medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Burung Sempur Hujan Darat Nyaris Terancam Punah

Published in Informasi & Teknologi
Selasa, 17 Juni 2014 19:06

Medialingkungan.com - Namanya unik, sempur-hujan darat atau di dunia internasional dikenal dengan nama Black and Yellow Broadbill (Eurylaimus ochromalus). Warna bulunya klasik dan begitu indah.

Hitam mendominasi bagian atas yang disisipi kuning pada sayap dan bintik putih pada ujung ekor. Bagian bawahnya merah jambu bergradasi dengan pita hitam melintang di dada atas.

Ukurannya juga mungil, sekitar 15 cm. Meski begitu, suaranya melengking dan mudah dikenal. Namun jangan sampai salah, sepintas suaranya mirip dengan sempur-hujan rimba.

Perbedaan dari burung sempur-hujan darat dan sempur-hujan rimba adalah Eurylaimus Ochromalus ini tidak mengawali kicauannya dengan siulan pendahuluan atau suara yang perlahan menghilang.

Sempur-hujan darat secara global tersebar di Semenanjung Malaysia, Sumatera dan Kalimantan. Kebiasaannya di hutan adalah memburu serangga dari tenggeran yang rendah serta senang berlama-lama di tajuk bagian bawah atau atas pepohonan.

Jenis ini termasuk dalam suku Eurylaimidae yaitu suku burung Asia dan Afrika yang sedikit anggotanya namun memiliki bulu warna-warni. Beberapa jenisnya merupakan pemakan buah-buahan.

Burung ini telah masuk dalam kategori Near Threatened (NT) atau Nyaris Terancam dalam Daftar Merah IUCN. (AP)

Virus Influenza Itik Liar (pandemi) Spanyol Membayangi

Published in Internasional
Jumat, 13 Juni 2014 19:54

Medialingkungan.com - Sebuah tim internasional virologis mengidentifikasi komponen genetik kunci pada virus influenza itik liar. Komponen gen ini mirip dengan virus pandemi Spanyol yang mematikan pada tahun 1918 lalu.

Peneliti utama, Yoshihiro Kawaoka dari University of Wisconsin-Madison mengatakan, ada kumpulan gen di alam yang memiliki potensi menyebabkan pandemi parah di masa yang akan datang.

Virus flu Spanyol bertanggung jawab atas 40 juta kematian di seluruh dunia. Para ilmuwan menggunakan metode pembalikan genetik untuk menciptakan virus yang berbeda dari flu Spanyol dengan menggunakan hanya 3% dari asam amino untuk membuat protein virus.

Para ilmuan melakukan uji coba virus terhadap hewan musang, kemudian menemukan 7 mutasi dalam 3 gen virus yang memungkinkan untuk penyebaran flu Spanyol pada musang, hewan yang umum digunakan dalam studi transmisi influenza.

Dari faktor genetik yang sudah ada dalam populasi burung liar, virus menunjukkan bahwa bahan genetik mampu bergabung untuk menciptakan patogen berbahaya yang bisa menghasilkan pandemi pada manusia.

Menurut Kawaoka, penemuan ini dapat membantu para ilmuwan mengembangkan strategi yang lebih efektif untuk memerangi munculnya penyakit tersebut. Penelitian ini juga memberi titik terang pada mekanisme adaptif virus flu burung dalam penyebarannya ke mamalia.

Sebuah mutasi protein pada permukaan virus, misalnya, memungkinkan untuk melekat pada sel-sel organisme. Selain itu, mutasi protein tersebut dapat meningkatkan kemampuan virus untuk menginfeksi saluran pernafasan manusia, katanya. (AP)

BKSDA Akui, Fauna Maskot Sulawesi Ini Kian Menurun

Published in Nasional
Rabu, 11 Juni 2014 16:39

Medialingkungan.com - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tenggara, memperkirakan populasi anoa khususnya yang masuk dalam kawasan konservasi yang tersebar pada 12 kawasan seluas 276.000 hektar itu di Sultra habitatnya diperkirakan dengan kisaran 180 sampai 200 ekor.

"Kami menduga, menurunnya populasi satwa langka anoa dan endemik sekaligus maskot Sulawesi Tenggara itu, disebakan alih fungsi hutan secara besar-besaran pada sektor pertambangan," kata Kepala BKSDA Sultra, Sahulata.

Selain di dalam kawasan konservasi yang diawasi BKSDA Sultra seluas 276.000 ha, populasi satwa langka anoa, masih terdapat di kawasan hutan lindung (HL) dan hutan produksi di bawah wewenang Dinas Kehutanan provinsi dan kabupaten/kota. Namun jumlah populasi saat ini sudah sulit diprediksi, karena habitatnya yang sudah terganggu akibat aktifitas dari pertambangan di dalam kawasan hutan yang mendapat izin dari Kementerian Kehutanan. (AP)

Sumber : wwf

Para Peneliti Rekomendasikan Pembuatan “Koridor” Untuk Tekan Konflik Gajah dan Manusia

Published in Nasional
Selasa, 10 Juni 2014 18:40

Medialingkungan.com – Semakin berkurangnya Gajah Sumatra pada Lansekap Bukit Jambi ditengarai seiring dengan peningkatan konflik antar manusia dengan satwa ini. Seorang peneliti gajah dari Frankfurt Zoological Society (FZS), Alex Mossbrucker menyebutkan, sepanjang tahun 2011-2013 sudah terdapat sekitar 38 ekor gajah yang mati akibat dibunuh dan keracunan pestisida pada Lansekap tersebut.

Berdasarkan data Lembaga Konservasi Dunia (IUCN), populasi gajah telah merosot hingga 80 persen dalam tiga dekade terakhir di wilayah Sumatra secara keseluruhan.

Mayoritas gajah ditengarai cenderung lebih menyukai kondisi tanah yang kontrunya lebih datar. Mongabay Indonesia dalam lamannya juga menunjukkan bahwa kontur berbukit-bukit di Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) menyebabkan seluruh populasi gajah saat ini telah berada diluar kawasan TNBT. 

Selain itu, masyarakat juga mengeluhkan bahwa saat ini mereka sangat sering menemukan gajah di kawasan pemukinannya. Masalah lain juga timbul ketika area ini telah berubah menjadi konsesi perusahaan HTI, sawit, pertambangan dan perkebunan masyarakat.

Mencermati situasi yang ada, Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI) menyerukan dibangunnya ‘koridor’ (wilayah penghubung) antar kelompok gajah yang berada di lansekap Bukit Tigapuluh, yaitu diantara kawasan HTI karet PT Lestari Asri Jaya (LAJ), kawasan eks HPH Dalek Hutani Esa (DHE) dan PT Tebo Multi Agro (TMA).

Para peneliti merekomendasikan untuk mengalokasikan wilayah selebar 100 meter sebagai wilayah koridor di daerah sempadan sungai yang melewati tiga kawasan itu. Kawasan sempadan sungai ini dipilih karena berdasarkan peraturan perundangan kawasan sempadan sungai tidak boleh diganggu kelestariannya oleh aktifitas perusahaan.

“Dengan adanya koridor ini kami berharap agar ruang jelajah gajah lebih luas dan ketersediaan pakan lebih banyak sehingga gajah tidak masuk lagi ke perkebunan masyarakat serta menjaga kelangsungan populasi gajah di kawasan ini,” jelas Krismanko Padang, Ketua FKGI pada mongabay.

Sebagai pembatas koridor, ia mengusulkan penanaman kemiri yang berfungsi sebagai pagar alami, agar gajah tidak kembali masuk ke konsesi perusahaan dan kebun masyarakat. 

“Gajah tidak suka kemiri, kemiri juga dapat dimanfaatkan sebagai penghasilan tambahan bagi warga desa dan dapat dikembangkan sebagai energi alternatif,” paparnya.

Ia mengakui bahwa konsep koridor satwa buatan ini merupakan sebuah konsep yang implementasinya belum membuahkan keberhasilan di Indonesia. Kendati demikian mereka tetap mengupayakan agar keberadaan gajah ini tidak menganggu aktivitas manusia di sekitarnya. (MFA)

BKSDA dan Polda Aceh Sita Hewan Dilindungi dari Rumah Warga

Published in Nasional
Selasa, 03 Juni 2014 14:01

Medialingkungan.com - Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, bersama aparat Polda Aceh, mengamankan sejumlah satwa dilindungi dari rumah warga di beberapa wilayah Aceh.

Kepala BKSDA Aceh, Genman Hasibuan mengatakan, di Kabupaten Aceh Selatan, petugas menyita beberapa satwa dilindungi, seperti Siamang, Landak, Elang Ular Bido, Elang Laut dan Tupai Jelarang, masing-masing satu ekor. Kemudian, petugas gabungan BKSDA dan Polda Aceh, juga ikut menyita dua Bangau Tong-tong serta empat ekor satwa Kukang.

Dalam penyitaan itu, Pihak BKSDA juga menyita dua ekor buaya. “Penyitaan Buaya yang di lakukan, dikarenakan binatang malata tersebut tidak ada izin dalam melakukan penangkaran, kata Genman.

Selain satwa yang masih hidup, petugas BKSDA menyita seekor harimau yang telah diawetkan di Meulaboh, Aceh Barat.

Menurutnya, tidak ada yang diamankan serta diproses, pasalnya dalam proses penyitaan itu umumnya warga yang memelihara satwa dilindungi tersebut bersikap kooperatif dan bersedia mengembalikan satwa dilindungi itu kepada petugas. Warga-warga itu pun tetap diingatkan untuk tidak mengulangi tindakan melawan hukum tersebut.

Tambahnya lagi, operasi penertiban pemeliharaan satwa dilindungi tersebut, mengedepankan langkah persuasif terhadap para warga yang kedapatan memelihara satwa dilindungi tersebut. Semua satwa tersebut telah diamankan di BKSDA Aceh dan selanjutnya akan ditempatkan pada lokasi atau taman hewan hutan lindung di Aceh. (AP)

 

Diduga Kelaparan, Gajah Liar Serang Sejumlah Rumah Warga Mandau

Published in Nasional
Minggu, 01 Juni 2014 16:53

Medialingkungan.com - Puluhan warga Jalan Rangau, Lokasi Chevron Pacific Indonesia (CPI) Kilometer 7. RT 02, RW 08, Kelurahan Air Jamban, Kecamatan Mandau, Bengkalis dikejutkan dengan kebrutalan belasan gajah liar hingga merusak rumah mereka pada Sabtu malam (31/05/2014).

Menurut warga setempat, kejadian ini berlangsung pada sekitar pukul 20.00 WIB.

Meski tidak menuai korban jiwa, namun aksi anarkis hewan raksasa itu menimbulkan kepanikan warga. Taksiran kerugian yang disebabkan amukan satwa ini mencapai jutaan rupiah. Hal ini dikarenakan 2 unit rumah warga rusak berat dan sebahagian besar barang-barang dan makanan diambil dan dirusak.

Dari pantauan riauterkini, amukan gajah ini diduga karena stok makanannya yang semakin terbatas dan pada saat itu, gajah tersebut sangat kelaparan, sehingga satwa dilinsungi ini merangsek dan melakukan perlakuan brutal di rumah warga.

Gajah ini ditengarai telah kehilangan sebagian dari wilayah habitatnya karena pengalihan hutan di area tersebut yang dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Dari tinjauan konservasi, kejadian amukan gajah ini merupakan efek tepi dari hilangnya habitat asli gajah-gajah tersebut. Sehingga memungkinkan gajah untuk melakukan perpindahan ke habitat baru yang dianggap nyaman dan dapat menyediakan makanan untuknya. (MFA)

 

Peringatan untuk Turis “Jangan Beli Satwa Liar Saat Tonton Piala Dunia”

Published in Internasional
Kamis, 29 Mei 2014 17:16

Medialingkungan.com – Menjelang piala dunia di Brasil, Otoritas Brazil merilis Pedoman soal lingkungan hidup bagi para wisatawan pada Rabu (28/05/2014). Hal ini ditengarai karena para pemburu satwa liar mulai beraksi. Mereka menyulap hewan-hewan tersebut menjadi souvenir kerajinan tangan.

Otoritas Brazil menyatakan, penonton Piala Dunia gemar berburu suvenir dari setiap tuan rumah ajang ini. Oleh sebab itu, turis itu harus tahu bahwa membeli burung beo, iguana, dan satwa liar lain dari Brazil adalah perbuatan ilegal.

Monyet, burung, ular, kupu-kupu, laba-laba, dan kalajengking adalah deretan hewan lain yang masuk daftar larangan pembelian, yang disusun para pejabat di Negara Bagian Rio Grande do Norte di kawasan timur laut Brasil. Salah satu kota di negara bagian ini, Natal, menjadi salah satu tuan rumah pertandingan Piala Dunia 2014.

"Piala Dunia akan menarik ribuan wisatawan, baik Brasil maupun asing, ke Rio Grande do Norte," kata Airton De Grande, juru bicara cabang Insitut Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Brasil (IBAMA), Rabu. "Untuk menghindari insiden memalukan apalagi hukuman pidana, kami telah menyiapkan 10 aturan yang harus diikuti oleh setiap orang."

Dala rilis aturan tersebut menunjukkan peringatan bagi para wisatawan untuk tak membeli perhiasan ataupun kerajinan yang mengandung unsur satwa liar, termasuk bulu, gigi, kulit, dan sayap kupu-kupu. Membeli satwa liar di Brasil, hidup maupun mati, tekan De Grande, akan mendapat hukuman denda 5.000 real (setara 2.300 dollar AS atau sekitar Rp 27 juta). (DN)

BKSDA Lakukan Penelusuran sindikat penjualan satwa dilindungi  

Published in Nasional
Kamis, 29 Mei 2014 15:43

Medialingkungan.com - Setelah menangkap seorang penjual satwa di Kabupaten Jember, Petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah III Jawa Timur kini masih terus menelusuri jaringan penjualan satwa liar yang dilindungi.

Polres Jember bersama pihak BKSDA dan organisasi perlindungan satwa Pro Fauna Indonesia menangkap ML di rumahnya di kawasan kampus Universitas Jember pada awal April 2014 dan diduga kuat sebagai pelaku penjualan satwa liar secara "online" melalui jejaring sosial di dunia maya.

Pihak penidik BKSDA menyatakan, ML sementara mengikuti proses hukum. Kasus penjualan ini tentu melibatkan sindikat pedagang lain. Tertangkapnya ML dianggap akan membuka pihak lain yang ikut serta pada transaksi penjuan satwa dilindungi ini.

"Petugas di lapangan masih mengembangkan kasus itu untuk mencari sindikat pedagang lain yang menjual satwa yang dilindungi, sedangkan proses hukum terhadap tersangka ML sudah memasuki pelimpahan tahap kedua," ujar penyidik BKSDA Wilayah III di Jember, Denny Mardiono, Kamis (29/05/2014).

Pada saat penggeladaan di rumah tersangka, ditemukan puluhan satwa dengan jenis yang berbeda-beda. Dari 13 satwa di antaranya tergolong satwa liar yang dilindungi undang-undang, seperti Elang Ular Bido (spilornis cheela), Lutung Jawa (Trachypithecus auratus), Alap-alap (Falconidae), dan tupai raksasa.

Dari informasi terakhir yang diterima, ML saat ini telah menjadi tahanan di Kejaksaan Negeri Jember dengan ancaman vonis hukuman lima tahun penjara dan denda Rp100 juta. Hukuman tersebut diberikan berdasarkan aturan undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 pasal 21 ayat 2 (a) junto 40  tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem.

"Kami sudah melimpahkan tersangka ML dan berkas kasus penjualan satwa dilindungi ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Jember pada Rabu (28/05/2014), sehingga tersangka saat ini sudah menjadi tahanan kejaksaan," katanya.

Kepala Seksi Pidana Umum Kejari Jember, Mujiharto mengatakan kejaksaan sudah menerima penyerahan tersangka dan barang bukti dari tim penyidik, namun barang bukti dititipkan kembali ke BKSDA karena pihaknya tidak mempunyai tempat menyimpan hewan yang dilindungi tersebut.

"Kami pelajari dulu berkasnya dan kalau sudah lengkap atau P21, segera kami limpahkan ke Pengadilan Negeri Jember," katanya.

Denny mengatakan barang bukti yang ditemukan di kediaman tersangka untuk sementara dikonservasi di penangkaran yang dimiliki BKSDA Wilayah III Jatim, agar satwa liar yang dilindungi itu tetap hidup. Setelah putusan majelis hakim keluar, seluruh satwa ini akan dilepasliarkan di kawasan Taman Nasional Menu Betiri.

"Setelah kasus ini memiliki kekuatan hukum tetap dan berdasarkan putusan majelis hakim, seluruh satwa liar akan dilepas di kawasan Taman Nasional Meru Betiri, agar mereka bisa hidup di alam bebas," katanya. (MFA)

Halaman 7 dari 7

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini