medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

KLHK Peringati Hari Hutan Internasional (HHI) dengan Tema “Hutan dan Energi”

Published in Nasional
Rabu, 22 Maret 2017 20:57

Medialingkungan.com -  Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) adakan serangkaian kegiatan dalam rangka peringati Hari Hutan Internasional (HHI) Tahun 2017, mulai tanggal 21-26 Maret 2017. Kegiatan yang bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran publik tentang pentingnya keberadaan hutan dan pohon di luar kawasan hutan.

Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan dari United Nations Food and Agriculture Organization (FAO), dan juga dihadiri oleh Perwakilan Kedutaan Besar negara sahabat, Perwakilan Kementerian ESDM, Sekolah Adiwiyata, Kelompok Pecinta Alam dan para aktivis lingkungan.

Dalam pembukaan kegiatan HHI, Menteri LHK Siti Nurbaya menyampaikan bahwa, Tema HHI tahun ini "Hutan dan Energi", memiliki makna fungsi hutan sebagai sumber energi pemanas, bahan bakar nabati cair, dan peneduh yang dapat mengurangi kebutuhan energi.

"Indonesia memiliki cukup banyak sumber energi terbarukan. Setidaknya terdapat delapan sumber energi terbarukan yang dapat kita manfaatkan, seperti : biofuel, biomassa, panas bumi (geothermal), air, angin, matahari, gelombang laut dan pasang surut. Dari sumber-sumber energi tersebut, semuanya terkait langsung dengan keberadaan hutan dan lingkungan hidup," ujar Siti Nurbaya seperti  yang dilansir oleh RiauBook.com

Siti Nurbaya juga menginformasikan bahwa saat ini KLHK tengah mengkaji kawasan hutan produksi yang dapat digunakan sebagai areal hutan tanaman dengan jenis tanaman yang dapat digunakan sebagai sumber energi biofuel dan biomassa, diantaranya yaitu tanaman Sengon, Nyamplung, Akasia, Kaliandra, Kemiri.

Sementara itu, Mark Smulders selaku perwakilan FAO mengungkapkan bahwa hutan Indonesia telah berubah dari sumber energi utama menjadi sarana mitigasi perubahan iklim, tidak hanya bagi negara, tetapi untuk dunia pada umumnya. Hutan memiliki kapasitas yang luar biasa untuk menyerap dan menyimpan energi, sehingga pengelolaan hutan berkelanjutan menjadi sangat penting.

Diakhir kegiatan, Siti Nurbaya berpesan kepada generasi muda untuk lebih peduli dan menjaga lingkungan, hutan dan keanekaragaman hayatinya. Generasi muda ditantang untuk kreatif dan inovatif dalam menjaga hutan dan lingkungan. {Dedy. M}

Jejak Macan Tutul di Hutan Merapi Masih Jadi Misteri

Published in Nasional
Jumat, 03 Maret 2017 18:40

Medialingkungan.com – Keberadaan satwa macan tutul Panthera pardus melas di Hutan Merapi, Taman Nasional Gunung Merapi seakan masih menjadi misteri. Berbagai usaha telah dilakukan, seperti memasang kamera trap, namun tak jua membuahkan hasil dalam mendeteksi keberadaannya

Petugas Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) pada tahun 2015 secara tidak sengaja melihat langsung satwa tersebut masih ada dikawasan Hutan Merapi. Namun sayangnya, saat itu petugas tidak sempat mengambil gambar macan tutul tersebut.

Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Balai TNGM, Iskandar, seperti yang dilansir dari Kompas, Senin (27/02), mengatakan lokasi perjumpaan dengan macan tutul tersebut berada di kawasan hutan sisi timur, yang cenderung tidak terdampak erupsi Gunung Merapi. Tepatnya di antara Klaten dan Boyolali.

Dari laporan itu, Balai TNGM mencoba mendeteksi keberadaan macan tutul dengan memasang kamera trap. Hanya saja, sampai saat ini kamera trap yang dipasang belum berhasil merekam keberadaan macan tutul.

"Kita pasang tujuh kamera trap. Selama setahun terakhir, ada empat kali kegiatan, tetapi belum berhasil. Mungkin penempatan posisinya belum tepat," ucapnya.

Petugas beberapa kali menemukan adanya tanda-tanda keberadaan macan tutul saat melakukan penelusuran di kawasan hutan Merapi. Tanda-tanda itu seperti cakaran di batang pohon dan jejak macan tutul.

"Selama ini, kami hanya menemukan tanda-tandanya, cakaran di pohon dan jejak macan tutul. Tetapi, memang kami belum punya bukti fotonya," katanya.

Menurut dia, para aktivis satwa dan LSM menyampaikan mengenai keberadaan macan tutul di hutan Merapi. Data itu pasca-kejadian erupsi pada 2010 lalu.

Saat ini, Pihak Taman Nasioanl hanya dapat melakukan komunikasi personal dan belum melihat datanya. Namun, mereka bilang masih ada dan harus terus dicari untuk perlindungan habitat

"Permasalahan kepunahan maupun berkurangnya populasi di mana pun masalah utamanya paling dominan adalah gangguan manusia. Kerusakan habitat di Jawa khususnya, itu sudah sangat besar. Belum lagi ditambah tren perburuan liar., misalnya, menggunakan senapan angin.Kalau di dalam kawasan kami masih bisa tangani, tetapi kalau di luar kami tidak bisa," urainya.

Sementara itu, Putu Dhian, Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan, TNGM, menambahkan guna mendeteksi dan memastikan keberadaan macan tutul di kawasan hutan Merapi, pihaknya masih akan memasang kamera trap untuk beberapa bulan sekali pada lokasi yang dicurigai tempat aktivitas macan tutul. {Andi Wahyunira}

Papua Barat Peroleh Kucuran Dana Abadi untuk Konservasi

Published in Nasional
Senin, 27 Februari 2017 14:16

Medialingkungan.com – Kawasan Konservasi Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) di Papua Barat mendapatkan kucuran dana abadi dari sebuah konsorsium yang dinamakan Blue Abadi Fund. Konsorsium ini hasil kerjasama dari beberapa lembaga donor, puluhan mitra konservasi dan juga ditambah dengan anggaran dari pemerintah.

Seperti yang dilansir oleh Mongabay.com, lembaga Conservation International (CI), The Nature Conservancy (TNC), dan WWF-Indonesia merupakan lembaga yang telah mengerjakan program Konservasi Kepala Burung Papua selama 12 tahun di Papua Barat dan bersama dengan pemerintahnya melaksanakan program 3,6 juta hektar Kawasan Konservasi Perairan (KKP) atau sekitar 20% dari seluruh KKP yang saat ni ada di Indonesia.

Papua Barat dipilih sebagai lokasi konservasi ini karena BLKB memiliki 75% dari spesies karang dunia juga lebih dari 70 spesies ikan, terumbu karang dan krustasea disebut hanya ditemukan di kawasan ini. Lokasi paling terkenal adalah Raja Ampat

Untuk itu, pengadaan dana abadi atau berkelanjutan ini akan sangat membantu untuk program-program peningkatan kapasitas warga, konservasi, wisata dan lainnya. Kedepannya dana ini akan diperuntukkan bagi komunitas dan lembaga lokal termasuk Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) bentukan pemerintah.

“Dukungan untuk KKP pertama tingkat provinsi ini untuk melindungi dan mengelolanya secara berkelanjutan,” ujar Nathaniel D. Mandacan, Sekretaris Daerah Provinsi Papua Barat dalam jumpa pers. Walaupun dana ini secara teknis baru akan dimulai pada tahun 2018. Nathaniel mengatakan bahwa pihaknya sedang menyelesaikan Ranperda terkait hal tersebut.

Melalui konsorsium ini, masyarakat dan pemerintah setempat akan diberikan hak untuk mengelola KKP pada Juni 2017. Pemprov Papua Barat menyediakan Rp7.215.000.000 (US$555.000) tiap tahunnya untuk pengelolaan KKP mulai 2018. Ketut Sarjana Putra, Vice President CI Indonesia mengatakan pihaknya berusaha untuk terus menambah dana yang nantinya diharapkan dapat menambah aksi di lapangan. {Suterayani}

School Visit: Belajar Konservasi di Alam Terbuka Bersama BKSDA dan Lentera Negeri

Published in Event & Komunitas
Minggu, 05 Juni 2016 13:21

Medialingkungan.com –  Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulawesi Selatan bekerjasama dengan Lentera Negeri Makassar kembali melakukan kegiatan School Visit, pada minggu pagi (05/06). Kegiatan ini merupakan lanjutan dari kegiatan sebelumnya, dimana kali ini dilaksanakan dengan metode outdoor dan games yang bertempat di Taman Gedung Ipteks, Universitas Hasanuddin Makassar.

Kegiatan ini diikuti oleh 47 orang siswa sekolah non-formal yang dibina oleh komunitas Lentera Negeri Makassar. Para siswa ini terdiri dari 3 kelas yang tergabung, yaitu kelas bagian Daya, Antang, dan Gowa. Kegiatan outdoor dan games ini dipandu langsung oleh Hamka, staf BBKSDA Sulsel, dimana games ini menanamkan nilai kepada anak usia dini untuk mengetahui dampak dari membuang sampah sembarangan, serta bagaimana mengenal dan mengidentifikasi satwa langka.

Kepala Seksi Pemanfaatan dan Pelayanan BBKSDA Sulsel, Edy Santoso menerangkan bahwa kegiatan School Visit ini merupakan salah satu program BBKSDA Sulsel yang bertujuan untuk berbagi pengetahuan tentang konservasi kepada masyarakat dalam hal ini anak-anak usia dini. Selain itu, program ini juga bertujuan untuk menanamkan pola hidup ramah lingkungan kepada anak usia dini dengan mengenalkan cara pengelolaan lingkungan hidup sederhana di sekitar kita, seperti pengelolaan sampah, penanaman pohon, serta pengenalan tumbuhan dan satwa dilindungi.

“BBKSDA yang mempunyai tugas dan fungsi pengelolaan konservasi dan pengelolaan tumbuhan dan satwa liar juga perlu untuk memberikan pengetahuan kepada anak-anak tentang flora dan fauna, agar mereka mengetahui kekayaan hayati di Indonesia, khususnya di Sulawesi,” kata Edy.

Edy menambahkan kegiatan ini dilaksanakan di ruang alam terbuka sebagai upaya pengenalan secara langsung kepada anak-anak terkait hal-hal yang dapat mengurangi kualitas lingkungan hidup, seperti pencemaran akibat membuang sampah sembarangan, dan lain sebagainya.

“Kegiatan konservasi memerlukan dukungan masyarakat luas, sehingga pola hidup yang mencerminkan kelestarian lingkungan dapat tertanam pada diri individu sejak usia dini,” tambahnya. {Muchlas Dharmawan)

BKSDA: Tanamkan Pendidikan Peduli Alam Sejak Dini

Published in Event & Komunitas
Minggu, 29 Mei 2016 17:39

Medialingkungan.com - Balai Besar Konservasi Sumber daya Alam (BBKSDA) bekerja sama dengan komunitas Lentera Negeri Makassar mengadakan School Visit Pendidikan Konservasi Alam bertajuk “Peduli Alam Sejak Dini”. Kegiatan yang rencananya akan menjadi kegiatan tahunan BBKSDA tersebut diadakan di Taman Pendidikan Al-Qur’an Al-A’raf Jl. Paccerakkang - Daya, Makassar (29/05).

Kegiatan tersebut selain diikuti oleh 50 peserta yang merupakan siswa - siswi sekolah informal binaan dari komunitas lentera Makassar, juga turut hadir beberapa staf dari BBKSDA untuk turun langsung mengajarkan ke peserta untuk lebih peduli terhadap alam.

Bintang putra selaku penanggung jawab dari Lentera Negeri Makassar mengungkapkan bahwa, tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memperkenalkan ke anak - anak tentang tumbuhan atau satwa liar yang hampir punah dan harus dilindungi, juga untuk mengajarkan agar lebih peka dan peduli terhadap lingkungan sekitar.

“Dalam kegiatan ini, kami memberikan materi tentang pengenalan satwa - satwa liar yang hampir punah di alam bebas, mengenal jenis jenis sampah, dan beberapa games tentang lingkungan”, Ungkapnya.

“Kami berharap setelah kegiatan ini semua peserta yang hadir bisa sadar dan peka terhadap lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarang tempat”, Tambahnya.

Sementara itu, Kepala seksi pemanfaatan BBKSDA Edi Santoso mengungkapkan, pemilihan anak-anak sekolah informal sebagai peserta pendidikan lingkungan merupakan pilihan yang tepat, karena menurutnya sekolah sekolah formal di Makassar sudah memiliki kurikulum sendiri terkait pendidikan lingkungan dibandingkan dengan sekolah informal yang masih minim pengetahuan tentang kesadaran dalam menjaga lingkungan.

“Dengan adanya kegiatan ini, semoga apa yang kami berikan bisa bermanfaat dan dapat diaplikasikan langsung di kehidupan sehari - hari, dan membuat mereka jadi lebih cinta terhadap alam”, Tuturnya.

Edy menambahkan bahwa kedepan nya BBKSDA akan kembali mengadakan kegiatan yang sama di tempat yang berbeda untuk mengajak anak - anak usia dini lebih cinta terhadap lingkungan. {Dedy}

Dijadikan Satwa Peliharaan, Populasi Orangutan Terancam

Published in Nasional
Sabtu, 14 Mei 2016 01:37

Medialingkungan.com - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimatan Barat melakukan usaha dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap aturan Konservasi dan Sumber Daya Alam Hayati serta Ekosistemnya. Interaksi personal cara efektif dalam usaha penyadaran masyarakat.

“Tidak mudah memang, tapi kita tidak boleh berhenti. Polisi Kehutanan yang tadinya mereka takuti, kini jadi sahabat sehingga terjalin komunikasi yang baik,” ujar Sustyo Iriyono, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, seperti dilansir Mongabay.

Terbukti dengan upaya evakuasi satu individu orangutan jantan bernama, Ujang Lambai, usia enam bulan peliharaan warga dari Dusun Tanjung Lambai, Desa Menyumbung Kecamatan Hulu Sungai, Kabupaten Ketapang (30/04).  “Selanjutnya, orangutan tersebut akan dititipkan-rawatkan di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) Ketapang guna mendapatkan perawatan awal dan rehabilitasi,” ujar Sustyo.

Kekayaan alam Indonesia harus dijaga dan upaya pemanfaatan harus dibarengi dengan pelestarian yang sepadan. Upaya tersebut melalui perlindungan, penangkaran, dan perbaikan habitat. “Perdagangan ilegal tumbuhan dan satwa liar dan kepemilikan satwa liar yang dilindungi undang-undang untuk kesenangan harus dihentikan,” tegas Sustyo.

Orangutan termasuk satwa yang dilindungi Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Pada Pasal 21 ayat 2 dijabarkan, dilarang menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan atau memperjual belikan hewan yang dilindungi atau bagian lainnya dalam kondisi hidup atau mati.

“Orangutan memiliki fungsi ekologi sebagai penyebar biji tanaman buah di hutan. Kelestarian orangutan harus dijaga demi keberlangsungan hutan itu sendiri,” ujarnya. Ia menambahkan, memelihara orangutan berarti mempercepat proses perubahan iklim. {Ilham Nasir}

Petugas Taman Nasional Temukan Jejak Harimau di Semeru

Published in Nasional
Kamis, 28 April 2016 08:40

Medialingkungan.com – Petugas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menemukan jejak harimau di jalur pendakian Gunung Semeru, Jawa Timur. Jejak harimau tersebut terdapat di kawasan Savana Oro-Oro Ombo.

Kepala Seksi Pengelolaan Wilayah III Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Budi Mulyanto mengatakan jejak tersebut terlihat saat petugas melakukan survei jalur pendakian Gunung Semeru belum lama ini. Survei dilakukan sebelum petugas membuka secara resmi jalur pendakian yang sempat ditutup.

“Ada jejak binatang mamalia besar bertebaran di Oro-oro Ombo. Belum tahu itu jejak harimau tutul atau harimau besar," ujar Budi, dikutip dari Tempo.

Penemuan jejak harimau menandakan bahwa satwa liar Taman Nasional leluasa bergerak di jalur pendakian. Ketika pendakian ditutup untuk pemulihan ekosistem, satwa liar ini akan bebas bepergian kemana-mana tanpa harus berpapasan dengan manusia.

Sebelumnya, pada musim pendakian tahun lalu sekelompok pendaki juga sempat menjumpai harimau di jalur pendakian. Kejadian ini sempat menggegerkan pendakian Semeru. Para pendaki bersembunyi karena takut diserang.

Selain penemuan jejak harimau, petugas juga menjumpai jalur pendakian yang tertimbun longsor serta terhalang pohon tumbang. Namun secara umum jalur tersebut sudah layak untuk dilewati para pendaki karena jalur yang terkena longsor telah dibenanhi dan pohon tumbang sebagian juga telah dibersihkan.

Terhadap pohon tumbang yang merintangi jalan, petugas sengaja tidak menyingkirkan seluruhnya. Hal itu dilakukan agar tantangan para pendaki kian bertambah. Keberadaan pohon yang merintangi jalur dinilai menjadi warna tersendiri.

Jalur pendakian akan di buka awal bulan mei mendatang. Namun sebelum resmi membuka jalur pendakian, petugas Taman Nasional lebih dulu berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi. {Andi Wahyunira}

Harimau Sumatera Hampir Mencapai Kepunahan

Published in Nasional
Jumat, 22 April 2016 11:09

Medialingkungan.com - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama Forum HarimauKita menyelenggarakan Workshop Populasition Viability Analysis (PVA). Ahli dan Praktisi Konservasi Harimau Sumatera Berkolaborasi dalam melakukan analisis kelangsungan Populasi Harimau Sumatera dalam acara workshop di Bogor (19-21/04).

Hasil paparan analisis yang disampaikan dalam workshop PVA, bahwa Populasi Harimau Sumatera (Panther tigris sumatrae) diketahui hidup di 22 lansekap hutan di pulau Sumatera sedang mengalami kepunahan akibat deforestasi, perburuan liar juga konflik dengan manusia.

Yoan Dinata, Ketua Forum HarimauKita, mengatakan bahwa ke-22 lansekap tersebut adalah Leuser Ulumasen, Dolok Surungan, Batang Toru, Senepis-Buluhala, Barumun, Batang Gadis, Rimbopanti/Pasaman, Diam Siak Kecil, Kampar, Kerumutan, Tesso Nilo, Rimbang Baling, Kerinci Seblat-Batanghari, Bukit Tigapuluh, Bukit Duabelas, Berbak-Sembilang, Hutan Harapan, Dangku, Bukit Balai Rejang Selatan dan Way Kampas.

Seperti yang dilansir dari mongabay.co.id, “Dari hasil PVA, hanya 3 dari ke-22 lansekap yang menunjukkan Kecenderungan populasi dapat bertahan hingga 100 tahun kedepan, yaitu Leuser-Ulumasen, Kerinci Seblat dan Batang Gadis. Ketiga lansekap ini sedang mengalami tantangan deforestasi akibat usulan perubahan tata ruang dan pembangunan jalan,” ujarnya.

Diambil dari data perburuan yang dihimpun oleh tim investigasi Wildlife Crimes Unit (WCU), Forum HarimauKita mencatat sedikitnya 55 kasus konflik manusia dengan harimau yang terjadi sejak tahun 2009 hingga 2014. Pada saat yang sama, sekurangnya jumlah 124 ekor harimau yang diburu.

Banyak hal yang dibahas dalam workshop PVA, salah satunya menjadi catatan adalah data deforestasi yang sebaiknya menggunakan data resmi pemerintah, sehingga dapat sinergi dengan program-program pembangunan di Sumatera. Dan juga menghasilkan analisa yang terbaik dan memiliki kesesuaian yang tinggi dengan kondisi dan situasi di lapangan.

“Dalam beberapa bulan kedepan kami masih akan bekerja keras untuk menyempurnakan hasil PVA ini agar dapat menyajikan dasar informasi yang objektif untuk penyusunan strategi konservasi harimau sumatera di masa mendatang,” tutup Yoan. {Ilham Nasir}

Greenpeace Indonesia Ungkap Hasil Investigasi Tambang di Kaltim dan Kalsel

Published in Nasional
Kamis, 31 Maret 2016 07:50

Medialingkungan.com – Greenpeace Indonesia melakukan investigasi untuk mengungkap aktivitas pertambangan batubara yang dilakukan Banpu, perusahan asal Thailand. Dalam laporan hasil investigasi itu, Greenpeace membeberkan temuannya dari dua lokasi, yakni di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.

Dari siaran pers yang diberikan kepada Medialingkungan.com (30/03), Greenpeace mengungkapkan, aktivitas pertambangan di lokasi tersebut berdampak buruk terhadap perubahan bentang alam, hancurnya lahan pertanian produktif, dan menyisakan lubang-lubang tambang raksasa.

Menurutnya, Banpu di Indonesia memiliki saham 65% pada PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITM), yang listing (terdaftar) di Bursa Efek Indonesia. ITM mengontrol sejumlah perusahaan di Kalimantan, diantaranya PT Kitadin, PT Indominco Mandiri, dan PT Jorong Barutama Greston.

Saat ini Banpu sedang merencanakan ekspansi PLTU batubara besar-besaran di wilayah Asia Tenggara, dan hal ini tentu saja akan membuat Banpu menggali batubara lebih banyak lagi di Indonesia. Tahun ini perusahaan itu berusaha meningkatkan sumber pendanaan mereka melalui penawaran saham perdana/IPO di Bursa Efek Thailand yang telah didaftarkan di akhir tahun 2015 lalu.

“Salah satu studi kasus yang diamati oleh Greenpeace adalah masyarakat di Desa Kerta Buana yang terpapar dampak negatif akibat praktik tambang batubara oleh PT. Kitadin,” kata Bondan Andriyanu, Juru kampanye Batubara Greenpeace Indonesia.

Bondan menambahkan, saat ini, 50 persen dari seluruh lahan pertanian Desa Kerta Buana atau sekitar 796 hektar sudah berubah menjadi konsesi tambang, selain meninggalkan bekas lubang tambang, masyarakat juga mengeluhkan banjir dan kekeringan di wilayah mereka.

Leboh lanjut ia jelaskan bahwa jika pada musim hujan terjadi banjir, sebaliknya pada musim kemarau warga terpaksa tidak bisa menanam padi di sawahnya karena tidak ada lagi air di saluran irigasi. Air yang seharusnya mengairi irigasi, terjebak di lubang-lubang bekas tambang PT. Kitadin dan membentuk danau buatan.

Hal ini menyebabkan panen padi warga menjadi tidak menentu, dari yang awalnya bisa menanam dua kali setahun dengan hasil kurang lebih sepuluh ton sekarang hanya sekali setahun dengan hasil hanya empat ton.

Sementara itu, di tempat lain, PT. Indominco Mandiri berencana melakukan praktik tambang batubara dengan menimbun Sungai Santan, di Kalimantan Selatan. Dalam laporan investigasi itu, dikatakan bahwa sejak beroperasinya PT. Indominco Mandiri di daerah hulu sungai Santan, warga merasakan kualitas air sungai semakin menurun yang memberi dampak langsung bagi kehidupan masyarakat lokal.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa penurunan kualitas sungai ditandai dengan perubahan warna air sungai, diikuti juga dengan matinya ikan-ikan yang selama ini menjadi sumber penghidupan ekonomi masyarakat setempat.

Selain itu, penelusuran Greenpeace juga mengunkap bahwa masyarakat kerap merasakan gatal-gatal saat mandi menggunakan air Sungai Santan. Warga mulai berhenti mengonsumsi air dari Sungai Santan, terutama untuk keperluan minum dan memasak.

“Terlalu banyak kerugian yang dirasakan oleh masyarakat sekitar, Banpu seharusnya tidak lagi melakukan ekspansi bisnis batubaranya di Indonesia. Pemerintah Indonesia seharusnya juga melakukan pengawasan dan penegakan hukum yang tegas untuk melindungi rakyatnya,” ujar Bondan.

Ia juga mengatakan, investor tersebut justru memberikan kerugian. “Ini salah satu contoh buruk hadirnya investasi asing yang merugikan bangsa kita, masih banyak lagi keterlibatan investor asing di industri batubara Indonesia yang justru merugikan kita,” tambah Bondan. {Fahrum Ahmad}

  1. Untuk melihat laporan selengkapnya, laporan dapat diunduh pada link di bawah: http://www.greenpeace.org/seasia/id/press/reports/desa-terkepung-tambang-batubara/
  2. Laporan Greenpeace terkait tambang batubara, Batubara Meracuni Air Kalimantan Selatan dapat dilihat disini: http://www.greenpeace.org/seasia/id/PageFiles/645408/EXSUMM%20INDONESIA.pdf

Maruruno, Air Terjun Berundak-undak

Published in Ekowista & Traveling
Jumat, 11 Maret 2016 16:51

Medialingkungan.com – Bagi kebanyakan orang, mendengar kata Luwu Timur mungkin yang pertamakali terlintas dibenak adalah daerah kaya akan bahan tambang khususnya Nikel. Namun, Luwu Timur ternyata menyimpan beraneka ragam wisata alam, salah satunya air terjun Maruruno.

Kata Maruruno sendiri memiliki arti gemuruh. Penamaan air terjun ini dengan kata tersebut dikarenakan suara gemuruh airnya yang jatuh dari ketinggian dengan melewati beberapa undakan. Namun ada juga yang menyebutnya air terjun ‘Mata Buntu’, artinya air yang keluar dari batu yang bergelembung.

Air tejun ini tersembunyi di antara lebatnya pepohonan Gunung Lembeonga yang menjulang tinggi sehingga membuat suasananya sangat alami. Udara yang sejuk, suara gemercik air ditambah kicauan burung dan berbagai suara satwa lainnya memberikan ketenangan bagi pengunjung.

Uniknya lagi, air terjun ini memiliki 33 susun undakan yang terbentuk secara alami. Dimana Untuk mencapai undakan utama kita harus melewati puluhan anak tangga yang terbuat dari beton.

Undakan paling atas dapat ditemui sebuah batu berbentuk alat kelamin pria yang konon dipercaya dapat membantu bagi pasangan yang belum dikarunia anak. Adapula yang meyakini sebagai tempat mengikat janji bagi pasangan muda mudi. 

Model undakan tersebut berbentuk mangkuk sehingga terlihat seperti kolam-kolam kecil yang membuat air jatuh diantara tebing tidak langsung menuju ke sungai utama yaitu sungai Tumbura.

Saat Anda datang pada musim kemarau, airnya yang dangkal hanya sebatas mata kaki membuat banyak pengujung berlama-lama mandi di kolam ini. Namun pada musim hujan, debit air bisa saja bertambah sehingga jika Anda ingin berkunjung ke tempat ini pintar-pintarlah memilih waktu.

Air Terjun Maruruno terletak di ujung timur Sulawesi Selatan, tepatnya di Kecamatan Wasuponda Kabupaten Luwu Timur. Jarak dari Kota Makassar ke Kabupaten Luwu Timur kurang lebih 500 kilometer, yang dapat ditempuh baik jalur darat maupun jalur udara.

Jika melalui jalur darat Anda dapat menggunakan bus umum dari Kota Makassar ke Kabupaten Luwu Timur dan tiba kecamatan Wasuponda dengan menempuh perjalanan kurang lebih 12 jam.

Dan jika penggunakan pesawat, kita berangkat dari Bandara Sultan Hasanuddin menuju ke Bandara Sorowako. Dari Sorowako, kita bisa menempuh jalur darat menggunakan kendaraan roda empat yang dapat ditempuh sekitar 30 menit.

Untuk akses masuk ke lokasi air terjun, pengunjung tidak dikenakan biaya. Namun tempat ini belum banyak disediakan fasilitas untuk pengunjung seperti penginapan. {Rista Amran}

1. Suasana air terjun Maruruno (Gambar: Fotosintesa.com)

 2. Salah satu undukan air terjun Maruruno (Gambar: 4.bp.blogspot.com)

 

 

Halaman 1 dari 3

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini