medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Fenomena Rumah-Rumah Hantu Resahkan Petani Desa

Published in Nasional
Kamis, 01 Desember 2016 22:44
  • Email
Potret rumah-rumah hantu yang menjamur di Desa Sukamulya (Sumber: KNPA) Potret rumah-rumah hantu yang menjamur di Desa Sukamulya (Sumber: KNPA)

Medialingkungan.com – Konflik antara Petani Desa Sukamulya, Majalengka, Jawa Barat dan pemerintah Provinsi Jawa Barat masih terus berlanjut. Setelah bentrok warga dengan 2000 gabungan aparat Brimob, TNI AD dan Pamong Praja yang terjadi beberapa waktu lalu, sekarang bermunculan fenomena rumah hantu yang membuat petani menjadi semakin resah. Rumah hantu ini merupakan istilah yang diberikan warga kepada rumah yang tiba-tiba saja bermunculan sebagai “alat” bagi makelar tanah untuk menaikkan harga tanah yang menjadi sengketa untuk pembangunan Bandara Kertajati.

Seperti yang dilansir oleh Mongabay Indonesia, rumah-rumah yang beratap asbes dan berdinding triplek dengan ukuran 10x14 meter tersebut baru dibangun ketika pengukuran tanah dan ganti rugi mulai berjalan. Bambang Nurdiansyah yang merupakan anggota dari Front Perjuangan Rakyat Sukamulya (FPRS) berdasarkan dari hasil penelusuran lapangan menyebutkan bahwa rumah-rumah tersebut berdiri hanya sebagai modus yang dilakukan oleh oknum pejabat dari tingkat kecamatan sampai tingkat kabupaten utntuk menaikkan harga jual tanah.

Sekertaris Jenderal Nasional Konsorsium Pembangunan Agraria (KPA), Dewi Kartika mengatakan bahwa pihaknya mengindikasikan adanya korupsi pada proses pembebasan lahan di Sukamulya.

Dewi menerangkan bahwa rumah-rumah dadakan itu berasal dari hasil sewa tanah dengan modal Rp.1 juta ditambah dengan Rp.20 juta untuk membangun rumah hantu, kemudian makelar tanah tersebut menjual tanahnya dengan kisaran harga Rp.100 juta. Sehingga mereka mendapatkan untung sebesar Rp.80 juta dari hasil penjualan rumah hantu tersebut.

Ada juga “rumah setan”, bedanya rumah setan hanya terdiri dari tanah kosong. Namun, pada saat pemberkasan, makelar tanah melampirkan berkas desain rumah yang akan dibangun sehingga tanahnya akan dijual lebih mahal.

KPA mencatat bahwa ada tiga jenis ganti rugi tanah untuk menggusur desa, yaitu tanah sawah dengan harga ganti rugi Rp. 125.000 per meter, pekarangan Rp.1 juta per meter, dan bangunan Rp.2,5 juta per meter. Penetapan harga juga dilakukan tertutup tanpa adanya sosialisasi yang dilakukan kepada warga desa sebelumnya. Sehingga, pada akhirnya tanah warga kemudian diukur paksa oleh pejabat yang berwenang.

Kepada Mongabay, Dewi mengatakan bahwa pemerintahan Jokowi masih bermasalah dalam menyelesaikan konflik agraria. Kekerasan dan penistaan terhadap petani masih menjadi bagian dari penyelesaian konflik tersebut. Apalagi dalam hal perencanaan pembangunan Bandara Kertajati yang didalamnya banyak terjadi praktik manipulasi dan terindiksi korupsi.

"Peristiwa Sukamulya juga menjadi sebagian kecil dari banyak contoh buruk proses pembangunan infrastruktur dan ketidakberpihakan Negara terhadap petani. Sekaligus cermin dari kemunduran demokrasi," ujar Dewi. (Suterayani)

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini