medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Greenpeace Desak Perlindungan Tuna di WCPFC

Published in Internasional
Jumat, 01 Desember 2017 20:11

Medialingkungan.com - Greenpeace mendesak lembaga Komisi Perikanan Pasifik Barat-Tengah (Western and Central Pacific Fisheries Commission-WCPFC) untuk menyepakati aturan konservasi dan pengelolaan yang bisa memastikan pulihnya populasi ikan tuna yang selama ini dieksploitasi. Hal tersebut dilakukan pada pertemuan tahunan WCPFC ke-14 di Manila, Filipina, Jumat (1/12/17).

“Meski komitmen saat ini sudah tepat arahnya dan beberapa pelaku industri sudah mengambil inisiatif dalam mengatasi penangkapan berlebih, penangkapan ikan ilegal dan perbudakan di laut, WCPFC tetap bertanggung jawab untuk memastikan bahwa perubahan positif bagi laut bisa terjadi dengan menyepakati aturan-aturan yang lebih kuat,” tegas Arifsyah Nasution, Jurukampanye Laut Greenpeace Indonesia melalui siaran persnya.

Pertemuan tahunan WCPFC ini kembali menegosiasikan Aturan Tuna Tropis (Tropical Tuna Measure-TTM) yang masa berlakunya akan segera berakhir. Greenpeace telah menetapkan hal-hal yang dianggap penting disepakati antara lain: kapal-kapal jaring (purseiner) harus menyepakati pengurangan besar-besaran jumlah rumpon (Fish Aggregating Devices-FADs), serta aturan ketat untuk pelaporan dan transparansi penggunaan rumpon; pengawasan dan kontrol yang lebih ketat terhadap kapal longliner;  penerapan target stok, titik batas eksploitasi dan pengelolaan strategis.

Jurkam Laut Greenpeace Indonesia, Arifsyah mengungkapkan bahwa, “Ini bisa terwujud dengan menyepakati aturan-aturan penting mengenai pengumpulan data, manajemen kapasitas penangkapan ikan termasuk rumpon, stok ikan, metode MCS (Monitoring, Control and Surveillance) termasuk transshipment (alih muat di tengah laut), serta pengendalian panen (eksploitasi)”.

“Dalam pertemuan di Manila ini semua pihak harus membuktikan kesungguhan dalam menyelamatkan stok ikan tuna dan jangan lagi terjadi aliansi industri - pemerintah yang berusaha untuk menggagalkan aturan perlindungan tuna yang kuat,” tambah Arifsyah.

Sebanyak 4.509 kapal teregistrasi dalam WCPFC di mana 64% nya adalah longliner, 12% adalah kapal jaring dan hanya 2,22% adalah kapal huhate (pole and line). Enam negara terbesar mencakup 85% kapal adalah Taiwan (China Taipei), Jepang, China, Filipina, Amerika Serikat, dan Korea Selatan. (Suterayani)

Habitatnya Diganggu; Kebiasaan Bekantan Berubah!

Published in Nasional
Rabu, 29 November 2017 20:53

Bekantan (Nasalis larvatus) merupakan satwa endemik dari kalimantan yang belakangan ini menjadi bahan penelitian Universitas Mulawarman bersama Tim Ecology and Conservation Center for Tropical Studies (Ecositrop) selama empat tahun. Mulai tahun 2013 hingga sekarang tim ecositrop memasang camera trap pada berbagai titik untuk melihat pergerakan bekantan. Kawasan yang dipasangi camera trap seperti kawasan perkebunan sawit, pertambangan, hutan tanaman industry (HTI), kawasan konservaasi, termasuk kawassan lindung di Kalimantan Timur.

Namun, dari hasil tangkapan camera trap kini ada yang berbeda dari kebiasaan bekantan. Dahulu,  mereka bergerak dan hidup dari pohon ke pohon, sekarang mereka terlihat bergerak diatas permukaan tanah.

“Perubahan perilaku dari arboreal (bergerak diatas tajuk pohon) ke terestrial (bergerak di atas permukaan tanah) akan membawa beberapa konsekuensi terhadap terganggunya kelestarian populasi bekantan,” ujar Yaya Rayadin, peneliti dari Universitas Mulawarman Samarinda dilansir Kaltim Post

Ironisnya beberapa dari mereka tertangkap camera trap berada di kawasan perkebunan sawit, HTI,dan kawasan reklamasi tambang, padahal kawaasan ini dikenal bukan sebagai habitat bekantan.

“Bekantan merupakan satwa endemik Kalimantan dan hanya tersebar di beberapa tipe mangrove dan rivian (kiri-kanan sungai),” tambah yaya dilansir republika.co.id

Populasi bekantan yang hanya hidup di Pulau Kalimantan ini sangat miris sekarang keadaannya akibat habitatanya rusak, seperti menipisnya kawasan hutan mangrove dan adanya pembangunan di daerah rivian. Bekantan yang sumber pakan mereka habis dan tajuk satu dan tajuk lainnya tidak lagi terhubung membuatnya mulai menyesuaikan diri terhadap perubahan tersebut dengan mengubah kebiasaannya menjadi terestrial. (Ira Anugerah A)

SRAK: Upaya Selamatkan Rangkong Gading

Published in Nasional
Jumat, 24 November 2017 11:58

Medialingkungan.com - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mulai mengkhawatirkan keberlangsungan populasi burung rangkong gading (Rhinoplax vigil) yang semakin memprihatinkan. Data Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2012 - 2016 menjelaskan bahwa, sebanyak 1.398 paruh rangkong gading berhasil disita di Indonesia dan lebih dari 2.000 paruh yang diselundupkan ke Tiongkok, Amerika, dan Malaysia.

Burung ini telah masuk kedalam Appendices I Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) yang berarti satwa tersebut dilarang untuk diperdagangkan, ini sungguh harus diperhatikan apalagi  angka yang didapat mengenai hasil sitaan penyelundupan sungguh sangat memilukan seperti yang dilansir KLHK, membuat Pemerintah segera mengadakan Konsultasi Publik Nasional untuk menyusun Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Rangkong Gading, Kamis, (23/11/17) di Jakarta.

“SRAK Rangkong Gading ini sangat penting untuk mendapatkan komitmen dari berbagai pihak, terutama dari akademisi, para peneliti, kelompok masyarakat, lembaga swadaya masyarakat serta penegak hokum karena populasinya semakin terdesak,” tegas Bambang Dahono Adji, Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati, KLHK. (Ira Anugerah A)

Kalkun Liar “Teror” Warga AS

Published in Internasional
Kamis, 23 November 2017 15:59

Medialingkungan.com - Masyarakat yang berada di wilayah pinggiran Amerika Serikat baru-baru ini mengaku telah ‘diteror’ oleh sekelompok burung kalkun liar. Kalkun dilaporkan mengganggu lalu lintas di New York  Barat, memecahkan genteng milik warga di Sacramento, serta mengejar seorang anak dan anjingnya di Cambridge. Jenis burung kalkun liar yang dilaporkan menyerang warga di pinggiran AS bukan jenis yang biasa diburu, sehingga tidak menganggap manusia sebagai acaman.

“Burung-burung tersebut mencari daerah terbuka seperti derah berumput dan lapangan golf. Semua tempat terbuka tersebut bagus untuk kalkun liar. Daerah pinggiran adalah habitat yang cukup bagus,” kata Mark Hatfield, Direktur Conservation Administration For The Turkey Federation seperti yang dilansir The Washington Post, Rabu malam (22/11/17).

Bersamaan dengan hal tersebut, National Wild Turkey Federation dan para peneliti mengungkapkan bahwa populasi burung kalkun liar di AS secara bertahap menurun. Pada tahun 2004, populasi kalkun liar mencapai 7  juta spesies dan menurun mencapai 6 juta spesies pada tahun 2014. Pembangunan yang mengambil alih habitat kalkun dan meningkatnya predator menjadi akibat penurunan spesies tersebut.

‘Konflik’ antara manusia dan kalkun ini dilihat oleh Michael Chamberlain, seorang Profesor Manajemen Ekologi dari Universitas Georgia, sebagai sebuah akibat dari pembangunan yang dilakukan oleh manusia. “Dalam 20, 30 dan 40 tahun terakhir, manusia telah mengekspansi hutan secara luas, merusak dan memotong menjadi potongan kecil,” kata Chamberlain. (Suterayani)

Manajemen Kawasan Konservasi Fahutan IPB Gelar Lokakarya Nasional

Published in Event & Komunitas
Selasa, 14 November 2017 17:47

Medialingkungan.com - Divisi Manajemen Kawasan Konservasi (MKK), Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor (IPB) menggelar lokakarya nasional bertema ‘Adi-Praktis Manajemen Kawasan Konservasi di Indonesia’. Acara ini diselenggarakan di Ruang Sidang  Silva (RSS) Fahutan IPB, Senin (13/10/17).

Prof. Dr. Ir. Sambas Basuni, MS selaku ketua pelaksana menjelaskan bahwa sebagaimana diketahui bahwa teori-teori yang mendasari praktik kebijakan, kelembagaan dan manajemen adalah Lay-theory, bukan Academical theory.

“Lay-theories adalah teori-teori yang dikembangkan dari pengalaman terbaik atau sering kita sebut best practices (adi-praktis). Adi-praktis ini juga penting sebagai media pembelajaran khususnya bagi mahasiswa,” jelas Prof. Sambas.

Dalam lokakarya ini beberapa narasumber yang ahli dibidangnya hadir diantaranya Ir. Adi Susmianto, M.Sc; Dr. Budi Riyanto; Ir. Waldemar Hasilohan, M.Si; dan Nunu Anugrah, S.Hut, M.Sc.

Selain itu turut hadir sebagai narasumber perwakilan Taman Nasional (TN) oleh Dr. Ir. Novianto Bambang Wawandono (TN. Gunung Gede Pangrango); Dr. U. Mamat Rahmat, S.Hut, MP (TN. Ujung Kulon); Ir. Padmo Wiyoso (TN. Gunung Ciremai); Ir. Indra Arinal (TN. Baluran); dan Dr. Ir. Ayu Dewi Utari, M.Si (TN. Bromo Tengger Semeru).

Sebagai salah satu adi-praktis, Ir. Adi Susmianto, M.Sc mengakui bahwa, praktik pengelolaan kawasan konservasi tidak sepenuhnya didasarkan pada hasil-hasil penelitian ilmiah (sciences based).

“Namun, benar-benar didasarkan pada permasalahan dan kebutuhan yang dihadapi dilapangan, baik itu terkait aturan, prosedur, maupun teknik pengelolaannya,” lanjut Adi Susmianto.

Selain itu, Dr. Budi Riyanto, SH, M.Si menegaskan bahwa pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan adalah mutlak segera dilakukan dan memposiskan masyarakat sekitar hutan sebagai subyek dalam pembangunan kehutanan. (Iswanto)

Bunga Langka Di Bengkulu Ditemukan dalam Keadaan Rusak

Published in Nasional
Jumat, 10 November 2017 20:27

Medialingkungan.com - Rafflesia sp. bunga langka dan dilindungi kembali ditemukan dalam keadaan rusak di beberapa titik yang menjadi habitatnya di wilayah Kabupaten Bengkulu Utara dan Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu.

"Satu lokasi habitat kembali kami temukan, calon bunga dalam kondisi rusak karena dipotong-potong orang tak bertanggungjawab," ujar Koordinator Komunitas Peduli Puspa Langka (KPPL) Bengkulu Utara, Riki Septian, Jumat (10/11/17) seperti yang dilansir oleh Antara News.

Riki mengatakan, beberapa hari sebelumnya satu lokasi bunga Rafflesia sp. di hutan lindung Boven Lais juga ditemukan rusak dengan kondisi beberapa bonggol terpotong-potong. Perusakan bunga langka ini menurutnya dilakukan dengan sadar dan sengaja oleh orang tak bertangungjawab.

"Kami belum tahu siapa pelaku dan motif mereka merusak bunga langka yang menjadi aset wisata Bengkulu ini," tambahnya.

Koordinator KPPL Bengkulu Utara tersebut berharap kasus ini segera ditindak oleh aparat hukum baik dari polisi maupun polisi kehutanan sebab bunga Rafflesia merupakan flora dilindungi. Ia menambahkan, hutan lindung tersebut merupakan ‘Rumah’ terakhir bagi dua jenis Rafflesia sp. yakni Rafflesia gadutensis dan Rafflesia arnoldii.

Sementara itu, pengelola habitat bunga Rafflesia di Bengkulu Tengah, Ibnu Hajar mengatakan dalam satu tahun, lebih dari delapan lokasi habitat bunga langka itu dirusak orang tak bertanggungjawab.

"Kalau tidak ada tindakan dari aparat penegak hukum maka bunga Rafflesia sp. akan tinggal kenangan," ujar Ibnu.

Habitat dan keberadaan puspa langka ini menjadi salah satu andalan Provinsi Bengkulu untuk mendatangkan wisatawan ke daerah bengkulu, termasuk untuk menyukseskan program tahunan ‘Visit Wonderful Bengkulu 2020’.

Sejauh ini telah teridentifikasi empat jenis Rafflesia sp. di kawasan hutan Provinsi Bengkulu yakni Rafflesia bengkuluensis, Rafflesia arnoldii, Rafflesia gadutensis dan Rafflesia hasselti. (Dedy)

KLHK Peringati Hari Hutan Internasional (HHI) dengan Tema “Hutan dan Energi”

Published in Nasional
Rabu, 22 Maret 2017 20:57

Medialingkungan.com -  Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) adakan serangkaian kegiatan dalam rangka peringati Hari Hutan Internasional (HHI) Tahun 2017, mulai tanggal 21-26 Maret 2017. Kegiatan yang bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran publik tentang pentingnya keberadaan hutan dan pohon di luar kawasan hutan.

Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan dari United Nations Food and Agriculture Organization (FAO), dan juga dihadiri oleh Perwakilan Kedutaan Besar negara sahabat, Perwakilan Kementerian ESDM, Sekolah Adiwiyata, Kelompok Pecinta Alam dan para aktivis lingkungan.

Dalam pembukaan kegiatan HHI, Menteri LHK Siti Nurbaya menyampaikan bahwa, Tema HHI tahun ini "Hutan dan Energi", memiliki makna fungsi hutan sebagai sumber energi pemanas, bahan bakar nabati cair, dan peneduh yang dapat mengurangi kebutuhan energi.

"Indonesia memiliki cukup banyak sumber energi terbarukan. Setidaknya terdapat delapan sumber energi terbarukan yang dapat kita manfaatkan, seperti : biofuel, biomassa, panas bumi (geothermal), air, angin, matahari, gelombang laut dan pasang surut. Dari sumber-sumber energi tersebut, semuanya terkait langsung dengan keberadaan hutan dan lingkungan hidup," ujar Siti Nurbaya seperti  yang dilansir oleh RiauBook.com

Siti Nurbaya juga menginformasikan bahwa saat ini KLHK tengah mengkaji kawasan hutan produksi yang dapat digunakan sebagai areal hutan tanaman dengan jenis tanaman yang dapat digunakan sebagai sumber energi biofuel dan biomassa, diantaranya yaitu tanaman Sengon, Nyamplung, Akasia, Kaliandra, Kemiri.

Sementara itu, Mark Smulders selaku perwakilan FAO mengungkapkan bahwa hutan Indonesia telah berubah dari sumber energi utama menjadi sarana mitigasi perubahan iklim, tidak hanya bagi negara, tetapi untuk dunia pada umumnya. Hutan memiliki kapasitas yang luar biasa untuk menyerap dan menyimpan energi, sehingga pengelolaan hutan berkelanjutan menjadi sangat penting.

Diakhir kegiatan, Siti Nurbaya berpesan kepada generasi muda untuk lebih peduli dan menjaga lingkungan, hutan dan keanekaragaman hayatinya. Generasi muda ditantang untuk kreatif dan inovatif dalam menjaga hutan dan lingkungan. {Dedy. M}

Jejak Macan Tutul di Hutan Merapi Masih Jadi Misteri

Published in Nasional
Jumat, 03 Maret 2017 18:40

Medialingkungan.com – Keberadaan satwa macan tutul Panthera pardus melas di Hutan Merapi, Taman Nasional Gunung Merapi seakan masih menjadi misteri. Berbagai usaha telah dilakukan, seperti memasang kamera trap, namun tak jua membuahkan hasil dalam mendeteksi keberadaannya

Petugas Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) pada tahun 2015 secara tidak sengaja melihat langsung satwa tersebut masih ada dikawasan Hutan Merapi. Namun sayangnya, saat itu petugas tidak sempat mengambil gambar macan tutul tersebut.

Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Balai TNGM, Iskandar, seperti yang dilansir dari Kompas, Senin (27/02), mengatakan lokasi perjumpaan dengan macan tutul tersebut berada di kawasan hutan sisi timur, yang cenderung tidak terdampak erupsi Gunung Merapi. Tepatnya di antara Klaten dan Boyolali.

Dari laporan itu, Balai TNGM mencoba mendeteksi keberadaan macan tutul dengan memasang kamera trap. Hanya saja, sampai saat ini kamera trap yang dipasang belum berhasil merekam keberadaan macan tutul.

"Kita pasang tujuh kamera trap. Selama setahun terakhir, ada empat kali kegiatan, tetapi belum berhasil. Mungkin penempatan posisinya belum tepat," ucapnya.

Petugas beberapa kali menemukan adanya tanda-tanda keberadaan macan tutul saat melakukan penelusuran di kawasan hutan Merapi. Tanda-tanda itu seperti cakaran di batang pohon dan jejak macan tutul.

"Selama ini, kami hanya menemukan tanda-tandanya, cakaran di pohon dan jejak macan tutul. Tetapi, memang kami belum punya bukti fotonya," katanya.

Menurut dia, para aktivis satwa dan LSM menyampaikan mengenai keberadaan macan tutul di hutan Merapi. Data itu pasca-kejadian erupsi pada 2010 lalu.

Saat ini, Pihak Taman Nasioanl hanya dapat melakukan komunikasi personal dan belum melihat datanya. Namun, mereka bilang masih ada dan harus terus dicari untuk perlindungan habitat

"Permasalahan kepunahan maupun berkurangnya populasi di mana pun masalah utamanya paling dominan adalah gangguan manusia. Kerusakan habitat di Jawa khususnya, itu sudah sangat besar. Belum lagi ditambah tren perburuan liar., misalnya, menggunakan senapan angin.Kalau di dalam kawasan kami masih bisa tangani, tetapi kalau di luar kami tidak bisa," urainya.

Sementara itu, Putu Dhian, Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan, TNGM, menambahkan guna mendeteksi dan memastikan keberadaan macan tutul di kawasan hutan Merapi, pihaknya masih akan memasang kamera trap untuk beberapa bulan sekali pada lokasi yang dicurigai tempat aktivitas macan tutul. {Andi Wahyunira}

Papua Barat Peroleh Kucuran Dana Abadi untuk Konservasi

Published in Nasional
Senin, 27 Februari 2017 14:16

Medialingkungan.com – Kawasan Konservasi Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) di Papua Barat mendapatkan kucuran dana abadi dari sebuah konsorsium yang dinamakan Blue Abadi Fund. Konsorsium ini hasil kerjasama dari beberapa lembaga donor, puluhan mitra konservasi dan juga ditambah dengan anggaran dari pemerintah.

Seperti yang dilansir oleh Mongabay.com, lembaga Conservation International (CI), The Nature Conservancy (TNC), dan WWF-Indonesia merupakan lembaga yang telah mengerjakan program Konservasi Kepala Burung Papua selama 12 tahun di Papua Barat dan bersama dengan pemerintahnya melaksanakan program 3,6 juta hektar Kawasan Konservasi Perairan (KKP) atau sekitar 20% dari seluruh KKP yang saat ni ada di Indonesia.

Papua Barat dipilih sebagai lokasi konservasi ini karena BLKB memiliki 75% dari spesies karang dunia juga lebih dari 70 spesies ikan, terumbu karang dan krustasea disebut hanya ditemukan di kawasan ini. Lokasi paling terkenal adalah Raja Ampat

Untuk itu, pengadaan dana abadi atau berkelanjutan ini akan sangat membantu untuk program-program peningkatan kapasitas warga, konservasi, wisata dan lainnya. Kedepannya dana ini akan diperuntukkan bagi komunitas dan lembaga lokal termasuk Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) bentukan pemerintah.

“Dukungan untuk KKP pertama tingkat provinsi ini untuk melindungi dan mengelolanya secara berkelanjutan,” ujar Nathaniel D. Mandacan, Sekretaris Daerah Provinsi Papua Barat dalam jumpa pers. Walaupun dana ini secara teknis baru akan dimulai pada tahun 2018. Nathaniel mengatakan bahwa pihaknya sedang menyelesaikan Ranperda terkait hal tersebut.

Melalui konsorsium ini, masyarakat dan pemerintah setempat akan diberikan hak untuk mengelola KKP pada Juni 2017. Pemprov Papua Barat menyediakan Rp7.215.000.000 (US$555.000) tiap tahunnya untuk pengelolaan KKP mulai 2018. Ketut Sarjana Putra, Vice President CI Indonesia mengatakan pihaknya berusaha untuk terus menambah dana yang nantinya diharapkan dapat menambah aksi di lapangan. {Suterayani}

School Visit: Belajar Konservasi di Alam Terbuka Bersama BKSDA dan Lentera Negeri

Published in Event & Komunitas
Minggu, 05 Juni 2016 13:21

Medialingkungan.com –  Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulawesi Selatan bekerjasama dengan Lentera Negeri Makassar kembali melakukan kegiatan School Visit, pada minggu pagi (05/06). Kegiatan ini merupakan lanjutan dari kegiatan sebelumnya, dimana kali ini dilaksanakan dengan metode outdoor dan games yang bertempat di Taman Gedung Ipteks, Universitas Hasanuddin Makassar.

Kegiatan ini diikuti oleh 47 orang siswa sekolah non-formal yang dibina oleh komunitas Lentera Negeri Makassar. Para siswa ini terdiri dari 3 kelas yang tergabung, yaitu kelas bagian Daya, Antang, dan Gowa. Kegiatan outdoor dan games ini dipandu langsung oleh Hamka, staf BBKSDA Sulsel, dimana games ini menanamkan nilai kepada anak usia dini untuk mengetahui dampak dari membuang sampah sembarangan, serta bagaimana mengenal dan mengidentifikasi satwa langka.

Kepala Seksi Pemanfaatan dan Pelayanan BBKSDA Sulsel, Edy Santoso menerangkan bahwa kegiatan School Visit ini merupakan salah satu program BBKSDA Sulsel yang bertujuan untuk berbagi pengetahuan tentang konservasi kepada masyarakat dalam hal ini anak-anak usia dini. Selain itu, program ini juga bertujuan untuk menanamkan pola hidup ramah lingkungan kepada anak usia dini dengan mengenalkan cara pengelolaan lingkungan hidup sederhana di sekitar kita, seperti pengelolaan sampah, penanaman pohon, serta pengenalan tumbuhan dan satwa dilindungi.

“BBKSDA yang mempunyai tugas dan fungsi pengelolaan konservasi dan pengelolaan tumbuhan dan satwa liar juga perlu untuk memberikan pengetahuan kepada anak-anak tentang flora dan fauna, agar mereka mengetahui kekayaan hayati di Indonesia, khususnya di Sulawesi,” kata Edy.

Edy menambahkan kegiatan ini dilaksanakan di ruang alam terbuka sebagai upaya pengenalan secara langsung kepada anak-anak terkait hal-hal yang dapat mengurangi kualitas lingkungan hidup, seperti pencemaran akibat membuang sampah sembarangan, dan lain sebagainya.

“Kegiatan konservasi memerlukan dukungan masyarakat luas, sehingga pola hidup yang mencerminkan kelestarian lingkungan dapat tertanam pada diri individu sejak usia dini,” tambahnya. {Muchlas Dharmawan)

Halaman 1 dari 3

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini