medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

TSI Dapat Kado 'Jokowi' dari Jokowi

Published in Nasional
Selasa, 30 Desember 2014 18:33

Medialingkungan.com – Keluarga baru di Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua, Kabupaten Bogor bertambah di penghujung tahun 2014. Seekor gajah, Orang Utan Sumatera, Simpanse dan Burung Rangkong, lahir menjelang Natal dan tahun baru 2015.

Tak hanya itu kejutan di akhir tahun ini bagi TSI, yang spesial adalah seekor gajah yang lahir pada tanggal 21 Desember 2014 tersebut, diberi nama sesuai dengan naman presiden Indonesia, Jokowi. Sedangkan, unutk Orang Utan Sumatera yang diketahui berkelamin betina, diberi nama sesuia dengn nama Ibu Negara, Iriana.

Berdasarkan keterangan Humas TSI, Julius Suprihardo dikatakan bahwa pemberian nama-nama tersebut telah mendapat ijin dari Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi), yakni setelah pihak TSI melaporkan kelahiran gajah tersebut ke Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup RI.

"Kita sudah mendapat ijin langsung dari Pak Jokowi untuk memberi nama gajah ini," kata Julius Suprihardo kepada detik.com, Jum'at (26/12).

Kehadiran 'Jokowi' ‎dan 'Iriana' menambah jumlah kelahiran satwa endemik di lembaga konservasi Taman Safari Indonesia.

Di musim libur akhir tahun ini, kata Julius, pihak TSI akan menyelenggarakan berbagai kegiatan untuk menarik minat wisatawan. Parade Natal akan diselenggarakan dari tanggal 25 sampai 27 Desember untuk menghibur semua pengunjung. Sementara pada malam pergantian tahun, TSI akan menyuguhkan acara tutup tahun dengan tema 'Power Of Asia'.

Pada kesempatan yang sama itu, Presiden Jokowi juga mengucapkan selamat Natal kepada seluruh direksi, manajemen dan karyawan TSI.

Atas kelahiran dua satwa ini, Jansen mengaku, ada rasa bangga. Pasalnya, lembaga konsevasi yang dikelolanya menepati janjinya untuk terus meningkatkan populasi satwa, agar tidak punah. (MFA)

Badak Putih Utara, Satu Langkah Lebih Dekat Dengan Kepunahan

Published in Internasional
Selasa, 16 Desember 2014 09:10

Medialingkungan.com – Kebun binatang San Diego Zoo Safari Park, California, Amerika Serikat berduka. Salah satu badak putih utara yang diberi nama Angalifu mati pada hari Minggu, 14/12/2014.

Salah seorang petugas yang bekerja di Kebun Binatang San Diego, Randy Rieshes dalam berita yang dilansir oleh planetark.org mengatakan Angalifu mati karena faktor usia. Dia menuturkan badak putih ini sudah berusia 44 tahun dan pada saat itu sedang dirawat berhubungan dengan umurnya yang sudah cukup tua.

“Kematian Angalifu merupakan pukulan terberat bagi kami. Bukan hanya karena ia sangat dicintai di kebun binatang ini, namun kematiannya membuat spesies badak putih utara satu langkah lebih dekat dengan kepunahan,” ucap Randy yang bertugas sebagai penjaga mamalia Kebun Binatang San Diego.

Badak tersebut merupakan salah satu dari 6 badak putih utara yang masih ada di dunia. Kematian Angalifu membuat spesies ini semakin dekat dengan kepunahan. Saat ini spesies tersebut hanya berjumlah 5 jenis yang tersebar di seluruh dunia.

Badak putih ini mengalami kepunahan akibat perburuan liar. Sebagian dari mereka memburu badak ini untuk diambil culahnya yang dipercaya bagi masyarakat dapat berkhasiat bagi kesehatan dan juga dapat dimanfaatkan sebagai obat.

Pihak Kebun Binatang California yang masih memiliki satu koleksi jenis spesies badak putih utara ini mengatakan bahwa jenis badak putih ini masih terdapat pada beberapa kebun binatang di seluruh dunia. Satu jenis terdapat di kebun binatang Eropa dan tiga lainnya terdapat di kebun binatang di Afrika

Beberapa ilmuan di kebun binatang telah menyimpan sperma dan jaringan testis badak jantan dengan harapan bahwa ilmu pengetahuan modern dapat mengembangkan teknologi baru agar memungkinkan pemulihan spesies bagi badak putih utara yang sudah terancam punah. (UT)

Balai Karantina Berhasil Gagalkan Penyelundupan Satwa

Published in Nasional
Selasa, 18 November 2014 14:21

Medialingkungan.com – Lebih dari 4600 ekor burung dari berbagai jenis yang akan dikirim ke Jakarta menggunakan pelabuhan Bakahuni Lampung berhasil digagalkan oleh Balai Karantina Pertanian Lampung. Satwa-satwa ini diangkut dengan menggunakan mobil box melalui jalan Raya Lintas Sumatera.

Pasca pengangkutan barang bukti ke kantor Balai Karantina, burung-burung tersebut ditemukan dalam kondisi naas. Beberapa burung dalam box penyimpanan dalam keadaan mati. Hal ini ditengarai akibat perjalanan darat dalam mobil box saat pengangkutan ke Jakarta.

Beradasarkan keterangan yang diterima, jenis burung yang mendominasi yaitu, perkutut dan kutilang. Kendati satwa ini bukan termasuk yang dilindungi, namun dokumen perizinan tak satupun dimiliki. “Pengiriman ini tak dilengkapi oleh surat Izin tangkap, pengiriman, dan dokumen kesehatan hewan yang seharusnya diterbitkan oleh pihak Balai Besar Konservasi dan Sumberdaya Alam (BKSDA),” jelas Keapala Balai Karantina, Azhar sepeti dilansir trans (18/11).

Beberapa satwa ini ada yang langsung dilepasliarkan di pekarangan Balai Karantina. Sementara itu, sebagian lainnya akan dilepasliarkan ke habitat aslinya.

Melihat mekanisme pengiriman paket dan cara packing satwa ini, pihak Balai Karantina meyakini bahwa operasi seperti ini sudah sering dilakukan. Cara yang ia lakukan sangat terorganisir, bahkan box paket satwa ini tertata dengan rapi – dengan menempatkan partisi pada bagian dalam kotak untuk memsisahkan tiap burung. (MFA)

Jenis Burung Endemik Indonesia, Terkaya Sejagat

Published in Nasional
Kamis, 06 November 2014 21:08

Medialingkungan.com - Lembaga pelestarian burung, Burung Indonesia, mencatat keragaman jenis burung di Indonesia tahun ini meningkat drastis menjadi 1.666 spesies. Tahun lalu, Indonesia tercatat memiliki 1.605 jenis burung. Penambahan ini sebagian besar merupakan hasil pemisahan jenis yang sudah ada karena perbedaan morfologi ataupun suara berdasar penelitian terbaru.

Dilansir dari Tempo,"Meskipun jenis baru di Indonesia didominasi hasil pemisahan jenis, tetapi ada juga jenis yang merupakan temuan baru," kata Jihad, bird conservation officer Burung Indonesia.

Contoh spesies baru dari hasil pemisahan jenis adalah Sempidan Merah Kalimantan (Lophura pyronota). Burung yang sebelumnya dimasukkan dalam jenis sempidan merah (Lophura erythrophthalma) ini tersebar di Sumatera, Semenanjung Malaysia, dan Kalimantan.

Hasil analisis terbaru menunjukkan Sempidan di Kalimantan memiliki perbedaan. Warna bulu lehernya abu-abu pucat, sementara di Sumatera dan Semenanjung Malaysia berwarna biru gelap mengkilat. Selain itu, Sempidan di Kalimantan memiliki corak garis-garis putih tebal dari leher sampai bagian tengah perut, serta pada bagian belakang leher hingga bulu mantelnya.

Atas dasar beberapa perbedaan itu, Sempidan Merah di Kalimantan ditetapkan sebagai jenis tersendiri. Adapun jenis di Sumatera dan Semenanjung Malaysia dianggap sama sebagai Sempidan Merah Melayu dan tetap menyandang nama latin L. erythrophthalma.

Untuk spesies yang benar-benar baru, Jihad mencontohkan penemuan burung Serak Seram (Tyto almae). Sayangnya, masih sangat sedikit informasi yang diketahui tentang burung hantu endemis Pulau Seram, Maluku, ini. Badan konservasi dunia IUCN memasukkan Serak Seram dalam kategori data deficient alias masih minim data.

Penambahan 61 spesies baru ini menempatkan Indonesia pada posisi keempat dunia dalam hal kekayaan total jenis burung. Sedangkan dalam hal endemisitas, Indonesia tetap paling unggul dari negara-negara lain.

Sebanyak 75 persen jenis baru yang diakui pada 2014 ini merupakan jenis endemis. Ini berarti penambahan jenis baru semakin memperkokoh posisi Indonesia sebagai negara dengan jenis burung endemis terbanyak sejagat, yakni 426 spesies atau bertambah 46 spesies dari tahun lalu.(AH)

Kembalikan Satwa ke Pihak yang Benar

Published in Nasional
Minggu, 12 Oktober 2014 17:33

Medialingkungan.com – Profauna Indonesia (Protecting For Forest and Fauna), mengadakan kuliah umum konservasi pada sabtu (11/10) di aula fakultas kehutanan,Universitas  Hasanuddin (Unhas). kegiatan yang digagas suporter Profauna bekerjasama dengan unhas ini mengusung tema “peran akademisi dalam pelestarian hutan dan satwa liar”.

Lebih dari 200 orang mahasiswa beserta tim Profauna hadir dalam kuliah umum yang dibawakan langsung oleh pendiri sekaligus Ketua Profauna, Rosek Nursahid.

Melalui kuliah umum ini, Rosek berasumsi bahwa saat ini Indonesia menjadi negara dengan laju kepunahan keanekaragaman hayati tercepat dan terbesar didunia.

Disaat yang bersamaan perdagangan satwa liar marak ditemukan mulai dari yang terang-terangan hingga yang bermodus pecinta satwa.

Menanggapi hal tersebut, Rosek menuntut akademisi untuk tidak tinggal diam sebagai orang yang berilmu. “Jangan hanya menonton,dan merasa kasihan.”

“Sebagai mahasiswa lakukan perlawanan misalnya dengan pena dan jangan turut memelihara satwa liar”, tutur pria asal Malang ini dihadapan peserta kuliah umum. “Dibutuhkan aksi nyata dari banyak pihak dalam upaya pelesatrian satwa dan habitatnya,” lanjutnya.

Kuliah yang berdurasi tiga jam ini disambut baik oleh para peserta.Banyak dari mereka berharap terbentuknya profauna chapter Makassar.

I Gusti Putu Bawa, salah satu peserta kuliah umum ini berharap, kegiatan ini menyadarkan para mahasiswa agar tidak lagi salah kaprah dalam mencintai binatang. Lebih lanjut dia katakana bahwa lingkaran setan perdagangan satwa liar bisa dihentikan.

Di sisi lain, menurut petugas Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulawesi Selatan - Sulawesi Barat (Sulselbar), Rudi Ashadi, ketika ditanyai ditempat yang berbeda, tentang perdagangan satwa liar khususnya untuk  wilayah kerjanya mengatakan bahwa kolektor satwa liar semakin tumbuh pesat.

Rudi berasumsi bahwa sindikat pengoleksi satwa ini merupakan aparat-aparat hukum, sehingga tak ada yang berani  untuk menindaklanjuti atau memprosesnya melalui jalan hokum.

Disamping itu, menurut Rudi, inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan di lokasi-lokasi potensial untuk proses jual-beli hewan juga tidak optimal dalam penyelamatan hewan-hewan ini. Pasalnya, satwa sitaan hasil sergapan tersebut sulit beradaptasi dengan habitat barunya.

Ia mengatakan, hewan-hewan yang sudah terbiasa hidup bersama manusia akan sangat sulit bergabung dengan kelompok-kelompok satwa di dalam hutan saat dilepas-liarkan. Ia menyontohkan, monyet yang pernah ia lepasliarkan terbunuh oleh kawanan monyet-monyet lainnya. Kondisi tersebut karena monyet yang berkelompok menyangka monyet baru ini adalah musuh mereka. sehingga sangat mengkhawitrkan jika monyet tersebut dilepasliarkan begitu saja.

Rudi menyarankan, satwa hasil sitaan sebaiknya diberikan kepada kebun binatang atau lembaga konservasi lainny. Karena satwa ini butuh penangan yang intensif. Biayanya pun tak sedikit, sehingga menurutnya, akan jauh lebih baik jika diberikan kepada pihak-pihak lembaga konservasi yang bersifat komersil. Sehingga satwa-satwa ini terpelihara dengan baik. (AP)

Cegah Longsor, BLH Klaten Tanam Pohon Buah di Lereng Merapi

Published in Nasional
Minggu, 21 September 2014 12:26

Medialingkungan.com — Pemerintah Kabupaten Klaten melakukan penanaman ribuan pohon buah yang dipersiapkan untuk mengantisipasi longsor akibat limpasan air hujan yang mengintai wilayah lereng Gunung Merapi dalam menghadapi musim penghujan yang makin dekat.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran Badan Lingkungan Hidup (BLH) Klaten, Bambang Subyantoro, mengatakan, penanaman pohon penting untuk mengantisipasi potensi bencana longsor jelang musim penghujan.

“Penghijauan difokuskan di kawasan lereng Merapi karena daerah tersebut kerap terjadi longsor,” katanya Minggu (21/09).

“Penanaman pohon kami titikberatkan di lahan-lahan bekas lokasi galian C. Wilayah itu rata-rata tanahnya gersang dan labil, sehingga berbahaya jika terkena limpasan air,” tambahnya.

Alasan pihaknya memilih menanam pohon buah karena selain akarnya tidak merusak struktur tanah,  pohon-pohon tersebut juga menjaga stabisitas air dalam tanah dan utamanya sanggup menjaga tanah agar tidak tergerus.

Menurutnya, yang terpenting adalah pohon-pohon tersebut aman dari penebangan pihak tak bertanggungjawab.

“Sebenarnya di kawasan kurang subur seperti lereng Merapi lebih cocok ditanami sengon. Pohonnya kuat meski minim pengairan. Namun kami khawatir pohon akan ditebangi untuk kepentingan ekonomis,” ujarnya.

Bambang mengatakan, pihaknya akan memulai penghijauan pada awal musim penghujan agar pohon dapat tumbuh maksimal.

BLH senidiri siap menyediakan dana sebersar Rp50 juta untuk mengeksekusi penanaman pohon di desa lereng Merapi seperti Kendalsari, Balerante dan Sidorejo.

“Pohon yang ditanam berukuran 80 sentimeter sampai 1,5 meter agar mudah hidup. Rencananya Oktober mulai penghijauan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Amdal dan Pengembangan Lingkungan BLH Klaten, Anwar Shodiq mengatakan, telah meminta pihak desa untuk mendata lahan yang perlu penghijauan. Anwar mengatakan lokasi tersebut tak harus berstatus tanah kas desa.

“Pokoknya wilayah yang dirasa rawan longsor tolong diinfokan. Kami siap mengupayakan penghijauan,” katanya.

Ia juga mengimabu agar warga ikut merawat dan menjaga pohon hingga tumbuh dengan baik. Menurutnya, bencana akan terus terjadi jika warga masih berpandangan hanya pemerintah yang wajib menjaga lingkungan. (MFA)

Lore Lindu Tampung 265 Jenis Burung

Published in Nasional
Kamis, 18 September 2014 08:02

Medialingkungan.com – Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) memiliki berbagai tipe ekosistem yaitu hutan pamah tropika, hutan pegunungan bawah, hutan pegunungan sampai hutan dengan komposisi jenis yang berbeda.

Hingga saat ini, diperkirakan sekitar 400 jenis burung yang tersebar di daratan Sulawesi, dan sebanyak 265 jenis burung hidup dan berkembangbiak di dalam Kawasan TNLL. Demikian yang dikatakan oleh seorang peneliti di Sulawesi Tengah, Idris Tinulele.

"Kalau di Sulawesi ada sekitar 400 jenis burung," katanya. Dikatakan bahwa setiap tahunnya ada spesies baru burung yang ditemukan dalam kawasan hutan lindung itu.

Berbagai jenis burung yang selama ini bisa dijumpai di TNLL antara lain elang, kakatua, nuri, maleo atau maleo senkawor (macrocephalon maleo), gagak (corvus unicolor), kakatua kecil jambul Kuning (cacatua sulphurea), kacamata (zosterops nehrkorni), madu (aethopyga duyvenbodei), burung elangg bondol, rangkong, alo, jalak tunggir merah (scissirostrum dubium ), dan burung kipasan Sulawesi (rhipidura teysmann).

Berdasarkan data statistik Kementerian Kehutanan, para pendatang biasanya paling ramai saat memasuki bulan Juli hingga September.

 Sementara itu, menurut Idris, salah satu daya tarik para wisatawan mancanegara datang ke Sulteng karena ingin melihat burung yang ada di Kawasan Taman Nasional Lore Lindu.

Idris yang juga seorang pemandu wisata itu menambahkan kebanyakan wisatawan yang datang dan berkunjung ke TNLL berasal dari Inggris dan Amerika.

Namun, kata Idris, banyak orang yang tidak bertangung jawab memburu beberapa jenis burung untuk diperdagangkan.

Dikhawatirkan, jika terus terjadi perburuan, maka populasi burung di Kawasan TNLL akan semakin berkurang. Padahal salah satu tujuan dari para wisatawan mancanegara berkunjung di kawasan itu hanya untuk melihat keindahan dan kicauan satwa ini.

Tiap saat ia senantiasa meminta pada masyarakat untuk tidak memburu satwa ini, melainkan membantu untuk melestarikan satwa dan ekosistem tempat mereka berkembangbiak.

Kepala Bidang Teknik Konservasi Balai Besar TNLL, Ahmad Yani membenarkan salah satu daya tarik wisatawan di Kawasan Taman Nasional adalah melihat keberadaan burung-burung yang ada di kawasan itu.

"Pokoknya paling banyak burung ada di dalam Kawasan TNLL," katanya.

Ia mengaku jumlah burung yang hidup dan berkembangbiak selama ini di Kawasan TNLL mencapai ratusan jenis. Bahkan TNLL merupakan pusat habitat berbagai jenis burung. (MFA)

Aktivis Satwa Demo atas Kematian Gajah Sumatera

Published in Nasional
Sabtu, 13 September 2014 11:02

Medialingkungan.com  - Po Meurah, merupakan sebutan masyarakat di Aceh untuk satwa bertubuh besar diambang  kepunahannya, Gajah Sumatera. Sebanyak tiga ekor gajah Sumatera di Aceh mati dibunuh dalam seminggu terakhir. Sementara jika dilihat dalam kurun waktu tiga tahun, sudah mencapai 30 ekor yang karena mati dibunuh.

Hal ini diungkapkan puluhan aktivis yang tergabung dalam Gerakan Indonesia Sahabat Gajah saat menggelar aksi damai di depan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Dalam aksi itu, mereka berorasi secara bergantian dan membawa sejumlah poster.

Aksi tersebut berhasil mendapat perhatian dari sejumlah pengguna jalan yang melintas di sekitar wilayah aksi.

Koordinator aksi, Nurjannah Husein, mengatakan, aksi tersebut merupakan bentuk keprihatinan masyarakat Aceh terhadap hewan yang mempunyai tempat di hati masyarakat Aceh. Sejak zaman Kerajaan Aceh Darussalam, gajah merupakan satwa kebanggaan dan dihormati. Bahkan kerajaan Aceh pernah memiliki pasukan seribu gajah.

"Orang Aceh juga mempunyai nama penghormatan untuk gajah yakni Po Meurah dan Teungku Rayeuk," kata Nurjannah kepada wartawan Aceh disela-sela aksi, Jumat (12/09).

Perburuan gajah yang ditengarai untuk mengambil gadingnya -- dikhawatirkan akan menyebabkan hewan berbadan besar ini semakin dekat dengan kepunahan.

Tiga ekor gajah di Aceh Jaya dan Aceh Timur mati dibunuh dengan kondisi gading yang hilang dalam waktu sepekan.

Menurut WWF Indonesia, kini gajah Sumatera di alam liar jumlahnya sekitar 1724 ekor. Populasi tersebut terus mengalami penurunan akibat fragmentasi habitat, konflik manusia dengan satwa, perburuan dan perdagangan ilegal.

"Populasi gajah sumatera telah hilang sebanyak 50 persen hanya dalam tempo 25 tahun sejak 1985. Dan ini merupakan satu-satunya sub spesies gajah dunia yang masuk dalam ancaman kepunahan," ungkap Nurjannah.

Dalam aksi ini, Gerakan Indonesia Sahabat Gajah medesak pemerintah mengusut tuntas dan menindak tegas pembunuh gajah di Aceh. Para pedagang gading serta sindikat dan jaringan yang mendukungnya juga ditelusuri jejaknya agar populasi ini tak berkurang lagi akibat perburuan gading gajah.

Para Sahabat Gajah Aceh ini juga mendesak presiden yang baru untuk berkomitmen dalam melindungi gajah dan satwa langka lainnya yang masih tersisa di Indonesia. (MFA)

TNBTS Terbakar, Habitat Lutung Jawa Hilang

Published in Nasional
Sabtu, 13 September 2014 07:28

Medialingkungan.com  - Kebakaran yang melahap sekitar 450 hektare kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, ikut menghanguskan habitat lutung di area tersebut.  Nyala api terhitung sejak selasa (09/09) hingga (11/09).

Kepala Balai Besar TNBTS, Ayu Dewi Utari mengatakan, api tersebut membakar kawasan taman nasional di Gunung Bromo yang berada di wilayah Kabupaten Probolinggo hingga Lumajang.

Dari 450 hektare yang terbakar, ditaksir sekitar 100 hektare padang savana dan sekitar 350 hektar yang merupakan kawasan di sekitar tebing dari lereng Watu Kutho hingga Watu Gede  yang dijangkau api.

Nyala api baru berhasil dipadamkan pada Kamis (11/09) pukul 17.00 WIB, katanya saat dihubungi lewat telepon oleh Antara, Jumat (12/09).

"Tebing Watu Kutho hingga Watu Gede yang dipenuhi dengan tumbuhan cemara gunung yang merupakan habitat lutung Jawa ikut terbakar, sedangkan padang savana yang terbakar juga merupakan habitat burung-burung kecil," katanya.

Kendati demikian, hasil pengamatan petugas pasca kebakaran menunjukkan bahwa bangkai satwa di area kebakan tak satupun yang ditemukan.

Hal ini menurut ayu masih bersifat asumsi dan belum bisa dipastikan kebenarannya

"Kami tidak tahu apakah lutung dan burung-burung kecil tersebut ikut terbakar pada saat kebakaran di kawasan bukit Teletabis Gunung Bromo hingga kawasan B-29 Lumajang, namun ekosistem mereka dipastikan rusak karena sudah hangus terbakar terutama ekosistem burung di padang savana," ujarnya.

Ia menjelaskan kebakaran kali ini merupakan kebakaran terbesar dalam enam tahun terakhir.

Menurutnya, untuk melakukan rehabilitasi di kawasan padang savana yang terbakar memang tidak membutuhkan waktu terlalu lama karena suhu udara di kawasan setempat mencapai -7 derajat celcius dan tanaman di sana merupakan ilalang, rumput, dan pakis yang mudah tumbuh. Namun, untuk mengembalikan habitat lutung Jawa di kawasan tebing yang ditumbuhi cemara gunung membutuhkan waktu cukup lama, bisa sampai puluhan tahun agar dapat pulih. (MFA)

BKSDA Sita Orangutan Sumatera di Rumah Pengasuhnya

Published in Nasional
Sabtu, 13 September 2014 07:46

Medialingkungan.com – Pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) akhirnya menjemput seekor orangutan berjenis kelamin jantan yang dinamai Robet,di rumah warga di Jalan Demang Lebar Daun Komplek Villa Anggrek RT 52 RW 11Kelurahan Demang Lebar Daun Kecamatan IB II Palembang, Jumat (12/09).

Jenis Orangutan Sumatera yang baru berusia 4,5 tahun ini, disita BKSDA dikarenakan termasuk salah satu satwa langka yang dilindungi negara.

Orangutan yang memiliki bulu berwarna kuning kecoklatan dengan bobot 25 kg dan tinggi sekitar 60 cm ini tampak jinak dengan pemiliknya.

Satwa tersebut selama ini diasuh oleh Rubianto. Ia mengakui bahwa Robet telah diasuhnya selama 2,5 tahun sangatlah jinak.

"Kalau pagi makan buah-buahan, sedangkan siang dan malannya makan nasi seperti kita manusia. Robet ini hobinya bermain dan jaran g di kandang. Kalau di kandang saat tidak ada orang saja di rumah," ujar Rubianto.

Sama halnya dikatakan Kusni Yuli sebagai pemilik Robet yang memelihara sejak dititipkan dari seorang kerabatnya sewaktu Robet masih berusia satu tahun sembilan bulan. "Dari awal kami masyarakat hanya merawat Robet sebaik mungkin, kalau sakit dibawa ke dokter. Kami tidak keberatan diambil pihak BKSDA, karena selama kami merawat Robet, kami hanya tidak ingin Robet terbengkalai begitu saja yang tidak diurus," ujar Kusni.

Kepala Resort BKSDA Kota Palembang Andre mengatakan, BKSDA berterimahkasih kepada warga pemilik yang selama ini memelihara orangutan satwa langka yang dilindungi negara ini. "Satwa ini merupakan orangutan Sumatera yang nama latinnya Pongo Pygmaeus.

Sementara ini kita mengurus administrasinya dan selanjutnya akan dibawa ke lembaga konservasi yang ada di Lampung bahkan juga bisa dibawa ke Kalimantan. Kalau untuk dilepaskan ke alam liar masih butuh proses yang sangat panjang. Karena orangutan bernama Robet ini masih kecil," ujar Andre.

Keberadaan hewan mamalia ini dilindungi Undang-Undang 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan digolongkan sebagai Critically Endangered oleh IUCN. (MFA)

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini