medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Bantuan Kapal Fiber Menteri Susi Tak Dioperasikan Nelayan

Published in Nasional
Sabtu, 04 November 2017 11:33

Medialingkungan.com – Kapal Fiber bantuan dari Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Dermaga Pelabuhan Pendaratan Ikan Kec. Kumai, Kab. Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah terlihat tidak beroperasi. Namun, nelayan terlihat masih tetap melaut dengan menggunakan kapal berbahan kayu.

Nelayan di Kec. Kumai mengakui bahwa desain kapal fiber tidak sesuai dengan kebiasaan mereka mencari ikan di laut. Ukuran kapal itu terlalu tinggi dan tidak terlalu lebar. Belum lagi, tempat penyimpanan jaring ikan juga tidak memadai. Itulah sebabnya tidak dapat digunakan sebelum dirombak.

“Tempat jaring itu mau diubah. Kalau tidak diubah, mau ditaruh di mana. Baru tiga bulan, akinya juga sudah tidak bisa diisi," ujar Raihan, salah seorang nelayan setempat pada kamis (2/11) dilansir dari Kompas.com.

Raihan belum juga merubah desain kapal sejak tiga bulan terakhir tidak digunakan, dikarenakan biayanya dianggap mahal.

“Kalau yang dari kayu, biar merehab tidak seberapa. Kalau ini banyak," keluh Raihan.

Masalah seperti ini sebelumnya telah disampaikan oleh Abdul Halim, Direktur Eksekutif Center of Maritime Studies for Humanity kepada Mongabay menjelang akhir tahun lalu. Pendapat Halim bahwa Program yang memakan dana miliaran rupiah ini masih perlu dipelajari dengan seksama sehingga tidak mengulang kesalahan yang sama dengan Menteri Kelautan dan Perikanan sebelum Ibu Susi Pudjiastuti. seperti program bernama “Inka Mina” yang menuai kegagalan sebab dilaksanakan dengan instan tanpa ada pendampingan. (Khalid Muhammad)

Australia Naikkan Pengeluaran Untuk Selamatkan Great Barrier Reef

Published in Internasional
Senin, 05 Desember 2016 16:32

Medialingkungan.com - Sebuah laporan untuk UNESCO menunjukkan sekitar 1.3 Triliun Dollar Australia (atau sekitar Rp 13.000 Trilliun) akan dihabiskan Australia lima tahun ke depan dalam upaya meningkatkan kualitas air dan kelestarian terumbu karang Great Barrier Reef yang merupakan Situs Warisan Dunia oleh PBB.

Menteri Lingkungan dan Energi Australia, Josh Frydenberg seperti yang dikutip dari Reuters mengatakan bahwa berdasarkan laporan ini, Australia diharapkan dapat keluar dari daftar "bahaya" dalam pengawasan UNESCO.

Aktivis lingkungan percaya bahwa terumbu karang itu membutuhkan investasi lebih dari sekedar uang dari pemerintah berupa tindakan yang lebih konkret dalam melindungi salah satu terumbu karang terbesar didunia itu.

"Tidak dapat diterima bahwa pemerintah sekarang ini hanya memberi selamat sendiri atas penanganan kesehatan terumbu karang selama periode yang sama tanpa menjanjikan perbaikan yang berarti," kata Shani Tager, Reef Campaigner dari Greenpeace Australia.

Ilmuwan iklim berpendapat bahwa peningkatan karbon dioksida di atmosfer menyebabkan panas yang memancar dari bumi terperangkap, menciptakan pemanasan global dan merusak karang.

Australia adalah salah satu penghasil emisi karbon terbesar per kapita karena ketergantungannya pada pembangkit listrik berbahan bakar batubara.

Awal pekan ini, ilmuwan Australia mengatakan dua-pertiga dari 700 kilometer (atau 435 mil) Great Barrier Reef telah mati dalam sembilan bulan terakhir, yang merupakan kematian terburuk yang pernah tercatat di situs Warisan Dunia.

Kerusakan Great Barrier Reef yang terletak di lepas pantai timur utara Negara itu akan memalukan bagi pemerintah Australia dan dapat merusak industri pariwisata yang menguntungkan negara itu. (Mirawati)

Perubahan Iklim Membunuh Terumbu Karang Terbesar Di Dunia

Published in Internasional
Rabu, 30 November 2016 16:51

Medialingkungan.com – Para ilmuwan menyampaikan hasil survey terumbu karang, pada Selasa (29/11). Dijelaskan bahwa lautan hangat di sekeliling Great Barrier Reef, Australia, telah membunuh dua pertiga dari bentangan karang sepanjang 700 kilometer tersebut dalam sembilan bulan terakhir. Kematian karang itu "hampir pasti" merupakan yang terbesar dan terburuk yang pernah dicatat dimanapun karena ukuran Barrier Reef, yang luasnya 348.000 kilometer persegi, merupakan terumbu karang terbesar di dunia.

Seperti dilansir Reuters, Profesor Andrew Baird, seorang peneliti di James Cook University yang menjadi bagian dari tim survey terumbu karang, mengatakan bahwa terumbu karang pada dasarnya seperti dimasak. Para ilmuwan iklim berpendapat peningkatan karbon dioksida di atmosfer menjebak panas yang memancar dari Bumi, menciptakan pemanasan global.

Pemutihan terjadi ketika air air terlalu hangat, memaksa karang mengusir alga hidup dan menyebabkan karang mengapur dan menjadi putih. Pemutihan ringan koral bisa pulih jika temperatur turun dan survei mendapati ini terjadi di bagian selatan terumbu karang, tempat tingkat kematian karang jauh lebih rendah. Meski ada pemutihan yang terjadi secara alami, para ilmuwan khawatir peningkatan suhu laut akibat pemanasan global memperbesar kerusakan, membuat ekosistem peka di bawah laut tidak bisa pulih.

Komite Warisan Dunia UNESCO, tak lagi menempatkan Great Barrier Reef dalam daftar "bahaya" pada akhir Mei 2016 kemarin, namun tetap meminta pemerintah Australia menyampaikan kemajuan upaya penyelamatan terumbu karang tersebut. Pemerintah Australia akan mengajukan perbaruan itu pada Jumat menurut juru bicara Kementerian Lingkungan Josh Frydenberg.

Australia adalah salah satu pembuang karbon per kapita terbesar karena ketergantungannya pada pembangkit listrik berbahan bakar batubara. Pada Juni 2016, selama masa kampanye pemilihan umum, Perdana Menteri Malcolm Turnbull menjanjikan dana satu miliar dolar Australia untuk melindungi terumbu karang.

"Perubahan iklim membunuh Great Barrier Reef," kata ahli lingkungan Charlie Wood.

Wood juga menyatakan bahwa penambangan dan pembakaran batu bara, minyak dan gas secara berlanjut merupakan kerusakan yang tidak bisa diperbaiki lagi pada iklim. Jika kita ingin anak-anak kita menikmati Great Barrier Reef hingga generasi selanjutnya, kita harus bertindak sekarang untuk menjaga bahan bahan fosil tetap berada di dalam tanah. (Andi Wahyunira)

Pulau Sebesi, Wisata Laut Biru Indah Dan Edukatif

Published in Ekowista & Traveling
Minggu, 27 November 2016 15:28

Medialingkungan.com- Selain Krakatau, Lampung Selatan memiliki banyak tempat wisata andalan yang menarik untuk dikunjungi, salah satunya yaitu Pulau Sebesi. Pulau ini terletak di wilayah Desa Tejang, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.

Pulau Sebesi sangat dekat dengan gugusan gunung Krakatau dan menjadi tempat yang sangat pas jika ingin menikmati aktifitas anak gunung Krakatau. Pulau Sebesi juga dikenal akan kesuburan tanahnya yang memiliki keunggulan di sektor petanian. Terdapat batu karang di hamparan pulau, pantainya tenang dengan air yang jernih berwarna biru.

Keunikan lain dari pulau ini yakni Anda dapat berkontribusi dalam menjaga kelestarian alamnya, salah satu kegiatannya yaitu menanam terumbu karang. Kegiatan ini diadakan atas kerjasama Komunitas Peduli Wisata (PeTA) dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pulau Sebesi.

Masyarakat di pulau ini terus berjuang mempertahankan pelestarian lingkungan dengan terus berusaha dan berupaya menanam terumbu karang di pulau tersebut, serta mengajak masyarakat lainnya untuk ikut serta menjaga dan melestarikan terumbu karang.

Untuk mengikuti kegiatan ini Anda hanya perlu merogoh kocek sejumlah Rp 75.000 per orang, ini sudah termasuk bibit terumbu karang dan transportasi dari Pulau Sebesi ke lokasi penanaman terumbu karang (PP). Yang lebih istimewanya lagi, anda bisa meminta untuk menuliskan nama Anda di pot terumbu karang.

Saat ini Pulau Umang-umang adalah lokasi yang menjadi pusat Wisata Cinta Bahari Di Pulau Sebesi. Pulau kecil yang tidak berpenghuni ini sangat eksotis ini memiliki keindahan luar biasa yang mesti para traveler kunjungi. Terdapat bebatuan cantik yang bisa jadi spot untuk foto-foto, hamparan pasi putih yang sehalus bedak, dan air laut yang sangat jernih pas bagi Anda yang hobi snorkling.

Jarak antara pulau Sebesi dan pulau Umang-Umang hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit menggunakan perahu motor. Rute dari Jakarta sendiri Anda hanya ke pelabuhan Merak kemudian menyeberang menggunakan Kapal Ferry ke pelabuhan Bekauheni.

Setelah itu Anda langsung melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Canti dengan ongkos kendaraan sebesar Rp. 30.000 per orang, lalu menyeberang ke pulau Sebesi dengan meggunakan kapal motor bertarif Rp. 30.000 per orang.

Di pulau Sebesi memiiki cukup banyak homestay dengan harga yang relative terjangkau, yakni sekitar Rp. 300.000 per malam dengan kapasitas 6-10 orang. Untuk masalah perut Anda, jangan khawatir, banyak warung makan di sekitar sana yang dapat menjadi solusinya, dengan kisaran harga makanan yakni Rp 15.000 sampai dengan Rp 20.000 per porsinya,  jadi sangat menguntungkan bagi Anda yang ingin berlibur ala backpacker. (Tanti)

 

Terumbu karang buatan yang di tanam oleh masyarakat dan para wisatawan di Pulau Sebesi, Lampung. (Gambar: Kotakecillampung Wordpress)

Para wisatawan dapat berkontribusi dalam penanaman terumbu karang. (Gambar: Detik Travel)

 

 

Aliansi Nelayan Kembali Gelar Aksi Tolak PLTU Batang

Published in Nasional
Sabtu, 26 November 2016 11:11

Medialingkungan.com – Masih soal kisruh PLTU Batang, kali ini giliran aliansi ratusan nelayan Batang, Paguyuban UKPWR (Ujungnegoro, Karanggeneng, Ponowareng, Wonokerso, Roban) yang kembali melakukan aksi di kawasan perairan Ujungnegoro-Roban. Aksi yang dilakukan pada Jumat (25/11) ini diikuti dengan puluhan perahu nelayan, yang dimana aksi ini bertujuan untuk menghentikan operasi kapal alat berat yang sedang melakukan persiapan pembangunan PLTU batubara Batang.

Setelah ditandatanganinya kesepakatan pendanaan PLTU Batang oleh JBIC (Japanese Bank for International Cooperation) tanggal 6 Juni 2016, Paguyuban UKPWR telah melakukan beberapa kali aksi menolak pembangunan mega-proyek ini. PLTU Batubara Batang akan dibangun di kawasan pertanian subur seluas 226 hektar, dan kawasan perairan Ujungnegoro-Roban yang merupakan salah satu kawasan tangkap ikan paling produktif di Pantai Utara Jawa.

"Hari ini, kami nelayan yang tergabung dalam Paguyuban UKPWR kembali melakukan aksi protes terhadap pembangunan PLTU batubara Batang, terus terang kami sudah tidak tahu ke mana lagi harus mengadukan nasib kami, kami sudah berjuang selama lebih dari 5 tahun, namun sepertinya pemerintah tak sedikitpun menghiraukan suara rakyatnya," kata Abdul Hakim, salah satu Nelayan Paguyuban UKPWR, seperti dilansir oleh Greenpeace Indonesia.

Sampai sekarang, masih ada puluhan pemilik lahan yang menolak menjual lahan mereka untuk lokasi pembangunan proyek energi ini. Pemerintah menerapkan Undang-Undang No. 2 Tahun 2012 tentang pengadaan lahan bagi pembangunan untuk kepentingan publik. Penerapan UU ini membuat masyarakat kehilangan hak atas tanah mereka, meskipun mereka menolak untuk melepas lahan pertanian mereka. Uang pembebasan lahan sampai hari ini masih dititipkan di Pengadilan Negeri Batang.

Upaya pembebasan lahan secara paksa bagi proyek ini dibangun oleh Konsorsium PT. Bhimasena Power Indonesia, konsorsium yang terdiri dari dua perusahaan Jepang, J-Power dan Itochu, dan satu perusahaan nasional, Adaro Power.

"Kami ingin menunjukkan pada masyarakat Indonesia dan kalangan internasional bahwa Paguyuban UKPWR tetap menolak pembangunan PLTU batubara Batang di tempat kami mencari makan,” ujar Abdul Hakim.

“Kami ingin Presiden Jokowi mau sedikit saja menggunakan hati nuraninya untuk mau memperhatikan nasib kami. Kami dulu 100% mendukung Presiden Jokowi dalam Pilpres dengan harapan beliau mau mendukung perjuangan kami, terus terang kami sedih sekarang Presiden Jokowi sama sekali tidak mau mendengar suara kami," tambahnya.

PLTU Batang merupakan salah satu PLTU batubara terbesar di Asia Tenggara dengan kapasitas sebesar 2000 MW. Menurut Greenpeace Indonesia, dalam proses pembebasan lahan proyek ini berbagai pelanggaran HAM telah terjadi, mulai dari intimidasi terhadap warga setempat, sampai kriminalisasi terhadap pemilik lahan yang menolak menjual lahan pertanian mereka. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia RI mengeluarkan beberapa surat rekomendasi yang menyatakan bahwa proyek ini telah melanggar hak-hak mendasar warga UKPWR.

"Greenpeace tetap akan mendukung perjuangan warga Batang dalam mempertahankan ruang hidup mereka dari ancaman PLTU batubara, pemerintah seharusnya lebih mengutamakan suara rakyat Batang daripada korporasi," kata Dinar Bayunikmatika, salah satu Pengkampanye Greenpeace Indonesia. (Muchlas Dharmawan)

Susi Pudjiastuti Ajak Nelayan Gunakan Alat Tangkap Ikan Ramah Lingkungan

Published in Nasional
Selasa, 06 September 2016 16:17

Medialingkungan.com - Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti didampingi Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo melakukan kunjungan kerja di Desa Kedung Malang, Kecamatan Kedung, Jepara, Jawa Tengah, pada Senin (05/09). Susi mengajak nelayan untuk mengganti alat tangkap dengan yang ramah lingkungan untuk mendorong kualitas produk perikanan.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengungkapkan untuk menjaga populasi ikan selain menggunakan alat tangkap ramah lingkungan, keberadaan pohon bakau juga tidak kalah penting. Selain bisa untuk menanggulangi abrasi, akar pohon bakau dapat dijadikan tempat ikan bertelur.

“Kalau diberi bantuan satu juta pohon bakau, masyarakat harus siap menanam. Jangan pohonnya datang, masyarakatnya malah pergi. Karena pohon bakau juga penting,” tandas Susi, seperti yang dilansir metrotvnews.com.

Untuk itu, pihaknya berupaya membantu memecahkan berbagai problem yang dihadapi para nelayan di pesisir jepara, menyusul kebijakan relokasi nelayan Pantura untuk memaksimalkan Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP)  711 yakni perairan Natuna.

"Pemerintah tahun ini dan tahun depan mulai kasih bantuan pada koperasi-koperasi nelayan. Saya juga tahu masyarakat Jepara selain tambak garam dan nelayan, punya kerajinan tangan yang sangat tinggi nilainya, kita akan coba bantu ke kementerian lain yang terkait," ungkap Susi.

Dalam kesempatan itu pula,  Susi memberikan bantuan berupa alat tangkap ramah lingkungan yakni Gilnet Millenium kepada 12 nelayan dan juga diserahkan 16 Surat Ijin Penangkapan Ikan (SIPI) baru dan tiga Surat Ijin Penangkapan Ikan (SIUP) secara simbolis. (Gede Tragya)

Reklamasi Sulitkan Nelayan Mencari Ikan

Published in Nasional
Selasa, 19 April 2016 09:47

Medialingkungan - Reklamasi Pantai Utara Jakarta menyisakan polemik panjang. Segala tindakan tentunya akan memberikan dampak baik positif maupun negatif. Begitu pula pada kebijakan mengenai reklamasi terhadap ekosistem pesisir dan laut Teluk Jakarta.

Menurut Tigor Hutapea, Lembaga Bantuan Hukum JAKARTA, nelayan mengalami dampak langsung dari proyek reklamasi. Hal itu berpengaruh terhadap nelayan tradisional yang menggantungkan hidupnya pada hasil laut. Reklamasi membuat wilayah perairan untuk nelayan tradisional di Teluk Jakarta melaut semakin berkurang. Beberapa harus mencari ke wilayah lain, bahkan ada yang tidak bisa melaut lagi karena wilayah tangkapannya khusus di daerah tertentu yang sudah diuruk.

Pemukiman nelayan di wilayah pesisir Teluk Jakarta berpotensi untuk digusur karena reklamasi sendiri memang diperuntukan untuk pembangunan bagi masyarakat kelas menegah dan atas. Hal itu tertuang dalam Pasal 127 ayat (1) huruf m Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta No. 1 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Jakarta 2030.

Hal tersebut merupakan tindakan diskriminatif karena hanya mementingkan pihak kelas menengah dan kelas atas tanpa memikirkan kehidupan para nelayan. Padahal hak untuk bertempat tinggal yang layak dan mendapat lingkungan hidup yang baik terjamin untuk seluruh orang tanpa memandang kelas di masyarakat sesuai Pasal 28 H ayat (1) UUD 1945.

Namun Menurut Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang akrab disapa Ahok, mengatakan bahwa tanpa reklamasi pun mencari ikan di Teluk Jakarta sudah sulit.

Seperti yang dilansir dari cnnindonesia.com, mengatakan "Sebelum reklamasi juga sudah susah cari ikan di Teluk Jakarta, mana ada ikan di Teluk Jakarta, kamu kira teluk di Belitung," kata Ahok di Balai Kota Jakarta (14/4/16).

Bahkan menurut orang nomor satu Jakarta ini, di daerah Marunda yang belum direklamasi pun nelayan sudah sulit mencari ikan. Untuk tambak kerang hijau, Ahok justru mempertanyakan kualitas kerang tersebut. Pasalnya, menurut dia, apabila mengandung logam berat di atas batas, kerang tersebut tak layak dikonsumsi. Ia bahkan mengaku sudah ingin menutup tambak kerang ini. {Zidny Rezky/Ilham Nasir}

Iwan Fals : Reklamasi Tidak Sejahterahkan Masyakarat

Published in Nasional
Sabtu, 16 April 2016 20:13

Medialingkungan.com - Penyanyi Legendaris, Iwan Fals di dampingi empat vokalis band yakni Ariel Noah, Giring Nidji, Rian D’masiv, dan Momo Geisha akan menggelar konser di lima kota yakni Banjarmasin, Malang, Palembang, Makassar, dan terakhir Bali. Mereka akan berkolaborasi dengan konsep utama album Satu adalah Bhineka Tunggal Ika.

Dilansir dari Tempo, usai jumpa pers di Kuta Selatan, Jumat 15 April 2016, Iwan Fals memberi apresiasi terhadap perjuangan masyarakat Bali yang menolak rencana reklamasi Teluk Benoa.

Masyarakat bali harus tetap semangat untuk menahan proyek PT Tirta Wahana Bali Internasional yang merupakan jaringan bisnis taipan Tomy Winata. “Keyakinan menolak reklamasi Teluk Benoa harus terus diperjuangkan,” ujarnya.

Musikus senior tanah air ini mengatakan, Reklamasi berkedok revitalisasi Teluk Benoa itu tidak mensejahterahkan masyakarat. “Bagi masyarakat Bali tetaplah bersemangat,” ucap Iwan.

Pasca konser mereka mendiskusikan “Permasalahan kerusakan lingkungan, Hutan, dan lain-lain yang banyak terjadi di negeri ini. satu tetes air hujan menghidupkan pohon-pohon,” ujar Iwan. {Ilham Nasir}

Pulau Cinta, Bentuk Unik Dengan Pemandangan Bahari Yang Mempesona

Published in Ekowista & Traveling
Selasa, 12 April 2016 19:46

Medialingkungan.com - Indonesia menyuguhkan tempat yang indah dengan pulau pasir putih yang berbentuk Love, tepatnya di Gorontalo yang sekarang menjadi wisata bahari terpopuler dikalangan masyarakat Gorontalo.

Lokasi ini dipopulerkan pada festival Sail Tomini Baelemo yang diselenggarakan di pulau tersebut. Pulau yang berada tepat di Kawasan Pantai Bolihutuo itu telah menjadi salah satu destinasi wisata yang sudah diresmikan oleh Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani.

Pulau tersebut sebelumnya tidak berpenghuni yang ditemukan oleh masyarakat Kabupaten Baeloma dan dilaporkan ke pihak Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo. Untuk wisata bahari, kawasan pulau cinta ini sangat indah dan mempesona, dengan lautnya yang bersih dan bening serta karang laut masih terjaga dengan baik.

Sekarang, tempat ini telah dikembangkan menjadi resort, dengan 15 cottage yang dibangun dengan konsep mengelilingi pulau. Cottage tersebut sengaja didesain sesuai rumah adat penduduk setempat. Bahan bangunannya terbuat dari kayu tanpa pendingin ruangan. Jika tertarik untuk menginap di pulau tersebut, Anda dapat menyewa penginapan dengan harga Rp 3 juta sampai 5 juta per hari.

Untuk Menuju ke Lokasi ini, dibutuhkan 2 Jam perjalanan darat dari Provinsi Gorontalo menuju Kabupaten Boalemo, tepatnya di Kecamatan Tilamuta menuju Pantai Bolihutuo. Setelah itu Anda dapat menyewa jasa perahu untuk melanjutkan perjalanan ke pulau cinta. dengan lama perjalanan sekitar lima belas menit. {Andi Tanti}

1. Jembatan untuk menuju rumah-rumah adat penginapan. (Gambar: pulocinta.com)

2. Pasir putih yang berbentuk hati dikelilingi resort untuk pengunjung. (Gambar: wisatagaleri.com)

 

 

Mengisi Liburan Dengan Menikmati Pesona Gugusan Pulau Togean

Published in Ekowista & Traveling
Jumat, 11 September 2015 20:18

Medialingkungan.com – Jika anda mencari tempat wisata yang indah namun jauh dari hiruk pikuk keramaian kota, Taman Nasional Kepulauan Togean menjadi pilihan yang tepat dalam mengisi agenda liburan anda. Terletak di Teluk Tomini, Kabupaten Tojo Una-una, Sulawesi Tengah.

Kepulauan ini merupakan gugusan pulau kecil yang terbentang di tengah Teluk Tomini. Beberapa pulau yang tersohor antara lain Pulau Malenge, Pulau Una-Una, Pulau Batudaka, Pulau Talatakoh, Pulau Waleakodi, dan Pulau Waleabahi.

Selain hamparan pasir putih dan lautnya yang biru jernih, anda juga dapat menikmati hutan mangrove dengan 33 spesies mangrove-nya. Gua-gua, sungai dan air terjun di sekitar pulau, menambah keindahan pulau ini.

Penyu hijau (Chelonia mygas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbriocata), yang tergolong spesies penyu langka, juga terdapat di tempat ini dengan menjadikan pantainya sebagai tempat mencari makan dan berkembang biak.

Kepulauan Togean termasuk bagian penting dari segitiga terumbu karang dunia, yaitu Sulawesi, Filipina dan Papua Nugini. Spesies yang berada di bawah laut yaitu paus pilot, kima raksasa (Tridacna gigas), dan lola (Trochus niloticus), ikan pari manta, hiu karang abu-abu, dan ikan trevally mata besar, dan tentunya warna-warni karang.

Di daratan, terdapat hewan endemik Sulawesi yang dilindungi seperti tangkasi (Tarsius sp), kuskus (Ailurops ursinus), rusa (Cervus timorensis), dan ketam kenari (Birgus latro). Ada pula monyet togean (Macaca togeanus), biawak togean (Varanus salvator togeanus) dan babi rusa togean (Babyrousa babirussa togeanensis) yang hanya ada di Kepulauan Togean.

Untuk menuju ke pulau ini dari Kota Palu ditempuh dengan lama perjalanan sekitar 10 jam. Di perjalanan anda akan menikmati keindahan gunung kebun kopi dan keindahan pantai di Garis Khatulistiwa. Kemudian dilanjutkan dengan perjalanan melalui perahu dari Ampana ke Wakai dan Malenge. (Andi Tanti)

1. Wisata hutan mangrove yang terletak di Pulau Togean (Gambar: www.indonesia.travel)

2. Keindahan pasir putih di pulau Togean (Gambar: www.indonesia.travel)

 

Halaman 1 dari 2

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini