medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Kabut Asap Juga Selimuti Kalimantan Barat

Published in Nasional
Minggu, 20 Juli 2014 11:12

Medialingkungan.com – Setelah Riau, kini Kalimantan Barat yang tengah waspadai kabut asap. Pada Minggu malam hingga dini hari (20/7/2014) diperkirakan kabut akan menyelimuti wilayah tersebut.

Salah satu wilayah yang memang menjadi rawan kebakaran hutan dan lahan adalah Kalimantan Barat. Jika disaat musim kemarau, kebakaran hutan sangat mudah menjalar dan mengakibatkan pencemaran udara.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) diperkirakan akan terjadi cuaca berawan diprediksi terjadi di Banda Aceh, Medan, Palangkaraya, Banjarmasin, Makassar, Ternate, Sorong, Manokwari, Denpasar, dan Semarang. Sedangkan untuk kota Padang, Biak, Merauke, Kupang, Sumbawa Besar, Yogyakarta, dan Surabaya diprediksi cuaca cerah.

Diperkirakan pula hujan dengan intensitas ringan hingga sedang akan terjadi di Palembang, Jambi, Batam, Pekanbaru, Bandar Lampung, Serang, Bandung, Jakarta, Pontianak, Samarinda, Manado, Gorontalo, Ambon, atau Jayapura.

Gelombang tinggi juga masih berpeluang melanda sejumlah perairan. Gelombang setinggi 4 hingga 5 meter bisa menghantam Laut Cina Selatan, Samudra Hindia selatan Bengkulu-Lampung, perairan selatan Kepulauan Aru, perairan Kepulauan Sermata-Kepulauan Leti, perairan Kepulauan Babar-Kepulauan Tanimbar, perairan selatan Yos Sudarso-Merauke, Laut Arafuru, dan Samudra Pasifik timur Filipina.

Dan gelombang setinggi 3 hingga 4 meter berpotensi melanda Laut Andaman, perairan utara Aceh, perairan selatan Kupang - Rote, Laut Timor, Laut Flores bagian timur, perairan Kepulauan Wakatobi, Laut Banda dan perairan Kepulauan Kai. (DN)

 

BKSDA Aceh Selamatkan Satwa dilindungi Yang Di Pelihara Warga

Published in Nasional
Sabtu, 19 Juli 2014 21:56

Medialingkungan.com - Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, melepaskan sejumlah satwa dilindungi ke hutan yang sebelumnya diamankan dari masyarakat karena dimiliki dan dipelihara tanpa izin.

Pelepasan satwa dilindungi tersebut berlangsung di Yayasan Lamjabat, Ujung Pancu, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar.

Perlepasan satwa tersebut, turut disaksikan Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Aceh Kombes Pol Joko Irwanto, Kepala Dinas Kehutanan Aceh Husaini Syamaun dan masyarakat setempat.

Kepala BKSDA Aceh Genman S Hasibuan, mengatakan, satwa dilindungi yang dilepasliarkan ini merupakan hasil penyerahan masyarakat beberapa waktu lalu.

"Ada sejumlah satwa dilindungi yang dilepaskan kembali ke hutan. Satwa-satwa ini merupakan hasil penyerahan masyarakat pada Mei 2014 lalu," kata Genman di Banda Aceh, Jumat (18/7).

Adapun satwa yang dilepasliarkan tersebut, yakni seekor siamang, dua ekor elang, seekor bangau tongtong, seekor landak. Selain satwa yang dilepas di Ujung Pancu ini, tim BKSDA juga melepaskan dua ekor beruang di hutan Aceh Jaya.

Sebelumnya, satwa-satwa dilindungi itu diamankan dalam operasi gabungan BKSDA Aceh dengan Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Aceh. Operasi gabungan tersebut berlangsung sejak 26 Mei hingga 29 Mei 2014 meliputi wilayah Kabupaten Aceh Barat, Kabupaten Nagan Raya, dan Kabupaten Aceh Selatan.

Hasilnya ada belasan satwa dilindungi diserahkan masyarakat. Di antaranyaempat ekor kukang, dua ekor buaya muara, elang dua ekor, bangau, siamang, landak, masing-masing satu ekor.

"Terkait dengan pemiliknya, itu menjadi kewenangan penyidik kepolisian. Kami hanya mengamankan satwa-satwa dilindungi tersebut kemudian melepaskan ke habitatnya," ungkap Genman.

Sementara itu, Direktur Reserse dan Kriminal Khusus Polda Aceh Kombes Pol Joko Irwanto mengatakan, para pemilik satwa diminta membuat pernyataan tidak lagi memelihara tanpa izin.

"Kalau kedapatan memiliki dan memelihara satwa dilindungi tanpa izin, mereka akan diproses secara hukum. Ancamannya lima tahun penjara," kata Joko.

Menurut Joko, sepanjang tahun 2014 sudah ada beberapa orang yang dijadikan tersangka kasus pemilikan satwa dilindungi. Di antara mereka sudah ada yang divonis pengadilan.

"Seperti dua tersangka kepemilikan tulang gajah dan 'offset' harimau. Jadi, kami mengimbau masyarakat tidak memiliki satwa dilindungi. Kalau melihat ada orang yang memiliki dan memeliharanya, segera laporkan," kata Joko. (AH)

 

 

Anak Gunung Krakatau Sebagai Salah Satu Laboratorium Alam Dunia

Published in Nasional
Sabtu, 19 Juli 2014 09:49

Medialingkungan.com – Bukan hanya di Kepulauan Galapagos, di Indonesia juga memiliki satu laboratorium alam yang cukup mendunia. Gunung Anak Krakatau menjadi sebuah tempat untuk para peneliti ekologi yang ada di dunia.

Sejaranhnya pada tahun 1883 Anak Gunung Krakatau pernah meletus dan memakan ribuan korban jiwa. Letusan yang menggemparkan seluruh dunia itu, mengeluarkan abu vulkanik hingga ke benua Amerika. Setelah letusan hebat tersebut, muncullah sebuah daratan di daratan di sebelah Gunung Krakatau yang kemudian diberi nama Gunung Anak Krakatau.

Kemudian di tahun 1927 kemunculan anak gunung tersebut kemudian terdengar oleh para peniti mancanegara. Hal itulah yang membuat para peneliti dunia datang silih berganti untuk meneliti Gunung Anak Krakatau. Di awal kemunculannya, kondisi Gunung Anak Krakatau masih steril dan belum ada kehidupan. Namun seiring berjalannya waktu, mulai muncul berbagai jenis flora dan fauna di Gunung Anak Krakatau tersebut.

Menurut Ilyas, ranger di Gunung Anak Krakatau, ada beberapa jenis flora dan fauna yang dapat di jumpai di sana. Tanaman di Gunung Anak Krakatau misalnya mengkudu, lumut, pohon bakau, dan ketapang. Sedangkan untuk faunanya ada berbagai macam serangga seperti belalang, tawon dan kupu-kupu, serta jenis reptil seperti biawak, berbagai jenis burung dan mamalia seperti tikus dan kelelawar.

“Kalau sedang beruntung, kita bisa menemukan penyu yang terdampar di sini. Hingga sekarang, peneliti dari Perancis, Belanda, serta Inggris sering datang ke sini,” ungkap Ilyas.

Pasir pantai Gunung Anak Krakatau berwarna kehitaman dan kaya akan kandungan biji besi. Di Gunung Anak Krakatau ada beberapa patok yang menandakan ketinggian gunung tersebut. Semakin menanjak, vegetasi yang ada juga semakin jarang. (DN)

Sumber : Kompas.com

 

Kini, Air Terjun Terbesar di Dunia Kering

Published in Internasional
Selasa, 15 Juli 2014 15:07

Medialingkungan.com – Keberadaannya begitu dipuja-puji bak kisah percintaan ‘roman picisan’. Dry Falls, air terjun paling menakjubkan yang berada di Amerika Serikat dan digemakan ini kini tak ada hingar lagi.

Keberadaannya dulu sangat dibanggakan di AS. Pasalnya, dalam situs resmi Taman Nasional Negara Bagian Washinton pada hari ini (14/07) dituliskan bahwa Dry Falls merupakan air terjun terbesar di duniasebelum akhirnya mengering hingga tanpa air sama sekali.

Dalam rilis itu dikatakan, air terjun ini memiliki ukuran 4 kali lebih besar dari Niagara Falls. Dry Falls berada di Negara Bagian Washington dengan tebing setinggi 122 meter dan panjang 5.600 meter.

Konon, air terjun deras dengan kekuatan arus 10 kali lebih besar dari air terjun lain pernah ada di Dry Falls. Ya, tapi itu dulu atau sekitar 20.000 tahun lalu. Sumber airnya berasal dari gletser.

Pasca es mencair dan gletser menghilangair terjun pun surut hingga tak tampak lagi air sisa air terjun yang pernah jadi terbesar di dunia itu.

Kini, kemenakajuban dan kesohoran dapat dinikmati dengan mengunjungi langsung ke sana dan melihat tebing kokoh yang dulunya berisi air dan berpredikat sebagai air terjun terbesar di dunia. Menurut para wisatawan, beberapa kegiatan yang paling difavoritkan antara lain main perahu di Sun Lakes, kemping, hingga fotografi.

Tempat wisata ini buka mulai pukul 09.00-18.00 waktu setempat. Layaknya tempat wisata lainnya, turis lokal dan mancanegara paling ramai berdatangan saat weekend atau hari libur lainnya. (MFA)

 

 

12 Tahun Yang Akan datang, Konawe Akan Mengalami Krisis Air

Published in Nasional
Sabtu, 12 Juli 2014 06:46

MEDIALINGKUNGAN.COM- Kerusakan pada sektor kehutanan berdampak buruk pada kondisi daerah aliran sungai di wilayah daratan Sulawesi Tenggara, Kabupaten Konawe.Di daerah perlintasan Sungai Konaweeha ini, yang ditandai penurunan debit air sejumlah sungai dari tahun ke tahun.

Misalnya di wilayah Kabupaten Konawe, laju kerusakan hutan mencapai 1000 hektar per tahun. Dari fakta itu, diprediksi 12 tahun atau sekitar Tahun 2026 Kabupaten Konawe akan mengalami krisis air. Hal ini didasarkan pada hasil penelitian dari Fakultas Kehutanan Universitas Haluoleo.

“Potensinya sangat besar dan diprediksi ini mendekati kenyataan mengingat  laju penurunan luasan kawasan hutan dari tahun ke tahun sangat cepat dan besar,”kata, Labaco S, guru besar Faktultas Kehutanan, Universitas Haluoleo dalam sebuah diskusi dengan sejumlah jurnalis yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Independen, berapa waktu lalu.

Labaco yang merupakan Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Sulawesi Tenggara, melanjutkan, potensi tersebut belum dihitung dengan rencana pembangunan bendungan Pelosika yang kini tengah dirintis pembangunannya di wilayah Kabupaten Kolaka Timur. Dengan dibangunanya bendung pelosika, maka akan lebih mempercepat  lagi terjadinya krisis air.

Data Forum DAS terdapat sekitar 722 DAS di Sulawesi Tenggara yang seluruhnya dalam kondisinya memprihatinkan akibat ancaman alih fungsi hutan.

“Ancaman kerusakan harus diwaspadai, penomena banjir dan musim kering yang terjadi saat ini merupakan dampak. Contoh lain adalah yang terjadi di DAS Wanggu, meski hujan hanya hujan satu jam, warna air sungai langsung berubah sudah keruh, padahal seharusnya jika melihat bentang panjang sungai dari kawasan hulu ke hilir, maka seharusnya air sungai akan keruh jika hujan turun antara 6-7 jam," jelasnya.

Kerusakan DAS, kata Labaco akan berimplikasi pada ketersediaan air, khususnya ketersediaan Air tanah. Labaco berharap adanya beberapa hal yang harus terus dilakukan, yakni pentingnya rehabilitasi DAS rehabilitasi kondisi lahan, dan peningkatan ekonomi masyarakat serta perbaikan lingkungan.

“Saya kira, keseimbangan antara hulu, tengah dan hilir harus diperbaiki. Dan intinya harus bersatu semua komponen memperbaiki kondisi hutan kita,”imbaunya. (TAN)

Sumber: suarakendari.com

 

Daya Tampung Karbon pada Ekosistem Timur AS Bantu Tekan Emisi GRK

Published in Internasional
Kamis, 10 Juli 2014 21:30

Medialingkungan.com - Pada peringatan satu tahun dari Rencana Aksi Iklim Presiden Obama, Menteri Dalam Negeri Sally Jewell minggu lalu merilis sebuah laporan baru menunjukkan bahwa hutan, lahan basah dan lahan pertanian di Amerika Serikat bagian timur secara alami menyimpan 300 juta ton karbon per tahun (1.100 juta ton CO2).

Departemen Lingkungan Hidup AS (EPA) menyimpulkan bahwa angka tersebut menghampiri 15 persen dari emisi gas rumah kaca yang dipancarkan setiap tahun atau dengan kata lain, jumlah yang melebihi emisi mobil yang dihasilkan di AS tiap tahun.

Bersamaan dengan rilisnya laporan tersebut, Badan Geologi Amerika Serikat (USGS) juga merilis alat web baru yang memungkinkan pengguna untuk menganalisa kondisi tanah dan kapasitas penyimpanan karbon, air, dan perubahan dalam ekosistem mereka antara tahun 2005 dan 2050 di bawah 48 negara.

"Hari ini kita mengambil langkah maju dalam upaya berkelanjutan kami untuk membawa ilmu yang tepat untuk menanggung karena kami berusaha untuk mengatasi tantangan utama abad ke-21 - perubahan iklim," kata Sekretaris Jewell.

"Penelitian ini penting oleh US Geological Survey memberikan satu lagi alasan untuk menjadi pelayan yang baik dari pemandangan alam kita, sebagai ekosistem memainkan peran penting dalam menghilangkan karbon dioksida yang berbahaya dari atmosfer--yang memberikan kontribusi terhadap perubahan iklim."

Under some scenarios, USGS scientists found that the rate of sequestration for the lower 48 states is projected to decline by more than 25 percent by 2050, due to disturbances such as wildfires, urban development and increased demand for timber products.

Dalam beberapa skenario, ilmuwan USGS menemukan bahwa tingkat penyerapan dari 48 negara ini, diproyeksikan akan mengalami penurunan--lebih dari 25 persen pada tahun 2050, yang kira-kira sama dengan emisi yang ditimbulkan akibat kebakaran hutan, pembangunan perkotaan dan meningkatnya permintaan untuk produk kayu.

"Ini berarti bagi masa depan--bahwa sebuah ekosistem dapat menyimpan karbon setiap tahun," kata Pjs Direktur USGS Suzette Kimball.

Hutan menyumbang lebih dari 80 persen dari karbon diperkirakan diasingkan di Timur setiap tahunnya, menegaskan peran penting hutan disorot dalam inisiatif aksi iklim Administrasi.

Ilmuwan USGS telah membangun penilaian nasional sejak tahun 2007 mandat kongres di Kemerdekaan Energi dan Security Act. Laporan pertama, di Great Plains, dirilis pada tahun 2011, laporan kedua, di Amerika Serikat Barat, dirilis pada tahun 2012. Laporan Alaska dan Hawaii diperkirakan akan selesai pada tahun 2015.

Penyimpanan karbon Biologi - juga dikenal sebagai penyerapan karbon - adalah proses dimana karbon dioksida (CO2) akan dihapus dari atmosfer dan disimpan sebagai karbon dalam vegetasi, tanah dan sedimen.

USGS memperkirakan, persediaan kemampuan ekosistem yang berbeda untuk menyimpan karbon sekarang dan di masa depan, akan memberikan informasi penting untuk penggunaan lahan dan pengelolaan lahan keputusan.

Manajemen karbon yang tersimpan dalam ekosistem kita dan daerah pertanian yang relevan dinilai sangat baik untuk mitigasi perubahan iklim dan adaptasi terhadap perubahan tersebut.

Daerah penelitian untuk penilaian karbon AS bagian timur didefinisikan sebagai kesamaan dalam ekologi dan tutupan lahan.

Daerah penelitian meliputi Mississippi, melintasi Pegunungan Appalachian, ke dataran pesisir Samudra Atlantik dan Teluk Meksiko.

Para peneliti USGS mengevaluasi ekosistem terestrial (hutan, lahan basah, lahan pertanian, shrublands dan padang rumput), dan air (sungai, danau, muara dan perairan pesisir). (MFA)

Hutan yang Hilang di Indonesia Seluas Irlandia

Published in Nasional
Kamis, 03 Juli 2014 22:29

Medialingkungan.com –Kekayaan alam yang dimiliki Indonesia melimpah ruah, baik darat (hutan) maupun laut. Bahkan salah satu tesis dari seorang peneliti menyimpulkan bahwa Indonesia merupakan negara Atlantis yang hilang. Dalam mitosnya, Atlantis merupakan sebuah negara sangat kaya akan sumber daya alam, dan tertata rapi memebentang dalam bentuk kepulauan layaknya Nusantara.

Namun, kebenarannya masih belum tersimak. Indonesia justru memiliki reputasi buruk terkait pelestarian hutan. Para ilmuwan melansirdalam CBC news, Senin 30 Juni 2014, mengungkapkan bahwa kini negara kita sudah melampaui negara penyelenggara Piala Dunia 2014, Brasil, terkait penebangan liar hutan tropis.

Meski pencanangan program moratorium sebagai bentuk perlindungan satwa liar dan memerangi perubahan iklim telah diperdengungkan sejak 2011 silam, namun laju kerugian negara semakin mebumbung tinggi.

Nature Climate Change mempublis jurnal berisi penyebab kerugian yang diderita Indonesia. Isi jurnal tersebut menyatakan, kerugian tersebut disebabkan perubahan fungsi kawasan hutan menjadi kelapa sawit dan peternakan dalam kurun waktu 2000 hingga 2012 dengan total luasan 60.000 km. Atau dengan kata lain luas hutan yang berubah sama dengan luas negara Irlandia.

Dalam jurnal tersebut tertulis, 2012 lalu potensi kehilangan hutan di Indonesia kehilangan hutannya lebih tinggi dari di Brasil. Pada tahun tersebut, Indonesia saja sudah kehilangan 8.400 km persegi, dibandingkan 4.600 km persegi yang ada di Brasil. Jurnal Nature Climate Change mencatat bahwa saat ini Brasil tengah berupaya untuk mengurangi kerugiannya dari sektor hutandan usaha tersebut telah membuahkan hasil.

"Kita perlu meningkatkan penegakan hukum dan kontrol di daerah itu sendiri," kata Belinda Margono, penulis utama dari studi di Universitas Maryland, sekaligus orang yang bekerjar di kementerian kehutanan Indonesia.

Diketahui, hutan mempunyai dampak yang signifikan bagi kehidupan manusia, karena pohon merupakan penyumbang oksigen terbesar.

"Hutan hujan adalah paru-paru bumi. Anda memiliki paru-paru untuk bernapas dan jika anda menyingkirkan paru-paru itu, maka bumi akan menderita," ujar Matthew Hansen, salah satu penulis di jurnal tersebut di Universitas Maryland.

Kehilangan 'paru-paru bumi' berdampak pada perubahan iklim yang semakin cepat dirasakan. Sebagai salah satu hutan hujan terbesar di dunia yang ada di Indonesia, negara lain bahkan lebih peduli dan prihatin akan kehilangan hutan di negara ini.

Sebuah negara di Skandinavia yaitu Norwegia berjanji akan memberi dana US$1 miliar untuk memperlambat hilangnya hutan tersebut. Hal ini merupakan bagian dari perjanjian pencegahan perubahan iklim di dunia.

"Kemitraan in merupakan insentif keuangan yang kuat," ucap Gunhild Oland Santos-Nedrelid, juru bicara kementerian lingkungan Norwegia.

Ia mengatakan hilangnya hutan Indonesia yang meningkat beberapa bulan ke depan, akan berdampak pada meningginya kekeringan dan kebakaran hutan.

Sejauh ini, Norwegia telah membayar hampir US$50 juta untuk Indonesia dari US$1 miliar yang dijanjikan. Dana tersebut ungkap Gunhild, untuk dijadikan pembentukan lembaga baru yang konsen terhadap pembalakan hutan.

"Indonesia akan mulai mendapatkan uang dalam jumlah besar, jika hanya monitoring itu dapat membuktikan perlambatan penebangan hutan secara ilegal," kata dia.

Norwegia memang dikenal dermawan akan pelestarian hutan tropis di dunia. Proyek serupa berupa US$1 miliiar diberikan kepada Brasil serta program serupa namun lebih kecil dananya untuk negara Guyana dan Tanzania.

Pohon dapat menyerap karbondioksida dari gas rumah kaca yang merupakan faktor utama dari pemanasan global. Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan penebangan hutan turut menyumbang 17 persen dari semua gas rumah kaca buatan manusia.

Pemberlakuan moratorium 2011 lalu, sampai saat belum memiliki efek yang bisa dirasakankan langsung. Kendati demikian ritme pemerintah dalam melindungi hutan dari deforestrasi masih cenderung melow.

"Tampaknya bahwa moratorium tidak memiliki efek yang diinginkan," tulis para ilmuwan di jurnal tersebut.

Melalui moratorium tersebut pemerintah bermaksud untuk memperlambat kerugian serta melindungi habitat orang utan, harimau sumatera, dan satwa liar lainnya. Namun, tulisan di jurnal Nature Climate Change mengungakapkan kekecewaan para peneliti terhadap ketidaksesuaian dengan dari tujuan pembentukannya. (MFA)

Pendekatan Prospektif Bedah si Unik "Gambut"

Published in Nasional
Senin, 30 Juni 2014 07:08

Medialingkungan.com - Dalam rilis mongbay indonesia, Ridzki Sigit, Direktur Mongabay Indonesia mengungkapkan bahwa gambut memegang peranan yang sangat krusial dalam kaitannya dengan mitigasi pemanasan global serta peneyeimbang iklim dunia.

Gambut (peatland dalam bahasa Inggris), menurutnya tengah menjadi pokok perbincangan pada forum nasional dan internasional.

Ia menyadari, publik secara luas belum mengetahui betul seluk-beluk mengenai gambut. Serupa dengan yang dialami oleh Mongabay Inondesia bahwa pembaca merespon gambut melalui permintaan khusus yang dilayangkan via email – untuk mengulas informasi yang sedikit padat perihal gambut secara definitif dan peran penting dari ekosistemnya.

Secara objektif, Medialingkungan mencoba menerangkan “gambut” melalui pendekatan atau skema analisis prospektif – untuk mensintesakan informasi secara komparatif. Untuk itu, beberapa kutipan dalam tulisan ini merupakan kutipan langsung dari hasil publis sebelumnya.

Definisi gambut

Secara terminologi gambut merupakan dekomposisi bahan organik yang terjadi dengan estimasi waktu selama ribuan tahun untuk menciptakan penyimpanan karbon pada tanah.

Balai Penelitian Tanah dan World Agroforestry Centre (ICRAF) menyebutkan bahwa gambut adalah lahan yang memiliki lapisan tanah kaya bahan organik (C-organik > 18%) dengan ketebalan 50 cm atau lebih. Bahan organik penyusun tanah gambut terbentuk dari sisa-sisa tanaman yang belum melapuk sempurna karena kondisi lingkungan jenuh air dan miskin hara. Oleh karenanya lahan gambut banyak dijumpai di daerah rawa belakang (back swamp) atau daerah cekungan yang drainasenya buruk.

Sederhananya, gambut tersusun dari bahan organik yang mengalami penumpukan karena belum terurai secara sempurna. Penumpukan itu bisa mencapai hingga kedalam 7-15 meter. Jenis gambut ini disebut gambut dalam.

Menurut Oka Karyanto dari Universitas Gajah Mada untuk membentuk kedalaman gambut setebal 4 meter dibutuhkan sekurang-kurangnya 2.000 tahun, namun jika dikeluarkan airnya lewat drainase gambut dapat habis hanya dalam waktu 100 tahun.

Selain itu lahan gambut bersifat seperti spons, sangat penting bagi hidrologi kawasan karena mampu menyerap air hingga 13 kali lipat dari bobotnya.

Karena keunikan ekosistemnya, ratusan spesies unik vegetasi, seperti pohon, anggrek dan tanaman obat hanya ditemui di rawa gambut. Hutan rawa gambut juga menjadi habitat bagi spesies terancam punah seperti harimau, macan dahan, orangutan dan masih banyak lagi.

Aspek lingkungan lahan gambut

ICRAF mencatat, karakteristik yang dimiliki lahan gambut berhubungan dengan kontribusinya dalam menjaga kestabilan lingkungan -- ‘jika’ lahan gambut berada kondisi ideal (stabil), namun sebaliknya – akan menjadi sumber masalah lingkungan apabila manusia mencoba mengorek kestabilan lahan gambut.

Secara ringkas, beberapa aspek lingkungan yang berhubungan dengan lahan gambut adalah lahan gambut sebagai penambat dan penyimpan karbon, lahan gambut sebagai sumber emisi gas rumah kaca, kebakaran lahan gambut, dan aspek hidrologi dan subsiden.

Kendati lahan gambut hanya meliputi 3 persen dari luas daratan seluruh dunia, namun menyimpan 550 Gigaton C atau setara dengan 30% karbon tanah, 75% dari seluruh karbon atmosfir, setara dengan seluruh karbon yang dikandung biomassa (massa total makhluk hidup) daratan dan setara dengan dua kali simpanan karbon semua hutan di seluruh dunia. Demikian menurut hasil penelitian Prof Hans Joosten dari Institute of Botany and Landscape Ecology, University Greifswald di Jerman.

Sementara itu, Gas rumah kaca (GRK) utama yang keluar dari lahan gambut adalah CO2, CH4, dan N2O. Pembakaran lahan gambut bisa memicu emisi CO2 yang dinilai 23x lipat dibandingan CH4 yang dimiliki gambut per hektarnya.

Menurut Erick Olbrei, peneliti gambut dari Australian National University, lahan gambut Indonesia memiliki nilai penting bagi dunia, karena menyimpan setidaknya 57-60 miliar metrik ton karbon, hanya bisa ditandingi dengan Amazon yang menyimpan sekitar 86 miliar metrik ton karbon di dalam tanahnya. Hilangnya setengah lahan gambut Indonesia, akan melepaskan sekitar 100 Gigaton karbon dioksida atau 150 kali emisi tahunan Australia bisa terlepas ke udara dalam beberapa dekade mendatang.

Sebagai perbandingan jika emisi lahan gambut Indonesia lepas secara keseluruhan ke atmosfer akan setara dengan sepertiga cadangan karbon yang ada di seluruh dunia. Menurut Greenpeace, hal ini akan setara dengan membakar seluruh cadangan minyak bumi yang ada di Arab Saudi, Venezuela, Kanada, Rusia dan Amerika Serikat digabungkan menjadi satu.

Faktor lainnya yaitu penurunan permukaan (subsiden) gambut sekaligus menyebabkan menurunnya kemampuan gambut menahan air. Apabila kubah gambut sudah mengalami penciutan setebal satu meter, maka lahan gambut tersebut akan kehilangan kemampuannya dalam menyangga air sampai 90 cm atau ekivalen dengan 9.000 m3 ha minus satu.

Dengan kata lain lahan disekitarnya akan menerima 9.000 m3 air lebih banyak bila terjadi hujan deras. Sebaliknya karena sedikitnya cadangan air yang tersimpan selama musim hujan, maka cadangan air yang dapat diterima oleh daerah sekelilingnya menjadi lebih sedikit dan daerah sekitarnya akan rentan kekeringan pada musim kemarau.

Memangnya banyak lahan gambut di Indonesia?

Mongabay Indonesia sendiri mengungkapkan bahwa Indonesia adalah pemilik kawasan lahan gambut tropis terluas di dunia dengan luasan sekitar 21-22 juta hektar (1,6 kali luas pulau Jawa), yang penyebarannya berada di Kalimantan, Sumatera dan Papua.  Papua adalah yang terluas dengan lebih kurang sepertiga lahan gambut yang ada di Indonesia.

Lahan gambut bagi Indonesia memiliki nilai yang sangat penting karena mampu menyimpan karbon 20 kali lipat lebih banyak dibandingkan hutan hujan tropis biasa atau tanah yang bermineral, dan 90% diantaranya disimpan di dalam tanah.

Bagaimana kondisi lahan gambut di Indonesia?

Menurut data Wetlands, sekitar 61 persen total lahan gambut di Indonesia adalah hutan yang sebagian besar telah dibuka dan 24 persen adalah semak belukar yang telah terganggu. Hanya sekitar

5 persen saja yang telah dikelola. Lahan gambut yang berada di tangan pemegang konsesi (perkebunanan sawit dan kayu) sekitar 23 persen dan seringkali area konsesi tersebut berada dalam kondisi rusak.

Salah satu indikator bahwa pengelolaan gambut buruk adalah lahan gambut yang terus terbakar. Kebakaran lahan gambut terbesar yang terjadi di Indonesia adalah kebakaran pada 1996-1997 yang dibarengi dengan el nino.

Setelah itu hampir setiap tahunnya kebakaran lahan dan hutan gambut selalu menjadievent regular tahunan, terjadi setiap kemarau di propinsi Riau dan pesisir Sumatera lainnya serta di Kalimantan yang hutan gambutnya terlanjur dibuka untuk sawit, pertanian, dan tanaman homogen akasia.

Potensi gambut

Lahan gambut dalam sama sekali tidak direkomendasikan untuk dibuka dan dikonversi, namun lahan gambut dangkal masih dapat dimaanfaatkan untuk lahan pertanian. Umumnya para peneliti menyebutkan bahwa kedalaman gambut yang masih direkomendasikan untuk dibuka adalah gambut berkedalaman maksimal 3 meter atau 10 kaki.

Puslitbang Deptan mencatat, dengan kedalaman 3 meter, tanaman tahunan/perkebunan, padi, tanaman palawija, hortikultura, dan tanaman lahan kering semusim dapat tumbuh dengan sangat subur, bahkan menghasilkan kualitas yang sangat tinggi sesuai dengan taraf/standar permintaan perusahaan-perusahaan besar.

Melihat potensi lahan gambut yang sangat besar, khususnya unuk bidang pertanian dan perkebunan, sehingga lahan gambut acap kali mengundang perlakuan negatif manusia terhadap eksplorasi dan pemanfataannya lahan.

Lahan gambut juga merupakan sumber plasma nutfah. Plasma nutfah adalah substansi pembawa sifat keturunan pada tumbuhan, hewan, maupun mikroorganisme. Sumber plasma nutfah flora yang terdapat di lahan rawa gambut merupakan plasma nutfah alami yang hidup di areal hutan.  

Jika lahan rusak atau bahkan hilang, maka akan menyebabkan beberapa plasma nutfah menjadi rawan, langka, bahkan sampai punah.

Sesuai dengan pemaparan sebelumnya, membakar dan melakukan eksploitasi berlebihan (illegal logging) di wilayah gambut merupakan hal yang menimbulkan efek sebaliknya dari potensi khusus yang sangat besar — yang hanya dimiliki oleh lahan gambut. (MFA)

Pengusaha Desak Pemerintah Segera Terbitkan PP Sumber Daya Alam

Published in Nasional
Jumat, 27 Juni 2014 19:04

Medialingkungan.com – Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang sumber daya alam dari Kementerian Perindustrian tak kunjung memberi kepastian terkait penerbitannya. Akibatnya, para pengusaha -- khususnya di sektor industri mendesak agar penerbitan PP tersebut dipercepat.

Peraturan tersebut ditengarai sangat penting bagi industri smelter karena menjamin kepastian dalam memperoleh bahan baku mineral.

Dengan terbitnya aturan tersebut, maka UU Perindustrian, UU No.4/2009 tentang Minerba, PP No.1/2014, serta Permen ESDM No.1/2014 tentang kadar minimum mineral dapat diperkuat dan memberikan standarisasi pengelolaan mineral.

“Payung hukum ini membuat pengusaha mempercepat pembangunan smelter,” Kata Wakil Ketua Umum KADIN Bidang Pemberdayaan Daerah Natsir Mansyur dalam keterangan resmi, Kamis (26/06). 

Menurut Natsir, munculnya Permenkeu No.6/2014 tentang Bea Keluar, menuai hasil yang negatif karena membuat bisnis mineral tidak jalan dan cenderung mengalami kerugian. Imbasnya, beberapa perusahaan yang bergerak di sektor itu menjadi collapse (tutup), PHK, kredit macet, dan menyebabkan ekonomi daerah tidak bergerak.

Ia meyakini bahwa pada kondisi lebih jauh, hal tersebut akan berdampak pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) karena merosotnya jumlah setoran pajak yang diperoleh dari industri mineral.

Disamping itu, menggantungnya RPP ini tentu mengundang kecemasan bagi para pengusaha di industri smelter sebab persediaan gas untuk smelter sangat terbatas dan membuat produksi terhambat.

"Kebutuhan gas untuk smelter ini harusnya dimasukan dalam neraca gas, ini penting," kata Natsir.

Pihaknya berharap RPP sumber daya alam selesai secepatnya dan mendapat supply gas untuk smelter. (MFA)

Banyak Manusia Bergantung Hidup Padanya, Jangan Biarkan Hutan Habis !

Published in Nasional
Minggu, 22 Juni 2014 07:00

Medialingkungan.com –Sebuah riset oleh Bank Dunia (2004) mengemukakan bahwa lebih dari 1,2 miliar orang di dunia bergantung pada hutan sebagai mata pencaharian.

Sementara itu, hutan dinilai telah memenuhi keperluan kayu bakar bagi sepertiga penduduk dunia untuk memasak dan menghangatkan rumah mereka. Dan memeberi kontribusi seperlima dari total kebutuhan protein manusia.

Demikian hasil pengamatan yang dilakukan melalui tinjauan aktivitas masyarakat di puluhan negara berkembang, yang berburu satwa dan mengambil ikan dari hutan.

Secara makrotis, hutan memberi kontribusi yang signifikan bagi perekonomian global, Dari data yang dikelola PBB, produk hasil hutan sanggup menyumbang hampir $468 miliar per tahun terhadap ekonomi global.

Peran Hutan untuk Masyarakat di Indonesia

Di Indonesia sendiri, menurut catatan Kementerian Kehutanan RI tahun 2009, terdapat 48 juta orang yang hidupnya bergantung pada hutan.

Sementara, hasil validasi Buku Statistik Kehutanan Indonesia Kemenhut tahun 2011 yang dipublikasi pada bulan Juli 2012 menyatakan bahwa luas hutan Indonesia saat ini sekitar 99,6 juta hektar atau 52,3% luas wilayah Indonesia.

Kondisi ini tentu memikul tantangan yang sangat besar dalam memepertahankan ketahanan negara dalam hal ketersediaan hutan sebagai penopang perekonomian negara, terutama untuk masyarakat sekitar hutan.

Sebuah persepsi tentatif bermunculan dengan kesimpulan spekulatif bahwa jika mengacu pada statistik tersebut, maka luas lahan yang dimanfaatkan oleh masyarakat berkisar sekitar 2,075 hektar per orang.

Dengan menggunakan logika sederhana saja bahwa hutan alam belum memiliki akses yang membuka jalur untuk dilalui manusia, mengingat jarak dan medan yang sangat sulit ditempuh. Fungsi hutan juga akan berkurang jika manusia berusaha untuk mengkontaminasi daerah alami edofisnya.

Sehingga perhitungan tersebut ‘tidak cocok’ dijadikan dasar penilaian terhadap jaminan kehidupan masyarakat sekitar kawasan hutan.

Kendati demikian, dengan kebijakan perekonomian makro disertai teknologi yang berkembang pesat diikuti sistem pengelolaan hutan lestari, maka hutan dapat dimanfaatkan secara optimal.

Pemanfaatan Hutan dari Segi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK)

HHBK ditengarai sebagai pengoptimalan pemanfaatan hutan. Dengan menggunakan sistem usaha tani campuran (agroforestri) contohnya, yakni bercocok tanam dengan mengkombinasikan pohon penghasil kayu dan pohon penghasil HHBK yang telah diterapkan oleh petani dari berbagai daerah di Indonesia.

Salah satu contohnya agroforestri kayu jati di Kabupaten Gunungkidul, Provinsi DI Yogyakarta. Para petani di Kabupaten Gunungkidul mengalokasikan 10 persen dari lahan yang mereka miliki untuk menanam jati.

National geopgraphic mencatat, berdasarkan penelitian yang dilakukan Tony Bartlett, Manajer Program Penelitian Kehutanan ACIAR (Australian Center for International Agricultural Research), kebun jati petani-petani Gunungkidul menyumbang sebesar 12 persen dari total pendapatan rumah tangga mereka, dan sebagian besar kayu jati ini pula dimanfaatkan untuk peralatan rumah tangga dan ukiran.

Dengan tumpangsari, masyarakat ikut menjaga dan ikut menikmati hasil. Tumpangsari kemudian berkembang dan meluas di seluruh Jawa. Hasil tanaman kehutanan tumpangsari lebih baik daripada cara-cara lain seperti banjar harian walaupun tetap terjadi persaingan penyerapan unsur hara oleh tanaman pertanian. Jadi, penting memilih tanaman yang tepat yang ditanam di sela-sela baris jati.

Agus Purnomo, Staf Khusus Presiden Bidang Perubahan Iklim yang aktif menyusun berbagai kebijakan lingkungan hiudp sejak menjabat Staf Khusus Menteri Lingkungan Hidup periode 2004-2009, di dalam bukunya yang berjudul Menjaga Hutan Kita: Pro-Kontra Kebijakan Moratorium Hutan dan Gambut menulis:

Selain memiliki fungsi menjaga keberlangsungan ekosistem, hutan memberi kontribusi yang signifikan bagi perekonomian dunia.

Bagi perekonomian nasional, hutan merupakan sumber devisa dari hasil kayu maupun hasil hutan bukan kayu, mulai dari berbagai komoditas pertanian hingga kegiatan ekoturisme.

Sementara nilai perdagangan hasil hutan bukan kayu dunia diperkirakan mencapai 11 miliar dollar AS per tahun. Pendapatan negara dari hutan dan hasil hutan Indonesia pada 1985 sebesar 1,2 miliar dollar AS, meningkat menjadi 5 miliar dollar AS pada 2005.

Sementara nilai perdagangan hasil hutan bukan kayu dunia diperkirakan mencapai 11 miliar dollar AS per tahun. Pendapatan negara dari hutan dan hasil hutan Indonesia pada 1985 sebesar 1,2 miliar dollar AS, meningkat menjadi 5 miliar dollar AS pada 2005.

Oleh sebab itu, mengingat pentingnya hutan, maka rehabilitasi hutan telah menjadi tugas semua pihak.

Mengapa menyelamatkan hutan ?

Terdapat banyak sekali fungsi hutan yang sangat penting bagi kehidupan manusia, di antaranya:

  1. Penyimpan air hujan dan kemudian dialirkan melalui sungai-sungai yang menjadi sumber kehidupan bagi makhluk hidup
  2. Mencegah erosi dan kekeringan yang dapat mengakibatkan bencana banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau
  3. Pengatur iklim dengan produksi oksigennya (O2) yang diperlukan manusia dan menyerap karbondioksida (CO2) yang merupakan sisa hasil kegiatan manusia
  4. Habitat bagi flora dan fauna endemik sehingga ekosistem dalam wilayah hutan tersebut tetap terjaga
  5. Sebagai sumber kehidupan bagi masyarakat sekitarnya, seperti industri kayu bersertifikasi dan ekowisata.

(MFA)

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini