medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Kalkun Liar “Teror” Warga AS

Published in Internasional
Kamis, 23 November 2017 15:59

Medialingkungan.com - Masyarakat yang berada di wilayah pinggiran Amerika Serikat baru-baru ini mengaku telah ‘diteror’ oleh sekelompok burung kalkun liar. Kalkun dilaporkan mengganggu lalu lintas di New York  Barat, memecahkan genteng milik warga di Sacramento, serta mengejar seorang anak dan anjingnya di Cambridge. Jenis burung kalkun liar yang dilaporkan menyerang warga di pinggiran AS bukan jenis yang biasa diburu, sehingga tidak menganggap manusia sebagai acaman.

“Burung-burung tersebut mencari daerah terbuka seperti derah berumput dan lapangan golf. Semua tempat terbuka tersebut bagus untuk kalkun liar. Daerah pinggiran adalah habitat yang cukup bagus,” kata Mark Hatfield, Direktur Conservation Administration For The Turkey Federation seperti yang dilansir The Washington Post, Rabu malam (22/11/17).

Bersamaan dengan hal tersebut, National Wild Turkey Federation dan para peneliti mengungkapkan bahwa populasi burung kalkun liar di AS secara bertahap menurun. Pada tahun 2004, populasi kalkun liar mencapai 7  juta spesies dan menurun mencapai 6 juta spesies pada tahun 2014. Pembangunan yang mengambil alih habitat kalkun dan meningkatnya predator menjadi akibat penurunan spesies tersebut.

‘Konflik’ antara manusia dan kalkun ini dilihat oleh Michael Chamberlain, seorang Profesor Manajemen Ekologi dari Universitas Georgia, sebagai sebuah akibat dari pembangunan yang dilakukan oleh manusia. “Dalam 20, 30 dan 40 tahun terakhir, manusia telah mengekspansi hutan secara luas, merusak dan memotong menjadi potongan kecil,” kata Chamberlain. (Suterayani)

COP23: Hutan Adat Bisa Jadi Kunci Cegah Malapetaka Perubahan Iklim

Published in Internasional
Jumat, 10 November 2017 14:57

Medialingkungan.com -  Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP 23), di Bonn, Jerman telah sampai pada titik kritisnya. Kebanyakan ilmuwan iklim sekarang sepakat bahwa upaya pengurangan karbon yang disepakati di Paris, tahun 2015 lalu tidak cukup untuk menjaga suhu global dari kenaikan 2 derajat celcius di atas tingkat pra-industri, dengan implikasi bencana yang berpotensi bagi peradaban manusia.

Saat ini, ilmuwan melihat bahwa upaya memerangi deforestasi dan degradasi menjadi strategi penting bagi dunia untuk memenuhi tujuan pengurangan karbon yang telah ditetapkan di Paris pada tahun 2015, dan mencegah kenaikan suhu 2 derajat celcius pada akhir abad ini.

Seperti dilansir dari Mongabay, Ilmuwan di Pusat Penelitian Woods Hole di Massachusetts baru-baru ini menetapkan bahwa hutan tropis dapat mengalami kerugian sekitar 425 juta ton karbon antara tahun 2003 dan 2014, yang sebagian besar disebabkan oleh deforestasi dan degradasi hutan. Selain itu, ditemukan juga bahwa sebesar 1,1 miliar metrik ton karbon dikeluarkan secara global dari daerah hutan dan penggunaan lahan setiap tahunnya. 5,5 miliar metrik ton karbon dilepaskan melalui deforestasi dan degradasi, sementara 4,4 miliar metrik ton karbon diserap melalui hutan tegakan di lahan yang dikelola.

Penelitian baru lainnya menemukan bahwa pengelolaan hutan masyarakat adat dan tradisional dapat menawarkan kunci untuk membatasi emisi, dan memberi waktu kepada dunia untuk beralih ke ekonomi energi hijau. Dalam studi terpisah, tingkat deforestasi Amazon ditemukan lima kali lebih besar di luar wilayah adat dan unit konservasi daripada di dalamnya.

"Kami menemukan bahwa, secara umum, tingkat deforestasi lima kali lebih besar di luar wilayah dan unit konservasi masyarakat adat daripada di wilayah tersebut," ungkap Jocelyn Thérèse, dari Guyana Prancis dan Wakil Koordinator di Badan Koordinasi Organisasi Adat di Lembah Sungai Amazon (COICA).

Delegasi pemimpin masyarakat adat dan pedesaan dari Amerika Latin dan Indonesia angkat bicara terkait hal ini, dengan mengatakan bahwa keduanya dapat memainkan peran kunci dalam membantu mengelola hutan dunia untuk mengurangi emisi.  Para pemimpin ini yakin bahwa masyarakat adat dan hutan tradisional mereka memiliki kontribusi penting.

"Kami adalah solusi yang terbukti untuk perlindungan hutan jangka panjang, yang kelangsungan hidupnya sangat penting untuk mencapai tujuan perubahan iklim kita," kata Mina Setra, Wakil Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), yang mewakili 17 juta orang masyarakat adat di Indonesia. (Muchlas Dharmawan)

Tahukah Kamu Bahwa Kadar Gula Tinggi Bisa Jadi Penyebab Alzheimer?

Published in Informasi & Teknologi
Selasa, 07 November 2017 16:34

Medialingkungan.com - Untuk pertama kalinya, ilmuwan menemukan hubungan antara kelainan pada bagaimana otak dalam memecah glukosa dan tingkat keparahan plak dan tangles amyloid di otak dengan gejala awal penyakit Alzheimer. Penelitian ini didukung oleh National Institute on Aging (NIA), bagian dari National Institutes of Health.

Dipimpin oleh Madhav Thambisetty, M.D, Ph.D., ilmuwan ​​dan kepala unit laboratorium Neuroscience Klinis dan Translasional NIA, para peneliti melihat sampel jaringan otak dari peserta di Baltimore Longitudinal Study of Aging (BLSA), salah satu studi ilmiah terpanjang di dunia tentang penuaan manusia. BLSA melacak data neurologis, fisik dan psikologis pada peserta selama beberapa dekade.

Peneliti mengukur kadar glukosa di daerah otak yang berbeda, beberapa rentan terhadap patologi penyakit Alzheimer, seperti korteks frontal dan temporal, dan beberapa lainnya resisten, seperti di otak kecil.

Mereka menganalisis tiga kelompok peserta BLSA: (1) mereka dengan gejala Alzheimer selama hidup; (2) mereka yang telah dikonfirmasi memiliki patologi penyakit Alzheimer di otak saat kematian; dan (3) individu tanpa gejala selama hidup tetapi dengan tingkat signifikan patologi Alzheimer ditemukan di otak pasca-mortem.

Mereka menemukan kelainan yang berbeda pada glikolisis, proses utama dimana otak memecah glukosa, dengan bukti yang menunjukkan hubungan antara tingkat keparahan kelainan dengan tingkat keparahan patologi Alzheimer. Tingkat glikolisis yang lebih rendah dan kadar glukosa otak yang lebih tinggi berkorelasi dengan plak dan tangles yang lebih parah yang ditemukan di otak orang-orang dengan penyakit ini.

Melalui press release kepada pihak kami, Direktur NIA, Richard J. Hodes, M.D. menjelaskan bahwa, untuk beberapa waktu, para peneliti telah memikirkan kemungkinan hubungan antara bagaimana otak memproses glukosa dan penyakit Alzheimer itu sendiri.

"Penelitian ini menghasilkan pemikiran baru tentang bagaimana menyelidiki hubungan pada cara yang lebih baik dan lebih efektif untuk mengobati atau mencegah penyakit Alzheimer. Temuan ini menunjukkan sebuah mekanisme baru yang bisa dijadikan sasaran dalam pengembangan pengobatan baru untuk membantu otak mengatasi kekurangan glikolisis pada penyakit Alzheimer.” terang Richard.

Peneliti memperingatkan bahwa belum sepenuhnya jelas apakah kelainan metabolisme glukosa otak secara definitif terkait dengan tingkat keparahan gejala penyakit Alzheimer atau kecepatan perkembangan penyakit tersebut.

Langkah selanjutnya untuk Thambisetty dan timnya adalah untuk mempelajari kelainan pada jalur metabolisme lain yang terkait dengan glikolisis untuk menentukan bagaimana kaitannya dengan patologi Alzheimer di otak. (Suterayani)

Ilmuwan: Pemanasan Global Ancam Ketersediaan Kopi Dunia

Published in Internasional
Selasa, 25 Juli 2017 17:28

Medialingkungan.com – Kopi menjadi sesuatu yang popular saat ini, seperti yang dilansir oleh Envirotech.com sejak tahun 1980 konsumsi kopi meningkat dua kali lipat sampai tahun berikutnya. Sedangkan statistik International Coffee Organization (ICO) memprediksi bahwa pada tahun 2017 ini konsumsi biji kopi akan meningkat untuk tiga tahun kedepan.

Namun, pemanasan global mengancam ketersediaan biji kopi diseluruh dunia menurut ilmuwan dari Kew Gardens di London. Peningkatan suhu global berpotensi menyebabkan pengurangan jumlah lahan yang sesuai untuk produksi kopi pada tahun-tahun yang akan datang. Kurangnya persediaan kopi, rendahnya kualitas kopi, dan tingginya harga penjualan diakui sebagai akibat dari perubahan iklim.

Laporan hasil publikasi jurnal di Nature Plants menerangkan bahwa jika pemanasan global dibiarkan terjadi begitu saja maka hal tersebut dapat berdampak pada penyusutan lahan untuk biji kopi Arabica setengah di Amerika dan dua pertiga di Asia Tenggara.

Tahun ini, akibat kekeringan yang berkepanjangan untuk pertama kalinya pemerintah Brazil mempertimbangkan untuk mengimpor biji kopinya karena menurunnya hasil panen dan meningkatnya permintaan biji kopi dalam negeri.

Lain halnya dengan Ethiopia yang merupakan rumah bagi biji kopi Arabika menghadapi masalah yang lebih besar lagi. Sekitar 60 persen dari wilayah kopi di negara itu bisa hilang apabila emisi rumah kaca terus meningkat yang menyebabkan suhu global meningkat sebanyak 4o C. Hal tersebut menjadi ancaman bagi sekitar 16 persen atau 15 juta jiwa masyarakat yang menggantungkan penghidupannya pada kopi. (Suterayani)

Ternyata Bangunan Hijau Dapat Tingkatkan Produktivitas Kerja

Published in Informasi & Teknologi
Sabtu, 17 Desember 2016 18:14

Medialingkungan.com – Sebuah studi baru menunjukkan bahwa orang yang bekerja di bangunan hijau dapat berpikir lebih baik di kantor, dan tidur lebih baik ketika mereka pulang kerumah. Seperti dilansir The Guardian, penelitian menunjukkan bahwa ventilasi, pencahayaan, dan kontrol panas yang baik dalam ruangan dapat meningkatkan performa para pekerja dan dapat meningkatkan produktivitas sampai 1000 USD per tahun. Hal ini juga menunjukkan bahwa aspek subjektif, seperti desain ruangan yang indah, dapat membuat para pekerja lebih bahagia, dan lebih produktif.

Dalam penelitian ini, dianalisis pekerja pada bangunan hijau bersertifikat di lima kota di Amerika Serikat, kemudian membandingkannya dengan pekerja lain di kota yang sama yang digunakan di kantor yang berbeda, yang dimiliki oleh perusahaan yang sama.

"Kami melihat skor fungsi kognitif yang lebih tinggi bagi pekerja di bangunan bersertifikat hijau, dibandingkan dengan rekan-rekan mereka di gedung-gedung yang masih berkinerja tinggi, tetapi yang belum mencapai sertifikasi hijau," kata Dr. Joseph Allen, Director of the Healthy Buildings program at the Harvard Center for Health and the Global Environment, di Harvard TH Chan School of Public Health, Amerika Serikat.

Para pekerja di bangunan hijau mencetak lebih dari 25 persen lebih tinggi dalam tes standar yang menggunakan game computer seperti The Sims untuk menilai kemampuan berpikir dan merencananakan.

"Alat ini menilai kinerja pengambilan keputusan yang kompleks, yang meniru pengambilan keputusan dunia nyata yang kita semua hadapi setiap hari dalam rutinitas kerja normal kami," kata Allen.

Kualitas tidur para pekerja juga dinilai menggunakan jam tangan khusus dengan sensor yang mengukur lama waktu tidur, serta kegelisahan-kegelisahan dalam tidur (tossing, turning dan interupsi). Mereka yang bekerja di kantor hijau memiliki skor tidur 6 persen lebih tinggi.

"Saya rasa ini adalah salah satu temuan paling provokatif dalam penelitian ini - itu menunjukkan bahwa bangunan berdampak kami setelah delapan jam kami berada di sana untuk hari pekerjaan kami," kata Allen.

Selanjutnya, para pekerja bangunan hijau dilaporkan 30 persen lebih sedikit gejala “sick building syndrome”, seperti sakit kepala, iritasi mata, dan pernapasan. Bangunan hijau memiliki ventilasi yang lebih baik oleh karenanya dapat menurunkan tingkat karbon dioksida dan bahan kimia yang disebut Volatile Organic Compounds (VOC) yang dihasilkan oleh produk furnitur dan karpet.

Bangunan hijau juga memiiliki pencahayaan yang baik, dengan lebih banyak memanfaatkan cahaya matahari. Penelitian telah menunjukkan bahwa hal ini dapat membantu memperkuat ritme sehari-hari serta meningkatkan kualitas tidur masyarakat.

Triliunan dollar AS telah dihabiskan untuk bangunan baru dalam lima tahun terakhir, sekitar sepertiga dari yang dihabiskan untuk bangunan hijau. Allen mengatakan penerapan bangunan hijau tidak lebih diutamakan karena persoalan politis dalam pemerintahan. Ini berarti biaya yang dikeluarkan Departemen Fasilitas tidak sebanding dengan manfaat ekonomi dan kesehatan pada perusahaan.

"Saya benar-benar berharap. Saya melihat sebuah komunitas real estate yang terlibat pada topik ini dan mulai mengerti bahwa mereka dapat membuat keputusan sekitar kesehatan yang akan berdampak pada orang-orang kelas bawah," tegas Allen. (Muchlas Dharmawan)

Konvensi Kehati PBB, CIFOR Tegaskan Untuk Fokus Pada Perbaikan Lanskap Hutan

Published in Internasional
Selasa, 13 Desember 2016 18:48

Medialingkungan.com – Terdegradasi dan hilangnya hutan di seluruh dunia berdampak pada keanekaragaman hayati, mata pencaharian masyarakat, pertumbuhan ekonomi dan perubahan iklim. Mengembalikan hutan yang gundul dan lanskap hutan yang terdegradasi telah menjadi fokus utama kebijakan dunia yang sangat mendesak. Untuk itu, Center for International Forestry Research (CIFOR) pada kegiatan Conference of the Parties to the Convention on Biological Diversity (CBD-COP 13) akan mengadakan kegiatan satu hari yang berfokus pada restorasi lanskap hutan.

Para pemimpin dunia dan para pemangku kepentingan lainnya, pekan ini akan mengadakan sidang pada kegiatan CBD-COP 13 PBB, di Cancún, Meksiko. Pertemuan CBD-COP 13 ini telah berjalan selama 9 hari, mulai dari tanggal (4/12) dan akan berakhir pada (17/12) tahun 2016. CBD-COP 13 dihadiri oleh 10.000 peserta dari seluruh dunia dan akan menegosiasikan perjanjian dan komitmen untuk keanekaragaman hayati, dan keberlanjutannya di masa depan.

Pada kegiatan satu sesi tersebut CIFOR akan menyampaikan penelitian ilmiah terbaru, wawasan dan pengalaman untuk didiskusikan bersamaan dengan diselenggarakannya negosiasi. Ilmuwan CIFOR akan menghadiri sekaligus mempresentasikan penelitian penting dan inovatif mengenai restorasi bentang alam, ketahanan pangan, jender dalam kehutanan dan REDD+.

Dalam sesi ini nantinya, Collaborative Partnership on Forests (CPF) dan beberapa anggota lain dari Kemitraan Global Partnership on Forest and Landscape Restoration (GPFLR) akan mempromosikan konsep dan praktek lanskap hutan dan restorasi ekosistem, berjuang untuk meningkatkan koherensi antara berbagai inisiatif.

Lanskap Hutan dan Hari Restorasi Ekosistem akan diselenggarakan di Konvensi Pavilion Rio pada 13 Desember 2016. Manuel Guariguata, peneliti dari CIFOR, akan pemimpin tim Pengelolaan Hutan CIFOR dan Program Restorasi, dan menyajikan penelitian terbaru tentang pemantauan dengan pendekatan partisipatif untuk restorasi lanskap hutan.

Selain itu, pada kegiatan tersebut CIFOR akan menyuguhkan topik lainnya untuk menarik perhatian pada hubungan antara lanskap hutan dan pertanian, ketahanan pangan, mata pencaharian, kesetaraan gender, ketahanan iklim dan keanekaragaman hayati. Bersamaan dengan acara utama, Cancún juga akan menjadi tuan rumah pertemuan kedelapan Pihak Protokol Cartagena (COP-MOP 8) dan pertemuan kedua Pihak pada Protokol Nagoya (COP-MOP 2) dari 2 Desember. (Suterayani)

Perubahan Iklim Membunuh Terumbu Karang Terbesar Di Dunia

Published in Internasional
Rabu, 30 November 2016 16:51

Medialingkungan.com – Para ilmuwan menyampaikan hasil survey terumbu karang, pada Selasa (29/11). Dijelaskan bahwa lautan hangat di sekeliling Great Barrier Reef, Australia, telah membunuh dua pertiga dari bentangan karang sepanjang 700 kilometer tersebut dalam sembilan bulan terakhir. Kematian karang itu "hampir pasti" merupakan yang terbesar dan terburuk yang pernah dicatat dimanapun karena ukuran Barrier Reef, yang luasnya 348.000 kilometer persegi, merupakan terumbu karang terbesar di dunia.

Seperti dilansir Reuters, Profesor Andrew Baird, seorang peneliti di James Cook University yang menjadi bagian dari tim survey terumbu karang, mengatakan bahwa terumbu karang pada dasarnya seperti dimasak. Para ilmuwan iklim berpendapat peningkatan karbon dioksida di atmosfer menjebak panas yang memancar dari Bumi, menciptakan pemanasan global.

Pemutihan terjadi ketika air air terlalu hangat, memaksa karang mengusir alga hidup dan menyebabkan karang mengapur dan menjadi putih. Pemutihan ringan koral bisa pulih jika temperatur turun dan survei mendapati ini terjadi di bagian selatan terumbu karang, tempat tingkat kematian karang jauh lebih rendah. Meski ada pemutihan yang terjadi secara alami, para ilmuwan khawatir peningkatan suhu laut akibat pemanasan global memperbesar kerusakan, membuat ekosistem peka di bawah laut tidak bisa pulih.

Komite Warisan Dunia UNESCO, tak lagi menempatkan Great Barrier Reef dalam daftar "bahaya" pada akhir Mei 2016 kemarin, namun tetap meminta pemerintah Australia menyampaikan kemajuan upaya penyelamatan terumbu karang tersebut. Pemerintah Australia akan mengajukan perbaruan itu pada Jumat menurut juru bicara Kementerian Lingkungan Josh Frydenberg.

Australia adalah salah satu pembuang karbon per kapita terbesar karena ketergantungannya pada pembangkit listrik berbahan bakar batubara. Pada Juni 2016, selama masa kampanye pemilihan umum, Perdana Menteri Malcolm Turnbull menjanjikan dana satu miliar dolar Australia untuk melindungi terumbu karang.

"Perubahan iklim membunuh Great Barrier Reef," kata ahli lingkungan Charlie Wood.

Wood juga menyatakan bahwa penambangan dan pembakaran batu bara, minyak dan gas secara berlanjut merupakan kerusakan yang tidak bisa diperbaiki lagi pada iklim. Jika kita ingin anak-anak kita menikmati Great Barrier Reef hingga generasi selanjutnya, kita harus bertindak sekarang untuk menjaga bahan bahan fosil tetap berada di dalam tanah. (Andi Wahyunira)

Ini Dia Tips-Tips Atasi Sampah Ala Bapak Nol Sampah

Published in Informasi & Teknologi
Rabu, 23 November 2016 15:52

Medialingkungan.com – 30 tahun bergelut dengan sampah, menjadikan Prof. Paul Connett, Ph.D menjadi salah satu pemerhati sampah dunia. Paul yang dijuluki sebagai Bapak Nol Sampah itu pun terlibat dalam gerakan advokasi menolak pembakaran sampah sebagai solusi pengelolaan sampah. Menurutnya membakar sampah membutuhkan lebih banyak energy, contohnya saat membawa sampah ke tempat pembakaran, konsumsi bahan bakar sampai kepada pembakaran sampah itu sendiri dan juga justru akan menimbulkan masalah lain seperti mengubah sampah menjadi racun dan asap.

Paul yang juga berprofesi sebagai Professor kimia lingkungan  di St. Lawrence Universiy, New York tersebut pekan lalu mengunjungi Indonesia tepatnya di Bali dan bertemu dengan Wali Kota Denpasar, tim dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Bali, aktivis lingkungan, dan masyarakat untuk mengenalkan kepada mereka metode penanganan sampah yang efektif di Indonesia.

Seperti yang dilansir oleh Mongabay Indonesia, Paul menawarkan sepuluh langkah untuk mengatasi masalah tersebut berdasarkan hasil kajiannya. Namun, dia mengatakan, langkah tersebut juga disesuaikan dengan konteks lokal. Apa yang sudah berhasil diterapkan di Amerika Serikat dan Kanada, misalnya, belum tentu bisa diterapkan di Indonesia.

Lima langkah pertama yakni pengelolaan sampah organik menjadi kompos; memilah sampah mulai dari setiap rumah tangga; mengumpulkan sampah dari rumah ke rumah; mendaur ulang; serta memperbaiki dan menggunakan ulang (reuse).

Keberhasilan lima langkah pertama tersebut, lanjutnya, bisa mengurangi sampah sampai 80 persen. Hal ini berbeda dengan incinerator yang justru mengubah sampah menjadi racun dan asap.

Paul menjelaskan bahwa di Los Angeles, Amerika Serikat daur ulang sampah justru mendatangkan pendapatan baru bagi masyarakat. Dari 72.000 ton sampah yang bisa di daur ulang di kota tersebut memberikan pendapatan sekitar 39,6 juta USD per tahun kepada masyarakat. Menurutnya dengan mendaur ulang sampah, warga mendapatkan manfaat ekonomi, menciptakan lapangan kerja serta kesehatan yang lebih baik.

Lima langkah selanjutnya, lebih pada tahap pengurangan residu yaitu adanya insentif ekonomi dalam mendaur ulang sampah; inisiatif untuk mengurangi sampah; pemisahan fasilitas pengolahan sampah; adanya pusat riset nol sampah; serta desain produk yang lebih ramah lingkungan.

Langkah-langkah pengurangan sampah tersebut juga berhasil di beberapa negara, seperti Italia dan Amerika Serikat. Di Italia, dia memberikan contoh, sudah ada lebih dari 1.000 komunitas telah membuat alih rupa sampah (diversion) hingga 70 persen. Komunitas lain bahkan mencapai 90 persen.

Direktur Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali, Catur Yudha Hariani menanggapi positif beberapa hal yang di sampaikan Paul pada pertemuan tersebut. Menurutnya, sampah yang sudah overload di Bali harus di tanggapi dengan benar yaitu dengan memilah sampah mulai dari sumbernya itu sendiri.

Catur yang saat ini bersama dengan PPLH aktif melakukan pendidikan pada warga untuk mengelola sampah mengaku perlu adanya edukasi yang berkelanjutan kepada masyarakat dalam hal pengelolaan sampah di Bali dan hal tersebut menjadi  tanggung jawab bersama. (Suterayani)

Tingkatkan Taraf Hidup Masyarakat, USDA Ciptakan 222 Penemuan Baru

Published in Informasi & Teknologi
Rabu, 23 November 2016 14:50

Medialingkungan.com - Departemen Pertanian Amerika Serikat (United States Department of Agriculture, USDA) telah membuat terobosan baru dalam sains dan teknologi. Sekitar 222 penemuan baru, 94 paten yang telah diberikan dan sementara menyusul 125 permohonan paten untuk beberapa temuan-temuan baru tersebut. Pihak USDA melalui berita press release yang dikirimkan kepada pihak kami mengatakan bahwa penemuan tersebut telah menciptakan peluang untuk meningkatkan kehidupan masyarakat di Amerika Serikat.

Penelitian-penelitian tersebut telah dilakukan oleh pihak USDA bekerja sama dengan Universitas di Amerika Serikat dan para pelaku usaha kecil yang memiliki potensi untuk pemasaran. Adapun beberapa hasil penelitian unggulan yang dirilis kemarin (22/11) adalah chip computer yang terbuat dari serat kayu, anti nyamuk untuk personel militer AS, pemetik apel robotic, panci anti bakteri, pompa irigasi bertenaga surya yang hemat biaya untuk masyarakat terpencil di AS dan berbagai produk unggulan lainnya.

“Dari pakaian katun press permanen, produksi massal penisilin, jus jeruk beku yang paling efektif dan banyak digunakan pengusir nyamuk, ilmuwan dan mitra penelitian telah mengubah dunia dan setiap tahun pekerjaan mereka mengarah menuju kemajuan baru. Studi menunjukkan bahwa setiap dolar yang diinvestasikan dalam penelitian pertanian, mendapatkan keuntungan sekitar 20 USD ke ekonomi kami. Mengingat bahwa kita sangat  agresif dalam bekerja untuk mempercepat pengembangan dan transfer teknologi baru ke pasar. " ujar Menteri Pertanian Tom Vilsack.

Sejak 2009, USDA telah menginvestasikan 19 Milyar USD kepada penelitian intramural dan luar sekolah. Selama waktu itu, penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan USDA telah menghasilkan 883 aplikasi paten yang diajukan, 405 paten yang dikeluarkan dan 1.151 penemuan  baru yang mencakup berbagai topik dan penemuan. (Suterayani)

Energi Matahari, Solusi Alternatif Energi Terbarukan di Indonesia

Published in Informasi & Teknologi
Selasa, 17 Mei 2016 11:15

Medialingkungan.com - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengharapkan agar ke depan Indonesia lebih mengembangkan teknologi energi matahari sebagai alternatif energi terbarukan. Berdasarkan data dari Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), potensi pemanfaatan energi matahari di Indonesia diperkirakan mencapai 4,8 KWh/m2/hari atau setara dengan 112.000 GWp (Gigawatt-peak).

“Angka ini bisa jadi lebih besar lagi bila kita melihat potensi pengembangan di wilayah Indonesia timur,” kata Bambang Subiyanto, Deputi Bidang Jasa Ilmiah LIPI, pada acara Focus Group Discussion (FGD) Renewable Energy And Applications of Energy Management System di Jakarta, Selasa (10/05), seperti yang dilansir pada laman resmi LIPI -- lipi.go.id.
 
Menurutnya, potensi ini akan tergarap optimal bila salah satu penelitian energi di Indonesia bisa diarahkan ke energi matahari. “Teknologi yang ada saat ini masih tergolong mahal untuk diterapkan. Untuk itu, dibutuhkan dukungan penelitian teknologi baru yang lebih efisien dan murah,” kata Bambang.
 
Bambang berharap penelitian teknologi baru energi matahari ini mendapat dukungan dari berbagai kalangan dengan saling menjalin komunikasi efektif, baik antara pemerintah, lembaga penelitian, industri, dan pihak lainnya.

“Kalau sinergi terjalin, maka siklus pengembangan teknologi matahari akan menunjukkan arah positif dan suatu saat energi ini akan semakin ekonomis untuk diterapkan di Indonesia,” ujarnya.

Ketersediaan energi di negeri ini sendiri masih didominasi oleh pemakaian energi fosil yang hingga saat ini memberikan peran lebih dari 70% dari ketersediaan energi nasional. Sementara, Indonesia menargetkan peningkatan pasokan energi terbarukan dari target 23% pada tahun 2025 menjadi 31% pada tahun 2050. {Muchlas Dharmawan}

Halaman 1 dari 2

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini