medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Manggala Agni Manfaatkan Limbah jadi Sumber Energi

Published in Nasional
Senin, 20 November 2017 17:19

Medialingkungan.com - Manggala Agni Daerah Operasi Ketapang Kalimantan Barat manfaatkan limbah hasil penyiapan atau pembukaan lahan menjadi cuka kayu. Hasil temuan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pupuk, briket arang dan juga gas sebagai sumber energi pengganti LPG (Liquified Petroleum Gas). 

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan), Raffles B. Panjaitan mengungkapkan bahwa kebakaran hutan dan lahan yang kerap terjadi di Indonesia dan tahun 2015 menjadi pembelajaran yang sangat berharga. Pasca kebakaran hutan terparah pada tahun 2015, menjadi momentum bagi bangsa Indonesia untuk terus melakukan berbagai upaya menuntaskan permasalahan tersebut.

“Pembukaan lahan masih menjadi penyebab utama kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Oleh karena itu, perlu diciptakan inovasi-inovasi yang mendukung pada upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan,” ujarnya.

Raffles menambahkan bahwa pembuatan cuka kayu, briket arang, dan juga pengolahan gasifikasi dapat dikembangkan di masyarakat untuk menjadi solusi bermanfaat sekaligus diharapkan dapat menekan potensi kebakaran hutan dan lahan. Hasil-hasil olahan ini dapat dimanfaatkan untuk keperluan masyarakat itu sendiri atau dapat menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat. 

Pemanfaatan limbah hasil pembukaan lahan menjadi cuka kayu ini merupakan implementasi arahan Presiden dalam Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Tahun 2017. Presiden Republik Indonesia memberikan arahan bahwa upaya pencegahan karhutla harus tetap dilakukan dengan sinergi dari semua pihak dan dilakukan sedini mungkin sebelum terjadi kebakaran karena ketika sudah terjadi kebakaran, akan sulit untuk dipadamkan.

Pengembangan teknik penyiapan lahan tanpa bakar dan berbagai upaya pencegahan karhutla lainnya terus dilakukan di wilayah Indonesia untuk menekan tingkat kerawanan karhutla. Di Kalimantan Barat Sampai dengan tanggal 18 November 2017 ini, jumlah hotspot di wilayah ini sejumlah 639 titik, menurun drastis jika dibandingkan tahun 2016 periode yang sama yaitu 1.550 titik. Begitu juga luasan kebakarannya. Hasil perhitungan citra satelit sampai dengan September 2017, luas kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Kalimantan Barat 7.440 ha dimana angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya seluas 9.174 ha. (Dedy)

Kalimantan Selatan dan Riau Perpanjang Status Siaga Karhutla

Published in Nasional
Selasa, 14 November 2017 17:35

Medialingkungan.com - Provinsi Kalimantan Selatan dan Riau masih berlakukan status Siaga Darurat Penanganan Bencana Asap sampai dengan 30 November 2017. Hal ini dimaksudkan untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah tersebut.

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, KLHK, Raffles B. Panjaitan, mengungkapkan dari prediksi Sistem Peringkat Bahaya Kebakaran (SPBK) pada beberapa provinsi rawan karhutla masih ada yang menunjukkan kondisi mudah terbakar. Kondisi seperti ini dapat menjadi pemicu terjadinya Karhutla.

"Provinsi yang masih menetapkan status siaga bencana asap sampai dengan akhir November adalah Riau dan Kalimantan Selatan. Kami berharap dengan sinergi dari semua pihak antara KLHK, TNI, POLRI, BNPB, Pemerintah Daerah dan Masyarakat akan mengurangi kebakaran hutan dan lahan ke depannya,” ujar Raffles B. Panjaitan.

Pantauan Posko Dalkarhutla KLHK pada satelit National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) pukul 20.00 WIB (12/11/2017) tidak terpantau adanya hotspot atau titik panas. 

Berdasarkan satelit NOAA untuk periode 1 Januari - 12 November 2017, terdapat 2.544 hotspot di seluruh Indonesia. Sedangkan pada periode yang sama di tahun 2016, tercatat sebanyak 3.773 hotspot, sehingga terdapat penurunan sebanyak 1.229 hotspot atau sebesar 32,57%.

Tak hanya itu, penurunan sejumlah 1.438 titik (38,29%) juga ditunjukkan oleh satelit TERRA-AQUA milik NASA confidence level 80%, yang mencatat adanya 2.317 hotspot di tahun ini, setelah sebelumnya di tahun 2016, tercatat sebanyak 3.755 hotspot, dan tahun 2015 terdapat 68.344 hotspot. Maka dapat disimpulkan bahwa jumlah hotspot tahun ini menurun sebesar 96,61% atau 66.027 titik dari jumlah hotspot tahun 2015. (Dedy)  

Dua Kepala Desa dari Indonesia Angkat Bicara di COP23

Published in Nasional
Jumat, 10 November 2017 21:16

Medialingkungan.com - KTT Perubahan Iklim PBB atau COP23 yang sedang berlangsung di Bonn, Jerman menghadirkan sekitar 18.000 pejabat pemerintah dari hampir 200 negara dan perwakilan organisasi terkait. Namun, yang menarik dari COP23 kali ini, Indonesia tidak hanya menghadirkan pejabat-pejabat tinggi, namun juga dua orang kepala pemerintahan tingkat desa untuk turut berbicara terkait mitigasi Perubahan Iklim ini di tingkat Internasional.

Dua kepala desa yang dimaksud adalah Tamin, Kepala Desa Sungai Bungur, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi dan Yanto L. Adam, Kepala Desa Gogong, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Mereka mengangkat persoalan dampak kebakaran lahan gambut pada COP23 tersebut. Keduanya juga turut membagi pengalaman terkait bagaimana mengatasi kebakaran lahan gambut serta upaya-upaya pencegahannya agar tak terjadi lagi di masa akan datang.

"Kebakaran (lahan gambut) pada 2015 sangat mengganggu, dampaknya sangat buruk, terutama bagi perekonomian masyarakat dan juga mengganggu kesehatan dan pendidikan anak-anak," kata Tamin, seperti dikutip dari BBC Indonesia.

"Akibat kebakaran, kegiatan pendidikan juga terpaksa harus dihentikan," tambahnya.

Tamin menuturkan, di Desa Sungai Bungur untuk mempertahankan areal adat maka warga tak boleh melakukan kegiatan mengambil kayu atau menguasai lahan walaupun untuk menanam palawija di wilayah hutan adat tersebut. Disebutkan pula bahwa kendala dari restorasi adalah aktivitas perusahaan sawit dan perusahaan kayu Hutan Tanaman Industri yang menggunakan lahan gambut dalam skala besar.

Beberapa upaya yang telah dilakukan di Desa Sungai Bungur diantaranya dengan menerapkan peraturan warga dilarang membuka lahan dengan cara membakar. Upaya lainnya adalah mempertahankan tanaman lokal untuk menjaga ekosistem gambut, antara lain pisang, kedelai, padi, jagung, cabai, nanas dan beberapa tanaman lainnya.

Sementara Yanto menuturkan, di Desa Gogong yang 60 persen keseluruhan wilayahnya merupakan lahan gambut, tak kurang dari 300 hektare lahan terbakar dan api pada kebakarangambut tahun 2015. Hal ini menurutnya dipicu oleh faktor kekeringan dan tindakan warga yang membuka lahan dengan cara membakar.

Dampak kebakaran ini kemudian sangat terasa bagi masyarakat, sehingga pada tahun 2016 warga berinisiatif mengambil langkah-langkah untuk mencegah kebakaran. Diantaranya adalah menerapkan aturan buka lahan tanpa membakar dan membuat sekat-sekat kanal dan sumur bor yang difasilitasi oleh Badan Restorasi Gambut (BRG) dan Dinas Pertanian setempat.

"Intinya upaya merestorasi gambut memang harus melibatkan semua pihak," kata Yanto.

Yanto menuturkan bahwa areal gambut yang pernah terbakar di Desa Gogong ditanami pohon oleh warga desa, dan berharap dalam beberapa tahun ke depan lahan yang rusak ini akan kembali hijau sepenuhnya. (Muchlas Dharmawan)

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini