medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Badai Salju, Mitos atau Konsekuensi Akibat Dunia Menghangat

Published in Internasional
Minggu, 28 Februari 2016 09:53
  • Email
Wilayah Times Square diprediksi akan mengalami badai salju pada 2050 {Gambar: Dan Callister/Alamy Stock/BBC Earth} Wilayah Times Square diprediksi akan mengalami badai salju pada 2050 {Gambar: Dan Callister/Alamy Stock/BBC Earth}

Medialingkungan.com – Di wilayah belahan dunia yang mengalami empat musim tidak pernah berlalu tanpa serbuan badai salju. Ini telah menjadi tradisi tersendiri untuk fenomena alam ini. Warga di New York, Amerika Serikat menjadi yang paling tidak beruntung beberapa waktu lalu.

Ada anggapan yang menyatakan, dengan dunia yang semakin hangat karena efek perubahan iklim (buatan manusia), maka tidak seharusnya terjadi badai salju besar akibat temperatur dunia makin hangat.

Munculnya anggapan ini membuahkan argument baru bahwa terjadinya badai salju besar itu bukti bahwa perubahan iklim merupakan ‘mitos’.

Dalam artikel “Will snow become a thing of the past as the climate warms” di BBC Earth (Januari 2016) dituliskan bahwa “kalaupun Anda menerima konsensus ilmiah bahwa perubahan iklim memang benar terjadi, badai salju tetap memancing kebingungan. Atau mungkin dunia sekarang ini belum cukup hangat untuk mencairkan semua salju.”

Dalam tulisan Colin Barras itu, jawaban yang sebenarnya agak mengejutkan, bahwa badai salju adalah konsekuensi dari dunia yang semakin hangat. Mungkin parakdosial, tapi hal itu wajar -- dikarenakan kita berasumsi bahwa satu-satunya kondisi untuk salju adalah cuaca dingin.

Kenyataannya, salju membutuhkan hal lain: atmosfir embun yang banyak. Embun pelan-pelan terbentuk dalam kantong yang hangat karena atmosfir bisa membawa 7% uap air yang lebih banyak untuk setiap kenaikan temperatur sebesar 1 Celsius.

Kantong air seperti itu akan menjadi lebih banyak akibat perubahan iklim dan bisa menjelaskan badai salju di pantai timur Amerika pada bulan Januari 2016 silam.

Dampaknya membuat ‘monster’ salju

Salah satu dampak perubahan iklim adalah Samudra Atlantik kini lebih hangat dibanding beberapa dekade lalu. Sebagai konsekuensi dari penghangatan ini adalah udara di atas Atlantik juga menjadi tidak seperti biasa, yaitu menjadi hangat dan lembab.

Seperti dituliskan Colin, ketika udara panas bertemu dengan udara kering dan dingin dari Kutub Utara, terbentuklah badai musim dingin dan artinya ada kondisi yang tepat untuk jatuhnya ‘monster’ salju.

Pantai timur Amerika diperkirakan akan dilanda cuaca musim dingin yang ekstrem untuk beberapa tahun mendatang, karena syarat menciptakan snowmageddon terus terpenuhi.

Hal ini disebabkan karena Samudra Atlantik terus menyuplai udara panas dan lembab ke kawasan itu di musim dingin – kemudian, Kutub Utara terus mengirim udara dingin yang kering ke arah selatan.

“Sesuatu yang mungkin adalah bahwa Kutub Utara menjadi bebas es dalam jangka waktu yang pendek, dalam waktu 30 tahun, yaitu ketika musim panas. Namun musim dingin di Kutub Utara akan tetap es yang lembab,” jelas Kevin Trenberth dari Pusat Nasional untuk Penelitian Atmosfir di Boulder, Colorado.

“Jadi udara benua yang dingin akan tetap terbentuk,” sambungnya.

Musim Salju Lebih Pendek?

Sementara itu, Paul O’Gorman dari Massachusetts Institute of Technology, MIT mengatakan, perubahan iklim merupakan hal yang rumit. Bahkan jika dunia yang lebih hangat membantu penciptaan kondisi untuk hujan salju ekstrem di beberapa wilayah, tidak berarti bahwa lebih banyak salju secara umum. "Hujan salju ekstrem bereaksi dengan amat berbeda dari hujan salju musiman,” jelasnya.

Lebih lanjut ia katakan, untuk daerah kurang dari 1.000 meter di atas permukaan laut dan yang beberapa waktu mengalami suhu di bawah beku, dia menemukan bahwa peluang untuk hujan salju yang ekstrem akan mengecil dengan tingkat rata-rata 8 persen. ,Namun jumlah salju yang turun di kawasan tersebut setiap musim dingin mungkin turun dengan rata-rata 65 persen.

"Daerah-daerah itu adalah tempat dengan hujan salju yang diperkirakan berkurang, sementara, sebagai perbandingan, intensitas dari hujan salju yang ekstrem tidak banyak berubah, atau malah mungkin meningkat,” ujar O’Gorman.

Dengan kata lain, salju mungkin akan lebih berkurang di masa depan dan musim salju mungkin akan lebih pendek, tapi badai salju mungkin masih sehebat seperti sekarang. “Jelas merupakan berita buruk bagi usaha yang mengandalkan salju.”

Trenberth menambahkan bahwa akan banyak kawasan salju di pantai timur Amerika Serikat yang mungkin akan tidak bisa melanjutkan usaha karena sifat badai salju yang lebih sporadis, kecuali mereka bisa memanfaatkan situasi ini. {Fahrum Ahmad}

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini