medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Proyek Jalan Tol Ancam Kurangi RTH di Makassar

Published in Nasional
Selasa, 29 Mei 2018 14:22

Medialingkungan.com - Sekitar 1.000 pohon telah ditebang dijalan A. P. Pettarani Makassar pada Rabu (23/05/2018) untuk kepentingan proyek pembangunan jalan tol. PT. Bosowa Marga Nusantara (BMN) selaku pihak pelaksana jalan tol mulai melakukan penebangan pohon dan pelebaran jalan demi kelancaran jalannya pembangunan.

Pembangunan jalan tol tersebut untuk mengurangi kepadatan kendaraan (macet) di kota Makassar, terkhusus dijalan A. P. Pettarani. Diperkirakan pekerjaan jalan tol tersebut selama 22 bulan dan panjang jalan tol tersebut 4,3 km dengan jumlah anggaran proyek tersebut sebesar Rp. 2,2 triliun.

“Penebangan 1.000 pohon yang dilakukan untuk pembangunan proyek jalan tol akan mengurangi ruang terbuka hijau (RTH) kota Makassar, yang dimana telah diatur dalam perda, RTH tidak boleh kurang dari 30%, jika tidak, kurang daerah resapan air dan rawan banjir, dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat yang sering melewati jalan A. P. Pettari terkhusus pengedara,” tegas Iqbal Djalil, ketua komisi B DPRD kota Makassar, dilansir Tribunmakassar.com, Senin (28/05/2018).

Peryataan yang hampir sama dilontarkan oleh Ketua Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Sulsel, Muhammad Al-Amien.

“Proyek jalan tol seharusnya disosialisasikan terlebih dahulu  kepada publik agar ada pegawasan bersama oleh masyarakat, belum lagi penebangan pohon perlu mendapatkan masukan oleh masyarakat, ditambah jalan A. P. Pettarani salah satu tempat yang sering digenangi air ketika musim hujan, dikhawatirkan ketika proyek ini berjalan genangan air semakin tinggi,” ujar Al-Amien dilansir Tribunmakassar.com, Senin (28/05/2018).

Dirut PT. Bosowa Marga Nusantara, Anwar Toha selaku kontraktor proyek menengaskan bahwa pembangunan yang berdampak pada pengurangan RTH tersebut akan diantisipasi dengan penanaman sejumlah pohon.

“Selama pembagunan tersebut, RTH kota Makassar akan berkurang, solusinya kami akan membuat RTH baru di kota Makassar dengan menanam 6.000 pohon dilokasi yang telah disepakati bersama dengan pemerintah kota Makassar. Salah satu lokasi yang telah ditetapkan berada di taman mangrove Kelurahan Untia, Kecematan Biringkanaya, Makassar,” kata Anwar dilansir Tribunmakassar.com, Senin (28/05/2018). (Muhammad Andy Kurniawan)

OJK Wadahi Investor Peduli Lingkungan

Published in Nasional
Sabtu, 18 November 2017 14:09

Medialingkungan.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah menyiapkan aturan terkait Obligasi Hijau (Green Bond) yang ditargetkan akan rampung dan terbit akhir tahun 2017 ini. Green bond ini merupakan obligasi yang memenuhi unsur kepedulian lingkungan secara berkelanjutan. Pembiayaan melalui green bond sendiri dialokasikan untuk proyek-proyek yang memiliki pengaruh dan mengurangi dampak pencemaran lingkungan, misalnya sektor energi, yang pembiayaannya diarahkan ke energi yang sumbernya tidak berdampak pada polusi sehingga akan mengurangi emisi di bumi.

Seperti dilansir Merdeka.com, Hoesen selaku Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK menjelaskan bahwa green bond ini dilatarbelakangi dari meningkatnya perhatian dunia terhadap isu-isu lingkungan hidup, semisal global warming. Dampaknya adalah para investor kemudian menjadi lebih spesifik dalam mencari emiten yang akan dibeli sahamnya, dengan melihat keberpihakan lingkungannya.

"Investor itu cari emiten yang punya keberpihakan pada lingkungan atau sustainability dari lingkungan. Mereka hanya mau membiayai proyek yang punya keberpihakan pada lingkungan," ujar Hoesen saat berdiskusi dengan awak media di Kantor OJK, Jum’at (17/11/17), dikutip dari Merdeka.com.

Green bond ini kedepan diharapkan dapat memberikan kepastian kepada pengusaha, terutama yang bisnisnya ramah lingkungan bahwa sahamnya pasti dibeli di pasar saham. "Bisnisnya misalnya perkebunan dengan berwawasan lingkungan. Ada standarnya, kayak di sawit ada RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil). Jadi ada kebutuhan investor yang menekan pelaku-pelaku bisnis itu, kalau mau fund racing kalau saya jual harus ada yang beli," tambah Hoesen.

Meskipun tidak dijelaskan secara rinci terkait poin-poin yang ada dalam aturan tersebut, Hoesen mengatakan dalam peraturan mengenai green bond akan ada persyaratan atau standar untuk menentukan apakah perusahaan atau proyek itu benar-benar berpihak pada lingkungan hidup.

"Nanti ada beberapa insentif juga. Ditambah beberapa persyaratan untuk sertifikasinya bahwa dia dinyatakan, mana yang berpihak pada lingkungan. Jangan hanya bilang saya peduli lingkungan tapi nyatanya tidak," katanya. (Muchlas Dharmawan)

Taponesia Tawarkan Bisnis Berbasis Lingkungan di YSE 2017

Published in Informasi & Teknologi
Selasa, 07 November 2017 21:46

Medialingkungan.com - Tanam Pohon Indonesia (Taponesia) turut andil dalam ajang Young Social Entrepreneurs (YSE) 2017 yang diselenggarakan oleh Singapore International Foundation (SIF) pada jumat (04/11/17) lalu di Suntec Singapore Convention and Exhibition Centre. Kegiatan ini diikuti 16 tim yang terdiri dari 37 pemuda dari 10 negara.

Taponesia merupakan aplikasi platform agroforestri digital yang membantu petani memanfaatkan lahan kritis dengan teknologi agrikultur yang terintegrasi sekaligus menarik investor untuk memperoleh pendapatan yang berkelanjutan.

Menurut salah satu penggagas Taponesia, Nur Maulidiah El Fajr, bisnis yang dikembangkan taponesia bertujuan untuk mengajak perusahaan besar untuk mengalokasikan dana Corporate Social Responsibility untuk membeli pohon yang telah disiapkan.

“Untuk saat ini kami masih melakukannya dengan bisnis to bisnis, namun ke depannya kami akan mengembangkan untuk perorangan,” Ujar Nur, seperti yang dikutip dari tempo.co.

Sejalan dengan visi Taponesia yaitu ‘Menjadi Perusahaan Agroforestri Berkelanjutan Dengan Wawasan Global’, dan dengan tujuan untuk menjalankan bisnis dengan efektif dan efisien, maka Taponesia menjalin kerjasama dengan United Nations For Regional Information Centre di Belgia melalui Deputi Direktur yang berfokus pada penerapan Sustainable Development Goals atau SDGs.

Jean Tan, Direktur Eksekutif dari Singapore International Foundation, mengatakan bahwa ajang YSE 2017 ini akan menjadi batu loncatan bagi para wirausaha muda untuk memulai atau meningkatkan bisnis sosial mereka, menciptakan koneksi secara internasional, dan menjembatani perbedaan budaya untuk dunia yang lebih baik.

Program yang diselenggarakan SIF ini didukung oleh sejumlah organisasi termasuk penyandang dana, antara lain Asia Philanthropic Ventures, Deutsche Bank dan Ngee Ann Development Pte. Ltd. dan mitra lokal serta lembaga internasional lainnya, seperti Ashoka, Intellecap, Ogilvy dan Mather, SAP, Singapore Management University, Tata Institute of Social Sciences, Unilever, Tsinghua University, dan YES Bank. (Gede Tragya)

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini