medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Hadapi Kepunahan, KLHK Berupaya Pulangkan Satwa

Published in Nasional
Senin, 03 Agustus 2015 22:36

Medialingkungan.com – Dalam rangka upaya mengantisipasi isu kepunahan beberapa spesies satwa langka yang ada di Indonesia, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terus berupaya memulangkan berbagai jenis satwa yang berhasil diselundupkan keluar negeri.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Tachrir Fathoni, dalam sebuah dialog tentang ‘Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem’ di kantor KLHK, Senin (03/08), mengungkapkan pihaknya dalam waktu dekat ini akan menjalin komunikasi dengan Pemerintah Thailand terkait pemulangan 13 orangutan yang tertahan di Thailand sejak 2008.

Namun proses pemulangan orangutan itu harus menunggu waktu lima tahun dikarenakan pihak Indonesia harus mengikuti aturan yang berlaku di Negeri Gajah Putih tersebut.

Pemerintah Indonesia juga kini sudah membangun komunikasi dengan Pemerintah Kuwait dalam upaya pengembalian dua orangutan yang diselundupkan di sana.

Sementara itu, Bambang Dahono Adji, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati menyatakan pemerintah juga berupaya untuk memulangkan kembali Badak Sumatera yang saat ini ditangkarkan di Kebun Binatang Cincinnati, Amerika Serikat.

Badak Sumatera yang diberi nama Harapan tersebut akan ditempatkan di Hutan Lindung Way Kambas yang nantinya akan dijadikan induk untuk pengembangan badak sumatera.

Hingga saat ini ada dua badak yang berhasil dikembalikan yaitu badak sumatera bernama Andalas yang berkembang biak dengan badak sumatera lainnya bernama Ratu dan badak yang dikembalikan dari Amerika Serikat bernama Susi, namun badak tersebut mati pada tahun 2014.

Berdasarkan catatan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, satwa lain yang diupayakan untuk dikembalikan adalah burung kakaktua jambul kuning.

Pada tahun 2019, Pemerintah menargetkan akan mengembangbiakkan 25 satwa langka sebesar 10 persen. (Irlan)

Jual Kukang, Kedua Mahasiswa Dibekuk Polisi

Published in Nasional
Rabu, 08 Juli 2015 10:18

Medialingkungan.com – Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Kalimantan Barat (Kalbar), Sustyo Iriyono menetapkan ED dan IY sebagai tersangka pemelihara satwa berjenis kukang. Kedua tersangka tersebut berstatus mahasiswa, ED sebagai ketua komunitas sedangkan IY penjual hewan kukang, Selasa (07/07).

“Saat ini penahanan keduanya masih kita tangguhkan karena masih berstatus mahasiswa,” ujar Sustyo, seperti yang dikabarkan tempo.

Menurutnya, kedua tersangka sudah diambil keterangannya sesaat setelah mereka digadang oleh Satuan Polisi Kehutanan Reaksi Cepat (SPORC), Brigade Bekantan BKSDA Kalbar ketika mengikuti pameran Mini Zoo di Taman Gita Nanda Pontianak.

Saat diamankan, ED sedang menyimpan seekor kukang jantan, dua ekor kukang betina dan satu ekor kukang masih kecil yang berada di ranselnya. Ketika diintrogasi oleh pihak kepolisian, ED mengaku kukang tersebut dibeli dari IY.

Menurut Pasal 21 ayat (2) huruf a Jo Pasal 40 ayat (2) UU Nomor 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman penjara maksimal lima tahun dan denda maksimal Rp 100 juta pada dua tersangka tersebut, katanya.

sementara itu, Tim medis dari Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) telah melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap hewan itu. “Gigi taring kukang telah dipotong. Ini sangat berbahaya bagi kesehatan hewan tersebut,” ucap Tim medis YIARI, Purbo.

Dia menambahkan, pasca penangkapan tersebut, sejumlah anggota komunitas secara sukarela serahkan empat ekor kukang ke BKSDA. Kukang yang disita akan direhabilitasi dan merawat yang masih sakit. (Angga Pratama)

COP Membuka Beasiswa Sekolah Konservasi Orangutan

Published in Event & Komunitas
Selasa, 07 Juli 2015 23:30

Medialingkungan.com – Centre for Orangutan Protection (COP) kembali membuka pelatihan pendidikan konservasi untuk sejumlah mahasiswa atau para pemuda selama enam bulan di kamp Ape Warrior. “Peserta yang menjalani pelatihan akan dilatih menjadi aktivis ligkungan,” ujar Direktur Eksekutif COP, Hardi Baktiantoro, Selasa (07/07).

Pelatihan pendidikan konservasi ini hanya dibuka sekali setahun dan kali ini pelatihan tersebut memasuki tahun kelima. Setiap angkatan sebanyak 30 orang, selama menjalani pelatihan mereka akan mengenal orangutan, habitat, dan usaha pelestariannya dan juga belajar dokumentasi, penelitian, dan komunikasi, termasuk memahami politik lingkungan dan tentunya konservasi, katanya.

Peserta akan dikenakan biaya sebesar Rp 400 ribu, kata Hardi, karena program tersebut telah mendapatkan donatur. Setiap calon peserta menjalani seleksi untuk mengumpulkan data, melakukan penelitian di lapangan seperti ke pasar burung dan lembaga konservasi ex-situ (di luar habitat asli orangutan).

Bagi peserta yang berpendidikan kedokteran hewan akan menjalani pelatihan upaya perawatan satwa liar. Sedangkan mahasiswa biologi meneliti satwa dan mahasiswa komunikasi dilibatkan berkampanye perlindungan satwa. Mereka dilibatkan untuk membuat film dokumentasi dan foto satwa di alam lepas. “Materi yang akan mereka dapatkan tidak pernah dijumpai pada bangku perkuliahan,” ujarnya, seperti yang dilansir harianaceh.

Pendaftaran dan informasi bisa dilihat di situs jejaring sosial maupun situs COP. Para peserta akan mendapat pengalaman yang berbeda dan tak pernah dirasakan sebelumnya. Setelah mengikuti pelatihan mereka bisa terlibat dalam kampanye atau kembali ke lingkungan kerja dan tetap mendukung usaha konservasi satwa.

Kementerian Kehutanan kemudian melayangkan surat ke Perhimpunan Kebun Binatang Seluruh Indonesia yang melarang penggunaan satwa dalam tayangan televisi, terutama dengan menunjukkan dan mempertontonkan perilaku yang tak sesuai dengan perilaku alami di habitatnya. (Angga Pratama)

Setahun, 30 Pemburu Badak Ditembak di Bagian Timur Laut India

Published in Internasional
Sabtu, 13 Juni 2015 10:37

Medialingkungan.com – Pemerintah India telah berurusan dengan pemburu hewan liar ‘bertangan besi’ dalam setahun terakhir. Terdapat 30 pemburu yang tewas di bagian Timur Laut India tahun lalu. Data total jumlah yang dikeluarkan Kementerian Lingkungan India itu merupakan yang tertinggi yang pernah dirilis di negeri itu. Sebagian besar pembunuhan terjadi di Taman Nasional Kaziranga, Assam.

"Jumlah tersebut menunjukkan tekad kami untuk menghilangkan pedagang satwa liar dan pemburu. Ini merupakan prestasi besar pemerintah Modi, "kata Menteri Lingkungan India, Prakash Javadekar pada HindustanTimes (12/06).

Senjata canggih dan mutakhir juga ditemukan dari pemburu liar yang membunuh dan mengambil tanduk badak, kemudian diselundupkan ke Asia Tenggara melalui Myanmar.

Selain itu, pemerintah Assam juga terus berupaya mengejar para pemburu di Kharbi Anglong, Negara bagian Assam untuk menyelamatkan badak bercula satu di Kaziranga dan sekitarnya.

Satwa liar di Negara bagian lain menuai nasib tak sebaik badak. Negara-negara seperti Uttarakhand, Maharashtra dan Madhya Pradesh melaporkan sejumlah kasus besar dalam perburuan liar seperti 23 harimau dan 116 macan tutul yang berhasil ditangkap oleh pemburu liar pada tahun 2014 di India.

"Ini adalah kasus yang telah dilaporkan. Mungkin ada kasus di mana pemburu mengambil seluruh binatang, tanpa meninggalkan jejak, "kata Tito Joseph dari Asosiasi Perlindungan Satwa Liar di India.

Sementara itu, sebuah laporan oleh Otoritas Konservasi Harimau Nasional India juga menunjukkan lemahnya tindakan terhadap perburuan di negara itu.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa hampir 40% dari penjaga hutan tidak memiliki peralatan yang cukup untuk menangani kejahatan satwa liar yang sangat terorganisir. "Negara-negara itu tidak menyediakan dana untuk memodernisasi sistem dan perangkat dalam memanajemen kejahatan terhadap satwa liar," kata seorang pejabat senior. (Fahrum Ahmad)

Spesies Katak Baru Ditemukan Di Pegunungan Brasil Selatan

Published in Informasi & Teknologi
Sabtu, 06 Juni 2015 19:24

Medialingkungan.com – Melalui sebuah eksplorasi selama lima tahun di daerah pegunungan negara bagian Paraná dan Santa Catarina, Brasil selatan, ilmuan menemukan tujuh spesies katak baru.

Semua katak yang ditemukan berasal dari genus Brachycephalus, yang umumnya berukuran kecil. Berdasarkan keterangan dari Marcio Pie, Profesor Universidade Federal do Paraná yang juga pemimpin penelitian tersebut, mengungkapkan panjang katak dewasanya hanya 13 milimeter.

Kebanyakan spesies baru tersebut memiliki warna yang terang, yang awalnya dikhawatirkan bahwa kulit mereka mengandung racun yang disebut tetrodotoxin.

Ketujuh jenis tersebut adalah Brachycephalus mariaeterezae, Brachycephalus olivaceus, Brachycephalus auroguttatus, Brachycephalus verrucosus, Brachycephalus fuscolineatus, Brachycephalus leopardus, dan Brachycephalus boticario.

Berikut gambar keenam spesies lainnya:

 

Brachycephalus mariaeterezae (gambar: PeerJ)

 

Brachycephalus olivaceus (gambar: PeerJ)

 

Brachycephalus auroguttatus (gambar: PeerJ)

 

Brachycephalus boticario (gambar: PeerJ)

 

Brachycephalus colineatus (gambar: PeerJ)

 

Brachycephalus leopardus (gambar: PeerJ)

 

Hasil penelitian ini pun dipublikasikan di dalam jurnal makalah ilmiah PeerJ, Kamis (4/6). (Irlan)

Lemahnya Sanksi Pengaruhi Maraknya Penyelundupan Satwa

Published in Nasional
Senin, 18 Mei 2015 20:03

Medialingkungan.com – Maraknya penyelundupan satwa liar, menurut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya Bakar, salah satunya disebabkan oleh lemahnya sangsi bagi pelaku sebagaimana yang disebutkan di dalam Undang-undang (UU) Nomor 5 Tahun 1990 tentang konservasi sumber daya hayati.

Pasalnya, di dalam undang-undang tersebut hanya memberikan hukuman penjara maksimum lima tahun dan denda sebesar Rp 100 Juta. Hal inilah yang mendorong Menteri Siti Nurbaya untuk membahas undang-undang tersebut bersama dengan Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

"Kami sudah berkomunikasi dengan komisi IV, bapak Edi Prabowo. Dia menyatakan 'Ibu Nur sambil kita lihat, ada program prosedur legislasinya'" ungkapnya seperti yang dikutip CNN Indonesia, Senin (18/05).

Namun Dia mengaku pembicaraannya dengan Komisi IV belum sampai kepada revisi undang-undang tersebut.

"Saya dengan komisi IV belum lompat ke revisi. Tapi lihat dulu yang ini penegakan hukumnya seperti apa. Tapi saya sudah informasikan beberapa hal. Beliau mendukung upaya kita dalam menyelamatkan satwa yang dilindungi ini," ucap Siti.

Sejak terungkapnya kasus penyelundupan satwa liar di pelabuhan Tanjung Perak, Jakarta, 4 Mei lalu yang juga mengundang perhatian internasional itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) banyak melakukan langkah antisipatif terhadap hal tersebut.

Selain pembahasan undang-undang, KLHK juga pada 9 Mei lalu telah membentuk posko penyelamatan Burung Kakatua Jambul Kuning.

Sejauh ini, ada tiga posko yang disiapkan untuk mencegah penyelundupan burung tersebut, di antaranya Balai Konservasi Sumber Daya Alam DKI Jakarta, Kantor Mandala Wanabakti, dan Kantor Rehabilitasi Tegal Alur.

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun Medialingkungan.com, sebanyak 72 ekor Burung Kakatua Jambul Kuning berhasil dikumpulkan melalui posko tersebut.

Sembilan hari setelah pembentukan posko penyelamatan Burung Kakatua Jambul Kuning pada 9 Mei 2015 lalu, telah ada 72 burung yang telah terkumpul, siap masuk karantina untuk kemudian dikonservasi. (Irlan)

LIPI Temukan Tujuh Kandidat Spesies Baru Tambora

Published in Informasi & Teknologi
Jumat, 15 Mei 2015 17:49

Medialingkungan.com – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang tergabung dalam Tim Ekspedisi NKRI berhasil menemukan tujuh kandidat spesies baru saat melakukan ekspedisi Gunung Tambora, 16 April 2015.

Ketujuh spesies baru tersebut terdiri atas dua spesies cicak (reptil), dua spesies kupu-kupu malam, dua spesies laba-laba dan satu jenis tumbuhan.

Kegiatan eksplorasi ini melibatkan 48 orang, meliputi enam belas orang dari LIPI, tujuh orang tim Ekspedisi NKRI, enam orang dari Kantor Seksi Konservasi Wilayah III Bima Dompu, serta masyarakat setempat.

Selain itu, Peneliti Pusat Penelitian (Puslit) Biologi LIPI, Cahyo Rahmadi mengungkapkan dalam ekspedisi tersebut, juga berhasil mencatat beberapa spesies endemik Nusa Tenggara Barat (NTB).

“Spesies endemik yang ditemukan yaitu satu spesies kelelawar, enam spesies burung endemik Nusa Tenggara Barat dan beberapa spesies baru diyakini merupakan spesies yang sebarannya sangat terbatas,” ucap Ketua Tim LIPI dalam ekspedisi tersebut.

Adapun yang berhasil dicatat dalam ekspedisi untuk memperingati 200 tahun letusan besar Tambora tersebut antara lain 46 spesies burung, 21 spesies reptile, empat spesies amfibi, sepuluh spesies mamalia, 230 spesies serangga. (Irlan)

 

Polisi China Bekuk 10 Tersangka Pembunuh Panda

Published in Internasional
Kamis, 14 Mei 2015 15:49

Medialingkungan.com – 10 orang tersangka pembunuh seekor panda betina di China kini ditahan oleh polisi setempat. Panda betina yang dibunuh oleh 10 tersangka tersebut memisahkan bagian-bagian tubuh panda betina itu lalu menjualnya di pasar gelap dikarenakan langka, Kamis (14/05).

Melalui Closed-Circuit Television (CCTV) polisi kehutanan di Provinsi Yunnan menemukan kulit panda, daging panda, tulang-belulang dan organ-organ tubuh dari pemburu dan penjual.

Menurut Organisasi World Wild Fund for Nature (WWF) mengungkapkan pemburuan, ancaman umum bagi panda di China, telah menurun tapi pertumbuhan ekonomi yang pesat menjadi ancaman baru bagi populasi panda. Pembangkit listrik tenaga air, jalan-jalan raya dan proyek-proyek pertambahan menggangu habitat alami panda, seperti yang dilansir voaindonesia.

Sementara itu, Pemerintah China mengatakan pemburuan satwa langka dan penyelundupan organ-organ tubuh binatang masih lazim dan petugas berwenang meningkatkan upaya untuk mencegah berbagai perilaku yang membahayakan satwa langka.

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun oleh Medialingkungan.com mengungkapkan bahwa sensus baru-baru ini menunjukkan populasi panda bertambah 268 menjadi 1.864 ekor di China sejak sensus di tahun 2003 lalu. (Angga Pratama)

Save Burung Kakaktua Jambul Kuning

Published in Nasional
Sabtu, 09 Mei 2015 22:16

Medialingkungan.com – Terungkapnya kasus penyelundupan kakaktua jambul kuning di Surabaya, Jawa Timur membuat Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya menjadi prihatin dan akan menyerukan penyelamatan terhadap hewan langka yang ada di Indonesia.

Menurut Siti Nurbaya, Save Jacob Jambul Kuning nama panggilan burung kakaktua jambul kuning yang sebagian orang memanggilnya dengan sebutan itu di Maluku Tenggara. Tiga posko yang mesti disiapkan dalam pencegahan penyelundupan hewan langka diantarannya Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, Kantor Mandala Wanabakti, dan Kantor Rehabilitasi Tegal Alur, katanya.

"Saya baru dilaporkan beberapa warga akan menyerahkan. Dengan respons masyarakat yang seperti itu saya kira memang pemerintah harus merespon niat baik dari masyarakat. Makanya kita aktifkan tiga posko itu untuk menerima kakak tua jambul kuning," ucap Siti seperti yang dilansir Kompas.com, Sabtu (09/05).

Burung-burung yang sementara diperiksa oleh dokter hewan selanjutnya akan direhabilitasi, setelah rehabilitasi selesai maka burung-burung itu kemudian dikembalikan ke habitatnya, tuturnya.

Sebelumnya, polisi menggagalkan penyelundupan 24 ekor kakaktua jambul kuning yang melewati bea cukai di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, kakaktua yang dijual dengan harga kurang lebih Rp 13 juta itu ditemukan dalam botol minuman mineral plastik, ujarnya.

Wanita Ketua DPP Partai Nasdem ini mengatakan, kakaktua jambul kuning terdaftar sebagai spesies terancam punah oleh Persatuan Internasional untuk KSDA pada tahun 2007. Populasinya sudah terbilang rendah, mungkin sekitar kurang dari 7.000 individu burung kakaktua tua jambul Kuning yang saat ini masih tersisa. (Angga Pratama)

Kakaktua Jambul Kuning Diselundupkan di Botol Plastik

Published in Nasional
Kamis, 07 Mei 2015 23:21

Medialingkungan.com – Polres Pelabuhan Tanjung perak Surabaya menangkap seorang tersangka penyelundupan satwa liar setelah menemukan hampir dua lusin burung langka, sebagian besar merupakan kakaktua jambul kuning, disekap dalam botol air plastik di atas kapal. Pria (37) tahun itu dihentikan oleh polisi setelah turun dari kapal KM Tidar jurusan Papua-Makassar-Surabaya-Jakarta, pada Senin (04/05).

“Kami menemukan 21 kakaktua jambul kuning dan satu burung beo hijau, semua burung ditemukan di dalam botol air, yang dikemas dalam peti,” ujar Aldy Sulaiman, Kepala unit investigasi kriminal pelabuhan Tanjung Perak, seperti yang diberitakan oleh theguardian.

Saat ini barang bukti berupa burung kakaktua jambul kuning telah diserahkan ke Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Jawa Timur, untuk dilakukan penyelamatan terhadap satwa yang masih hidup.

Menurut Sulaiman, pria yang identitasnya tidak diungkapkan sejalan dengan prosedur kriminal di Indonesia telah mengakui mendapatkan dua burung yang dibawanya dari seorang teman di Ambon, dan akan memeliharanya sesampai di rumah. Sedangkan burung lain yang ditemukan di atas kapal tidak diakui sebagai miliknya.

Jika terbukti bersalah menyelundupkan, tersangka dapat dijerat dengan pasal 21 ayat 2 huruf a jo pasal 40 ayat 2 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Juga akan dijerat dengan pasal 42 Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar. (Mirawati)

 

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini