medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Air Terjun Surga, Bukit Bossolo’ Jeneponto

Published in Ekowista & Traveling
Kamis, 14 April 2016 20:08

Medialingkungan.com - Air terjun Bossolo' Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, dikatakan air terjun surga tersembunyi memang ada benarnya, karena Jeneponto dikenal dengan daerah yang kering dan tandus sehingga sangat jarang ditemukan tempat asri, sejuk dan indah.

Namun, anggapan tersebut patah setelah melihat air terjun Bossolo’. tempat itu terletak di Desa Ramba, Kecamatan Rumbia, Kabupaten Jeneponto. Air terjun ini mulai terkenal dan digemari kalangan muda yang hobi travelling atau berfoto dengan alam. Perjalanan untuk sampai ke desa Rumbia memakan waktu yang cukup lama.

Dari kota Makassar ke kota Jeneponto memakan waktu kurang lebih 3 jam. Sesampai di kota Jeneponto ada patung kuda besar lalu belok kiri masuk ke jalan Kelara, dari jalan Kelara memerlukan waktu kurang lebih 30 menit untuk sampai ke desa Rumbia. Dari jalan poros desa Rumbia hanya memerlukan waktu 5 menit buat ke tempat parkiran kendaraan.

Terdapat baliho yang cukup besar menampilkan gambar air terjun tertuliskan “Air Terjun Tama’lulua”, dengan nama lain dari air terjun Bossolo'. Untuk menemukan air terjun ini juga tidaklah mudah karena letaknya cukup jauh, Anda harus mendaki, jalanan yang cukup terjal dan bebatuan.

Perjalanan yang jauh melewati bukit Bossolo akan terbayarkan dengan suguhan pemandangan indah air terjun Tama’lulua yang masih indah dan mempesona. Tidak jauh dari air terjun terdapat gua Bossolo yang juga rekomendasi sebagai tempat wisata dan di sana terdapat banyak satwa unik salah satunya monyet jika musim panen jagung, mereka akan bermunculan turun dari bukit. {Andi Tanti}

1.Bukit Bossolo’ yang memperlihatkan keindahan air terjun yang indah. {Gambar: @jhofitri}

2. Pemandangan air terjun yang mempesona dan asri terdapat di Jeneponto. {Gambar : Istimewa}

Pulau Cinta, Bentuk Unik Dengan Pemandangan Bahari Yang Mempesona

Published in Ekowista & Traveling
Selasa, 12 April 2016 19:46

Medialingkungan.com - Indonesia menyuguhkan tempat yang indah dengan pulau pasir putih yang berbentuk Love, tepatnya di Gorontalo yang sekarang menjadi wisata bahari terpopuler dikalangan masyarakat Gorontalo.

Lokasi ini dipopulerkan pada festival Sail Tomini Baelemo yang diselenggarakan di pulau tersebut. Pulau yang berada tepat di Kawasan Pantai Bolihutuo itu telah menjadi salah satu destinasi wisata yang sudah diresmikan oleh Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani.

Pulau tersebut sebelumnya tidak berpenghuni yang ditemukan oleh masyarakat Kabupaten Baeloma dan dilaporkan ke pihak Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo. Untuk wisata bahari, kawasan pulau cinta ini sangat indah dan mempesona, dengan lautnya yang bersih dan bening serta karang laut masih terjaga dengan baik.

Sekarang, tempat ini telah dikembangkan menjadi resort, dengan 15 cottage yang dibangun dengan konsep mengelilingi pulau. Cottage tersebut sengaja didesain sesuai rumah adat penduduk setempat. Bahan bangunannya terbuat dari kayu tanpa pendingin ruangan. Jika tertarik untuk menginap di pulau tersebut, Anda dapat menyewa penginapan dengan harga Rp 3 juta sampai 5 juta per hari.

Untuk Menuju ke Lokasi ini, dibutuhkan 2 Jam perjalanan darat dari Provinsi Gorontalo menuju Kabupaten Boalemo, tepatnya di Kecamatan Tilamuta menuju Pantai Bolihutuo. Setelah itu Anda dapat menyewa jasa perahu untuk melanjutkan perjalanan ke pulau cinta. dengan lama perjalanan sekitar lima belas menit. {Andi Tanti}

1. Jembatan untuk menuju rumah-rumah adat penginapan. (Gambar: pulocinta.com)

2. Pasir putih yang berbentuk hati dikelilingi resort untuk pengunjung. (Gambar: wisatagaleri.com)

 

 

Gua Gong dan Kemegahan Ornamennya

Published in Ekowista & Traveling
Minggu, 03 April 2016 15:55

Medialingkungan.com – Di benak Anda mungkin terbesit gua adalah tempat mistis yang biasa digunakan sebagai tempat memuja dan bertapa untuk mendapatkan kekuatan ghaib. Tapi jangan salah, di Desa Bomo, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur terdapat gua yang bisa Anda jadikan list tujuan wisata.

Gua ini dinamakan masyarakat dengan sebutan Gua Gong dikarenakan jika sebuah batu yang dipukul akan mengeluarkan bunyi menyerupai suara Gong. Jarak gua ini sekitar 140 km arah selatan kota Solo, atau 30 km arah barat daya kota Pacitan. Untuk mencapai gua wisata ini Anda dapat menggunakan kendaraan roda 2 ataupun roda 4.

Menurut sejarah, Gua Gong ditemukan pertama kali pada tahun 1924 oleh Mbah Noyo Semito dan Mbah Joyo yang mencari air karena di dusun yang mereka tinggali yakni, dusun Pule sedang mengalami musim kemarau yang panjang. Mereka menelusuri lorong goa menggunakan obor dari daun kelapa kering yang diikat hingga akhirnya mereka menemukan beberapa sendang dan mandi di dalam gua ini.

Di depan gerbang Anda akan berjumpa beberapa warga sekitar yang akan menawarkan jasa penyewaan senter untuk penerangan selama menyusuri gua dengan tarif Rp5.000. Mereka juga menawarkan jasa sebagai pemandu atau Turgate untuk mengeksplorasi  gua atau jika tidak mau, Anda bisa mengetahui detail Gua Gong dengan membeli buku panduan atau sejarah.

Untuk menuju ke mulut gua, terlebih dahulu Anda harus berjalan menaiki tangga yang menanjak sepanjang 100 meter. Anda juga akan dikenakan tarif untuk masuk ke dalam gua yaitu senilai Rp5.000.

Ketika memasuki gua yang kedalamannya sepanjang 256 meter ini, awalnya memang agak gelap. Namun jika ditelusuri lebih dalam lagi Anda akan terpukau oleh suguhan keindahan gua ini yang diterangi sorot warna-warni lampu.

Di lorong gua itu penuh dengan Stalaktit dan Stalagmit yang menyatu berdiri kokoh menyangga rongga gua dengan aneka bentuk. Ada yang mirip rambut, mirip otak, mirip tirai yang menjuntai dan ada yang meruncing. Gua ini tercipta dari hasil aktivitas vulkanik dan gerakan termik yang berlangsung ribuan tahun lalu.

Di bagian bawah dalam gua terdapat lima sendang atau mata air yang dingin dan jernih yang konon memiliki nilai magis untuk menyembuhkan penyakit. Lima sendang itu diantaranya yaitu Sendang Jampi Rogo, Sendang Panguripan, Sendang Relung Jiwo, Sendang Kamulyan, dan Sendang Ralung Nisto.

Karena di dalam gua adalah tempat yang benar-benar tertutup maka difasiliasi dengan kipas angin ukuran jumbo untuk mengantisipasi hawa panas dan pengap. Menyusuri gua ini cukup mudah karena sudah teresedia jalan setapak dengan pegangan besi agar tidak terpeleset.

Di kawasan Gua Gong juga sudah terfasilitasi sarana umum yaitu rumah makan, WC umum dan tempat parkir. Di depan gerbang tersedia deretan kios pedagang makanan khas daerah dan kios-kios suvenir berupa batu akik serta kaos-kaos yang unik. {Zidny Rezky / Angga Pratama}

1. Lintasan jalan Gua Gong yang diberi pegangan sepanjang jalan (Gambar: eastjava.com)

 

2. Salah satu sendang yang ada di Gua Gong (Gambar: yuiword.com)

3. Keindanhan ornamen Gua Gong yang diterangi warna-warni lampu (Gambar: eastjava.com)

Medialingkungan: Visit Gua Gong, Jawa Timur - Wonderful Indonesia

Maruruno, Air Terjun Berundak-undak

Published in Ekowista & Traveling
Jumat, 11 Maret 2016 16:51

Medialingkungan.com – Bagi kebanyakan orang, mendengar kata Luwu Timur mungkin yang pertamakali terlintas dibenak adalah daerah kaya akan bahan tambang khususnya Nikel. Namun, Luwu Timur ternyata menyimpan beraneka ragam wisata alam, salah satunya air terjun Maruruno.

Kata Maruruno sendiri memiliki arti gemuruh. Penamaan air terjun ini dengan kata tersebut dikarenakan suara gemuruh airnya yang jatuh dari ketinggian dengan melewati beberapa undakan. Namun ada juga yang menyebutnya air terjun ‘Mata Buntu’, artinya air yang keluar dari batu yang bergelembung.

Air tejun ini tersembunyi di antara lebatnya pepohonan Gunung Lembeonga yang menjulang tinggi sehingga membuat suasananya sangat alami. Udara yang sejuk, suara gemercik air ditambah kicauan burung dan berbagai suara satwa lainnya memberikan ketenangan bagi pengunjung.

Uniknya lagi, air terjun ini memiliki 33 susun undakan yang terbentuk secara alami. Dimana Untuk mencapai undakan utama kita harus melewati puluhan anak tangga yang terbuat dari beton.

Undakan paling atas dapat ditemui sebuah batu berbentuk alat kelamin pria yang konon dipercaya dapat membantu bagi pasangan yang belum dikarunia anak. Adapula yang meyakini sebagai tempat mengikat janji bagi pasangan muda mudi. 

Model undakan tersebut berbentuk mangkuk sehingga terlihat seperti kolam-kolam kecil yang membuat air jatuh diantara tebing tidak langsung menuju ke sungai utama yaitu sungai Tumbura.

Saat Anda datang pada musim kemarau, airnya yang dangkal hanya sebatas mata kaki membuat banyak pengujung berlama-lama mandi di kolam ini. Namun pada musim hujan, debit air bisa saja bertambah sehingga jika Anda ingin berkunjung ke tempat ini pintar-pintarlah memilih waktu.

Air Terjun Maruruno terletak di ujung timur Sulawesi Selatan, tepatnya di Kecamatan Wasuponda Kabupaten Luwu Timur. Jarak dari Kota Makassar ke Kabupaten Luwu Timur kurang lebih 500 kilometer, yang dapat ditempuh baik jalur darat maupun jalur udara.

Jika melalui jalur darat Anda dapat menggunakan bus umum dari Kota Makassar ke Kabupaten Luwu Timur dan tiba kecamatan Wasuponda dengan menempuh perjalanan kurang lebih 12 jam.

Dan jika penggunakan pesawat, kita berangkat dari Bandara Sultan Hasanuddin menuju ke Bandara Sorowako. Dari Sorowako, kita bisa menempuh jalur darat menggunakan kendaraan roda empat yang dapat ditempuh sekitar 30 menit.

Untuk akses masuk ke lokasi air terjun, pengunjung tidak dikenakan biaya. Namun tempat ini belum banyak disediakan fasilitas untuk pengunjung seperti penginapan. {Rista Amran}

1. Suasana air terjun Maruruno (Gambar: Fotosintesa.com)

 2. Salah satu undukan air terjun Maruruno (Gambar: 4.bp.blogspot.com)

 

 

Pulau Kapoposan Dan Surga Bawah Laut Selat Makassar

Published in Ekowista & Traveling
Jumat, 04 Maret 2016 16:21

Medialingkungan.com - Panorama bahari Indonesia sudah lama menjadi buah bibir di kalangan wisatawan. Bagi yang menyenangi wisata bahari, Sulawesi Selatan dapat Anda jadikan sebagai lokasi tujuan Anda selanjutnya. Salah satu tempat yang menyuguhkan pemandangan bawah laut yang eksotik di Provinsi ini adalah Pulau Kapoposang.

Pulau Kapoposang merupakan salah satu pulau spermonde yang ada di Selat Makassar. Tepatnya berada dalam wilayah Kecamatan Liukang Tuppabiring, Kabupaten Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan.

Dengan jarak sekitar 68 kilometer dari Kota Makassar, pulau ini dapat ditempuh dari Dermaga POPSA dengan speed boat sewaan, dari Pelabuhan Paotere dengan kapal kayu milik nelayan, dari Dermaga Kalibone di Kabupaten Maros atau Dermaga Tonasa di Kabupaten Pangkep.

Di pulau berpenghuni ini, Anda akan dijamu dengan pemandangan hamparan pasir putih sekitar pantai, lambaian teduhnya pepohonan serta kejernihan air laut yang membuat Anda bisa menikmati batu karang tanpa harus menyelam. Panorama sunrise dan sunset juga hal yang tidak boleh Anda lewatkan.

Bagi pecinta diving dan snorkling, pulau ini sangat cocok dengan Anda karena ditawarkan beberapa titik penyelaman yang masing-masing memberikan keindahan tersendiri.

Salah satunya di turtle point, Anda bisa mengamati aktivitas dan berfoto dengan penyu sisik, namun tidak diperbolehkan mengganggu penyu yang sedang bertelur ataupun mengusik biota laut lainnya. Pasalnya pulau ini sudah ditetapkan menjadi Kawasan Konservasi Taman Wisata Perairan Kepulauan Kapoposang.

Di bawah laut, Anda juga akan disambut oleh kawanan ikan dengan jenis dan warna yang berbeda serta berbagai koral dan terumbu karang yang indah nan sehat. Indahnya bawah laut dapat Anda eksplor dengan alat-alat penyelaman yang diatur oleh dive operator yang berada di kota Makassar.

Jika Anda berniat menikmati pesona pulau ini dalam beberapa hari, maka tidak perlu khawatir karena di pulau ini telah tersedia resort serta fasilitas olahraga milik pengusaha swasta dan juga beberapa home stay yang dikelola masyarakat.

Sayangnya di pulau ini sangat sulit menemukan jaringan ponsel. Tapi dengan keterbatasan tersebut membuat Anda akan lebih menikmati liburan Anda di Tempat ini. {Zidny Rezky}

1. Sunrise di salah satu spot Pulau kapoposang (Gambar: Felicia Noviana)

2. Eksotisme surga bawah laut kapoposang (Gambar: Anekawisatanuantara)

Pesona Kota Palu Dari Puncak Matantimali

Published in Ekowista & Traveling
Senin, 22 Februari 2016 17:36

Medialingkungan.com – Tidak sempurna rasanya jika berkunjung ke Kota Palu tanpa mendatangi Matantimali. Sebuah pegunungan yang terletak di Kecamatan Morowala, Kabupaten Sigi, Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Lokasi yang memiliki ketinggian sekitar 1.500 meter dari permukaan laut ini menyuguhkan begitu banyak pemandangan indah. Hingga membuat kita tidak bosan berlama-lama di tempat ini, karena segala sisinya yang memanjakan mata.

Melirik ke sebelah utara kita dapat melihat pemukiman yang padat, bentangan Teluk Palu yang begitu cantik dan sebagian wilayah pantai barat Kabupaten Donggala pun dapat terlihat dengan jelas. Di bagian Timur, kita melihat Kabupaten Sigi secara utuh, sungai raksasa (sungai Palu) yang panjang nan berkelok-kelok.

Selain dapat menikmati pemandangan indah, di sini juga Anda dapat melakukan olahraga paralayang. Kondisi geografisnya yaitu letak, ketinggian, temperatur dan keadaan angina, sangat mendukung untuk melakukan aktivitas ini. Sehingga Matantimali juga dikenal sebagai lokasi Paralayang terbaik se Asia Tenggara bahkan tingkat dunia.

Untuk mencapai lokasi tersebut membutuhkan waktu sekitar satu jam dari Kota Palu, yang ditempuh dengan menggunakan kendaran baik motor maupun mobil. Setelah itu, hanya butuh sedikit waktu menuju puncaknya dengan menelusuri jalan berbatu, pinggiran curam serta melewati sejumlah desa di Kecamatan Marawola Barat atau jalan utama menuju Kecamatan Pinembani, Kabupaten Donggala.

Dalam perjalanan menuju puncak, Anda akan disuguhkan pemandangan berupa hamparan sawah, pegunungan Gawalise serta lembah Palu. Selain itu, kita juga dapat menyaksikan keindahan pohon-pohon pinus ketika tiba di pegunungan Matantimali.

Terkait fasilitas yang disediakan, Anda tidak perlu khawatir karena terdapat lokasi perkemahan, tempat parkir kendaraan, penginapan serta baruga yang disewakan untuk pengunjung. Sedangkan untuk akses masuk ke puncak tidak dipungut biaya.

Jika berkemah disini, Anda tidak perlu takut untuk kekurangan air baik untuk mandi maupun buang air karena disini semua telah disediakan. {Rista Amran}

1.Suasana Matantimali ramai pengunjung (Gambar: Tahmil Burhanudin Hasan)

2.Sunrise dari puncak Matantimali (Gambar: Andreas Randy C)

Wisata Alam dan Kenikmatan Kopi Hanya Ada di Pekalongan

Published in Nasional
Rabu, 09 Desember 2015 14:33

Medialingkungan.com – Anda pecinta alam sekaligus penikmat kopi bingung untuk menjelajah ke lokasi untuk merasakan suasana lain, sebaiknya jangan, karena Hutan Ekowisata Petungkriyono menjadi tempat yang sangat pas untuk dijadikan salah satu lokasi yang tepat untuk anda kunjungi.

Di Hutan ini juga menjadi salah satu dari sedikitnya habitat Owa Jawa Hylobates moloch yang masih tersisa dan merupakan tempat tinggal satwa-satwa khas Pulau Jawa yang lain. Selain menjadi rumah bagi satwa, hutan Petungkriyono juga memiliki potensi sumberdaya alam yang melimpah terutama hasil tanaman kopinya yang begitu nikmat.

Biji-biji kopi lokal yang berada di sekitar hutan ekosistem Petungkriyono telah lama membantu masyarakat setempat untuk mendapatkan mata pencaharian serta menghidupi keluarga mereka sehari-harinya.

Kopi Petungkriyono atau lebih dikenal dengan sebutan "Kopi Owa" sudah lumayan tersohor di berbagai daerah di Indonesia. Bila Anda mengaku sebagai pecinta kopi belum lengkap rasanya jika Anda belum mencium aroma serta mencicipi kenikmatan menyeruput kopi owa Petungkriyono.

Perjalanan ke kawasan Ekowisata Petungkriyono Pekalonganmemakan waktu cukup lama, sekitar satu setengah jam lebih dari Kota Pekalongan dengan menempuh jarak sejauh 42-an km. Ekowisata Petungkriyono berada di ujung selatan Kabupaten Pekalongan yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Batang, Banjarnegara dan Wonosobo.

Wilayah Petungkriyono luasnya mencapai 5.000 hektare lebih. Selain hutan alam, di sana ada sejumlah desa yang lokasinya berjauhan dengan lahan persawahan subur. Ada beberapa ekor lutung, kera berbulu hitam, yang berada di atas pepohonan tinggi menjulang, sungguh begitu indah lokasi tersebut. {Angga Pratama}

1. Suasana alam di hutan ekowisata Petungkriyono Pekalongan (Gambar: panoramio)

2. Kopi Owa yang ada di kawasan Petungkriyono Pekalongan (Gambar: bp)

Medialingkungan: Visit Hutan Ekowisata Petungkriyono, Pekalongan - Wonderful Indonesia

Desa Boro yang Menyimpan Keindahan Alam

Published in Ekowista & Traveling
Minggu, 29 November 2015 16:16

Medialingkungan.com – Jika anda berkunjung ke Yogyakarta dan tidak menjajakan kaki di Desa Boro maka sungguh sayang, dikarenakan Desa Boro sebuah tempat ditengah persawahan yang masih asri dan diapit oleh pegunungan Menoreh.

Desa Boro terletak di Kecamatan Kalibawang Kabupaten Kulonprogo untuk berkhunjung ke daerah ini anda mesti menempuh dengan jalan darat dari Kota Yogyakarta selama 1 jam. Desa tersebut sudah menjadi tempat wisata sekitar lima tahun lamanya dan menjadi tempat favorit masyarakat Yogyakarta.  

Kenapa mesti Desa ini dikunjungi? karena pemandangan alam yang hijau dan asri. Sawah menghijau, sungai dengan batu-batu  besarnya, gemericik suara air saluran irigasi yang berasal dari air Sungai Progo, langit biru dan awan putih menyatu dengan Desa Wisata ini. Desa ini juga menyediakan wisata alam dan outbound.

Tak mengherankan jika Desa Boro ini menarik karena merupakan daerah tangkapan air wilayah Barat Yogyakarta. Lahan yang dipakai untuk aktivitas wisata alam dan outbound sebelumnya merupakan kebun tebu dan tidak ada pohon sama sekali seluas 1.03 ha. Daerah yang dulunya kebun tebu, disulap menjadi tempat yang rindang dan sejuk.

Bila anda ingin berkunjung, anda dapat mendaftar secara online maupun mengontak langsung pengelola Deso Boro. Karena pengelola Desa Deso memiliki prinsip pembatasan pengunjung dalam 1 hari hanya menerima 300 pengunjung karena berhubungan dengan daya dukung lingkungan, kamar mandi, air dan lainnya karena wisata alam tersebut bukan wisata massal yang memperbolehkan berapapun pengunjung bisa datang. {Angga Pratama}

1. Suasana outbound di Desa Boro (Gambar: Mongabay)

2. Keriangan para pengunjung saat melakukan arum jeram di Desa Boro (Gambar: kriwil)

Medialingkungan: Visit Desa Boro, Yogyakarta - Wonderful Indonesia 

Permandian yang Menyatu Dengan Alam Eremerasa Bantaeng

Published in Ekowista & Traveling
Jumat, 09 Oktober 2015 15:37

Medialingkungan.com – Cuaca yang panas saat ini membuat seluruh tubuh serasa ingin berendam sambil menikmati pemandangan yang indah serta dikelilingi pepohonan. Di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan mampu menawarkan tempat permandian yang mampu membuat tubuh kembali segar.

Permandian Alam Eremerasa terletak di desa Kampala, Kecamatan Eremerasa. Permandian ini terletak di tengah hutan, pepohonan yang menjulang tinggi menunjukkan bahwa pohon-pohon tersebut telah tua dan tidak dirusak demi untuk menjaga ketersediaan air pada permandian tersebut.

Kolam tersebut berisi air yang dikeluarkan akar pohon-pohon di sekitar permandian. Uniknya, air tersebut tak pernah berhenti keluar meskipun musim kemarau yang panjang. Di musim hujan air tersebut tak berwarna keruh, airnya tetap jernih dan deras.

Permandian alam Eremerasa memiliki dua kolam utama yakni kolam yang berukuran besar dengan kedalaman mencapai 3 meter, dan kolam kedua untuk anak-anak dengan kedalaman maksimal 1 meter. Anda dapat menikmati kolam renang meski tidak pandai berenang karena di sana disediakan juga ban dalam bekas yang disewakan untuk satu atau dua orang di atasnya.

Rasa penat anda akan hilang karena disuguhi permandian yang menyatu dengan alam dan anda dapat menikmati pemandangan yang indah, anda juga akan mendengar suara hewan-hewan yang biasanya ada di dalam hutan hingga suhu udara yang sangat dingin.

Pada lokasi tersebut juga terdapat rumah huni kecil untuk berkumpul bersama untuk sekedar istirahat sambil menikmati makanan yang dapat dibawa dari luar permandian. Namun jangan lupa anda harus membuang sampah di tempatnya demi menjaga kelestarian dan keindahan permandian.

Untuk menuju ke permandian alam Eremerasa anda dapat menempuh perjalanan dengan menggunakan kendaraan pribadi atau umum baik beroda dua maupun empat. Jika anda berkendara dari arah Kab. Jeneponto, maka beloklah ke arah kiri melewati Jalan Sungai Calendu sampai pertigaan yang terdapat di Desa Ulugalung.

Lalu, ketika anda berjumpa di pertigaan di depan Puskesmas Desa Ulugalung. Selanjutnya anda berlelok ke kanan, sehabis itu anda harus menempuh perjalanan sekitar 5 km lagi agar bias sampai ke lokasi tersebut. (Andi Tanti) 

1. Suasana di permandian Eremerasa Bantaeng disaat waktu pagi (Gambar: jayanjayan)

2. Kolam yang begitu bersih dan nikmat (Gambar: jayanjayan)

Medialingkungan: Visit Permandian Eremerasa Kab. Bantaeng - Wonderful Indonesia

Wisata Di Tengah Kota Jakarta

Published in Ekowista & Traveling
Selasa, 06 Oktober 2015 14:57

Medialingkungan.com – Jika kita mendengar kata Jakarta rasanya tidak mungkin menemukan tempat yang dipenuhi dengan pepohonan dan suasana asri dan alami. Karena kenyataannya Jakarta terkenal dengan padatnya kendaraan serta polusi udara. Namun, ternyata dibalik semua itu Jakarta mempunyai wisata alam yang harus anda kunjungi yaitu Hutan Mangrove di Taman Wisata Alam Angke Kapuk. 

Pada mulanya kawasan hutan mangrove Angke Kapuk dikukuhkan sebagai Cagar Alam sejak tahun 1939 dengan luas 1.114 ha pada masa pemerintahan Kolonial Belanda. Kawasan ini dirancang sebagai daerah penyangga lahan basah untuk menampung masa air pada saat pasang besar dan banjir.

Seiring dengan perkembangan, kawasan mangrove Angke Kapuk banyak dikonversi menjadi peruntukan lain seperti pemukiman, tambak terbuka, jalan jalur tol Cengkareng dan lapangan golf pantai indah kapuk.

Tidak hanya menjadi tempat wisata saja, kawasan ini juga sebagai tempat edukasi dengan mendokumentasikan nama-nama jenis pohon yang ada di sana. Tanaman mangrove memang memiliki banyak jenis dan anda dapat mempelajarinya. 

Pada tiap-tiap bagian mempunyai fungsi tersendiri, ada sekedar tanaman-tanaman bakau yang berfungsi sebagaimana mestinya, dan ada juga tempat untuk pembibitan bagi instansi, masyarakat atau pengunjung yang ingin melakukan penanaman.

Untuk menuju ke Taman Wisata Alam Angke Kapuk anda mesti menggunakan kendaraan pribadi dari arah tol Soekarno-Hatta, keluar tol Pantai Indah Kapuk (PIK). Dari pintu keluar, mengikuti jalur perempatan Grand Cengkareng, kemudian belok kanan hingga bertemu perempatan lalu belok kanan. Lokasinya kira-kira 20 meter di sebelah kanan jalan.

Jika anda menggunakan Busway Koridor 9 sampai shelter terakhir di Pluit. Dari shelter Pluit, anda dapat menggunakan ojek atau bajaj ke Kawasan Ekowisata Mangrove Tol Sedyatmo di Pantai Indah Kapuk.

Opsi kedua adalah menggunakan Busway Koridor 9 sampai shelter Grogol naik angkot merah B-01 sampai perempatan Muara Karang. Kemudian anda lanjutkan dengan menggunakan angkot merah U-11 sampai Kawasan Ekowisata Mangrove Tol Sedyatmo.

Hutan bakau atau mangrove merupakan hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak di garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut tepatnya di daerah pantai dan di sekitar muara sungai. (Andi Tanti)

1. Suasana disaat sore hari pada kawasan mangrove angkek (Gambar: jayanjayan)

 

2. Jalur yang mesti dilewati saat menuju lokasi (Gambar: jayanjayan)

Medialingkungan: Visit Taman Wisata Alam Angke Kapuk Jakarta - Wonderful Indonesia

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini