medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

148 Peneliti Temukan Jumlah Pohon di Bumi

Published in Informasi & Teknologi
Selasa, 15 September 2015 11:37
  • Email
Penelitian global baru memperkirakan bahwa hutan tropis dunia adalah rumah bagi 40.000 hingga 53.000 spesies pohon, sebagiannya sangat langka. (Gambar: Dok) Penelitian global baru memperkirakan bahwa hutan tropis dunia adalah rumah bagi 40.000 hingga 53.000 spesies pohon, sebagiannya sangat langka. (Gambar: Dok)

Medialingkungan.com – Terjebak kemacetan sambil menghitung jumlah kendaraan yang ada di sekitar merupakan hal yang sulit. Begitu pula perumpaan Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) yang menyatakan “berhenti mencari jarum pada tumpukan jerami!” -- melainkan menghitung semua jerami di pertanian.

Sebuah penelitian baru CIFOR mendokumentasikan pencarian itu -- dilakukan di seluruh dunia -- untuk menghitung berapa banyak spesies pohon di hutan tropis di bumi ini.

Asumsi dan perkiraan para peneliti yang seluruhnya berjumlah 148 orang bahwa hutan tropis bumi adalah rumah bagi 40.000 hingga 53.000 spesies pohon, sebagiannya sangat langka.

Laporan penelitian ini menurut CIFOR merupakan satu upaya pertama membangun basis data global spesies pohon tropis. Kendati, survei serupa hanya menghitung pohon di area tertentu, tanpa konsistensi meluas. Penelitian lain memperkirakan 37.000, 43.000, dan 50.000, yang “berdasar pendapat ahli,” tulis para peneliti pada lansiran Blog CIFOR (Agustus 2015).

“Ini terbagi dalam pecahan kecil-kecil,” kata ilmuwan utama CIFOR, Terry Sunderland, salah seorang penulis laporan.

“Ini soal menilai kembali posisi pengetahuan dan pemahaman di mana ada celah dan bagaimana kita benar-benar melakukan analisis global.”

CIFOR MEMBANGUN BASIS DATA lebih dari 650.000 pohon dari lebih dari 11.000 spesies yang ditemukan di wilayah tropis Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Kemudian, melakukan perbandingan melalui penyatuan basis data para peneliti dari seluruh dunia, dan menempatkan peneliti negara berkembang di panggung penerbitan internasional. Hasil ini mengakhiri beberapa asumsi sebelumnya mengenai spesiasi pohon tropis.

Amerika Latin, misalnya, sejak lama dipertimbangkan menjadi rumah hutan paling kaya, tetapi penelitian menunjukkan bahwa Asia Tenggara di banyak wilayah malah sangat kaya, di mana kedua wilayah tersebut menyokong 19.000 dan 25.000 spesies.

Afrika – sebaliknya -- hanya memiliki 4.500 hingga 6.000 spesies.

Walaupun begitu, jumlah ini masih jauh dari apa yang ditemukan di hutan manapun: hutan sedang Eropa hanya memiliki 124 spesies. Disparitas ini umumnya terjadi akibat perbedaan curah hujan antar wilayah, karena tingginya curah hutan umumnya berkorelasi dengan lebih beragamnya tumbuhan.

“Penelitian ini memberitahu kita bahwa jika kita tertarik mengkonvervasi keragaman hayati, di sinilah kita perlu focus. Saya pikir ini alat manajemen penting,” kata Terry Sunderland.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa keragaman hayati tinggi berarti biomassa tinggi.

Mensurvey spesies pohon, bisa memberi masukan informasi lebih baik untuk program seperti REDD+, yang berupaya memitigasi perubahan iklim dan melindungi tanaman serta binatang dengan menawarkan kredit agar hutan tetap berdiri.

TETAPI BERAPA BANYAK PERSISNYA? adalahpertanyaan konkret untuk mengungkap jumlah keseluruhan bahwa hutan tropis adalah rumah bagi sejumlah besar spesies yang ukuran populasinya sangat kecil, walaupun belum jelas berapa banyak spesies atau seberapa kecil populasinya. Ini pertanyaan untuk peneliti di masa datang. Beberapa spesies ini dalam kondisi terancam punah dan perlu perlindungan, sementara yang lain langka.

“Ini salah satu masalah utama hutan. Banyak pola spesiasi yang tidak bisa kita katakan, kita akan lindungi area ini dan melindungi semua keragaman hayati.”

“Tidak bisa seperti itu!,” kata Terry Sunderland”

Ia mengatakan, untuk memperkaya informasi bagi pengambilan keputusan konservasi saat ini, survei pohon meletakkan dasar perbandingan bagi penelitian lanjutan -- khususnya peran penting ketika hutan berevolusi sejalan dengan iklim.

“Perubahan hutan yang sebelumnya didokumentasi selama beberapa milenium kini berlangsung lebih cepat,” ujar Terry Sunderland.

Terry menjelaskan, kondisi lebih panas di tropis bisa mengarah pada berkurangnya curah hujan, mengakibatkan kekeringan yang bisa mengancam hutan. Ditambah deforestasi, kekeringan bisa memusnahkan populasi pohon.

Mengumpulkan pengetahuan mengenai kondisi pohon hari ini akan menjadi penting menilai dan mungkin mengurangi kerusakan dalam dekade mendatang.

“Ini bukan sekadar praktik akademik, yang juga menarik dan penting, tetapi ini memberi basis data dasar untuk mulai memantau pola dan tren ketika perubahan terjadi bersama perubahan iklim, misalnya,” kata Terry Sunderland.

“Menyediakan basis data dasar memungkinkan kita memahami kecepatan dan sifat perubahan itu.” (Fahrum Ahmad)

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini