medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Supernova ‘Mungkin’ Berperan dalam Evolusi Bumi

Published in Informasi & Teknologi
Jumat, 08 April 2016 10:17
  • Email
Supernova (ledakan bintang terbesar) kemungkinan meningkatkan sinar kosmik yang masuk ke Bumi sebanyak 15%. {Gambar: unlitworld} Supernova (ledakan bintang terbesar) kemungkinan meningkatkan sinar kosmik yang masuk ke Bumi sebanyak 15%. {Gambar: unlitworld}

Medialingkungan.com – SUPERNOVA. Salah satu peristiwa ledakan yang paling dahsyat di jagad ini menyebabkan bumi diserbu oleh puing-puing bintang (terdekat) pada 2,3 juta tahun lalu. Setidaknya dua studi baru mengakui kebenaran tersebut.

Laporan tersebut menunjukkan, periode ‘hujan’ benda asing ini bertepatan dengan perubahan besar dalam suhu dan fauna di Bumi, yang menunjukkan bahwa supernova (ledakan bintang terbesar) mungkin telah memainkan peran dalam evolusi planet.

Dua studi itu fokus pada ‘iron-60’, sebuah isotop radioaktif yang dihasilkan dalam fase sekarat dari sebuah bintang dan dikeluarkan ke ruang angkasa oleh ledakan dan terbawa di sepanjang ruang angkasa dalam bentuk butiran debu.

Peneliti dari Universitas Nasional Australia (ANU), Dr Anton Wallner beserta rekan-rekannya menganalisis sejumlah partikel ‘iron-60’ yang ditemukan hingga lima kilometer jauhnya di dalam kerak bumi dan di sedimen dasar laut.

Para peneliti itu menganalisa 10 sampel yang diambil dari Samudera Pasifik, Atlantik dan Hindia - termasuk di lepas pantai Perth, Australia.

“Karena ‘iron-60’ ditemukan di setiap lautan besar, maka sangat rasional untuk mengasumsikan bahwa terdapat distribusi global yang seragam. Dan karena itu, mengesampingkan teori bahwa ‘iron-60’ adalah hasil dari suatu peristiwa dampak, seperti meteor,” jelas Prof Anton.

Artikel tentang sejumlah partikel ‘iron-60’, yang diterbitkan pada (7/4) di jurnal ‘Nature’, menunjukkan bahwa mereka berasal dari supernova antara 3,2-1,7 juta tahun lalu, dengan adanya bukti dari supernova sekitar 8 juta tahun yang lalu.

Dr Anton dan timnya, termasuk sejumlah peneliti dari Australia, Eropa, Jepang dan Israel, meyakini bahwa supernova terjadi sekitar 300 tahun cahaya dari Bumi. "Itu seterang bulan purnama sehingga Anda bisa melihatnya di siang hari, dan ini sangat spektakuler," ungkap Dr Anton.

Ia menambahkan bahwa Supernova juga menyebabkan "peningkatan sinar kosmik yang masuk ke Bumi" sebanyak 15 persen. "Beberapa peneliti mengklaim, sinar kosmik bisa memicu pembentukan awan lebih banyak yang akan menyebabkan penurunan suhu."

Hasil kajian ini telah menyebabkan berbagai rekaan bahwa supernova ‘mungkin’ telah memainkan peran dalam peristiwa iklim selama evolusi Bumi.

Dr Anton memperhatikan ‘kebetulan’ yang menyebut bahwa supernova yang lebih tua bertepatan dengan perubahan suhu di zaman Miosen sekitar 8 juta tahun yang lalu, sedangkan supernova sebelumnya sesuai dengan pendinginan planet saat bergerak ke zaman Pleistosen.

Namun ia mengatakan, ada "banyak pekerjaan yang harus dilakukan" pada ‘iron-60’ sebelum kesimpulan tegas bisa dihasilkan.

Dalam sebuah makalah yang terpisah, juga diterbitkan di jurnal ‘Nature’, tim peneliti Jerman yang dipimpin oleh Dr Dieter Breitschwerdt dari Institut Teknologi Berlin menggunakan pemodelan komputer untuk melacak perjalanan partikel ‘iron-60’ dari Gelembung Lokal - sebuah wilayah gas panas di galaksi Bima Sakti – ke kerak laut di dalam Bumi.

Mereka melaporkan, tanda ‘iron-60’ di kerak Bumi muncul dari dua supernova pada jarak sekitar 294 hingga 327 tahun cahaya dari Matahari. Pemodelan itu menunjukkan, supernova terdekat memiliki massa 9,2 kali dari Matahari dan terjadi sekitar 2,3 juta tahun yang lalu, sedangkan yang kedua yang terdekat memiliki massa 8,8 kali dari Matahari dan terjadi sekitar 1,5 juta tahun yang lalu.

Menanggapi laporan itu, Dr Anton mengatakan, dua studi itu "sangat cocok" dan memberikan "gambaran yang cukup konsisten dari apa yang terjadi". Meskipun tanggal terbaru dari kedua studi itu sedikit berbeda, mereka tak bertentangan dan selaras dalam batas-batas ketidakpastian studi.

Menurut Dr Anton, studinya telah mendeteksi, pemodelan tim Jerman menunjukkan dua supernova terjadi dalam waktu yang berdekatan, yang bisa menjelaskan jangka waktu yang luas dari ‘hujan benda asing’.

Ia mengatakan, temuan timnya juga akan berharga dalam menyempurnakan pemodelan di masa depan. {Fahrum Ahmad}

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini