medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Bantuan Kapal Fiber Menteri Susi Tak Dioperasikan Nelayan

Published in Nasional
Sabtu, 04 November 2017 11:33

Medialingkungan.com – Kapal Fiber bantuan dari Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Dermaga Pelabuhan Pendaratan Ikan Kec. Kumai, Kab. Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah terlihat tidak beroperasi. Namun, nelayan terlihat masih tetap melaut dengan menggunakan kapal berbahan kayu.

Nelayan di Kec. Kumai mengakui bahwa desain kapal fiber tidak sesuai dengan kebiasaan mereka mencari ikan di laut. Ukuran kapal itu terlalu tinggi dan tidak terlalu lebar. Belum lagi, tempat penyimpanan jaring ikan juga tidak memadai. Itulah sebabnya tidak dapat digunakan sebelum dirombak.

“Tempat jaring itu mau diubah. Kalau tidak diubah, mau ditaruh di mana. Baru tiga bulan, akinya juga sudah tidak bisa diisi," ujar Raihan, salah seorang nelayan setempat pada kamis (2/11) dilansir dari Kompas.com.

Raihan belum juga merubah desain kapal sejak tiga bulan terakhir tidak digunakan, dikarenakan biayanya dianggap mahal.

“Kalau yang dari kayu, biar merehab tidak seberapa. Kalau ini banyak," keluh Raihan.

Masalah seperti ini sebelumnya telah disampaikan oleh Abdul Halim, Direktur Eksekutif Center of Maritime Studies for Humanity kepada Mongabay menjelang akhir tahun lalu. Pendapat Halim bahwa Program yang memakan dana miliaran rupiah ini masih perlu dipelajari dengan seksama sehingga tidak mengulang kesalahan yang sama dengan Menteri Kelautan dan Perikanan sebelum Ibu Susi Pudjiastuti. seperti program bernama “Inka Mina” yang menuai kegagalan sebab dilaksanakan dengan instan tanpa ada pendampingan. (Khalid Muhammad)

Agrocomplex Go Green 2017 Tanam 10 Ribu Mangrove

Published in Event & Komunitas
Senin, 28 Agustus 2017 01:05

Medialingkungan.com - Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu’mang dan Walikota Makassar Moh Ramdhan Pomanto bersama Asosiasi Teman Kuliah Pertanian dan Kehutanan Universitas Hasanuddin (TKP-UNHAS) menanam bibit Mangrove dan menebar benih Rajungan Kepiting dan Udang yang dipusatkan di Pantai Lantebung Kelurahan Bira, Kecamatan Biringkanaya Makassar Sabtu (26/8).

Kegiatan ini dinamakan Agrocomplex Go Green 2017 oleh TKP-UNHAS dalam 1 dekade keberadaanya dengan bentuk penanaman 10.000 bibit mangrove dan restocking Benih Rajungan dan Udang 100.000 ekor yang melibatkan TNI, Polri, Bank BRI, Mahasiswa Fakultas Kehutanan, Pertanian dan Kelautan Unhas serta masyarakat Lantebung yang berlangsung selama dua hari.

Melalui acara ini Ahmad Sukri selaku Ketua Tim Kerja TKP-UNHAS mengatakan bahwa, “Kegiatan ini bentuk kepedulian terhadap lingkungan, dimana Mangrove ini sangatlah penting, karena sepertiga kawasan mangrove dunia berada di Indonesia dan setiap tahunnya berkurang sebanyak 30%, karena itulah kegiatan ini berlangsung untuk menghidupkan kembali fungsi-fungsi ekologi dan juga restoking benih rajungan sebagai budidaya bebas untuk dinikmati masyarakat Lantebung, agar tidak ada lagi exploitasi pada kawasan mangrove”.

Wakil Gubernur Sulsel juga mengatakan bahwa, “pohon mangrove adalah pohon yang paling kuat untuk menahan ombak dibandingkan dengan tembok”.

Moh Ramdhan Pomanto menegaskan bahwa, “Mangrove sangatlah penting untuk ekosistem laut” seperti yang disampaikan dalam sambutannya pada pembukaan acara. {Ira Anugerah Abbas}

Aliansi Nelayan Kembali Gelar Aksi Tolak PLTU Batang

Published in Nasional
Sabtu, 26 November 2016 11:11

Medialingkungan.com – Masih soal kisruh PLTU Batang, kali ini giliran aliansi ratusan nelayan Batang, Paguyuban UKPWR (Ujungnegoro, Karanggeneng, Ponowareng, Wonokerso, Roban) yang kembali melakukan aksi di kawasan perairan Ujungnegoro-Roban. Aksi yang dilakukan pada Jumat (25/11) ini diikuti dengan puluhan perahu nelayan, yang dimana aksi ini bertujuan untuk menghentikan operasi kapal alat berat yang sedang melakukan persiapan pembangunan PLTU batubara Batang.

Setelah ditandatanganinya kesepakatan pendanaan PLTU Batang oleh JBIC (Japanese Bank for International Cooperation) tanggal 6 Juni 2016, Paguyuban UKPWR telah melakukan beberapa kali aksi menolak pembangunan mega-proyek ini. PLTU Batubara Batang akan dibangun di kawasan pertanian subur seluas 226 hektar, dan kawasan perairan Ujungnegoro-Roban yang merupakan salah satu kawasan tangkap ikan paling produktif di Pantai Utara Jawa.

"Hari ini, kami nelayan yang tergabung dalam Paguyuban UKPWR kembali melakukan aksi protes terhadap pembangunan PLTU batubara Batang, terus terang kami sudah tidak tahu ke mana lagi harus mengadukan nasib kami, kami sudah berjuang selama lebih dari 5 tahun, namun sepertinya pemerintah tak sedikitpun menghiraukan suara rakyatnya," kata Abdul Hakim, salah satu Nelayan Paguyuban UKPWR, seperti dilansir oleh Greenpeace Indonesia.

Sampai sekarang, masih ada puluhan pemilik lahan yang menolak menjual lahan mereka untuk lokasi pembangunan proyek energi ini. Pemerintah menerapkan Undang-Undang No. 2 Tahun 2012 tentang pengadaan lahan bagi pembangunan untuk kepentingan publik. Penerapan UU ini membuat masyarakat kehilangan hak atas tanah mereka, meskipun mereka menolak untuk melepas lahan pertanian mereka. Uang pembebasan lahan sampai hari ini masih dititipkan di Pengadilan Negeri Batang.

Upaya pembebasan lahan secara paksa bagi proyek ini dibangun oleh Konsorsium PT. Bhimasena Power Indonesia, konsorsium yang terdiri dari dua perusahaan Jepang, J-Power dan Itochu, dan satu perusahaan nasional, Adaro Power.

"Kami ingin menunjukkan pada masyarakat Indonesia dan kalangan internasional bahwa Paguyuban UKPWR tetap menolak pembangunan PLTU batubara Batang di tempat kami mencari makan,” ujar Abdul Hakim.

“Kami ingin Presiden Jokowi mau sedikit saja menggunakan hati nuraninya untuk mau memperhatikan nasib kami. Kami dulu 100% mendukung Presiden Jokowi dalam Pilpres dengan harapan beliau mau mendukung perjuangan kami, terus terang kami sedih sekarang Presiden Jokowi sama sekali tidak mau mendengar suara kami," tambahnya.

PLTU Batang merupakan salah satu PLTU batubara terbesar di Asia Tenggara dengan kapasitas sebesar 2000 MW. Menurut Greenpeace Indonesia, dalam proses pembebasan lahan proyek ini berbagai pelanggaran HAM telah terjadi, mulai dari intimidasi terhadap warga setempat, sampai kriminalisasi terhadap pemilik lahan yang menolak menjual lahan pertanian mereka. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia RI mengeluarkan beberapa surat rekomendasi yang menyatakan bahwa proyek ini telah melanggar hak-hak mendasar warga UKPWR.

"Greenpeace tetap akan mendukung perjuangan warga Batang dalam mempertahankan ruang hidup mereka dari ancaman PLTU batubara, pemerintah seharusnya lebih mengutamakan suara rakyat Batang daripada korporasi," kata Dinar Bayunikmatika, salah satu Pengkampanye Greenpeace Indonesia. (Muchlas Dharmawan)

Pulau Perawan dengan Berjuta Keindahan yang Tersembunyi

Published in Ekowista & Traveling
Selasa, 03 Mei 2016 20:52

Medialingkungan.com -  Pulau Kadidiri terletak di Taman Nasional Kepulauan Togean, Pulau Kadidiri yang memiliki pantai pasir putih bersih dan air laut yang jernih dengan biota laut yang kaya, sehingga menjadi destinasi yang cocok bagi Anda pecinta aktivitas air. Pulau yang disebut sebagai pulau perawan tersembunyi dengan keindahan yang akan menyegarkan jiwa dan pikiran Anda selepas menyambanginya. 

Pantainya menyuguhkan pemandangan yang tak kalah indah karena hamparan batu berbagai bentuk dan ukuran serta ditumbuhi pepohonan kelapa, cemara dan mangrove.

Secara administratif Pulau Kadidiri termasuk dalam kawasan Kota Ampana, Kabupaten Tojo Una-Una, di Sulawesi Tengah. Pulau terpencil ini berjarak tempuh sekira 3-6 jam perjalanan dengan kapal laut dari Kota Ampana menuju Wakai kemudian dilanjutkan sekira 30 menit untuk tiba di Pulau Kadidiri. Saat Anda menginjakkan kaki di pulau ini maka kemungkinan besar saat itu pulalah Anda untuk sementara seakan tidak terhubung dengan peradaban. Hal ini dikarenakan selain sumber air tawar, sinyal ponsel pun terbilang hal yang susah didapatkan.

Pulau ini masih alami, sehingga bisa menikmati terumbu karang di sini dengan mata telanjang, tanpa harus snorkeling atau diving. Hanya dengan berjalan sejauh lima meter dari tepi pantai untuk menikmati keindahan bawah laut dengan mata telanjang. Air laut di sini sebening kristal dengan pasir putih nan lembut. Selain terumbu karang, Anda juga bisa melihat ikan berbagai warna saling berkejaran, penyu, hiu, dan biota laut lainnya.

Beberapa aktivitas yang dapat Anda lakukan di sini antara lain berlayar, menyelam, snorkeling, memancing, trekking hutan tropis, dan berjemur di tepi pantai. Keindahan yang bebas polusi dan pesona eksotis yang masih alami dari pulau ini menjadikannya sebagai tujuan wisata utama di kawasan tersebut.

Selain keindahan pantai dan bawah lautnya, hutan di pulau kadidiri kaya beragam flora dan fauna. Di atas pepohonan sekali-kali akan muncul jenis burung eksotis. {Andi Wahyunira}

1. Pemandangan di Dermaga Pulau Kadidiri {Sumber: JurnaLand}

2. Kamar yang Langsung Menghadap Ke Laut di Pantai Kadidiri {Sumber: Teguh Gigo Aryanto}

Reklamasi Sulitkan Nelayan Mencari Ikan

Published in Nasional
Selasa, 19 April 2016 09:47

Medialingkungan - Reklamasi Pantai Utara Jakarta menyisakan polemik panjang. Segala tindakan tentunya akan memberikan dampak baik positif maupun negatif. Begitu pula pada kebijakan mengenai reklamasi terhadap ekosistem pesisir dan laut Teluk Jakarta.

Menurut Tigor Hutapea, Lembaga Bantuan Hukum JAKARTA, nelayan mengalami dampak langsung dari proyek reklamasi. Hal itu berpengaruh terhadap nelayan tradisional yang menggantungkan hidupnya pada hasil laut. Reklamasi membuat wilayah perairan untuk nelayan tradisional di Teluk Jakarta melaut semakin berkurang. Beberapa harus mencari ke wilayah lain, bahkan ada yang tidak bisa melaut lagi karena wilayah tangkapannya khusus di daerah tertentu yang sudah diuruk.

Pemukiman nelayan di wilayah pesisir Teluk Jakarta berpotensi untuk digusur karena reklamasi sendiri memang diperuntukan untuk pembangunan bagi masyarakat kelas menegah dan atas. Hal itu tertuang dalam Pasal 127 ayat (1) huruf m Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta No. 1 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Jakarta 2030.

Hal tersebut merupakan tindakan diskriminatif karena hanya mementingkan pihak kelas menengah dan kelas atas tanpa memikirkan kehidupan para nelayan. Padahal hak untuk bertempat tinggal yang layak dan mendapat lingkungan hidup yang baik terjamin untuk seluruh orang tanpa memandang kelas di masyarakat sesuai Pasal 28 H ayat (1) UUD 1945.

Namun Menurut Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang akrab disapa Ahok, mengatakan bahwa tanpa reklamasi pun mencari ikan di Teluk Jakarta sudah sulit.

Seperti yang dilansir dari cnnindonesia.com, mengatakan "Sebelum reklamasi juga sudah susah cari ikan di Teluk Jakarta, mana ada ikan di Teluk Jakarta, kamu kira teluk di Belitung," kata Ahok di Balai Kota Jakarta (14/4/16).

Bahkan menurut orang nomor satu Jakarta ini, di daerah Marunda yang belum direklamasi pun nelayan sudah sulit mencari ikan. Untuk tambak kerang hijau, Ahok justru mempertanyakan kualitas kerang tersebut. Pasalnya, menurut dia, apabila mengandung logam berat di atas batas, kerang tersebut tak layak dikonsumsi. Ia bahkan mengaku sudah ingin menutup tambak kerang ini. {Zidny Rezky/Ilham Nasir}

Variasi Keindahan Pantai Punaga, Bertebing Karang

Published in Ekowista & Traveling
Jumat, 15 April 2016 20:36

Medialingkungan.com – Pantai Punaga yang menyajikan suatu pemandangan yang alami dengan kontur pantai bervariasi. Pantai yang berpasir putih, laut yang biru dan jernih serta tebing-tebing batu yang memikat, hal inilah pantai punaga yang menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian orang. Selain itu, terpaan angin yang begitu sejuk bahkan tengah hari sekalipun.

Pantai yang mempunyai daya tarik tersendiri dan akan dikomersialkan dengan menjadikannya sebagai tempat wisata. Banyak pantai yang keren dan sangat terkenal ke berbagai penjuru di Sulawesi Selatan. Namun ada sebuah pantai yang belum banyak orang ketahui bernama Punaga di Kabupaten Takalar.

Objek wisata pantai sudah tak asing lagi kita dengarkan. Jika mendengar kata pantai, maka yang akan terbayang dalam benak adalah tentang laut dan ombak serta pesisir pantai yang memikat hati. Melakukan perjalanan wisata pantai memang mengasyikkan sebab memberikan kesejukan angin laut, putihnya pasir dan jernihnya air.

Pemandangan pantai Punaga ini nyaris mirip dengan Tanah Lot Bali. Bahkan menurut banyak orang, Pantai Punaga adalah salah satu surga tersembunyi yang ada di Sulawesi Selatan. Di pantai ini kita bisa melakukan aktivitas berenang dan snorkling tapi tetap harus hati-hati lantaran banyak batuan karang yang licin dan tajam.

Sebuah kawasan wisata yang baru dikembangkan dan terletak di ujung kabupaten Takalar. Lokasinya benar-benar diujung bila kita melihatnya di peta. Terletak di pesisir Kabupaten Takalar, desa Punaga, Kecamatan Mangarabombang. Untuk sampai disana kita menempuh jarak sekitar 20 KM dari kota kabupaten Takalar. Jalan yang mudah diakses oleh kendaraan darat . Pantai punaga sendiri diambil dari nama desa setempat, Desa Punaga.

Memasuki kawasan pantai punaga pengunjung disuguhi dengan tanaman yang tertata rapi, beberapa gazebo yang viewnya menghadap ke laut, beberapa buah pohon besar yang ada membuat kawasan ini sejuk walaupun di siang hari, di belakang gazebo terlihat akan dibangun kolam renang yang akan menambah nuansa keindahan tempat ini nantinya.

Pada bagian ujung pantai ini terdapat tebing besar dan cukup luas, tebing ini dipertahankan dan dibiarkan modelnya tetap alami. Bila sore hari anda dapat leluasa menikmati keindahan datangnya cahaya orange dari matahari tenggelam tanpa ada yang menghalangi pandangan.

Keindahan pantai punaga serta alamnya masih jauh dari polusi membuat kita nyaman. Penduduk desa yang ramah dan sederhana menjadi salah satu daya tarik tersendiri {Andi Wahyunira} 

1. Tebing Karang Pantai Punaga {Gambar: Istimewa}

2. Pinggiran Tebing di Pantai Punaga {Gambar: Andi Wahyunira}

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini