medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Delapan Kota di Indonesia Akan Miliki Masterplan Terkait Penanganan Sampah

Published in Nasional
Selasa, 01 Agustus 2017 20:56

Medialingkungan.com – Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) mengadakan rapat dengan membahas masterplan yang berisikan penanganan sampah dibeberapa daerah. Peserta rapat yang hadir yakni, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, M.R Karliansyah; Asisten Deputi Infrastruktur Pertambangan dan Energi Kemenko Maritim, Yudi Prabangkara; Ketua Tim Pelaksana Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP), Wahyu Utomo dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Isnawa Adji.

Pada pertemuan ini, Parlindungan Purba selaku Ketua Komite II menyatakan keberadaan masterplan dalam penanganan sampah di daerah mampu menghasilkan energi yang dapat dimanfaatkan masyarakat hasil dari pengolahan sampah.

“Permasalahan jumlah sampah yang mencapai angka 64 juta per tahun, mengharuskan masing-masing daerah untuk memiliki masterplan penanganan sampah. Sehingga masalah sampah dapat teratasi sekaligus mendapat nilai tambah dengan adanya pengolahan sampah menjadi energi,” ujar Parlindungan, seperti yang dilansir Kompas.com, Selasa (1/8).

Presidium Alumni GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) Pusat ini menambahkan bahwa, sampah yang mencapai 64 juta ton per tahun menjadi masalah besar bagi tiap daerah. Maka dari itu, diharuskan setiap daerah memiliki masterplan dan seluruh stakeholder memegang teguh komitmen dalam menyelesaikan permasalahan terkait sampah.

“Cara penanganan yang akan dilakukan adalah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa),” ujarnya.

Dilain sisi, Prof. Djailami Firdaus selaku Senator DKI Jakarta DKI Jakarta akan menjadi pionir dalam pembangunan infrastruktur berupa pengelolaan sampah menjadi energi yang berupa PLTSa. Untuk mengatasi permasalahan sampah tersebut, kedepannya akan dibuat Intermediate Treatment Facility (ITF) di 4 lokasi di DKI Jakarta yang akan mengelola sampah menjadi energi.

“Sampah di DKI Jakarta terbilang sudah sangat melebihi ambang batas. Maka perlu dilakukan gerakan secepat mungkin untuk menyelesaikan persoalan sampah,” katanya.

Hasil rapat itu, di akhir tahun 2018 program masterplan penanganan sampah tersebut dapat terealisasi. Ada delapan kota yang menjadi target pilot project yakni, DKI Jakarta, Bandung, Tangerang, Semarang, Surakarta, Surabaya, Denpasar dan Makassar. (Angga Pratama)

Pemkab Situbundo Ambisius Berantas Sampah dan Kerusakan Lingkungan

Published in Nasional
Senin, 31 Juli 2017 20:10

Medialingkungan.com – Pemkab Situbondo menanggapi serius persoalan sampah dan kerusakan lingkungan yang terjadi. Tak tinggal diam, Sekda Pemkab Situbondo, Syaifullah mengambil langkah cepat dengan mengeluarkan hukum lingkungan dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Indikator keberhasilan Pemkab Situbondo dalam penanganan sampah dapat dilihat dari volume produksi sampah yang dapat ditangani sebesar 75,35% pada tahun 2016. Tidak hanya itu, Syaifullah terus berusaha melakukan inovasi dalam menangani sampah agar kota yang dia tempati 100% bersih dari sampah.

“Secepatnya kasus sampah akan segera dibereskan begitupun kasus lingkungan yang tercemar,” ujar Syaifullah,” seperti yang dilansir Jawapos.com, Senin (31/7).

Langkah lain yang diterapkan oleh pemerintah dalam penanganan sampah melalui Dinas Lingkungan Hidup (KLH), yaitu menambah bak-bak sampah disetiap sudut-sudut kota. Ini bertujuan agar sampah yang sudah dipungut petugas tidak berceceran. Sebab, bak yang lama sudah tidak bisa memuat semua sampah.

“Kami juga mencoba menata sejumlah pasar agar lebih tertata dan bersih. Saat ini, dari 17 pasar tradisional, 12 diantaranya tergolong baik,” kata Syaifullah.

Sedangkan untuk urusan pekerjaan umum, panjang jalan Kab. Situbondo dalam kondisi baik. Syaifullah menerangkan, Pemkab terus mengupayakan agar kondisinya tetap bagus.

 “Usaha yang kita lakukan bisa terlihat hasilnya,” imbuhnya.

Masalah lingkungan ini adalah satu diantara 24 prioritas urusan wajib dikerjakan oleh Pemkab Situbundo. (Angga Pratama)

Jusuf Kalla; Sampah Merupakan bagian dari Kehidupan Manusia

Published in Nasional
Rabu, 01 Maret 2017 13:13

Medialingkungan.com - Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla hadiri puncak peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2017 di Pantai Kenjeran, Surabaya, Jawa Timur. Dalam kegiatan tersebut, Jusuf Kalla mengajak semua lapisan masyarakat untuk bertanggung jawab terhadap sampah yang ditimbulkan dari aktivitas masing-masing, mulai dari rumah tangga hingga industri.

Menurut wakil presiden yang akrab disapa JK tersebut, sampah merupakan bagian dari kehidupan yang tidak mungkin ditiadakan. Sampah bisa menjadi teman tapi juga bisa menjadi musuh dalam kehidupan manusia. “Kita tidak akan mungkin bisa meniadakan sampah 100 persen. Sebab, sampah merupakan bagian dari kehidupan manusia. Namun, yang terpenting adalah treatment alias pengelolaan sampah yang baik,” ujar Jusuf Kalla seperti yang dilansir Okezone.com

“Bila tidak dikelola dengan baik, sampah bisa menjadi musibah seperti sumber penyakit dan banjir. Apalagi, sampah banyak berasal dari masyarakat, maka masyarakat yang pertama bertanggung jawab mengolah sampah”, tambahnya.

Dalam acara yang sama, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengapresiasi program yang dijalankan Pemerintah Kota Surabaya dalam menangani sampah. Menurut Siti, banyak keteladanan yang bisa diambil dari Surabaya untuk direplikasi menjadi program nasional.

“Surabaya menampilkan keteladanan, di antaranya program pemberian insentif kepada pemulung yang dikaitkan dengan tempat daur ulang sampah,” kata Siti Nurbaya.

Selain berpusat di Surabaya, peringatan HPSN 2017 juga dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten dan pemerintah kota di seluruh Indonesia. Selama Februari 2017, terdapat 226 kabupaten/kota dari 34 provinsi yang telah melaksanakan bersih-bersih lingkungan. {Dedy}

Perusahaan Senjata AS Tertarik Investasi Energi Dari Sampah di Sumsel

Published in Nasional
Kamis, 15 Desember 2016 22:48

Medialingkungan.com – Sampah yang terbuang dan menumpuk selalu menjadi masalah di suatu negara, namun tak disangka permasalahan sampah di Sumatera Selatan ini menjadi keuntungan sendiri untuk menarik investor. Sebuah perusahaan pembuat senjata asal Amerika Serikat, Lockheed Martin Corp tertarik berinvestasi di Sumatera Selatan, dengan memanfaatkan sampah di daerah tersebut untuk diolah menjadi energi listrik.

Seperti dilandir Antara, Yohanes H. Thoruan selaku Asisten II Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan mengatakan bahwa, Sumsel menawarkan dua lokasi untuk investasi ini yakni di Kabupaten Ogan Komering Ulu (Timur) dan OKU Induk.

Untuk menyakinkan mereka, Pemprov Sumsel juga menginformasikan bahwa daerah ini juga merupakan pengekspor listrik di beberapa beberapa wilayah di Indonesia, bahkan sampai ke Singapura.

"Saat paparan, investor AS tertarik dan akan segera membuat studi kelayakannya sekitar 3-4 bulan dan rencananya tahun 2017 sudah bisa jalan," ujar Yohanes, di Palembang, Kamis (15/12).

Mengenai nilai investasi, Yohanes belum dapat menyebutkannya. Sedangkan untuk pembiayaannya akan menggunakan sistem pinjaman yang menguntungkan bagi Sumsel maupun Investor.

Sumsel membidik proyek energi baru dan terbarukan ini karena negara telah mengalokasikan dana APBN untuk mencapai target penyediaan energi 35.000 MegaWatt dalam lima tahun hingga 2019.

Sebelumnya, Pemerintah Kota Palembang sudah membangun Pembangkit Listrik Sampah berkapasitas 500 kiloWatt (kW) di kawasan Tempat Pembuangan Akhir Sukawinatan dengan menggunakan dana APBN. (Andi Wahyunira)

Tesco dan Sainsbury Larang Penggunaan Plastik Pada Cotton Buds

Published in Internasional
Jumat, 02 Desember 2016 13:14

Medialingkungan.com - Dua jaringan supermarket terbesar di Inggris telah berkomitmen untuk segera mengakhiri penjualan cotton buds berbahan dasar plastik batang, yang merupakan sampah paling umum ditemukan di toilet negara itu.

Seperti dilansir The Guardian, kedua supermarket tersebut yakni Tesco dan Sainsbury berencana akan menggantikan tongkat plastik cotton buds dengan kertas pada akhir 2017 di produk yang mereka produksi sendiri.

Perusahaan besar lainnya, termasuk Morrisons, Asda dan Boots, saat ini juga sedang mempertimbangkan larangan plastik pada produk itu. Sementara Waitrose, Koperasi-Koperasi dan Johnson telah berkomitmen untuk beralih kekertas batang.

"Kami berkomitmen untuk memastikan semua produk kapas label bud kita sendiri akan dibuat dengan kertas batang, dan hal ini akan dilakukan pada akhir 2017," kata seorang juru bicara Tesco.

Sementara itu, juru bicara Sainsbury mengatakan, "Kami telah bekerja keras untuk meningkatkan produk ini. cotton buds baru kami, dengan 100% batang biodegradable, akan tersedia sebelum akhir 2017."

Natalie Fee, pendiri City to Sea Campaign mengatakan, "Kami senang dengan pengumuman untuk mengganti tongkat pada cotton buds dari plastik ke kertas batang. Langkah ini akan menghentikan jutaan plastik batang berakhir di lingkungan laut setiap tahun dan merupakan kemenangan besar dalam memerangi polusi plastik laut. "

"Ini adalah komitmen besar dari Tesco dan Sainsbury," kata Emma Cunningham di Marine Conservation Society. "Kami menemukan lebih dari 23 (plastik) tongkat cotton bud pada setiap 100 m dari pantai kita dibersihkan pada bulan September. Pesannya jelas, hanya kencing, kotoran dan kertas yang harus pergi ke toilet.”

Sampah plastik dapat ditemukan di sepanjang garis pantai Inggris.  Pencemaran plastik di lautan, dikenal dapat mempengaruhi kehidupan laut karena terbatasnya persediaan makanan dilautan sehingga tak jarang organisme laut akan mengonsumsi limbah plastik tersebut. Orang yang makan seafood juga berpotensi menelan plastik.

Kepala Medis Inggris, November lalu mengumumkan dia akan melakukan investigasi lebih dalam mengenai dampaknya pada kesehatan manusia. (Mirawati)

Ini Dia Tips-Tips Atasi Sampah Ala Bapak Nol Sampah

Published in Informasi & Teknologi
Rabu, 23 November 2016 15:52

Medialingkungan.com – 30 tahun bergelut dengan sampah, menjadikan Prof. Paul Connett, Ph.D menjadi salah satu pemerhati sampah dunia. Paul yang dijuluki sebagai Bapak Nol Sampah itu pun terlibat dalam gerakan advokasi menolak pembakaran sampah sebagai solusi pengelolaan sampah. Menurutnya membakar sampah membutuhkan lebih banyak energy, contohnya saat membawa sampah ke tempat pembakaran, konsumsi bahan bakar sampai kepada pembakaran sampah itu sendiri dan juga justru akan menimbulkan masalah lain seperti mengubah sampah menjadi racun dan asap.

Paul yang juga berprofesi sebagai Professor kimia lingkungan  di St. Lawrence Universiy, New York tersebut pekan lalu mengunjungi Indonesia tepatnya di Bali dan bertemu dengan Wali Kota Denpasar, tim dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Bali, aktivis lingkungan, dan masyarakat untuk mengenalkan kepada mereka metode penanganan sampah yang efektif di Indonesia.

Seperti yang dilansir oleh Mongabay Indonesia, Paul menawarkan sepuluh langkah untuk mengatasi masalah tersebut berdasarkan hasil kajiannya. Namun, dia mengatakan, langkah tersebut juga disesuaikan dengan konteks lokal. Apa yang sudah berhasil diterapkan di Amerika Serikat dan Kanada, misalnya, belum tentu bisa diterapkan di Indonesia.

Lima langkah pertama yakni pengelolaan sampah organik menjadi kompos; memilah sampah mulai dari setiap rumah tangga; mengumpulkan sampah dari rumah ke rumah; mendaur ulang; serta memperbaiki dan menggunakan ulang (reuse).

Keberhasilan lima langkah pertama tersebut, lanjutnya, bisa mengurangi sampah sampai 80 persen. Hal ini berbeda dengan incinerator yang justru mengubah sampah menjadi racun dan asap.

Paul menjelaskan bahwa di Los Angeles, Amerika Serikat daur ulang sampah justru mendatangkan pendapatan baru bagi masyarakat. Dari 72.000 ton sampah yang bisa di daur ulang di kota tersebut memberikan pendapatan sekitar 39,6 juta USD per tahun kepada masyarakat. Menurutnya dengan mendaur ulang sampah, warga mendapatkan manfaat ekonomi, menciptakan lapangan kerja serta kesehatan yang lebih baik.

Lima langkah selanjutnya, lebih pada tahap pengurangan residu yaitu adanya insentif ekonomi dalam mendaur ulang sampah; inisiatif untuk mengurangi sampah; pemisahan fasilitas pengolahan sampah; adanya pusat riset nol sampah; serta desain produk yang lebih ramah lingkungan.

Langkah-langkah pengurangan sampah tersebut juga berhasil di beberapa negara, seperti Italia dan Amerika Serikat. Di Italia, dia memberikan contoh, sudah ada lebih dari 1.000 komunitas telah membuat alih rupa sampah (diversion) hingga 70 persen. Komunitas lain bahkan mencapai 90 persen.

Direktur Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali, Catur Yudha Hariani menanggapi positif beberapa hal yang di sampaikan Paul pada pertemuan tersebut. Menurutnya, sampah yang sudah overload di Bali harus di tanggapi dengan benar yaitu dengan memilah sampah mulai dari sumbernya itu sendiri.

Catur yang saat ini bersama dengan PPLH aktif melakukan pendidikan pada warga untuk mengelola sampah mengaku perlu adanya edukasi yang berkelanjutan kepada masyarakat dalam hal pengelolaan sampah di Bali dan hal tersebut menjadi  tanggung jawab bersama. (Suterayani)

School Visit: Belajar Konservasi di Alam Terbuka Bersama BKSDA dan Lentera Negeri

Published in Event & Komunitas
Minggu, 05 Juni 2016 13:21

Medialingkungan.com –  Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulawesi Selatan bekerjasama dengan Lentera Negeri Makassar kembali melakukan kegiatan School Visit, pada minggu pagi (05/06). Kegiatan ini merupakan lanjutan dari kegiatan sebelumnya, dimana kali ini dilaksanakan dengan metode outdoor dan games yang bertempat di Taman Gedung Ipteks, Universitas Hasanuddin Makassar.

Kegiatan ini diikuti oleh 47 orang siswa sekolah non-formal yang dibina oleh komunitas Lentera Negeri Makassar. Para siswa ini terdiri dari 3 kelas yang tergabung, yaitu kelas bagian Daya, Antang, dan Gowa. Kegiatan outdoor dan games ini dipandu langsung oleh Hamka, staf BBKSDA Sulsel, dimana games ini menanamkan nilai kepada anak usia dini untuk mengetahui dampak dari membuang sampah sembarangan, serta bagaimana mengenal dan mengidentifikasi satwa langka.

Kepala Seksi Pemanfaatan dan Pelayanan BBKSDA Sulsel, Edy Santoso menerangkan bahwa kegiatan School Visit ini merupakan salah satu program BBKSDA Sulsel yang bertujuan untuk berbagi pengetahuan tentang konservasi kepada masyarakat dalam hal ini anak-anak usia dini. Selain itu, program ini juga bertujuan untuk menanamkan pola hidup ramah lingkungan kepada anak usia dini dengan mengenalkan cara pengelolaan lingkungan hidup sederhana di sekitar kita, seperti pengelolaan sampah, penanaman pohon, serta pengenalan tumbuhan dan satwa dilindungi.

“BBKSDA yang mempunyai tugas dan fungsi pengelolaan konservasi dan pengelolaan tumbuhan dan satwa liar juga perlu untuk memberikan pengetahuan kepada anak-anak tentang flora dan fauna, agar mereka mengetahui kekayaan hayati di Indonesia, khususnya di Sulawesi,” kata Edy.

Edy menambahkan kegiatan ini dilaksanakan di ruang alam terbuka sebagai upaya pengenalan secara langsung kepada anak-anak terkait hal-hal yang dapat mengurangi kualitas lingkungan hidup, seperti pencemaran akibat membuang sampah sembarangan, dan lain sebagainya.

“Kegiatan konservasi memerlukan dukungan masyarakat luas, sehingga pola hidup yang mencerminkan kelestarian lingkungan dapat tertanam pada diri individu sejak usia dini,” tambahnya. {Muchlas Dharmawan)

AccorHotels Berbagi Tempat Sampah di Karebosi, Makassar

Published in Event & Komunitas
Rabu, 13 April 2016 09:39

Medialingkungan.com - AccorHotels Cluster Makassar kembali menggelar kegiatan rutin tahunan yaitu Planet 21. Kali ini kegiatan dilaksanakan di Lapangan Karebosi, Makassar, dengan serangkaian aktivitas yang dilakukan seperti penyerahan tempat sampah secara simbolik kepada pemerintah kota Makassar, aksi bersih-bersih bersama staf AccorHotels, dan ditutup dengan senam Zumba bersama (12/4).

AccorHotels yang terdiri dari tiga hotel yakni Ibis Budget Makassar Airport, Ibis Makassar Centre dan juga Novotel Makassar Grand Shayla City Centre melakukan penyerahan tempat sampah yang nantinya akan diletakkan di beberapa titik di Lapangan Karebosi. Penyerahan dilakukan oleh Jean Michel Serriere (Novotel Grand Shayla City Centre) dan Joice (Ibis Budget Airport) kepada Sekertaris Daerah Kota Makassar, H. Ibrahim Saleh.

Kegiatan yang diadakan setiap bulan April ini dihadiri oleh beberapa perwakilan dari instansi pemerintah daerah kota Makassar, jajaran staf AccorHotels Cluster Makassar dan juga komunitas Earth Hour Makassar. Ibrahim Saleh selaku Sekretaris Daerah Kota Makassar sangat mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya kegiatan ini sangat sejalan dengan program dari pemerintah kota Makassar, yaitu Makassar Tidak Rantasa (MTR).

Kezia Maureen selaku Cluster Marcom Manager Novotel Makassar mengungkapkan bahwa kegiatan Planet 21 ini merupakan program pembangunan berkelanjutan, yang berfokus pada kebutuhan untuk mengubah pola produksi dan konsumsi untuk melindungi planet kita, orang-orang, dan lingkungan hidup mereka. Dengan Planet 21, AccorHotels menegaskan 21 komitmen terhadap kesehatan, alam, energi, inovasi, kerja, dll. dan juga tujuan untuk dicapai di beberapa tahun kedepan.

“Untuk tahun ini, AccorHotels Cluster Makassar memperingati Planet 21 dengan menyumbangkan beberapa tempat sampah yang akan diletakkan di Lapangan Karebosi Makassar dengan tujuan agar lapangan tetap terlihat bersih dari sampah, sehingga para pengunjung tetap merasa nyaman jika berkunjung ke salah satu landmark kota Makassar ini”, ujarnya.

Kezia berharap pemberian tempat sampah tersebut bisa dimaksimalkan oleh masyarakat yang berkunjung ke Karebosi. Dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan agar tetap sehat, dan tidak ada lagi pengunjung yang membuang sampahnya di sembarang tempat. {Dedy}

Norwegia dan Denmark Dukung Indonesia Atasi Perubahan Iklim

Published in Nasional
Minggu, 27 Maret 2016 08:08

Medialingkungan.com – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menerima kunjungan Pemerintah Norwegia untuk mendukung program Indonesia dalam upaya penurunan emisi gas rumah kaca, khususnya dalam pengelolaan hutan melalui kegiatan Penurunan Emisi Dari Deforestasi dan Degradasi Hutan (REDD+) dan pembangunan ekonomi rendah karbon.

Hal ini disampaikan Menteri LHK, Siti Nurbaya saat menerima kunjungan Duta Besar Norwegia untuk Indonesia Stig Traavik di ruang kerjanya, Kamis (24/03).

Pada pertemuan itu, Siti juga menyampaikan sejumlah upaya yang telah dilakukan pihaknya dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di daerah yang rawan kebakaran, salah satunya melalui pembangunan sekat kanal gambut di Sumatera dan Kalimantan.

Siti mengatakan, sekat kanal dinilai efektif dalam pengendalian Karhutla dan mempertahankan muka air gambut. Dalam upaya antisipasi Karhutla, Siti mengundang Stig Traavik pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) yang rencananya akan dipimpin Presiden Joko Widodo di Propinsi Jambi, 5 April mendatang.

Di samping itu, Siti juga menyampaikan bahwa pada era yang lebih terbuka seperti saat ini, “Setiap orang bisa mengakses informasi publik yang tersedia setiap saat. Apapun informasi yang dibutuhkan masyarakat akan segera disampaikan oleh Kementerian LHK,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri LHK kembali menerima kunjungan dari Duta Besar Denmark untuk Indonesia, Casper Klynge yang lebih fokus membicarakan tentang pengelolaan sampah dan limbah.

Siti menjelaskan bahwa saat ini KLHK sudah punya contoh pengelolaan sampah menjadi energi listrik di Cilacap, Jawa Tengah.  “Hal ini sejalan dengan target Presiden untuk membangun pembangkit listrik 35.000 MW. Indonesia juga punya proyek di 80 kota yang sudah punya alat pemproses sampah seperti di Malang, Martapura, Kendari, dan Balikpapan, dll,” ungkap Siti.

Casper Klynge juga menyampaikan, Denmark telah punya teknologi yang bagus dalam pengelolaan sampah dan limbah.  “Denmark lebih fokus dalam pengelolaan sampah dan bagaimana merubah sampah menjadi energi. Kami mengambil sampah dari Inggris, dan kita buat teknologi pengolahannya di Denmark,” papar Casper.

Selain membeberkan tentang teknologi pengolahan sampah menjadi energi, Pemerintah Denmark juga tertarik dengan upaya restorasi ekosistem yang diterapkan di Hutan Harapan Jambi. Pemerintah Denmark akan mempelajari model kerjasamanya. {Fahrum Ahmad}

Raksasa Coffee Shop Kampanye Anti Kemasan Kertas

Published in Internasional
Rabu, 23 Maret 2016 09:38

Medialingkungan.com – Raksasa coffee shop dunia, Starbucks, mengumumkan penawaran khusus bagi pelanggannya yang tidak menggunakan kemasan kopi (cangkir kertas) Starbucks. Pihak perusahaan yang memiliki sekitar 20 ribu kedai di seluruh dunia ini, menawarkan diskon 50 pence (Pecahan Pounds Sterling) atau setara Rp9500 jika membawa cangkir minuman sendiri untuk diminum di tempat.

Seperti diberitakan The Independent, Kebijakan ini mulai diterapkan pada April mendatang dengan diawali dua bulan percobaan. Setelah dievaluasi, kemungkinan akan diberlakukan permanen.

Regulasi korporasi kopi asal Amerika ini merupakan dukungan untuk kampanye mengurangi sampah cangkir kertas. Hal ini sekaligus menjawab kegelisahan internasional mengenai tingginya produksi sampah di dunia.

Seperti dikabarkan sebelumnya, Starbucks menghabiskan 7 juta cangkir kertas di Inggris setiap hari dan 2,5 juta cangkir dibuang ke tempat pembuangan akhir. Setelah pengumuman ini, masyarakat menunggu korporasi kopi lain untuk membuat kebijakan yang sama.

Departemen Urusan Lingkungan, Pangan, dan Pedesaan Inggris menyangkal rencana adanya pajak terhadap cangkir kopi sekali pakai, setelah Menteri Lingkungan Inggris Rory Stewart menyarankan ide tersebut.

Stewart menunjuk keberhasilan pengenaan harga 5 pence untuk kantong plastik. Dia berpendapat retribusi yang sama untuk cangkir kopi yang tak dapat didaur ulang bisa menjadi item yang dikenai pajak.

Chef dan campaigner antilimbah Hugh Fearnley-Whittingstall mengatakan keputusan Starbucks memberikan diskon 50 pence kepada yang menggunakan cangkir sendiri adalah “lompatan seismik”.

Kabar tersebut datang setelah korporasi kopi besar, seperti Starbucks, Costa, dan Pret dituduh membuat klaim palsu tentang jumlah cangkir kertas mereka yang benar-benar didaur ulang.  Menurut Simply Cups, satu-satunya layanan daur ulang cangkir kertas di Inggris menyatakan, para korporat kopi tersebut hanya mendaur ulang satu dari 400 cangkir mereka.

Seperti yang telah ramai diberitakan di Inggris, sekalipun ‘tanda daur ulang’ ada di cangkir kertas jaringan kopi Costa, para ahli membongkar klaim jaringan tersebut. Cangkir mereka hanya dapat didaur ulang dalam pendauran ulang kertas campuran karena bagian dalamnya dilapisi plastik tipis yang disebut polyethylene.

Menanggapi isu yang beredar itu, Starbucks dalam situs resminya menyatakan, “Kami telah membuat kemajuan penting untuk mengurangi dampak limbah yang dihasilkan toko-toko kami. Kami berkomitmen mengurangi jejak lingkungan kita dengan berfokus pada tiga area utama, yakni mengurangi limbah yang berhubungan dengan bisnis kami, meningkatkan angka daur ulang, dan mempromosikan penggunaan cangkir yang dapat digunakan ulang.”

Starbucks berharap 100 persen cangkirnya dapat didaur ulang dan memastikan 5 persen konsumennya menggunakan cangkir yang telah didaur ulang ketika meminuman kopi hangat di tokonya. {Fahrum Ahmad}

Halaman 1 dari 6

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini