medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Partikel Beracun Polusi Udara Ditemukan dalam Otak Manusia

Published in Informasi & Teknologi
Jumat, 09 September 2016 10:47

Medialingkungan.com - Partikel magnetik menit yang biasanya ditemukan pada polusi udara, kini terdeteksi dalam  jumlah melimpah pada jaringan otak manusia, ungkap sebuah studi yang dilansir oleh The Guardian.

Hasil deteksi partikel jaringan otak dari 37 orang yang tinggal di Meksiko dan di Manchester, UK ditemukan sangat magnetik , sehingga menimbulkan kekhawatiran karena penelitian terbaru menemukan adanya hubungan antara partikel magnetit dan penyakit Alzheimer. Namun, langkah masih jauh untuk membuktikan bahwa partikel polusi udara dapat menyebabkan atau memperburuk Alzheimer.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal Proceedings dari National Academy of Sciences, menambah bukti yang menunjukkan bahwa polusi udara tingkat rendahpun dapat membahayakan kesehatan manusia. Banyak penelitian yang menunjukkan bagaimana polusi berpengaruh buruk pada sistem kardiovaskular, dan dapat menyebabkan penyakit paru-paru dan penyakit jantung. Namun para ilmuwan semakin menyadari bahwa efek dari polusi dapat meluas ke daerah lain seperti otak dan kehamilan .

Para peneliti di belakang studi ini menemukan bahwa magnetit polutan memasuki otak melalui saraf penciuman, saraf yang sama yang menghubungkan hidung dengan otak untuk mencium bau. Partikel yang masuk memungkinkan mereka untuk menyebar dengan mudah ke daerah otak termasuk hipokampus dan korteks serebral- daerah yang terkena penyakit Alzheimer.

Profesor Barbara Maher dari Lancaster University, yang memimpin penelitian, menjelaskan bahwa partikel magnetit dapat merusak otak dan menyebabkan kerusakan sel dan akhirnya kematian sel,- ini merupakan keunggulan dari penyakit neurodegenerative termasuk Alzheimer.

"Kami menemukan untuk pertama kalinya bahwa ada jutaan kristal magnetik kecil di dalam otak manusia dimana seharusnya kristal ini tidak ada," kata Barbara.

"Ini adalah penemuan, dan sekarang yang harus dilakukan adalah pemeriksaan lebih intensif sebagai faktor resiko lingkungan yang potensial yang tidak dapat diabaikan dan waran penelitian lebih lanjut.", tambahnya.

Polusi udara merupakan krisis kesehatan global yang membunuh lebih banyak dibandingkan malaria dan HIV/Aids dan telah lama dikaitkan dengan penyakit jantung, paru-paru dan stroke.  Penelitian terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) lebih dari 80% dari penduduk perkotaan dunia hidup di daerah di mana kualitas udara tidak memenuhi  standar kesehatan. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa polusi udara memberikan kontribusi pada jutaan kematian prematur setiap tahunnya (Mirawati)

PLTU Batubara Jepang Berpotensi Sebabkan Kematian Dini

Published in Internasional
Rabu, 18 Mei 2016 23:03

Medialingkungan.com - Menurut sebuah studi, rencana Jepang dalam membangun puluhan stasiun pembangkit listrik bertenaga batubara dapat menyebabkan ribuan kematian dini dan menurunkan angka kelahiran akibat polusi udara.

Peringatan itu datang setelah pertemuan yang dilakukan para menteri lingkungan G7 di Toyama akhir pekan lalu, yang ditutup pada hari senin (16/05).

Jepang adalah satu-satunya negara di antara negara-negara G7 yang mengejar proyek batubara, setidaknya 43 pabrik akan dibangun selama 12 tahun ke depan, hal ini seakan meruntuhkan kesepakatan Iklim di Paris tahun lalu.

"Enam pembangkit listrik bertenaga batubara direncanakan akan dibangun  100 km dari Tokyo. Ekspansi pembangkit listrik batubara besar-besaran yang begitu dekat dengan daerah perkotaan, seperti Tokyo merupakan ide gila, " kata Lauri Myllyvirta, juru kampanye batubara Greenpeace seperti yang dilansir Theguardian.

Proyek ini diperkirakan dapat berdampak buruk pada kesehatan masyarakat akibat paparan PM2.5 dan NO2, bisa saja sekitar 6.000 sampai 15.000 orang akan meninggal prematur di daerah Tokyo dalam kurun waktu 40 tahun.

Pembangkit listrik yang akan ditempatkan di Jepang barat dekat Osaka dan Hyogo dapat menyebabkan 4.000-11.000 kematian dini selama periode yang sama.

Berbeda dengan AS, Inggris dan negara-negara maju lainnya yang meninggalkan batubara, Jepang telah beralih ke bahan bakar fosil untuk mengisi kebutuhan energi akibat penutupan puluhan pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi Maret 2011 lalu.

"Kita bisa menyelamatkan ribuan nyawa dari bahaya polusi udara jika pemerintah lebih memilih energi terbarukan yang lebih baik dibandingkan batubara. Jika kita memiliki kesempatan untuk membatasi kenaikan suhu rata-rata global 1,5 derajat, bahan bakar fosil harus disimpan di dalam tanah, tidak dipompa ke udara di atas kota-kota kita ". tutur Lauri Myllyvirta. {Mirawati}

Walhi : Pabrik Semen Sebabkan 30 Warga Meninggal

Published in Nasional
Selasa, 26 April 2016 22:40

Medialingkungan.com – Dalam kurun waktu 45 hari, 30 warga Desa Karanglo telah meninggal dunia. Berdasarkan keterangan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), menyatakan bahwa kematian beruntun para warga di kawasan tersebut diduga oleh adanya aktivitas pertambangan semen di Tuban, Jawa Timur.

Seperti yang dilansir oleh Ony Mahardika selaku Direktur Eksekutif Walhi Jawa Timur, Rabu (20/4) bahwa kematian para korban disebabkan adanya pencemaran udara di sekitar kawasan tambang semen sehingga menyebabkan penyakit pada saluran pernafasan dan hal ini mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya.

Letak Desa Karanglo, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, berada di sebelah selatan sedangkan pabrik milik PT. Semen Indonesia berada di utara. Hembusan angin laut yang mengarah ke selatan membawa asap dan abu ke arah desa sehingga mengganggu suplai udara segar warga desa dan berdampak terjadinya gangguan saluran pernafasan warga.

Tingkat penderita akibat pencemaran udara yang dihimpun oleh Walhi pada tiga desa yaitu Karanglo, Temandang dan Sumberarum menunjukkan terjadinya peningkatan sebanyak 1.775 warga pada tahun 2013, sempat menurun di tahun 2014 sebanyak 1.656 warga dan kembali meningkat di tahun 2015 sebanyak 2.058 warga.

Sekretaris perusahaan PT. Semen Indonesia Tbk, Agung Wiharto seperti yang di lansir Mongabay, mengaku keberatan mengenai banyaknya warga meninggal dunia akibat pencemaran udara oleh aktivitas pertambangan di Tuban. Informasi yang diperoleh Agung Wiharto dari Pemkab Tuban menunjukkan data yang meninggal dunia akibat penyakit saluran pernafasan sebanyak 2 orang dan beberapa orang lainnya yang meninggal disebabkan oleh penyakit diabetes mellitus dan kecelakaan.

Pihak tambang PT. Semen Indonesia sangat tegas dalam menangani tingkat polusi akibat aktivitas pertambangan di perusahaannya. Terbukti dengan dipasangnya alat canggih penangkap debu hingga 99% bernama electrostatic precipitator (EP). “Nilai ambang batas debu yang telah ditetapkan adalah 80 mg normal/meter kubik, sedangkan nilai yang ada saat ini hanya 40 mg/meter kubik dan masih jauh di bawah ambang batas. Pihak Walhi perlu melakukan pengecekan data bersama pihak PT. Semen Indonesia agar tidak terjadi gesekan antar dua pihak,” tambah Agung. {Suterayani}

Badan Lingkungan Hidup Amerika Minta Rincian Tingkat Emisi Mercedes-Benz

Published in Internasional
Selasa, 01 Maret 2016 22:57

Medialingkungan.com – Badan Perlindungan Lingkungan Hidup Amerika Serikat (AS), Environmental Protection Agency (EPA) telah meminta informasi dari perusahaan otomotif, Daimler AG terkait level emisi beberapa model Mercedes-Benz, Senin (29/2).  

Juru bicara Daimler, seperti dikutip dari Reuters.com, mengungkapkan pihaknya bekerja sama dengan EPA dan memberikan semua informasi yang diminta. Menurutnya mobil Mercedes-Benz telah mengikuti semua aturan yang berlaku.

Pihak Daimler menyampaikan bahwa permintaan EPA itu disampaikan untuk menanggapi gugatan class action yang  diajukan oleh Firma Hukum Hagens Berman pada 18 Februari lalu di Pengadailan Negeri New Jersey, AS.

Penggugat menuding Mercedes memberikan keterangan palsu terkait kendaraan BluTec yang diklaim sebagai mobil terbersih dan paling maju di dunia diesel.

Penggugat menuduh mobil sengaja diprogram ke-mode Clean Diesel untuk memancarkan tingkat ilegal yang berbahaya dari nitrogen oxide (NOx), pada tingkat 65 kali lebih tinggi dari yang diizinkan oleh EPA ketika beroperasi di suhu di bawah 50 derajat Fahrenheit (10 C).

Christopher Grundler, Direktur Perhubungan dan Kualitas Udara EPA, juga membenarkan terkait permintaan informasi tersebut tersebut. "Kami tahu tentang gugatan itu. Kami telah menghubungi Mercedes dan meminta hasil tes untuk mesin diesel,” ujarnya. {Mirawati}

Polusi Udara Meningkat, Pemerintah Milan Keluarkan Larangan Berkendara

Published in Internasional
Rabu, 30 Desember 2015 09:45

Medialingkungan.com – Kualitas udara yang semakin buruk di Kota Milan, Italia sejak Senin (28/12) menyebabkan pemerintah setempat mengeluarkan larangan bagi pengendara untuk tidak berlalu lintas di kota selama tiga hari.

Seperti dilansir dari The Guardian, larangan itu mulai berlaku sejak pukul 10.00 hingga 16.00 waktu setempat, hingga hari Rabu (31/12). Langkah itu diputuskan pemerintah Italia untuk mengurangi polusi udara.

Pemerintah Kota Roma mengeluarkan larangan sembilan jam pada semua mobil dengan plat ganjil pada Senin. Sementara mobil dengan plat nomor genap akan dilarang beroperasi selama sembilan jam pada Selasa (29/12).

Selain itu, San Vitaliano, kota sekitar Naples, juga turut melakukan langkah pengendalian polusi udara melalui pelarangan warga menggunakan oven kayu – yang biasanya digunakan untuk memanggang pizza.

Para ahli mengatakan, kualitas udara yang semakin memburuk di sejumlah kota besar memberikan pengaruh terhadap musim dingin yang terasa hangat dan kering.

Menurut laporan terbaru Badan Lingkungan Eropa, Italia masuk peringkat negara paling terkena dampak buruk polusi udara. Italia juga masuk kota yang menyebabkan kematian terkait polusi terbesar di seluruh Uni Eropa pada 2012. Kelompok ini memperkirakan ada 84.400 kematian di Italia terkait polusi udara.

Media lokal (di Italia) juga melaporkan, puluhan polisi dikerahkan untuk patroli mencari warga yang melanggar aturan tersebut. Dikatakan bahwa para pelaku yang terjaring akan didenda antara 163 euro hingga 658 euro. {Fahrum Ahmad}

Di Tiongkok, Udara Bersih Mulai Diperdagangkan

Published in Internasional
Selasa, 15 Desember 2015 11:59

Medialingkungan.com – Sebuah restoran di Tiongkok memberikan tarif ekstra untuk para konsumennya. Restoran yang terletak di Zhangjiagang, Jiangsu itu menganggap tarif ekstra tersebut merupakan subtitusi untuk mengganti biaya pembersih udara yang disediakan di restoranya.

Polusi udara di Tiongkok telah mencapai tingkat terburuk sepanjang masa. Hal ini dipicu tingginya penggunaan batu bara sebagai sumber energi utama. Bahkan Beijing telah menetapkan kondisi ‘siaga satu’ akibat kabut beracun, yang juga mengakibatkan terbatasnya jarak pandang hingga 100 meter untuk sejumlah area.

Buruknya kondisi udara di Tiongkok membuat keputusan untuk melimpahkan biaya ektra kepada para konsumen. Namun sayangnya, restauran itu tidak mengumumkan kepada para konsumennya untuk membayar lebih.

Seperti dikutip dari The Independent.co.uk, para konsumen yang makan di restoran itu tidak mengetahui kewajiban untuk membayar biaya operasional tambahan itu. Mereka baru mengetahuinya setelah membaca slip tagihan di akhir santapan mereka.

Ditengarai bahwa satu orang konsumen restoran itu dibebani biaya sebesar satu yuan atau sekitar Rp2.100. Konsumen restoran memprotes hal itu kepada pemerintah lokal. Mereka menuntut pemilik restoran untuk menghentikan penarikan biaya tersebut.

Menanggapi keluhan itu, pejabat setempat, melalui kantor berita Xinhua menyampaikan bahwa restoran tersebut seharusnya tidak memperlakukan udara sebagai sebuah komoditi yang bisa dijual sebab para konsumen tidak memilih untuk menghirup udara yang telah dibersihkan menggunakan mesin tersebut.

Kendati demikian, pendapat para netizen di media sosial sebagaimana diinput The Independent pada Senin (14/12) bahwa banyak pihak di media sosial Weibo yang mengaku ‘bersedia’ membayar satu yuan untuk bisa bernafas dengan leluasa. {Fahrum Ahmad}

Tahun 2017 Tiongkok Akan Lakukan Perdagangan Karbon

Published in Internasional
Jumat, 20 November 2015 17:49

Medialingkungan.com – Tiongkok dari awal memulai perjuangan untuk menciptakan negeri yang damai dan sejahtera. Kali ini Tiongkok berjuang dalam peluncuran pasar perdagangan karbon nasional pada tahun 2017 untuk menurunkan emisi karbon.

Perwakilan Khusus Tiongkok untuk perubahan iklim, Xie Zhenhua mengungkapkan Tiongkok secepat mungkin memulai pasar perdagangan setelah operasi tujuh skema percontohan di seluruh negeri.

Percontohan itu dimulai pada tahun 2011 dan menyetujui tujuh skema di Shanghai, Shenzhen, Hubei, Guangdong, Chongqing, Beijing, dan Tianjin. Inti dari perdagangan ini yakni, mekanisme pasar aman, system pembayaran, dan regulasi, kata Xie.

Sementara itu, menurut laporan tahunan Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (National Development and Reform Commission/NDRC) menyatakan transaksi dari tujuh percontohan itu total sekitar 188,9 juta dolar AS atau setara dengan Rp 3 triliun, mencakup kuota emisi gas 40,24 juta ton.

Di bawah skema itu, perusahaan-perusahaan yang lebih banyak sumbangan emisinya diizinkan membeli kuota yang tak digunakan di pasar dari mereka yang menyebabkan lebih sedikit polisi, seperti yang dilansir tempo, Jumat (20/11).

Tujuan perdagangan tersebut akan menjadi langkah besar selanjutnya dari target pengendalian emisi Cina sebelumnya, yang menyasar penurunan emisi 40 persen menjadi 45 persen dari tingkat tahun 2005 pada 2020. {Angga Pratama}

Presiden Jokowi Bentuk Tim Satuan Kelola Lahan Gambut

Published in Nasional
Kamis, 05 November 2015 14:13

Medialingkungan.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan membentuk badan dan satuan tugas untuk tangani kebakaran hutan dan lahan gambut yang terjadi di Indonesia. Tim satuan tugas ini akan bergerak cepat dalam menangani kebakaran hutan serta akan cepat mengembalikan fungsi hutan.

“Jadi, cepat bergerak, jangan sampai musim kering datang, kita belum bergerak," kata Presiden Jokowi.

Jokowi juga instruksikan ke seluruh jajarannya untuk meninjau kembali peraturan perundang-undangan demi mencegah kebakarn kembali. “Kita akan lakukan review terhadap beberapa peraturan perundangan, mulai dari UU dan PP, sampai Pergub yang membuka ruang bagi pembakaran hutan dan lahan gambut,” katanya, seperti yang dilansir tempo, (05/11).

Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya mengungkapkan langkah-langkah yang mesti dilakukan seiring dengan mulai meredanya bencana asap, utamanya mengenai langkah pencegahan agar bencana tersebut tak lagi terulang.

Langkah yang diambil, misalnya peninjauan terhadap perizinan lahan gambut, penghentian pemberian izin kelola lahan gambut, penghentian land clearing, serta penghentian pembentukan kanal baru, katanya.

“Hal seperti ini kan harus dikendalikan betul,” ucapnya.

Menurut Siti, tim khusus akan terjun langsung ke lapangan. “Saya dan seluruh jajaran serta orang-orang di Pekerjaan Umum akan menjadi pengendali tim tersebut,” ujarnya. {Angga Pratama}

Senator AS Desak Obama Segera Mereformasi Program Batubara

Published in Internasional
Selasa, 03 November 2015 16:31

Medialingkungan.com – Senator Amerika Serikat, Maria Cantwell desak pemerintahan Presiden Obama agar program batubara segera dimasukkan kedalam biaya emisi karbon bahan bakar.

Maria menganggap penyewaan lahan publik yang digunakan dalam pertambangan batubara yang berusia kurang lebih 40 tahun dinilai tidak memperhitungkan biaya emisi karbonnya.

“Kami harus lebih agresif dalam mereformasi program batubara federal yang telah using. Wajib Pajak yang adil berhak kembali atas penjualan sumber daya yang mereka miliki,” kata Maria, seperti yang dikutip Reuters, (03/11).

Anggota parlemen memperkirakan bahwa lahan publik menyediakan 40 persen dari produksi batubara dan yang diproduksi di sana sekitar 14 persen dari semua polusi karbon Amerika Serikat.

Pemerintahan Obama segera mendorong negara lain untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, dikarenakan masih banyak yang harus dilbenahi di rumah sendiri, katanya. {Mirawati}

Pemerintah Gelar Rapat Tertutup Bahas Kabut Asap di Sumatera

Published in Nasional
Sabtu, 05 September 2015 15:52

Medialingkungan.com – Kebakaran yang melanda di daerah Sumatera belum lama ini belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Melihat kondisi ini, pemerintah Indonesia kini melakukan tapat tertutup untuk membahas kebakaran hutan yang melanda Sumatera.

Dalam rapat tertutup itu dihadiri beberapa pihak yakni, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya Bakar, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (SDM), Sudirman Said, Kapolri Jenderal, Badrodin Haiti, Panglima TNI, Gatot Nurmantyo, serta perwakilan kepala daerah dari Sumatera Selatan, Jambi, dan Riau.

Rapat tertutup ini digelar di Gedung Manggala Wanabakti, Sabtu (05/09). “Presiden Jokowi meminta untuk cepat mengambil tindakan. Tak hanya pencegahan untuk saat ini, juga jangka panjang ke depannya. Agar kejadian semacam ini tak berulang-ulang terus,” kata Sudirman Said, seperti yang dilansir oleh tempo.

Sudirman mengungkapkan, sudah hampir seminggu aktivitas anak sekolah mandek diakibatkan asap kebakaran hutan ini. “Gangguan kebakaran hutan di spot-spot yang terkena mesti sesegera mungkin diatasi,” ucapnya.

Dia menegaskan, kami akan segera mencari cara untuk menyelesaikan permasalahan kebakaran hutan ini agar tak merisaukan masyarakat Indonesia. (Angga Pratama)

Halaman 1 dari 6

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini