medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

GO-JEK Makassar Bagikan 500 Bibit Gratis Kemasyarakat

Published in Event & Komunitas
Minggu, 19 November 2017 22:18

Medialingkungan.com – GO-JEK Makassar bagikan ratusan bibit gratis siap tanam ke masyarakat yang berkunjung di Taman Wisata Alam Bantimurung Bulusaraung, Maros dalam rangkaian kegiatan “Alam Untuk Masa Depan” pada Minggu (19/11/17). Kegiatan ini merupakan agenda tahunan GO-JEK Makassar dalam program dana Corporate Social Responsibility (CSR) yang dihadiri pihak Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN-Babul) dan Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I).

Kegiatan Alam Untuk Masa Depan merupakan kegiatan yang membangun jiwa sadar akan lingkungan kepada para peserta terkhusus para mitra GO-JEK yang pada dasarnya lahir dari semangat sosial, sehingga semangat itu harus disampaikan kepada para peserta, mitra GO-JEK dan masyarakat sekitar area kegiatan.

“Pembagian bibit dalam rangkaian kegiatan Aksi bersih dilakukan untuk menebar atmosfer green lifestyle di masyarakat sehingga edukasi kegiatan ini dapat langsung diimplementasikan dan diharapkan mampu membawa kebiasaan positif dan stimulus untuk aksi yang sama bagi warga yang bermukim disekitarnya,“ ungkap Rahmat Hidayat selaku DE Support and Event, GO-JEK Makassar.

Materi konservasi turut hadir dalam kegiatan ini guna memperkenalkan Bantimurung bukan hanya sebagai Tempat wisata air terjun melainkan sebagai tempat untuk memperkenalkan tentang species kupu-kupu sebagai The Kingdom of Butterfly.

“Kegiatan ini dapat menunjang kepedulian orang terhadap lingkungan dan merupakan kegiatan positif yang diharapkan dapat berlangsung secara terus-menerus, apalagi kegiatan ini dapat membangun mitra yang secara bersama-sama peduli terhadap lingkungan,” ujar Nurkhalis selaku Sekertaris Umum FK3I Sulsel. (Gede Tragya)

Manajemen Kawasan Konservasi Fahutan IPB Gelar Lokakarya Nasional

Published in Event & Komunitas
Selasa, 14 November 2017 17:47

Medialingkungan.com - Divisi Manajemen Kawasan Konservasi (MKK), Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor (IPB) menggelar lokakarya nasional bertema ‘Adi-Praktis Manajemen Kawasan Konservasi di Indonesia’. Acara ini diselenggarakan di Ruang Sidang  Silva (RSS) Fahutan IPB, Senin (13/10/17).

Prof. Dr. Ir. Sambas Basuni, MS selaku ketua pelaksana menjelaskan bahwa sebagaimana diketahui bahwa teori-teori yang mendasari praktik kebijakan, kelembagaan dan manajemen adalah Lay-theory, bukan Academical theory.

“Lay-theories adalah teori-teori yang dikembangkan dari pengalaman terbaik atau sering kita sebut best practices (adi-praktis). Adi-praktis ini juga penting sebagai media pembelajaran khususnya bagi mahasiswa,” jelas Prof. Sambas.

Dalam lokakarya ini beberapa narasumber yang ahli dibidangnya hadir diantaranya Ir. Adi Susmianto, M.Sc; Dr. Budi Riyanto; Ir. Waldemar Hasilohan, M.Si; dan Nunu Anugrah, S.Hut, M.Sc.

Selain itu turut hadir sebagai narasumber perwakilan Taman Nasional (TN) oleh Dr. Ir. Novianto Bambang Wawandono (TN. Gunung Gede Pangrango); Dr. U. Mamat Rahmat, S.Hut, MP (TN. Ujung Kulon); Ir. Padmo Wiyoso (TN. Gunung Ciremai); Ir. Indra Arinal (TN. Baluran); dan Dr. Ir. Ayu Dewi Utari, M.Si (TN. Bromo Tengger Semeru).

Sebagai salah satu adi-praktis, Ir. Adi Susmianto, M.Sc mengakui bahwa, praktik pengelolaan kawasan konservasi tidak sepenuhnya didasarkan pada hasil-hasil penelitian ilmiah (sciences based).

“Namun, benar-benar didasarkan pada permasalahan dan kebutuhan yang dihadapi dilapangan, baik itu terkait aturan, prosedur, maupun teknik pengelolaannya,” lanjut Adi Susmianto.

Selain itu, Dr. Budi Riyanto, SH, M.Si menegaskan bahwa pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan adalah mutlak segera dilakukan dan memposiskan masyarakat sekitar hutan sebagai subyek dalam pembangunan kehutanan. (Iswanto)

FORMA IPB Gelar Bedah Buku “DIBALIK KRISIS EKOSISTEM"

Published in Event & Komunitas
Minggu, 12 November 2017 15:08

Medialingkungan.com - FORMA pascasarjana Ilmu Pengelolaan Hutan Institut Pertanian Bogor (IPB) dibantu Forest Management Club IPB serta FORMA pascasarjana Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan IPB menyelenggarakan bedah buku yang berjudul  ‘Dibalik Krisis Ekosistem’, yang dihadiri langsung oleh penulis buku tersebut yaitu Prof. Dr. Ir. Hariadi Kartodihardjo, MS. Kegiatan ini diselenggarakan di Auditorium Sylva Pertamina Fahutan IPB, Sabtu (11/11/17).

Kegiatan ini ada karena melihat  berbagai permasalahan sektor kehutanan dan lingkungan saat ini hampir dikatakan sangatlah kompleks, satu diantaranya mengenai ketidakadilan pemanfaatan Sumberdaya Alam (SDA). Hal ini mengakibatkan adanya ketidak seimbangan pemamfaatan potensi alam yang berdampak pada timbulnya  krisis ekosistem.

Menurut Nursuhada selaku ketua panitia, kegiatan ini penting diadakan karena buku ini berisikan tentang bagaimana membangun cara pikir sehingga mereduksi nilai dari fakta sesungguhnya dilapangan.

“Buku ini merupakan hasil pemikiran penulis selama mendalami ilmu kebijakan SDA sehingga ini akan memperkaya ilmu pengetahuan kita dalam melihat masalah secara holistic melalui transdisiplin ilmu,” ujar Suhada.

Prof. Hariadi menjelaskan, bahwa judul buku ini muncul ketika membicarakan soal krisis ekosistem yang indikatornya pasti sudah jelas seperti banjir, longsor dan sebagainya. Namun, ada hal lain yang tak kalah penting dari itu yaitu pola pikir, gagasan, dan mandeknya ilmu pengetahuan. Menurutnya, hal tersebut lebih mengena dibanding membicarakan ekosistemnya secara rinci yang solusinya telah diketahui.

“Yang menjadi kegagalan dalam merumuskan solusi biasanya adalah kegagalan dalam mendefinisikan konteks. Konteksnya seperti apa? Bukan salah dalam mengambil analisis atau kesimpulan tetapi  kita tidak cukup baik  menghubungkan antara analisis simpulan dengan konteks yang  kita  hadapi,” tegas Prof. Hariadi.

Budi S.Hut., M.Sc. yang menjadi salah satu pemapar mengungkapkan bahwa, dalam buku ini disebutkan kerusakan-kerusakan SDA disebabkan karena kegiatan pembangunan hanya menitik beratkan pada produksi komuditas misalkan hutan hanya untuk menghasilkan kayu dan sebagianya.

“Selain itu, masalah lainnya adalah lemahnya kelembagaan dalam menyelesaikan konflik,” lanjut Budi. (Iswanto)

Peringati Hari Pahlawan, PROFAUNA Ajak Siswa Menjadi WILDLIFE HERO

Published in Event & Komunitas
Jumat, 10 November 2017 18:00

Medialingkungan.com - Aktivis Protection of Forest & Fauna (PROFAUNA) di Malang mengajak siswa menjadi pahlawan bagi hutan dan satwa liar. Ajakan itu dilakukan dalam bentuk edukasi ke sekolah tentang konservasi hutan untuk memperingati Hari Pahlawan Nasional, yang dilakukan Jumat pagi (10/11/17) di SD Sriwedari, Jalan Bogor No. 1 Kota Malang.

Dalam kegiatan edukasi itu sejumlah aktivis profauna mengenakan atribut kepahlawanan berwarna merah putih dan membawa kostum primata. Atribut itu sebagai salah satu bentuk mengekspresikan kepahlawanan masa kini.

Sedikitnya 30 siswa-siswi itu diajak nonton film bersama dan diskusi seputar hutan dan satwa liar. Film yang diputar berjudul ‘Budeng dan Pelestarian Hutan di Jawa’, berisi tentang gambaran kehidupan Lutung Jawa dan manfaat hutan bagi satwa liar maupun manusia.

"Kami ingin adik-adik ini  tahu bagaimana kondisi hutan dan satwa liar saat ini, sekaligus mengajak untuk ikut menjaga serta melindunginya. Laju kerusakan hutan di Indonesia sangat cepat, sehingga membutuhkan banyak pahlawan lingkungan yang biasanya kami sebut Wildlife Hero," kata Muhamad Jayuli, Campaign Assistant PROFAUNA Indonesia.

Jayuli menambahkan bahwa menjadi pahlawan masa kini adalah berjuang dibidangnya masing-masing dan menyayangi satwa dan habitatnya merupakan bentuk kepahlawanan masa kini.

Dalam kesempatan itu aktivis PROFAUNA mengajak siswa untuk turut serta menjadi Wildlife Hero. Dengan cara-cara yang sederhana, yaitu mengurangi penggunaan kertas, tisu, penggunaan produk berbahan minyak kelapa sawit, serta membagikan informasi yang disampaikan kepada orang-orang yang ada disekitar.

Dra. Ari Wilujeng, Guru Kelas 4 SD Sriwedari yang menghubungi PROFAUNA mengaku sangat senang dengan  adanya edukasi tentang hutan dan satwa liar itu.

“Bersyukur adik-adik, kita telah diwariskan alam yang kaya oleh para pahlawan kita. Tugas kita adalah menjaganya agar tetap bisa kita nikmati sampai saat ini,” kata perempuan yang akrab disapa Bu Ari sebelum menutup acara.

Ia menambahkan bahwa kegiatan seperti ini sangatlah penting untuk membangun karakter siswa untuk peduli pada permasalahan disekitar. (Khalid Muhammad)

Agrocomplex Go Green 2017 Tanam 10 Ribu Mangrove

Published in Event & Komunitas
Senin, 28 Agustus 2017 01:05

Medialingkungan.com - Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu’mang dan Walikota Makassar Moh Ramdhan Pomanto bersama Asosiasi Teman Kuliah Pertanian dan Kehutanan Universitas Hasanuddin (TKP-UNHAS) menanam bibit Mangrove dan menebar benih Rajungan Kepiting dan Udang yang dipusatkan di Pantai Lantebung Kelurahan Bira, Kecamatan Biringkanaya Makassar Sabtu (26/8).

Kegiatan ini dinamakan Agrocomplex Go Green 2017 oleh TKP-UNHAS dalam 1 dekade keberadaanya dengan bentuk penanaman 10.000 bibit mangrove dan restocking Benih Rajungan dan Udang 100.000 ekor yang melibatkan TNI, Polri, Bank BRI, Mahasiswa Fakultas Kehutanan, Pertanian dan Kelautan Unhas serta masyarakat Lantebung yang berlangsung selama dua hari.

Melalui acara ini Ahmad Sukri selaku Ketua Tim Kerja TKP-UNHAS mengatakan bahwa, “Kegiatan ini bentuk kepedulian terhadap lingkungan, dimana Mangrove ini sangatlah penting, karena sepertiga kawasan mangrove dunia berada di Indonesia dan setiap tahunnya berkurang sebanyak 30%, karena itulah kegiatan ini berlangsung untuk menghidupkan kembali fungsi-fungsi ekologi dan juga restoking benih rajungan sebagai budidaya bebas untuk dinikmati masyarakat Lantebung, agar tidak ada lagi exploitasi pada kawasan mangrove”.

Wakil Gubernur Sulsel juga mengatakan bahwa, “pohon mangrove adalah pohon yang paling kuat untuk menahan ombak dibandingkan dengan tembok”.

Moh Ramdhan Pomanto menegaskan bahwa, “Mangrove sangatlah penting untuk ekosistem laut” seperti yang disampaikan dalam sambutannya pada pembukaan acara. {Ira Anugerah Abbas}

Bonn Challenge, Insiaisi Restorasi Hutan Terbesar Di Dunia

Published in Nasional
Selasa, 09 Mei 2017 10:48

Medialingkungan.com – Sumatera Selatan (Sumsel) kedatangan 40 negara untuk menghadiri The 1st Asia Bonn Challenge High Level Meeting pada hari ini dan besok (9-10) Mei 2017. Pemerintah Provinsi Sumsel mengatakan The Bonn Challenge adalah suatu inisiatif dan ide yang besar dari pemimpin-pemimpin dunia yang peduli perubahan iklim.

“Ini dilakukan dengan restorasi lanskap hutan yang kritis,” ujar Najib Asmani, Staf Ahli Gubernur Sumatera Selatan Bidang Perubahan Iklim.

Lebih lanjut ia sampiakan mengatakan pengelolaan hutan dan lahan di provinsi Sumsel harus melibatkan semua elemen masyarakat. "Berkat kerja keras Pemprov Sumsel kita bisa menyelenggarakan Bonn Chalenge," ungkapnya.

Sementara itu, Gubernur Sumsel mengatakan sebanyak 736 ribu hektar hutan di Provinsi Sumatera Selatan dinyatakan rusak. Kerusakan dominan disebabkan kebakaran hutan dan lahan 2015. "736 Ribu hektar hutan yang rusak akibat kebakaran 2015. Sulit direstorasi atau direvitalisasi, APBD tak mampu, APBN juga," kata Alex, Senin (8/5).

Ia sampaikan juga bahwa pihaknya sulit melakukan restorasi hutan rusak itu memerlukan banyak biaya. Tak hanya anggaran dari APBD, dana dari pemerintah pusat (APBN) juga belum tentu mampu mencukupi.

Untuk menyikapi masalah tersebut, Alex menggandeng banyak Non-Government Organization (NGO) yang peduli terhadap lingkungan untuk membantu memperbaiki hutan yang rusak. “kita mengajak pihak kedua dan ketiga untuk membantu. Kita masih cari negara-negara yang peduli. Saat ini setidaknya, ada 11 lokasi yang digarap 6 NGO," paparnya.

Terkait Bonn Challenge, sambungnya, Bonn Challenge adalah suatu inisiatif restorasi landskap yang kritis yang terbesar dunia. Gelaran kali ini dimanfaatkan untuk menunjukkan kepada negara peserta untuk melihat secara langsung kondisi hutan di Bumi Sriwijaya ini. Sumsel sendiri mengajukan 400 ribu hektar dari 150 juta hektar hutan yang ditargetkan direstorasi hingga 2020 mendatang. {Fahrum Ahmad}

Jusuf Kalla; Sampah Merupakan bagian dari Kehidupan Manusia

Published in Nasional
Rabu, 01 Maret 2017 13:13

Medialingkungan.com - Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla hadiri puncak peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2017 di Pantai Kenjeran, Surabaya, Jawa Timur. Dalam kegiatan tersebut, Jusuf Kalla mengajak semua lapisan masyarakat untuk bertanggung jawab terhadap sampah yang ditimbulkan dari aktivitas masing-masing, mulai dari rumah tangga hingga industri.

Menurut wakil presiden yang akrab disapa JK tersebut, sampah merupakan bagian dari kehidupan yang tidak mungkin ditiadakan. Sampah bisa menjadi teman tapi juga bisa menjadi musuh dalam kehidupan manusia. “Kita tidak akan mungkin bisa meniadakan sampah 100 persen. Sebab, sampah merupakan bagian dari kehidupan manusia. Namun, yang terpenting adalah treatment alias pengelolaan sampah yang baik,” ujar Jusuf Kalla seperti yang dilansir Okezone.com

“Bila tidak dikelola dengan baik, sampah bisa menjadi musibah seperti sumber penyakit dan banjir. Apalagi, sampah banyak berasal dari masyarakat, maka masyarakat yang pertama bertanggung jawab mengolah sampah”, tambahnya.

Dalam acara yang sama, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengapresiasi program yang dijalankan Pemerintah Kota Surabaya dalam menangani sampah. Menurut Siti, banyak keteladanan yang bisa diambil dari Surabaya untuk direplikasi menjadi program nasional.

“Surabaya menampilkan keteladanan, di antaranya program pemberian insentif kepada pemulung yang dikaitkan dengan tempat daur ulang sampah,” kata Siti Nurbaya.

Selain berpusat di Surabaya, peringatan HPSN 2017 juga dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten dan pemerintah kota di seluruh Indonesia. Selama Februari 2017, terdapat 226 kabupaten/kota dari 34 provinsi yang telah melaksanakan bersih-bersih lingkungan. {Dedy}

BKSDA: Tanamkan Pendidikan Peduli Alam Sejak Dini

Published in Event & Komunitas
Minggu, 29 Mei 2016 17:39

Medialingkungan.com - Balai Besar Konservasi Sumber daya Alam (BBKSDA) bekerja sama dengan komunitas Lentera Negeri Makassar mengadakan School Visit Pendidikan Konservasi Alam bertajuk “Peduli Alam Sejak Dini”. Kegiatan yang rencananya akan menjadi kegiatan tahunan BBKSDA tersebut diadakan di Taman Pendidikan Al-Qur’an Al-A’raf Jl. Paccerakkang - Daya, Makassar (29/05).

Kegiatan tersebut selain diikuti oleh 50 peserta yang merupakan siswa - siswi sekolah informal binaan dari komunitas lentera Makassar, juga turut hadir beberapa staf dari BBKSDA untuk turun langsung mengajarkan ke peserta untuk lebih peduli terhadap alam.

Bintang putra selaku penanggung jawab dari Lentera Negeri Makassar mengungkapkan bahwa, tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memperkenalkan ke anak - anak tentang tumbuhan atau satwa liar yang hampir punah dan harus dilindungi, juga untuk mengajarkan agar lebih peka dan peduli terhadap lingkungan sekitar.

“Dalam kegiatan ini, kami memberikan materi tentang pengenalan satwa - satwa liar yang hampir punah di alam bebas, mengenal jenis jenis sampah, dan beberapa games tentang lingkungan”, Ungkapnya.

“Kami berharap setelah kegiatan ini semua peserta yang hadir bisa sadar dan peka terhadap lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarang tempat”, Tambahnya.

Sementara itu, Kepala seksi pemanfaatan BBKSDA Edi Santoso mengungkapkan, pemilihan anak-anak sekolah informal sebagai peserta pendidikan lingkungan merupakan pilihan yang tepat, karena menurutnya sekolah sekolah formal di Makassar sudah memiliki kurikulum sendiri terkait pendidikan lingkungan dibandingkan dengan sekolah informal yang masih minim pengetahuan tentang kesadaran dalam menjaga lingkungan.

“Dengan adanya kegiatan ini, semoga apa yang kami berikan bisa bermanfaat dan dapat diaplikasikan langsung di kehidupan sehari - hari, dan membuat mereka jadi lebih cinta terhadap alam”, Tuturnya.

Edy menambahkan bahwa kedepan nya BBKSDA akan kembali mengadakan kegiatan yang sama di tempat yang berbeda untuk mengajak anak - anak usia dini lebih cinta terhadap lingkungan. {Dedy}

Mantan Supermodel Brazil Dinobatkan Jadi Duta Satwa Liar

Published in Internasional
Sabtu, 28 Mei 2016 16:48

Medialingkungan.com – Gisele Bundchen, mantan supermodel asal Brazil ini dinobatkan sebagai duta satwa liar oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada sidang kedua PBB tentang lingkungan di Nairobi, Rabu (25/05). Penobatan ini dilakukan sebagai bagian dari kampanye global melawan perdagangan satwa liar ilegal yang bertajuk “Wild for Life”.

“Pengetahuan adalah kekuatan, dan sekarang adalah waktunya mengatur pikiran kita untuk mengakhiri semua perdagangan satwa liar ilegal sebelum pilihan ini tidak lagi di tangan kita,” kata Giselle seperti dilansir oleh Daily Mail UK.

Bukan hanya menyerukan untuk menghentikan perdagangan ilegal, wanita kelahiran 1980 itu juga membiarkan namanya diganti menjadi “penyu”. Hal ini juga ditunjukkan ketika Gisele mengunggah salah satu foto ke akun Instagram-nya (@gisele) pada Rabu pagi (25/05), dimana ia menampilkan gambar penyu yang menutupi sebagian wajahnya, dan terdapat tulisan yang berisi “I am Sea Turtle” pada gambar tersebut.

“Hari ini saya membiarkan nama saya untuk diubah menjadi penyu,” tambahnya.

Foto yang diunggah Gisele ke akun Instagram-nya (@gisele). (Gambar: UN)

Kampanye ini juga diikuti oleh sejumlah selebriti dari penjuru dunia, termasuk Indonesia, India, Tiongkok, Lebanon, dan Vietnam. Tak luput pula beberapa pesepakbola seperti Yaya Toure dan Neymar, beserta aktor Ian Somerhalder juga turut menyerukan kampanye tersebut. {Muchlas Dharmawan}

Iwan Fals : Reklamasi Tidak Sejahterahkan Masyakarat

Published in Nasional
Sabtu, 16 April 2016 20:13

Medialingkungan.com - Penyanyi Legendaris, Iwan Fals di dampingi empat vokalis band yakni Ariel Noah, Giring Nidji, Rian D’masiv, dan Momo Geisha akan menggelar konser di lima kota yakni Banjarmasin, Malang, Palembang, Makassar, dan terakhir Bali. Mereka akan berkolaborasi dengan konsep utama album Satu adalah Bhineka Tunggal Ika.

Dilansir dari Tempo, usai jumpa pers di Kuta Selatan, Jumat 15 April 2016, Iwan Fals memberi apresiasi terhadap perjuangan masyarakat Bali yang menolak rencana reklamasi Teluk Benoa.

Masyarakat bali harus tetap semangat untuk menahan proyek PT Tirta Wahana Bali Internasional yang merupakan jaringan bisnis taipan Tomy Winata. “Keyakinan menolak reklamasi Teluk Benoa harus terus diperjuangkan,” ujarnya.

Musikus senior tanah air ini mengatakan, Reklamasi berkedok revitalisasi Teluk Benoa itu tidak mensejahterahkan masyakarat. “Bagi masyarakat Bali tetaplah bersemangat,” ucap Iwan.

Pasca konser mereka mendiskusikan “Permasalahan kerusakan lingkungan, Hutan, dan lain-lain yang banyak terjadi di negeri ini. satu tetes air hujan menghidupkan pohon-pohon,” ujar Iwan. {Ilham Nasir}

Halaman 1 dari 8

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini