medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Cabai, Makanan Pedas untuk Perangi Obesitas

Published in Informasi & Teknologi
Kamis, 20 Agustus 2015 09:22
  • Email
Cabai pedas (Gambar: Doc) Cabai pedas (Gambar: Doc)

Medialingkungan.com – Cabai, makanan pedas memegang peranan penting untuk memerangi kenaikan berat badan (obesitas). Hasil penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa cabai memberikan manfaat bagi kesehatan, khususnya seseorang yang memiiki berat badan berlebih.

Para peneliti dari University of Adelaide di Australia menemukan bahwa terdapat reseptor penting yang berada dalam perut manusia yang memberikan isyarat ketika sedang penuh. Reseptor ini disebut reseptor TRPV1, atau dikenal sebagai reseptor cabai pedas yang merespon capsaicin (kapsaisin, red).

Kapsaisin termasuk di dalam Kapsaisinoid, yaitu zat kimia yang menimbulkan rasa pedas yang ada dalam tumbuh-tumbuhan, seperti cabai. Rasa pedas ini muncul karena kapsaisin menciptakan isyarat yang sama bagi otak seperti saat kulit terkena panas.

"Perut membentang ketika penuh, yang mengaktifkan saraf di perut untuk memberitahu tubuh bahwa telah memiliki cukup makanan. Kami menemukan bahwa aktivasi ini diatur melalui cabai atau TRPV1 reseptor panas, "kata Amanda Page, penulis utama studi tersebut, dalam siaran persnya.

"Hal ini diketahui dari penelitian sebelumnya bahwa kapsaisin yang terdapat pada cabai pedas dapat mengurangi asupan makanan pada manusia. Dan apa yang kami temukan bahwa penghapusan reseptor TRPV1 meredam respon saraf lambung untuk meregang sehingga menghasilkan perasaan kenyang dan menunda konsumsi makanan lebih banyak.”

Dengan kata lain, sambung Amanda, cabai mengandung kimia yang secara efektif memberitahu kita untuk berhenti makan -- ini adalah suatu evolusi dari kebiasaan manusia yang sangat bermanfaat, karena menurut beberapa laporan, mengonsumsi cabai secara berlebihan, seseorang akan diberikan pertolongan pertama di ruang rawat inap, bahkan mengakibatkan kematian.

Tantangan bagi peneliti sekarang adalah untuk mengambil apa yang kita ketahui tentang kapsaisin dan interaksinya dengan reseptor TRPV1 di perut manusia, dan melihat potensi aplikasi yang bisa membantu orang menghindari kenaikan berat badan yang tidak perlu.

"Tahap selanjutnya dari penelitian akan melibatkan investigasi mekanisme di balik aktivasi reseptor TRPV1 dengan tujuan mengembangkan terapi yang lebih nyaman," kata Stephen Kentish, penulis kedua paper tersebut, yang diterbitkan dalam jurnal PLoS ONE.

"Tujuannya adalah untuk melihat bagaimana hal ini layak sebagai pengobatan yang potensial, tidak hanya untuk obesitas, tapi mungkin juga dalam pencegahan kenaikan berat badan.”

Ia juga mengatakan, jika seseorang bisa mengambil sesuatu yang membuat mereka merasa kenyang lebih cepat, tentunya hal demikian dapat mencegahnya dari obesitas. (Fahrum Ahmad)

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini