medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

JK Mengajak Seluruh Pihak Dalam Lindungi Hutan

Published in Nasional
Jumat, 19 Juni 2015 15:12

Medialingkungan.com – Kondisi hutan saat ini khususnya di Indonesia makin hari makin terdegradasi, apa lagi hutan sebagai penyeimbang maka dari itu semestinya kita menjaga dengan baik hutan guna mencegah atau memperlambat perubahan iklim, hal itu disampaikan oleh Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK) dalam pembukaan Pekan Lingkungan dan Kehutanan Indonesia (PLKI) ke-19 yang diselenggarakan di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan.

JK mengungkapkan, Indonesia sangat berperan penting dalam menjaga perubahan iklim, untuk itu diperlukan partisipasi aktif dari semua pihak dalam melaksanakan aturan kehutanan yang berlaku sehingga hutan dapat dikelola dengan baik.

"Hutan itu berfungsi untuk keseimbangan, kita butuh air, dan akar menyimpan air untuk dialirkan ke bagian lain. Kita masih beruntung, karena masih ada sisa kehijauan. Namun, jika tidak dikelola dengan baik, ya Climate Change," ujar JK, seperti yang dilansir halloriau, Jumat (19/06).

Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya mengatakan kegiatan pameran ini merupakan ajang sosialisasi dan menunjukkan kinerja dan pencapaian yang diperoleh dari berbagai program dan kegiatan yang telah dilaksanakan oleh pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat di bidang pembangunan lingkungan hidup serta kehutanan.

"Sehingga diharapkan adanya kesadaran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan dan kehutanan, khususnya tentang pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan," ucapnya.

Pameran Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia ini merupakan agenda rutin terbesar yang diselenggarakan setiap tahun dan kali ini merupakan PLKI ke-19 yang diselenggarakan mulai Kamis (18/06) hingga Minggu (21/06) di Jakarta. Event yang berlangsung selama 4 hari ini mengusung konsep "Zero Waste Event" yang diikuti sebanyak 262 peserta, terdiri dari pemerintah atau instansi pusat, daerah, serta LSM.

Kegiatan tersebut bertemakan ‘Mimpi dan Aksi Bersama untuk Keberlanjutan Kehidupan di Bumi’. Tema ini mengikuti tema hari lingkungan hidup sedunia, World Environment Day 2014 yang dikeluarkan oleh badan lingkungan hidup Perserikatan bangsa-bangsa, United Nations Environment Programme (UNEP) yaitu "Seven Billion Dreams, One Planet dan Consume with Care".

Selaras dengan tema yang dibuat, sejumlah perusahaan yang berada di Riau seperti Badan Lingkungan Hidup (BLH) Propinsi Riau dan PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) menampilkan konsep pengelolaan hutan secara berkelanjutan dan pencegahan lingkungan dari ancaman kerusakan seperti kebakaran hutan dan lahan. (Angga Pratama)

Surat Edaran Paus Fransiskus Terkait Isu Perubahan Iklim

Published in Internasional
Selasa, 16 Juni 2015 20:05

Medialingkungan.com Kepala Gereja Katolik Roma, Paus Fransiskus akan memanggil semua orang untuk menjadi "pelayan penciptaan" pada hari Kamis (18/06) dalam ensiklik kepausan yang akan membahas masalah-masalah dalam hubungan antara manusia dengan lingkungan hidup, termasuk mengenai masalah perubahan iklim.

Ensiklik adalah surat edaran atau pesan tertulis dari paus kepada semua uskup, yang memuat pandangan paus mengenai ajaran gereja yang berkaitan dengan masalah penting di bidang keagamaan atau sosial.

Seperti yang dikutip dari Reuters.com, suatu keharusan moral membuat perlindungan lingkungan hidup, intervensi itu bisa memacu 1,2 miliar umat Katolik untuk melobi para pembuat kebijakan tentang isu-isu ekologi.

Paus Fransiskus menginginkan dokumen, yang disebut "Laudato Si (Jadilah Terpuji), Di Perawatan Rumah Besar Kita," untuk menjadi bagian dari perdebatan besar mengenai perubahan iklim pada pertemuan puncak PBB akhir tahun ini.

“Tanggung jawab lebih besar untuk rumah (Bumi) yang Tuhan telah percayakan kepada kita,” ucap Paus Fransiskus.

Senada dengan Paus Fransiskus, Aktivis lingkungan katolik, Yeb Sano berasala dari Filipina mengungkapkan ensiklik dari Paus akan menjadi landasan moral untuk merawat lingkungan dan bertindak menangani masalah perubahan iklim.

Kami menantikan dukungan resmi paus dalam isu perubahan iklim menjelang Konferensi Perubahan Iklim yang akan diadakan di Paris akhir tahun ini, katanya. Dia menambahkan, meskipun tak satu pun aktivis perubahan iklim akan dapat mengklaim kemenangan total terhadap keadaan ini. (Mirawati)

NASA Rilis Data Proyeksi Iklim Hingga Tahun 2100

Published in Internasional
Rabu, 10 Juni 2015 20:53

Medialingkungan.com – Lembaga penelitian luar angkasa milik Amerika Serikat, National Aeronautics and Space Administration (NASA) merilis data yang menunjukkan bagaimana pola suhu dan curah hujan di seluruh dunia berubah hingga tahun 2100 akibat efek peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer bumi.

Dataset yang tersedia untuk masyarakat umum itu menunjukkan proyeksi perubahan di seluruh dunia pada tingkat regional dalam skenario yang berbeda berdasarkan peningkatan karbon dioksida dengan 21 model pendekatan simulasi iklim.

Data dengan resolusi tinggi tersebut dapat dipantau setiap hari dengan skala kota masing-masing. NASA menengarai bahwa dataset ini akan membantu para ilmuwan dan perencana untuk melakukan penilaian terhadap risiko iklim dalam memahami efek lokal dan bahaya global yang ditimbulkan, seperti kekeringan, banjir, gelombang panas dan kekurangan produktivitas pada bidang pertanian.

"NASA berusaha mengeksplorasi hal yang telah kita pelajari tentang planet kita dari luar angkasa dan menciptakan produk-produk baru yang membantu kita semua menjaga masa depan kita," ujar Ellen Stofan, kepala ilmuwan NASA dalam rilis resmi pada Selasa (09/06).

"Dengan dataset global baru, orang di seluruh dunia memiliki alat yang berharga untuk digunakan dalam perencanaan mengatasi pemanasan di planet ini,’ sambung Ellen.

Dataset global ini merupakan produk terbaru dari NASA Earth Exchange (NEX), sebuah pusat data dengan platform penelitian NASA Advanced Supercomputing Center di Ames Research Center, Moffett Field, California.

Sebelumnya, pada 2013 NEX telah merilis data proyeksi iklim yang sama – khusus untuk daratan Amerika Serikat, yang digunakan untuk mengukur risiko iklim pada bidang pertanian, hutan, sungai, dan kota.

"Ini adalah big-data untuk penelitian iklim dan penilaian dengan berbagai aplikasi," kata Ramakrishna Nemani, ilmuwan NEX di Ames. "NASA terus menghasilkan produk berbasis masyarakat yang berharga di NEX untuk mendorong kemajuan sains secara kolaboratif, berbagi pengetahuan, serta penelitian dan pengembangan."

Dataset NASA itu mengintegrasikan pengukuran aktual dari seluruh dunia dengan data simulasi iklim yang diciptakan Fifth Coupled Model Intercomparison Project.

Menurutnya, simulasi iklim ini menggunakan model fisik terbaik dari sistem iklim yang tersedia untuk memberikan perkiraan tentang perbandingan iklim global layaknya dua hal yang berbeda dari efek emisi gas rumah kaca, yakni “seperti biasanya" atau skenario berdasarkan tren saat ini, dan "kasus ekstrim", yakni peningkatan emisi yang signifikan.

Proyeksi iklim NASA itu memberikan tampilan rinci dari suhu dan pola curah hujan di seluruh dunia pada resolusi 25 kilometer, yang mencakup periode waktu dari tahun 1950 sampai 2100.

Dataset dengan kapasitas 11-terabyte juga memberikan perkiraan harian maksimum dan suhu minimum serta curah hujan di seluruh dunia.

NASA mengembangkan cara-cara baru untuk mengamati dan mempelajari sistem alam di bumi yang saling berhubungan dengan catatan data jangka panjang.

Badan ini bebas berbagi pengetahuan dan bekerja dengan lembaga di seluruh dunia untuk mendapatkan wawasan baru tentang bagaimana bumi ini berubah. (Fahrum Ahmad)

PPN/Bappenas Selenggarakan FGD Tentang Mitigasi Perubahan Iklim

Published in Nasional
Selasa, 02 Juni 2015 12:41

Medialingkungan.com – Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) menggelar Focus Group Discussion (FGD) mengenai dampak perubahan iklim di Sekretariat Kementerian PPN/Bappenas, pada Rabu (27/05).

Turut hadir dalam acara tersebut, Staf Ahli Kementerian PPN/Bappenas Bidang Sumber Daya Alam Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim Umiyatun Hayati Triastuti serta Direktur Transportasi Kedeputian Kementerian PPN/Bappenas Bidang Sarana dan Prasarana Bambang Prihartono.

“FGD ini berfungsi sebagai media kajian evaluasi terhadap kesiapan sektor transportasi dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim di wilayah Pantai Utara Jawa,” ungkap Staf Ahli Umiyatun dalam keterangan resminya.

Dalam FGD tersebut dibahas upaya mitigasi perubahan iklim di sektor transportasi dalam rangka pengurangan gas rumah kaca atau greenhouse effect, serta melakukan analisis mengenai gangguan dan bencana akibat perubahan iklim yang berdampak pada terganggunya kinerja transportasi.

Terdapat lima pokok utama dalam FGD tersebut. Pertama, teridentifikasinya dampak perubahan iklim terhadap kinerja sektor transportasi di Pantura Jawa. Kedua, terwujudnya kebijakan, strategi dan program pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim transportasi di Pantura Jawa, serta keterpaduan antar program pembangunan di wilayah tersebut.       

Ketiga, terukurnya kesiapan program pemerintah pusat dan daerah atas perubahan iklim tersebut. Keempat, teridentifikasi kesiapan respon pelaku/stakeholder transportasi soal perubahan iklim. Kelima, tersusunnya rekomendasi kebijakan dan strategi adaptasi perubahan iklim sektor transportasi di Pantura Jawa dalam rangka peningkatan kesiapan sektor transportasi dalam mengadaptasi dampak perubahan iklim. 

“Bappenas sudah memperhatikan pentingnya adaptasi perubahan iklim dengan menyusun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim,” jelas Umiyatun. (Fahrum Ahmad)

Exxon Tolak Direktur Ahli Perubahan Iklim

Published in Internasional
Selasa, 02 Juni 2015 09:34

Medialingkungan.com — Salah satu perusahaan minyak terbesar yang bermarkas di Amerika Serikat, Exxon Mobil Corp, menolak usulan sebagian pemegang saham untuk mengangkat direktur yang memiliki keahlian di bidang perubahan iklim pada pertemuan tahunan di Dallas, AS, Rabu (27/05). CEO Exxon, Rex Tillerson menunjukkan penurunan keuntungan perusahaan akibat jatuhnya harga minyak mentah.

Tillerson menegaskan, harga minyak akan tetap rendah hingga dua tahun mendatang akibat suplai melimpah dan melambatnya pertumbuhan ekonomi.

Seperti dikabarkan Guardian, sebelumnya, proposal untuk pengangkatan direktur yang menguasai isu perubahan iklim dari komunitas Katolik di Milwaukee pimpinan Pastor Mike Crosby telah masuk. "Jika mereka melakukan sesuatu 20 tahun lalu, saat ini kita bisa memiliki dunia berbeda," ujar Pastor Crosby.

Namun, dewan direksi Exxon menolak usulan tersebut dengan dalih, para anggota dewan direksi memiliki keahlian di bidang sains dan teknologi, dan menganggap mampu menangani isu perubahan iklim.

Pemilihan direktur dengan latar belakang di bidang perubahan iklim hanya memperoleh dukungan 21 persen suara saja. Usulan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dari produk mereka juga hanya mendapat dukungan 9,6 persen.

Sementara itu, di lain pihak, Chevron juga akan melakukan pemungutan suara pada Rabu (03/06) dengan desakan memilih direktur dengan latar belakang perubahan iklim. Dikabarkan, tahun lalu, 77 persen suara dalam rapat tahunan menolak usulan serupa. Namun, dDewan direksi kedua perusahaan minyak itu menolak ide tersebut. Mereka beralasan, butuh waktu puluhan tahun untuk mengembangkan teknologi menangkap emisi gas karbon secara ekonomis.

Hal ini membuat Komisi Keuangan Parlemen Norwegia dari dua kubu politik mendesak agar Sovereign Wealth Fund, kendaraan finansial yang dimiliki oleh Negara yang memiliki atau mengatur dana publik dan menginvestasikannya ke aset–aset yang luas dan beragam itu – bersedia menjual sahamnya bagi perusahaan dengan lebih dari 30 persen pendapatan atau pengeluarannya berkaitan dengan batu bara.

"Investasi pada perusahaan batubara berisiko pada iklim dan ekonomi masa depan," Sebutnya dalam pernyataan bersama dari dua kubu politik itu. "Batubara adalah sumber energi paling bertanggung jawab untuk emisi gas rumah kaca. Ini merupakan kemenangan besar dalam perlawanan terhadap perubahan iklim," kata Torstein Tvedt Solberg dari Partai Buruh, partai oposisi. Parlemen Norwegia akan melakukan pemungutan suara di parlemen pada Jumat (05/06). (Fahrum Ahmad)

Lewat Flash Mob, Greenpeace Bersama Masyarakat Kampanye Perubahan Iklim

Published in Nasional
Minggu, 31 Mei 2015 00:08

Medialingkungan.com – Sejumlah aktivis Greenpeace Indonesia bersama masyarakat menggelar flash mob di beberapa kota di Indonesia termasuk Jakarta, Bandung, Semarang, Jogjakarta, Padang, Pekanbaru, dan Purwokerto, Sabtu (30/5).

Aksi kreatif tersebut bertujuan untuk menyoroti permasalahan perubahan iklim akibat penggunaan bahan bakar fosil berlebih serta pengrusakan hutan (deforestasi).

Kampanye yang dilakukan Greenpeace dan masyarakat ini merupakan bagian dari Global Day of Action, yang dilakukan di lebih dari 30 negara di seluruh dunia untuk menyerukan perlunya aksi untuk mengatasi perubahan iklim.

“Apabila Pemerintah gagal mengurangi emisi karbon dari dua sumber emisi terbesar di atas, maka bisa dipastikan Indonesia tidak dapat memenuhi komitmen penurunan emisi yang telah disampaikan pemerintah kepada dunia,” ucap Hindun Mulaika, Jurukampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia dalam sebuah rilis kepada medialingkungan.com.

Hindun juga menjelaskan di Indonesia, aksi serentak ini dilakukan dengan pesan kuat untuk menanggapi rencana pembangunan PLTU Batang, yang diklaim sebagai PLTU terbesar se-Asia Tenggara.

“Kami mendesak kepada Presiden Jokowi untuk membatalkan rencana pembangunan PLTU Batang, yang akan merugikan ribuan nelayan dan petani karena kehilangan mata pencaharian mereka, jika proyek PLTU ini dibangun,” lanjut Hindun.

Berdasarkan informasi Greenpeace Indonesia, saat ini pemerintah bermaksud mengembangkan program energi sebesar 35.000 MW untuk Indonesia, dimana 60 persen berasal dari PLTU yang berbahan bakar batubara.

Menurut mereka hal ini menunjukkan bahwa sampai 20 tahun ke depan Indonesia masih akan bergantung pada batubara sebagai sumber energi yang dianggap sebagai salah satu sumber energi fosil yang paling kotor penyebab perubahan iklim.(Press Rilis)

Doktor Oceanologi Bersepeda Keliling Dunia Sambil Kampanye Perubahan Iklim

Published in Informasi & Teknologi
Selasa, 26 Mei 2015 11:21

Daniel Price, Doktor Oceanologi berkebangsaan Inggris mengelilingi dunia menggunakan sepeda untuk mengampanyekan isu perubahan iklim. Ia telah tiba di Kota Jogjakarta.

Medialingkungan.com – Sejak 21 April 2015, Price (27) mulai berkampanye dari Pole Antartika (Kutub Selatan) menuju ke perancis. Ia juga membuat dokumentasi perjalanan berupa video dokumenter yang diunggahnya ke media sosial.

Setibanya di Jogja, ia langsung menuju ke Pantai Pandasimo Bantul dan memulai pembuatan video dokumenternya. Video tersebut merekam aktivitas nelayan yang tengah membuat kincir angin untuk memenuhi listrik dan menjalankan usahanya.

Menurut Price, upaya yang dilakukan para nelayan ini bisa menjadi inspirasi bayak orang dalam pemanfaatan angin sebagai sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan atau tanpa membuang emisi ke udara.

"Perjalanan ini untuk mengampanyekan perubahan iklim, menyadarkan orang-orang di dunia tentang perubahan iklim dan dampaknya terhadap bumi. Ini semacam misi menyelamatkan bumi, tapi ini tidak mudah untuk meyakinkan orang, karena isu perubahan iklim ini cenderung membosankan bagi orang umumnya," kata Price di Jogjakarta Senin (25/05), seperti dilansir Liputan6.

Sebelumnya, Price sempat singgah ke Bali dan kaget dengan kondisi di sana. Ia mengaku kaget saat mengendarai sepedanya di tengah kerumunan kendaraan yang melaju cepat di jalan raya. Ia merasa kesulitan mengayuh roda sepeda, uatamanya saat hendak menyeberang jalan. "Saya kaget, banyak motor dan mobil, jadi sedikit sulit, tapi masih relatif aman," kata dia.

Berbeda dengan kondisi di Bali, di Jogja, kata Price, aktivitas lalu lintas justru lebih padat dan membuatnya lebih berhati-hati ketika melintas. Kendati demikian, Price merasa nyaman berada di Kota Gudeg itu. "Saya senang di sini, orangnya ramah, tapi tidak di jalan raya. Lalu lintas begitu ramai dengan motor dan mobil. Saya shock," ungkapnya.

Price menambahkan, kampanye yang diberi nama “Pole to Paris” ini akan berujung di Paris, Perancis, pada 21 Desember 2015, tepat pada gelaran konferesi iklim ke 21 (COP21) United Nation Convention on Climate Change (UNFCCC).

Dalam melakukan kampanyenya, Price ditemani seorang temannya. Kata Price, temannya itu melakukan perjalanan dari kutub ke Paris dengan berlari. "Ada dua orang, saya dan teman saya. Kami akan bertemu di Paris sebelum 21 Desember," ujar Price.

Daniel Price dalam video This is Our Journey - Pole to Paris yang diunggah di You Tube 14 Mei 2015 (Gambar: Kaleo Official)

Dalam videonya, ia lebih dominan menceritakan tentang perubahan sosial yang diakibatkan perubahan iklim, mulai efek bencana alam, ketahanan pangan, hingga harapannya terhadap perilndungan rumah milyaran manusia, Bumi. Ia juga memilih start dari Kutub dengan alasan parameter dari dampak perubahan iklim terlihat jelas di sana.

"Kenapa dari kutub, karena di sana kita bisa melihat dengan jelas bagaimana perubahan iklim tersebut terjadi. Dan di Paris nanti akan ada pertemuan yang membahas perubahan iklim internasional, karena itu kampanye ini disebut Pole to Paris," terang dia.

Ia berharap, melalui video dan cerita tersebut, manusia dapat sadar dan bagaimana harus berbuat untuk menyelamatkan bumi dari perubahan iklim. Price mengungkapkan, video dan cerita perjalanannya dapat diakses di facebook dan Twitter dengan kata kunci Pole To Paris. (Fahrum Ahmad)

Es Antartika Mencair, Bumi Dalam Bahaya

Published in Internasional
Senin, 18 Mei 2015 16:49

Medialingkungan.com – Es terbesar di Antartika kian mencair tiap tahunnya. Para ilmwuan pun memperkirakan es yang berada di Antartika tidak akan bertahan lama lagi diakibatkan pemanasan global yang akn menyebabkan banjir, kekeringan, gelombang panas dan permukaan laut yang semakin tinggi.

Studi National Aeronautics and Space Administration (NASA) mengungkapkan, mencairnya bongkahan besar es di Antartika bisa berpotensi membuat permukaan air laut meningkat. Kini, NASA memfokuskan penelitian terhadap bongkahan es yang disebut Larsen B Ice Shelf yang telah terbentuk sejak 10 ribu tahun yang lalu.

Posisi Larsen B terletak di Semenanjung Antartika dan membentang ke arah ujung selatan Amerika Selatan. Ini merupakan satu dari dua bidang utama benua dimana para ilmuwan telah mendokumentasikan penipisan dari formasi es tersebut.

"Studi gletser di Semenanjung Antartika memberikan wawasan jika es akan meluncur jauh ke arah selatan," ujar Co-penulis studi dan ahli gletser di Laboratorium Jet Propulsion Nasa, Eic Rignot, seperti yang dikabarkan wowkeren, Senin (18/05).

"Es pada gletser tersebut bereaksi terhadap pemanasan iklim yang terjadi," tambahnya.

Sebanyak 200 negara telah sepakat menegosiasikan pakta PBB pada akhir 2015 untuk memerangi perubahan iklim global.

Para ilmuwan NASA mengatakan, jika retakan es Larsen B melebar maka akan berpotensi tergelincir ke laut dan berkontribusi menyebabkan kenaikan permukaan air laut di tahun 2020 mendatang. (Angga Pratama)

Studi Baru Menemukan Titik Panas di Atmosfer

Published in Internasional
Sabtu, 16 Mei 2015 17:34

Medialingkungan.com - Sebuah studi baru, yang hanya diterbitkan dalam Environmental Research Letters oleh Steven Sherwood dan Nidhi Nashant, telah menjawab sejumlah pertanyaan tentang tingkat pemanasan di Bumi. Sekali lagi, sains mainstream yang meliputi pemanasan di atmosfer terbukti – benar. Studi terbaru ini membantu menjawab perdebatan antara sejumlah ilmuwan tentang variasi suhu di seluruh bagian berbeda di atmosfer.

Ketika seseorang mengatakan “Bumi sedang memanas”, maka pertanyaan pertama yang timbul adalah (1) bagian bumi yang mana? dan (2)  sampai berapa lama?. Sistem iklim Bumi sangat luas dan kompleks, termasuk di dalamnya lautan, atmosfer, permukaan tanah, wilayah es, dll.

Dikutip dari Guardian bahwa ketika ilmuan mengatakan “pemanasan global” mereka tengah membicarakan tentang kenaikan jumlah energi yang tersimpan di lautan, atau bertambahnya suhu atmosfer yang keluar dari daratan. Perubahan iklim telah menyebabkan peningkatan suhu secara progresif, lebih cepat dari empat dekade terakhir.

Menurut studi tersebut, salah satu area terpenting untuk dijadikan rujukan adalah troposfer. Dikatakan bahwa troposfer merupakan bagian atmosfer di mana perubahan cuaca terjadi dan tempat yang tepat untuk menentukan suhu yang berada di atmosfer. Suhu troposfer dapat diambil oleh satelit dan balon cuaca, atau instrumen lainnya.

Para peneliti ini mengungkapkan bahwa di masa lalu, satelit dan balon cuaca melaporkan tidak ada pemanasan atau bahkan pendinginan. Namun dari hasil studi ini menunjukkan bahwa troposfer sedang memanas.

Peneliti ini juga mengakui sulitnya memperoleh perkiraan yang akurat dari laju pemanasan. “Perubahan instrumen penilaian, kesalahan dalam pengukuran, dan fluktuasi jangka pendek, semuanya bisa saja merekapitulasi data untuk menyembunyikan suhu sebenarnya,” ujarnya.

Studi baru ini dikatakan datang sebagai jembatan perdebatan panjang mengenai intrumen, model pengukuran, dan kesalahan lainnya. Penulis mengembangkan model baru untuk memperhitungkan variabilitas alam, tren jangka panjang, dan instrumen dalam pengukuran suhu.

MEREKA MEMBUAT KESIMPULAN. Pemanasan atmosfer di daerah tropis di seluruh dunia tidak banyak mengalami perubahan sejak akhir 1950-an. Suhu telah meningkat dengan baik dan mengikuti tingkat lembab-adiabatik (penurunan suhu udara lembab dengan elevasi).

Hasil ini telah menunjukkan adanya kesesuaian dengan model komputer iklim sekaligus menepis pandangan dan pertentangan bahwa telah terjadi perlambatan perubahan iklim.

Ketinggian vertikal dari daerah tropis yang hangat sedikit lebih kecil daripada hasil prediksi. Akhirnya, terdapat perubahan pendinginan yang diamati pada stratosfer (lapisan atmosfer di atas troposfer). Hasil ini menjelaskan bahwa pemanasan troposfer seperti yang diperkirakan oleh para ilmuwan tahun lalu.

Jadi, penelitian ini menyimpulkan adanya "troposfer hot spot". Titik panas ini mengacu pada ekspektasi bahwa pemanasan global sedang berlangsung, troposfer akan memanas lebih cepat dari permukaan bumi.

“Titik panas memang sulit untuk dideteksi – membutuhkan pengukuran kualitas tinggi pada kedua permukaan dan seluruh troposfer. Studi terdahulu yang tidak bisa mendeteksi titik panas sering digunakan oleh penentang perubahan iklim untuk mempertanyakan model simulasi kami, bahkan pemahaman dasar kita dari atmosfer,” ungkapnya.

Namun, studi baru ini menemukan sinyal yang jelas dari titik panas tersebut. Bahkan dinyatakan, suhu di troposfer meningkat sekitar 80 persen lebih cepat dari suhu di permukaan bumi (di wilayah tropis). Temuan ini tidak berbeda jauh dari model iklim yang diprediksi, yakni 64 persen.

“Dan ini sudah persis dengan model yang diharapkan bekerja. Model ini dapat digunakan untuk memprediksi perubahan yang akan terjadi di masa depan. Setelah kita melakukan pengukuran, kita dapat membandingkan mereka dengan model. Jika dua tidak setuju, itu juga berarti model kami yang salah, pengukuran kami salah, atau keduanya salah.”

Dalam kasus suhu troposfer ini, awalnya model dan percobaan ini tidak disetujui. Keduanya diperiksa ulang, dan para ilmuwan menemukan percobaan yang disalahartikan. “Ketika percobaan ditingkatkan, penelitian suhu atmosfer ini akhirnya disepakati.”

Studi ini membantu melihat bahwa troposfer sedang memanas seperti yang diharapkan. Selain itu, belum ada studi lain yang mempertanyakan pentingnya hiatus. “Saya berharap bahwa penelitian lebih lanjut tentang topik penting ini akan selesai dalam waktu dekat. Pengukuran sistem iklim bumi dan perbandingan mereka terhadap model iklim menyediakan uji kasus yang sangat baik bagi para ilmuwan untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang proses yang mendorong iklim saat ini dan besok,” jelasnya. (Fahrum Ahmad)

Pemahaman Terkait Isu Perubahan Iklim Perlu Ditingkatkan Pada Publik

Published in Nasional
Sabtu, 16 Mei 2015 13:19

Medialingkungan.com – The Climate Reality Project Indonesia mengadakan ‘Indonesia Climate Change Education Forum and Expo Ke-5’ di Jakarta. Kegiatan Ekspo ini sudah berlangsung sejak Kamis (14/05) dan akan berakhir pada hari Minggu (17/05) yang diisi penampilan dari sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan berbagai organisasi masyarakat lainnya.

Dalam kegiatan Ekspo, tidak hanya LSM dan Organisasi yang hadir dalam kegiatan tersebut, tetapi publik pun ikut meramaikan acara seminar yang terkait pemahaman isu perubahan iklim.

"Jangan menunggu hingga terjadinya bencana, maka fatal akibatnya perubahan iklim sudah terjadi baru kemudian bertindak. Semua harus dicegah dan diantisipasi," ujar Utusan Khusus Presiden untuk Pengendalian Perubahan Iklim, Rachmat Witoelar saat menghadiri acara, seperti yang dikabarkan kompas.

Menurutnya, sejalan dengan program nasional yang ada, pemerintah mengembangkan berbagai kebijakan dan aksi nyata mendukung pembangunan emisi rendah karbon. Caranya, melalui peningkatan kapasitas adaptasi dan mitigasi di tingkat masyarakat, serta pemerintah daerah dan pelaku ekonomi sebagai pemangku kepentingan utama pengendalian perubahan iklim.

Pria kelahiran Tasikmalaya itu mengungkapkan, pada tataran tingkat global, Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penyumbang gas rumah kaca yang tinggi karena penggundulan hutan yang masif. Selain itu, aktivitas sektor industri dan pertanian juga berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca.

Sementara itu, Menurut Manajer The Climate Reality Project Indonesia, Amanda Katili mengatakan, meskipun tantangannya besar, Indonesia yakin solusi dapat ditemukan melalui kajian ilmu pengetahuan dan perumusan kebijakan yang tepat guna.

Dia menambahkan, salah satu tujuan utama yang dilakukan adalah mendukung kemampuan publik sehingga efektif menghadapi tantangan yang muncul dari perubahan iklim.

"Hal ini akan mudah jika masyarakat mendapatkan informasi ilmiah yang tepat-guna mengenai masalah perubahan iklim, dan jika masyarakat secara berkesinambungan mendapatkan informasi mengenai temuan serta solusi-solusi efektif dan terkini," ucapnya. (Angga Pratama)

 

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini