medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Ilmuan Kontrol Populasi Koala Dengan Pesawat Tanpa Awak

Published in Informasi & Teknologi
Jumat, 20 Maret 2015 20:27

Medialingkungan.com – Setelah berbagai teknologi diterapkan oleh pemerintah Australia dalam mengontrol populasi koala dari kepunahan, baru-baru ini para ilmuan menemukan metode baru dalam memonitoring keberadaan koala tanpa harus mengganggu habitat mereka.

Pesawat tanpa awak yang dilengkapi dengan kamera yang dapat mendeteksi keberadaan koala dengan menggunakan sinar merah menjadi metode baru yang ditemukan oleh para teknisi di Queensland Institute of Technology, Australia.

Sebelumnya para ilmuan menerapkan sistem pelacak terhadap koala dengan memasang alat pelacak pada 400 koala di pedalaman Brisbane bagian utara, Australia. Hal tersebut diharapkan dapat memudahkan para peneliti untuk melindungi koala dari serangan predator yang menjadi penyebab punahnya populasi koala.

“Cara ini akan mengurangi tenaga manusia dengan drastis,wilayah yang tadinya tak terjangkau karena ketebalan pohon, kini bisa dicapai untuk mensurvei koala," ujar Dokter Hewan yang bekerja di Kebun Binatang Australia, Amber Gillett, seperti yang dilansir voaindonesia.

Teknologi tersebut akan menangkapfoto letak posisi hewan bahkan dari kejauhan sekalipun, para ilmuan telah menguji pada jarak 20 meter dan memperoleh gambar dengan resolusi yang sangat bagus, katanya.

Amber mengatakan gambar koala tampak berwarna merah dibandingkan dengan pohon dan lingkungan disekitarnya. Ia menambahkan, pesawat dengan kamera canggih tersebut dapat berputar dan dikontrol dari jauh sehingga para ilmuwan dapat mengambil gambar dari berbagai sudut.

Para ilmuan yang mengerjakan proyek ini berharap agar nantinya teknologi tersebut tidak hanya digunakan untuk koala namun, dapat pula digunakan untuk binatang lainnya yang sulit untuk dijangkau. (Suterayani)

New York Segera Kurangi Populasi Angsa Bisu

Published in Internasional
Senin, 16 Maret 2015 20:42

Medialingkungan.com – Menanggapi keluhan masyarakat terkait angsa bisu (Cygnus olor) di New York, Amerika serikat, pejabat lingkungan setempat rencananya segera mengurangi populasi hewan tersebut seperti disebutkan The New York Times.

Pengendalian burung anggun yang diperkenalkan oleh Eropa pada akhir 1800-an ini dilakukan karena dianggap telah menjadi gangguan sebab seringkali menyerang masyarakat.

Selain itu, hewan ini juga dianggapmengancam keselamatan pesawat terbang serta merusak air lantaran kotorannya mengandung bakteri e coli.

Untuk mengatasi hal tersebut, otoritas lingkungan New York akan menempuh langkah awal dengan tidak membunuh angsa tersebut seperti kliping sayap ditaman dan meminyaki telur sehingga mereka tidak menetas.

Namun langkah tersebut memerlukan biaya mahal dan komitmen pendanaan serta bantuan dalam proses pengendaliannya. Sehingga tidak menutup kemungkinan otoritas lingkungan setempat akan melakukan pembunuhan massal terhadap burung satu ini.

Kedepannya, mereka akan membuat peraturan yang melarang masyarakat untuk memberi makan angsa dan akan mempertimbangkan untuk menambahkan mereka ke daftar burung yang bermigrasi, serta mengizinkan para pemburu untuk menembak.

Akan tetapi hal ini juga menuai kecaman dari para aktivis penyayang binatang. Salah satunya dari pendiri Goose Watch NYC, David Karopkin yang menyayangkan hal tersbut sebagaimana yang dituliskan Tempo.

“Sungguh tidak masuk akal memusnahkan seluruh spesies yang sudah tinggal di negara bagian ini selama lebih dari 150 tahun atau hampir 200 tahun,” ucapnya.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun oleh Medialingkungan, rencananya mereka akan mengurangi jumlah hewan ini di wilayah New York, termasuk daerah Long Island dan Hudson Valley, dari 2.000 burung menjadi kurang dari 800 burung. (Mirawati)

Pangeran William Bekunjung ke Cina untuk Bahas Perdaganagan Satwa

Published in Internasional
Minggu, 08 Maret 2015 20:07

Medialingkungan.comDuke of Cambridge atau lebih dikenal khalayak, Pangeran William, tiba di Cina, pada Minggu 1 Maret lalu. Kunjungan kerajaan Inggris itu adalah yang pertama dalam kurun waktu hampir 30 tahun terakhir. Kedatangannya disambut Duta Besar Inggris untuk Cina, Barbara Woodward, dan Dubes Cina untuk Inggris, Liu Xiaoming.

Dalam kunjungannya di Cina, Pangeran William mengangkat isu perdagangan satwa gelap sekaligus bertemu dengan gajah-gajah yang berhasil diselamatkan dari sindikat perdagangan satwa. Pangeran William berada berada di China selama tiga hari dengan sejumlah agenda penting.

Sepeninggalan dari negeri Panda, ia dan rombongan kerajaan terbang ke Provinsi Yunnan pada Rabu (04/03) dalam agenda untuk menyaksikan cagar alam.

Selain menyaksikan cagar alam, penerus tahta Kerajaan Inggris ini juga sengaja berkunjung untuk melihat tempat perlindungan gajah di di Xishuangbanna, Yunnan. (MFA)

Perusahaan Sawit Kembali Berekspansi di Hutan Afrika

Published in Internasional
Rabu, 25 Februari 2015 16:49

MediaLingkungan.com – Greenpeace Afrika mengeluarkan peringatan bahwa spesies kera besar langka yang berhabitat di hutan hujan terancam punah akibat ekspansi proyek agribisnis yang dilakukan oleh perusahaan Indo Azur di Afrika Tengah. Peringatan tersebut dikeluarkan Greenpeace setelah melakukan pengamatan hasil citra satelit yang menunjukkan, lebih dari 3.000 hektar hutan di daerah Dja Faunal Reserve yang terletak di Kamerun telah hancur dan beralif fungsi menjadi perkebunan karet dan kelapa sawit.

Indo Azur melakukan penebangan secara besar-besaran, bahkan lebih besar dibandingkan perusahaan asal Amerika Serikat, Herakles Farms. "Perkembangan Agro-industri akan segera muncul sebagai ancaman atas keanekaragaman hayati di kawasan hutan tropis Afrika,” kata Asisten Profesor Antropologi di Universitas James Madison, Joshua Linder, dilansir oleh Greenpeace.

Joshua Linder mengatakan, perusahaan itu bukan hanya menyasar lahan di daerah bagian Afrika tengah saja, namun sebuah area hutan yang lebih luas lebat di Littoral, Kamerun, juga telah dipersiapkan untuk dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit.

Berdasarkan informasi yang dihimpun medialingkungan.com, daerah yang dijadikan target itu berdekatan dengan Hutan Ebo, habitat beberapa spesies yang langka seperti simpanse, gajah, dan hewan primata lainnya.

Greenpeace menganggap, perusahaan asing mendominasi konsesi pertanian pada skala industri hampir di seluruh Afrika Barat dan Tengah. Perusahaan-perusahaan ini ditengarai tidak memiliki perencanaan dalam penggunaan lahan. Hal ini sering menghasilkan konflik sosial karena perusahaan ini tidak memiliki persetujuan dari masyarakat setempat saat melakukan pembukaan lahan. Konsesi ini juga dinilai memiliki dampak ekologis yang besar, terutama pada spesies satwa liar yang terancam punah. (IW)

Ratusan Paus Pilot Terdampar di Selandia Baru

Published in Internasional
Selasa, 17 Februari 2015 21:16

Medialingkungan.com – Sedikitnya 200 ekor paus pilot terdampar di perairan dangkal Selandia baru. Tempat tersebut memang menjadi perangkap yang cukup mematikan untuk mamalia laut seperti paus pilot tersebut. Hal ini disebabkan karena perairan dangkal pada daerah itu memiliki perairan yang khas dan membingungkan sistem navigasi paus.

Upaya penyelamatan pada Jumat (13/02), melibatkan lebih dari 80 orang. Namun,usaha ini tidak berbuah baik. Sekitar 24 ekor paus pilot ditemui sudah mati ketika para penyelamat dan relawan berupaya untuk melepaskan paus tersebut ke laut lepas.

“paus-paus itu terdampar di Pantai Farewell Spit, di ujung pantai selatan Selandia Baru” ujar pengelola kawasan dari Departemen Konservasi Selandia Baru, Andrew Lamason.

Ia mengatakan paus pilot sangat berisiko terdampar karena satwaini hidup dalam kelompok besar, ungkap Ahli biologi mamalia laut, Trevor Spradlin dan US National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA)

Terdamparnya mamalia laut seperti paus pilot ini merupakan fenomena yang wajar di Frewell Spit. Dalam satu dekade terakhir, sedikitnya delapan kasus dilaporkan terjadi, namun tidak sebanyak kasus yang terjadi baru-baru ini yang mencapai ratusan ekor. (MW)

Menteri KLHK Resmikan Breeding Centre of Anoa di Manado

Published in Nasional
Senin, 09 Februari 2015 13:02

Medialingkungan.com – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Siti Nurbaya meresmikan Breeding Centre of Anoa (Pusat Pembibitan Anoa) saat kunjungan kerjanya di Manado, Sulawesi Utara, Kamis (5/2).

Ancaman kepunanahan hewan endemik asal Sulawesi ini, mendorong Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Manado untuk mengembangkan Pusat Pembibitan Anoa tersebut.  Di dalam situs resminya, Balai Penelitian Kehutanan Manado mengungkapkan bahwa pihaknya telah memiliki 4 ekor Anoa yang nantinya akan dikembangkan di dalam Breeding Centre of Anoa.  

“Di Sulawesi anoa menjadi satwa yang diburu dengan cara dijerat dan dijadikan sebagai makanan manusia. Hal ini menjadi kekhawatiran tersendiri untuk dilakukan kegiatan konservasi baik eksitu maupun insitu dan perbanyakan kembali anoa baik dengan breeding alami maupun inseminasi buatan,” jelas BPK dalam balithut-manado.org.

Anoa sendiri tercantum dalam Appendix I CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), yakni hewan  yang tidak boleh diburu, ditangkap dan dibunuh serta diperdagangkan serta termasuk dalam daftar sepuluh jenis mamalia yang menjadi prioritas nasional untuk dilestarikan.

Ahli satwa liar Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr.Abdul Haris Mustari menyebutkan populasi Anoa diseluruh Sulawesi tidak melebihi 5000 ekor.

Di dalam kegiatan ini juga hadir Sekretaris Jenderal Kementerian Kehutanan, Hadi Daryanto, Sekretaris Kementerian Lingkungan Hidup, Rasio Ridho Sani, Direktorat Jenderal BPDASPS, Hilman Nugroho dan Kepala Badan P2SDM Kehutanan Tahrir Fathoni serta Bupati Minahasa, Christiany Euginia Peruntu, SE.

Selain peresmian Breeding Centre of Anoa, Menteri KLHK juga melakukan beberapa agenda lainnya antara lain penanaman bibit pohon eboni (Diospyros rumphii. Bakh) di depan Gedung Serba Guna Balai Penelitian Kehutanan Manado, meninjau kegiatan pemanfaatan limbah sabut kelapa untuk budidaya jamur dan penyerahan publikasi berupa buku-buku hasil penelitian balai. (Ir)

Melanie Subono Say "NO" to Plastic

Published in Informasi & Teknologi
Jumat, 06 Februari 2015 14:13

Medialingkungan.com – Melanie Subono, salah satu artis yang saat ini tengah antusias dalam penerapan gaya hidup yang ramah lingkungan. Ia memiliki perhatian yang tinggi terhadap masalah kerusakan lingkungan, termasuk konservasi satwa langka dan diambang kepunahan.

Melanie menghindari penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-harinya. Menurutnya, sampah plastik merupakan salah satu limbah yang berbahaya karena sampah jenis ini membutuhkan wakut lama untuk terurai.

"Tidak ada plastik masuk rumah gue dan gue enggak buang sampah sembarangan. Seandainya gue harus pakai kantong plastik, akan gue pakai berkali-kali," tutur Duta Antiaksi Kuman Wipol itu pada Media Indonesia di Jakarta, akhir pekan lalu.

Sampah, lanjutnya, telah mengakibatkan kerusakan lingkungan, seperti baik banjir maupun longsor. "Banjir yang terjadi di berbagai daerah di Tanah Air belakangan ini disebabkan ulah manusia, antara lain karena masyarakat belum memiliki kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya."

Penyanyi yang pernah meraih penghargaan best solo female rock singer di ajang AMI Award 2008 itu mengungkapkan, saat ini jumlah sampah rumah tangga lebih mendominasi jika dibandingkan dengan sampah industri.

Perempuan kelahiran Hamburg, Jerman, 38 tahun yang itu mengungkapkan perilaku membuang sampah sembarangan merupakan faktor mental kita saja, tidak ada sangkut pautnya dengan faktor ekonomi dll.

"Gue banyak punya teman yang kuliah di luar negeri dan orang kaya, tapi tetap saja buang sampah sembarangan. Mereka sering membuang sampah lewat jendela mobil. Mereka pikir satu tisu mereka tidak bisa menyebabkan banjir," ungkap Melanie.

MASYARAKAT PERLU EDUKASI untuk lebih sadar akan lingkungan. Dengan demikian, ia berharap, suatu hari tidak ada lagi orang-orang terendam oleh banjir. "Tidak seperti sekarang, banjir merupakan hal yang lumrah di musim penghujan."

Ia juga menagatakan bahwa awareness terhadap bumi perlu ditumbuhkan. "Diperlukan kesadaran bahwa bumi merupakan rumah kita. Satu hal yang perlu diingat bumi tidak butuh kita. Tanpa kita, bumi bisa hidup. Tapi kita tak bisa hidup tanpa bumi dan lingkungan," selorohnya.

Berkaitan dengan plastik tadi, Anak Adrie Subono yang gemar membawakan lagu bergenre Rock dan Rock n’ Roll inipun berkisah tentang penyu-penyunya di penangkaran miliknya di Bali yang kerap kali mati.

"Gue punya penangkaran penyu di Bali yang sering mati. Saat diautopsi, ternyata banyak plastik dalam tubuh mereka. Itu karena mereka enggak bisa bedain mana yang plastik mana yang plankton atau ubur-ubur," ungkap Melanie.

Hal tersebut memicu Melanie untuk aktif melakukan aksi sosialisasi terkait dengan sampah. Ia giat untuk mengajarkan teknik-teknik mendaur ulang barang-barang bekas.

Bekerja sama dengan UNICEF, ia mengajar tentang pemanfaatan limbah plastik menjadi benda yang bernilai. Namun, lanjutnya, belum banyak orang yang mau memanfaatkan barang-barang hasil daur ulang tersebut. Karena itu, ia terus berusaha untuk melakukan sosialisasi hal itu untuk mengurangi jumlah sampah plastik. (MFA)

2014 Tahun Terburuk Badak Afrika Selatan

Published in Internasional
Senin, 02 Februari 2015 23:33

Medialingkungan.com – Populasi badak dunia kini mulai terancam. Afrika Selatan yang merupakan tempat tinggal 20.000 badak atau 80 persen dari populasi dunia ini menurut perkiraan World Wildlife Fund (WWF), mencatat pada tahun 2014 mencatat 1.215 ekor badak mati. Hal tersebut disampaikan Menteri Lingkungan Afrika Selatan, Edna Molewa.

Edna Molewa mengungkapkan bahwa tahun 2014 merupakan tahun terburuk bagi badak di Afrika Selatan. “Jumlah ini naik dari 1.004 pada 2013. Ini sangat mengkhawatirkan," ujarnya seperti yang dikutip voaindonesia.com.

Dia juga mengatakan pihaknya akan berupaya keras untuk melindungi badak. Menurutnya, salah satu upaya yang akan dilakukan adalah memindahkan badak tersebut ke lokasi yang dirahasiakan pada negara-negara di sekitar Afrika Selatan yang sekarang telah mencapai 100 ekor badak.

“Pada kuartal terakhir 2014, 56 ekor badak sudah dikeluarkan dari lokasi berbahaya dan dipindahkan ke daerah-daerah tertentu di dalam Taman Nasional Kruger yang kami sebut sebagai wilayah perlindungan intensif, serta ke daerah-daerah lain yang lebih aman," lanjut Molewa.

Berdasarkan informasi yang dapat dihimpun oleh tim medialingkungan.com jumlah pelaku pembunuhan badak ini telah mencapai 386 orang.(Ir)

Karena Perburuan Liar, 100 Badak Afrika Selatan Dilarikan dari Habitatnya

Published in Internasional
Jumat, 23 Januari 2015 21:46

Medialingkungan.com – Afrika Selatan mengumumkan bahwa pihaknya telah mentransfer sekitar 100 badak dari taman nasional Kruger ke berbagai Negara tetangga sebagai upaya untuk mengurangi pembantaian badak secara illegal agar populasinya tetap terjaga.

Negara-negara yang menjadi tempat tujuan transfer ratusan badak tersebut tidak akan disebutkan namanya karena alasan keamanan, tutur Edna Molewa, Menteri Lingkungan Hidup Afrika Selatan.

Negara yang menjadi rumah bagi 80 persen populasi badak di dunia ini sekarang mengalami krisis akibat perburuan liar yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Pemerintah Afrika Selatan mencatat bahwa sekitar 1.215 ekor badak dibantai secara liar sejak tahun 2014. Data terbaru ini mengungkap kenaikan jumlah dibandingkan data tahun sebelumnya.

Para ahli konservasi mengatakan bahwa Botswana merupakan negara yang paling potensial dijadikan sebagai tempat transfer satwa ini. Botswana memiliki wilayah yang cikup luas dan penduduknya yang sangat sedikit sehingga kemungkinan untuk terjadinya perburuan sangat sedikit. Sedangkan untuk Negara Mozambik dipastikan tidak akan masuk dalam daftar Negara transfer karena rekor perburuan di Negara tersebut yang juga terbilang tinggi.

Kebanyakan pemburu mengambil culah badak untuk dijual di Negara Cina dan Vietnam. Negara tersebut menjadikan culah badak sebagai obat tradisional. Akhir-akhir ini permintaan untuk culah badak melonjak naik.

Menurut para ahli konservasi, cula badak dipasaran dihargai sebesar $65.000 Dollar per kg harga ini lebih besar dari emas atau platinum sekalipun. (UT)

 

Impian Baru Orangutan di Masa Depan

Published in Nasional
Selasa, 20 Januari 2015 13:39

Medialingkungan.com – Penelitian terbaru mengungkapkan, sekitar 74% habitat orangutan di daerah Kalimantan saat ini tidak cocok untuk tempat tinggal mereka di masa yang akan datang, diakibatkan perubahan iklim yang terjadi.

Namun, penelitian ini juga berhasil identifikasi sekitar 42.000 kilometer persegi kawasan yang bisa berfungsi sebagai tempat perlindungan potensial orangutan. Serta, menjadi habitat baru yang relatif aman bagi kera besar yang ada di Asia ini untuk tinggal.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Global Change Biology edisi Januari 2015 ini berjudul “Anticipated climate and land-cover changes reveal refuge areas for Borneo’s orang-utans.” Penelitian tersebut dilakukan oleh Dr. Matthew Struebig dari University of Kent’s Durrell Institute of Conservation and Ecology (DICE) bersama rekannya dari Liverpool John Moores University dan Leibniz Institute for Zoo and Wildlife Research (IZW), juga ilmuwan konservasi dari Indonesia  yang tergabung dalam Centre for International Forestry Research (CIFOR).

Penelitian ini menggunakan citra satelit untuk memetakan daerah deforestasi dan proyeksi perubahan hutan di masa depan. Para ilmuan itu juga memetakan kawasan-kawasan yang tidak cocok untuk perkebunan kelapa sawit, dikarenakan akan menjadi ancaman utama terhadap eksistensi orangutan. Penelitian tersebut dilengkapi informasi tentang ekologi orangutan dan perubahan iklim yang dapat mengidentifikasi habitat alami yang stabil untuk ditinggali orangutan di masa mendatang.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan, upaya untuk menghentikan deforestasi dan dapat mencegah hilangnya beberapa habitat orangutan. Kawasan gambut di Kalimantan, yang merupakan rumah bagi sebagian besar orangutan dan sangat penting bagi mitigasi perubahan iklim, harus dijaga kelestariannya melalui kegiatan konservasi. Dengan dilakukannya penelitian ini, akan sangat membantu dan meminimalkan kepunahan orangutan di masa datang.

Dilain hal, menurut data dari World Wildlife Found (WWF), sekitar satu abad lalu, terdapat  lebih dari 230.000 orangutan di seluruh dunia. Namun sekarang, jumlah orangutan borneo (Pongo pygmaeus) diperkirakan tidak lebih dari 41.000 individu sementara orangutan sumatera (Pongo abelii) sekitar 7.500 individu. (PK)

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini