medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Lelucon Vulgar Dutton Buat Negara di Pasifik Marah, Dirinya Terancam Dicopot

Published in Internasional
Senin, 14 September 2015 08:50
  • Email
Peter Dutton mengatakan dia melakukan kesalahan karena tidak menyadari didekatnya berdiri ada mikrofon sehingga perbincangan santainya dengan Perdana Menteri tersiarkan. (Gambar: AAP) Peter Dutton mengatakan dia melakukan kesalahan karena tidak menyadari didekatnya berdiri ada mikrofon sehingga perbincangan santainya dengan Perdana Menteri tersiarkan. (Gambar: AAP)

Medialingkungan.com – Pasca pertemuan Pacific Island Forum (PIF) pekan lalu, perwakilan Australia angkat bicara mengenai penderitaan atas kenaikan permukaan air laut di negara-negara kepulauan pasifik akibat dampak perubahan iklim.

Australia dikenal sebagai yang paling berpengaruh dan berkuasa di antara 16 negara anggota lainnya di PIF. Untuk itu, usulan untuk mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim dari pihak Australia diharapakan memiliki dukungan penuh terhadap negara-negara anggota lainnya.

Namun, seorang menteri kabinet Australia justru menegaskan bahwa pihak Australia tidak bertanggung jawab dan menyinggung orang-orang Pasifik.

Radio New Zealand melaporkan, pada Minggu (13/09) bahwa Menteri Imigrasi Australia, Peter Dutton, pada Sabtu (12/09) bersenda gurau dan menyindir orang-orang Pasifik saat ia berbicara dengan Perdana Menteri negaranya, Tony Abbott, yang baru saja kembali dari pertemuan Forum Kepulauan Pasifik di Papua Nugini, pada Kamis (10/09).

Awal pertemuan puncak itu menggaris bawahi pembatasan kenaikan suhu global tidak lebih dari 1,5 derajat Celcius sejak era pra-industri -- dengan alasan rendahnya ketahanan adaptasi di negara-negara daratan rendah yang mengakibtkan gelombang pengungsian besar-besaran. Sedangkan Selandia Baru dan Australia sejauh ini terjebak dengan target PBB yang mempromosikan 2 derajat Celcius.

Namun, Australia justru seakan berada diluar PIF. Dalam pertemuan tersebut, Dutton mengatakan bahwa berjalan ke “waktu Cape York”, dan dijawab Abbott, “Kami memiliki sedikit yang sampai di Port Moresby.”

Dutton kemudian menjawab: “Waktu tidak berarti apa-apa bila anda mendapatkan air sedang memukul-mukul di depan pintu anda,” Dutton dan Abbott lantas tertawa.

Menteri Layanan Sosial, Scott Morrison, kemudian menegur dan mengingatkan bahwa terdapat mikrofon televisi yang besar tepat di atas mereka.

Komentar tersebut sontak melahirkan kemarahan para pemimpin negara-negara Pasifik, khususnya pulau-pulau dataran rendah yang sedang berjuang melawan kenaikan permukaan air laut dan mengintensifkan sistem cuaca.

Presiden Kiribati, Anote Tong, sebelumnya telah memperingatkan bahwa Australia terancam didepak dari keanggotaan PIF jika tidak dianggap acuh tehadap ketahanan negara-negara PIF dari dampak perubahan iklim.

Anote Tong mengatakan lelucon tersebut menunjukkan rasa moral yang tidak bertanggung jawab dan tak pantas diucapkan oleh kepemimpinan dalam kapasitas apa pun. Dia juga memperingatkan Dutton bahwa menteri imigrasi Australia di masa depan harus berurusan dengan gelombang pengungsi dari negara-negara Pasifik dataran rendah seperti Kiribati, jika permukaan laut terus meningkat.

Menteri Luar Negeri Kepulauan Marshall, Tony de Brum, menulis di laman Twitternya bahwa dirinya gundaha melihat kondisi perselisihan tersebut. “(pernyataan itu) tampaknya ketidakpekaan yang tidak mengenal batas polusi besar yang sedang turun di pulau (selatan).”

De Brum melanjutkan: “Lain kali gelombang yang menerjang rumah saya dan cucu-cucu saya ketakutan -- saya akan meminta Peter Dutton datang, dan kita akan lihat apakah dia masih tertawa.” Kendati demikian, Dutton menolak berkomentar tentang leluconnya – dan menganggapnya sebagai percakapan pribadi.

Menyikapi pernyataan dari negara-negara PIF, Dutton kepada Sky News mengatakan, dirinya menyesalkan percakapan pribadinya dengan PM Abbott. "Saya seharusnya menyadari kalau didekat saya ada mikrofon, tetapi saya tidak menyadarinya, mikrofon itu ada tepat dibelakang saya dan saya melakukan kesalahan. Saya meminta maaf pada siapa saja yang merasa tersinggu dengan pernyataan saya."

"Itu merupakan percakapan ringan antara saya dan PM dan saya tidak bermaksud menyerang siapapun. Jika ada yang merasa tersinggung maka saya meminta maaf,"

Wakil Partai Buruh, Tanya Plibersek mengatakan, permohonan maaf Peter Dutton tidak akan berpengaruh banyak. "Dia seharusnya meminta maaf kepada para pemimpin Pasifik dan juga pada warga Australia di Cape York.

Menurut Pilbersek, Dutton tampaknya telah mempermalukan jutaan orang Australia hanya pada satu kesempatan.

"Masyarakat Pasifik sedang mengkhawatirkan fakta badai dan permukaan air terus memakan daratan di negara mereka, mereka tidak bisa menanam tanaman lagi dan mereka juga tidak bisa memperoleh air bersih. Kita sedang menyaksikan kemunculan pengungsi iklim yang terpaksa meninggalkan rumah mereka," ungkapnya.

Di tengah kepanikan atas dampak kenaikan air laut yang melanda Negara berdaratan rendah di Negara Kepulauan Pasifik, komentar tajam tersebut membuat gap antar anggota PIF semakin jauh. "Itulah yang mengkhawatirkan dari pernyataan itu, Peter Dutton mengira hal itu sebuah lelucon dan Tony Abbott mentertawakan pula lelucon itu," sambung Pilbersek.

Permintaan maaf ini muncul setelah Pemimpin Oposisi, Bill Shorten menyerukan agar Peter Dutton diberhentikan dari Kabinet atas pernyataannya.

Pada hari Sabtu (12/09), Shorten mengatakan, Perdana Menteri harus segera memutuskan nasib Dutton di kabinetnya. "Abbott sekarang harus membuat pilihan. Apakah orang-orang dengan pandangan rendah semacam ini masih layak untuk berada dijajaran kabinet di negera ini," katanya.

"Apakah dia akan memilih Peter Dutton atau apakah Ia lebih memilih warga Australia? Anda tidak bisa memilih keduanya." (Fahrum Ahmad)

 

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini