medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Gua Rancang Kencono, Gua Unik Dengan Nilai Sejarah Tinggi

Published in Ekowista & Traveling
Minggu, 13 September 2015 22:30

Medialingkungan.com – Gua Rancang Kencono, terletak di Padukahan Manggoran II, Desa Bleberan, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Berada di tengah perbukitan kapur dan hutan jati Gunungkidul yang juga merupakan wilayah Kawasan Karst Pegunungan Sewu dengan bentang alam yang unik

Ukuran gua ini kurang lebih 400 meter persegi. Uniknya, pada bagian tengah gua terdapat pohon klumpit (Terminalia edulis) yang diperkirakan sudah berusia kurang lebih 2 abad. Di dalam gua terdapat stlagtit yang menggantung langit-langit gua.

Selain keindahan yang dimilikinya, tempat ini juga mempunyai nilai sejarah yang tinggi. Pasalnya, gua ini dulunya digunakan sebagai lokasi pertemuan Pangeran Diponegoro dan Sentot Prawirodirjo dalam menyusun strategi penyerangan terhadap Belanda.

Memasuki Gua Ranccang Kencono anda harus menuruni tangga batu yang sudah dibangun sejak dulu. Terdapat ruangan kecil yang sempit dan gelap gulita.

Untuk masuk ke ruangan ini anda harus melewati celah kecil untuk merunduk. Menurut penduduk cela tersebut akan membawa anda menuju air terjun Sri Gethuk. Namun ukurannya yang sangat sempit sehingga anda harus berpikir ulang untuk masuk ke dalam celah.

Terdapat dua jalur yang dapat anda tempuh menuju ke gua tersebut. Jalur pertama yaitu Yogyakarta – Piyungan – Patuk – Pertigaan Gading – Playen – Bleberan. Kemudian jalur kedua Yogyakarta – Imogiri – Panggang – Playen – Bleberan. Terserah anda ingin memilih jalur yang mana. (Andi Tanti)

Suasana di dalam Gua Rancang Kencono (Gambar: jagadwisata.blogspot.com)

Mengisi Liburan Dengan Menikmati Pesona Gugusan Pulau Togean

Published in Ekowista & Traveling
Jumat, 11 September 2015 20:18

Medialingkungan.com – Jika anda mencari tempat wisata yang indah namun jauh dari hiruk pikuk keramaian kota, Taman Nasional Kepulauan Togean menjadi pilihan yang tepat dalam mengisi agenda liburan anda. Terletak di Teluk Tomini, Kabupaten Tojo Una-una, Sulawesi Tengah.

Kepulauan ini merupakan gugusan pulau kecil yang terbentang di tengah Teluk Tomini. Beberapa pulau yang tersohor antara lain Pulau Malenge, Pulau Una-Una, Pulau Batudaka, Pulau Talatakoh, Pulau Waleakodi, dan Pulau Waleabahi.

Selain hamparan pasir putih dan lautnya yang biru jernih, anda juga dapat menikmati hutan mangrove dengan 33 spesies mangrove-nya. Gua-gua, sungai dan air terjun di sekitar pulau, menambah keindahan pulau ini.

Penyu hijau (Chelonia mygas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbriocata), yang tergolong spesies penyu langka, juga terdapat di tempat ini dengan menjadikan pantainya sebagai tempat mencari makan dan berkembang biak.

Kepulauan Togean termasuk bagian penting dari segitiga terumbu karang dunia, yaitu Sulawesi, Filipina dan Papua Nugini. Spesies yang berada di bawah laut yaitu paus pilot, kima raksasa (Tridacna gigas), dan lola (Trochus niloticus), ikan pari manta, hiu karang abu-abu, dan ikan trevally mata besar, dan tentunya warna-warni karang.

Di daratan, terdapat hewan endemik Sulawesi yang dilindungi seperti tangkasi (Tarsius sp), kuskus (Ailurops ursinus), rusa (Cervus timorensis), dan ketam kenari (Birgus latro). Ada pula monyet togean (Macaca togeanus), biawak togean (Varanus salvator togeanus) dan babi rusa togean (Babyrousa babirussa togeanensis) yang hanya ada di Kepulauan Togean.

Untuk menuju ke pulau ini dari Kota Palu ditempuh dengan lama perjalanan sekitar 10 jam. Di perjalanan anda akan menikmati keindahan gunung kebun kopi dan keindahan pantai di Garis Khatulistiwa. Kemudian dilanjutkan dengan perjalanan melalui perahu dari Ampana ke Wakai dan Malenge. (Andi Tanti)

1. Wisata hutan mangrove yang terletak di Pulau Togean (Gambar: www.indonesia.travel)

2. Keindahan pasir putih di pulau Togean (Gambar: www.indonesia.travel)

 

Wisata Pemandangan Terbaik di Sulsel, Ada di Marra’

Published in Ekowista & Traveling
Senin, 17 Agustus 2015 17:34

Medialingkungan.com – Udara di perkotaan kini tak bersih lagi. Dua dasawarsa lalu udara masih terasa segar, tapi di saat ini udara tak sehat bagi tubuh kita. Jika anda memiliki waktu luang, sebaiknya anda sesegera mungkin bergegas ke kawasan wisata Marra’ yang terletak di Kecamatan Sinjai Borong, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan.

Jarak lokasi wisata ini tidak jauh dari Kota Makassar yang hanya membutuhkan waktu sekitar empat jam. Daerah tersebut memiliki udara yang masih alami, anda akan merasakan suasan yang jauh berbeda dari Ibu Kota Makassar.

Suhu yang dimiliki kawasan tersebut terbilang cukup dingin, ini dikarenakan Sinjai Borong terletak di kawasan pegunungan. Kawasan wisata ini dapat dijangkau dengan menggunakan kendaran roda empat maupun roda dua, dengan kondisi jalan yang agak berbatu, berliku, dan menanjak.

Marra’ termasuk dalam kawasan Taman Hutan Raya yang terdapat di daerah ini, di tengah perjalan, anda akan disapa ditemani oleh udara yang lembut, perkebunan tembakau yang tertata rapih, serta tanaman lainnya yakni, tanaman kopi, cengkeh, sayuran hijau berupa kubis, daun bawang, kacang-kacangan, dan lain sebagainnya.

Berkunjung di kawasan ini tidak akan dipungut biaya sama sekali atau biasa disebut gratis. Jika anda hobby selfie-selfie disinilah tempat yang luar biasa menjadikan latar foto anda makin menarik.

Berjalan kaki beberapa meter saja untuk menaiki bukit-bukit pada kawasan ini tidak akan terasa lelah. Tetapi, ketika anda mencapai puncak anda akan melihat daerah Bulukumba yang enak dipandang dari puncak bukit. Fasilitas yang dimiliki kawasan wisata tersebut dilengkapi penginapan seperti villa yang dapat anda sewa dan harganya pun terbilang terjangkau bagi kelas menengah kebawah. (Atira Ilfa)

1. Suasana villa yang berada di kawasan wisata Marra' Kab. Sinjai (Gambar: jalanjalanasyik)

2. Tanaman tembakau yang akan anda kunjungi di setiap perjalanan ke lokasi wisata Marra' (Gambar: istimewa)

Medialingkungan: Visit Kawasan Wisata Marra' Kab. Sinjai, Sulawesi Selatan - Wonderful Indonesia

Keindahan Air Terjun Kembar Barambang, Sinjai

Published in Ekowista & Traveling
Sabtu, 15 Agustus 2015 18:04

Medialingkungan.com – Ingin menikmati pesona air terjun kembar? di Desa Barambang, Kecamatan Sinjai Borong, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, daerah itu mampu menjawab keinginan anda untuk menikmati air terjun kembar. Desa Barambang menyimpan segudang rahasia keindahan alam yang saat ini orang belum mengetahuinya dan salah satu rahasia dari desa itu yaitu air terjun kembar.

Di desa ini memiliki dua buah air terjun yang berdampingan dengan ukuran yang terbilang sama, kedua air terjun ini memiliki ketinggian kurang lebih 40-50 Meter. Dengan tingkat ketebalan air 3 meter. Serta berasa pada 800 meter diatas permukaan Laut. Untuk memasuki kawasan tersebut, anda mestih merogoh kantong anda sebanyak Rp2.500 per kepala.

Untuk mencapai lokasi wisata, jika anda start dari Kota Makassar dengan melalui jalan Poros Malino akan memakan waktu sekitar 4 jam untuk sampai di lokasi tersebut. Anda bisa menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Kondisi jalan yang meliuk dan menanjak akan menguji adrenalin anda.

Tetapi, anda tidak mesti cemas dengan kondisi jalan, dikarenakan di sisi kiri dan kanan mata akan disuguhi dengan hamparan sawah yang tertata rapih, dan perkebunan tembakau bagaikan permadani hijau menghiasi bukit-bukit di kawasan ini, ada juga beberapa pohon pinus yang tumbuh subur.

Kawasan wisata ini ramai dikunjungi ketika musim libur tiba, anda dapat membawa sanak famili untuk berlibur ditempat ini. Tersedia juga beberapa fasilitas seperti, gazebo untuk beristirahat, jika anda tidak membawa bekal, anda tidak perlu khawatir, tersedia juga warung makan yang terletak di depan loket pembayaran. (Atira Ilfa)

1. Suasana Gazebo yang berada di sekitar air terjun Barambang, Kab. Sinjai (Gambar: kidnesia)

2. Air terjun kembar di waktu pagi (Gambar: ytimg)

Medialingkungan: Visit Air Terjun Kembar Barambang, Kab. Sinjai - Wonderful Indonesia

 

 

Pulau Kecil di Barat Makassar yang Indah

Published in Ekowista & Traveling
Selasa, 04 Agustus 2015 09:43

Medialingkungan.com – Padatnya kendaraan di Kota Makassar ditambah sengatan matahari membuat perasaan menjadi tidak nyaman. Mau membuat perasaan anda terasa nyaman dan serasa sejuk tetapi bingung mau ke mana? Sebaiknya anda sesegera mungkin menjajakan kaki ke salah satu pulau terbaik yang ada di Kota Daeng yaitu Pulau Lae-lae.

Pulau Lae-lae merupakan pulau kecil di barat Makassar yang berjarak 1.5 Km dari Makassar dan kiita dapat melihatnya jelas langsung dari Pantai Losari. Pulau dengan luas 6,5 ha berpasir putih ini dihuni oleh 400 keluarga atau sekitar 2.000 jiwa.

Kita dapat berkunjung melalui dermaga kayu Bangkoa di jalan Pasar Ikan no. 28 atau dermaga yang terletak di depan Benteng Fordrotherdam dengan menggunakan speedboat/jonson dengan waktu kurang dari 15 menit dan biayanya Rp15.000 per orang untuk menaiki perahu motor agar sampai di pulau tersebut.

Di pulau Lae-lae terdapat pula situs sejarah peninggalan perang yaitu sebuah terowongan bawah tanah, yang konon katanya terhubung dengan benteng kota Makassar/Fordrotherdam.

Di sekitar pulau banyak disewakan balai-balai bambu sebagai tempat berteduh dengan harga berkisaran Rp25.000 – Rp40.000. Bagi anda yang tidak membawa bekal, jangan khawatir karena di Pulau Lae-lae sudah memiliki warung yang menyediakan makanan dan minuman yakni, ikan bakar serta makanan ringan khas Makassar yaitu, jalankote, biikandoang, ubi goring, panada, dan lainnya.

Deretan pohon dan pasir putih yang nan indah mampu membuat suasana hati menjadi tenteram dibuatnya. Laut yang biru juga membuat para penggemar penyelam dan yang hobi snorkeling di Pulau Lae-lae sangat cocok menjadi pilihan utama untuk melakukan liburan keluarga atau salah satu tempat refreshing.

Di Sisi selatan Pulau Lae-lae anda dapat menikmati dan berjalan dibebatuan pemecah ombak yang berbentuk pyramid segita.

Konon asal muasal dari nama Pulau Lae-lae sendiri menurut cerita ada sebuah kapal bermuatan orang China yang terdampar di karang berpasir. Ketika itu orang China memanggil-manggil dan berteriak dengan bahasa China dengan sebutan Lae-lae yang artinya kemari-kemari, semenjak itulah Tanjung itu disebut Tanjung Lae-lae dan sekarang menjadi Pulau Lae-lae. (Angga Pratama)

1. Keindahan bawah laut Pulau Lae-lae (Gambar: panduanwisata)

2. Dermaga kayu bangkoa beserta transportasi laut untuk menuju Pulau Lae-lae (Gambar: googleusercontent)

Medialingkungan: Visit Pulau Lae-lae, Makassar - Wonderful Indonesia

 

Misteri dan Keindahan Pulau Nias

Published in Ekowista & Traveling
Rabu, 22 Juli 2015 20:36

Medialingkungan.com – Suasana liburan kini telah berlalu. Namun, liburan masih menyisihkan waktu. Semarak keakraban sanak family begitu terasa di mall-mall dan pusat kota di berbagai tempat. Bukan hanya mall yang menjadi tujuan utama untuk berlibur, Medialingkungan menawarkan destinasi yang seru yaitu Pulau Nias dijamin jauh lebih menarik untuk disambangi.

Pulau Nias adalah sebuah pulau yang terletak di sebelah barat pulau Sumatera, pulau ini dihuni oleh mayoritas suku Nias (Ono Niha) yang masih memiliki budaya megalitik. Daerah ini merupakan obyek wisata penting seperti selancar (surfing), rumah tradisional, penyelaman, dan yang tak kalah penting fahombo (lompat batu).

Berkunjung ke pulau ini serasa menelusuri kehidupan masa lalu, waktu seakan berhenti dipagari budaya megalit yang masih lestari. Di tengah Samudera Hindia yang luas itu, pulau ini menjadi rumah bagi budaya zaman batu kuno yang mengagumkan untuk dikunjungi.

Untuk bepergian ke Pulau Nias membutuhkan kesabaran karena angkutan umum sulit diakses. Di Gunungsitoli , terminal bus berjarak 1,5 km ke Selatan dari pusat kota. Anda juga dapat menggunakan minibus atau opelet yang berangkat dari Gunungsitoli  menuju ke arah Selatan pasar Teluk Dalam. Perjalanan dari Gunungsitoli  menembus pinggir pantai dan perbukitan menuju Teluk Dalam, Nias Selatan.

Gunungsitoli  merupakan pintu gerbang ke Pulau Nias. Bandara Binaka berjarak 15 km dari kota. Untuk mencapainya ada beberapa rute yaitu melalui Kota Medan atau Padang. Dari Medan harus melalui udara dengan Merpati dan SMAC. Setiap harinya setidaknya ada dua penerbangan, pagi dan siang. Tarifnya berkisar Rp500.000,- sedangkan menggunakan kapal fery cepat selama 3 jam dengan tarif termahal Rp100.000,-.

Kebanyakan akomodasi di Pulau Nias terbilang sederhana. Biasanya itu berupa tempat tinggal penduduk atau losmen. Di Gunungsitoli  ada banyak restoran kecil di sepanjang jalan raya-nya.

Berbagai pantai indah bisa Anda nikmati jika berkunjung ke Nias. Di antaranya, Teluk Dalam yang tinggi ombaknya bisa mencapai lima meter dan Pantai Sorake yang airnya jernih kebiruan. Kabarnya, pantai ini adalah tempat terbaik untuk berselancar setelah Hawaii. Selain itu, banyak juga turis yang berselancar di Pulau Asu, Pulau Bawa, dan Pulau Telo. Anda yang suka menyelam juga bisa mencicipi keindahan dasar laut di Pantai Lagundri.

Tips bagi Anda, gunakan kata Ya’ahowu! Sebagai sapaan bertemu orang setempat di pulau Nias. Jangan ragu menegur masyarakat sekitar karena mereka akan menjawab dengan antusias. Kata ini juga sanggup menjadi kalimat pembuka yang efektif apabila Anda ingin bertanya atau berdialog dengan penduduk di Pulau Nias. (Angga Pratama)

1. Tampak dari laut Pulau Nias (Gambar: wp)

2. Lompat batu hal yang masih dilakukan oleh budaya nias (Gambar: ammarhamzah9)

Medialingkungan: Visit Pulau Nias, Sumatra - Wonderful Indonesia

Mengelola Ekowisata Berbasis Masyarakat di Kalimantan Barat

Published in Nasional
Sabtu, 04 Juli 2015 12:05

Medialingkungan.com – Sejumlah pihak bersepakat mengelola manajemen ekowisata berbasis masyarakat di Desa Melemba, Kecamatan Batang Lupar, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Upaya ini menjadi bagian dari pengembangan pariwisata yang memanfaatkan potensi jasa lingkungan di kawasan taman nasional.

Nota kesepahaman diteken oleh WWF-Indonesia Program Kalbar, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kapuas Hulu, Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS), Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Model Kapuas Hulu, dan Pemerintah Desa Melemba di Putussibau, Kamis (25/06).

Kepala Disbudpar Kapuas Hulu, Antonius mengatakan pihaknya telah menyelesaikan dokumen Roadmap Pengembangan Kawasan Ekowisata Kabupaten Kapuas Hulu pada 2014. “Upaya kolaboratif ini merupakan salah satu bentuk implementasi bagi pengembangan ekowisata yang nyata di Kapuas Hulu,” katanya di Putussibau, Kamis (26/06).

Menurut Antonius, operator pengelolaannya kelak akan dilakukan oleh masyarakat Desa Melemba yang didorong melalui pendekatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Ini menjadi salah satu sistem pengelolaan hutan yang lestari dan bertanggung jawab.

Lebih jauh, Antonius mengatakan, nota kesepahaman ini diharapkan dapat menjadi modal bagi masyarakat Desa Melemba dalam memiliki akses pengelolaan ekowisata yang lebih baik. Selain itu, melalui kesepahaman ini pula, pengembangan ekowisata di Desa Melemba diharapkan dapat mempercepat langkah menuju Kawasan Strategis Kabupaten (KSK) pengembangan ekowisata.

Kepala Balai TNDS, Sahdin Zunaidi mengatakan Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu telah menetapkan KSK di koridor antara Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) dan TNDS. “Ini merupakan kawasan strategis untuk melindungi fungsi dan daya dukung lingkungan. TNDS sangat mendukung sekaligus memperkuat komitmen ini guna mewujudkan ekowisata yang lebih baik, khususnya di wilayah kelola TNDS,” katanya.

Sementara Kepala KPH Model Kapuas Hulu, Welli Azwar mengatakan 59 persen kawasan hutan yang dikelola oleh masyarakat Desa Melemba merupakan wilayah kerja dari KPH Kapuas Hulu. “Dengan menerapkan pengelolaan hutan yang lestari di kawasan KPH, akan memberikan dampak positif di mana hutan dapat memproduksi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) seperti madu, rotan, dan bambu,” ucapnya.

Melalui nota kesepahaman ini, para pihak diharapkan semakin solid mendukung dan berbagi peran untuk pengembangan ekowisata di Melemba. WWF-Indonesia akan terus mendorong konsep skema sertifikasi jasa lingkungan yang sedang berjalan agar mendapatkan sertifikasi jasa lingkungan berbasis pengelolaan hutan lestari.

“Dalam lingkup konservasi pulau yang dihubungkan dengan keberadaan HoB (Heart of Borneo), upaya kolaboratif ini bisa dipandang sebagai implementasi progam di tingkat kabupaten. Ini bermuara pada terwujudnya skema jasa lingkungan yang berkeadilan melalui konsep sertifikasi jasa lingkungan khususnya di Dusun Meliau, Desa Melemba, agar mendapatkan sertifikasi jasa lingkungan berbasis pengelolaan hutan lestari,” urai Albertus Tjiu, Manajer Program Kalbar WWF-Indonesia.

Pada akhirnya nota kesepahaman ini dapat memberikan manfaat lebih, sekaligus memberikan gambaran bagaimana pengelolaan kawasan bisa dilakukan secara bersama-sama dengan masyarakat sekitar hutan, serta dilakukan secara lestari dan bertanggung jawab dengan mengedepankan prinsip ekologi dan ekonomi. (WWF/Siaran Pers)

Keindahan Pemandangan Negeri Seribu Bukit

Published in Ekowista & Traveling
Sabtu, 27 Juni 2015 16:07

Medialingkungan.com – Jika anda merasa penat dengan berbagai macam aktifitas atau banyaknya tugas di kantor. Sesekali anda mesti lepaskan semua stress dan penat anda dengan mengunjungi Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Nangroe Aceh Darussalam. Pemandangan yang dimiliki perbukitan seribu ini sungguh menakjubkan mampu membuat pikiran menjadi fresh kembali.

Untuk menjajakan kaki anda ke Aceh Gayo Lues mesti menggunakan jalur darat yang memakan waktu perjalanan jika berangkat dari Kota Medan itu bias sampai 10 hingga 11 jam lamanya. Namun anda jangan khawatir, mulai 1 Januari 2015 lalu dikabarkan Susi Air dan pesawat perintis lainnya akan membuka rute dari Medan ke Blangkejeren ini. Waktu tempuh dengan menggunakan pesawat hanya memakan waktu selama 1 jam.

Perbukitan di tepian kota Blangkejeren menawarkan pemandangan yang menakjubkan. Untuk mencapai perbukitan yang indah ini, sebaiknya anda menggunakan bentor yang berbagai macam warna yakni, hijau pupus, kuning, dan merah yang akan siap mengantarkan anda ke tempat tujuan.

Perjalanan akan terasa jika menggunakan kendaraan tiga roda tersebut. Sebab dalam setiap perjalanan, bentor akan meliuk-liuk mengikuti jalur dan sesekali akan singgah di tempat pemandangan yang nan indah. Desa Akang Siwah, Blangpegayon adalah desa penghasil tebu, di tempat itu sesekali kita akan melihat cara tradisional pemerasan tebu, mulai dari menggunakan tenaga manusia hingga kerbau.

Tiba di puncak perbukitan, bentor merapat di tepi jalanan, dan di sana terhampar hamparan pemandangan lepas menuju arah perkotaan Blangkajeren. Bukit-bukit yang bersusun akan memamerkan keelokan Kabupaten Gayo Lues.

Selepas menikmati pemandang yang indah, ternyata suguhan Nangroe Aceh Darussalam masih ada. Di Desa Lempu beberapa warga akan menerima pengunjung dengan ramah sambil menawarkan kopi serta jagung bakar. Anda pun dapat melepas lelah di tepian kolam ikan dengan dilengkapi jejeran kodok besar dua kepalan tangan orang dewasa, atau anda boleh naik di teras kayu yang berada di atas kolam ikan.

Duduk sambil menyerup kopi serta menggerutu jagung ditangan dengan suasana puncak mampu membuat perasaan menjadi rileks. Bincang-bincang dengan kawan akan terasa luwes apalagi bersama pasangan hati sambil memanjakan kedua bola mata dengan pemandangan yang indah. (Angga Pratama)

1. Gapura menuju Aceh tengah di perbatasan Gayo Lues (Gambar: lintasgayo)

2. Hamparan yang luas di Gayo Lues (Gambar: kompas)

Medialingkungan: Visit Gayo Lues, Nagroe Aceh Darussalam - Wonderful Indonesia

 

Pantai Ujung yang Tersembunyi di Bulukumba

Published in Ekowista & Traveling
Rabu, 17 Juni 2015 09:00

Medialingkungan.com – Pantai Bira, Bara, dan Apparalang yang berada di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan memang sangat menarik untuk dijadikan salah satu pilihan pertama untuk berlibur. Namun, di Bulukumba juga menyimpan satu pantai yang tidak kalah menarik yaitu Pantai Ujung terletak di Kecamatan Bontotiro mampu memanjakan mata anda dan membuat hati anda jadi tenang dan rileks jika berada di pantai ujung.

Dinamakan pantai ujung, karena pantai ini terletak paling ujung, pantai ini tidak memiliki pasir putih, namun hanya hamparan laut dan tebing disekelilingnya. Warna dari air pantai ujung begitu jernih, batu karang terlihat sangat jelas dari ketinggian, begitupun berbagai jenis ikan.

Untuk menuju ke pantai ujung, anda akan mengalami rintangan dengan jalanan yang kurang baik dan juga dikelilingi oleh hutan yang belum terjamak dari tangan-tangan manusia.

Akses menuju ke pantai ini masih sangat kurang, anda dianjurkan menggunakan kendaraan beroda dua, karena jalanan tidak cocok untuk kendaraan beroda empat. Sebaiknya anda pergi pada saat musim panas, karena jika musim hujan, jalanan akan sangat licin, ombak pantai sangat besar begitu juga angin sangat kencang. Namun sesampai di sana, hati anda akan berdengung kencang akibat kagum akan keindahan pantai ujung tersebut.

Pantai ini sangat cocok bagi anda yang suka selfie-selfie, dan bagi model ataupun fotografer bias untuk mencoba melakukan pemotretan di pantai ujung ini. (Andi Tanti)

Pesona pantai ujung yang berada di Kecamatan Bontotiro, Bulukumba, Sulawesi Selatan (Gambar: Andi Tanti

 

#TelusurIndonesia #WonderfulIndonesia

 

Air Terjun Bersusun Parangloe, Tampilkan Lapisan Bebatuan Menarik

Published in Ekowista & Traveling
Senin, 15 Juni 2015 00:43

Medialingkungan.com – Air Terjun Parangloe, terletak di Desa Parangloe, Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa, Propinsi Sulawesi Selatan. Termasuk dalam jajaran air terjun terindah di Sulawesi Selatan karena memiliki karakter bertingkat dengan susunan bebatuan yang menarik.

Air terjun ini menampilkan lapisan bebatuan alami setinggi 30 meter dan memiliki lebar sungai 15 hingga 20 meter dengan aliran air yang deras.

Masyarakat Parangloe sering sekali menyebutnya dengan ‘Air Terjun Bantimurung Dua’, karena memiliki karakteristik yang menyerupai wisata Air Terjun Bantimurung yang berlokasi di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung tersebut. Serta Sungai dari air terjun ini memang memiliki muara dari Bantimurung.

Biasa pula mereka menyebutnya ‘air terjun bertingkat’ atau ‘air terjun bersusun’ yang diambil dari karakteristiknya sendiri yang bertingkat dan bersusun. Namun air terjun ini masih jarang dikunjungi oleh para wisatawan.

Untuk menuju Air Terjun Parangloe terbilang gampang-gampang susah. Sepeda motor adalah pilihan yang tepat sebagai alat transportasi menuju ke lokasi ini, karena dapat mengambil jalur lebih singkat. Akses angkutan umum menuju kesana sedikit sulit dan butuh waktu lama.

Dari Kota Makassar, Anda akan menempuh jarak sekitar 43 kilometer ke arah timur menuju Jalan Poros Malino, dan membutuhkan waktu tempuh sekitar 2 jam dari Kota Makassar. Di Jalan Poros Malino kilometer 41, Anda akan mengambil belokan ke kiri lalu masuk menuju kompleks Kantor Dinas Kehutanan Parangloe.

Parkirlah kendaraan di sana dan Anda akan berjalan kaki masuk ke hutan sekitar 2 kilometer dengan waktu sekitar 45 menit. Diselimuti lingkungan yang masih sangat alami, membuat tempat ini cukup sulit untuk diakses.

Jalan masih tanah, berbatu, serta tidak dapat ditempuh oleh kendaraan kecuali off road, mengharuskan kita menempuh jalan setapak yang lebih mirip sebagai jalur air hujan.

Untuk sampai di tempat ini memang membutuhkan perjuangan yang hebat. Akses yang cukup sulit, sehingga membutuhkan tenaga dan fisik yang kuat. Namun, apabila anda sudah sampai di air terjun, tidak akan ada penyesalan yang Anda rasakan.

Airnya yang jernih, sejuk, dikelilingi hutan hijau, saat membelakangi air terjun terlihat satu gunung di kejauhan muncul di balik pepohonan, akan membayar lunas rasa lelah saat menempuh lokasi tersebut. (Andi Tanti)

 

(Gambar: @longzkiey)

 

 

(Gambar: Scontent.cdninstagram.com)

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini