medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Chef Pasteau: Makanan Lezat Itu Baik Untuk Iklim

Published in Internasional
Jumat, 19 Februari 2016 18:24
  • Email
Chef Francois Pasteau menguraikan keterkaitan pola konsumsi makanan dengan perubahan iklim di Restoran L'Epi Dupin, Prancis. {Gambar: VOA} Chef Francois Pasteau menguraikan keterkaitan pola konsumsi makanan dengan perubahan iklim di Restoran L'Epi Dupin, Prancis. {Gambar: VOA}

Medialingkungan.com – Chef Francois Pasteau dari Restoran L'Epi Dupin di tengah kota Paris menyajikan makanan unik sekaligus dalam visi memerangi perubahan iklim. Pasteau memimpin perubahan pada pola konsumsi, khususnya makanan.

Sebelum perundingan iklim di Paris, Desember 2015 lalu, ia membentuk Good for the Climate Association dengan mengajak 50 restoran untuk menawarkan menu yang menyajikan sayur-sayuran lokal dan musiman, dan menggunakan lebih sedikit daging.

Filosofi kuliner Chef Francois Pasteau, menyajikan makanan dengan sup wortel-jahenya yang berwarna kuning keemasan. Wortel yang digunakan diambil dari pinggiran kota. Wortel-wortel itu sudah dicuci, tapi tidak dikupas. Supnya disajikan dengan krim kocok yang diwarnai hijau muda dan wortel yang dihaluskan. "Tidak ada yang dibuang sedikitpun," ujarnya.

Hanya satu bahan yang tidak ia dapatkan secara local, yaitu jahe segar. Namun, ia tetap harus menggunakannya. Jahe adalah kunci rasa sup itu. "Anda harus berhati-hati untuk cita rasa," sambungnya.

Kala itu, ibukota gastronomi menjadi tuan rumah KTT Iklim PBB (COP21). Pasteau ingin menunjukkan bahwa orang-orang bisa mengonsumsi makanan yang lezat dan masih bisa membantu menjaga iklim.

Menurut PBB, pada makanan yang dikonsumsi, termasuk lahan yang dibuka untuk memproduksinya, menyumbang seperlima atau lebih emisi rumah kaca di seluruh dunia. Pemeliharaan ternak adalah sumber terbesar jejak karbon (footprint) pertanian, padahal orang-orang di seluruh dunia menerapkan pola makan yang banyak mengandung daging seperti di Amerika dan Eropa.

“Penting untuk mengubah konsumsi negara-negara yang mempengaruhi evolusi seluruh dunia," ujar ahli iklim dan pertanian Alexandre Meybeck dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO).

Melihat potensi itu, Pasteau ingin kuliner Perancis menjadi membuka jalan ke arah itu. Menurutnya, hasil bumi lokal dan yang sedang musim kualitasnya lebih baik dan mengandung lebih banyak gizi, kata Pasteau, dan karena dekat, emisi gas rumah kaca untuk membawa hasil bumi lokal ke pasar lebih sedikit.

Pasteau menekankan bahwa metodenya bukan tentang menghapus sama sekali bahan-bahan tertentu dari makanan yang disajikan. "Bukan dihukum (karena) berlaku baik terhadap iklim," ujarnya. Kita menikmati makanan karena daging yang disajikan enak, tidak terlalu banyak, tapi dari bagian yang bagus, dan sangat enak,” jelasnya.

Atas upayanya itu, Menteri Lingkungan Perancis Segolene Royal, pada acara sampingan konferensi iklim, memberikan penghargaan pada Pasteau atas upayanya yang menunjukkan bahwa makanan yang lezat juga bisa baik untuk iklim.

Meybeck mengatakan, kehadiran chef yang mau memimpin perubahan menu makan sangat penting. "Salah satu hal yang paling sulit dilakukan adalah mengganti perilaku konsumsi," ujarnya.

"Cara terburuk, menurut saya, adalah mengatakan, 'Anda tidak boleh melakukan ini.' Tapi menghargai cara makan lain, bagi saya, adalah salah satu cara terbaik (untuk mengganti perilaku konsumsi),” sambungnya pada VOA.

Meybeck menambahkan, tidak ada cara makan yang terbaik. Semuanya tergantung dari di mana seseorang berada dan dari mana makanannya berasal. Walaupun orang Barat cenderung makan terlalu banyak daging, tapi tidak demikian di sebagian besar negara-negara berkembang.

Selain itu, ia menyontohkan, kekurangan zat besi adalah masalah gizi paling umum di dunia. "Cara paling mudah mengatasinya adalah dengan makan daging. Tidak perlu melarang makan daging," katanya.

Lebih lanjut ia katakan, menu makan Barat yang berlebihan saat ini telah menyebar ke seluruh dunia, “intinya adalah mengenali makanan yang kita makan.”

"Ini adalah tentang menemukan kembali pentingnya makanan," ujarnya. "Orang-orang yang menghabiskan 70 persen penghasilannya untuk makanan tidak kehilangan logika ini. Tapi kita sudah." {Fahrum Ahmad}

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini