medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Greenpeace Kecam JBIC Mendanai PLTU Batubara

Published in Nasional
Sabtu, 04 Juni 2016 13:23
  • Email
Pak Jono, seorang nelayan berusia 50 tahun, sedang merapihkan jaring sebelum melaut untuk mencari ikan di sekitar perairan PLTU Batubara Cilacap. Sejak PLTU tersebut beroperasi, ia mengalami penurunan pendapatan. {Gambar: Greenpeace Indonesia} Pak Jono, seorang nelayan berusia 50 tahun, sedang merapihkan jaring sebelum melaut untuk mencari ikan di sekitar perairan PLTU Batubara Cilacap. Sejak PLTU tersebut beroperasi, ia mengalami penurunan pendapatan. {Gambar: Greenpeace Indonesia}

Medialingkungan.com – Disaat negara adidaya seperti Amerika telah mengganti ketergantungannnya terhadap batubara ke energi terbarukan seperti panas bumi, angin dan mtahari, pemerintah Indonesia malah tak bergeming.

Bahkan, saat ini pemerintah Indonesia kembali berencana untuk menambah puluhan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batubara baru. Sementara itu, puluhan PLTU Batubara yang masih beroperasi masih terus meneror masyarakat dengan polutan beracun termasuk merkuri, timbal dan partikel beracun lainnya.

Kemarin (03/06), Japan Bank for International Cooperation (JBIC) menandatangani perjanjian kredit sebesar USD 2.052.000 atau sekitar Rp. 282 Milliar dengan perusahaan PLTU Jawa Tengah (PLTU Batang) yang berkapasitas 2 x 1000 MegaWatt, PT. Bhimasena Power Indonesia.

Arif Fiyanto, Koordinator Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Asia Tenggara, mengatakan bahwa hal tersebut adalah pukulan besar bagi para petani dan nelayan Batang. Tidak hanya lahan yang di rampas dari para petani dan nelayan Batang, adanya  PLTU Batang juga menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat sekitar.

Meskipun pihak JBIC telah mengklaim bahwa PLTU Batang telah menggunakan teknologi ramah lingkungan, namun Arif membantah hal tersebut.

“Bagaimana mungkin PLTU yang melepas SO2 dan NOx ke udara, serta berkontribusi besar terhadap perubahan iklim, tidak bisa dikatakan ramah lingkungan. Presiden Bank Dunia, Jim Yong Kim, bulan lalu menyoroti bahaya perkembangan batubara di Asia. Dia mengatakan bahwa batubara sama dengan bencana bagi planet ini. Persetujuan JBIC untuk kredit ini membawa kita satu langkah lebih dekat menuju bencana itu,” ujar Arif.

Arif sangat mengecewakan tindakan JBIC mendanai proyek PLTU Batang. Ia lebih setuju apabila dana tersebut digunakan untuk mendanai pembangunan potensi energi terbarukan yang sangat besar di Indonesia, yang nantinya akan memberikan listrik bersih dan aman bagi masyarakat, serta bagi generasi mendatang. {Suterayani}

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini