medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Jokowi dan PM Norwegia Bersama-sama Ingin Melanjutkan REDD+

Published in Nasional
Selasa, 14 April 2015 23:45

Medialingkungan.com – Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) mengadakan pertemuan dengan Perdana Menteri (PM) Norwegia, Erna Solberg di Istana Merdeka, Jalan Medan Merdeka Utara, Selasa (14/04). Dalam pertemuan bilateral kedua negara tersebut, sejumlah kesepakatan telah berhasil dicapai.

Kesepakatan yang berhasil dicapai mencakup bidang lingkungan hidup, kelautan dan maritim, energi terbarukan, dan pendidikan. Dalam kunjungan Erna Solberg yang pertama kalinya berkunjung ke Indonesia, Jokowi mengutarakan negara Norwegia adalah mitra penting bagi Indonesia di bidang lingkungan hidup, energi, perikanan, maritim, dan hak asasi manusia.

"Indonesia dan Norwegia memiliki karakter yang sangat berbeda jika dilihat dari letak geografis, ukuran penduduk dan bidang kapasitas ekonomi. Walau pun demikian, kedua negara juga memiliki banyak kesamaan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai universal, antara lain demokrasi dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Kombinasi ini yang menjadikan hubungan kedua negara sangat erat, bersahabat, dan saling mendatangkan manfaat," ujar Jokowi dalam pernyataan bersama dengan Solberg, seperti yang dilansir Kompas.com.

Presiden ke-7 itu mengungkapkan, kedua negara telah sepakat untuk melanjutkan kerja sama REDD+ yang pelaksanaannya telah dimulai sejak tahun 2010.

Bulan Januari tahun 2015 Jokowi bubarkan lembaga itu dan selanjutnya tugas pengurangan emisi karbon ini berada di bawah kendali Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK).

"Norwegia begitu menghargai komitmen Indonesia untuk penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 26%-41% pada tahun 2020, serta beberapa kebijakan affirmative lainnya," ucapnya. (Angga Pratama)

Tiga LSM Lingkungan Desak Pemerintahahan Jokowi-JK Untuk Stop Gunakan Batubara

Published in Nasional
Jumat, 10 April 2015 21:34

Medialingkungan.com – Tiga Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lingkungan Nasional, Greenpeace Indonesia, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), dan Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) mendesak pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK) agar merubah paradigma kebijakan energi nasional  yang sampai hari ini masih menempatkan energi kotor batubara sebagai solusi untuk memenuhi kebutuhan energi nasional dan sumber pendapatan ekonomi negeri ini.

Bertolak belakang dengan kecenderungan global saat ini, dimana banyak negara  di dunia sudah mulai mengurangi dan meninggalkan ketergantungan terhadap  batubara baik sebagai sumber energi maupun sumber pendapatan ekonomi.

Namun, pemerintahan Jokowi–JK malah menempatkan sektor pertambangan batubara sebagai  salah satu sumber pendapatan ekonomi nasional,  dan berencana membangun pembangkit listrik 35.000 Megawatt yang  lebih dari 60% diantaranya akan menggunakan energi kotor batubara.

“Pilihan pada batubara pada situasi saat ini, bukan semata-mata untuk kepentingan energi nasional. Kuasa politik bersinergi dengan modal merendahkan derajat keselamatan rakyat kini dan akan datang. Ruang-ruang produktivitas rakyat hanya dihargai pada statistik makro yang tak sebanding dengan penghancuran yang diwariskan” ujar Koordinator JATAM, Hendrik Siregar, berdasarkan siaran pers Greenpeace yang diterima Medialingkungan.com melalui surel, Jum’at (10/04).

Sementara itu, Pius Ginting, Unit Kajian Walhi mengungkapkan, Momentum jatuhnya harga batubara  sebaiknya mendorong pemerintah pusat dan daerah membuat kebijakan membatasi produksi batubara dengan sistem kuota yang jauh lebih kecil dari yang ada selama ini, berdasarkan kriteria pemulihan lingkungan dan sosial, bukan kuota berdasarkan keadaan pasar yang fluktuatif dan tak kenal batas.

“PKP2B yang telah mencemari lingkungan dan hutan berdasarkan ketentuan perundang-undangan seperti KPC  di Sangatta dan dikeluhkan masyarakat  seperti ADARO Kabupaten Balangan Kalimantan Selatan harus mengurangi kuota produksinya secara drastis,” tambahnya.

Batubara merupakan bahan bakar fossil terkotor di dunia, secara global batubara bertanggung jawab terhadap lebih dari separuh emisi gas rumah kaca penyebab perubahan iklim.  Daya rusak  dan jejak kehancuran yang disebabkan oleh batubara terjadi sejak dari penambangan, pengangkutannya,  sampai ke pembakaran batubara di pembangkit listrik.

Pemerintah Jokowi-JK berencana membangun 35.000 Megawatt Pembangkit Listrik baru sampai tahun 2019, lebih dari 60% nya akan menggunakan energi kotor batubara.  Jokowi-JK, bahkan telah mempermudah segala hal terkait perijinan dan pembebasan lahan untuk memuluskan proyek ambisius ini.

Bulan lalu, Presiden Jokowi mengunjungi China dan Jepang, untuk mengundang investor dari kedua negara itu untuk menanamkan modalnya dalam pembangunan pembangkit listrik baru.

Arif Fiyanto, Kepala Kampanye Iklim dan Energi, Greenpeace Indonesia juga mengatakan, Visi Jokowi-JK untuk mencapai kedaulatan energi mustahil tercapai , jika mereka masih menempatkan energi kotor batubara sebagai sumber energi nasional, batubara merupakan sumber energi kotor yang tak terbarukan, alih-alih mencapai kedaulatan energi, yang akan terjadi justru kehancuran lingkungan massif yang disebabkan oleh eksploitasi batubara yang juga massif di Indonesia.

“Jokowi-JK seharusnya memimpin revolusi energi di Indonesia dengan beralih dari energi kotor batubara ke sumber-sumber energi terbarukan yang bersih dan berkelanjutan, dan itu harus diawali dengan perubahan paradigma kebijakan energi nasional,” ucapnya. (Angga Pratama)

Hujan Ekstrim di Kashmir Renggut 17 Nyawa

Published in Internasional
Selasa, 31 Maret 2015 23:29

Medialingkungan.com – Hujan lebat disertai dengan longsor di wilayah Kashmir, India, pada Selasa (31/03). Intensitas hujan dikhawatirkan menimbulkan banjir bandang di bagian utara pegunungan negara tersebut.

Seperti yang diberitakan Reuters, sebanyak 15 orang tewas ketika longsor terjadi di desa Ledhan, sekitar 40 km dari ibukota Srinagar, terjadi sebelum fajar pada hari Senin.

Sementara itu,dua lainnya tewas dalam banjir bandang di wilayah lain dari Kashmir.

Beradsarkan keterangan polisi setempat dikatakan bahwa hujan ekstim ini sudah merenggut 17 jiwa secara keseluruhan.Aparat kepolisian dibatu tentara dan warga sekitar terus berupaya mencari korban yang masih hilang akibat tertimbun reruntuhan.

"Kami masih mencari satu orang lagi yang masih tertimbun," kata Fayaz Ahmad Lone, inspektur polisi setempat.

Ratusan orang terpaksa meninggalkan rumah mereka ketika sungai utama Kashmir mulai meluap dan ramalan cuaca memprediksikan hujan lebat akan terjadi di daerah yang dilanda banjir tujuh bulan yang lalu itu.

Berdasarkan studi Badan Meteorologi Tropis Institut Indiadari data 50 tahun terakhirdikatakan bahwa India mengalami curah hujan lebih ekstrim akibat perubahan iklim global.Beberapa bulan terakhir merupakan bulan terbasah dala kurun waktu satu abad.

Selain itu, dalam beberapa pekan terakhirditemukan banyak kasus petani yang bunuh diri akibat frustasi. Hal ini disebabkan kerusakan tanaman pertanian, sehingg para petani ini gagal memanen padi-padinya. (Mirawati)

Aksi Earth Hour 2015, Menara Eiffel Hanya Padamkan Lampu Selama Lima Menit

Published in Internasional
Minggu, 29 Maret 2015 16:02

Medialingkungan.com – Menara Eiffel, Paris turut serta dalam aksi nyata yang tiap tahun digelar oleh Earth Hour (EH) dalam pemadaman lampu selama satu jam untuk meningkatkan kepedulian terhadap perubahan iklim dan energi, Sabtu (28/03).

Namun, menara yang menjadi idola bagi banyak wisatawan dunia ini tidak dapat memadamkan lampu selama satu jam karena alasan keamanan yang ada di sekitar menara tersebut. 

Dalam kegiatan tersebut, Menara Eiffel hanya mematikan lampu selama lima menit saja.

Selain Paris, kota-kota di berbagai belahan bumi juga melakukan hal serupa pada monumen nasional mereka, seperti di Rusia, Amerika Serikat dan Indonesia.

Kegiatan ini bertujuan untuk mendesak sejumlah negara agar menetapkan komitmen dalam mengurangi gas efek rumah kaca dan merumuskan pendanaan untuk memerangi perubahan iklim. (Angga Pratama)

Makassar Gelap Disambut Gembira

Published in Nasional
Minggu, 29 Maret 2015 11:28

Medialingkungan.com- “Makassar Gelap” yang dilaksanakan oleh Earth Hour yang digelar di Lapangan Karebosi Makassar pada pukul 19.15 WITA sabtu malam berlangsung dengan sangat meriah. Kegiatan ini merupakan acara tahunan dari Earth Hour yang mengajak publik untuk melakukan aksi kecil untuk perubahan besar dengan mematikan lampu/barang elektronik lain yang tidak terpakai selama 60 menit.

Acara ini dimeriahkan oleh kehadiran komunitas-komunitas Makassar seperti komunitas dari JCI Indonesia chapter Makassar, sahabat Noah Makassar, My Trip My Adventure, Hilo Green, Indorunners Makassar, komunitas reptil dan masih banyak lagi. 

Dalam sambutannya, Andi Ahmad Hasan yang merupakan Koordinator Earth Hour Kota Makassar menyampaikan bahwa Earth Hour adalah gerakan, melalui gerakan ini instansi pemerintah, swasta, komunitas, dan semua warga Makassar ia harap bisa teredukasi untuk bergaya ramah lingkungan.

“Salah satu yang telah dilakukan oleh Earth Hour adalah penanaman pohon. Ini sesaui dengan tema acara ini adalah Change Climate Change, kami berharap dapat mengurangi dampak climate change walaupun tidak banyak,” tambahnya.

Acan, sapaan akrab Ahmad Hasan juga mengungkapkan, kegiatan ini tak berhenti dan hanya berlangsung sebagai ceremony saja. “Namun, kegiatan ini bisa menjadi virus gaya hidup ramah lingkungan yang tersebar melalui komintas, pemerintah, dan private.”

Sementara itu, perwakilan WWF Indonesia yaitu Budi mengatakan, aksi yang dilakukan oleh Earth Hour merupakan aksi untuk pengurangan energi. Ia berharap agar aksi ini menjadi gaya hidup sehari-hari. Selain itu, ia juga mengajak partisipan yang lebih banyak dari pemerintah untuk berkolaborasi bersama Earth Hour Makassar. “Saya yakin bahwa pemeirntah kota ingin terlibat langsung dalam kegiatan yang berbau lingkungan.”

Harapan tersebut juga dibenarkan oleh Azis Abdullah, yang merupakan perwakilan dari Dinas Pertanaman Kota. Menurutnya, semua pihak seharusnya saling bahu membahu apalagi dalam kagiatan Makassar tidak rantasa, karena menurut beliau, Makassar sangat kental dengan budaya malunya, jadi masyarakat sangat malu jika dikatakan rantasa’ (kotor).

Adapun item kegiatan dari acara ini yaitu tarian 4 etnis, kemudian terdapat item kegiatan yang unik yaitu komunitas Indorunners yang berlari sepanjang 7 km, yaitu mulai dari Jln Achmad Yani, Haji Bau, Jalan Jenderal Sudirman dan finish di jalan Achmad Yani. Kegiatan tersebut dilakukan bukan untuk adu kecepatan, namun bertujuan untuk mengkampanyekan kegiatan aksi lingkungan yang dilakukan Earth Hour Makassar.

Puncak acara dari kegiatan ini yaitu switch off dengan mematikan listrik di tempat kegiatan dan sekitar lapangan karebosi, monument mandala, Trans Studio, Mall Ratu Indah, sepanjang anjungan Pantai Losari, lampu jalan sepanjang jalan Achmad Yani, jalan Jenderal Sudirman,R.A Kartini, jalan penhibur. Dan berbagai hotel seperti Aryaduta Makassar, Browcyl Indonesia, Singgasana Horison Ultima, dan Swiss Bell in, yang mulai dari pukul 20.30-21.35 WITA.

Selama switch off berlangsung, penonton disuguhkan performance dari cheerleader SMA Negeri 1 Makassar. Dan performance dari Rizcky de Kaizer yang membuat penonton wanita histeris, dan performance dari Yunita Idol yang juga merupakan duta dari Earth Hour.

Selain itu, performance dari Comic Circle, Malam Puisi, Music Classic, Matoku Performance dan band (Sahabat Band) yang ikut melengkapi item kegiatan dari Earth Hour.

Aksi nyata Earth Hour masih akan berlanjut untuk melakukan konservasi terhadap lingkungan hidup. “Kami akan kembali beraksi pada April mendatang. Tapi untuk kegiatannya masih rahasia,” ujar Acan.

Tetapi Acan membocorkan sepotong untuk gambaran kegiatan Earth Hour Makassar selanjutnya. “Mungkin mainnya di pesisir, mungkin mangrove atau mungkin juga coral,” tambahnya. (Andi Hardianti)

Sejam Cahaya Padam Demi Bumi

Published in Nasional
Minggu, 29 Maret 2015 01:17

Medialingkungan.com – HOTEL Aryaduta Makassar diselimuti kegelapan. Tapi suasana tidak mencekam.

Selain itu, gedung-gedung dan bangunan dalam lima ruas jalan di Makassar juga gelap gulita di malam hari, Sabtu (28/3/2015). Namun semua itu terjadi bukan karena perusahaan listrik memutuskan saluran.

Bukan, melainkan pemerintah kota telah menerbitkan sebuah imbauan. Imbauan itu menyerukan agar para pemilik atau pengelola gedung di seantero Jalan Ahmad Yani, Jenderal Sudirman, RA Kartini, Kajaolalido, dan Jalan Penghibur berpartisipasi dalam gerakan Earth Hour.

Hashtag #MakassarGelap  mewarnai seremoni Switch-Off Earth Hour Makassar tahun ini yang dipusatkan di Lapangan Karebosi. Sebelas titik pemadaman pun secara serentak menjadi gulita tanpa cahaya. Masing-masing Lapangan Karebosi, Monumen Mandala, gedung-gedung perkantoran dan lampu-lampu jalan di radius lima ruas jalan yang telah diimbau Walikota Makassar sebelumnya.

Termasuk pula seluruh hotel anggota Makassar Voluntary Hotels dan Mal Ratu Indah. Tiga anjungan di Pantai Losari, yakni Anjungan Bahari, Anjungan Bugis-Makassar, dan Anjungan Toraja-Mandar. Balaikota Makassar dan Rumah Jabatan Walikota Makassar. Megatron dan reklame PT Duta Niaga Jumantara, Menara Phinisi Universitas Negeri Makassar, dan Wisma Kalla.

Earth Hour yang diinisasi sejak tahun 2007 berupa gerakan mematikan lampu untuk meningkatkan kesadaran mengenai perubahan iklim. Gerakan ini telah menyebar ke 172 negara di berbagai penjuru dunia. Tahun ini, Earth Hour diadakan pada 28 Maret 2015. Di mana saja di muka bumi ini, tepat pukul 20.30 waktu setempat, orang-orang diminta mematikan lampu.

Byar... pet!  – Cahaya pun padam selama satu jam.

Sebagai gerakan, Earth Hour yang yang diselenggarakan oleh World Wide Fund for Nature (WWF), telah mendunia menjadi perayaan kepedulian untuk merawat bumi. Aksi yang bergulir di seluruh dunia setiap tahun dengan mendorong individu, masyarakat, rumah-rumah tangga, dan industri hanya menekan kenop listrik, mematikan lampu yang tidak penting buat mereka selama satu jam. Setiap pukul 20.30-21.30, pada hari Sabtu terakhir bulan Maret, terciptalah simbol komitmen manusia terhadap planet bumi.

Ada doa kuno suku Indian, yang berbunyi:

"Mari kita berjalan pelan di bumi

dengan semua makhluk hidup yang besar dan kecil

mengingat saat kita pergi, Tuhan yang satu

baik dan bijaksana menciptakan segala."

Doa itu seperti terdengar tepat dengan filosofi dari gerakan ini. "Earth Hour bisa menjadi momen yang tepat untuk warga kota Makassar mulai gaya hidup ramah lingkungan. Ke depannya, semoga masyarakat juga lebih peka terhadap persoalan lingkungan yang terjadi di kota Makassar terutama masalah sampah," cetus Ahmad Hasan Tenriliweng, koordinator kota Earth Hour Makassar.

Ditambahkan, Walikota Makassar, Ramdhani Pomanto telah berkenan menjadi duta Earth Hour bersama penyanyi Yunita Nursetia, dan musisi Rizky De Keizer. Mereka bertiga secara aktif mendukung gerakan Earth Hour Makassar dan berkomitmen memulai gaya hidup hijau. 

Acan, sapaan akrab koordinator Earth Hour Makassar mengungkapkan, Earth Hour mulai digerakkan di Makassar tahun 2011. Secara resmi, gerakan di Makassar bergabung dengan Earth Hour Indonesia pada 2012. Semangat yang dihidupkan, yakni jargon: "Ini Aksiku! Mana Aksita?" - sebagai inisiatif dalam kearifan lokal.

"Memadamkan listrik untuk menghemat energi merupakan gerakan lingkungan yang patut didukung," ujar Alwi, personel Sinrilik Band, homeband Bellini Resto di Hotel Aryaduta Makassar.

Tahun ini, Earth Hour Indonesia terfokus pada konservasi lingkungan dengan hashtag #BirukanLaut #Hijaukan Hutan. Pada thun 2015, tercatat sebanyak 30 kota di seluruh Nusantara menyatakan dukungannya untuk berpartisipasi dalam gerakan. 

Laju pemanasan global dan dampak perubahan iklim diharapkan dapat berkurang dengan Earth Hour yang menjadi kampanye gerakan lingkungan hidup terbesar dalam sejarah. Tahun 2014 lalu, para penduduk di tujuh ribu kota di 162 negara telah mematikan lampu mereka.    

"Bukan hanya memadamkan listrik, kami juga membuat kue tart untuk memeriahkan Earth Hour," ucap Karin Sijaya, Marcom Hotel Aryaduta Makassar, salah satu mitra korporasi Earth Hour Makassar.

Senada dengan itu, General Manager (GM) Hotel Aryaduta Makassar pun menyambut gembira gerakan global ini. "Bagi saya secara pribadi, saya pikir, Earth Hour merupakan inisiatif yang sangat bagus tentang lingkungan hidup," timpal Jerome Van Helden.

Van Helden baru satu setengah tahun tinggal di Makassar. Di Belanda daerah asalnya, Jerome menyebutkan bahwa warga sangat sadar akan lingkungan.

"Kami mencoba melindungi lingkungan dan berkonsentrasi sejauh mungkin untuk itu," seru GM Hotel Aryaduta Makassar ini.

"Di rumah, saya selalu meminimalisir segalanya seperti penggunaan AC (Air Conditioner) dan listrik yang tidak perlu. Karena saya pikir, pada akhirnya ini bukan tentang menghemat uang milik kita sendiri. Tapi tentu saja saya tidak mau memboroskan energi," katanya.

Pria asal kota kecil dekat Amsterdam itu mengaku sempat berpikir, beberapa orang, ada pula stafnya sendiri, yang awalnya menganggap dirinya gila sebab dia terus selalu berulang-ulang mengingatkan mereka untuk hemat energi. "Tapi itu memang sudah kebiasaan saya," tutur Van Helden.

Jerome menginginkan akan lebih banyak orang yang benar-benar mau, "Berbicara kepada bumi dan benar-benar menggunakan gagasan untuk berpikir pada diri mereka sendiri bagaimana saya bisa menghemat energi."

Diungkapkannya, di Belanda untuk membangun rumah sekarang orang harus memakai dua lapis kaca jendela. Begitu mahalnya harga untuk mengamankan energi di sana.

Begitu pula di Indonesia kalau orang mau membangun rumah baru di sini pun tentu akan berpikir bagaimana mengamankan energi pada akhirnya. "Soal lingkungan juga menyangkut berapa banyak dana di kantong kita," pungkasnya. (Arpan Rachman)

PT ACE dan Informa Akan Ikut Berpartisipasi Dalam Kegiatan EH

Published in Nasional
Selasa, 24 Maret 2015 23:50

Medialingkungan.com – PT ACE Hardware Indonesia, Tbk (ACE) dan  PT Home Center Indonesia (Informa) akan ikut berpartisipasi dalam kegiatan global tahunan Earth Hour (EH) yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan perlunya menghadapi perubahan iklim dunia.

Manajemen Kawan Lama Group yang menjadi holding ACE dan juga Informa mengaku pertama kali berpartisipasi dalam program EH.

Salah satu aksi EH yang dilakukan dengan turut memadamkan lampu selama satu jam mulai pukul 20.30 Wib hingga 21.30 Wib yang berencana akan dilaksanakan diseluruh penjuru Indonesia pada 28 Maret 2015 mendatang.

"Beberapa store ACE yang akan berpartisipasi dalam Earth Hour tahun ini antara lain, ACE Juandan Medan, Denpasar, Sunset Bali, Tasik, dan CSB Cirebon. Untuk store Informa yang akan berpartisipasi antara lain, Informa Cibinong, Kemang, Central Park, Jambi, Living Plaza Bekasi, Fatmawati, Gandaria, dan Manado,” ujar Public Relations Manager, Nila Adisepoetro, seperti yang dikutip dari beritajatim, (24/03).

“Melalui kegiatan ini bisa melakukan efisiensi sebesar 20% dari total penggunaan listrik dalam kondisi normal," tambahnya.

Nila mengungkapkan, selain berpartisipasi dalam program Earth Hour dengan memadamkan listrik, Kawan Lama Group juga memiliki keprihatinan dan rasa tanggung jawab moral terhadap isu-isu  lingkungan lainnya dengan melakukan aksi nyata seperti Program Trees For Tomorrow, melalui misi ‘Menuju 1 Juta Pohon’ kawan lama telah membagikan lebih dari 850.000 bibit pohon kepada pelanggan yang telah dilakukan dalam 7 periode.

Dia menambahkan, bibit yang dibagikan dibudidayakan di area seluas 2 hektar di daerah Kunciran Tangerang. (Angga Pratama)

Ini Langkah Obama Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca

Published in Internasional
Jumat, 20 Maret 2015 21:41

Medialingkungan.com – Presiden Amerika serikat (AS), Barack Obama memerintahkan pemerintah federal untuk mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 40 persen, kali ini AS berusaha untuk memacu negara-negara lain untuk serius menangani perubahan iklim.

"Ini adalah tujuan ambisius, tapi kami tahu tujuan ini dapat dicapai," ujar Obama di Departemen Energi, AS.

Pemerintah AS bertanggung jawab atas sebagian kecil dari emisi gas rumah kaca di dunia, namun pemerintahan Obama berharap dengan mengambil langkah-langkah agresif diharapkan akan meningkatkan tekanan politik pada negara-negara lain untuk melakukan hal yang sama, seperti yang dilansir oleh U.S news.

Perjanjian iklim global yang telah menjadi karya tertulis selama bertahun-tahun, seharusnya diselesaikan pada bulan Desember tahun lalu di Paris, namun sebagian besar negara di dunia belum mengumumkan apa kontribusi nasional mereka untuk merealisasikan perjanjian tersebut.

Awal bulan Januari tahun 2015 Uni Eropa meluncurkan kontribusinya, bersumpah untuk memotong emisi gas rumah kaca setidaknya 40 persen pada tahun 2030 mendatang. (Mirawati)

Praktisi Lingkungan Dunia Desak Keputusan Iklim PBB Pertimbangankan Krisis Imigrasi Global

Published in Internasional
Sabtu, 14 Maret 2015 13:54

Medialingkungan.com – Bulan lalu para pengamat dan praktisi bidang lingkungan di dunia beramai-ramai berkomentar mengenai muculnya video beruang kutub yang sangat memilukan, terengah-engah jalan di atas gunung es.

Menurut para aktor gerakan lingkungan ini, beruag kutub merupakan potret ukuran bahwa perubahan iklim saat ini berada pada posisi darurat. “Bukan hanya bagi beruang namun juga umat manusia,” ujarnya pada VOA.

“Perubahan iklim kemungkinan menyebabkan jutaan orang mengungsi. Perubahan iklim tidak hanya berdampak bagi beruang kutub tapi juga bagi hidup umat manusia karena bisa menyebabkan jutaan orang terpaksa mengungsi dari tempat tinggalnya.”

Mereka juga menekankan, krisis imigrasi yang membayangi manusia akibat perubahan iklim harus dimasukkan dalam kesepakatan iklim dunia di Paris, Desember mendatang. Untuk itu, mereka mendesak para negosiator yang sedang merancang kesepakatan tersebut agar menyertakan ketentuan-ketentuan yang ditujukan untuk mencegah migrasi massal dengan membantu komunitas yang rentan terhadap resiko itu untuk beradaptasi dengan realitas iklim baru.

Sementara itu, penasihat khusus Direktur Perlindungan Internasional di Badan Pengungsi PBB (UNCHR), Jose Riera mengatakan, beruang kutub menjadi gambar yang paling mewakili perubahan iklim di bumi.

“Beruang kutub hidup di es laut. Dengan menghangatnya atmosfir bumi, habitat beruang kutub menurun. Mereka tidak bisa berburu di perairan yang terbuka, dan mereka sekarat, kadang-kadang tenggelam ketika mencoba mencari gumpalan es yang menghilang.”

UNHCR telah membantu 46,3 juta pengungsi, orang-orang yang tidak mempunyai negara, orang-orang yang kembali ke negara mereka, dan para pengungsi dalam negeri. Banyak dari mereka yang terkonsentrasi di wilayah yang terkena dampak perubahan iklim di seluruh dunia.

Riera mengungkapkan, migrasi yang berkaitan dengan iklim dan pengungsian akan menimbulkan tantangan besar di masa yang akan datang. Para pejabat UNHCR juga menambahkan bahwa tidak banyak waktu lagi untuk mengatasi masalah-masalah penting yang dikemukakan oleh jutaan imigran akibat perubahan iklim yang terpaksa membuat mereka pergi dari dari tempat tinggalnya.

“Kami berharap pihak-pihak yang berkepentingan akan mengakui bahwa perubahan iklim memang faktor penentu dalam mobilitas manusia dan kemungkinan besar akan meningkatkan populasi pengungsi bila tidak ada tindakan konkrit yang diambil," kata Riera.

"Pesan kedua yang penting adalah mendorong Amerika Serikat untuk mengambil langkah-langkah untuk mencegah dan mengatasi pengungsian dalam konteks perubahan iklim, termasuk melalui strategi adaptasi."

Pusat Pengawasan Pengungsian Internal (IDMC) yang berkantor di Geneva, Swiss, mencatat, jumlah orang-orang yang terpaksa mengungsi akibat bencana alam. “Trennya tidak kelihatan bagus,” seloroh Direktur IDMC, Alfredo Zamudio.

“Bukti-bukti yang kami miliki menunjukkan bahwa sejak tahun 1970 sampai 2013, resiko terkena dampak pengungsian internal telah meningkat dua kali lipat," sampung Zamudio.

"Pada tahun 2013 hampir 22 juta orang mengungsi ke setidaknya 119 negara, hampir tiga kali lipat jumlah orang-orang yang terpaksa mengungsi akibat konflik dan kekerasan di tahun yang sama."

Sejak 2008, ketika pusat pengawasan itu mulai memonitor pengungsian, 160 juta orang telah mengungsi di 161 negara. Resiko tertinggi adalah di Asia di mana negara-negara secara berkala terkena topan, banjir dan gempa bumi.

Para ilmuwan setuju pengungsian akan meningkat di beberapa dekade mendatang karena naiknya permukaan air laut dan pemanasan global meningkatkan frekuensi dan intensitas peristiwa-peristiwa cuaca yang ekstrim. (Fahrum Ahmad)

WFP Beberkan 8 Fakta Hubungan Bencana Alam dan Kelaparan via Twitter

Published in Internasional
Kamis, 12 Maret 2015 21:30

Medialingkungan.com – World Food Programme (WFP) atau Program Pangan Dunia melakukan kampanye menggunakan media sosial, twitter, pada tanggal 9 Maret 2015 lalu. Organisasi yang didirikan oleh Food and Agriculture Organization (FAO) pada tahun 1960 ini rupanya tak ingin ketinggalan dalam memanfaatkan pesatnya pekembangan teknologi informasi saat ini. Dalam kampanyenya, WFP mengangkat tema ‘8 Facts On Disasters, Hunger and Nutrition’ atau 8 Fakta Pada Bencana, Kelaparan dan Gizi. Hal ini dilatar belakangi oleh risiko besar yang menimpa masyarakat akibat bencana alam, yang salah satunya penyebabnya adalah perubahan iklim.

Sesuai dengan temanya, kedelapan fakta yang ditulis ini antara lain, (1) Lebih dari 80 persen orang di dunia berada pada kondisi 'rawan' pangan dan orang-orang ini mayoritas tinggal di negara-negara yang memiliki potensi besar tejadi bencana alam dengan risiko kerusakan lingkungan yang parah. (2) Lebih dari 10 pesen populasi dunia (980 juta orang) berpenghasilan kurang dari US $ 1,25 atau Rp 16.468 (Kurs Rupiah hari ini: 1$ = Rp13.175) per hari untuk daerah pedesaan, di mana mereka sangat bergantung pada sektor pertanian dan menghadapi risiko bencana alam.

(3) Pada tahun 2050, kelaparan dan kekurangan gizi pada anak bisa meningkat hingga 20 persen akibat dari bencana terkait perubahan iklim. (4) Lebih dari 20 persen atas variasi risiko tersebut berada di negara-negara berkembang yang ditentukan oleh faktor lingkungan, terutama kekeringan. (5) Studi dari Bangladesh menunjukkan peningkatan angka anak yang kurus dan kurang gizi setelah dilanda banjir, yang dikarenakan kurangnya asupan makanan, akibat sulitnya memberikan penanganan yang tepat pada makanan yang telah terkontaminasi.

(6) Di Filipina, selama dua dekade terakhir, angka kematian bayi meningkat 15 kali lipat dalam 24 bulan pasca peristiwa angin topan yang terjadi di wilayah tersebut, dan kebanyakan dari korban itu adalah anak-anak perempuan. (7) Kekeringan memiliki dampak yang besar pada keanekaragaman makanan, dan akan mengurangi konsumsi makanan secara keseluruhan Di Niger, tanpa memandang dari tempat kelahiran mereka, dan anak yang lahir selama musim kemarau 2x lebih rawan mengalami kekurangan gizi pada usia antara 1 dan 2 tahun.

Dan (8) Kelaparan tidak bisa dihilangkan dalam hidup kita tanpa membangun ketahanan masyarakat yang rentan terhadap meningkatnya risiko bencana dan perubahan iklim.

Kedelapan temuan ini merupakan informasi penting yang menyangkut hubungan antara bencana dan kelaparan, yang juga merupakan program prioritas utama WFP yang akan dipaparkan pada Konferensi Dunia untuk Pengurangan Risiko Bencana (WCDRR) di Jepang, 14-18 Maret mendatang. (Fahrum Ahmad)

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini