medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

CIFOR: Masa Depan Keberlanjutan Bentang Alam Masih Terkendala

Published in Internasional
Rabu, 09 Desember 2015 11:13
  • Email
Diperlukan banyak investasi di berbagai bidang baru agar sektor-sektor swasta tertarik bergabung, menurut para panelis di Forum Bentang Alam Global. {Gambar: Pilar Valbuena/CIFOR} Diperlukan banyak investasi di berbagai bidang baru agar sektor-sektor swasta tertarik bergabung, menurut para panelis di Forum Bentang Alam Global. {Gambar: Pilar Valbuena/CIFOR}

Medialingkungan.com – Konferensi Perubahan Iklim ke-21 (COP21) Konvensi Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Ikli m (UNFCC) di Paris, Perancis memberikan perhatian yang lebih besar terhadap isu tata guna lahan dan mata pencaharian masyarakat. Hal ini membuat para simpatisan dari pemanfaatan tata guna lahan terpadu mendapatkan dukungan dalam Forum Bentang Alam Global 2015 (Global Landscape Forum 2015/GLF).

Di satu sisi, simpati terhadap upaya tersebut bertadangan, namun di sisi lain, para panelis yang hadir dalam Forum GLF 2015 khawatir karena untuk mencapai manajemen tata kelola lahan berkelanjutan, diperlukan sejumlah investasi yang besar.

“Dan kenyataannya -- dana yang diperlukan tersebut memang belum tersedia,“ kata Ngozi Okonjo-Iweala, ekonom dan mantan menteri keuangan Nigeria, dalam sesi pembukaan acara GLF 2015 (05/12).

Forum yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) bersama dengan konsorsium mitra itu, dihadiri kurang lebih 2000 partisipan. Dalam rilisnya CIFOR menyatakan bahwa dalam GLF 2015 akan isu peran pemanfaatan lahan dalam kerangka perubahan iklim dan pencapaian pembangunan berkelanjutan akan dieksplorasi lebih dalam.

Okonjo-Iweala memaparkan fakta bahwa sebagian besar negara-negara di Afrika telah memasukkan intervensi pemanfaatan lahan ke dalam Kontribusi Nasional Yang Ditentukan (INDCs), sebagai bagian dari negosiasi perubahan iklim, terutama atas rujukan FAO yaitu sepertiga bentang alam pertanian yang terdegrasi ada di negara-negara berkembang.

Ia mengutip laporan terbaru dari Proyek Baru Ekonomi Perubahan Iklim yang memperlihatkan bahwa diperlukan 250 miliar dolar AS setiap tahunnya untuk pembiayaan konservasi bentang alam dan restorasi, termasuk kegiatan-kegiatan yang digambarkan oleh Okonjo-Iweala sebagai hal penting untuk mencapai tiga pencapaian penting bagi pembangunan dan perubahan iklim: meningkatkan produktivitas pedesaan, ketahanan, dan mitigasi secara bersamaan.

Sayangnya, menurut laporan tersebut, pengeluaran saat ini hanya tersedia $25 miliar AS, dan 60% dana berasal dari anggaran dalam negeri. “Bukankah seharusnya dana itu berasal dari negara-negara donor kaya? Ya. Namun apakah mungkin? Belum tentu,“ ungkap Okonjo-Iweala.

“Kabar baiknya yaitu ada lebih dari 100 triliun dolar AS modal investasi kapital swasta, dengan tingkat suku bunga yang sangat rendah,” tambahnya. “Tetapi kabar buruknya yaitu investasi bentang alam di negara-negara berkembang secara inheren adalah berisiko.”

PENDANAAN MELAWAN DEFORESTRASI

Sementara itu, beberapa pembicara lain di Forum itu bergabung dengan para ekonom terkenal dan memulai menyerukan perlunya pemerintah dan dorongan finansial dari para pendonor untuk fokus pada penurunan risiko dan pembukaan bidang investasi baru -- yang bisa mengajak sektor swasta untuk bekerja sama.

Salah satunya adalah Baroness Ariane de Rothschild, Ketua Komite Eksekutif dari kelompok perbankan Perancis Edmond de Rothschild mengatakan, berkurangnya subsidi pemerintah dan dana filantropi yang tidak cukup membiayai peperangan melawan deforestasi -- untuk menahan laju perubahan iklim.

Ia menyebutkan tantangan lain yaitu durasi investasi yang diperlukan – mulai 10 sampai 20 tahun.

Selain itu, Baroness Ariane de Rothschild juga memaparkan bahwa lembaganya telah mengelola dana investasi, seperti dana Gingko Advisor sebesar 300.000.000 Euro yang didedikasikan bagi pemulihan tanah tercemar di Eropa atau dana pengembangan Moringa sebesar € 80.000.000 Euro yang difokuskan pada agroforestri lestari.

Kendati demikian, ia mengakui masih terdapat potensi jelas dalam kasus tersebut, yakni investasi yang belum berjalan pada level yang sesuai dengan kebutuhan.

Pada sesi pembukaan Forum, Direktur Jenderal CIFOR, Peter Holmgren menambahkan, pernyataan bahwa dana ratusan juta dolar mengalir melalui tangan-tangan mereka yang mendiami dan mengelola bentang alam pedesaan di seluruh dunia, mulai dari pertanian hingga pengiriman. “Ekonomi bentang alam sangat besar sehingga investasi bentang alam harus ditingkatkan. Sangat krusial untuk melakukan investasi yang dapat menghasilkan keuntungan nyata,” katanya.

HUBUNGKAN (LAGI) RANTAI PANGAN

Sementara itu, Emmanuel Faber, CEO Danone mengatakan, salah satu upaya menanggapi investasi bentang alam berkelanjutan yaitu dengan cara meneliti rantai pasokan perusahaan.

Lebih lanjut ia jelaskan bahwa industri makanan telah membangun rantai nilai yang kompleks di seluruh dunia, sementara “di sisi lain kita semua lupa bahwa bahan pangan berawal dari tanah. Kita telah memutuskan rantai makanan. ”

Menurut Faber, (konsekuensi) karbon merupakan “ukuran seberapa tidak terkoneksinya kita”. Meski Danone telah menstabilkan emisi gas rumah kaca dalam beberapa tahun terakhir, namun menurutnya hal itu tidak cukup. Dan saat ini pihaknya mulai memaksimalkan pencapaian target pengurangan emisi dalam waktu 10 tahun.

Faber menambahkan bahwa usaha Danone akan melampaui operasi perusahaan – dimulai dari pertanian hingga konsumen. “Alih-alih melihat bagian dari siklus yang kami kontrol, sekarang kami akan bertanggung jawab atas emisi karbon, siklus penuh proses perusahaan,” katanya.

Hal ini akan menjadi tantangan, mengingat bahwa sektor pertanian – yang memasok bahan baku Danone – mengemisi tiga kali lebih banyak gas rumah kaca dibandingkan emisi perusahaan.

Ia juga mengakatakan bahwa perubahan itu akan berimbas pada biaya, namun kepentingan rantai pasokan lestari perusahaan lebih penting -- seperti mendaur ulang wadah produk PET, yang mungkin tidak menguntungkan di titik-ini “Tapi saat biaya minyak akan sebesar 150 dolar AS atau 200 dolar AS -- hal itu akan terlambat.” {Fahrum Ahmad}

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini