medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Kebijakan Pemerintah Dalam Pengelolaan Sampah Plastik

Published in Nasional
Senin, 11 Juni 2018 03:12

Medialingkungan.com – Siti Nurbaya Bakar, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengungkapkan bahwa pemerintah segera mengeluarkan kebijakan terhadap pengelolaan sampah plastik. Sampah plastik yang umumnya digunakan oleh masyarakat untuk membawa barang belanjaan (kantong belanja), kemasan (packaging) makanan dan minuman, serta pembungkus barang lainnya.

Rencana pengelolaan sampah plastik yang akan dilakukan seperti pada sektor ritel yaitu pengurangan plastik kantong belanja, peta jalan (Roadmap), pengurangan sampah plastik oleh produsen dan konsumen, dan pelaksaan aksi penanganan sampah plastik di sekitar perairan laut.

"Mari kita bersatu dan bertekad untuk kelola sampah plastik bersama-sama. Semoga Tuhan merestui langkah-langkah kita," ujar Menteri Siti Nurbaya seperti yang dilansir oleh Sindo News dalam sambutannya saat memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2018 di Jakarta, Rabu (05/06/2018).  

Dalam peningkatan kelestarian alam, Menteri Siti Nurbaya mengupayakan adanya 3R (Reduce, Reuse, Recycle atau pembatasan, guna ulang, dan daur ulang) dan perlunya upaya kerja sama antar pemerintah atau Pemda dengan masyarakat serta pelaku usaha dalam pengendalian sampah plastik. 

“Hari lingkungan hidup yang bertepatan di bulan Ramadhan hendaknya jadi momentum penambah semangat kita untuk berperilaku adil terhadap lingkungan,” tambahnya.

Di Indonesia terdapat sekitar 16% komposisi sampah plastik dari total timbunan sampah secara Nasional. Dan dari total timbunan sampah tersebut hanya sekitar 10 – 15% yang telah di daur. Di TPA tertimbun sekitar 60-70%, dan 15 – 30% yang belum di kelola dan tercemar ke lingkungan perairan seperti sungai, danau, pantai, dan laut.

Salah satu pendekatan yang dilakukan dalam pengelolaan sampah yaitu pendekatan “circular economy” yang saat ini KLHK sedang membuat tiga pilot projects pengembangan sampah kemasan yang melibatkan beberapa pihak yaitu pemerintah, produsen, bank sampah, industri daur ulang, masyarakat, sektor informal (pelapak, dan pengepul. (Nurul Fadilah)

Sungai Citarum Tercemar, 130 Perusahaan Dijatuhi Sanksi

Published in Nasional
Minggu, 03 Juni 2018 04:16

Medialingkungan.com – Citarum yang malang, Citarum yang menjijikan. Tahun telah berganti, namun sampah dan limbah kiriman yang datang seolah tak pernah berhenti.

Program Gerakan Citarum Bersih, Sehat, Indah dan Lestari yang digaungkan pemerintah sejak tahun 2013 silam meleset dari target. Harapannya, ditahun 2018, air sungai Citarum dapat diminum. Tetapi, sampai saat ini kualitasnya belum memenuhi baku mutu air yang telah ditetapkan, sehingga tidak memungkinkan untuk dikonsumsi.

Banyaknya sampah dengan kondisi bau busuk menjadi salah satu penyebab sehingga air pada sungai sepanjang 300 kilometer di Pulau Jawa ini belum layak untuk dikonsumsi. Belum lagi limbah dari pabrik yang dengan bebas membuang limbahnya ke sungai. Semua menumpuk jadi satu disepanjang sungai ini.

Sebanyak 130 Perusahaan dijatuhi sanksi akibat terbukti melakukan pencemaran lingkungan karena dengan sengaja membuang limbahnya ke sungai Citarum. Perusahaan tersebut dipandang tidak mengindahkan Undang-undang No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Walikota Cimahi, Ajay M Priatna menyebutkan jumlah itu berasal dari data yang tercatat di Dinas Lingkungan Hidup kota Cimahi. Sanksi tersebut terbagi dalam tiga kategori, yakni sanksi sengketa lingkungan sebanyak 35 perusahaan, sanksi pengawasan sebanyak 69 perusahaan, dan closing sanksi sebanyak 26 perusahaan.

Ajay menjelaskan untuk 35 perusahaan yang terkena sanksi sengketa lingkungan hidup, telah di limpahkan ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Statusnya 13 perusahaan sepakat membayar ganti rugi kerusakan lingkungan, 8 perusahaan tidak menyepakati ganti rugi kerusakan lingkungan, 12 perusahaan diberikan status administraif, 1 perusahaan sedang proses mediasi dan 1 perusahaan sudah pailit.

Sejauh ini masih banyak perusahaan yang nakal, dengan membuang limbah secara langsung ke sungai tanpa melalui proses IPAL yang baik. Jika instruksi Presiden tidak digubris maka akan ada penindakan hukum yang tegas.

“Hukumnya bisa pidana, karena landasannya sudah kuat dengan perintah dari presiden langsung,”  ujar Ajay seperti dilansir oleh Sindonews.com. (Tarmizi)

Mengenal Pentingnya Koridor Hidupan Liar

Published in Informasi & Teknologi
Sabtu, 02 Juni 2018 13:41

Medialingkungan.com – Tahun 2016, Dirjen KSDAE telah menetapkan pedoman penentuan koridor hidupan liar sebagai kawasan ekosistem esensial. Penentuan dan pengelolaan Koridor Hidupan Liar sangat diperlukan dalam upaya perlindungan dan pengawetan satwa liar di luar kawasan konservasi.

Berdasarkan gap analisys keterwakilan ekologis kawasan konservasi di Indonesia tahun 2013, diperkirakan sekitar 80% keanekaragaman hayati yang bernilai penting berada di luar kawasan konservasi. Oleh karena berbagai upaya telah diusahakan oleh berbagai pihak untuk menjaga keutuhan keanekaragaman hayati di Indonesia. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah, khususnya KLHK, yaitu pengelolaan koridor hidupan liar.

Peraturan Dirjen KSDAE nomor 8 Tahun 2016 menerangkan bahwa Koridor Hidupan Liar adalah areal atau jalur bervegetasi yang cukup lebar, baik alami maupun buatan yang menghubungkan dua atau lebih habitat atau kawasan konservasi atau ruang terbuka da sumberdaya lainnya, yang memungkinkan terjadinya pergerakan atau pertukaran individu antar populasi satwa atau pergerakan faktor-faktor biotik sehingga mencegah terjadinya dampak buruk pada habitat yang terfragmentasi pada populasi karena in-breeding dan mencegah penurunan keanekaragaman genetik akibat erosi genetik yang sering terjadi pada populasi yang terisolasi.

“Selain bertujuan untuk restorasi dan proteksi keanekaragaman hayati, pengelolaan Koridor Hidupan Liar memiliki keuntungan lain seperti mereduksi erosi, memperbaki kualitas air, menghasilkan habitat lokal, dan menjaga iklim setempat,” ujar Hadi S Alikodra seperti dilansir Republika.co.id.

Sampai saat ini, pengelolaan koridor hidupan liar telah banyak diupayakan diberbagai daerah karena dianggap penting bagi keutuhan keanekaragaman hayati, seperti pengelolaan KEE koridor Orang Utan di Bentang Alam Wehea-Kelay Kalimantan Timur, pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial Koridor Gajah di Bentang alam Kerinci-Seblat Bengkulu, pengelolaan KEE koridor Satwa Grup Sawit BGA Kalimantan Barat.

Diharapkan pengelolaan Koridor Hidupan Liar dapat memberi manfaat lebih terhadap konservasi keanekaragaman hayati di negeri ini.  (Wardiman Mas’ud)

Habitatnya Diganggu; Kebiasaan Bekantan Berubah!

Published in Nasional
Rabu, 29 November 2017 20:53

Bekantan (Nasalis larvatus) merupakan satwa endemik dari kalimantan yang belakangan ini menjadi bahan penelitian Universitas Mulawarman bersama Tim Ecology and Conservation Center for Tropical Studies (Ecositrop) selama empat tahun. Mulai tahun 2013 hingga sekarang tim ecositrop memasang camera trap pada berbagai titik untuk melihat pergerakan bekantan. Kawasan yang dipasangi camera trap seperti kawasan perkebunan sawit, pertambangan, hutan tanaman industry (HTI), kawasan konservaasi, termasuk kawassan lindung di Kalimantan Timur.

Namun, dari hasil tangkapan camera trap kini ada yang berbeda dari kebiasaan bekantan. Dahulu,  mereka bergerak dan hidup dari pohon ke pohon, sekarang mereka terlihat bergerak diatas permukaan tanah.

“Perubahan perilaku dari arboreal (bergerak diatas tajuk pohon) ke terestrial (bergerak di atas permukaan tanah) akan membawa beberapa konsekuensi terhadap terganggunya kelestarian populasi bekantan,” ujar Yaya Rayadin, peneliti dari Universitas Mulawarman Samarinda dilansir Kaltim Post

Ironisnya beberapa dari mereka tertangkap camera trap berada di kawasan perkebunan sawit, HTI,dan kawasan reklamasi tambang, padahal kawaasan ini dikenal bukan sebagai habitat bekantan.

“Bekantan merupakan satwa endemik Kalimantan dan hanya tersebar di beberapa tipe mangrove dan rivian (kiri-kanan sungai),” tambah yaya dilansir republika.co.id

Populasi bekantan yang hanya hidup di Pulau Kalimantan ini sangat miris sekarang keadaannya akibat habitatanya rusak, seperti menipisnya kawasan hutan mangrove dan adanya pembangunan di daerah rivian. Bekantan yang sumber pakan mereka habis dan tajuk satu dan tajuk lainnya tidak lagi terhubung membuatnya mulai menyesuaikan diri terhadap perubahan tersebut dengan mengubah kebiasaannya menjadi terestrial. (Ira Anugerah A)

Kalkun Liar “Teror” Warga AS

Published in Internasional
Kamis, 23 November 2017 15:59

Medialingkungan.com - Masyarakat yang berada di wilayah pinggiran Amerika Serikat baru-baru ini mengaku telah ‘diteror’ oleh sekelompok burung kalkun liar. Kalkun dilaporkan mengganggu lalu lintas di New York  Barat, memecahkan genteng milik warga di Sacramento, serta mengejar seorang anak dan anjingnya di Cambridge. Jenis burung kalkun liar yang dilaporkan menyerang warga di pinggiran AS bukan jenis yang biasa diburu, sehingga tidak menganggap manusia sebagai acaman.

“Burung-burung tersebut mencari daerah terbuka seperti derah berumput dan lapangan golf. Semua tempat terbuka tersebut bagus untuk kalkun liar. Daerah pinggiran adalah habitat yang cukup bagus,” kata Mark Hatfield, Direktur Conservation Administration For The Turkey Federation seperti yang dilansir The Washington Post, Rabu malam (22/11/17).

Bersamaan dengan hal tersebut, National Wild Turkey Federation dan para peneliti mengungkapkan bahwa populasi burung kalkun liar di AS secara bertahap menurun. Pada tahun 2004, populasi kalkun liar mencapai 7  juta spesies dan menurun mencapai 6 juta spesies pada tahun 2014. Pembangunan yang mengambil alih habitat kalkun dan meningkatnya predator menjadi akibat penurunan spesies tersebut.

‘Konflik’ antara manusia dan kalkun ini dilihat oleh Michael Chamberlain, seorang Profesor Manajemen Ekologi dari Universitas Georgia, sebagai sebuah akibat dari pembangunan yang dilakukan oleh manusia. “Dalam 20, 30 dan 40 tahun terakhir, manusia telah mengekspansi hutan secara luas, merusak dan memotong menjadi potongan kecil,” kata Chamberlain. (Suterayani)

Superkatalis: Cara Baru Mengubah Gas Rumah Kaca

Published in Internasional
Selasa, 21 November 2017 17:19

Medialingkungan.com - Para ilmuwan menerangkan bagaimana mereka membuat katalis berbasis nikel tinggi yang diperkuat dengan timah dan cara untuk mengubah CO2 dan CH4 menjadi gas sintesis yang digunakan untuk menghasilkan bahan bakar dan berbagai bahan kimia yang bernilai. Hal ini diterbitkan dalam sebuah studi oleh Applied Catalysis B: Environmental.

Proyek katalis baru dan hemat energi merupakan bagian dari proyek the Engineering and Physical Sciences Research Council’s Global Research. Proyek ini sedang mencari cara untuk menekan dampak pemanasan global di Amerika Latin. Penelitian ini telah membuat Universitas Surrey mengajukan paten untuk golongan ‘supercatalysts’ baru untuk daur ulang CO2.

Menurut Global Carbon Project yang dilansir dari sciencedaily.com menerangkan bahwa, emisi CO2 global mengalami peningkatan pada 2017 untuk pertama kalinya dalam empat tahun, dengan output karbon yang terus bertambah rata-rata tiga persen tiap tahunnya sejak 2006.

Selagi teknologi penangkapan karbon sudah lazim, hal ini bisa memakan biaya, dan dalam kebanyakan kasus, akan memerlukan kondisi ekstrim dan tepat agar prosesnya berhasil. Diharapkan katalis baru ini akan membantu membuat teknologi ini semakin banyak tersedia diseluruh industri, dan lebih mudah dan murah untuk diekstraksi dari atmosfer.

“Ini adalah proyek yang sangat menarik dan kami yakin telah mencapai sesuatau yang dapat memberi dampak nyata pada emisi CO2,” kata Dr. Tomas R. Reina dari Universitas serrey dilansir dari sciencedaily.com.

“Tujuan kita semua mengejar ilmuwan iklim adalah cara untuk membalikkan dampak gas berbahaya diatmosfer kita - teknologi ini, yang dapat melihat gas-gas berbahaya tersebut tidak hanya dikeluarkan, namun diubah menjadi bahan bakar terbarukan untuk digunakan di negara-negara miskin,” lanjutnya.

Profesor Harvey Arellano-Garcia, Kepala Riset Departemen Teknik Kimia di Universitas Surrey menyatakan bahwa, dengan menggunakan CO2 dengan cara ini merupakan alternatif untuk metode penangkapan karbon tradisional yang dapat memberikan dampak yang cukup besar terhadap kesehatan planet kita. “Kami sekarang mencari mitra yang tepat dari industri untuk menggunakan teknologi ini dan mengubahnya menjadi proses yang mengubah dunia,” tegasnya. (Khalid Muhammad)

Manggala Agni Manfaatkan Limbah jadi Sumber Energi

Published in Nasional
Senin, 20 November 2017 17:19

Medialingkungan.com - Manggala Agni Daerah Operasi Ketapang Kalimantan Barat manfaatkan limbah hasil penyiapan atau pembukaan lahan menjadi cuka kayu. Hasil temuan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pupuk, briket arang dan juga gas sebagai sumber energi pengganti LPG (Liquified Petroleum Gas). 

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan), Raffles B. Panjaitan mengungkapkan bahwa kebakaran hutan dan lahan yang kerap terjadi di Indonesia dan tahun 2015 menjadi pembelajaran yang sangat berharga. Pasca kebakaran hutan terparah pada tahun 2015, menjadi momentum bagi bangsa Indonesia untuk terus melakukan berbagai upaya menuntaskan permasalahan tersebut.

“Pembukaan lahan masih menjadi penyebab utama kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Oleh karena itu, perlu diciptakan inovasi-inovasi yang mendukung pada upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan,” ujarnya.

Raffles menambahkan bahwa pembuatan cuka kayu, briket arang, dan juga pengolahan gasifikasi dapat dikembangkan di masyarakat untuk menjadi solusi bermanfaat sekaligus diharapkan dapat menekan potensi kebakaran hutan dan lahan. Hasil-hasil olahan ini dapat dimanfaatkan untuk keperluan masyarakat itu sendiri atau dapat menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat. 

Pemanfaatan limbah hasil pembukaan lahan menjadi cuka kayu ini merupakan implementasi arahan Presiden dalam Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Tahun 2017. Presiden Republik Indonesia memberikan arahan bahwa upaya pencegahan karhutla harus tetap dilakukan dengan sinergi dari semua pihak dan dilakukan sedini mungkin sebelum terjadi kebakaran karena ketika sudah terjadi kebakaran, akan sulit untuk dipadamkan.

Pengembangan teknik penyiapan lahan tanpa bakar dan berbagai upaya pencegahan karhutla lainnya terus dilakukan di wilayah Indonesia untuk menekan tingkat kerawanan karhutla. Di Kalimantan Barat Sampai dengan tanggal 18 November 2017 ini, jumlah hotspot di wilayah ini sejumlah 639 titik, menurun drastis jika dibandingkan tahun 2016 periode yang sama yaitu 1.550 titik. Begitu juga luasan kebakarannya. Hasil perhitungan citra satelit sampai dengan September 2017, luas kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Kalimantan Barat 7.440 ha dimana angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya seluas 9.174 ha. (Dedy)

OJK Wadahi Investor Peduli Lingkungan

Published in Nasional
Sabtu, 18 November 2017 14:09

Medialingkungan.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah menyiapkan aturan terkait Obligasi Hijau (Green Bond) yang ditargetkan akan rampung dan terbit akhir tahun 2017 ini. Green bond ini merupakan obligasi yang memenuhi unsur kepedulian lingkungan secara berkelanjutan. Pembiayaan melalui green bond sendiri dialokasikan untuk proyek-proyek yang memiliki pengaruh dan mengurangi dampak pencemaran lingkungan, misalnya sektor energi, yang pembiayaannya diarahkan ke energi yang sumbernya tidak berdampak pada polusi sehingga akan mengurangi emisi di bumi.

Seperti dilansir Merdeka.com, Hoesen selaku Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK menjelaskan bahwa green bond ini dilatarbelakangi dari meningkatnya perhatian dunia terhadap isu-isu lingkungan hidup, semisal global warming. Dampaknya adalah para investor kemudian menjadi lebih spesifik dalam mencari emiten yang akan dibeli sahamnya, dengan melihat keberpihakan lingkungannya.

"Investor itu cari emiten yang punya keberpihakan pada lingkungan atau sustainability dari lingkungan. Mereka hanya mau membiayai proyek yang punya keberpihakan pada lingkungan," ujar Hoesen saat berdiskusi dengan awak media di Kantor OJK, Jum’at (17/11/17), dikutip dari Merdeka.com.

Green bond ini kedepan diharapkan dapat memberikan kepastian kepada pengusaha, terutama yang bisnisnya ramah lingkungan bahwa sahamnya pasti dibeli di pasar saham. "Bisnisnya misalnya perkebunan dengan berwawasan lingkungan. Ada standarnya, kayak di sawit ada RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil). Jadi ada kebutuhan investor yang menekan pelaku-pelaku bisnis itu, kalau mau fund racing kalau saya jual harus ada yang beli," tambah Hoesen.

Meskipun tidak dijelaskan secara rinci terkait poin-poin yang ada dalam aturan tersebut, Hoesen mengatakan dalam peraturan mengenai green bond akan ada persyaratan atau standar untuk menentukan apakah perusahaan atau proyek itu benar-benar berpihak pada lingkungan hidup.

"Nanti ada beberapa insentif juga. Ditambah beberapa persyaratan untuk sertifikasinya bahwa dia dinyatakan, mana yang berpihak pada lingkungan. Jangan hanya bilang saya peduli lingkungan tapi nyatanya tidak," katanya. (Muchlas Dharmawan)

Bunga Langka Di Bengkulu Ditemukan dalam Keadaan Rusak

Published in Nasional
Jumat, 10 November 2017 20:27

Medialingkungan.com - Rafflesia sp. bunga langka dan dilindungi kembali ditemukan dalam keadaan rusak di beberapa titik yang menjadi habitatnya di wilayah Kabupaten Bengkulu Utara dan Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu.

"Satu lokasi habitat kembali kami temukan, calon bunga dalam kondisi rusak karena dipotong-potong orang tak bertanggungjawab," ujar Koordinator Komunitas Peduli Puspa Langka (KPPL) Bengkulu Utara, Riki Septian, Jumat (10/11/17) seperti yang dilansir oleh Antara News.

Riki mengatakan, beberapa hari sebelumnya satu lokasi bunga Rafflesia sp. di hutan lindung Boven Lais juga ditemukan rusak dengan kondisi beberapa bonggol terpotong-potong. Perusakan bunga langka ini menurutnya dilakukan dengan sadar dan sengaja oleh orang tak bertangungjawab.

"Kami belum tahu siapa pelaku dan motif mereka merusak bunga langka yang menjadi aset wisata Bengkulu ini," tambahnya.

Koordinator KPPL Bengkulu Utara tersebut berharap kasus ini segera ditindak oleh aparat hukum baik dari polisi maupun polisi kehutanan sebab bunga Rafflesia merupakan flora dilindungi. Ia menambahkan, hutan lindung tersebut merupakan ‘Rumah’ terakhir bagi dua jenis Rafflesia sp. yakni Rafflesia gadutensis dan Rafflesia arnoldii.

Sementara itu, pengelola habitat bunga Rafflesia di Bengkulu Tengah, Ibnu Hajar mengatakan dalam satu tahun, lebih dari delapan lokasi habitat bunga langka itu dirusak orang tak bertanggungjawab.

"Kalau tidak ada tindakan dari aparat penegak hukum maka bunga Rafflesia sp. akan tinggal kenangan," ujar Ibnu.

Habitat dan keberadaan puspa langka ini menjadi salah satu andalan Provinsi Bengkulu untuk mendatangkan wisatawan ke daerah bengkulu, termasuk untuk menyukseskan program tahunan ‘Visit Wonderful Bengkulu 2020’.

Sejauh ini telah teridentifikasi empat jenis Rafflesia sp. di kawasan hutan Provinsi Bengkulu yakni Rafflesia bengkuluensis, Rafflesia arnoldii, Rafflesia gadutensis dan Rafflesia hasselti. (Dedy)

Permandian Hutan: Tren Baru Penduduk Jepang Mencari Ketenangan

Published in Informasi & Teknologi
Jumat, 10 November 2017 16:16

Medialingkungan.com - Jepang memiliki cara baru  terapi untuk melepas kehidupan urban yang padat penduduk dan aktivitas. Forest Bathing (Permandian Hutan) atau oleh orang jepang dinamakan “Shinrin Yoku” adalah kegiatan berjalan-jalan ke hutan. Kegiatan ini dilakukan demi mendapatkan ketenangan dalam diri.

Forest Bathing atau Shinrin Yoku merupakan istilah yang secara resmi diciptakan pada tahun 1982 dan mengacu pada gagasan 'perendaman di atmosfer hutan' dan hubungannya dengan peningkatan kesehatan dan kesejahteraan.

Permandian hutan bukan hanya tentang menghabiskan waktu di alam, atau tentang hiking atau mendaki gunung. Lebih dari itu, Shinrin Yoku akan mengajarkan Anda bahwa hasil akhir bukanlah yang terpenting, melainkan upaya fokus menuju suatu tujuan.

Tidak sembarang hutan dapat menjadi tempat Shinrin Yoku, hutan harus memenuhi kriteria seperti kemampuan hutan untuk memuaskan lima indra. Suara air yang bergerak atau bisikan angin menembus pepohonan, nuansa lumut atau rumput lunak dan aroma hutan yang kuat.

Selain itu, Shinrin yoku membutuhkan seorang dengan kemampuan tertentu sebagai pemandu. Australia memiliki tiga pemandu yang telah terakreditasi. Salah seorang pemandu ialah Alex Gaut dari Lembaga Konservasi Australia. Seperti dilansir dari ABC Australia, Gaut menerangkan, Shirin Yoku terinspirasi dari kata karoshi, yang berarti kematian karena kerja paksa.

Gaut lanjut menjelaskan bahwa mesti benar-benar fokus untuk menjalankan kegiatan ini agar dapat menciptakan ketenangan dalam diri. Saat melakukan perjalanan dihutan, tak ada dering telepon ataupun media sosial yang menganggu. Shirin yoku juga diakhiri dengan acara minum teh bersama. 

Palitja Moore, salah seorang yang dipandu oleh Gaut menyatakan, kegiatan ini sangat unik, meskipun dia sudah biasa melakukan kegiatan hicking.

"Kegiatan ini membuat Anda benar-benar berhenti dari segala kesibukan dan saya kira sesekali melupakan hal-hal duniawi itu ada baiknya," ungkap Moore dilansir dari sindonews.com.

Beberapa penelitian di Jepang pun menunjukkan Shinrin Yoku dapat menurunkan tekanan darah dan tingkat stres seseorang. Qing Li, Presiden Japanese Society of Forest Medicine, dalam penelitiannya menemukan perasaan stres, cemas, serta marah pada respondennya menurun drastis setelah mengikuti kegiatan ini.

Tidak hanya itu, data penelitian yang dilansir dari notesofnomads.com menunjukkan bahwa manfaat positif Shinrin Yoku dapat bertahan lama. Sebagai contoh, sebuah studi pada tahun 2006 di mana 12 orang dari Tokyo, berusia 37-55, melakukan perjalanan dua malam ke sebuah hutan di Prefektur Nagano, di mana mereka melakukan tiga jalan santai dan tinggal di sebuah hotel di hutan, sel NK mereka meningkat sekitar 40-50%. Tidak hanya itu, statistik ini tetap meningkat hingga 30 hari setelah perjalanan, bahkan setelah kembali ke lingkungan perkotaan dan pekerjaan dan gaya hidup mereka sehari-hari. Perjalanan lain yang melibatkan 13 perawat wanita di tahun 2007 menghasilkan hasil yang serupa.

Saat ini, tidak hanya orang Jepang yang lebih banyak berusaha untuk mengunjungi basis terapi hutan di waktu senggang mereka, namun beberapa perusahaan mulai mengirim pegawainya pada akhir pekan ke retret terapi hutan sebagai cara alternatif untuk mengurangi tekanan pada angkatan kerja. (Khalid Muhammad)

Halaman 1 dari 30

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini