medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Festival Danau Sentani, 'Budayaku, Sejahteraku'

Published in Event & Komunitas
Selasa, 09 Juni 2015 16:55

Medialingkungan.com – Festival Danau Sentani (FDS), perhelatan seni budaya tahunan di Jayapura ini kembali digelar pada tanggal 19 – 23 Juni 2015. Festival ini nantinya akan terpusat di Kawasan Wisata Khalkote, Sentani Timur, Jayapura, Papua.

Kegiatan yang mengangkat tema ‘Budayaku, Sejahterahku’ ini akan menghadirkan pementasan menarik seperti ‘menari di atas perahu’ dan ‘berperang di atas perahu’.

Menari di atas perahu ini akan diikuti 26 kampung dari 26 Ondoafi (tokoh masyarakat adat), masing-masing grup terdiri dari 40 orang. Sementara untuk ‘berperang di atas perahu’ diikuti 20 kampung dari 20 Ondoafi dengan jumlah anggota minimum 30 orang.

Selain itu, dalam acara ini juga akan diadakan berbagai macam lomba yakni lomba cipta cenderamata, lomba cipta burung cenderawasih imitasi, lomba yospan, lomba folksong, lomba suling tambur, funbike dan photographi.

Bukan hanya itu, wisatawan pun dapat mengunjungi lokasi-lokasi bersejarah yang ada di Sentani, menikmati paket tour ke Kampung Laut Tablanusu serta dapat melihat kerajinan rakyat lukisan kulit kayu yang tahun lalu mendapatkan rekor museum rekor Indonesia.

Danau Sentani sendiri terletak 20 kilometer di sebelah barat Kota Jayapura, dapat dijangkau dengan berbagai macam sarana transportasi dalam waktu 20 menit. Angkutan umum yang dapat digunakan yaitu jalur Abepura-Sentani.

Menteri Pariwisata, Arief Yahya mengungkapkan dengan adanya FDS ini masyarakat di sekitar Danau Sentani dapat melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai seni budaya dan kreatifitas serta sebagai daya tarik pariwisata di Jayapura.

“Kementerian Pariwisata akan membantu mempromosikan FDS dalam branding Wonderful Indonesia maupun Pesona Indonesia,” ucapnya dalam jumpa FDS 2015 di Gedung Sapta Pesona Jakarta sebagaimana dilansir pikiranrakyat.com.

Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw mengungkapkan acara ini akan diikuti 100 grup tari yang terdiri dari 24 grup Ondoafi di sekitar Danau Sentani, 15 grup di lingkup Kab. Jayapura, 30 grup dari luar Kab. Jayapura, 15 grup dari Kota Jayapura dan 16 grup dari kelompok Paguyuban.

"Dalam FDS nanti akan dimunculkan Tifa sebagai atribut besaran dari ondofolo dan dimainkan saat sukacita dan dukacita. Temanya adalah 'Budayaku Sejahteraku'. Juga ada pawai budaya yang diikuti warga kampung, pertunjukkan seni, adapula cerita rakyat, lalu ada juga tari-tarian, pameran benda budaya, kuliner, serta produk ekonomi local,” lanjutnya.

Selain Kabupaten dan Kota Jayapura akan ikut berpartisipasi dalam FDS 2015 Kabupaten Boven Digul, Kabupaten Asmat, Kabupaten Memberamo Raya, Kabupaten Yalimo dan Kabupaten Sarmi. (Irlan)

Kodingareng Keke, Pulau Tak Berpenghuni, Surga Para Divers

Published in Ekowista & Traveling
Selasa, 02 Juni 2015 13:25

Medialingkungan.com – Pulau Kodingareng Keke yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Kota Makassar. Pulau ini berjarak sekitar 20-30 menit dari Pulau Samalona atau 13,6 km dari Pantai Losari. 

Pulau ini termasuk 11 pulau yang berada dalam jajaran kepulauan dalam teritorial Kota Makassar. Kodingareng Keke memiliki ciri khas yang unik, kedua sisi pulau ini memiliki jenis pasirnya yang berbeda. Bagian utara dari pulau Kodingareng Keke pasirnya halus yang ukurannya berubah mengikuti musim barat dan timur, sedangkan di bagian selatan berbentuk kerikil dan pecahan karang halus.

Pulau Kodingareng Keke merupakan pulau tak berpenghuni. Namun, pulau Kodingareng Keke ini memiliki beberapa bangunan yang biasa dimanfaatkan oleh para wisatawan untuk beristirahat sambil menikmati pesona alam yang masih terjaga kelestariannya, dan memandangi kejernihan air yang berwarna hijau tosca.

Di pulau ini,Snorkeling menjadi aktifitas yang paling digemari. Di sebelah barat pulau, kedalaman airnya kurang dari 5 meter, dan dipenuhi terumbu karang yang kondisinya masih sangat baik, serta ikan-ikan dengan motif berwarna-warni banyak berkeliaran di sekeliling terumbu karang.

Jika Anda tidak ingin snorkeling, Anda bisa menikmati air laut Kodingareng Keke dengan berenang di tepian laut, sambil bermain pasir putih dan menikmati birunya langit – lepas – tanpa disesaki dengan sampah.

Jika Anda tertarik menuju ke pulau ini, Anda bisa menempuhnya melalui pelabuhan yang berada di seberang Benteng Fort Rotterdam, Jl. Penghibur. Di sana disediakan jasa pengangkutan menggunakan perahu yang dapat Anda gunakan untuk menyeberang ke pulau ini.

Biaya jasa angkutan ini sebesar Rp 300.000 dengan kapasitas muatan dengan 10-15 orang penumpang. Jangan segan-segan untuk menawar, jika berangkat bersama teman-teman, biaya tersebut dapat Ada bagi bagi bersama. (Andi Tanti)

 

Pemandangan bawah laut Kodingareng Keke yang menakjubkan (gambar: Pinterest)

 

Mobil Van yang sengaja ditaruh di dasar laut Kodingareng Keke sebagai habitat ikan-ikan kecil (Gambar: Pinterest)

#TelusurIndonesia #WonderfulIndonesia 

Pemandian Air Panas Lejja Tiada Tanding

Published in Ekowista & Traveling
Senin, 25 Mei 2015 09:44

Medialingkungan.com – Cuaca yang tidak menentu membuat Anda bingung mau liburan ke mana?. Cobalah untuk menjajakan kaki Anda ke pemandian air panas lejja yang berada di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Jarak Kabupaten Soppeng 200 km dari kota Makassar menyimpan obyek wisata yang tak kalah menariknya dengan obyek wisata lainnya di sekitar kota Makassar.

Kabupaten Soppeng ini mendapat julukan Kota Kalong (Kelelawar) karena tempat ini banyak terdapat kelelawar di setiap pohon yang ada di sepanjang kota ini. Menuju ke arah pemandian air panas Lejja, kamu akan melalui jalan yang berliku, terjal dan suasana khas perbukitan.

Pemandian air panas Lejja berada di dalam hutan lindung yang berbukit. Ada baiknya jika Anda ingin berkunjung ke obyek wisata ini sebaiknya gunakan kendaraan yang remnya bekerja dengan baik walaupun jalanan menuju obyek wisata ini sudah mulus namun harus tetap berhati-hati mengingat kondisi jalannya yang menanjak namun sesekali juga menukik.

Setelah melewati jalanan sempit yang berliku-liku, Anda akan sampai di lokasi pemandian air panas Lejja. Untuk dapat memasuki obyek wisata ini Anda diharuskan membayar tiket masuk sebesar Rp. 5.000/orang untuk dewasa dan Rp. 3.500/orang untuk anak-anak. Dari pintu gerbang, Anda bisa menggunakan kendaran atau jalan kaki menuruni tangga untuk mencapai lokasi kolam pemandian air panas di sini. Tak usah khawatir kepanasan untuk berjalan kaki menuruni tangga karena terdapat pepohonan besar yang memberikan keteduhan dan kesejukan yang tiada tanding.

Fasilitas di Pemandian Alam Air Panas Lejja ini cukup memadai dengan adanya kolam pemandian umum dan private, toilet, ruang bilas, tempat ganti pakaian, pondok peristirahatan, lapangan tenis dan baruga wisata sebagai tempat pertemuan yang bisa menampung 300 orang.

Untuk kolam pemandian private disediakan dengan rumah panggung kecil yang memiliki kolam di belakangnya dengan lebar 3 meter. Sedangkan untuk kolam pemandian umumnya terdapat 5 kolam dengan fungsi yang berbeda:

  1. Airnya sangat panas, harus berhati-hati jika berada di tempat ini karena telur yang dicelupkan di kolam ini bisa menjadi setengah matang.
  2. Kolam dangkal dengan air suam-suam kuku yang bisa dipakai untuk anak-anak kecil atau bagi kamu yang tidak bisa berenang bisa juga memakai kolam ini.
  3. Kolam dengan kedalaman sebatas leher dan air suam-suam kuku untuk orang dewasa. Ada pelampung yang disewakan jika kamu takut berenang di kolam ini.
  4. Air di kolam ini sudah normal, tidak terlalu panas ataupun terlalu dingin dan kolam ini khusus orang dewasa saja.
  5. Kolam yang berada di sebelah timur ini dilengkapi dengan papan loncatan. (Angga Pratama)

 

 

Gili Lawa, Pintu Gerbang Pulau Komodo yang Menakjubkan

Published in Ekowista & Traveling
Jumat, 03 April 2015 21:58

Medialingkungan.com Siapa yang tak kenal dengan pulau komodo? semua orang sudah hampir mengenalnya. Jika Anda menuju Pulau Komodo dan sampai di pintu gerbangnya, pasti Anda akan berdecak kagum. Yah, itulah Gili Lawa yang merupakan pintu gerbang menuju Taman Nasional Komodo. Pulau ini tak berpenghuni yang terletak di Sumbawa Timur Nusa Tenggara Timur (NTT).

Gili Lawa terbagi atas dua yaitu Gili Lawa Darat dan Gili Lawa Laut. Lokasi kedua gili ini bersebrangan. Gili Lawa Darat berada di antara Gili Lawa Laut dan Pulau Komodo.

Pulau ini dipenuhi hamparan savanna, yang apabila musim hujan padang savanna ini akan berwarna hijaun dan akan menguning saat memasuki musim kemarau. Untuk melihat keindahan yang lebih, Anda harus trekking dulu menuju puncak yang membutuhkan waktu sekitar setengah jam dengan jalur yang cukup menguras tenaga, disarankan untuk menggunakan sandal dan sepatu lapangan.

Sesampainya di puncak, kelelahan anda akan terbayar dengan suguhan pemandangan yang begitu menakjubakan, terdapat bukit-bukit yang hijau, laut dan langit yang biru menjadi satu membentuk sebuah keindahan.

Jika Anda penikmat senja, Anda bisa menunggu untuk terbenamnya matahari dan menikmati keindahan senja yang ada di Gili Lawa ini. Tak hanya itu, keindahan lainnya tidak hanya di permukaan saja, namun Gili Lawa juga menyuguhkan keindahan bawah lautnya yaitu terumbu karang dan biota lautnya yang mampu menghipnotis para pecinta diving. (Andi Hardianti)

1. Kondisi disaat senja jika anda ingin menikmati senja yang tak ada duanya (Gambar: indonesia.travel)

2. Penampakan dipagi hari di gili lawa begitu mempesona dan memanjakan kedua bola mata kta saat bangun pagi (Gambar: indonesia.travel)

Medialingkungan: Visit Gili Lawa - Wonderful Indonesia

Berarum Jeram di Sungai Pekalen Sambil Memandangi 10 Air Terjun

Published in Ekowista & Traveling
Rabu, 01 April 2015 00:01

Medialingkungan.com Pernahkah anda berarum jeram? Jika belum, anda bisa mencoba berarum jeram di Sungai Pekalen di Desa Ranu Gedang, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo, Propinsi Jawa Timur. Rafting di Sungai Pekalen terbagi atas tiga, yaitu sungai Pekalen Atas, Pekalen Tengah dan sungai Pekalen Bawah. Pekalen Atas memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi untuk berarum jeram dibandingkan dengan Pekalen Bawah.

Dinamakan Desa Ranu Gedang, karena Desa ini terdapat banyak pohon pisang (dalam bahasa Jawa gedang disebut pisang). Sungai ini bersumber dari mata air Gunung Argopuro dan Gunung Lamongan dengan lebar sungai rata-rata 5-20 meter dan kedalaman air kurang lebih 1-3 meter.

Rafting di pekalen atas memiliki trip sepanjang 12 km, pekalen tengah 7 km dan pekalen bawah 10 km. Rafting di pekalen bawah terdapat 32 jeram yang akan dilalui sepanjang jalur pereftingan. Nama dari masing-masing jeram sangat unik, nama tersebut diambil berdasarkan peristiwa pada saat pengarungan. Misalnya, terdapat jeram bernama jeram Indosat, nama tersebut diambil karena dijeram tersebut petinggi Indosat terjatuh ke dalam air.

Pekalengan tengah biasanya digabungkan dengan pekalengan bawah. Karena jarak tempuhnya hanya 7 km, pasti akan terasa sangat tidak memuaskan.

Pekalengan atas memiliki tingkat yang paling tinggi dalam berum jeram, dan akan melewati air terjun yang sangat indah. Ada 10 air terjun yang akan dilalui, pertama anda akan melewati jeram yang kemudian akan sampai dibalik air terjun. Kemudian menyebrang melewati air terjun. Namun anda akan merasakan derasnya air terjun, karena peserta akan sengaja diberhentikan tepat di bawah derasnya guyuran air terjun. Jarak pengarungan dari Start-Finish kurang lebih 12 kilometer yang ditempuh selama 3 jam.

Rafting di pekalen tidak perlu banyak banyak mendayung, seperti halnya rafting di daerah jawa barat, karena di sungai pekalen atas jeramnya ada  55 buah seperti Welcome, Batu Jenggot, Pandawa, Rajawali, Xtravaganza, KPLA, Tripple Ace, The Fly Matador, Hiu, Cucak Rowo, Long Rapid, Good Bye. Ada pula Jeram Inul, disebut demikian karena untuk melewati jeram itu, setiap peserta harus “bergoyang seperti Inul”.

Sungai pekalen merupakan sungai permanen, karena dapat diarungi meskipun pada musim kemarau dengan arus yang tidak terlalu deras. Lain halnya pada bulan Januari hingga April dengan debit air yang tinggi arus air menjadi lebih deras karena musim penghujan. Sungai ini dikategorikan memiliki tingkat kesulitan (grade) II sampai dengan III.

Sungai Pekalen ini berjarak tempuh 135 km dari Kota Surabaya atau sekitar 3 jam rata-rata perjalanan dengan kendaraan bermotor. Jika menggunakan kendaraan pribadi dari Surabaya rute yang dilalui yaitu Sidoarjo -> Pasuruan -> Probolinggo -> Situbondo. Saat menjumpai pasir putih di kiri jalan berarti lokasi sudah dekat. Anda akan menjumpai pertigaan dengan papan nama yang menunjukkan lokasi rafting. Pertigaan tersebut berjarak sekitar 15km dengan lokasi rafting. Jika memungkinkan sebaiknya anda naik mini bus (avanza, innova, dan sejenisnya) karena track menuju lokasinya masih belum di aspal/di paving jadi jangan bawa mobil yg pendek seperti sedan.

Namun, jangan khawatir jika tidak memiliki kendaraan pribadi, lokasi rafting dapat ditempuh dengan angkutan umum. Setelah sampai di terminal Probolinggo, perjalanan dilanjutkan dengan bus arah Situbondo. Rata-rata kondektur telah mengerti jika anda akan berhenti dilokasi rafting. Setelah berhenti di sebuah pertigaan, perjalanan dilanjutkan dengan angkutan umum lyn atau angkot. Kemudian berganti lagi dengan ojek, yang cukup banyak tersedia di desa tersebut, ojek akan mengantarkan anda sampai di lokasi rafting. (Andi Hardianti)

1. Sejumlah pengunjung lagi menikmati arum jeram sambil melewati kiri dan kanan air terjun yang sangat indah (Gambar: bp)

2. Keindahan air terjun di sungai pekalen (Gambar: bp)

Medialingkungan: Visit Sungai Pekalean - Wonderful Indonesia

Ingin Bermain Bersama Bayi Hiu, Kunjungi Pulau Tinabo

Published in Ekowista & Traveling
Kamis, 26 Februari 2015 16:45

Medialingkugan.com – Pulau kecil yang berada di kepulauan Taka Bonerate, Propinsi Sulawesi Selatanbernama Pulau Tinabo yang memiliki panjang 1,5 kilometer dan lebar 500 meter. Pulau Tinabo merupakan pilihan paling tepat untuk melakukan scuba-diving ataupun snorkelling di South Sulawesi.

Seluruh pulau dikelilingi oleh pantai berpasir putih, air laut yang selalu jernih sepanjang waktu, semakin dalam warna airnya berturut-turut menjadi kehijauan, biru muda, hingga biru tua menuju ke bagian laut yang lebih dalam.

Bagi Anda yang hobi menyelam, kawasan ini sangat cocok untuk wall-dive karena ada banyak kawasan dengan kontur dinding/jurang, area yang miring melandai hingga pulau-pulau bawah air.

Keindahan bawah air itu tidak hanya untuk penyelam, banyak tempat juga yang dapat dilihat keindahannya dari 0-5 meter. Jernihnya air dan banyaknya ikan-ikan kecil warna warni serta terumbu karang yang beragam menjadi surga tersendiri bagi para snorkeler.

Di pulau ini kita juga bisa menyaksikan Baby Shark (bayi hiu) jenis Black Tip di tepian pantai yang berenang dengan bebasnya tanpa harus di kurung.

Pulau Tinabo memiliki fasilitas resort di dalamnya yang bernaman Tinabo Dive Resort dengan harga Rp.200.000/malam. Biaya untuk diving di pulau tersebut Rp 300.000/orang sudah termasuk semua peralatan diving.

Untuk menuju ke pulau indah ini, dari bandara Sultan Hasanuddin (Kota Makassar) menuju terminal Mallengkeri (Makassar) menggunakan mobil sewa yang menuju ke pelabuhan Bira (Bulukumba) menempuh waktu sekitar 4-5 jam. Dari Pelabuhan Bira perjalanan dilanjutkan dengan menyeberang Ferry sekitar 2 jam ke Pelabuhan Pamatata (Selayar). Dengan masih menggunakan bus yang sama, perjalanan dilanjutkan menuju kota Benteng dengan kisaran waktu 1-2 jam.

Dari Benteng ke Pelabuhan Pattumbukan menggunakan mobil sewaan dengan lama perjalanan 1,5 jam. Setelah itu, perjalanan laut menuju Pulau Tinabo menggunakan kapal kayu jolloro dengan waktu tempuh sekitar 4-5 jam atau menggunakan kapal cepat (speed boat) dengan waktu tempuh sekitar 1-2 jam. (TAN)

Gambar 1: Kejernihan air laut Pulau Tinabo yang terletak di kepulauan Takabonerate, Sulawesi Selatan.

Gambar 2: Bayi Hiu yang ada di Kepulau Selayar, Sulawesi Selatan.

Gambar 3: Keindahan Bawah Laut yang dimiliki Pulau Tinabo.

Medialingkungan: Visit Pulau Tinabo - Wonderful Indonesia

 

Wakatobi, Surganya Gugusan Terumbu Karang

Published in Ekowista & Traveling
Senin, 16 Februari 2015 21:09

Medialingkungan.com –Taman Nasional Wakatobi (TNW) terkenal sebagai surga bawah laut yang dimiliki oleh Indonesia. Taman Nasional tersebut terletak di Kabupaten Wakatobi. Ibu kota Wakatobi adalah Wangi-Wangi. Kabupaten Wakatobi terdiri dari empat pulau utama, yaitu Wangiwangi, Kalidupa, Tomia, dan Binongko. Jadi, Wakatobi adalah singkatan nama dari keempat pulau utama tersebut.

Di taman nasional ini ada 25 gugusan terumbu karang yang mengelilingi pantai sepanjang 600 km, dan terdapat 113 jenis karang yang terdapat di dalamnya. Memiliki hampir seratus spesies ikan yang berwarna warni, raja udang erasia dan beberapa jenis penyu yang sering bertelur di pantai. Berbagai jenis burung laut yang bertengger di karang seperti: angsa-batu coklat dan cerek melayu terbang ke laut untuk berburu ikan.

Taman Nasional Wakatobi merupakan keindahan alam perairan yang sangat menakjubkan. Keindahan darat dan bawah lautnya akan memuaskan mata, menyegarkan hati dan pikiran anda serta menambah pengalaman anda mengenai kehidupan bawah laut. Beberapa kegiatan yang pasti bisa anda lakukan di sini mulai dari menyelam, snorkeling dan berenang untuk melihat gugusan terumbu karang yang indah dan berbagai biota laut.

Anda juga bisa mengunjungi perkampungan masyarakat adat yang tinggal di sekitar Taman Nasional ini. Masyarakat asli yang tinggal di sekitar taman nasional yaitu suku laut atau yang disebut Suku Bajau. Menurut catatan Cina kuno dan para penjelajah Eropa, menyebutkan bahwa manusia berperahu adalah manusia yang mampu menjelajahi Kepulauan Merqui, Johor, Singapura, Sulawesi, dan Kepulauan Sulu. Dari keseluruhan manusia berperahu di Asia Tenggara yang masih mempunyai kebudayaan berperahu tradisional adalah Suku Bajau. Melihat kehidupan mereka sehari-hari merupakan hal yang menarik dan unik, terutama penyelaman ke dasar laut tanpa peralatan untuk menombak ikan.

Untuk mengunjungi wisata ini yaitu dari Kendari ke Bau-bau dengan kapal cepat regular setiap hari dua kali dengan lama perjalanan lima jam atau dengan kapal kayu selama 12 jam. Kemudian dari Bau-bau ke Lasalimu menggunakan mobil selama dua jam, lalu naik kapal cepat Lasalimu-Wanci selama satu jam atau kapal kayu Lasalimu-Wanci selama 2,5 jam. Wanci merupakan pintu gerbang pertama memasuki kawasan Taman Nasional Wakatobi. (TAN)

(Gugusan terumbu karang yang ada di Taman Nasional Wakatobi)

(Keindahan Wakatobi)

Pesona Pantai Apparallang Surga Kecil Bulukumba, Sulawesi Selatan

Published in Ekowista & Traveling
Senin, 16 Februari 2015 15:03

Medialingkungan.com – Pantai Apparallang merupakan salah satu surga tersembunyi di Desa Ara, Kecamatan Bonto Tiro, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan yang sekarang sedang jadi sorotan di mata publik. Pantai ini terletak kurang lebih 20 km dari Pantai Tanjung Bira yang sudah lebih terkenal.

Di sepanjang pantai tampak batu karang yang tinggi besar mengelilingi pantai dari utara ke selatan, pantai ini sekilas mirip dengan Cliff Jump Point di Nusa Ceningan, Bali. Pantai ini bukan tipe pantai yang berpasir.

Di sepanjang pantai anda tidak akan menemukan pasir, hanya ada dermaga yang menyatu dengan pantai. Namun, untuk mencapai dermaga tersebut, anda akan menuruni tangga yang sangat terjal, namun tidak berbahaya.

Sensasi lain yang didapatkan dari pantai ini yaitu airnya yang jernih dan sangat biru, sehingga batu karang dapat dilihat di dasar laut. Ombaknya yang tenang menambah hasrat ingin mencicipi keindahan air lautnya.

Anda patut mecoba sensasi lompat dari tebing menuju laut lepas, tidak berbahaya karena laut yang berada di spot Cliff Jump sangat dalam dan arusnya tenang karena berada di teluk.

Daerah ini terletak 195 km atau 4-5 jam dari Kota Makassar atau 210 km dari Bandara Hasanuddin. Dari Kota Makassar pilihlah rute Jalan Poros Takalar-Jeneponto, nantinya akan melewati Bantaeng juga Kota Bulukumba. Dari sini masih terus ambil arah Bontobahari-Tanjung Bira.

Tidak ada kendaraan umum dari dan menuju ke Apparallang, karena pantainya yang dikelilingi oleh hutan dan tidak terdapat kawasan rumah di sekitarnya. Maka sangat disarankan untuk menyewa mobil dari Makassar dan direkomendasikan mencari penginapan di Tanjung Bira.

Sayangnya, di balik keindahan pantai ini masih saja terdapat orknum-oknum yang yang tidak bertanggung jawab yang membuang sampah pada sembarang tempat. Jadi, diharapkan anda yang berkunjung untuk menghargai warisan alam kita.

Anda tidak akan rugi untuk berkunjung ke Kabupaten Bulukumba, karena selain Pantai Apparallang, anda juga dapat mengunjungi berbagai wisata yang terkenal di kabupaten pembuat perahu Phinisi ini, yaitu Pantai Bara, Pantai Tanjung Bira dan kebudayaan Kajang. (TAN)

(Tempat ini juga sangat cocok untuk anda yang gemar berfoto. Photo by Andi Tanti)

(Air yang jernih dan ombak yang tenang akan anda dapatkan di pantai ini. Photo by : Wina Praja)

(Dermaga yang menghubungkan ke pantai untuk anda dapat berenang. Photo by: Wira Praja)

Batu Dinding Kilo Tiga, Surganya Pemanjat Tebing

Published in Ekowista & Traveling
Senin, 09 Februari 2015 23:28

Medialingkungan.com – Kebanyakan wisatawan hanya ingin menikmati pemandangan indah nan eksotis. Namun, tak sedikit wisatawan yang senang menantang adrenalin, dengan olahraga ekstrim yang mereka senangi saat berwisata.

Pulau Sulawesi, sebagai salah satu pulau tujuan wisatawan baik domestik maupun mancanegara ini banyak juga menyediakan tempat wisata ekstrim. Salah satu wisata ekstrim di Pulau celebes adalah Batu Dinding Kilo Tiga, Minahasa Selatan, Sulawesi Utara.

Dinding yang terletak di Desa Kilometer 3 (Km3), Kecamatan Amurang, Kabupaten Minahasa Selatan, mungkin bisa menjadi surga bagi para pencinta olahraga ekstrim panjat tebing. Batu Dinding Kilo Tiga merupakan tebing alami yang unik. Permukaan dindingnya terlihat seperti susunan-susunan balok ukuran besar terbalik.

Bentuk dinding yang menampilkan susunan balok terbalik ini akan menguji pengalaman anda dalam panjat tebing. Dinding megah nan indah ini menjulang tinggi sejauh 90 meter. Semakin ke atas, dinding ini semakin menonjolkan bagiannya. Tentunya kondisi ini akan sangat menguras tenaga dan pikiran untuk menaklukkan batu dinding tersebut.

Berikut beberapa jalur pemanjatan yang ada di Minahasa:

  1. Jalur Ofu. ‘Ofu’ adalah bahasa masyarakat setempat yang berarti ‘Lebah’. Dinamai Jalur Ofu karena jalur pemanjatanmelewati beberapa sarang lebah. Tentu saja sarang tersebut masih berpenghuni. Ektrim, bukan?
  2. Jalur Spider adalah jalur pemanjatan yang cukup panjang, dimana jalurnya tidak hanya satu tetapi banyak serta terputus-putus. Dinamai Jalur Laba-laba karena untuk menyelesaikan jalur ini, Anda harus melompat dari jalur satu ke jalur yang lain.
  3. Jalur Hang Dog. Pada Jalur Pemanjatan ini, Anda harus beberapa kali bergelantungan.
  4. Jalur Clim Or Swim (COS). Pada satu sisi, tebing berbatasan dengan aliran air. Jalur Pemanjatan COS ini menyilang dan melewati aliran air yang ada dibawah tebing tersebut. Sehingga ketika Anda terjatuh di tengah Jalur Pemanjatan, maka Anda akan langsung ‘berenang’.
  5. Jalur Teri. Dinamai Jalur Teri karena saat pembuatan jalur ini, para anggota tim pembuat jalur hanya makan dengan lauk Ikan Teri.
  6. Jalur Tragedi. Jalur Pemanjatan ini merupakan jalur peringatan pada sebuah tragedi, yang terjadi pada saat jalur ini dibuat. Dimana beberapa anggota tim tewas terseret luapan banjir Sungai Ranoyapo, yang letaknya berdekatan dengan lokasi tebing.
  7. Jalur Malaria juga merupakan jalur peringatan, karena saat jalur ini dibuat seluruh anggota team terserang penyakit Malaria. Pada saat yang sama, penyakit ini juga menyerang penduduk desa terdekat. Jalur malaria termasuk jalur tersulit di tebing ini, setelah Jalur Ratapan.
  8. Jalur Ratapan adalah Jalur Pemanjatan yang tersulit. Dinamai Jalur Ratapan karena ketika Anda menempuh jalur ini, keahlian pemanjatan Anda akan sangat teruji. Stamina, pikiran, dan tenaga akan terkuras habis untuk menaklukan jalur ini. Sehingga besar kemungkinan Anda akan mengeluh, atau ‘meratap’.

Untuk mencapai lokasi ini anda dapat menggunakan kendaraan pribadi atau umum. Namun jika menggunakan kendaraan umum tidak bisa ditempuh hanya satu kali naik. Anda harus naik ojek dari titik penurunan angkutan kota menuju Desa Kilo Tiga.

Disarankan bagi yang berminat agar membawa peralatan panjat sendiri. Untuk keamanan pemanjatan disarankan agar menghubungi Forum Komunikasi Pecinta Alam Sulawesi Utara.

Walaupun tidak dipungut biaya tiket ketika mengunjungi Batu Dinding, diharapkan agar para wisatawan agar memberikan sumbangan sukarela pada tempat yang telah disediakan. Karena perawatan Lokasi ini dilakukan secara swadaya oleh masyarakat setempat. (Ir)

Pesona Bukit Kaba Provinsi Bengkulu yang Menakjubkan

Published in Ekowista & Traveling
Jumat, 06 Februari 2015 23:40

Medialingkungan.com – Habiskan hari libur dengan traveling adalah dambaan setiap orang di dunia. Namun apakah anda termasuk orang yang menginginkan liburan yang bisa menyatukan diri dengan alam dan tentunya ramah lingkungan? jika iya, Provinsi Bengkulu bisa menjadi pilihan yang tepat buat anda.

Di Bengkulu itu terdapat dua gunung di daerah ini. Bukit Daun dan Bukit Kaba. Kedua bukit tersebut terletak di Kabupaten Rejang Lebong. Tanaman sayur-sayuran dan buah-buahan yang segar akan menyambut kedatangan anda jika berkunjung kesana. Panorama alam yang hijau dari tumbuhan yang tertata rapih adalah pemandangan yang pasti anda dapatkan.

Dari kedua gunung tersebut, Bukit Kaba merupakan yang paling populer karena pendaki pemula biasanya akan banyak ditemui di daerah ini. Mereka yang gemar menghabiskan waktu untuk menyatu dengan alam akan berdatangan di tempat ini.

Ketinggian Bukit Kaba sekitar 1.952 dari permukaan laut yang dapat dijangkau oleh pendaki pemula. Selain itu, Pada bukit ini terdapat kawah besar dengan ketinggian 1.700 m dari permukaan laut yang menyuguhkan pemandangan menarik. Hanya ada dua rute yang sudah terarah yaitu jalur tanah untuk para trekking dan jalur aspal yang bisa dilalui kendaraan roda dua.

Untuk mencapai puncak gunung kaba pendaki terlebih dahulu menuju Kota Kabupaten Rejang Lebong -Curup. Untuk ke Curup dapat dicapai dari barat Bengkulu sekitar 90 km perjalanan dan juga pendaki dapat mencapainya dari arah timur yaitu dari Palembang lewat Kabupaten Lahat dan Lubuk Linggau. Dari Curup menuju ke kampung bukit kaba dan berkemah di desa Sumber Urip (sebelah utara gunung) kurang lebih 25 km dari Curup.

Pendakian menuju ke puncak sampai di pematang durian dari sumber urip kurang lebih sekitar 4 jam perjalanan, namun saat ini dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat. Fasilitas tangga di lereng luar Kawah Lama memudahkan para wisatawan untuk mencapai bibir kawah-kawah lainnya di kawasan puncak. Sumber mata air panas di Air Meles (lereng barat daya) dan di Air Sempiang (lereng selatan) juga merupakan tempat-tempat yang potensial bagi wisata gunung api di Kabupaten Rejang Lebong.

Kondisi alam yang masih perawan menjadikan kawasan ini masih menyimpan berbagai macam satwa liar yang dengan mudah anda temui sepanjang perjalanan menuju puncak. Memasuki kawasan puncak, jajaran barisan bukit yang terlihat indah di hadapan anda akan membuat anda takjub dengan cahaya matahari yang menusuk sela-sela pegunungan dengan warna jingganya yang sangat sayang untuk anda lewatkan tanpa mengabadikannya dengan beberapa kutipan foto.

Ketika malam tiba, gemerlap lampu Kota Curup dari atas puncak gunung menambah keindahan tempat ini. Malam akan terasa sangat singkat jika anda berada disana dengan panorama yang tak terlupakan.

Pemerintah desa juga menyiapkan jasa penunjuk jalan bagi mereka yang baru pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini. Kelompok penyedia jasa tersebut mengatasnamakan Pokdarwis yang beranggotakan pria-pria besar dari Desa Sumber Urip. Mereka siap membantu pendaki mengelola transportasi hingga konsumsi berupa katering bagi peserta perkemahan. (AND)

(Keindahan Gunung Kaba)

(Jalur Menuju Puncak Gunung Kaba)

 

 

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini