medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Dipastikan, Populasi Gajah Sumatera Akan Punah

Published in Nasional
Rabu, 10 September 2014 12:07

Medialingkungan.com - Percepatan pembangunan dan kemajuan wilayah dengan fungsi hutan Aceh terus berkurang  merupakan penyebab utama populasi gajah sumatera di Aceh ‘dipastikan’ akan punah.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh menyebutkan, pada tahun 2000 melalui SK Menhut 170 dinyatakan kawasan hutan di Aceh total luas 3.549.813 hektare. Tahun 2013 pemerintah pusat atas permintaan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh juga mengabulkan perubahan kawasan hutan di Aceh.

Disebutkan bahwa melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor  941/II/2013, tanggal 23 Desember 2013, perubahan kawasan hutan menjadi bukan kawasan hutan seluas 42.616 hektare (ha), perubahan fungsi kawasan hutan seluas 130.542 ha, dan perubahan bukan kawasan hutan menjadi kawasan hutan seluas 26.461 ha.

Perubahan status kawasan hutan akan berdampak pada mekanisme kehidupan pada suatu ekosistem. Walhi mengatakan bahwa hal yang demikian bukan soal besar kecilnya dampak, namun jumlah populasi satwa yang masuk dalam daftar dilindungi terancam punah secara perlahan akibat adanya kegiatan berlebihan manusia dalam kawasan hutan.

 “Terindikasi ada sembilan kabupaten sebagai pusat populasi gajah yang fungsi hutannya berkurang,” ujar Direktur Walhi Aceh, Muhammad Nur di Banda Aceh, Selasa (09/09).

Ia menegaskan, pembangunan apa pun yang telah dirancang dalam Tata Ruang Aceh 2013-2033 harus menjadi perhatian serius Balai Besar Konservasi & Sumber Daya Alam (BBKSDA) dan para pihak mengawal kebijakan pembangunan.

Jika tidak, sambungnya, maka BBKSDA akan terus menyampaikan berita duka setiap bulan atau tahunan kepada publik terkait hal yang sama. “Kami sangat menyayangkan pembunuhan gajah terus dilakukan pihak tertentu,” ujar M Nur.

Dikatakan, hutan Aceh merupakan benteng terakhir bagi gajah sumatera untuk hidup. Bila kegiatan konversi hutan menjadi lahan bisnis perkebunan maupun pertambangan dan perluasan bisnis lainnya semakin meningkat, jelas akan menyempitkan ruang bagi gajah dan pada gilirannya akan benar-benar punah pada puluhan tahun ke depan.

Oleh karena itu, tegas M Nur, penting bagi Pemprov Aceh dan Sumut membangun kerja sama dalam mengatasi persoalan ini. Sebagai provinsi tetangga, Sumut idealnya perlu diajak membangun pengelolaan hutan yang lebih baik dan sinergi pada agenda mengatasi persoalan ancaman kepunahan gajah. Sebab faktanya satwa jenis gajah tetap saja dibunuh setiap tahun di berbagai kabupaten di Aceh. 

Jika dibiarkan terus-menerus dapat dipastikan jumlah populasi gajah akan menurun bahkan hilang dari bumi Sumatera sehingga pada akhirnya undang-undang dan kelembagaan bertolak-belakang dengan praktek lapangan.

UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya menurut M Nur merupakan tindakan apresiatif sebagai penghormatan dan perlindungan satwa. Aturan ini bisa dijadikan rujukan untuk melakukan aktivitas pembangunan untuk keberlanjutan ekosistem masa akan datang. (MFA)

Komodo dalam Kondisi Rentan dan Kritis

Published in Nasional
Kamis, 04 September 2014 12:27

Medialingkungan.com – Saat ini Komodo Dragon (Varanus komodoensis)  termasuk dalam kategori Appendix I yang berarti spesies hidup liar dan tidak boleh diperdagangkan secara internasional . Hal demikian menurut Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna (CITES).

Adapun menurut Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna (IUCN), satwa ini masuk ke dalam kategori vulnerable yang berarti spesies tersebut sedang menghadapi risiko kepunahan di alam liar pada waktu yang akan datang. Hal ini disampaikan oleh Dr. Claudio Ciofi, peneliti dari Florence University, Italia, Selasa (02/09) saat kuliah umum di Ruang Sidang Bawah Fakultas Biologi UGM.

Dr. Claudio menyampaikan bahwa Komodo Dragon dapat dijumpai di Flores, Nusa Tenggara Timur, yaitu di beberapa pulau seperti Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Gili Motang, dan Pulau Kode. Kondisi keempat pulau yang berbeda mengakibatkan pertumbuhan populasi Komodo yang bervariasi. Bahkan di beberapa bagian dari Pulai Rinca terjadi isolation island.

Kendati demikian Komodo Dragon memiliki ukuran tubuh yang cukup besar dengan panjang tubuh 304 cm dan berat sampai 80,5 kg, hewan ini memiliki metabolisme yang rendah sehingga memiliki laju evolusi yang lambat. Oleh karena inilah sangat perlu dilakukannya konservasi terhadap Komodo Dragon.

Ahli Komodo yang juga berkecimpung dalam konservasi genetik ini menggunakan analisis molekular untuk mengkaji populasi Komodo di keempat pulau tersebut dengan menggunakan penanda mikrosatelit.

Ia bermaksud menggunakan sekuen untuk analisis lanjutan serta menggunakan DNA Fingerprinting untuk mengonstruksi pohon silsilah (pedigree) dari Komodo Dragon. 

Pedigree yang dihasilkan dapat digunakan untuk mengetahui hubungan genetik yang selanjutnya dapat digunakan untuk menentukan pasangan kawin terbaik, pertukaran dengan kebun binatang lain serta mengidentifikasi individu yang tepat untuk reintroduction ke habitat aslinya.

Namun demikian Dr. Claudi percaya bahwa masyarakat lokal juga turut berperan menunjang keberhasilan program konservasi tersebut. “Conservation can only be truly sustainable and effective if it is owned by local people – and not just scientists and other conservation professionals”, ungkap Beliau di akhir pemaparannya.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu pendukung dalam pengambilan keputusan dalam melakukan konservasi Komodo Dragon. (MFA)

DNA Beruang Kutub Ditemukan pada Jejak Kakinya

Published in Internasional
Kamis, 04 September 2014 10:19

Medialingkungan.com - Ilmuan dari World Wide Fund (WWF) dan perusahaan populasi genetik Perancis SPYGEN sedang mengumpulkan DNA jejak kaki berung kutub yang dinggalkan saat mereka berjalan melewati salju. Saat ini, untuk petama kalinya, ilmuan dapat mengambil DNA itu dan menggunakannya untuk lebih mengetahui beruang tersebut.

Data tersebut dapat berguna untuk beberapa keperluan. Arnaud Lyet, seorang ahli ekologi dan ketua program WWF, mengungkapkan “ada peningkatan konflik antara beruang kutub dan manusia. Dalam situasi beruang melawan desa, apa yang akan kamu lakukan jika mengetahui satu individu melawan 5 sampai 10 beruang dengan sebuah desa.”

Sampel jejak salju pertama dikumpulkan di Svalbard, Norwegia dan ternyata mengandung DNA dari beruang kutub, anjing laut, dan burung camar. Tim lapangan telah melihat hewan-hewan tersebut ada di dekat mereka saat mengumpulkan sampel jejak kaki beruang.

Dalam sebuah pernyataan pers, Lyet juga menggaris bawahi, “Metode ini dapat menjadi alat yang tidak ternilai untuk konservasi biologi.”

Dia menjelaskan metode jejak DNA dapat membantu mengganti metode yang lebih mahal untuk melacak populasi beruang kutub di habitat liarnya.

Ahli ekologi dapat menangkap, dan menandai individual atau mengumpulkan contoh bulu dan feses untuk menganalisis DNA. Tapi sulit untuk memukan bahkan menangkap binatang-binatang yang tinggal di area terpencil, dan jarang mememukan sampel bulu yang baik.

Jejak kaki, di sisi lain, tersedia sangat banyak dan salju mengawetkan DNA dengan baik. Metode ini dapat menghemat uang dan waktu.

Walaupun sekarang para ilmuan sedang fokus pada beruang kutub, mereka berharap penelitian selanjutnya dapat dilakukan pada harimau Amur dan macan tutul yang sulit dipahami di siberia. WWF menargetkan untuk mempublikasikan hasil penelitiannyapada pada akhir tahun.

Lyet mengatakan agar sebuah sampel dapat digunakan untuk mengidentifikasi binatang, “DNA yang terkandung didalamnya haruslah dalam kualitas baik. Teknik ini masuk akal untuk hewan berpopulasi sedikit” seperti beruang kutub atau harimau. (MFA)

Meningkatnya Angka Perdagangan Satwa Dilindungi

Published in Nasional
Sabtu, 09 Agustus 2014 13:03

Medialingkungn.com – Perburuan dan perdagangan satwa liar yang dilindungi di wilayah Indonesia masih tinggi, yakni mencapai 22 kasus sepanjang Januari hingga Juni 2014.

Lembaga "Protection of Forest and Fauna" (PROFAUNA) menyatakan sebanyak 22 kasus tersebut yang berhasil diungkap aparat penegak hukum, namun sejatinya yang belum terungkap justru lebih tinggi.

“Dari 22 kasus perdagangan dan perburuan satwa liar ini, ribuan ekor satwa yang dilindungi berhasil disita," kata Direktur PROFAUNA Indonesia Rosek Nursahid.

Jenis satwa liar yang diperdagangkan secara ilegal tersebut, di antaranya adalah orangutan, kukang, lutung jawa, siamang, trenggeling, penyu hijau, cendrawasih, kakatua raja, opsetan kulit harimau sumatera dan gading gajah.

Menurut Rosek Nursahid, satwa-satwa langka yang sudah dilindungi itu, disita dari tangan pedagang, pemburu dan penyelundup satwa dari berbagai daerah, seperti Jakarta, Tanggerang, Denpasar, Aceh, Jember, Lampung dan Palangkaraya.

Ia juga menambahkan, perdagangan satwa dilindungi itu bukan hanya untuk konsumsi domestik, namun juga diselundupkan ke luar negeri, antara lain ke Kuwait, Prancis dan Tiongkok. Terungkapnya kasus perdagangan satwa langka itu menunjukan bahwa perdagangan ilegal satwa liar di Indonesia masih tinggi.

"Sebenarnya masih banyak kasus perdagangan satwa liar dilindungi yang belum terungkap, angkanya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kasus sebelumnya," katanya. (DN)

Meledaknya Jumlah Manusia Membuat Binatang Invertebrata Nyaris Musnah

Published in Informasi & Teknologi
Sabtu, 26 Juli 2014 14:14

Medialingkungan.com - Beberapa tokoh peneliti hewan invertebrata  dari University College London mengatakan, dengan meningkatnya jumlah manusia di Bumi hampir dua kali lipat selama 4 dasawarsa ini, jumlah serangga, siput, cacing dan sejumlah binatang laut telah menurun drastis hingga 50 persen.

Hewan invertebrata itu penting bagi Bumi, karena mereka menyerbuki tanaman, mengontrol hama, menyaring air dan menambahkan nutrisi ke dalam tanah. Penurunan hewan invertebrata serupa dengan penurunan dari vertebrata darat, begitu menurut sebuah analisis literatur ilmiah dari suatu tim internasional termasuk Ben Collen dari University College London.

Para peneliti menyimpulkan penurunan hewan itu ada 2 faktor utama:

  1. Hilangnya habitat
  2. Perubahan iklim global.

Rodolfo Dirzo sebagai profesor biologi di Stanford University mengatakan, solusi buat penurunan hewan yang terjadi di dunia ini dengan mengurangi segera perubahan habitat dan eksploitasi berlebihan akan membantu, tetapi pendekatan ini perlu disesuaikan dengan daerah dan situasi individu.

Rodolfo berharap bahwa meningkatkan kesadaran terhadap kepunahan massal yang sedang berlangsung, dan bukan hanya dari, spesies karismatik besar serta konsekuensi terkait, maka itu akan membantu mempercepat perubahan.

Kita cenderung berpikir tentang kepunahan, seperti hilangnya spesies dari muka bumi, dan itu sangat penting, tapi ada kerugian ekosistem penting, yang berfungsi dimana hewan memainkan peran sentral yang perlu kita perhatikan juga, ujarnya.

Para peneliti juga menunjuk pada peningkatan perdagangan gading gajah dan cula badak, sebagai bukti berkembangnya industri kriminal terkait dengan menghilang satwa liar. lonjakan kerusuhan bisa datang dari kelangkaan pangan dan kehilangan pekerjaan, sehingga perdagangan manusia lebih meningkat, demikian juga kejahatan. (AP)

Untuk Perayaan Thanksgiving, Daging Monyet Diperdagangkan Bebas di Minahasa

Published in Nasional
Senin, 21 Juli 2014 12:06

Medialingkungan.com – Pemerhati lingkungan dan konservasi di Sulawesi Utara kembali melontarkan keprihatinan mereka. Yaki (monyet hitam sulawesi) kembali diperdagangkan di Pasar Langowan, Minahasa. Penjualan daging Yaki (Macaca nigra) tersebut dilakukan sehari menjelang perayaan pengucapan syukur di Minahasa atau di Amerika dikenal sebagai thanksgiving.

Salah seorang daging Yaki mengakui kalau dia menjual lima ekor Yaki hari ini. Lima ekor Yaki tersebut dipotongnya menjadi dua bagian, dan setiap bagian dijual seharga Rp 250.000.

Advisor Program Satwa dari Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki (PPST), Simon Purser, menjelaskan Monyet hitan Sulawesi (Macaca Nigra) atau di Minahasa disebut Yaki merupakan satwa yang dilindungi dan terancam punah.

"Kami menyayangkan masih banyak orang yang belum paham mengenai Undang-Undang Konservasi Satwa Liar, padahal sudah diterbitkan sejak 1990 sehingga masyarakat merasa normal untuk memburu dan memperdagangkan daging satwa liar," ujar Simon.

Para penggiat konservasi khawatir jika perburuan terhadap Yaki tidak segera dihentikan maka kepunahannya tinggal menunggu waktu. Jika tidak, Yaki bisa senasib dengan spesies babi rusa yang merupakan endemik Sulawesi, yang sudah dinyatakan punah secara lokal di area Minahasa sejak 20 lalu.

"Yaki, kuskus, dan satwa lainnya mungkin menyusul jika upaya penegakan hukum perlindungan satwa tidak serius dilakukan,"ujar Simon.

Menurutnya, ada risiko serius yang mengancam kesehatan manusia jika bersentuhan dengan monyet, apalagi mengonsumsi dagingnya. Ada berbagai parasit dan virus yang dapat menjangkiti manusia. (DN)

 

BKSDA Aceh Selamatkan Satwa dilindungi Yang Di Pelihara Warga

Published in Nasional
Sabtu, 19 Juli 2014 21:56

Medialingkungan.com - Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, melepaskan sejumlah satwa dilindungi ke hutan yang sebelumnya diamankan dari masyarakat karena dimiliki dan dipelihara tanpa izin.

Pelepasan satwa dilindungi tersebut berlangsung di Yayasan Lamjabat, Ujung Pancu, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar.

Perlepasan satwa tersebut, turut disaksikan Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Aceh Kombes Pol Joko Irwanto, Kepala Dinas Kehutanan Aceh Husaini Syamaun dan masyarakat setempat.

Kepala BKSDA Aceh Genman S Hasibuan, mengatakan, satwa dilindungi yang dilepasliarkan ini merupakan hasil penyerahan masyarakat beberapa waktu lalu.

"Ada sejumlah satwa dilindungi yang dilepaskan kembali ke hutan. Satwa-satwa ini merupakan hasil penyerahan masyarakat pada Mei 2014 lalu," kata Genman di Banda Aceh, Jumat (18/7).

Adapun satwa yang dilepasliarkan tersebut, yakni seekor siamang, dua ekor elang, seekor bangau tongtong, seekor landak. Selain satwa yang dilepas di Ujung Pancu ini, tim BKSDA juga melepaskan dua ekor beruang di hutan Aceh Jaya.

Sebelumnya, satwa-satwa dilindungi itu diamankan dalam operasi gabungan BKSDA Aceh dengan Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Aceh. Operasi gabungan tersebut berlangsung sejak 26 Mei hingga 29 Mei 2014 meliputi wilayah Kabupaten Aceh Barat, Kabupaten Nagan Raya, dan Kabupaten Aceh Selatan.

Hasilnya ada belasan satwa dilindungi diserahkan masyarakat. Di antaranyaempat ekor kukang, dua ekor buaya muara, elang dua ekor, bangau, siamang, landak, masing-masing satu ekor.

"Terkait dengan pemiliknya, itu menjadi kewenangan penyidik kepolisian. Kami hanya mengamankan satwa-satwa dilindungi tersebut kemudian melepaskan ke habitatnya," ungkap Genman.

Sementara itu, Direktur Reserse dan Kriminal Khusus Polda Aceh Kombes Pol Joko Irwanto mengatakan, para pemilik satwa diminta membuat pernyataan tidak lagi memelihara tanpa izin.

"Kalau kedapatan memiliki dan memelihara satwa dilindungi tanpa izin, mereka akan diproses secara hukum. Ancamannya lima tahun penjara," kata Joko.

Menurut Joko, sepanjang tahun 2014 sudah ada beberapa orang yang dijadikan tersangka kasus pemilikan satwa dilindungi. Di antara mereka sudah ada yang divonis pengadilan.

"Seperti dua tersangka kepemilikan tulang gajah dan 'offset' harimau. Jadi, kami mengimbau masyarakat tidak memiliki satwa dilindungi. Kalau melihat ada orang yang memiliki dan memeliharanya, segera laporkan," kata Joko. (AH)

 

 

Gajah di Myanmar dalam Kondisi Memprihatinkan

Published in Internasional
Rabu, 09 Juli 2014 17:11

Medialingkungan.com – Sebuah laporan baru-baru ini menunjukkan keadaan yang memprihatinkan dari Gajah liar di Myanmar.

Gajah-gajah tersebut pasalnya diperlakukan secara anarkis oleh para penyelundup gelap demi hasil yang menguntungkan. Anak-anak gajah ‘dijinakkan’ secara kejam, terutama untuk industri pariwisata Thailand.

Campaigners Traffic mengkhawatirkan kebangkitan kembali penyelundupan akan sangat mengancam kelangsungan kehidupan gajah di Myanmar. Mereka mendesak pemerintah Thailand untuk segera memperkuat hukum untuk mengatasi perdagangan gelap, lapor wartawan BBC Matt McGrath.

Kajian yang dirangkum jaringan pengawasan alam menyatakan, sekitar 81 gajah hidup ditangkap secara gelap untuk dijual bagi industri pariwisata Thailand dari tahun 2011 dan 2013.

Binatang tersebut dimanfaatkan untuk menghibur wisatawan asing dan dari dalam negeri di camp penjelajahan.

Disebutkan bahwa popularitas gajah muda lebih besar dibandingkan dengan gajah dewasa. Sebagian besar pengunjung lebih menyukai gajah muda, sehingga harga harga seekor anak gajah melonjak naik.

Saat ini nilai seekor gajah yang sehat sekitar US$33.000 atau Rp393 juta.Operasi yang dilakukan pemerintah Thailand pada tahun 2012 berhasil menghambat perdagangan binatang hidup dari Myanmar. (MFA)

Serangga Unik Ditemukan di Kedalaman Bumi

Published in Informasi & Teknologi
Sabtu, 05 Juli 2014 09:15

Medialingkungan.com-Sebuah spesies kumbang baru telah ditemukan di bawah tanah di gua Krubera di Western Caucasus, Rusia selatan. Spesies serangga ini dinamai Duvalius abyssimus yang memiliki ciri-ciri, berkaki enam dan memiliki sepasang antena yang memanjang hingga setengah bagian tubuhnya, serta tubuh yang tampak berwarna kekuningan.

Uniknya, spesies ini ditemukan pada kedalaman 1,5 mil di bawah permukaan sebuah gua. Hewan ini merupakan jenis makhluk hidup yang dapat hidup di bagian gua terdalam di dunia. Serangga ini hidup di tempat yang benar-benar tidak ada cahaya.

Temperatur rata-rata di tempat tersebut sekitar 45 derajat Fahrenheit dan sangat dingin membuat air dapat membeku.

Duvalius Abyssimus memiliki antena dan tubuh tanpa pigmen dengan panjang sekitar satu inci. sistem gua Krubera-Voronja sendiri apabila diukur dari permukaan tanah sampai dasar sekitar sama dengan 7 kali menara Eiffel di Paris, Prancis.

Ana Sofia Reboleira, seorang peneliti dari Universities of Aveiro and La Laguna dan M Vicente Ortuno (Portugis) dari Alcal University (Spanyol) telah mempublikasikan penemuan mereka itu ke jurnal ilmiah Zootaxa. (AH)

UNEA Puji Peran Indonesia Terhadap Pelestarian Lingkungan Hidup

Published in Nasional
Jumat, 04 Juli 2014 13:27

Medialingkungan.com- Pertemuan pertama Majelis Lingkungan Hidup PBB pekan lalu mengapresiasi kemajuan dan peran Indonesia dalam penanganan isu-isu lingkungan hidup, baik di dalam negeri maupun dalam mendorong pemajuan isu lingkungan pada tataran multilateral yang diselenggarakan di Nairobi, Kenya, pada tanggal 23-27 Juni 2014.

Henry Bastaman, PLT Staf Ahli Menteri Bidang Lingkunan Global menungkapkan, Menteri Lingkungan Hidup RI, Balthasar Kambuaya berperan sebagai ketua delegasi Indonesia, menyampaikan dua pernyataan terpisah yang mendapat sambutan positif dari sekitar 112 menteri yang hadir pada acara yang bertema “High-Level Segment”.

Balthasar menyampaikan pernyataan mengenai pentingnya pencapaian Agenda Pembangunan Pasca 2015 melalui pendekatan yang lebih terintegrasi. Sedangkan untuk mengubah pola konsumsi dan produksi menjadi berkelanjutan, diutarakan bahwa Indonesia antara lain telah mencanangkan program 10-Year National Policy Framework for SCP Implementation in Indonesia (10Y SCP Indonesia).

Implementasi SCP Indonesia telah masuk dalam Rencana Pembangunan Nasional 2015-2019 dengan berbagai keberhasilan antara lain mini and micro hydropower, dan Bank Sampah. Balthasar menghimbau negara-negara lain untuk menerapkan pembangunan berkelanjutan antara lain secara bertahap beralih ke SCP dan menyatakan kesediaan untuk berbagi pengalaman terkait hal ini.

Diungkapkan, Erik Solheim, Ketua Komite Asistensi Pembangunan Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memuji komitmen Indonesia dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam melindungi dan menjaga lingkungan hidup Indonesia.

Tema kedua dari pertemuan tersebut menyangkut perdagangan ilegal flora dan fauna liar ("Illegal Trade in Wildlife"), Balthasar menyampaikan posisi Indonesia yang mendukung mekanisme multilateral yang telah terlibat aktif dalam upaya penanggulangan perdagangan liar satwa dan tumbuhan langka melalui Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES).

Ia menambahkan bahwa dukungan tersebut termanifestasi dalam upaya perkuatan kerjasama multilateral pemberantasan perdagangan satwa dan tumbuhan liar dengan tetap disinergikan dengan program kerja CITES dan UNEP, serta adanya upaya yang seimbang dalam melakukan penanggulangan perdagangan ilegal satwa dan fauna liar yang antara negara asal, negara transit dan negara tujuan atau negara konsumen.

Dalam dialog ini delegasi Indonesia mengusulkan untuk membangun mekanisme kerjasama dalam penegakan hukum terhadap negara-negara konsumen produk Illegal Wildlife dalam rangka memutus rantai illegal wildlife trade. UNEP dipandang perlu mengkonsolidasikan resolusi the United Nations Convention against Transnational Organized Crime (UNCTOC) dan the United Nations Convention against Corruption (UNCAC) dalam keputusan yang akan diambil dalam Sidang Pertama UNEA tersebut. (TAN)

SUMBER: menlh.co.id

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini