medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

'Detox Catwalk', Upaya Ciptakan Standar Baru Fashion Ramah Lingkungan

Published in Informasi & Teknologi
Jumat, 20 Maret 2015 23:47
  • Email
Detox Catwalk (Gambar: italiachecambia) Detox Catwalk (Gambar: italiachecambia)

Medialingkungan.com – Greenpeace meluncurkan ‘Detox Catwalk’, sebuah platform online yang berisi penilaian sejauh mana upaya perusahaan fashion besar dunia dalam upaya penghapusan penggunaan bahan-bahan kimia berbahaya dalam produknya demi mengatasi pencemaran air.

Dalam press realease-nya kepada Medialingkungan.com, Juru kampanye Detox Greenpeace Indonesia, Ahmad Ashov Birry mengungkapkan dalam empat tahun terakhir, perusahaan fashion yang telah mengeluarkan komitmen detox kini menguasai sekitar 10 persen pasar busana dan sepatu global.

“Kami yakin ini adalah momentum penting dalam menciptakan standar baru dalam fashion ramah lingkungan dengan membuka data rantai suplai dan pada akhirnya menunjukkan bahwa busana indah bisa dibuat tanpa menyebabkan pencemaran,” ucapnya.

Ashov juga mengatakan kemajuan ini bukan hanya menjadi berita baik namun juga awal baik bagi masyarakat khusunya bagi mereka yang bertempat tinggal di sekitar pusat produksi tekstil yang berada di daerah pinggiran sungai seperti di Citarum, Jawa Barat.

“Sorotan kini ada pada Pemerintah untuk segera memperkuat regulasi terkait manajemen bahan kimia berbahaya untuk menjamin masa depan yang bebas toksik,” ujarnya.

Dia juga menuturkan Detox Catwalk saat ini telah memperlihatkan 16 perusahaan fashion yang dinilai mulai menghilangkan bahan-bahan kimia beracun, termasuk bahan yang bisa mengganggu hormon seperti nonylphenol, phthalates dan PFC.

“Mereka juga telah meluncurkan data polusi dari para pemasok mereka lewat platform online independen, semua itu adalah terobosan besar membuat perusahaan-perusahaan yang belum melakukan aksi nyata seperti Nike terlihat sangat jauh tertinggal di belakang,” jelas Ashov.

Kampanye yang mulai diluncurkan empat tahun lalu ini menilai berbagai kriteria kunci, termasuk bagaimana kerja yang sudah mereka lakukan untuk menghapuskan bahan-bahan kimia berbahaya dari dalam produk mereka serta proses produksi, serta seberapa jauh mereka membuka informasi-informasi penting seperti informasi bahan-bahan berbahaya dalam limbah mereka kepada publik. (Irlan)

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini