medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Padi ‘Nuklir’ Sidenuk Mulai Dikembangkan Di Semarang

Published in Nasional
Jumat, 10 November 2017 15:48

Medialingkungan.com - Padi varietas Sidenuk mulai diterapkan para petani Kecamatan Mijen, Semarang. Penggunaan padi ini merupakan salah satu program kegiatan Promosi Hasil Litbang Iptek Nuklir (PHLIN) Badan Tenaga Nuklir Naional (BATAN) yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan kemandirian petani melalui kegiatan penangkaran dan penyebaran benih padi varietas unggul.

Menurut Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang, W.P. Rusdiana, penanaman varietas sidenuk dilakukan dengan sistem pertanian organik. Hal ini dikarenakan tanah di Kota Semarang unsur haranya sudah sangat berkurang akibat dari penggunaan pupuk kimia yang berlebihan.

“Khusus untuk padi organik ini panennya bisa maju dua minggu dan hasilnya melebihi dari yang memakai pupuk anorganik,” ujar Rusdiana, disela-sela Kegiatan PHLIN BATAN di Agro Cepoko Dinas Pertanian, Kota Semarang.

Varietas padi Sidenuk merupakan hasil inovasi yang menggunakan teknologi nuklir dan telah memperoleh sertifikasi dari Kementrian Pertanian. Selain produktivitasnya tinggi yang mencapai 8-9 ton/ha, masa tanamnya hanya 110 hari dan tahan terhadap serangan hama wereng batang coklat serta rasa nasinya lebih pulen.

Marzuki menjelaskan bahwa hasil panen padi varietas sidenuk dengan full organik beberapa waktu lalu bisa mencapai hingga 7,1 ton/ha GKP (Gabah Kering Panen). Padahal menurut kebiasaan yang full organik itu tidak akan lebih dari 5 ton/ha GKP, tetapi dengan varietas Sidenuk bisa mencapai lebih dari itu. (Gede Tragya)

Lindungi Ketahanan Pangan, AS Lakukan Revisi Peraturan Terhadap Produk Bioteknologi

Published in Internasional
Selasa, 07 November 2017 19:35

Medialingkungan.com - Lembaga pemerintah Amerika Serikat yang bertanggung jawab mengawasi produk bioteknologi modern pertanian, Layanan Inspeksi Kesehatan Hewan dan Tanaman Amerika Serikat (APHIS)-US Department of Agriculture (USDA) pagi ini, Selasa (7/11/17) mengumumkan telah mencabut peraturan yang diusulkan untuk merevisi peraturan-peraturan bagi para agensi yang bergerak dalam bidang bioteknologi.

APHIS akan kembali terlibat dengan para pemangku kepentingan untuk menentukan pendekatan berbasis sains yang paling efektif untuk mengatur kembali regulasi hasil bioteknologi modern guna melindungi kesehatan tanaman.

"Secara regulasi, penting bagi kami untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat dan memberdayakan pertanian Amerika serta menyediakan industri dengan proses peninjauan yang efisien dan transparan dengan tidak membatasi inovasi," kata Sekretaris APHIS, Sonny Perdue.

"Untuk memastikan kita menyeimbangkan keduanya secara efektif, kita perlu melihat kebaruan, mengeksplorasi alternatif kebijakan, dan melanjutkan dialog dengan semua pemangku kepentingan yang berkepentingan, baik domestik maupun internasional." lanjutnya.

APHIS mengawasi impor, gerakan antar negara bagian dan pelepasan lingkungan organisme rekayasa genetika untuk memastikan mereka tidak menimbulkan risiko hama tanaman. Pekerjaan penting ini akan berlanjut seiring APHIS terlibat kembali dengan para pemangku kepentingan untuk menetukan aturan regulasi berbagai produk bioteknologi di AS.

"Kami tahu bahwa teknologi ini berkembang setiap hari, dan kami memerlukan peraturan dan kebijakan yang fleksibel dan mudah disesuaikan dengan inovasi ini untuk memastikan ketahanan pangan bagi pertumbuhan populasi." tambah Perdue. (Suterayani)

WHO: Polusi Udara Bunuh 1,7 Juta Anak Setiap Tahun

Published in Internasional
Rabu, 08 Maret 2017 11:43

Medialingkungan.com - World Health Organization (WHO) menyebutkan sekitar 1,7 juta jiwa anak di bawah usia 5 tahun meninggal dunia setiap tahun akibat polusi udara. Penyebab kematian tersebut diantaranya, air yang tidak bersih, kurangnya sanitasi, praktik kebersihan yang buruk, serta polusi udara indoor atau outdoor.

Menurut laporan WHO, sebanyak 570.000 anak di bawah 5 tahun meninggal setiap tahun akibat infeksi pernapasan terkait dengan polusi udara serta asap di dalam dan luar ruangan. Kemudian ada 361.000 yang meninggal setiap tahun akibat diare dan sanitasi yang buruk, isu kebersihan, dan keterbatasan akses terhadap air minum yang aman. Lalu 270.000 meninggal selama bulan pertama mereka yang itu bisa dihindari dengan meningkatkan sanitasi, akses air bersih, dan mengurangi polusi udara. Lalu sebanyak 200.000 kematian karena malaria yang sebenarnya bisa dicegah dengan mengontrol kembang biak nyamuk serta mengelola air yang lebih baik.

“Lingkungan tercemar sangat mematikan terutama untuk anak-anak,” ujar Direktur Jenderal WHO Margaret Chan seperti yang dilansir oleh Okezone.com

“Organ dan sistem kekebalan tubuh mereka sedang berkembang dan tubuh lebih kecil serta saluran pernafasan belum sempurna membuat mereka sangat rentan terhadap udara dan air kotor,” tambahnya.

Organisasi kesehatan itu juga menjelaskan bahwa peningkatan volume sampah elektronik dari ponsel dan perangkat lain dapat mengekspos racun yang dikaitkan pada penurunan kecerdasan, kerusakan paru-paru, serta kanker. Volume tersebut diprediksi mencapai 50 juta metrik ton pada tahun 2018 atau tumbuh 19 persen dibandingkan tahun 2014.

Untuk mengurangi risiko ini, WHO meminta pemerintah di berbagai negara untuk menekan polusi udara di dalam maupun luar ruangan, lalu melindungi ibu hamil dari paparan asap, juga menyediakan air serta sanitasi bersih.

“Investasi dalam penghapusan bahaya lingkungan terhadap kesehatan, seperti, peningkatan mutu air atau menggunakan bahan bakar bersih, akan menghasilkan manfaat besar bagi kesehatan,” Ungkap salah satu ahli WHO, Maria Neira. {Dedy. M}

Afrika Selatan Menjerit Akibat El Nino dan Perubahan Iklim

Published in Internasional
Senin, 28 November 2016 18:34

Medialingkungan.com – Malawi, salah satu dari tujuh negara di Afrika selatan yang berada di ambang kelaparan. PBB mengatakan bahwa Malawi darurat bantuan makanan mengikut Madagaskar, Zambia, Kongo, Zimbabwe, Mozambik dan beberapa tempat lain di Afrika Selatan. Panen jagung yang menjadi harapan mereka telah gagal berkali-kali disebabkan oleh El Nino dan perubahan iklim yang ekstrim.  

Seperti yang dilansir The Guardian, seorang anak 2 tahun bernama Zeka menjeri kesakitan ketika seorang pekerja kesehatan mengukur lingkaran lengannya sementara perawat yang lain memegang kakinya dan menekan dagingnya. Perawat yang memeriksa Zeka mengatakan bahwa Zeka menderita edema, pembengkakan yang diakibatkan oleh kelaparan ekstrim.

Ibu Zeka mengatakan bahwa mereka belum makan selama berhari-hari. Mereka hanya hidup dari buah-buahan liar, bunga lili dan kebaikan dari tetangga mereka.

Selain Malawi, Madagaskar yang juga mengalami hal serupa. David Phiri, Koordinatoor Pangan dan Pertanian PBB yang berbasis di Harare, Zimbabwe mengatakan bahwa ratusan ribu orang berada di ambang kelaparan. Kematian bahkan terjadi dimana-mana dan hal tersebut memerlukan tindakan yang cepat.

Phiri menjelaskan bahwa dari 5 point skala yang ditetapkan oleh lembaga-lembaga bantuan, Madagaskar berada di point 4 dimana point 5 adalah kelaparan. Pihaknya mengatakan bahwa ketakutan paling besar mereka adalah ketika titik-titik kelaparan bertambah.

“Orang-orang telah kehabisan makanan. Jika makanan tidak datang, itu akan menyebabkan masalah serius  seperti pengerdilan masa kanak-kanak yang akan berdampak seumur hidup di kehidupan mereka”, ujar Phiri.

Lebih dari 40 juta orang di Afrika Selatan dan 11 juta di Ethiopia akan membutuhkan bantuan makanan untuk beberapa bulan kedepaan dan puncaknya diperkirakan akan terjadi bulan Januari. Phiri mengharapkan bantuan yang lebih banyak dari bantuan yang ada saat ini. Tapi pihaknya memahami bahwa anggaran donor terbatas dan banyak titik kelaparan yang tersebar di berbagai negara yang juga membutuhkan bantuan makanan. (Suterayani)

Hutan Tropis Indonesia Kaya Akan Sumber Energi dan Pangan

Published in Nasional
Minggu, 06 Desember 2015 12:30

Medialingkungan.com – Hutan tropis tebesar di dunia itu berada di Indonesia yang begitu banyak menyimpan potensi dalam pembangunan sektor energi. Menurut penasihat The Nature Conservancy, Wahjudi Wardoyo menyatakan, Indonesia mesti menjaga hutan tropis karena sangat penting serta tetap menjaga keanekaragaman hayati yang tinggi terlebih mikroba.

Beberapa anggapan terkait mikroba dianggap sebagai penyakit, padahal tidak. Ia menjelaskan, menurut riset yang dikembangkan selama ini, mikroba akan menjadi sumber pangan terbesar dunia – mikroba memiliki tiga golongan yakni, jamur, virus, dan bakteri.

Hal yang bisa dimanfaatkan di hutan tropis adalah, yang pertama mikroba yang akan menjadi sumber pangan terbesar, kedua larva yang mampu menjadi sumber energy kedua atau pun ketiga, dan terakhir obat-obatan dikarenakan Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang menyimpan potensi obat-obatan secara alami.

Mengutip studi U.S. Cancer Institute, Wahjudi mengungkapkan, obat-obatan alami dan ampuh paling banyak berasal dari hutan hujan. Setidaknya, ada 2.000 jenis keanekaragaman hayati hutan tropis yang memiliki bioaktif dalam mengobati kanker. Dari total tersebut, baru satu persen yang dapat dimanfaatkan, seperti yang dilansir Tempo, Minggu (06/12).

Peran penting lain hutan tropis adalah mengikat banyak karbon. Jumlah karbon yang dapat ditahan sekitar 100-200 ton per hektare untuk hutan sekunder dan 200-300 ton per hektare untuk hutan primer.

Untuk hutan monokultur hanya mampu menahan karbon sebanyak 50 ton per hektare. Karena itu, dia meminta untuk tidak melihat hutan dari segi ekonominya saja. “Tapi lihatlah manfaat yang bisa dipetik dari keanekaragaman hayatinya,” ucapnya.

Sedangkan, menurut Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyebutkan masih ada 12,5 juta hektare hutan primer, 14,6 juta hektare hutan lindung, 2,9 juta hektare hutan produksi konservasi, 10 juta hutan produksi terbatas, dan 4,5 juta hutan produksi.

Wahjudi berharap, sekarang saatnya ada tata ruang hutan dan kajian lingkungan hidup strategis demi masa depan generasi bangsa. {Angga Pratama}

Dampak El Nino, Petani di Provinsi Banten Gulung Tikar

Published in Nasional
Kamis, 13 Agustus 2015 10:10

Medialingkungan.com – Musim Kemarau yang melanda sejumlah wilayah Indonesia mengakibatkan kekeringan dan kurangnya pasokan air bersih buat petani. Salah satu wilayah yang terkena dampak tersebut yaitu Provinsi Banten, sejumlah petani harus kehilangan mata pencaharian mereka dikarenakan kurangnya pasokan air dan kondisi lahan yang sulit digarap.

Menurut Sekretaris Komisi 5 DPRD Banten, Ade Rossi Khaerunisa mengungkapkan, kekeringan menjadi pemicu social dan melemahnya perekonomian yang terjadi di Banten. Selain itu, para petani yang seharusnya bisa menikmati hasil tanamannya, terancam gulung tikar.

“Diprediksi kekeringan makin meluas dan akan berakhir pada akhir tahun ini. Luas wilayah di Banten yang terkena dampak kekeringan yaitu 11.335 hektare,” kata Ade Rossi, seperti yang diberitakan Liputan6.

Dia menjelaskan penanganan bencana kekeringan di Banten harus melibatkan banyak sektor, karena puncak kekeringan akan terjadi pada bulan September-oktober mendatang. “Penanganan ini mesti lintas sektoral guna menangani bencana tersebut,” ucapnya.

“Saat ini kami sudah berkoordinasi dengan Distanak, Disnaker, dan Dinsos dalam penanganan pengangguran, pengemis, dan gelandangan yang disebabkan oleh El Nino,” tambahnya. (Arif Hidayat)

AMAN Menagih Janji Jokowi

Published in Nasional
Kamis, 25 Juni 2015 16:46

Medialingkungan.com – Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) mengunjungi Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Merdeka, Kamis (25/06). Pertemuan yang dilakukan AMAN terhadap Jokowi, mereka ingin menagih janji kampanye Jokowi yang tertuang dalam Nawacita.

“Kami pernah membantu Pak Jokowi dalam mensukseskan beliau menjadi Presiden, dan sekarang kami mau tindak lanjut apa yang telah disepakati di Nawacita,” ungkap Sekretaris Jendral (Sekjen) AMAN, Abdon Nababan.

Mantan Direktur Forest Watch Indonesia ini mengungkapkan, di dalam kandungan Nawacita tertera enam hal yang ditujukan untuk masyarakat adat, mulai dari aspek kelembagaan hingga persoalan agraria.

Terkait masyarakat adat, Jokowi bersama Jusuf Kalla mencantumkan komitmen mereka dalam melindungi dan memajukan hak-hak masyarakat adat dalam enam prioritas utama visi dan misi. Salah satunya adalah soal pembentukan komisi independen masyarakat adat, katanya.

Pria kelahiran Sumatera Utara itu mengatakan, komisi itu diberi mandat khusus oleh presiden untuk bekerja secara intens mempersiapkan berbagai kebijakan dan kelembagaan yang akan mengurus hal-hal terkait dengan urusan pengakuan, penghormatan, perlindungan, dan pemajuan hak masyarakat ada ke depan.

“Presiden Jokowi juga berjanji akan meninjau ulang dan menyesuaikan undang-undang terkait hak masyarakat adat dengan melanjutkan proses legislasi RUU Pengakuan dan Perlindungan Hak-hak Masyarakat Adat,” ucapnya.

Dia menambahkan, RUU ini diharapkan menjadi jawaban atas kasus perampasan secara sepihak terhadap hak masyarakat adat dan konflik sosial yang dialami masyarakat adat. (Angga Pratama)

Satelit Sentinel-2A Bantu Prediksi Hasil Panen

Published in Internasional
Rabu, 24 Juni 2015 21:21

Medialingkungan.com – Satelit Eropa yang bernama Sentinel-2A untuk program pengamatan bumi telah diluncurkan. Misi satelit tersebut bertujuan mengambil foto-foto permukaan planet dalam cahaya jelas dan infrared.

Sentinel-2A adalah optik observasi bumi satelit dalam program Eropa Copernicus. Data satelit itu akan merekam semua kejadian seperti pertumbuhan kota-kota besar hingga dampak kerusakan bencana alam seperti gempa bumi, sunami, dan banjir. Namun Sentinel-2A memiliki peran khusus yaitu pemantauan kinerja tanaman pangan dunia.

Sensor kameranya telah dirancang untuk mendeteksi panjang gelombang cahaya spesifik yang menunjukkan kesehatan tanaman beserta kesuburannya. Informasi itu kemudian digunakan untuk memperingatkan lembaga-lembaga pertanian dan makanan internasional bila terjadi panen yang buruk dan adanya potensi kelaparan yang berkepanjangan.

Direktur observasi Bumi di European Space Agency (ESA), Volker Liebig mengungkapkan kami memiliki 13 band spektral termasuk empat yang disebut 'tepi merah' di mana tanaman, dan klorofil misalnya, memantulkan cahaya dan menunjukkan aktivitas tanaman, seperti yang dilansir, BBC.

“Hal ini sangat penting untuk memantau makanan dan, bagi saya, aplikasinya untuk keamanan pangan akan menjadi salah satu kegunaan paling penting Sentinel-2. Ini akan membantu Program Pangan Dunia (WFP) memprediksi panen buruk,” ucap dia.

Senada dengan Volker, Manajer Proyek Sentinel-2 dari ESA, Francois Spoto mengatakan, dengan menggunakan dua satelit mereka bisa mengorbit di atas khatulistiwa setiap lima hari, dan pada pertengahan garis lintang, seperti di atas Negara Prancis dan Inggris mereka bisa mengorbit setiap tiga harinya.

“Sentinel-2 memiliki sejumlah terobosan teknologi. Peralatannya termasuk gabungan struktur monolitik silikon karbida terbesar yang pernah direkayasa pada saat ini, dan juga sistem kendali sistem orbit yang sangat tepat yang memastikan foto-foto berkualitas tinggi,” ucapnya. (Iswanto)

LIPI Resmikan Laboratorium Pupuk Organik Hayati Di Malinau

Published in Nasional
Selasa, 23 Juni 2015 15:30

Medialingkungan.com – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, meluncurkan Laboratorium Pupuk Organik Hayati (POH), Selasa (23/6). Hal tersebut diharapkan mampu mendorong hasil produksi pertanian di Kabupaten Malinau.

Dr. Sarjiya Antonius, peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI dalam siaran persnya mengungkapkan penggunaan pupuk organik ini selama masa uji coba petani semangka di Kabupaten Malinau membuktikan adanya peningkatan produksi buah semangka antara 10 sampai 15 persen.

“Pemerintah Kabupaten Malinau berdasarkan rekomendasi LIPI pada tahun 2013 lalu membangun laboratorium yang fasilitasnya hampir mendekati dengan laboratorium di Pusat Penelitian Biologi. Tujuannya agar petani setempat dapat memanfaatkan laboratorium itu tanpa harus terkendala jarak dan waktu pengiriman biang mikroba,” jelas Anton.

Sekretaris Utama LIPI, Dr. Siti Nuramaliati Prijono mengatakan pihaknya selalu membantu untuk mendorong kemandirian pertanian tanpa harus tergantung dari pupuk kimia yang distribusinya seringkali sulit di daerah dengan penyediaan pupuk organik hayati.

Dia juga menuturkan, letak Kabupaten Malinau yang dekat dengan perbatasan Malaysia menjadi keuntungan untuk ekspor hasil-hasil pertanian lokal. “Jika hasilnya berkualitas, produk-produk pertanian Malinau bisa diekspor untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani,” ucapnya.

Laboratorium ini nantinya akan mengadopsi teknologi Beyonic LIPI yang mengembangkan potensi mikroba lokal untuk mengembalikan unsur hara tanah. Kapasitas laboratorium itu mampu memproduksi 3.000 liter POH.

Peluncuran laboratorium tersebut dilakukan oleh Kepala LIPI, Prof. Dr. Iskandar Zulkarnain dan Bupati Kabupaten Malinau, Dr. Yansen T.P di Balai Benih dan Alat Mesin Pertanian, Dinas Pertanian Kabupaten Malinau.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun Medialingkungan.com, pengembangan laboratorium ini menghabiskan anggaran APBD hingga Rp 2,8 miliar. (Irlan)

Menteri LHK Akan Tinjau Lahan Ex-Hutan yang Diklaim Areal Persawahan di Merauke

Published in Nasional
Kamis, 14 Mei 2015 16:53

Medialingkungan.com – Pada awal kepemimpinannya, Presiden Joko Widodo berkomitmen untuk menambah areal persawahan 2 juta hektar - dengan motivasi swasembada pangan. Penambahan areal ini akan dilakukan dengan pengalihan fungsi areal ex-hutan yang digulirkan menjadi lahan persawahan.

Pengalihan ini menjadi kewenangan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk membebaskan areal hutan produksi untuk dijadikan lahan persawahan. Hal demikian tertuang dalam UU 41 tahun 1999 tentang Kehutanan.

Menteri LHK, Siti Nurbaya akan memastikan kondisi dan status lahan yang akan dialihkan menjadi areal pertanian, seperti areal yang klaim sebagai wilayah persawahan di Merauke, Papua seluas 4,6 juta hektar.

"Nanti saya cek yang dimaksud persisnya seperti apa," katanya di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu malam (13/05) seperti dikutip dari Bisnis.com.

Ia mengatakan Kementerian LHK memiliki peta identifikasi lahan Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) yang sempat digulirkan pada pemerintahan SBY-Boediono. Meskipun belum diperoleh data mengenai luasan pasti, namun luas areal potensial mencapai lebih dari 2 juta hektar.

Siti Nurbaya menegaskan areal ex-hutan atau hutan produksi di Papua bisa saja dijadikan areal persawahan dengan syarat landscape-nya sesuai dengan kelas kemampuan lahannya (peruntukannya).

"Alam kan ada kesesuaiannya. Kalau datar, produktif buat rakyat, lingkungan terjaga bisa saja. Bagaimana lingkungan terjaga? Misalnya, di daerah-daerah sempadan sungai, teras-teras sungai itu boleh dibuka," ungkapnya.

Joko Widodo juga mengatakan Kabupaten Merauke memiliki lahan seluas 4,6 juta hektar yang dapat dimanfaatkan untuk persawahan padi. “Lahan seluas 4,6 juta hektare itu tidak mungkin dikerjakan dengan tangan dan cangkul, tetapi harus digarap secara mekanis,” katanya di Jakarta, Rabu (13/05).

Berdasarkan informasi sementara yang diperoleh Jokowi dari Bupati Merauke, Romanus Mbaraka, lahan yang ditawarkan menjadi areal persawahan tersebut memiliki karakteristik daratan yang rata, yang ditunjang dengan sungai di kedua sisinya. “Lahannya sangat datar, dan di kanan kirinya ada sungai yang sangat luas, sehingga tidak perlu memikirkan air. Ini sangat cocok untuk sawah padi,” ujarnya.

Menurutnya, dengan bantuan piranti teknologi dan kapasitas sumber daya manusia yang baik, maka lahan tersebut diprediksi dapat menghasilkan 60 juta ton beras setiap tahunnya. (Fahrum Ahmad)

Halaman 1 dari 2

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini