medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

COP23: Hutan Adat Bisa Jadi Kunci Cegah Malapetaka Perubahan Iklim

Published in Internasional
Jumat, 10 November 2017 14:57
  • Email
Ilustrasi Masyarakat Adat Hutan Amazon. (Gambar: National Geographic) Ilustrasi Masyarakat Adat Hutan Amazon. (Gambar: National Geographic)

Medialingkungan.com -  Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP 23), di Bonn, Jerman telah sampai pada titik kritisnya. Kebanyakan ilmuwan iklim sekarang sepakat bahwa upaya pengurangan karbon yang disepakati di Paris, tahun 2015 lalu tidak cukup untuk menjaga suhu global dari kenaikan 2 derajat celcius di atas tingkat pra-industri, dengan implikasi bencana yang berpotensi bagi peradaban manusia.

Saat ini, ilmuwan melihat bahwa upaya memerangi deforestasi dan degradasi menjadi strategi penting bagi dunia untuk memenuhi tujuan pengurangan karbon yang telah ditetapkan di Paris pada tahun 2015, dan mencegah kenaikan suhu 2 derajat celcius pada akhir abad ini.

Seperti dilansir dari Mongabay, Ilmuwan di Pusat Penelitian Woods Hole di Massachusetts baru-baru ini menetapkan bahwa hutan tropis dapat mengalami kerugian sekitar 425 juta ton karbon antara tahun 2003 dan 2014, yang sebagian besar disebabkan oleh deforestasi dan degradasi hutan. Selain itu, ditemukan juga bahwa sebesar 1,1 miliar metrik ton karbon dikeluarkan secara global dari daerah hutan dan penggunaan lahan setiap tahunnya. 5,5 miliar metrik ton karbon dilepaskan melalui deforestasi dan degradasi, sementara 4,4 miliar metrik ton karbon diserap melalui hutan tegakan di lahan yang dikelola.

Penelitian baru lainnya menemukan bahwa pengelolaan hutan masyarakat adat dan tradisional dapat menawarkan kunci untuk membatasi emisi, dan memberi waktu kepada dunia untuk beralih ke ekonomi energi hijau. Dalam studi terpisah, tingkat deforestasi Amazon ditemukan lima kali lebih besar di luar wilayah adat dan unit konservasi daripada di dalamnya.

"Kami menemukan bahwa, secara umum, tingkat deforestasi lima kali lebih besar di luar wilayah dan unit konservasi masyarakat adat daripada di wilayah tersebut," ungkap Jocelyn Thérèse, dari Guyana Prancis dan Wakil Koordinator di Badan Koordinasi Organisasi Adat di Lembah Sungai Amazon (COICA).

Delegasi pemimpin masyarakat adat dan pedesaan dari Amerika Latin dan Indonesia angkat bicara terkait hal ini, dengan mengatakan bahwa keduanya dapat memainkan peran kunci dalam membantu mengelola hutan dunia untuk mengurangi emisi.  Para pemimpin ini yakin bahwa masyarakat adat dan hutan tradisional mereka memiliki kontribusi penting.

"Kami adalah solusi yang terbukti untuk perlindungan hutan jangka panjang, yang kelangsungan hidupnya sangat penting untuk mencapai tujuan perubahan iklim kita," kata Mina Setra, Wakil Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), yang mewakili 17 juta orang masyarakat adat di Indonesia. (Muchlas Dharmawan)

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini