medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

WMO: 2017 Masuk dalam Rekor Cuaca Terpanas

Published in Internasional
Selasa, 07 November 2017 18:04

Medialingkungan.com - Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) sebagai badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menangani meteorologi memprediksi tahun 2017 mungkin menjadi salah satu dari tiga tahun terpanas yang tercatat dengan banyak fenomena seperti badai, banjir, gelombang panas dan kekeringan. Indikator dari perubahan iklim jangka panjang seperti peningkatan konsentrasi karbon dioksida, kenaikan permukaan air laut dan pengasaman laut terus berlanjut.

Pernyataan sementara WMO yang dilansir dari cop23.unfccc.int mengatakan bahwa suhu global rata-rata dari Januari sampai September 2017 sekitar 1,1° C di atas era pra-industri. Akibat fenomena El Nino yang kuat, 2016 kemungkinan merupakan tahun terpanas yang tercatat, dengan 2017 dan 2015 di tempat kedua dan ketiga. 2013-2017 dicatat menjadi periode terpanas lima tahun ini.

Pernyataan tersebut dirilis pada hari pembukaan Konferensi Perubahan Iklim (COP23) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Bonn.

Data tersebut mencakup semua informasi yang disampaikan oleh berbagai badan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai dampak manusia, sosial-ekonomi, dan lingkungan sebagai bagian dari upaya untuk memberikan laporan kebijakan yang lebih luas ditingkat PBB kepada para pengambil keputusan mengenai interaksi cuaca, iklim dan air.

Sekretaris Jenderal WMO, Petteri Taalas, mengatakan bahwa "Kami telah menyaksikan cuaca yang luar biasa, termasuk suhu di atas 50 derajat celcius di Asia, badai yang memecahkan rekor dalam suksesi cepat di Karibia dan Atlantik yang mencapai sejauh Irlandia, banjir musim hujan yang menghancurkan jutaan orang dan kekeringan yang terus-menurus di Afrika Timur.”

"Banyak dari kejadian ini memiliki tanda perubahan iklim yang disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca dari aktivitas manusia," tambahnya.

Patricia Espinosa, Sekretaris Eksekutif Perubahan Iklim PBB yang menjadi tuan rumah konferensi di Bonn, mengatakan bahwa "Temuan ini menggarisbawahi meningkatnya risiko terhadap manusia, ekonomi dan struktur kehidupan di bumi jika kita gagal mencapai tujuan dan ambisi dari Perjanjian Paris.” (Ilham Muhammad)

Afrika Selatan Menjerit Akibat El Nino dan Perubahan Iklim

Published in Internasional
Senin, 28 November 2016 18:34

Medialingkungan.com – Malawi, salah satu dari tujuh negara di Afrika selatan yang berada di ambang kelaparan. PBB mengatakan bahwa Malawi darurat bantuan makanan mengikut Madagaskar, Zambia, Kongo, Zimbabwe, Mozambik dan beberapa tempat lain di Afrika Selatan. Panen jagung yang menjadi harapan mereka telah gagal berkali-kali disebabkan oleh El Nino dan perubahan iklim yang ekstrim.  

Seperti yang dilansir The Guardian, seorang anak 2 tahun bernama Zeka menjeri kesakitan ketika seorang pekerja kesehatan mengukur lingkaran lengannya sementara perawat yang lain memegang kakinya dan menekan dagingnya. Perawat yang memeriksa Zeka mengatakan bahwa Zeka menderita edema, pembengkakan yang diakibatkan oleh kelaparan ekstrim.

Ibu Zeka mengatakan bahwa mereka belum makan selama berhari-hari. Mereka hanya hidup dari buah-buahan liar, bunga lili dan kebaikan dari tetangga mereka.

Selain Malawi, Madagaskar yang juga mengalami hal serupa. David Phiri, Koordinatoor Pangan dan Pertanian PBB yang berbasis di Harare, Zimbabwe mengatakan bahwa ratusan ribu orang berada di ambang kelaparan. Kematian bahkan terjadi dimana-mana dan hal tersebut memerlukan tindakan yang cepat.

Phiri menjelaskan bahwa dari 5 point skala yang ditetapkan oleh lembaga-lembaga bantuan, Madagaskar berada di point 4 dimana point 5 adalah kelaparan. Pihaknya mengatakan bahwa ketakutan paling besar mereka adalah ketika titik-titik kelaparan bertambah.

“Orang-orang telah kehabisan makanan. Jika makanan tidak datang, itu akan menyebabkan masalah serius  seperti pengerdilan masa kanak-kanak yang akan berdampak seumur hidup di kehidupan mereka”, ujar Phiri.

Lebih dari 40 juta orang di Afrika Selatan dan 11 juta di Ethiopia akan membutuhkan bantuan makanan untuk beberapa bulan kedepaan dan puncaknya diperkirakan akan terjadi bulan Januari. Phiri mengharapkan bantuan yang lebih banyak dari bantuan yang ada saat ini. Tapi pihaknya memahami bahwa anggaran donor terbatas dan banyak titik kelaparan yang tersebar di berbagai negara yang juga membutuhkan bantuan makanan. (Suterayani)

Suhu India Bak Berada dalam Oven, 1.118 Orang Tewas

Published in Internasional
Kamis, 28 Mei 2015 09:32

Medialingkungan.com – Gelombang panas tidak biasa yang menerjang India saat ini sudah menewaskan 1.118 orang hingga Selasa (27/05) dan masih berpeluang terus bertambah. Mayoritas korban yang tewas merupakan warga miskin, pengemis, tunawisma, serta pekerja konstruksi (kuli) yang bekerja di luar ruangan, yang berpotensi besar terkena pancaran matahari langsung dengan rata-rata suhu maksimum mencapai 47 derajat Celcius.

Gelombang panas yang melanda India berlangsung sejak pertengahan April. Namun, hampir semua kematian terjadi pada satu pekan terakhir. Dikabarkan bahwa suhu terpanas ini memecahkan rekor – dengan suhu udara di Hyderabad yang mendekati 50 derajat Celsius.

Direktur Badan Meteorologi India, B.P Yadav mengatakan, udara panas dan kering diperparah hembusan angin yang berasal dari Pakistan. “(Udara) panas ekstrem dan kering ini dihembuskan ke India dari angin barat,” kata Yadav, dikutip dari CNN.

Menurutnya, lokasi yang terparah terkena adalah wilayah Andhra Pradesh, di tenggara India, di mana pihak berwenang mencatat terdapat 852 orang tewas. Sementara 266 lain tewas di negara bagian tetangga, di Telangana.

Badan meterologi juga memprediksi, gelombang panas ini masih terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan, dan berpotensi mendatangkan gelombang panas berikutnya.

Dikabarkan bahwa kebanyakan korban tewas akibat sengatan panas atau mengalami dehidrasi ekstrem. Untuk menghindari sengatan matahari, warga diimbau tidak melakukan aktivitas di jalan-jalan. Selain itu, pertokoan juga tutup pada siang hari dan masyarakat diimbau untuk banyak mengkonsumsi air.

Pemerintah setempat berupaya mengimbau masyarakat melalui media massa. "Pemerintah meminta anggota masyarakat untuk tidak keluar rumah tanpa penutup kepala. Masyarakat juga diminta untuk selalu membawa air minum," kata P Tulsi Rani, pejabat yang membidangi mitigasi bencana, seperti dikutip kantor berita AFP.

Badan Meteorologi India juga memperkirakan, terhitung sejak Kamis (28/05) udara panas di India akan disertai angin topan dan badai pasir hingga sepekan ini.

Pemerintah telah meminta sejumlah organisasi untuk mendirikan dan menyediakan pos-pos air, agar warga tidak mengalami dehidrasi. Suhu udara yang tinggi diperkirakan akan berlanjut hingga akhir bulan.

Musim hujan di India akan memberikan sedikit bantuan, tetapi hujan diproyeksikan baru akan turun satu pekan lagi. Setelah gelombang panas menghantam pantai tenggara India, kemungkinan besar beberapa pekan lagi gelombang panas akan mencapai bagian utara India yang lebih kering.

Gelombang panas ini dikatakan bukan hal baru di negara itu, hanya saja manjadi lebih intens dan lebih sering. Selain negara-negara bagian di selatan India, negara-negara bagian di utara India, seperti Rajasthan dan Haryana, kini sudah pulih dari terjangan gelombang panas yang intensif seperti di ibu kota India, New Delhi.

Menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Edvin Aldrian, gelombang panas di India dipicu oleh angin panas dari padang pasir Iran dan Afganistan melalui laut Arab. Angin panas tersebut tertahan di Pegunungan Himalaya sehingga bertahan lama di kawasan India. "Blocking udara panas inilah yang menewaskan banyak korban jiwa," ujar Edvin.

Dilansir dari Kompas, cuaca ekstrem ini merupakan dampak dari tertahannya fenomena Gelombang Rossby. Gelombang massa udara di atmosfer ini bergerak melingkar di wilayah kutub hingga subtropis. Pergerakannya ke arah timur tanpa putus bak "ban berjalan". Jika pergerakannya terganggu, akan muncul cuaca ekstrem seperti yan tejadi di India saat ini. (Fahrum Ahmad)

Air Asia Hilang, Cuaca Relatif Kondusif untuk Pencarian

Published in Nasional
Selasa, 30 Desember 2014 09:41

Medialingkungan.com – Seperti dikabarkan sebelumnya, pesawat AirAsia QZ8501 tujuan Surabaya-Singapura diperkirakan jatuh di perairan laut Belitung Timur, Bangka Belitung, pada Minggu (28/12). Dikatakan bahwa pesawat itu kehilangan kontak sekitar pukul 06.17 WIB.

Sebelum dinyatakan hilang, pilot pesawat sempat meminta izin kepada menara kontrol (ATC) untuk berpindah jalur penerbangan ke kiri. Manuver tersebut dilakukan untuk menghindari Awan Cumulonimbus (Cb). Pada kesempatan yang sama, terdapat enam pesawat lain yang melintas disana, di antaranya Garuda, Lion, Emirates kendati dengan ketinggian yang berbeda-beda.

Dalam masa pencariannya, BMKG memprakirakan tinggi gelombang saat ini masih ideal untuk dilakukan penelusuran. Dikatakan bahwa tinggi geombang perairan di titik pencarian tidak lebih dari 1,5 meter. “Jadi ini sangat kondusif sekali untuk kapal-kapal, terutama kapal Basarnas, TNI AL, untuk melakukan proses pencarian,” ujar Kepala BKMG Dr.Andi Eka Sakya,M.Eng dalam pernyataannya saat konferensi pers di Kantor Pusat BMKG.

Pihak BMKG, katanya, akan selalu memperbaharui data-data cuaca di 179 tempat pengamatan di Indonesia, untuk mendukung pengamatan yang diduga menjadi tempat jatuhnya pesawat.

Di sela-sela sesi tanya-jawab dalam konpers itu, salah seorang keluarga penumpang Air Asia tujuan Singapura menuturkan sebuah argument dengan perhitungan matematis sederhana berdasarkan pengalaman penerbangannya.

Dikatakan bahwa penerbangan Air Asia QZ 8501 dari Surabaya menuju Singapura berangkat pukul 05.20 WIB, dan dinyatakan hilang pukul 06.17 WIB. “Jadi ada sekitar 50 menit waktu terbang yang digunakan QZ 8501, jadi seharusnya pesawat itu masih berada di atas Pulau Jawa, bukan di titik yang saat ini dilakukan pencarian,” ujarnya.

“kalau menuju Surabaya menuju Jakarta ditempuh sekitar 2 jam, berarti penerbangan selama 40-50 menit itu baru sampai di sekitar Semarang, sehingga, bisa jadi, pesawat QZ 8501, kalaupun jatuh, masih bearada di atas Pulau Jawa,” simpulnya.

Sementara itu, salah seorang wartawan melontarkan sebuah pertanyaan bahwa pengaruh ombak atau arus perairan akan memberikan efek tersapunya puing-puing atau badan pesawat, berpotensi bergeser dari lokasi jatuhnya pesawat. Namun pihak Basarnas mengatakan bahwa dengan kondisi arus yang relatif stabil, pergeseran itu mungkin ada tapi tidak akan terlalu jauh membawa puing atau badan pesawat. (MFA)

BMKG Keluarkan Peringatan Dini untuk Jakarta Bag. Utara dan Jateng

Published in Nasional
Selasa, 30 Desember 2014 10:57

Medialingkungan.com – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika mengeluarkan peringatan dini terkait hujan lebat yang akan melanda Jakarta Bagian Utara Dan Pegunungan Tengah Jateng besok 31 Desember 2014.

Dalam rilis yang BMKG dikatakan bahwa Kedua wilayah ini berpotensi hujan lebat. Prakiraan sementara BMKG menengarai bahwa hujan sedang berdurasi panjang (hujan lebat) ini akan disusul dengan angina kencang dengan kecepatan rata-rata mencapai 25 km/jam.

Sementara itu, suhu udara diperkirakan mencapai 23-31 derajat Celcius dengan kelembaban udara hingga 70-95 persen.

Wilayah-wilayah yang berpotensi disambangi hujan ini meliputi Cilacap, Purbalingga, Purwokerto, Jepara, Demak, Surakarta, Semarang, Tegal, dan sejumlah wilayah lainnya di Jawa Tengah. (MFA)

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini