medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

BLH Pasuruan Gelar Lomba Fashion Show Daur Ulang

Published in Event & Komunitas
Kamis, 04 Juni 2015 20:15

Medialingkungan.com – Enam puluh tiga pelajar dari berbagai SMP dan SMA di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, mengikuti perlombaan Fashion Show Daur Ulang di Pondopo Pasuruan, Rabu (3/6). Kegiatan yang diselenggarakan oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH) Pasuruan tersebut merupakan rangkaian dari peringatan hari lingkungan hidup sedunia.

Kepala BLH Pasuruan, Muchaimin, sebagaimana dilansir Koran-sindo.com menjelaskan melalui kegiatan ini pihaknya menginginkan agar masyarakat bisa semakin akrab pada penggunaan sistem reduce, reuse dan recycle sampah.

“Kami ingin mengubah pola pikir dan perilaku masyarakat untuk hidup sehat akibat penurunan kualitas lingkungan. Kami mengajak masyarakat peduli dan menjaga kebersihan lingkungan sekitarnya,” tuturnya.

Makdalena Dessy, salah seorang peserta lomba mengungkapkan konsep busana daur ulang ini menuntut setiap peserta berpikir lebih kreatif mengolah berbagai limbah sampah, sehingga terlihat padu dalam bentuk busana.

“Saya juga bisa belajar berani tampil dan percaya diri di depan orang banyak. Lomba ini juga mengajarkan untuk menjaga kelestarian lingkungan sekitar,” ucap pelajar SMA 1 Kejayaan tersebut.

Mengenai tema busana yang ditampilkan, panitia pelaksana hanya memberikan syarat busana yang dihasilkan menunjukkan identitas dan keragaman budaya yang ada di Indonesia, serta menonjolkan konsep busana daur ulang yang berasal dari berbagai limbah sampah.

Dengan hanya bermodalkan bahan baku dari barang bekas seperti plastik, koran bekas, kantong semen hingga kain bekas, para pelajar tersebut mampu mengubahnya menjadi busana indah.

Selain peragaan busana, BLH Pasuruan juga menggelar lomba foto serta karya tulis ilmiah pelajar se-Kabupaten Pasuruan. (Irlan)

Rumah Modern dari Bahan Bangunan Bekas

Published in Informasi & Teknologi
Jumat, 20 Februari 2015 23:52

Medialingkungan.com Desainer ternama Anthony Maschmedtdi Seattle, Amerika Serikat (AS) kini menciptakan bangunan rumah dengan konsep ‘Reclaimed Modern(Reklamasi yang modern) yang menggunakan bahan bangunan yang di daur ulang.

"Kami menggunakan pendekatan holistik. Kami memasukkan bahan-bahan lokal, kemudian mendaur ulang semuanya. R umah ini juga diklaim ramah lingkungan karena mengombinasikan antara desain modern dan kebutuhan pragmatis pembangunan di masa yang akan datang,” kata Desainer Dwell Development, Anthony Maschmedt, seperti dilansir oleh contemporist.

Anthony menjelaskan bahwa rumah Reclaimed Modern ini mewujudkan pola pikir baru, yaitu rumah yang menggunakan bahan bangunan bekas dan teknologi hemat energy, dengan material yang berasal dari lingkungan sekitarnya, rumah ini dipercaya merupakan bangunan konservasi hijau.

Pria yang memiliki dua anak ini mengungkapkan bahan-bahan yang kami gunakan antara lain sisa-sisa beton dari pembangunan trotoar, kayu bekas, logam yang bergelombang dari bekas pembongkaran gudang di Willamette Valley. Ia menambahkan kayu yang ditemukan dijadikan panel di bawah atap, sedangkan logam digunakan sebagai pagar, seluruh bahan-bahan bekas digunakan sebaik mungkin dan tak ada yang terbuang sama sekali.

"Kami selalu menggunakan banyak bahan dengan konten daur ulang yang tinggi. Langkah selanjutnya, kami ingin mengambil dan menggunakan kembali bahan-bahan dari bangunan tua yang akan dibongkar," ujar Koordinator Proyek Desain Dwell Development, Abbey.

Kordinator Proyek Desain Dwell Development itu mengatakan rona berkarat alami dan struktur modern rumah tersebut menciptakan patina atau korosi yang menambah daya tarik tersendiri di tengah-tengah lingkungan perkotaan.Menurut dia, eksterior rumah dilapisi dengan Enviro-Dri, yaitu penghalang cuaca resistif, Enviro-Dri ini melindungi bagian luar bangunan dari gangguan kelembaban, serta melindungi rumah dari kerasnya iklim Pasifik barat laut dan betonnya mampu menyimpan air hujan dan membantu pengisian air tanah.

“Karena matahari adalah sumber energi yang berharga, Tim kami memasang panel surya untuk memfasilitasi penggunaan energi matahari. Panel surya mengonversi energi matahari menjadi energi listrik, sehingga mengimbangi penggunaan energi pemilik rumah dan mengurangi emisi karbon,” katanya. (AH)

Seni, Senjata Perlawanan Bagi Perusak Lingkungan

Published in Opini
Sabtu, 14 Februari 2015 16:40

Oleh : Kasman Nasir

Penggiat Seni

Seni daur ulang dewasa ini menjadi semakin populer di dunia, khususnya untuk menyadarkan pentingnya daur ulang ekstrem. Banyak seniman menemukan cara-cara luar biasa dan kreatif untuk mengelola limbah menjadi emas.

Seni mendaur ulang merupakan kontribusi yang luar biasa tidak hanya pada dunia seni tetapi untuk dunia (bumi) itu sendiri. Seniman yang menggabung-gabungkan benda daur ulang ke dalam karya seni mereka hingga berhasil menghemat jutaan benda yang terbuang, memenuhi tanah dan mencemari bumi.

Seniman dunia asal Norwegia, Tone Holmen salah satu master upcycle yang mampu mengkombinasikan art dan waste. Ia fokus membahas perubahan iklim, peta, geografi dan bentang alam. Holmen mengatakan bahwa tema untuk karya seni nya adalah “perubahan iklim dan bagaimana hal itu mempengaruhi bumi kita”.

Holmen concern dalam seni khusus dengan background daerah kutub dan mencairnya es serta gletser. Salah satu karyanya adalah kantung plastik yang di daur ulang menjadi Boneka Beruang Polar Bears – yang pertama kali dipamerkan di Kebun Binatang London pada 8 Agustus 2008 lalu.

Seniman berikutnya, berasal dari Virginia, Aerika Serikat, Sandhi Schimmel Gold. Dalam visinya kreatifitasnya, ia mengemukakan bahwa kebanyakan orang menganggap kertas bekas seperti kalender, kartu pos, foto usang, dan surat-surat yang sudah tidak terpakai adalah sampah. Namun, bagi Schimmel, benda-benda tersebut bisa menjadi karya seni mosaik yang menakjubkan.

Berkat dedikasinya, kini karya-karya hasil sentuhan artistiknya telah menarik perhatian banyak orang dan mulai dikenal sebagai seniman yang peduli terhadap lingkungan.

Sampah tak selamanya menjadi sumber penyakit dan berbagai persoalan lainnya. Di Indonesia sejumlah siswa berhasil menciptakan bak sampah dari limbah tutup botol air mineral. Di samping unik dan ramah lingkungan, pembuatan bak sampah tersebut tak memerlukan biaya sama sekali, justru membuat inovasi yang bernilai seni.

Mereka hanya bertujuan untuk mengubah potret limbah yang memberikan kesan negatif menjadi  seni yang unik dan berkualitas sembari mengkonservasi lingkungan dengan mengoptimalkan benda-benda tak terpakai.

Banyak seniman yang mengatakan bahwa inspirasi mereka timbul dari alam (lingkungan hidup). Alam mengantarkan kepada mereka ide-ide besar terhadap karya imajinya. Perspektif yang heterogen yang terpercik dari alam di konversi dari sudut-sudut pandang seorang seniman untuk membentuk sebuah masterpiece yang semua orang bisa bebas menginterpretasi maha-karyanya.

Alam memberikan karunia tersendiri bagi para seniman. Bagi setiap seniman yang cinta akan lingkunganya menganggap seni daur ulang adalah ungkapan berani dan kreatif yang secara fisik memungkinkan dunia untuk melihat limbah menghasilkan sebuah gagasan, pesan yang baik, yang kuat, dan inovasi.

Sandaran pada alam bukanlah ucapan klise yang dianggap prioritas orang-orang yang berkecimpung di bidang itu. Namun pengaruh besar atas kerusakan dan kebaikan alam merupakan impact dari aktivitas manusia yang melihat alam sebagai aspek keindahan atau sebagai alat untuk memperkaya pihak-pihak tertentu.

Bumi adalah anugerah luar biasa dari peciptaNya, yang dititipkan untuk manusia bisa jalan beriringan, baik dalam pandangan seni, ekonomi, sosial, dan sebagainya. Hal-hal kecil seperti daur ulang bisa menjadi landasan gerak kita untuk menyelamatkan bumi.

 

Pengamat Properti: Gipsum Material paling Ramah Lingkungan

Published in Nasional
Kamis, 23 Oktober 2014 09:06

Medialingkungan.com – Pengamat properti sekaligus Executive Technical Director Topotels, Ojahan Oppusunggu, memandang tren bangunan di masa depan harus beralih dengan penggunaan material konstruksi yang ramah lingkungan.

Ia menilai bahwa penggunaan material harus digunakan secara komprehensif. "Material-material yang digunakan harus bersifaat ramah lingkungan yang bisa didaur ulang sehingga tidak mencemari lingkungan. Misalnya kalau terbuat dari kayu, kayunya itu produksi dari hutan tanaman industri dan berasal dari pohon-pohon yang bisa ditanam kembali," kata Ojahan pada metroTV di Jakarta, pada Rabu (22/10).

Ia menekankan, para developer dan pelaku usaha lainnya di bidang konstruksi harus terus mendorong penggunaan material yang ramah lingkungan meskipun saat ini material ini dinilai belum ekonomis. "Biaya konstruksinya memang lebih tinggi, sehingga kadang mengorbankan sisi kepedulian terhadap lingkungan," jelasnya.

Ojahan menyontohkan, salah satu material yang ramah lingkungan yakni penggunaan gipsum. Menurutnya, material yang sudah akrab dengan bangunan-bangunan di Indonesia ini bisa dipastikan lebih aman daripada menggunakan bata. “Bahkan di dalam makanan yang kita makan pun terkandung gipsum, seperti pada susu. Jadi bisa dipastikan bahwa material gipsum itu jauh lebih aman daripada bata," selorohnya.

Ia menambahkan, selain lebih fleksibel, kelebihan gipsum dibandingkan batu bata adalah dapat meredam kebisingan dan anti jamur. Selain itu, gipsum bisa melindungi terhadap api dan empat kali lipat mengurangi panas ruangan. (MFA)

INDEX IPB 2014, Pamerkan Busana Recycle-Nasionalis

Published in Nasional
Senin, 29 September 2014 14:44

Medialingkungan.com – Menjelang  Indonesian Ecology Expo (INDEX) 2014 pada Bulan November mendatang, Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (IPB) menampilkan peragaan busana dengan menggunakan bahan daur ulang atau barang bekas yang dikreasikan dan diterapkan para mahasiswa di busana ciptannya. Peragaan tersebut berlangsung di Lapangan Sempur, Kota Bogor, Jawa Barat, pada Minggu (28/09).

Terdapat sekitar tujuh busana yang diperagakan oleh mahasiswa ini. Busana-busana itu merupakan karya yang akan dilombakan bersama peserta umum lainnya selama satu bulan pada INDEX FEMA IPB 2014 -- kegiatan  Tahunan Fakultas Ekologi Manusi IPB yang tahun ini memasuki kedelapan kalinya. 

"Fashion show ini menjadi momentum mengajak mengelolah limbah yang ada bisa menjadi gaya hidup baru," kata Dekan Fakultas Ekologi Manusia IPB, Arif Satria. 

Arif mengatakan, cara ini bisa menjadi symbol gaya hidup hijau yang bisa memerangi kerusakan lingkungan saat ini. tren ini ia harapkan bisa menular ke masyarakat lainnya.

"Ini merupakan gerakan kultural yang bisa memecah masalah lingkungan, kalau semua orang merubah gaya hidup lebih pro lingkungan. Kerusakan alam akibat pencemaran lingkungan dapat diminimalisir," kata Arif. 

Desain busana itu juga dirancang mengikuti busana adat etnis dari beberapa daerah. Sehingga, selain ramah lingkungan, melalui busana-busana itu, mereka juga mencoba untuk memperkenalkan busana adat khas tradisional Indonesia.

Festival ini terbuka untuk umum, dan menghadirkan perancang busana Barli Asmara selaku juri pada puncak perlombaan tersebut tanggal 2 November mendatang. (MFA)

 

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini