medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Perubahan Iklim dan Konversi Lahan Hambat Produktivitas Pertanian

Published in Nasional
Kamis, 06 Maret 2014 08:00

Medialingkungan.com - Pemerintah menyatakan tingginya konversi lahan pertanian ke lahan non pertanian dan adanya perubahan iklim berpotensi mengagalkan upaya swasembada pangan yang telah dicanangkan pemerintah.

Menteri Pertanian Suswono mengatakan pangan merupakan kebutuhan yang sangat penting sepanjang tahun kebutuhan akan komoditas ini semakin meningkat seiring pertumbuhan jumlah penduduk.

“Bertambahnya penduduk akan meningkatkan permintaan akan lahan. Konversi lahan pertanian tidak terhindarkan, karena itulah ini menjadi salah satu masalah serius di pertanian,” katanya dalam pernyataan resmi.

Untuk itu, jelasnya, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan produktivitas petani. “Kalau sekarang, kita memang masih kalah bersaing dengan negara maju dari sisi efisiensi. Nah inilah yang tengah kami benahi,” ungkapnya.

Pihaknya tengah menggandeng para peneliti dan juga akademisi terutama yang berkecimpung langsung di sektor pertanian untuk membuat inovasi-inovasi teknologi yang tepat guna dan mampu meningkatkan produktivitas pertanian. (MFA)

KolaborAksi Earth Hour se-Indonesia Malam Ini Sanggup Hemat 4,6 GWh Energi

Published in Nasional
Sabtu, 29 Maret 2014 15:36

Medialingkungan.com - Earth Hour merupakan sebuah kegiatan global yang diadakan oleh World Wide Fund for Nature (WWF) pada Sabtu terakhir bulan Maret berupa pemadaman lampu yang tidak diperlukan di rumah dan perkantoran selama satu jam untuk meningkatkan kesadaran akan perlunya tindakan serius menghadapi perubahan iklim.

Dengan tagline “be a superhero for the planet” dengan Spider-man sebagai duta super heronya, Earth Hour 2014 akan dilaksanakan malam ini, 29 Maret 2014 pukul 20.30 sampai 21.30 waktu setempat secara serentak di seluruh dunia. Untuk Indonesia sendiri, sekitar 37 kota mendukung dan ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Jika berjalan secara masif, maka asumsi perhitungan penghematan energi menjadi : Dari 92,13% rumah dengan sumber penerangan listrik PLN (BPS,2012) kita mengambil 10% dari total penduduk Indonesia yang equivalen dengan 23 juta orang.

Jika dalam pemadaman setiap 1 buah lampu rumah tangga berdaya 20 watt – 1 jam (waktu pemakaian), maka akan diperoleh 0,2 KW.h x Rp 1004 (*tarif TDL/okt 2013) = Rp 208.8,-23 juta orang x Rp 208,8 = Rp 4.618.400.000,- (4.6 Milliar rupiah) total penghematan biaya listrik dan bisa menghemat energi sebesar 4,6 GW.h (gigawatt-jam).

Dengan menghemat energi sebesar 4,6 GW.h, maka dapat pula mengurangi emisi +/- 3.91 juta ton CO2 yang setara 3.910.000 pohon (berusia 20 tahun) dengan ketersediaan oksigen (O2) untuk +/- 7.937.300 orang. Perhitungan tersebut hanya berlaku untuk negara Indonesia saja, sedangkan Earth Hour melibatkan ratusan juta orang di seluruh dunia, jadi perhitungan tersebut bisa menjadi jauh lebih besar. Ini membuktikan semua orang bisa menjadi pahlawan untuk bumi “#IniAksiku, sebuah langkah kecil untuk bumi yang lebih baik”. (AND)

Aksi Nyata EH Indonesia Perangi Sampah Kertas

Published in Event & Komunitas
Minggu, 09 Maret 2014 20:42

Medialingkungan.com – Earth-Hour Indonesia kembali membuat sebuah gebrakan dalam aksi yang dinamai BijakKertas. Kegiatan ini dilaksanakan serentak di 26 kota besar di seluruh Indonesia. aksi tersebut diselenggarakan dalam bentuk upcycle kertas bekas dalam rangka mewujudkan 3R (reduce -reuse -recycle)

26 kota besar ini merupakan chapter Earth-Hour yang tersebar seluruh Indonesia. Dengan support langsung oleh World Wide Fund Indonesia (WWF-ID), EH indonesia sukses mengkampanyekan aksi peduli lingkungan ini ke-26 kota tersebut antara lain, Banda Aceh, Pekanbaru, Padang, Palembang, Jakarta, Bogor, Tanggerang, Bandung, Cimahi, Yogyakarta, Solo, Semarang, Malang, Kota Batu, Surabaya, Sidoarjo, Kediri, Mataram, Pontianak, Palangkaraya, Banjarmasin, Balikpapan, Samarinda, Palu, Sorowako, dan Makassar.

Memanfaatkan momen car free day pada hari ini sentak merebut perhatian masyarakat, Ditambah dengan penempatan dropbox CFD sebagai tempat pengumpulan kertas bekas dari masyarakat dan para volunteer. Salah satunya dilakukan di depan menara BCA Jl. Jend. Sudirman, Jakarta Pusat mulai pukul 06.00-10.00 WIB.  Aksi ini juga diwarnai dengan riset sampah di area Thamrin.

“aksi ini merupakan aksi nyata dalam memerangi produksi sampah yang kian melonjak tiap harinya dan menurut saya ini sangat bermanfaat karena kita bisa berkontribusi langsung dalam mensosialisasikan pemanfaatan kertas bekas sekaligus berperan dalam menyetarakan pendidikan untuk saudara kita yang menyandang disabilitas penglihatan," kata salah satu volunteer yang tergabung dalam aksi tersebut.

Salah satu aktivis EH Indonesia Verena Puspawardani dalam postingan resminya menjelaskan,“ Kertas yang baru kepake satu sisi dibuat notes kecil untuk teman-teman di taman bacaan, Kertas yang kepake dua sisi disumbangkan untuk komunitas tuna netra supaya jadi buku dengan cetakan huruf Braille”. (MFA)

Pembuktian Korelasi Antara Sayuran, Buah-buahan dan Risiko Kematian

Published in Informasi & Teknologi
Sabtu, 03 Mei 2014 08:00

Medialingkungan.com - Sebuah studi terbaru di Universitas College London menemukan bahwa, mengkonsumsi tujuh porsi buah dan sayuran per hari mengurangi risiko kematian seseorang secara besar. Para peneliti mengikuti sampel perwakilan nasional dari lebih dari 65.000 orang di Inggris, dan menemukan bahwa mereka yang memakan lebih banyak buah dan sayuran akan jauh lebih kecil kemungkinannya untuk meninggal akibat penyebab apapun.

Secara khusus, hal tersebut kurang mungkin untuk mereka yang meninggal akibat penyakit jantung, stroke, dan kanker. Namun, semakin banyak buah-buahan dan sayuran yang mereka konsumsi, semakin banyak risiko kematian menurun. Oyinlola Oyebode, seorang peneliti di Epidemiologi dan Kesehatan Masyarakat di Universitas College London mengatakan semua orang tahu bahwa memakan buah dan sayuran itu sehat, tetapi untuk ukuran efeknya sangat mengejutkan.

Bagi orang-orang yang makan tujuh atau lebih porsi buah dan sayuran per hari, risiko kematian dari sebab apapun berkurang sebesar 42 persen, dibandingkan dengan orang yang makan kurang dari satu porsi per hari. Selain itu, risiko kematian akibat kanker berkurang hingga 25 persen dan penyakit jantung berkurang hingga 31 persen. Dia dan timnya menggunakan data dari Survei Kesehatan untuk warga Inggris, terlihat dari sample acak warga Inggris selama periode 7.5 tahun. Selama waktu tersebut, 4.400 orang meninggal karena berbagai penyebab, dan para peneliti menemukan beberapa hubungan yang signifikan antara diet dan risiko kematian.

Kecenderungan tersebut diperkuat ketika para peneliti menyesuaikannya dengan faktor pembaur potensial lain seperti usia, rokok, alkohol, status sosial ekonomi, Body Mass Index, pendidikan, dan tingkat aktivitas fisik. Menariknya, ketika efek baik dari keduanya (antara sayuran dan buah-buahan) dipisah, sayuran tampaknya menawarkan perlindungan yang lebih besar dari buah-buahan. Setiap porsi tambahan sayuran dapat dikaitkan dengan penurunan 16 persen angka kematian, dibandingkan dengan 10persen untuk buah-buahan.

“Pesan yang jelas di sini adalah bahwa lebih banyak buah dan sayuran yang Anda makan, semakin kecil kemungkinan Anda untuk meninggal pada usia berapa pun,” kata Oyebode. “Sayuran memiliki efek lebih besar dari buah, tapi buah pun dapat membuat perbedaan yang nyata. Jika anda gemar memakan camilan wortel atau sayuran lain, maka itu adalah pilihan yang bagus tetapi jika anda suka sesuatu yang manis, pisang atau buah apapun juga bisa memberi manfaat,” tambahnya. Korelasi antara buah-buahan, sayuran dan kematian, tidak membuktikan hubungan kausalitas (sebab-akibat). Namun, penelitian ini dilaksanakan dengan baik dan membuktikan rujukan pada kemungkinan yang kuat hubungan tersebut. (MFA)

Eksploitasi Berlebihan, Warga Mantan Negara Terkaya di Dunia Kehilangan SDA

Published in Internasional
Jumat, 04 April 2014 08:00

Medialingkungan.com - Nauru, sebuah Negara terkecil di dunia yang tidak memiliki ibu kota resmi terletak di daerah Pasifik Selatan Mikronesia, 500 km dari pulau Papua. Negara Nauru merupakan Negara penghasil fosfat, lebih 70% tanah Nauru terdiri atas endapan kotoran burung Guano yang menumpuk selama ratusan bahkan kuat dugaan selama lebih seribu tahun.

Fosfat adalah unsur dalam suatu batuan beku (apatit) atau sedimen dengan kandungan fosfor ekonomis yang sangat baik untuk pertumbuhan tanaman. Jumlah fosfat berkualitas tinggi di seluruh Nauru sekitar 41 juta ton. Negara ini selama 30 tahun pernah tercatat sebagai negara terkaya di dunia. Pendapatan perkapitanya pada tahun 1981 mencapai 17.000 dolar, dengan penduduk yang hanya 13 ribu jiwa.

Eksploitasi secara berlebihan mengakibatkan masalah serius. Masalah pertama, Terjadi penurunan signifikan dalam produksi fosfat. Pasalnya, ekspor fosfat yang semula berkisar  200 juta ton setiap tahunnya, kini hanya mendekati puluhan ton dalam tahun-tahun terakhir. Masalah kedua Nauru adalah kerusakan lingkungan. Greenpeace mencatat, akibat pertambangan yang berlebihan mengakibatkan 90 persen  wilayah Nauru mengalami kerusakan parah, 40 persennya diantaranya terletak pada ekosistem lautnya, dan hanya menyisakan 2 km2 dari luas daratan yang bisa dihuni. Akibat kerusakan lingkungan ini, cadangan air menjadi hilang dan lahan yang tersisa tak bisa ditanami. (TAN)

400 Milliar Ton Gas Metana di kutub Utara dan Selatan Terancam Mencair

Published in Internasional
Minggu, 11 Mei 2014 08:00

Medialingkungan.com – Metana adalah hidrokarbon yang mirip dengan karbondioksida. Kedua gas tersebut memiliki peran penting dalam pemanasan global atau gas rumah kaca. Namun metana lebih berbahaya jika dibandingkan dengan karbondioksida karena metana dapat memerangkap panas matahari 21 kali lebih kuat dibanding karbondioksida. Jika menelisik dan mengingat kembali bahwa gas metana juga terseimpan di dalam tumpukan es di Kutub Utara dan Selatan. Sebuah hal yang pasti bahwa pemanasan global menjangkau seluruh wilayah di dunia termasuk wilayah gunung es di kedua kutub tersebut., sehingga gas metana beku yang berada dalam lapisan es tersebut juga ikut terlepaskan ke atmosfer.

Para ilmuwan memperkirakan bahwa Antartika menyimpan kurang lebih 400 miliar ton metana beku. Gas ini dilepaskan sedikit demi sedikit ke atmosfer seiring dengan semakin banyaknya bagian-bagian es di antartika yang mulai runtuh dan mengalami penncairan. Bila Antartika kehilangan seluruh lapisan esnya, maka 400 miliar ton metana tersebut akan terlepas ke atmosfer. Temuan ini belum termasuk metana beku yang tersimpan di dasar laut yang juga terancam mencair jika panasnya suhu sanggup menembus hingga dasar laut.

NASA mencatat, Kalkulasi emisi gas metana yang dihasilkan oleh hewan dan manusia tiap tahunnya adalah sebagai berikut : Seperti yang dimuat VOA Tahun 2013 lalu, beberapa ilmuwan dalam jurnal “Nature” melaporan bahwa milyaran gas metana terperangkap di bawah es Arktik selama ribuan tahun dan dapat bocor saat suhu global memanas. Para ilmuwan itu menegaskan jika metana ini terlepas secara besar-besaran, maka akan menjadi ancaman yang besar terhadap keberlangsungan hidup manusia. Bahkan para ilmuwan itu memperkirakan kerugian ekonomi dunia yang dapat diakibatkan kebocoran itu mencapai $ 60 triliun. (AND)

Terbukti, Warga AS Pelaku Gangguan Iklim di Amerika

Published in Internasional
Jumat, 09 Mei 2014 08:00

Medialingkungan.com - Sebuah laporan baru-baru ini oleh National Climate Assessment atau prakiraan iklim Nasional 2014 di Amerika menyebutkan sebab-sebab memanasnya suhu udara, naiknya permukaan air laut dan meningkatnya kemarau, banjir dan cuaca ekstrim lain yaitu perubahan iklim. Laporan tersebut mengatakan semua ini adalah salah Amerika sendiri. Hasil studi Pemerintah Federal itu menunjukkan puluhan bukti yang mengukuhkan bahwa kegiatan manusia merupakan penyebab utama pemanasan bumi selama 50 tahun terakhir.

Tetapi, dikatakan, masih ada waktu untuk bertindak dan merubah kemungkinan-kemungkinan yang diprediksi akan terjadi. Perubahan iklim di masa depan pada umumnya masih tetap akan ditentukan oleh pilihan masyarakat terutama mengenai emisi. Selain itu, laporan tersebut juga menegeskan usaha pengurangan emisi oleh manusia, utamanya karena pembakaran batu-arang, minyak dan gas, ‘tidak cukup’ untuk menghindari akibat negatif yang semakin besar di bidang sosial, lingkungan dan ekonomi. (AND)

Efek Pemanasan Global, Negara Tuvalu Terancam Hilang

Published in Internasional
Kamis, 08 Mei 2014 08:00

Medialingkungan.com – Akibat pemanasan global, Tuvalu, Negara kepulauan yang dulunya dikenal sebagai Kepulauan Ellice yang terletak di antara Hawaii dan Australia di Samudra Pasifik mulai mengalami pengasinan tanah (intrusi) dan kuat dugaan pulau ini akan tenggelam. Tuvalu merupakan negara ketiga terkecil di dunia setelah Vatican City dan Nauru. Luas Tuvalu hanya 26 km persegi dan jumlah penduduk berdasarkan data World Bank hanya berkisar 11.000 jiwa.

Tuvalu menjadi sorotan dunia ketika berbicara tentang bukti perubahan iklim. Dahulu, cuaca dan iklim di negara ini masih bersahabat dengan curah hujan yang teratur. Kini, dengan naiknya permukaan air laut menyebabkan tumbuhan sekitar pantai menjadi mati, seperti pohon kelapa yang merupakan tumpuan ekonomi negara ini. Disamping itu, permasalahan yang paling mendasar adalah kebutuhan masyarakat setempat terhadap ketersediaan air minum yang kini mengasin. Kebanyakan sumur bawah tanah kini tidak digunakan lagi karena air tanah menjadi asin.

Savilivili , salah satu dari delapan pulau di negara telah tenggelam pada tahun 1997. Hal yang sama mengancam Tuvalu secara keseluruhan. Negara ini akan tenggelam secara keseluruha. Pasalnya,  titik tertinggi wilayah ini hanya setinggi 4.5 meter (15 kaki). Pada wilayah ini, air laut naik sekitar 40 cm setiap tahunnya, jika hal yang demikian tersu terjadi, maka dalam seratus tahun lagi Tuvalu akan hilang dari permukaan bumi. Bahkan jika air laut naik dua kali lipat atau sekitar 80 cm setiap tahunnya, maka Tuvalu diprediksi akan hilang pada tahun 2060. (TAN)

Pengelolaan Hutan di Korea Selatan Patut Ditiru

Published in Internasional
Senin, 07 April 2014 08:00

Medialingkungan.com - Republik of Korea Forestry Cooperation (AFoCO) menilai upaya rehabilitasi dan pengelolaan hutan yang dilakukan Indonesia dan negara-negara ASEAN bisa melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh Republik Korea ini. Pasalnya, negeri ginseng itu berhasil menghijaukan negara yang sebelumnya gersang menjadi lestari. Direktur Eksekutif AFoCO, Hadisusanto Pasaribu, di Jakarta, Rabu, mengatakan berbekal semangat saemaul undong, Korea berhasil mengubah bentang alamnya yang gersang di tahun 1950-an menjadi hijau sembari mendongkrak perekonomiannya.

Terbukti, Korea yang berhasil merehabilitasi negaranya dalam kunrun waktu 30 tahun. semangat saemaul undong yang dimiliki membuat masyarakat di pedesaan untuk rajin, mandiri, dan bekerjasama untuk mencapai kesejahteraan, termasuk melakukan rehabilitasi lahan kritis. Saemaul undong diperkenalkan oleh Presiden Korea Park Chung Hee tahun 1972. Kala itu Korea termasuk negara yang lebih miskin dari Indonesia. Namun kini Korea telah menjadi salah satu negara paling maju di dunia.

"Yang terpenting adalah kepemimpinan untuk mengajak komunitas maju. Termasuk dalam pemanfaatan lahan yang tadinya kritis dan terlantar bisa dimanfatkan untuk kesejahteraan," kata Hadi. Menurut Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR), pertumbuhan ekonomi di negara ASEAN saat ini termasuk yang paling bagus, namun sayangnya sebagian besar dilakukan dengan mengorbankan sumber daya alam, termasuk hutan. Terhitung, tiga kali luas Kota Jakarta yang setiap bulannya hilang di kawasan Asia Tenggara. (MFA)

 

UNESCO Kecam Keputusan Pemerintah Australia Atas izin Pembuangan Limbah

Published in Internasional
Rabu, 02 April 2014 08:00

Medialingkungan.com - UNESCO telah memutuskan untuk mengecam Pemerintah Australia atas perizinan Canberra membuang sampah hasil kerukan kelaut Great Barrier Reef Australia kemarin, Kamis (01/05/2014). UNESCO telah mengirimkan laporan untuk merekomendasikan Taman Laut di pesisir Australia tersebut untuk masuk ke dalam situs warisan dunia yang statusnya terancam di tahun 2015. Laporan itu menyebutkan UNESCO mengkhawatirkan keputusan pemerintah memberikan izin pembuangan tiga juta kubik limbah tanah hasil kerukan ke perairan sekitar 25 Km di Great Barrier Reef.

Limbah kerukan datang dari wilayah Abbort Point dan merupakan bagian dari rencana perluasan pelabuhan di wilayah tersebut. "Kekhawatiran UNESCO juga dirasakan oleh ribuan warga Australia dan ratusan peneliti terkemuka, dan kami menyerukan kepada pemerintah Australia untuk melarang pembuangan tanah kerukan di Situs Warisan Dunia sebelum berlangsungnya pertemuan Komisi Warisan Dunia," tegas jurubicara WWF Australia, Richard Leck. Menteri Lingkungan Hidup dari Negara bagian Queensland menjelaskan bahwa strategi yang dirancang ini juga mengikutsertakan langkah-langkah untuk melindungi terumbu karang. Great Barrier Reef atau karang penghalang besar mempunyai koleksi terumbu karang terbesar di dunia dan menjadi rumah bagi 1.500 spesies ikan. (TNT)

 

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini