medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

PR baru pemimpin baru

Published in Nasional
Kamis, 28 Agustus 2014 08:00
  • Email

Medialingkungan.com - Pada debat presiden yang terakhir, yakni tentang ‘pangan, energi dan lingkungan’, kita disuguhkan dengan lontaran-lontaran program menarik yang ‘kira-kira’ bisa diprediksi secara rasional untuk dikerjakan dan dituntaskan dalam tempo yang sesegera mungkin.

Belum lama waktu gelontoran janji diperdengungkan, sekarang mampir ujian perdana pada pra-pelantikan presiden dan wakil presiden yang baru.

Kisruh masyarakat terhadap kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) mungkin adalah bayangan dari rusaknya mekanisme korporasi menangani sumber daya alam kini. Khusus Indonesia sebagai negara dengan kekayaan alam yang melimpah-ruah tak seharusnya merasakan demam BBM. ‘cekikan’ sumber bahan bakar menggerogoti rakyat hampir seluruh wilayah Nusantara.

Teringat sebuah ucapan dari sang poklamator negara ini, “Gerak adalah sumber kehidupan dan gerak yang dibutuhkan di dunia ini bergantung pada energi, siapa yang menguasai energi dialah pemenang”.

Ucapan ini lantas tak beralasan -- mengingat hampir seluruh aktivitas manusia saat ini bergantung pada mobilisasi modern. Aktivitas ini juga telah bergantung pada teknologi yang juga membutuhkan energy.

Tumpang tindih kepentingan antara kepentingan ekonomi dan politis, kepentingan lingkungan, serta kepentingan kebutuhan lainnya menyebabkan peraduan yang tak kunjung menuai hasil positif. Negara ini dinilai telah melakukan pemanfaatan minyak sebagai energi  secara berlebihan dan melampaui batas kewajaran.

Diversifikasi Kepentingan

Bukan secara kebetulan, tiap tahun negara ini harus mengimpor BBM karena kebutuhan masyarakatnya yang tinggi dan dinilai menimbulkan terjadinya ‘pengurasan’ sumber daya fosil seperti minyak dan gas bumi serta batu bara. Padahal, salah satu kawasan di Duri, Riau konon katanya merupakan ladang penghasil minyak terbesar didunia dengan angka produksi yang fantastis per harinya.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa negara asing punya pengaruh besar terhadap kebijakan negara ini. Pemerintah terlihat ragu-ragu mengambil kebijakan dan terkesan menunggu didikte dari ‘invisible hand’ yang seolah-olah entah dimana namun jelas terlihat secara kasat.

Iwan Piliang sampai berani mengatakan ‘maling minyak’ bukannya mafia minyak, pada siaran talk show di salah satu televisi swasta. Iwan mengatakan bahwa rakyat Indonesia harus menanggung beban sebesar 10 Triliun per tahun akibat kelakuan maling minyak. “kita di embargo oleh para maling,” kata Iwan.

Secara koherensif, beberapa energi alternatife meski kini mulai memasuki area komersil. Solusi ini bisa ditawarkan beberapa opsi metode. Misalnya Muhammad Daud, seorang ahli energi mengungkapkan bahwa diversifikasi energi mampu menekan pengerukan energi. Diversifikasi energi merupakan penganekaragaman pemakaian energi dengan meningkatkan pemanfaatan energi baru dan terbarukan seperti tenaga surya, biomassa, angin, energi air, dan panas bumi.

Pelantikan presiden wakilnya tak lama lagi berlangsung. Pemimpin yang saat ini tak seharusnya membagi beban, dan penerus tak boleh ongkang-ongkang kaki menyaksikan peristiwa BBM yang mulai tak kondisional.

Pekerjaan rumah menunggu kabinet baru untuk lekas bekerja. Indonesia memiliki tantangan yang besar terutama menganai krisis energi, pangan, lingkungan, kelangkaan air, perubahan iklim dan metipisnya luas hutan tropis di Indonesia yang merupakan habitat alami flora dan fauna, dan pengatur sistem penyaangga kehidupan yang tak hanya sekedar pemanis saat kampanye. (MFA)

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini