea Campaign mengatakan, "Kami senang dengan pengumuman untuk mengganti tongkat pada cotton buds dari plastik ke kertas batang. Langkah ini akan menghentikan jutaan plastik batang berakhir di lingkungan laut setiap tahun dan merupakan kemenangan besar dalam memerangi polusi plastik laut. "

"Ini adalah komitmen besar dari Tesco dan Sainsbury," kata Emma Cunningham di Marine Conservation Society. "Kami menemukan lebih dari 23 (plastik) tongkat cotton bud pada setiap 100 m dari pantai kita dibersihkan pada bulan September. Pesannya jelas, hanya kencing, kotoran dan kertas yang harus pergi ke toilet.”

Sampah plastik dapat ditemukan di sepanjang garis pantai Inggris.  Pencemaran plastik di lautan, dikenal dapat mempengaruhi kehidupan laut karena terbatasnya persediaan makanan dilautan sehingga tak jarang organisme laut akan mengonsumsi limbah plastik tersebut. Orang yang makan seafood juga berpotensi menelan plastik.

Kepala Medis Inggris, November lalu mengumumkan dia akan melakukan investigasi lebih dalam mengenai dampaknya pada kesehatan manusia. (Mirawati)

Afrika Selatan Menjerit Akibat El Nino dan Perubahan Iklim

Published in Internasional
Senin, 28 November 2016 18:34

Medialingkungan.com – Malawi, salah satu dari tujuh negara di Afrika selatan yang berada di ambang kelaparan. PBB mengatakan bahwa Malawi darurat bantuan makanan mengikut Madagaskar, Zambia, Kongo, Zimbabwe, Mozambik dan beberapa tempat lain di Afrika Selatan. Panen jagung yang menjadi harapan mereka telah gagal berkali-kali disebabkan oleh El Nino dan perubahan iklim yang ekstrim.  

Seperti yang dilansir The Guardian, seorang anak 2 tahun bernama Zeka menjeri kesakitan ketika seorang pekerja kesehatan mengukur lingkaran lengannya sementara perawat yang lain memegang kakinya dan menekan dagingnya. Perawat yang memeriksa Zeka mengatakan bahwa Zeka menderita edema, pembengkakan yang diakibatkan oleh kelaparan ekstrim.

Ibu Zeka mengatakan bahwa mereka belum makan selama berhari-hari. Mereka hanya hidup dari buah-buahan liar, bunga lili dan kebaikan dari tetangga mereka.

Selain Malawi, Madagaskar yang juga mengalami hal serupa. David Phiri, Koordinatoor Pangan dan Pertanian PBB yang berbasis di Harare, Zimbabwe mengatakan bahwa ratusan ribu orang berada di ambang kelaparan. Kematian bahkan terjadi dimana-mana dan hal tersebut memerlukan tindakan yang cepat.

Phiri menjelaskan bahwa dari 5 point skala yang ditetapkan oleh lembaga-lembaga bantuan, Madagaskar berada di point 4 dimana point 5 adalah kelaparan. Pihaknya mengatakan bahwa ketakutan paling besar mereka adalah ketika titik-titik kelaparan bertambah.

“Orang-orang telah kehabisan makanan. Jika makanan tidak datang, itu akan menyebabkan masalah serius  seperti pengerdilan masa kanak-kanak yang akan berdampak seumur hidup di kehidupan mereka”, ujar Phiri.

Lebih dari 40 juta orang di Afrika Selatan dan 11 juta di Ethiopia akan membutuhkan bantuan makanan untuk beberapa bulan kedepaan dan puncaknya diperkirakan akan terjadi bulan Januari. Phiri mengharapkan bantuan yang lebih banyak dari bantuan yang ada saat ini. Tapi pihaknya memahami bahwa anggaran donor terbatas dan banyak titik kelaparan yang tersebar di berbagai negara yang juga membutuhkan bantuan makanan. (Suterayani)

Partikel Beracun Polusi Udara Ditemukan dalam Otak Manusia

Published in Informasi & Teknologi
Jumat, 09 September 2016 10:47

Medialingkungan.com - Partikel magnetik menit yang biasanya ditemukan pada polusi udara, kini terdeteksi dalam  jumlah melimpah pada jaringan otak manusia, ungkap sebuah studi yang dilansir oleh The Guardian.

Hasil deteksi partikel jaringan otak dari 37 orang yang tinggal di Meksiko dan di Manchester, UK ditemukan sangat magnetik , sehingga menimbulkan kekhawatiran karena penelitian terbaru menemukan adanya hubungan antara partikel magnetit dan penyakit Alzheimer. Namun, langkah masih jauh untuk membuktikan bahwa partikel polusi udara dapat menyebabkan atau memperburuk Alzheimer.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal Proceedings dari National Academy of Sciences, menambah bukti yang menunjukkan bahwa polusi udara tingkat rendahpun dapat membahayakan kesehatan manusia. Banyak penelitian yang menunjukkan bagaimana polusi berpengaruh buruk pada sistem kardiovaskular, dan dapat menyebabkan penyakit paru-paru dan penyakit jantung. Namun para ilmuwan semakin menyadari bahwa efek dari polusi dapat meluas ke daerah lain seperti otak dan kehamilan .

Para peneliti di belakang studi ini menemukan bahwa magnetit polutan memasuki otak melalui saraf penciuman, saraf yang sama yang menghubungkan hidung dengan otak untuk mencium bau. Partikel yang masuk memungkinkan mereka untuk menyebar dengan mudah ke daerah otak termasuk hipokampus dan korteks serebral- daerah yang terkena penyakit Alzheimer.

Profesor Barbara Maher dari Lancaster University, yang memimpin penelitian, menjelaskan bahwa partikel magnetit dapat merusak otak dan menyebabkan kerusakan sel dan akhirnya kematian sel,- ini merupakan keunggulan dari penyakit neurodegenerative termasuk Alzheimer.

"Kami menemukan untuk pertama kalinya bahwa ada jutaan kristal magnetik kecil di dalam otak manusia dimana seharusnya kristal ini tidak ada," kata Barbara.

"Ini adalah penemuan, dan sekarang yang harus dilakukan adalah pemeriksaan lebih intensif sebagai faktor resiko lingkungan yang potensial yang tidak dapat diabaikan dan waran penelitian lebih lanjut.", tambahnya.

Polusi udara merupakan krisis kesehatan global yang membunuh lebih banyak dibandingkan malaria dan HIV/Aids dan telah lama dikaitkan dengan penyakit jantung, paru-paru dan stroke.  Penelitian terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) lebih dari 80% dari penduduk perkotaan dunia hidup di daerah di mana kualitas udara tidak memenuhi  standar kesehatan. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa polusi udara memberikan kontribusi pada jutaan kematian prematur setiap tahunnya (Mirawati)

Selamatkan Lautan dengan Pelarangan Mikroplastik dalam Kosmetik

Published in Internasional
Kamis, 25 Agustus 2016 19:13

Medialingkungan.com - Butiran mikroplastik khususnya banyak ditemukan di produk untuk peeling wajah. Gunanya agar wajah lebih bersih dan bisa menghilangkan sisik-sisik pada kulit yang tidak diinginkan. Butiran plastik ini lunak dan juga dicampurkan pada pasta gigi. Karena mikroplastik mampu membersihkan tanpa menyerang email gigi. Selain itu mikroplastik juga bisa ditemukan pada lipstik, maskara, dan alas bedak.

Anggota komite audit lingkungan Inggris telah menyerukan larangan dalam waktu 18 bulan setelah mendengar bahwa triliunan potongan-potongan kecil dari plastik terakumulasi di laut, danau dan muara sungai di seluruh dunia, merugikan kehidupan laut bahkan memasuki rantai makanan. 

"Kita perlu dukungan penuh, larangan hukum, sebaiknya di tingkat internasional. Karena polusi tidak mengenal perbatasan. Cara terbaik untuk mengurangi polusi ini adalah mencegah plastik dibuang  di tempat pertama sebelum berakhir di  laut,"  ujar  Mary Creagh Ketua panitia audit.

Seperti yang diberitakan Guardian.com, banyak perusahaan kosmetik besar yang telah berkomitmen secara sukarela untuk meninggalkan microbeads tahun 2020. Namun panitia audit meminta agar larangan skala nasional sebaiknya dimulai dalam waktu 18 bulan,  sehingga memiliki keuntungan bagi konsumen dan industri dalam hal konsistensi, universalitas dan kepercayaan diri.

Microbeads adalah bagian dari masalah yang lebih luas dari microplastics. Ukurannya yang kecil berarti bahwa mereka dapat dicerna oleh kehidupan laut dan memiliki potensi untuk mentransfer bahan kimia ke dan dari lingkungan laut.

Jika seseorang makan enam tiram, kemungkinan mereka akan makan 50 partikel microplastics. Penelitian yang relatif kecil telah dilakukan pada dampak potensial terhadap kesehatan manusia atau ekologi laut.

Sebagian besar plastik yang berada di  lautan adalah potongan besar dari puing-puing (misalnya peralatan memancing, botol dan kantong plastik). Namun, jenis yang dominan dari puing-puing tersebut  berkuantitas microplastics, diperkirakan partikel microplastic 15-51tn telah terakumulasi di laut, dan di garis pantai di seluruh dunia. Mereka juga hadir di lokasi terpencil termasuk  dasar laut dan pada es di laut Arktik.

Richard Thompson, direktur unit penelitian sampah laut internasional di Plymouth University, mengatakan "Microbeads dalam kosmetik merupakan sumber yang dihindari dari microplastic, untuk itu dibentuknya undang-undang akan menjadi langkah awal."

Tamara Galloway, di University of Exeter, setuju. "Polusi dari microbeads adalah masalah yang benar-benar global," katanya. "Arus dapat membawa polusi di lautan itu ke negara-negara jarak jauh dari mana mereka awalnya dirilis. Idealnya, undang-undang untuk mengendalikan mereka harus pada tingkat internasional." {Mirawati}

Jeruk Nipis, Minuman Segar Pelepas Kecanduan Rokok

Published in Informasi & Teknologi
Rabu, 13 April 2016 10:17

Medialingkungan.com – Tak bisa dipungkiri, bagi sebagian besar perokok untuk menghilangkan rasa candu untuk tetap menghisap barang mematikan itu sangat sulit untuk dilakukan. Padahal di tiap-tiap bungkus rokok telah tertera dengan sangat jelas peringatan bahwa merokok dapat menyebabkan kanker, masalah pernafasan, hipertensi, liver, masalah jantung dan paru-paru serta permasalahan kesehatan yang lainnya. Namun, ternyata telah ditemukan cara yang dapat membantu melepaskan diri dari kecanduan merokok.

Jeruk nipis, merupakan salah satu alternatif untuk mengurangi rasa ingin merokok bagi para perokok aktif. Jeruk nipis merupakan buah yang aman dan mudah ditemukan dibandingkan dengan produk pencegah keinginan merokok lainnya.

Selain bermanfaat untuk kecantikan, fakta mengejutkan dari manfaat dari air jeruk nipis ternyata bermanfaat untuk melindungi kesahatan badan diantaranya untuk membersihkan zat kimia yang terdapat dalam rokok. Tidak hanya itu, air jeruk nipis juga dapat membantu Anda untuk menyingkirkan kecanduan rokok.

Hal ini telah dibuktikan dengan banyaknya penelitian diberbagai Negara, salah satunya Universitas Srinakharinwirot, Thailand yang melakukan studi baru yang dapat membantu para perokok lepas dari kecanduaan merokok hanya dengan menggunakan jeruk nipis saja.

Setelah di anaisis melewati alat GC-MS, air jeruk nipis sanggup menurunkan kadar nikotin hingga 70,65 %. Paru-paru yang telah kotor dari bercak-bercak nikotin mampu di bersihkan dengan air jeruk nipis. Tetapi air jeruk nipis disini hanya berperan sebagai alat bantu untuk bisa berhenti merokok.{Andi Wahyunira}

1. Jus Lemon salah satu minuman favorit di Thailand. {travelblog.ticktab.com}

CIFOR Tunjukkan Bukti-bukti Kaitan Hutan dan Penyakit Menular

Published in Informasi & Teknologi
Sabtu, 03 Oktober 2015 10:01

Medialingungan.com – Lembaga Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) baru-baru ini mencium adanya kaitan antara perubahan penggunaan lahan dan wabah infeksi Penyakit Menular (EIDs). Justifikasi ini diiringi peningkatan jumlah penelitian ini yang menuding adanya corong yang menghubungkan keduanya.

Menurut CIFOR, kaitan keduanya bak ‘pistol berasap’ – meskipun tak muncul ke permukaan namun identifikasi menyatakan bahwa EIDs berpotensi besar ditimbulkan dari perubahan penggunaan lahan.

“Ketika tegakkan hutan dibuka, meningkatnya kontak manusia dengan patogen tak dikenal di hutan bisa terjadi. Tetapi menemukan jalur penyebab, bahkan bukti korelasi yang cukup, masih sulit,” lansir CIFOR (25/09).

Tiga perempat EIDS yang dikenali, aslinya bersifat zoonotik, ditransmisikan dari binatang ke manusia. Memahami proses alami dan kejadian kontak binatang-manusia di bawah kondisi sosio-ekologi berbeda tampaknya menjadi prioritas segera.

Memahami faktor penyebab wabah dan munculnya kembali penyakit menular masih menjadi masalah ilmiah paling sulit. “Jurang besar pengetahuan masih ada,” katanya.

Bruce Wilcox dan Rita Colwell, Peneliti Biokompleksitas yang mendalami kemunculan penyakit menular secara holistik mengatakan, kelangkaan informasi disebabkan karena cara pandang terhadap patogen. “Ini hal yang mengkhawatirkan,” sambungnya.

Kedua peneliti ini menawarkan paradigma baru penelitian interdisipliner -- yang menempatkan patogen tidak terisolasi, karena penyakit, masalah lingkungan, selain juga pembangunan ekonomi, pemanfaatan dan tata kelola lahan yang semrawut dan memerlukan solusi lintas-sektor.

“Jadi, untuk mampu memperdiksi di mana EIDs bisa muncul, kita harus memahami bagaimana tingkat reservoar alami dan kecepatan transmisi dipengaruhi oleh faktor lingkungan, fisik, sosial dan ekonomi serta interaksi mereka,” jelasnya.

Penelitian ini juga membantu menemukan apakah proses munculnya penyakit ditengarai perubahan demografi, konsumsi dan produksi sampah populasi manusia dan dampaknya – urbanisasi, ekspansi dan intensifikasi pertanian, dan alterasi habitat hutan.

Penyatuan Puzzle Manusia dan Hutan

Dua sumber informasi terbaru dapat membantu mengawali penyatuan puzlle: pengetahuan mengenai fragmentasi hutan dunia, dan distribusi global EIDs.

Peta resolusi tinggi tutupan pohon global yang baru-baru ini dipublikasikan oleh Joseph Sexton dan kawan-kawan pada 2013 serta timnya Nick Haddad pada 2015 mengungkap bahwa hampir 20 persen sisa hutan dunia hanya berjarak 100 meter ke ujung hutan, dan lebih dari 70 persen hutan dunia berada dalam rentang 1 kilometer ke ujungnya.

Ini menempatkan hutan dalam jangkauan aktivitas manusia, perubahan mikro-iklim, dan spesies non-hutan yang bisa mempengaruhi ekosistem alami.

Kate Jones dan kawan-kawan dalam tulisan Nature (2013), menarik basis data dari ‘kejadian’ EIDs antara 1940 dan 2004, menunjukkan pola global nyata, mayoritas kejadian (71,8 persen) berasal dari alam liar.

“Tetapi, apakah kejadian EID dimungkinkan oleh fragmentasi hutan? Penelitian menunjukkan bahwa EID biasanya merupakan akibat perubahan antropogenik dan demografik, tetapi kekayaan spesies asli alam adalah penduga signifikan munculnya zoonotik EIDs, tanpa peran pertumbuhan populasi manusia, ketinggian atau curah hujan,” tulisnya.

Hutan, Binatang, Ebola

Masalah EIDs, manusia, kondisi hutan dan hewan (khususnya hewan buruan) belum pernah dalam sorotan sejak munculnya penyakit virus Ebola (EVD).

EVD ditularkan kepada manusia dari hewan liar dan penyebaran dalam populasi manusia melalui transmisi manusia-manusia. Penjelasan mengenai mewabahnya EVD beredar, tetapi tidak satu pun yang pasti.

Kaitan antara mewabahnya EVD dan deforestasi diterapkan, dengan entitas seperti Organisasi Kesehatan PBB (WHO) menyatakan (meskipun secara implisit) bahwa hilangnya hutan secara potensial menginfeksi hewan liar dan manusia dalam kontak lebih besar.

Walaupun kontak langsung dengan beragam spesies mamalia, seperti primata non-manusia -- gorila, simpanse dan rusa (transmisi hanya terkait dengan kelompok taksonomi ini) – telah ditunjukkan sebagai penyebab utama lompatan penyakit ke manusia, kelelawar secara khusus sering disebut sebagai reservoar paling memungkinkan untuk virus Ebola.

Baru-baru ini, beberapa peneliti menawarkan --walaupun belum terbukti dalam distrik Gueckedou -- di mana wabah Guinea berawal dari kontak dengan koloni kelelawar pemakan serangga tak-berekor mungkin menjadi penyebab wabah akibat hilangnya hutan.

Walaupun yang lain menentang hal itu karena hutan Guinea atas merupakan mosaik hutan dinamis, savana dan pertanian selama bertahun-tahun, orang di wilayah ini telah lama berkohabitasi dengan kelelawar, tampaknya bukan deforestasi/fragmentasi yang menjadi penyebab mewabahnya EVD.

Mengingat manusia dan kera besar telah lama tinggal bersama kelelawar beratus tahun, menuding gangguan habitat sebagai penyebab utama munculnya virus Ebola dalam spesies ini mungkin terlalu menyederhanakan dan bisa mengabaikan penyebab utama lain yang mungkin ada.

Di lain pihak, wacana yang mengklaim bahwa kecepatan dan ketakterdugaan deforestasi bisa mengarah pada wabah EVD bisa benar.

Tetapi, bagaimana ini bekerja?

Penelitian oleh Yayasan Environmental Resources Management (ERM) menyatakan bahwa fragmentasi hutan mengubah dinamika gerakan alam liar dalam hutan terfragmentasi; hutan terfragmentasi seringkali adalah wilayah dengan lebih banyak orang, jadi kontak antara manusia dan reservoar potensial atau spesies pembawa bisa meningkat.

Penelitian ini juga membandingkan pola fragmentasi hutan di enam lokasi wabah EVD dengan sampel luar wilayah yang dipilih secara acak, menemukan bahwa fragmentasi hutan lebih tinggi dalam lokasi EVD. Kesimpulan penulis laporan ERM dari hasil ini, adalah bahwa fragmentasi hutan, dalam mempengaruhi kebiasaan kelelawar mencari makan dan bersarang, bisa secara tidak langsung bertanggungjawab atas meningkatnya pertemuan kelelawar-manusia, dan akibatnya meningkatkan risiko EVD.

Laporan ERM merekomendasikan fragmentasi habitat mendorong kelimpahan pemangsa lebih kecil (terkait dengan hilangnya fauna berbadan besar), yang jika diburu akan meningkatkan kontak dengan hewan liar.

Penelitian ini merupakan yang pertama secara empirik memeriksa peluang hubungan antara kondisi hutan dan wabah EVD. Tetapi lebih banyak pekerjaan perlu dilakukan, kata penulis itu sendiri.

“Kita harus, tidak hanya meningkatkan sampel lokasi wabah EVD untuk diteliti, tetapi juga menguji rangkaian hipotesis alternatif untuk menginvestigasi apakah faktor tunggal atau beragam terkait wabah EVD,” jelasnya.

Jam berdetak dan ada urgensi saling mengetahui lebih dalam jika memang ada kaitan antara wabah Ebola virus dan deforestasi/fragmentasi hutan, konsumsi hewan buruan dan menangani daging hewan liar.

Para peneliti mengatakan, jika kaitan ini tervalidasi secara memuaskan, temuan itu bisa menjadi pintu masuk untuk lebih jauh memahami kondisi meningkatnya risiko wabah ebola dan menawarkan strategi mitigasi yang layak. {Fahrum Ahmad}

Cabai, Makanan Pedas untuk Perangi Obesitas

Published in Informasi & Teknologi
Kamis, 20 Agustus 2015 09:22

Medialingkungan.com – Cabai, makanan pedas memegang peranan penting untuk memerangi kenaikan berat badan (obesitas). Hasil penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa cabai memberikan manfaat bagi kesehatan, khususnya seseorang yang memiiki berat badan berlebih.

Para peneliti dari University of Adelaide di Australia menemukan bahwa terdapat reseptor penting yang berada dalam perut manusia yang memberikan isyarat ketika sedang penuh. Reseptor ini disebut reseptor TRPV1, atau dikenal sebagai reseptor cabai pedas yang merespon capsaicin (kapsaisin, red).

Kapsaisin termasuk di dalam Kapsaisinoid, yaitu zat kimia yang menimbulkan rasa pedas yang ada dalam tumbuh-tumbuhan, seperti cabai. Rasa pedas ini muncul karena kapsaisin menciptakan isyarat yang sama bagi otak seperti saat kulit terkena panas.

"Perut membentang ketika penuh, yang mengaktifkan saraf di perut untuk memberitahu tubuh bahwa telah memiliki cukup makanan. Kami menemukan bahwa aktivasi ini diatur melalui cabai atau TRPV1 reseptor panas, "kata Amanda Page, penulis utama studi tersebut, dalam siaran persnya.

"Hal ini diketahui dari penelitian sebelumnya bahwa kapsaisin yang terdapat pada cabai pedas dapat mengurangi asupan makanan pada manusia. Dan apa yang kami temukan bahwa penghapusan reseptor TRPV1 meredam respon saraf lambung untuk meregang sehingga menghasilkan perasaan kenyang dan menunda konsumsi makanan lebih banyak.”

Dengan kata lain, sambung Amanda, cabai mengandung kimia yang secara efektif memberitahu kita untuk berhenti makan -- ini adalah suatu evolusi dari kebiasaan manusia yang sangat bermanfaat, karena menurut beberapa laporan, mengonsumsi cabai secara berlebihan, seseorang akan diberikan pertolongan pertama di ruang rawat inap, bahkan mengakibatkan kematian.

Tantangan bagi peneliti sekarang adalah untuk mengambil apa yang kita ketahui tentang kapsaisin dan interaksinya dengan reseptor TRPV1 di perut manusia, dan melihat potensi aplikasi yang bisa membantu orang menghindari kenaikan berat badan yang tidak perlu.

"Tahap selanjutnya dari penelitian akan melibatkan investigasi mekanisme di balik aktivasi reseptor TRPV1 dengan tujuan mengembangkan terapi yang lebih nyaman," kata Stephen Kentish, penulis kedua paper tersebut, yang diterbitkan dalam jurnal PLoS ONE.

"Tujuannya adalah untuk melihat bagaimana hal ini layak sebagai pengobatan yang potensial, tidak hanya untuk obesitas, tapi mungkin juga dalam pencegahan kenaikan berat badan.”

Ia juga mengatakan, jika seseorang bisa mengambil sesuatu yang membuat mereka merasa kenyang lebih cepat, tentunya hal demikian dapat mencegahnya dari obesitas. (Fahrum Ahmad)

Greenpeace dan Harvard Ungkap Masalah Kematian Akibat PLTU Batubara

Published in Nasional
Kamis, 13 Agustus 2015 13:26

Medialingkungan.com – Greenpeace bersama Harvard mengeluarkan sebuah laporan yang berjudul ‘Ancaman Maut PLTU Batubara’ terkait penyakit dan kematian yang diakibatkan pembangkit listrik tenaga batu bara (PLTU) di Indonesia, Jakarta.

PLTU batubara di Indonesia menyebabkan sekitar 6,500 jiwa kematian prematur setiap tahun. Jumlah ini bisa naik hingga 15,700 jiwa per tahun jika pemerintah Indonesia meneruskan peluncuran rencana ambisius lebih dari seratus pembangkit listrik tenaga batubara yang baru.

Angka-angka mengkhawatirkan ini didasarkan pada model atmosfer baru yang dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Harvard, menggunakan model atmosfer transport-kimia canggih, GEOS-Chem.

“Indonesia berada di persimpangan jalan,” kata Jurukampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Hindun Mulaika, seperti press rilis yang diterima oleh Medialingkungan.

“Presiden Jokowi memiliki pilihan, tetap dengan pendekatan bisnis seperti biasa untuk menghasilkan listrik dan mengambil  kehidupan ribuan orang Indonesia, atau memimpin perubahan dan ekspansi yang cepat untuk energi yang aman, bersih, yaitu energi terbarukan,” lanjutnya.

Hindun menyatakan, laporan tersebut sudah jelas menunjukkan polusi batubara yang berdampak pada kehidupan rakyat Indonesia. “Masyarakat mengalami pendek usia akibat penyakit stroke, serangan jantung, kanker paru-paru, gangguan pernapasan dan yang memprihatinkan kematian pada anak-anak,” ucapnya.

Laporan ini diluncurkan menyusul pengumuman baru oleh Presiden Jokowi untuk membangun tambahan 35GW pembangkit listrik baru, dimana sebanyak 22GW diantaranya akan datang dari pembangkit listrik batubara.

Sementara itu, Profesor Shannon Koplitz dari Harvard mengungkapkan, emisi dari pembangkit listrik tenaga batubara membentuk partikel dan ozon yang merugikan kesehatan manusia. Indonesia adalah salah satu negara di dunia dengan rencana terbesar untuk memperluas industri batubara, namun sedikit yang telah dilakukan untuk mempelajari dampak kesehatan yang ditimbulkannya.

Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa ekspansi batubara yang direncanakan secara signifikan dapat meningkatkan tingkat polusi di seluruh Indonesia. Biaya kesehatan manusia dari meningkatnya polusi batubara ini harus dipertimbangkan ketika membuat pilihan tentang masa depan energi Indonesia.

Sementara itu ahli batubara dan polusi udara dari Greenpeace, Lauri Myllyvirta menyatakan, setiap pembangkit listrik berbahan bakar batubara baru berarti berisiko bagi kesehatan orang-orang Indonesia.

“Pembangkit listrik batubara yang diusulkan di Batang saja bisa menyebabkan 30.000 kematian dini melalui masa operasi 40 tahun. Ketika biaya energi terbarukan menurun dengan cepat dan dampak kesehatan yang serius batubara diperhitungkan, menjadi jelas bahwa ekonomi Indonesia akan mendapat manfaat lebih besar dari pengembangan energi terbarukan modern,” tuturnya. (Press Rilis)

Tanaman Anti Kanker Yang Terancam Punah

Published in Informasi & Teknologi
Rabu, 27 Mei 2015 21:01

Medialingkungan.com – Keberadaan Taxus sumatrana, atau Cemara Sumatera yang terancam punah, mestinya Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kehutanan terdorong untuk melakukan langkah konservatif terhadap tanaman tersebut. Hal itu disampaikan oleh San Afri Awang selaku Kepala Balitbang Kehutanan, dia mengungkapkan agar Balitbang segera melakukan penelitian konservasi jenis ini.

“Saya berharap Badan Litbang dapat memberikan kontribusi yang besar dalam pengelolaaan spesies lokal ini melalui riset serta mengetahui kandungan-kandungan bahan aktif didalamnya yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk obat, parfum atau lainnya,” ujar San dalam situs resmi Balitbang Kehutanan.

Tanaman yang tumbuh pada ketinggian 1.400 – 2.800 meter diatas permukaan laut (dpl) ini merupakan jenis tanaman yang paling dicari karena mengandung Taxane atau paclitaxel yang dapat diekstraksi sebagai obat yang sangat mujarab untuk kemoterapi berbagai jenis kanker.

Sementara itu, Asep Hidayat, salah seorang peneliti Balitbang Kehutanan menuturkan paclitaxel yang dikandung Cemara Sumatera itu memiliki efek samping yang kecil, efektif dan efisien dalam membunuh sel kanker sehingga paling popular dan dicari di dunia.

“Paclitaxel ini kemudian dipasarkan dengan nama dagang Taxol® dan hak pemasaran dipegang oleh Bristol-Myers Squibb (BMS) mulai tahun 1991,” jelasnya.

Secara alamiah, penyebaran Taxus meliputi negara Philiphina, Vietnam, Taiwan, Cina, dan termasuk Indonesia. Sedangkan di Indonesia sendiri, jenis ini dapat ditemukan di daerah Sumatera, seperti Gunung Kerinci (Jambi), Kawasan Hutan Lindung Dolok Sibuaton (Sumatera Utara), dan Gunung Dempo (Sumatra Selatan).

Kulit, daun, cabang, ranting, dan akar dari genus Taxus, merupakan sumber Taxane. Namun dalam sebuah buku yang diterbitkan Forda Press yang berjudul ‘Mutiara Terpendam dari Zamrud Sumatra’ menjelaskan bahwa hingga saat ini, tidak banyak informasi yang dapat diperoleh mengenai T. sumatrana yang tumbuh di Indonesia, baik dari segi ekologi maupun silvikultur. (Irlan)

Halaman 1 dari 5

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini