medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Peranan Agama Dalam Perubahan Iklim

Published in Nasional
Minggu, 16 Agustus 2015 13:45

Medialingkungan.com – Terjadinya perubahan iklim membuat sejumlah pemerintah hingga ilmuan melakukan penanganan yang intensif agar mengurangi dampak perubahan iklim yang terjadi di muka bumi. Untuk itu, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsudin mengungkapkan dengan melalui jalur pendekatan agama penting dalam menanggulangi berbagai persoalan yang terjadi.

“Kenapa melalui jalur agama? Karena hampir seluruh manusia di dunia adalah pemeluk suatu agama oleh karenanya pendekatan agama menjadi penting dalam menyelesaikan persoalan perubahan iklim dan lingkungan,” kata Din Syamsuddin.

Ketu MUI ini mengatakan, kesadaran akan pentingnya pendekatan agama juga sudah disadari oleh dunia internasional dalam beberapa tahun terakhir karena melihat agama memiliki peran besar terutama karena masalah lingkungan ini terkait dengan budaya.

“Pun demikian juga dengan agama,” ujarnya, seperti yang dikabarkan republika, Minggu (16/08).

Tetapi, 'senses of crisis' dari masyarakat nusantara tidak terlalu tinggi sehingga penanganan masalah lingkungan hidup dan perubahan iklim yang membutuhkan kerja sama semua pihak kurang berjalan baik, tuturnya.

“Belum begitu mengena sense of crisis, karena kita kini dininabobokan oleh cuaca yang masih aman-aman saja hingga saat ini. Tapi, kita tidak tahu kedepannya bagaimana,” ucapnya.

Posisi Indonesia memang terasa stabil jika dibandingkan dengan negara lain seperti Jepang, India, Pakistan atau dan lain sebagainya, namun beberapa waktu belakangan suhu di Indonesia mengalami peningkatan yang cukup drastis, katanya. (Angga Pratama)

Indonesia Menjadi Pioner Gerakan Atasi Perubahan Iklim Dunia

Published in Nasional
Sabtu, 15 Agustus 2015 20:03

Medialingkungan.com – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya berkomitmen menyerahkan draft terkait perubahan iklim dan cara mengatasinya. Draft tersebut akan diberikan ke Intended Nationally Determined Contributions (INDC) Indonesia ke Sekretariat United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) pada September mendatang.

Dia mengungkapkan, kami akan menyiapkannya dengan baik, sebab Indonesia menjadi pioner dalam gerakan global ini. Target penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) pada tahun 2019 mendatang sebesar 29 persen serta peningkatan ketahanan iklim daerah.

“Dua hal ini yang menjadi dasar dalam pembuatan INDC. Saya berharap draft awal INDC bisa selesai pada 25 Agustus,” kata Siti Nurbaya, seperti yang diberitakan tempo.

INDC adalah kontribusi besar bagi masing-masing negara dalam upaya mitigasi perubahan iklim yang akan dikompilasi dan kemudian ditargetkan menjadi kesepakatan global pada event iklim internasional mendatang.

Dilain hal, Ketua Yayasan Perspektif Baru, Wimar Witoelar menyatakan, kesempatan yang cukup bagus, dikarenakan dunia akan terselamatkan dari ancaman perubahan iklim. Dia menambahkan, Indonesia berpeluang menjadi penyumbang terbesar dalam upaya penyelamatan bumi.

“Semoga ini mejadi peranan Indonesia yang bersinar dalam penyelamatan bumi,” ucapnya.

INDC yang disampaikan kepada Sekretariat UNFCCC harus menggambarkan seberapa jauh Indonesia sebagai satu kesatuan nasional menetapkan targetnya, terutama target penurunan emisi GRK. Jika memungkinkan target upaya penanganan dampak perubahan iklim dalam bentuk adaptasi pasca 2020.

Optimalisasi proses dan hasilnya dalam bentuk target nasional 2030 diharapkan akan membuat INDC Indonesia menjadi lebih solid dan ambisius serta progresif, tetapi tetap memberikan ruang gerak dalam perencanaan pembangunan nasional pasca 2020 mendatang. (Angga Pratama)

Dampak El Nino, Petani di Provinsi Banten Gulung Tikar

Published in Nasional
Kamis, 13 Agustus 2015 10:10

Medialingkungan.com – Musim Kemarau yang melanda sejumlah wilayah Indonesia mengakibatkan kekeringan dan kurangnya pasokan air bersih buat petani. Salah satu wilayah yang terkena dampak tersebut yaitu Provinsi Banten, sejumlah petani harus kehilangan mata pencaharian mereka dikarenakan kurangnya pasokan air dan kondisi lahan yang sulit digarap.

Menurut Sekretaris Komisi 5 DPRD Banten, Ade Rossi Khaerunisa mengungkapkan, kekeringan menjadi pemicu social dan melemahnya perekonomian yang terjadi di Banten. Selain itu, para petani yang seharusnya bisa menikmati hasil tanamannya, terancam gulung tikar.

“Diprediksi kekeringan makin meluas dan akan berakhir pada akhir tahun ini. Luas wilayah di Banten yang terkena dampak kekeringan yaitu 11.335 hektare,” kata Ade Rossi, seperti yang diberitakan Liputan6.

Dia menjelaskan penanganan bencana kekeringan di Banten harus melibatkan banyak sektor, karena puncak kekeringan akan terjadi pada bulan September-oktober mendatang. “Penanganan ini mesti lintas sektoral guna menangani bencana tersebut,” ucapnya.

“Saat ini kami sudah berkoordinasi dengan Distanak, Disnaker, dan Dinsos dalam penanganan pengangguran, pengemis, dan gelandangan yang disebabkan oleh El Nino,” tambahnya. (Arif Hidayat)

Jokowi: Jatim dan Sulsel Kemungkinan Kecil Terkena Dampak El Nino

Published in Nasional
Kamis, 06 Agustus 2015 22:19

Medialingkungan.com – Dalam rapat terbatas di kantor Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Presiden Joko Widodo desak menteri segera antisipasi dampak El Nino terhadap ketahanan pangan. Jokowi sapaan akrabnya, meminta laporan dari Menteri Pertanian, Amran Sulaiman terhadap beberapa daerah yang memiliki dampak kekeringan.

“Kami telah membahas dampak dari El Nino baik terhadap kekeringan, produksi beras dan kebakaran,” kata Jokowi, sepereti yang diberitakan tempo, Kamis (06/08).

“Saya pernah sampaikan pekan lalu, dampak ini harus diantisipasi, baik di bidang pertanian, perikanan, dan kehutanan,” lanjutnya.

Menteri yang hadir dalam rapat itu yakni, Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya Bakar, Menteri Agraria, Ferry Mursidan Baldan, Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Susi Pudjiastuti, Kepala BMKG, Andi Eka Sakya, Kepala Bulog, Djarot Kusumayakti, Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo.

“Selepas kunjungan saya kemarin ke Jawa Timur, bahwa dampak El Nino kecil sekali karena akan panen pada bulan September begitupun di daerah Sulawesi Selatan,” ujar Jokowi.

Dari kedua daerah yang diketahuinya, dengan itu Jokowi meminta Menteri Pertanian, Amran Sulaiman untuk menjelaskan daerah lain yang terkena dampak kekeringan.

Sementara itu, Menteri Pertanian, Amran Sulaiman mengungkapkan, ada tiga wilayah yang akan mengalami penurunan produksi secara drastis antara lain, Demak , Indramayu, dan Bojonegoro. “Kami telah mengambil langkah untuk mengatasi masalah tersebut,” ucapnya.

El Nino adalah suatu gejala penyimpangan kondisi laut yang ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan laut (Sea Surface Temperature-SST) di Samudra Pasifik sekitar ekuator (equatorial pacific). Khususnya di bagian tengah dan timur di sekitar pantai Peru.

Musim kemarau yang panjang di beberapa wilayah Indonesia, terutama di sebelah selatan khatulistiwa pada 2015, diduga merupakan dampak dari fenomena El Nino yang telah mencapai level moderat. Keadaan ini diprediksi akan menguat mulai Agustus sampai Desember 2015.

El Nino ini sudah terjadi di beberapa wilayah Indonesia, yaitu Jawa, Sulawesi Selatan, Lampung, Bali, NTB, dan NTT. Dari Peta Monitoring Hari Tanpa Hujan BMKG, wilayah-wilayah tersebut sudah mengalami kekeringan di bulan Mei kemarin. (Angga Pratama)

PBB Berencana Ambisius Akhiri Kemiskinan dan Atasi Perubahan Iklim

Published in Internasional
Senin, 03 Agustus 2015 21:38

Medialingkungan.com – Pada hari Minggu (02/08) anggota PBB mendiskusikan rencana ambisius yang bertujuan mengakhiri kemiskinan global pada 2030 dan mengatasi perubahan iklim yang terjadi di bumi. Sekjen PBB, Ban Ki-moon mengungkapkan rencana ini sekaligus meliputi agenda universal yang transformatif dan terintegrasi serta akan menjadi titik balik yang bersejarah bagi dunia.

Pasca satu pekan melakukan diskusi alot di markas besar PBB di New York, Amerika Serikat para ahli dan diplomat dari 193 negara anggota mengadopsi sebuah rancangan sepanjang 30 lembar yang berjudul "Transformasi Dunia Kami: Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030."

Duta Besar Kenya menyatakan bahwa upaya ini merupakan "momen bersejarah". Kenya, bersama dengan Irlandia, adalah ketua diskusi dalam agenda tersebut.

Lebih lanjut, para pemimpin dunia akan menghadiri KTT Pembangunan Berkelanjutan di markas PBB pada 25- 27 September untuk mengadopsi dokumen agenda berkelanjutan, yang berupaya untuk meningkatkan kehidupan dari satu miliar orang yang hidup kurang dari US$1,25 atau setara dengan Rp15 ribu setiap harinya, terutama di Asia dan sub-Sahara Afrika, seperti yang dilansir oleh cnn Indonesia, Senin (03/08).

Berdasarkan data yang dihimpun Medialingkungan.com, dalam perundingan tersebut dikeluarkan 17 rencana Sustainable Development dan itu direncanakan akan selesai pada tahun 2030 mendatang. (Angga Pratama)

Al Gore: Jangan Tunggu Pemerintah Federal Dalam Usaha Perubahan Iklim

Published in Internasional
Selasa, 28 Juli 2015 13:31

Medialingkungan.com – Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat, Al Gore sekaligus pegiat anti perubahan iklim mengungkapkan negara di bagian Australia tidak mesti menunggu kepemimpinan pemerintah federal dalam urusan perubahan iklim.

Al Gore kunjungi para petinggi Partai Buruh Australia dan usahawan untuk memberikan contoh pada negara bagian California Amerika Serikat yang saat ini memulai terobosan prakarsa dalam perubahan iklim. Dalam kunjungan tersebut, Al Gore juga memberikan gambaran kepada usahawan dalam bidang industri ramah lingkungan dan meningkatkan partumbuhan ekonomi bagi masyarakat.

“Pemerintah Amerika Serikat tidak akan mengambil tindakan, karena ini masih terlalu dini. Tapi, bagi saya ini mesti mengisi kekosongan untuk bergerak ke aeah yang lebih nyata dengan imajinasi tinggi, ujar Al Gore, seperti yang dikutip dari republika, Selasa (28/07).

“Saya rasa mayoritas orang Australia sangat dibutuhkan sekarang,” lanjutnya.

Kebijakan perubahan iklim Perdana Menteri, Tony Abbott telah membuat banyak pemimpin di komunitas internasional "garuk-garuk kepala”, dan sementara pada saat yang bersamaan Amerika Serikat dan Cina telah mencapai kesepakatan bersejarah tepat sebelum konferensi perubahan iklim di Paris. (Angga Pratama)

Tiongkok Target Baru Perubahan Iklim

Published in Internasional
Rabu, 01 Juli 2015 15:43

Medialingkungan.com – Pemerintah Tiongkok kini sudah menyusun dokumen negara untuk menanggapi masalah perubahan iklim dan dokumen diserahkan ke sekretariat Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) untuk di konvensi kerangka perubahan iklim, hasil pengumuman yang disampaikan oleh Perdana Menteri Tiongkok, Li Keqiang dalam pertemuannya dengan presiden Prancis, Francois Hollande, di Paris, Selasa (30/06).

Lanjut pengumuman yang disampaikan Li Keqiang, dokumen tersebut memaparkan pendapat pihak Tiongkok mengenai proses dan hasil perundingan terkait Konferensi Perubahan Iklim PBB di Paris pada akhir tahun ini, dalam rangka memperlihatkan upaya terbesar Tiongkok dalam menanggapi perubahan iklim, dan ambil bagian dalam pembenahan global secara mendalam dan tanggung jawab pihak Tiongkok untuk mendorong perkembangan bersama manusia, seperti yang dilansir cri.cn, Rabu (01/07).

Sementara itu, Direktur Pusat Strategis Perubahan Iklim Nasional Tiongkok, Li Junfeng mengungkapkan, dokumen negara terkait perubahan iklim disusun berdasarkan prinsip ‘tanggung jawab bersama tapi berbeda’ dan sesuai kemampuan pribadi serta mempertimbangkan tahap perkembangan dan kemampuan realitas keadaan negara.

Dia menambahkan, peluncuran dokumen tersebut akan mendorong proses dunia dalam menanggapi perubahan iklim kedepannya.

Menurutnya, peluncuran dokumen tersebut target aksi pada tahun 2030, tidak saja merupakan aksi yang ditetapkan oleh Tiongkok sebagai negara penandatangan konvensi, tetapi juga memperlihatkan tekad dan sikap Tiongkok untuk menempuh jalan perkembangan hijau, berkarbon rendah dan bersirkulasi.

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun Medialingkungan.com, tercatat emisi per kapita dari berbagai negara pada jam puncak, pada level per kapita Negara Jerman 41,1 ton, Amerika Serikat 19,5 ton, dan Inggris 11,3 ton, sedangkan Tiongkok tidak melebihi 10 ton per kapita. (Angga Pratama)

Mark “Hulk” Ruffalo Luncurkan 100% Energi Bersih

Published in Internasional
Selasa, 30 Juni 2015 12:34

Medialingkungan.com – Aktor Amerika yang berlaga dalam film Hulk dan beberapa film sekuel The Avengers, Mark Ruffalo, sangat antusias mengampanyekan energi bersih.

Dilansir dari VOA Indonesia, Ruffalo meluncurkan kampanye bernama "100%" hari Kamis (18/06) di New York. "100%" memusatkan perhatian pada membuat energi bersih baru lebih mudah diakses dan lebih terjangkau.

Dalam upayanya ini, aktor berusia 47 tahun itu berkolaborasi dengan pemimpin-pemimpin New York untuk menjadikan lingkungan lebih baik. Acara peluncuran ini diadakan setelah Paus Fransiskus merilis dokumen pengajaran tentang lingkungan, dimana Paus juga menyatakan bahwa perubahan iklim harus segera diatasi.

Peluncuran “100%” itu juga dihadiri Leonardo DiCaprio, aktor yang juga aktif dalam mengampanyekan isu-isu lingkungan -utamanya perubahan iklim. Ia menyebut bahwa aksi tersebut sangat "revolusioner."

Kegiatan yang diselenggarakan di sebuah taman di kota New York itu menyediakan pizza yang dibuat dan dibawa menggunakan truk bertenaga surya. Para penari dan musisi juga hadir menghibur pengunjung dan tamu undangan.

Dihadapan para pengunjung, Ruffalo mengatakan bahwa New York berjuang keras menjadi negara bagian yang paling ramah lingkungan di AS (gelar yang kini dipegang oleh California). (Fahum Ahmad)

JK Mengajak Seluruh Pihak Dalam Lindungi Hutan

Published in Nasional
Jumat, 19 Juni 2015 15:12

Medialingkungan.com – Kondisi hutan saat ini khususnya di Indonesia makin hari makin terdegradasi, apa lagi hutan sebagai penyeimbang maka dari itu semestinya kita menjaga dengan baik hutan guna mencegah atau memperlambat perubahan iklim, hal itu disampaikan oleh Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK) dalam pembukaan Pekan Lingkungan dan Kehutanan Indonesia (PLKI) ke-19 yang diselenggarakan di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan.

JK mengungkapkan, Indonesia sangat berperan penting dalam menjaga perubahan iklim, untuk itu diperlukan partisipasi aktif dari semua pihak dalam melaksanakan aturan kehutanan yang berlaku sehingga hutan dapat dikelola dengan baik.

"Hutan itu berfungsi untuk keseimbangan, kita butuh air, dan akar menyimpan air untuk dialirkan ke bagian lain. Kita masih beruntung, karena masih ada sisa kehijauan. Namun, jika tidak dikelola dengan baik, ya Climate Change," ujar JK, seperti yang dilansir halloriau, Jumat (19/06).

Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya mengatakan kegiatan pameran ini merupakan ajang sosialisasi dan menunjukkan kinerja dan pencapaian yang diperoleh dari berbagai program dan kegiatan yang telah dilaksanakan oleh pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat di bidang pembangunan lingkungan hidup serta kehutanan.

"Sehingga diharapkan adanya kesadaran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan dan kehutanan, khususnya tentang pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan," ucapnya.

Pameran Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia ini merupakan agenda rutin terbesar yang diselenggarakan setiap tahun dan kali ini merupakan PLKI ke-19 yang diselenggarakan mulai Kamis (18/06) hingga Minggu (21/06) di Jakarta. Event yang berlangsung selama 4 hari ini mengusung konsep "Zero Waste Event" yang diikuti sebanyak 262 peserta, terdiri dari pemerintah atau instansi pusat, daerah, serta LSM.

Kegiatan tersebut bertemakan ‘Mimpi dan Aksi Bersama untuk Keberlanjutan Kehidupan di Bumi’. Tema ini mengikuti tema hari lingkungan hidup sedunia, World Environment Day 2014 yang dikeluarkan oleh badan lingkungan hidup Perserikatan bangsa-bangsa, United Nations Environment Programme (UNEP) yaitu "Seven Billion Dreams, One Planet dan Consume with Care".

Selaras dengan tema yang dibuat, sejumlah perusahaan yang berada di Riau seperti Badan Lingkungan Hidup (BLH) Propinsi Riau dan PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) menampilkan konsep pengelolaan hutan secara berkelanjutan dan pencegahan lingkungan dari ancaman kerusakan seperti kebakaran hutan dan lahan. (Angga Pratama)

Surat Edaran Paus Fransiskus Terkait Isu Perubahan Iklim

Published in Internasional
Selasa, 16 Juni 2015 20:05

Medialingkungan.com Kepala Gereja Katolik Roma, Paus Fransiskus akan memanggil semua orang untuk menjadi "pelayan penciptaan" pada hari Kamis (18/06) dalam ensiklik kepausan yang akan membahas masalah-masalah dalam hubungan antara manusia dengan lingkungan hidup, termasuk mengenai masalah perubahan iklim.

Ensiklik adalah surat edaran atau pesan tertulis dari paus kepada semua uskup, yang memuat pandangan paus mengenai ajaran gereja yang berkaitan dengan masalah penting di bidang keagamaan atau sosial.

Seperti yang dikutip dari Reuters.com, suatu keharusan moral membuat perlindungan lingkungan hidup, intervensi itu bisa memacu 1,2 miliar umat Katolik untuk melobi para pembuat kebijakan tentang isu-isu ekologi.

Paus Fransiskus menginginkan dokumen, yang disebut "Laudato Si (Jadilah Terpuji), Di Perawatan Rumah Besar Kita," untuk menjadi bagian dari perdebatan besar mengenai perubahan iklim pada pertemuan puncak PBB akhir tahun ini.

“Tanggung jawab lebih besar untuk rumah (Bumi) yang Tuhan telah percayakan kepada kita,” ucap Paus Fransiskus.

Senada dengan Paus Fransiskus, Aktivis lingkungan katolik, Yeb Sano berasala dari Filipina mengungkapkan ensiklik dari Paus akan menjadi landasan moral untuk merawat lingkungan dan bertindak menangani masalah perubahan iklim.

Kami menantikan dukungan resmi paus dalam isu perubahan iklim menjelang Konferensi Perubahan Iklim yang akan diadakan di Paris akhir tahun ini, katanya. Dia menambahkan, meskipun tak satu pun aktivis perubahan iklim akan dapat mengklaim kemenangan total terhadap keadaan ini. (Mirawati)

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini