medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Greenpeace Indonesia: Sekat Kanal Efektif Hentikan Kebakaran Lahan Gambut

Published in Nasional
Selasa, 24 Februari 2015 21:17

Medialingkungan.com – Pembangunan sekat kanal di Desa Sungai Tohor Kecamatan Tebing Tinggi Timur, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau hingga saat ini dinilai efektif menghentikan kebakaran lahan gambut di daerah tersebut.

Hal itu diungkapkan oleh Teguh Surya, Juru Kampanye Politik Hutan Greenpeace Indonesia. Teguh menyatakan pembangunan sekat kanal tersebut mampu membuat tanah gambut tetap basah sehingga sulit terbakar.

“Hal ini tak hanya berhasil mengatasi persoalan kebakaran hutan, tetapi juga membantu menambah pasokan air bersih warga pada saat musim kemarau,” ucapnya.

Dia juga mengatakan program yang diinisiasi oleh Yayasan Perspektif Baru, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), dan Greenpeace Indonesia tersebut harus segera dituangkan ke dalam kebijakan yang permanen.

Tidak hanya itu, Teguh juga menyarankan agar hal ini juga dapat diaplikasikan pada wilayah lain, seperti wilayah pesisir timur Sumatera yang menurutnya memiliki bentang wilayah gambut luas dan dalam kondisi kritis akibat pengeringan melalui pembangunan kanal.

Teguh juga mengapresiasi blusukan yang dilakukan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Sungai Tohor pada 27 November 2014 lalu. Menurutnya, kunjungan tersebut berdampak positif karena berhasil mengatasi bencana kekeringan dan mengurangi kebakaran hutan. Saat itu, Jokowi turun langsung dalam penyekatan kanal yang sebelumnya dilakukan oleh warga.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun oleh Medialingkungan, Desa Sungai Tohor kini telah berhasil membangun 10 sekat kanal dari 11 yang telah ditargetkan sementara, dengan biaya pembangunan satu buah sekat kanal mencapai Rp 15 juta.

Dana pembangunan sekat tersebut diperoleh dari dana bantuan langsung yang diberikan Presiden Jokowi saat blusukan ke Desa sungai Tohor sebesar Rp 300 juta. Ke depannya, masyarakat Desa Sungai Tohor akan membangun sekat kanal permanen.(*)

Hutan Pinus di Kec. Camba Terbakar

Published in Nasional
Senin, 29 September 2014 22:34

Medialingkungan.com – Peristiwa kebakaran terjadi di kawasan hutan pinus Dusun Bentenge, Desa Bentenge, Kecamatan Camba, Sulawesi Selatan, pada Senin (29/09). 

Kejadian tersebut tidak menimbulkan kerusakan parah karena warga sigap dalam pemadaman api. Kebakaran itu juga tidak menimbulkan korban jiwa.

Sampai saat ini Sumber api masih belum diketahui dan masih dalam penyelidikan petugas.

Pihak kepolisian Maros dan Dinas Kehutanan Kabupaten Maros yang datang meninjau ke lokasi kebakaran mengatakan, luas lahan yang terbakar diperkirakan sekitar 8 Hektar.

Kendati api telah padam secara keseluruhan, namun petugas masih melakukan siaga guna mewaspadai bara api yang masih tersisa.

Daun-daun kering di hutan sangat mudah terbakar, apalagi di kawasan hutan pinus. Dua tahun lalu tepat di seberang Kecamatan Bentenge, yakni di Hutan Pendidikan Bengo-Bengo Universitas Hasanuddin juga pernah terjadi kebakaran yang serupa di kawasan pinus. (MFA)

Luas Kebakaran di Sumsel Tembus Seribu hektar

Published in Nasional
Minggu, 21 September 2014 20:08

Medialingkungan.com – Green Radio bersama Mongabay Indonesia mencatat, luas kawasan yang terbakar di Sumatera Selatan (Sumsel) sepanjang Juli hingga September 2014 sudah mencapai seribu hektar.

Dituangkan melalui rilis resmi di situsnya bahwa rincian luasan areal yang habis dilalap si jago merah adalah sekitar 322,25 hektar terjadi di hutan dan seluas 615,05 hektar berada di areal perkebunan atau non-hutan.

Dari luasan yang terbakar tersebut, yang berhasil dipadamkan adalah 146,2 hektar di kawasan hutan dan seluas 274,95 hektar di wilayah non-hutan.

Demikian penjelasan Sony Partono, Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Kementerian Kehutanan, saat rapat koordinasi Pemerintah Provinsi Sumsel dengan Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), di Griya Agung, Jalan Demang Lebar Daun, Palembang, Jumat (19/09). *)sesuai rilis

Direktur Walhi Sumsel, Hadi Jatmiko menilai, kebakaran hutan dan bukan hutan membuktikan jika perusahaan perkebunan dan pemerintah tidak mampu mengantisipasi kebakaran.

Kendati demikian, sampai saat ini, kepolisian telah menangkap sejumlah warga yang melakukan pembakaran lahan. Misalnya, tiga warga yang tengah membakar area perkebunan milik sebuah perusahaan di kawasan Sungai Menang, Kabupaten OKI (Ogan Komering Ilir).

Berdasarkan keterangan Kabid Humas Polda Sumsel, Kombes Pol Djarod Padakova, ketiganya dinilai tidak konsekuen dengan imbauan aparat koepolisian untuk tidak membakar lahan. Saat ini mereka diperiksa di Polres OKI.

Mengenai dua pegawai PTPN VII Ogan Ilir yang tertangkap di lokasi kebakaran, statusnya masih sebagai saksi. Polda Sumsel akan melakukan konfrontir dengan pihak PTPN VII.

“Kita lihat penyebab kebakaran lahan tersebut apakah kelalaian, kesengajaan, atau ulah orang lain,” katanya.

Terhadap penangkapan petani dan karyawan tersebut, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sumsel berharap kepolisian jangan berhenti melakukan tindakan yang sama pada siapapun yang melakukan pembakaran.

“Polisi harus fokus pada perusahaan. Mereka melakukan itu pasti karena perintah. Penangkapan tersebut merupakan pintu masuk untuk mengusut perusahaan. Jangan petani yang dikorbankan. Tangkap pemimpin perusahaan yang lahannya terbakar,” kata Rustandi Adriansyah, ketua BPH AMAN Sumsel. (MFA)

IPCC : Kebakaran Hutan Meningkat 200 Persen pada 2090

Published in Nasional
Rabu, 10 September 2014 07:47

Medialingkungan.com - Studi terbaru dari para ilmuwan menyoroti kenaikan suhu karena dampak dari perubahan iklim. Ilmuwan tersebut memprediksi bahwa dunia akan mengalami kekeringan yang berkepanjangan yang akan mengakibatkan potensi kebakatan hutan meningkat sebesar 200 persen.

"Di daerah yang lebih padat, kemungkinan terjadinya kebarakaran hutan meningkat secara dramatis. Kita bisa mencegah banyak kebakaran tersebut dengan menjadi lebih bertanggung jawab lagi," ujar peneliti Andrey Krasovskii. Demikian dilansir dari Daily Mail, Selasa (09/09).

Mereka beranggapan, tingkat kebakaran bisa ditekan di bawah 50 persen. Organisasi nirlaba yang berbasis di Austria itu memberikan dua strategi untuk meredam efek buruk dari kebakaran hutan di masa akan datang.

Pertama adalah menyingkirkan kayu mati dari hutan sehingga kebakaran tak merambat dengan cepat. Kedua adalah kesigapan pemadam kebakaran yang harus ditingkatkan lagi.

Kendati demikian, untuk lahan hutan dengan luasan yang besar tentu akan membuat estimasi biaya, waktu, dan tenaga yang diperlukan akan besar pula. Untuk skala Indonesia, Kementerian Kehutanan telah mewaspadai beberpa daerah yang potensi kembali dan akan mengalami kebakaran hutan. Tingkat risiko kebakaran yang tinggi dan jumlah personil yang masih minim diyakini pemerintah masih akan kesulitan meredam laju kebakaran hutan di Indonesia.

Nikolay Khabarov, pemimpin penelitian itu menegaskan bahwa perdebatan tentang  efektivitas pengelolaan kebakaran hutan tidak perlu dibesar-besarkan. penindakan yang terintegrasi dengan baik berdsarkan usulan  tadi ia nyatakan bisa menjadi opsi terbaik untuk mengurangi risiko tersebut.

"Masih ada perdebatan tentang efektivitas pengelolaan kebakaran hutan. Studi ini menunjukkan bahwa hal itu dapat menjadi pilihan yang menjanjikan untuk melindungi hutan Eropa dari dampak perubahan iklim," kata Nikolay.

Para peneliti dari panel antarpemerintah tentang perubahan iklim (IPCC) menilai bahwa tak ada yang dapat mengelak dari akibat perubahan iklim dan kebakaran hutan seperti badai, banjir, atau gelombang panas ke depannya.

"Selama tidak ada penanganan yang berarti dari sekarang, kita tidak bisa mengabaikannya," ujar para peneliti IPCC.

Mereka menambahkan, konflik Bertambah Bila perubahan iklim tak segera diatasi, maka konflik kekerasan, kekurangan pangan, dan kerusakan infrastruktur yang cukup serius akan menjadi lebih luas lagi di tahun-tahun mendatang.

Selain itu, sambungnya, kerusakan hutan yang ditimbulkan atas peristiwa tersebut juga mempengaruhi tatanan ekonomi yang berhilir pada keterpurukan angka kemiskinan yang makin meningkat serta kerusakan pada ekosistem laut. Sebab sesuai alur ekologis, kerusakan suatu ekosistem dapat mempengaruhi ekosistem lainnya.

Sesuai dengan hasil perdebatan terakhir, IPCC menyimpulkan bahwa saat ini dunia sedang berada dalam era perubahan iklim yang diakibatkan oleh manusia itu sendiri. Hal ini berujung pada pemanasan global di setiap benua dan lautan.

Sebelumnya, data International Institute for Applied Systems Analysis (IIASA) mengatakan, di Eropa, lebih dari 95 persen kebakaran hutan disebabkan oleh ulah manusia. Beberapa aksi manusia yang menyebabkan kebakaran di antaranya adalah membuang puntung rokok sembarangan, menggunakan api unggun yang tak dimatikan serta kesengajaan penggunaan api untuk membuka lahan.

Pembenahan mekanisme dalam penanganan kebakaran hutan harus lebih massif dan agresif lagi jika tak ingin fungsi ekologi semakin tertekuk.  Pengawasan terhadap pengelolaan hutan serta penindakan yang tegas dari aparatur hukum juga dinilai oleh sebagian lembaga lingkungan masih jauh dari tegas.

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) sudah beberapa kali menyambangi otoritas berwenang untuk dalam bentuk surat atau menghampiri langsung guna memperingatkan hal demikian, namun tak ada implementasi dari pihak pemerintah dalam mewujudkannya.

Kementerian Kehutanan melalui Deputi III Kementerian Lingkungan Hidup, Arief Yuwono di Jakarta kemarin mengatakan bahwa telah lebih dari 20 ribu hektare hutan di Provinsi Riau habis  akibat kebakaran hutan di daerah tersebut mulai 2013 hingga saat ini dan Negara mengalami kerugian tak kurang dari 10 triliun.

Prediksi kenaikan menjadi 200 persen oleh IPCC bisa jadi benar jika penangan masih berada pada posisi stagnannya . (MFA)

Kontinuitas Kebakaran Hutan Berpotensi di Sembilan Provinsi

Published in Nasional
Rabu, 10 September 2014 08:14

Medialingkungan.com – Pemerintah memprediksi ada sembilan provinsi yang berpotensi mengalami kebakaran hutan dengan alasan yang menguatkan terjadinya hal tersebut, salah satunya kekeringan di daerah tersebut.

"Dari data yang kami miliki, sembilan provinsi itu harus siaga agar dapat cepat melakukan tindakan pemadaman terhadap kebakaran hutan," kata Deputi III Kementerian Lingkungan Hidup Arief Yuwono di Jakarta, Selasa (09/09).

Arief menyebutkan sembilan provinsi yang berpotensi mengalami kebakaran hutan atau lahan itu anatara lain; Sumatera Utara, Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Utara.

Kontinuitas kebakaran hutan di Riau dan Kalimantan disebutkan  -- arief tetap akan berpotensi besar. Mengingat sepanjang tahun lalu Riau mengalami kebakaran terdahsyat dan tahun ini dikejutkan dengan kebakaran besar pada Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah.

"Untuk Riau dari 2013 hingga tahun ini hutan yang terbakar seluas 20.000 hektare dan kerugian secara ekonomi sebesar Rp10 triliun lebih sedangkan dari kerugian ekologi tidak terhitung," uajrnya.

Saat ini ada beberapa provinsi yang sedang terjadi kebakaran hutan dan pemerintah setempat harus cepat melakukan penindakan untuk pemadaman agar tidak terus merambah.

"Bagi daerah yang berpotensi kebakaran hutan tapi belum terjadi seharusnya sedini mungkin melakukan upaya pencegahan dengan melakukan sosialisasi kepada masyarakat, perusahaan dan kepada para pihak," ucapnya.

Pemerintah setempat juga harus melakukan tindak tegas setiap pelaku pembakaran hutan baik itu perorangan, perusahaan ataupun kelompok yang tertangkap tangan dengan sengaja melakukan perbuatan tersebut. 

Badan Penaggulangan Bencana Daerah (BPBD) beserta petugas terkait juga agar lebih waspada dan lebih lugas dalam ancaman kebakaran hutan. (MFA)

Kawasan Hutan 2.8 Ha di Malaysia Terbakar

Published in Internasional
Sabtu, 26 Juli 2014 13:08

Medialingkungan.com - Kawasan hutan seluas 2,8 hektar di dekat Jalan Wawasan, Taman Puchong Wawasan, Kuala Lumpur, Malaysia, terbakar pada pukul 09.15 malam tadi waktu setempat.

Asisten Kepala Bomba dan Penyelamat Puchong Muhammad Zaikunor Afendi Muhammad Nordin mengatakan, pihaknya baru menerima laporan kebakaran itu tiga menit setelah kejadian.

Operasi itu melibatkan empat mesin dari Balai Bomba dan Penyelamat Puchong, Cyber ​​Jaya, Jalan Penchala dan Bagian 7, Petaling Jaya juga melibatkan 26 personilnya dan saat mereka tiba di tempat kejadian, api telah marak di seluruh kawasan hutan itu.

"Api baru berhasil dikendalikan sekitar 10 menit kemudian, saat ini pihaknya sedang melakukan pembersihan bekas kebaran,” katanya.

"Saya mengerti kebakaran itu diduga dilakukan oleh individu yang tidak bertanggung jawab yang membakar rumput kecil dan akhirnya membuat api tidak terkendali," sambunganya.

Muhammad Zaikunor mengatakan penyebab kebakaran masih diselidiki dan tidak ada kecelakaan jiwa dilaporkan.

Kebakaran itu mengancam ratusan penduduk Kesidang Apartemen di Puchong Jaya dan Taman Wawasan 4 di Pusat Kota Puchong yang berdekatan dengan titik kebakaran itu. Insiden kebakaran tersebut dikatakan yang ketiga terjadi di daerah wilayah tersebut. (MFA)

Amunisi Ampuh Gubernur Riau Dalam Mengatasi Laju Kebakaran Hutan dan Lahan

Published in Nasional
Kamis, 24 Juli 2014 13:40

Medialingkungan.com – Meningkatnya persoalan kebakaran hutan dan lahan di berbagai daerah kabupaten/kota, Gubernur Riau Annas Maamun memiliki trik dan cara tersendiri dalam mengatasinya.

Dia memiliki amunisi khusus yakni menekan para bupati untuk segera mengatasi masalah itu sesegera mungkin.

Menurut informasi yang didapat dari GoRiau.com, akan ada potongan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Dearah Provinsi Riau untuk tiap kabupaten yang gagal mengatasi persoalan kebakaran hutan dana lahan.

Annas juga meminta Kapolda Riau Brigjen Condro Kirono bersama Wakil Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman untuk turun langsung mengumpulkan para bupati, camat hingga kepala desa di daerah-daerah paling rawan terjadi karhutla seperti di Rokan Hilir. (DN)

 

 


 

Akibat Kebakaran Hutan, 100 Rumah di Utara Tengah Washington Hangus Terbakar

Published in Internasional
Senin, 21 Juli 2014 11:59

Medialingkungan.com – Akibat cuaca panas dan kering, api melalap hutan di wilayah utara tengah Washington. Evakuasi besar-besaran pun dilakukan oleh pemerintah setempat untuk menghindari korban jiwa.

Kebakaran ini dimulai pada Jumat kemarin, dan api melalap wilayah 260 mil persegi hutan tersebut. Dan pada Sabtu pagi waktu setempat, kebakaran meluas hingga 340 mil persegi. Menurut laporan yang dilansir oleh Associated Press hari ini.

Sebanyak 100 rumah warga di Pateros luluh lantak akibat kebakaran ini. Sementara itu tidaka ada korban jiwa hanya ada beberapa korban luka ringan dan memar. Angin yang begitu kencang saat itu membuat kebakaran dengan mudah meluas dan memicu terbentuknya petir api.

Sejumlah satuan unit pemadam kebakaran dari New Meksiko, Utah, dan Wyoming turut diterjunkan untuk membantu memadamkan api. Departemen Militer juga menyiagakan 100 tentara Garda Nasional. Sementara itu, pesawat terbang dan helikopter terus bekerja memadamkan api dengan menjatuhkan bom air di titik-titik kebakaran. (DN)

 

 

Titik Panas “Hotspot” di Pulau Sumatera Meningkat

Published in Nasional
Senin, 21 Juli 2014 11:49

Medialingkungan.com – Pusat Data dan Informasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau dalam surat elektronik yang diterima, Sabtu (19/7) malam, menyatakan, hampir setengah dari jumlah titik panas di Pulau Sumatera itu berada di Provinsi Riau.

Satelit NOAA 18 milik Amerika Serikat yang diopersikan Singapura pada Sabtu sore merekam keberadaan 139 titik panas (hotspot) di daratan Pulau Sumatera, meningkat dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat 113 titik.

"Di Riau ada sekitar 59 titik tersebar di sejumlah wilayah kabupaten dan kota," kata Kepala BPBD Riau, Said Saqlul Amri.

Menurut data hasil rekaman Satelit NOAA 18 itu masih berada di Kabupaten Rokan Hilir yakni 45 titik dan di Bengkalis ada tujuh titik.

Kota Dumai terdeteksi kemunculan empat titik panas dan di Rokan Hulu ada dua titik serta di Kabupaten Siak hanya ada satu "hotspot".

Sementara itu wilayah kabupaten/kota lainnya meliputi Kabupaten Kepulauan Meranti, Kuantan Singingi, Kampar, Pelalawan, Indragiri Hilir, Indragiri Hulu, dan Kota Pekanbaru tidak terdeteksi adanya titik panas.

Ada lima “hotspot” di Riau hasil rekaman Satelit Modis Terra dan Aqua Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru.

Kabupaten Rokan Hilir yakni empat titik dan di Kabupaten Bengkalis hanya ada satu titik panas dan merupakan wilayah terbanyak.

Titik panas merupakan hasil rekaman satelit dari suhu udara di atas 40 derajat celsius yang patut diduga sebagai peristiwa kebakaran hutan dan lahan.

Untuk tahun 2014, berbagai wilayah kabupaten/kota di Riau telah terjadi peristiwa tersebut, mengakibatkan sedikitnya 25 ribu hektare hutan dan lahan hangus dan menghasilkan asap yang mencemari ruang udara di sebagian wilayah.

Kepolisian Daerah Riau juga telah berhasil menangkap dan menetapkan sebanyak 183 tersangka diduga melakukan kejahatan kehutanan dan membakar lahan.

"Untuk jumlah tersangka kemungkinan bisa terus bertambah mengingat hingga saat ini perburuan oleh tim di lapangan masih terus dilakukan," kata Kepala Bidang Humas Polda Riau Ajun Komisaris Besar Guntur Aryo Tejo.

Sebanyak 116 tersangka di tangkap saat melakukan aktivitas kejahatan kehutanan pada Januari hingga Maret dan sebanyak 67 lainnya ditetapkan sejak 5 April hingga 10 Juli 2014. (DN)

 

Kabut Asap Juga Selimuti Kalimantan Barat

Published in Nasional
Minggu, 20 Juli 2014 11:12

Medialingkungan.com – Setelah Riau, kini Kalimantan Barat yang tengah waspadai kabut asap. Pada Minggu malam hingga dini hari (20/7/2014) diperkirakan kabut akan menyelimuti wilayah tersebut.

Salah satu wilayah yang memang menjadi rawan kebakaran hutan dan lahan adalah Kalimantan Barat. Jika disaat musim kemarau, kebakaran hutan sangat mudah menjalar dan mengakibatkan pencemaran udara.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) diperkirakan akan terjadi cuaca berawan diprediksi terjadi di Banda Aceh, Medan, Palangkaraya, Banjarmasin, Makassar, Ternate, Sorong, Manokwari, Denpasar, dan Semarang. Sedangkan untuk kota Padang, Biak, Merauke, Kupang, Sumbawa Besar, Yogyakarta, dan Surabaya diprediksi cuaca cerah.

Diperkirakan pula hujan dengan intensitas ringan hingga sedang akan terjadi di Palembang, Jambi, Batam, Pekanbaru, Bandar Lampung, Serang, Bandung, Jakarta, Pontianak, Samarinda, Manado, Gorontalo, Ambon, atau Jayapura.

Gelombang tinggi juga masih berpeluang melanda sejumlah perairan. Gelombang setinggi 4 hingga 5 meter bisa menghantam Laut Cina Selatan, Samudra Hindia selatan Bengkulu-Lampung, perairan selatan Kepulauan Aru, perairan Kepulauan Sermata-Kepulauan Leti, perairan Kepulauan Babar-Kepulauan Tanimbar, perairan selatan Yos Sudarso-Merauke, Laut Arafuru, dan Samudra Pasifik timur Filipina.

Dan gelombang setinggi 3 hingga 4 meter berpotensi melanda Laut Andaman, perairan utara Aceh, perairan selatan Kupang - Rote, Laut Timor, Laut Flores bagian timur, perairan Kepulauan Wakatobi, Laut Banda dan perairan Kepulauan Kai. (DN)

 

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini