medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Rumah Panggung ; Kegalauan antara Pelestarian Lingkungan dan Pelestarian Budaya

Published in Opini
Selasa, 17 Juni 2014 19:08
  • Email

Oleh Ahmad Afif S.hut

Tim layanan Kehutanan Masayarakat dan Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Kab.Tarakan

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki keragaman dan kekayaan budaya paling tinggi di Dunia. Berdasarkan data BPS tahun 2011, dari Sabang sampai Merauke, setidaknya tercatat 1.128 suku dan belum termasuk suku yang tinggal di pedalaman yang belum bisa teridentifikasi dan diyakini memiliki jumlah tidak sedikit.

Keragaman suku ini akan melahirkan keragaman budaya, karakter, bahasa, dan pola pikir masyarakatnya. Dengan keragaman budaya besar, sudah menjadi kewajiban negara untuk melindungi kekayaan budaya bangsa ini. Hal ini sangat penting, mengingat klaim yang telah sering terjadi oleh beberapa negara tetangga bahwa kekayaan budaya Indonesia, sebut saja batik, reog, tari pendet, dan hingga makanan khas.

Pengakuan budaya Indonesia oleh negara tetangga tentu saja bukan tanpa sebab. Salah satu sebabnya adalah kita sebagai pewaris budaya cenderung lupa akan budaya kita sendiri dan seringkali kita berkiblat kepada budaya asing (barat) yang kita anggap lebih maju dan modern.

Saat ini pemerintah tengah gencar mendaftarkan sebayak-banyaknya kekayaan budaya Indonesia ke UNESCO agar dikemudian hari, klaim semacam ini tidak terulang lagi.

Sebagai masyarakat pewaris budaya, kita semestinya bangga dengan budaya yang di wariskan kepada kita. Rumah Panggung merupakan salah satu warisan budaya yang saat ini perlu kita lestarikan.

Rumah panggung merupakan karakter dari sebagian besar model rumah adat di negara ini. Model rumah panggung dapat langsung dikenali karena lantainya yang menjulang tinggi karena di topang oleh beberapa tiang yang keseluruhan bahannya adalah kayu.

Menyimak perjalanan beberapa dasawarsa terakhir, masyarakat cenderung kurang meminati bangunan rumah panggung dan lebih memilih mendirikan rumah secara permanen (rumah batu) dengan konsep dan gaya yang beragam mulai dari, gaya minimalis, gaya eropa, gaya timur tengah, dan sebagainya. akibatnya, saat ini keberadaan rumah panggung semakin hari semakin sedikit.

Keberadaannya yang mulai ditinggalkan oleh masyarakat tentu saja akan sangat mengancam kelestariannya. Jika kita tidak ingin melestarikannya, maka secara tidak langsung kita menyerahkan kepada negara/bangsa lain untuk melestarikannya.

Apakah itu yang kita inginkan? Apakah kita menunggu sampai negara lain mengklaim rumah panggung sebagai miliknya kemudian kita bersuara di meja hijau ?.

Terlepas dari itu semua, penulis juga menyadari bahwa saat ini, untuk mendirikan sebuah rumah panggung tidaklah segampang dulu. Mengingat, biaya pembuatannya yang saat ini semakin mahal dan bahan kayu yang semakin sulit diperoleh.

Kelangkaan kayu untuk bahan baku rumah panggung sangat erat kaitannya dengan degradasi dan deforestasi kawasan hutan. Dimana, semakin berkurangnya lahan hutan akibat illegal logging, pembukaan lahan (sawit, karet, pertanian, pemukiman, dsb), dan kebakaran lahan menyebabkan stok kayu didalam hutan semakin berkurang.

Kondisi ini tentu saja memaksa pemerintah untuk segera melalukan upaya pelestarian hutan (alam). Dari sini, lahir berbagai regulasi yang yang mengatur pembatasan perdagangan kayu dari hutan di Indonesia.

Sungguh sebuah ironi yang sangat melankolis. Kondisinya sangat kontradiktif, jika pelestarian rumah panggung inipun berhasil, tentu saja akan mengorbankan kelestrian lingkungan. Sebaliknya, jika pelestarian lingkungan berhasil dilakukan, maka kita perlu mengubur impian untuk mengembalikan rumah panggung menjadi raja di rumah sendiri.

Tentu saja kita tidak sedang menemukan jalan buntu jika kita ingin melakukan pelestarian budaya dan pelestarian lingkungan secara bersamaan. “Masih banyak jalan menuju roma”  begitu ungkapan yang paling tidak mewakili hal ini.

Salah satu upayanya adalah pengembangan kayu fast growing (cepat tumbuh) seperti, Jabon, Sengon, Gmelina, dsb, yang hanya membutuhkan waktu singkat, yakni 4-6 tahun untuk bisa dipanen bila dibangdingkan dengan jati yang membutuhkan 30-40 tahun atau bahkan Eboni yang mencapai ratusan tahun lamanya untuk dipanen.

Bergeliat hal tersebut, salah satu kekurangan dari jenis kayu ini adalah kurang kuat dan tidak tahan lama sehingga tidak cocok sebagai bahan baku pembuatan rumah panggung. Untuk itu, kegiatan penelitian tentang pengawetan dan penguatan kayu perlu terus didorong agar segera mendapat hasil yang diinginkan. Selain itu, melihat perkembangan teknologi yang begitu pesat, seharusnya penerapan bioteknologi untuk mencapai produksi optimal perlu dilakukan.

Sehingga, kayu-kayu fast growing bisa segera digunakan sebagai menjadi bahan baku pembuatan rumah panggung. Dengan digunakannya kayu jenis kayu ini, tentu saja akan berdampak pada pelestarian lingkungan karena menghasilkan kayu lebih banyak di lahan yang lebih kecil dengan waktu yang lebih sedikit dibandingkan dengan jenis tanaman kayu lainnya.

Dengan begitu, akan diperoleh ketersediaan kayu dengan kualitas yang baik dan dengan harga yang lebih murah. Sehingga, saya berharap masyarakat mulai beralih menggunakan rumah panggung sebagai pilihan rumah tinggalnya.

Ada beberapa dampak positif ketika kita menggunakan rumah kayu. Menggunakan rumah kayu membuat suhu ruangan lebih sejuk, utamanya untuk masyarakat yang tinggal pada wilayah tropis. Selain itu, bencana banjir yang kian hari kian mengancam warga menjadikan pilihan ini agaknya sedikit masuk akal.

Penerapan rumah panggung juga didesain sedemikian rupa sehingga anti terhadap gempa bumi. Jika kita memperhatikan bangunan rumah pada negara-negara maju, seperti jepang dan beberapa wilayah eropa lainnya, mereka mulai mengadopsi rumah-rumah panggung yang notabenenya identitas bangsa Indonesia.

Oleh sebab itu, saya mengajak pembac untuk melindungi hutan indonesia yang merupakan aset penting NKRI dan nafas dari budaya bangsa ini. Salam rimba dan salam lestari !

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini