medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Agrocomplex Go Green 2017 Tanam 10 Ribu Mangrove

Published in Event & Komunitas
Senin, 28 Agustus 2017 01:05

Medialingkungan.com - Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu’mang dan Walikota Makassar Moh Ramdhan Pomanto bersama Asosiasi Teman Kuliah Pertanian dan Kehutanan Universitas Hasanuddin (TKP-UNHAS) menanam bibit Mangrove dan menebar benih Rajungan Kepiting dan Udang yang dipusatkan di Pantai Lantebung Kelurahan Bira, Kecamatan Biringkanaya Makassar Sabtu (26/8).

Kegiatan ini dinamakan Agrocomplex Go Green 2017 oleh TKP-UNHAS dalam 1 dekade keberadaanya dengan bentuk penanaman 10.000 bibit mangrove dan restocking Benih Rajungan dan Udang 100.000 ekor yang melibatkan TNI, Polri, Bank BRI, Mahasiswa Fakultas Kehutanan, Pertanian dan Kelautan Unhas serta masyarakat Lantebung yang berlangsung selama dua hari.

Melalui acara ini Ahmad Sukri selaku Ketua Tim Kerja TKP-UNHAS mengatakan bahwa, “Kegiatan ini bentuk kepedulian terhadap lingkungan, dimana Mangrove ini sangatlah penting, karena sepertiga kawasan mangrove dunia berada di Indonesia dan setiap tahunnya berkurang sebanyak 30%, karena itulah kegiatan ini berlangsung untuk menghidupkan kembali fungsi-fungsi ekologi dan juga restoking benih rajungan sebagai budidaya bebas untuk dinikmati masyarakat Lantebung, agar tidak ada lagi exploitasi pada kawasan mangrove”.

Wakil Gubernur Sulsel juga mengatakan bahwa, “pohon mangrove adalah pohon yang paling kuat untuk menahan ombak dibandingkan dengan tembok”.

Moh Ramdhan Pomanto menegaskan bahwa, “Mangrove sangatlah penting untuk ekosistem laut” seperti yang disampaikan dalam sambutannya pada pembukaan acara. {Ira Anugerah Abbas}

Bonn Challenge, Insiaisi Restorasi Hutan Terbesar Di Dunia

Published in Nasional
Selasa, 09 Mei 2017 10:48

Medialingkungan.com – Sumatera Selatan (Sumsel) kedatangan 40 negara untuk menghadiri The 1st Asia Bonn Challenge High Level Meeting pada hari ini dan besok (9-10) Mei 2017. Pemerintah Provinsi Sumsel mengatakan The Bonn Challenge adalah suatu inisiatif dan ide yang besar dari pemimpin-pemimpin dunia yang peduli perubahan iklim.

“Ini dilakukan dengan restorasi lanskap hutan yang kritis,” ujar Najib Asmani, Staf Ahli Gubernur Sumatera Selatan Bidang Perubahan Iklim.

Lebih lanjut ia sampiakan mengatakan pengelolaan hutan dan lahan di provinsi Sumsel harus melibatkan semua elemen masyarakat. "Berkat kerja keras Pemprov Sumsel kita bisa menyelenggarakan Bonn Chalenge," ungkapnya.

Sementara itu, Gubernur Sumsel mengatakan sebanyak 736 ribu hektar hutan di Provinsi Sumatera Selatan dinyatakan rusak. Kerusakan dominan disebabkan kebakaran hutan dan lahan 2015. "736 Ribu hektar hutan yang rusak akibat kebakaran 2015. Sulit direstorasi atau direvitalisasi, APBD tak mampu, APBN juga," kata Alex, Senin (8/5).

Ia sampaikan juga bahwa pihaknya sulit melakukan restorasi hutan rusak itu memerlukan banyak biaya. Tak hanya anggaran dari APBD, dana dari pemerintah pusat (APBN) juga belum tentu mampu mencukupi.

Untuk menyikapi masalah tersebut, Alex menggandeng banyak Non-Government Organization (NGO) yang peduli terhadap lingkungan untuk membantu memperbaiki hutan yang rusak. “kita mengajak pihak kedua dan ketiga untuk membantu. Kita masih cari negara-negara yang peduli. Saat ini setidaknya, ada 11 lokasi yang digarap 6 NGO," paparnya.

Terkait Bonn Challenge, sambungnya, Bonn Challenge adalah suatu inisiatif restorasi landskap yang kritis yang terbesar dunia. Gelaran kali ini dimanfaatkan untuk menunjukkan kepada negara peserta untuk melihat secara langsung kondisi hutan di Bumi Sriwijaya ini. Sumsel sendiri mengajukan 400 ribu hektar dari 150 juta hektar hutan yang ditargetkan direstorasi hingga 2020 mendatang. {Fahrum Ahmad}

Jusuf Kalla; Sampah Merupakan bagian dari Kehidupan Manusia

Published in Nasional
Rabu, 01 Maret 2017 13:13

Medialingkungan.com - Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla hadiri puncak peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2017 di Pantai Kenjeran, Surabaya, Jawa Timur. Dalam kegiatan tersebut, Jusuf Kalla mengajak semua lapisan masyarakat untuk bertanggung jawab terhadap sampah yang ditimbulkan dari aktivitas masing-masing, mulai dari rumah tangga hingga industri.

Menurut wakil presiden yang akrab disapa JK tersebut, sampah merupakan bagian dari kehidupan yang tidak mungkin ditiadakan. Sampah bisa menjadi teman tapi juga bisa menjadi musuh dalam kehidupan manusia. “Kita tidak akan mungkin bisa meniadakan sampah 100 persen. Sebab, sampah merupakan bagian dari kehidupan manusia. Namun, yang terpenting adalah treatment alias pengelolaan sampah yang baik,” ujar Jusuf Kalla seperti yang dilansir Okezone.com

“Bila tidak dikelola dengan baik, sampah bisa menjadi musibah seperti sumber penyakit dan banjir. Apalagi, sampah banyak berasal dari masyarakat, maka masyarakat yang pertama bertanggung jawab mengolah sampah”, tambahnya.

Dalam acara yang sama, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengapresiasi program yang dijalankan Pemerintah Kota Surabaya dalam menangani sampah. Menurut Siti, banyak keteladanan yang bisa diambil dari Surabaya untuk direplikasi menjadi program nasional.

“Surabaya menampilkan keteladanan, di antaranya program pemberian insentif kepada pemulung yang dikaitkan dengan tempat daur ulang sampah,” kata Siti Nurbaya.

Selain berpusat di Surabaya, peringatan HPSN 2017 juga dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten dan pemerintah kota di seluruh Indonesia. Selama Februari 2017, terdapat 226 kabupaten/kota dari 34 provinsi yang telah melaksanakan bersih-bersih lingkungan. {Dedy}

BKSDA: Tanamkan Pendidikan Peduli Alam Sejak Dini

Published in Event & Komunitas
Minggu, 29 Mei 2016 17:39

Medialingkungan.com - Balai Besar Konservasi Sumber daya Alam (BBKSDA) bekerja sama dengan komunitas Lentera Negeri Makassar mengadakan School Visit Pendidikan Konservasi Alam bertajuk “Peduli Alam Sejak Dini”. Kegiatan yang rencananya akan menjadi kegiatan tahunan BBKSDA tersebut diadakan di Taman Pendidikan Al-Qur’an Al-A’raf Jl. Paccerakkang - Daya, Makassar (29/05).

Kegiatan tersebut selain diikuti oleh 50 peserta yang merupakan siswa - siswi sekolah informal binaan dari komunitas lentera Makassar, juga turut hadir beberapa staf dari BBKSDA untuk turun langsung mengajarkan ke peserta untuk lebih peduli terhadap alam.

Bintang putra selaku penanggung jawab dari Lentera Negeri Makassar mengungkapkan bahwa, tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memperkenalkan ke anak - anak tentang tumbuhan atau satwa liar yang hampir punah dan harus dilindungi, juga untuk mengajarkan agar lebih peka dan peduli terhadap lingkungan sekitar.

“Dalam kegiatan ini, kami memberikan materi tentang pengenalan satwa - satwa liar yang hampir punah di alam bebas, mengenal jenis jenis sampah, dan beberapa games tentang lingkungan”, Ungkapnya.

“Kami berharap setelah kegiatan ini semua peserta yang hadir bisa sadar dan peka terhadap lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarang tempat”, Tambahnya.

Sementara itu, Kepala seksi pemanfaatan BBKSDA Edi Santoso mengungkapkan, pemilihan anak-anak sekolah informal sebagai peserta pendidikan lingkungan merupakan pilihan yang tepat, karena menurutnya sekolah sekolah formal di Makassar sudah memiliki kurikulum sendiri terkait pendidikan lingkungan dibandingkan dengan sekolah informal yang masih minim pengetahuan tentang kesadaran dalam menjaga lingkungan.

“Dengan adanya kegiatan ini, semoga apa yang kami berikan bisa bermanfaat dan dapat diaplikasikan langsung di kehidupan sehari - hari, dan membuat mereka jadi lebih cinta terhadap alam”, Tuturnya.

Edy menambahkan bahwa kedepan nya BBKSDA akan kembali mengadakan kegiatan yang sama di tempat yang berbeda untuk mengajak anak - anak usia dini lebih cinta terhadap lingkungan. {Dedy}

Mantan Supermodel Brazil Dinobatkan Jadi Duta Satwa Liar

Published in Internasional
Sabtu, 28 Mei 2016 16:48

Medialingkungan.com – Gisele Bundchen, mantan supermodel asal Brazil ini dinobatkan sebagai duta satwa liar oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada sidang kedua PBB tentang lingkungan di Nairobi, Rabu (25/05). Penobatan ini dilakukan sebagai bagian dari kampanye global melawan perdagangan satwa liar ilegal yang bertajuk “Wild for Life”.

“Pengetahuan adalah kekuatan, dan sekarang adalah waktunya mengatur pikiran kita untuk mengakhiri semua perdagangan satwa liar ilegal sebelum pilihan ini tidak lagi di tangan kita,” kata Giselle seperti dilansir oleh Daily Mail UK.

Bukan hanya menyerukan untuk menghentikan perdagangan ilegal, wanita kelahiran 1980 itu juga membiarkan namanya diganti menjadi “penyu”. Hal ini juga ditunjukkan ketika Gisele mengunggah salah satu foto ke akun Instagram-nya (@gisele) pada Rabu pagi (25/05), dimana ia menampilkan gambar penyu yang menutupi sebagian wajahnya, dan terdapat tulisan yang berisi “I am Sea Turtle” pada gambar tersebut.

“Hari ini saya membiarkan nama saya untuk diubah menjadi penyu,” tambahnya.

Foto yang diunggah Gisele ke akun Instagram-nya (@gisele). (Gambar: UN)

Kampanye ini juga diikuti oleh sejumlah selebriti dari penjuru dunia, termasuk Indonesia, India, Tiongkok, Lebanon, dan Vietnam. Tak luput pula beberapa pesepakbola seperti Yaya Toure dan Neymar, beserta aktor Ian Somerhalder juga turut menyerukan kampanye tersebut. {Muchlas Dharmawan}

Iwan Fals : Reklamasi Tidak Sejahterahkan Masyakarat

Published in Nasional
Sabtu, 16 April 2016 20:13

Medialingkungan.com - Penyanyi Legendaris, Iwan Fals di dampingi empat vokalis band yakni Ariel Noah, Giring Nidji, Rian D’masiv, dan Momo Geisha akan menggelar konser di lima kota yakni Banjarmasin, Malang, Palembang, Makassar, dan terakhir Bali. Mereka akan berkolaborasi dengan konsep utama album Satu adalah Bhineka Tunggal Ika.

Dilansir dari Tempo, usai jumpa pers di Kuta Selatan, Jumat 15 April 2016, Iwan Fals memberi apresiasi terhadap perjuangan masyarakat Bali yang menolak rencana reklamasi Teluk Benoa.

Masyarakat bali harus tetap semangat untuk menahan proyek PT Tirta Wahana Bali Internasional yang merupakan jaringan bisnis taipan Tomy Winata. “Keyakinan menolak reklamasi Teluk Benoa harus terus diperjuangkan,” ujarnya.

Musikus senior tanah air ini mengatakan, Reklamasi berkedok revitalisasi Teluk Benoa itu tidak mensejahterahkan masyakarat. “Bagi masyarakat Bali tetaplah bersemangat,” ucap Iwan.

Pasca konser mereka mendiskusikan “Permasalahan kerusakan lingkungan, Hutan, dan lain-lain yang banyak terjadi di negeri ini. satu tetes air hujan menghidupkan pohon-pohon,” ujar Iwan. {Ilham Nasir}

AccorHotels Berbagi Tempat Sampah di Karebosi, Makassar

Published in Event & Komunitas
Rabu, 13 April 2016 09:39

Medialingkungan.com - AccorHotels Cluster Makassar kembali menggelar kegiatan rutin tahunan yaitu Planet 21. Kali ini kegiatan dilaksanakan di Lapangan Karebosi, Makassar, dengan serangkaian aktivitas yang dilakukan seperti penyerahan tempat sampah secara simbolik kepada pemerintah kota Makassar, aksi bersih-bersih bersama staf AccorHotels, dan ditutup dengan senam Zumba bersama (12/4).

AccorHotels yang terdiri dari tiga hotel yakni Ibis Budget Makassar Airport, Ibis Makassar Centre dan juga Novotel Makassar Grand Shayla City Centre melakukan penyerahan tempat sampah yang nantinya akan diletakkan di beberapa titik di Lapangan Karebosi. Penyerahan dilakukan oleh Jean Michel Serriere (Novotel Grand Shayla City Centre) dan Joice (Ibis Budget Airport) kepada Sekertaris Daerah Kota Makassar, H. Ibrahim Saleh.

Kegiatan yang diadakan setiap bulan April ini dihadiri oleh beberapa perwakilan dari instansi pemerintah daerah kota Makassar, jajaran staf AccorHotels Cluster Makassar dan juga komunitas Earth Hour Makassar. Ibrahim Saleh selaku Sekretaris Daerah Kota Makassar sangat mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya kegiatan ini sangat sejalan dengan program dari pemerintah kota Makassar, yaitu Makassar Tidak Rantasa (MTR).

Kezia Maureen selaku Cluster Marcom Manager Novotel Makassar mengungkapkan bahwa kegiatan Planet 21 ini merupakan program pembangunan berkelanjutan, yang berfokus pada kebutuhan untuk mengubah pola produksi dan konsumsi untuk melindungi planet kita, orang-orang, dan lingkungan hidup mereka. Dengan Planet 21, AccorHotels menegaskan 21 komitmen terhadap kesehatan, alam, energi, inovasi, kerja, dll. dan juga tujuan untuk dicapai di beberapa tahun kedepan.

“Untuk tahun ini, AccorHotels Cluster Makassar memperingati Planet 21 dengan menyumbangkan beberapa tempat sampah yang akan diletakkan di Lapangan Karebosi Makassar dengan tujuan agar lapangan tetap terlihat bersih dari sampah, sehingga para pengunjung tetap merasa nyaman jika berkunjung ke salah satu landmark kota Makassar ini”, ujarnya.

Kezia berharap pemberian tempat sampah tersebut bisa dimaksimalkan oleh masyarakat yang berkunjung ke Karebosi. Dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan agar tetap sehat, dan tidak ada lagi pengunjung yang membuang sampahnya di sembarang tempat. {Dedy}

TLKM Bentuk Gapoktan dan Berikan Pelatihan Kemasan Madu Alam di Kab. Maros

Published in Event & Komunitas
Senin, 14 Maret 2016 16:39

Medialingkungan.com – Madu di tiap daerah Indonesia memiliki cita rasa tersendiri khususnya di Sulawesi Sealatan  Kabupaten Maros memiliki madu yang rasanya tiada tanding dari madu-madu lain. Mengetahui hal itu, pihak Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Kabupaten Maros bekerjasama dengan Tim Layanan Kehutanan Masyarakat (TLKM) untuk mengadakan pelatihan pengemasan madu alam ke para gabungan kelompok tani (Gapoktan) yang ada di Desa Patanyamang, Kabupaten Maros.

TLKM membuat Gapoktan se-Kabupaten Maros dan setiap kelompok tani diwakili tiga orang, tidak hanya para kelompok tani yang mengikuti pelatihan tersebut, tetapi para pegawai Resort Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung juga turut andil.

Pelatihan yang dilakukan TLKM bertujuan untuk membantu para Gapoktan di Kabupaten Maros dalam melakukan pengemasan dan pemasaran agar kemasan madu menjadi menarik para produsen serta meningkatkan perekonomian Gapoktan. Pelatihan ini dilaksanakan di Resort Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Kamis (03/03).

Kepala Resort Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung Kabupaten Maros, Zainal Arifin mengungkapkan pelatihan yang dilakukan oleh TLKM ini sangat berguna bagi Gapoktan, serta para perwakilan kelompok tani sekiranya mampu berbagi ilmu pengetahuannya ke seluruh anggotanya.

“Saya harap Gapoktan kedepannya mampu melakukan pengemasan sendiri dan TLKM tetap mendampingi mereka pada kegiatan-kegiatan selanjutnya,” ucapnya.

Zainal mengatakan, ketika madu alam yang dikerjakan Gapoktan berhasil kedepannya, Desa Patanyamang akan menjadi Desa percontohan bagi desa-desa lainnya agar mampu meningkatkan perekonomian mereka. {Atira Ilfa}

Sambut HPSN 2016, Hilo Green Community Gelar Seminar “Kasipalli Green and Culture”

Published in Event & Komunitas
Minggu, 21 Februari 2016 09:40

Medialingkungan.com – Hilo Green Community (HGC) Makassar menggelar seminar dan aksi lingkungan bertajuk Weekend Bareng Hilo Green Community Makassar 2016 “Kasipalli Green and Culture” di Ballroom A Menara Pinisi, Lantai II Universitas Negeri Makassar pada Sabtu (20/02). Kegiatan ini menghadirkan dua tokoh lingkungan, yakni: Darmawan Dennasa, Tokoh lingkungan Sulawesi selatan sekaligus pendiri rumah hijau Dennasa; dan Adi Saifullah, Founder MallSampah.com.

Ali sadikin selaku ketua pelaksana kegiatan tersebut mengungkapkan, seminar ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) yang akan diselenggarakan pada minggu pagi, 21 Februari 2016 pada Car Free Day (CFD) di Pantai Losari.

“Selain untuk mengedukasi anak muda Makassar tentang lingkungan, kami juga mengajak masyarakat pada umumnya untuk turut berpartisipasi dalam aksi bersih-bersih besok diperingatan HPSN 2016,” ujarnya.

Darmawan Dennasa mengungkapkan, salah satu yang menjadi masalah lingkungan saat ini, khususnya di Makassar adalah minimnya ruang bagi pohon-pohon untuk tumbuh bebas di pinggir jalan. Pemerintah kota terkesan lebih mementingkan pembangunan infrastruktur jalan yang lebih luas.  

Sementara itu, Adi Saifullah menambahkan, salah satu masalah besar bagi lingkungan adalah produksi sampah plastik yang terus mengalami peningkatan, terlebih untuk Kota Makassar.

“Hampir setiap hari orang-orang menggunakan dan membuang kantong plastik di muka bumi, dan setiap tahunnya penduduk bumi menggunakan 500 juta sampai 1 miliar kantong plastic. Negara kita sendiri merupakan penyumbang sampah kantong plastik terbanyak kedua setelah Tingkok,” ungkapnya.

Mahasiswa Hukum Universitas Muslim Indonesia itu juga menambahkan, kurangnya kesadaran dan pemahaman masyarakat mengenai sampah khususnya sampah plastik dan lambatnya pengangkutan sampah disetiap lorong-lorong kota Makassar menjadi penyebab bertumpuknya sampah di Makassar.

Di akhir kegiatan, Dennasa dan Adi berharap beberapa tahun kedepan, warga Kota Makassar bisa menerapkan Green Culture ataupun Go Green Lifestyle, yaitu setiap orang setidaknya menanam satu pohon di pekarangan rumah dan sadar akan pentingnya menjaga lingkungan tetap bersih dari sampah. (Dedy)

 

Earth Hour Makassar Tanam Pohon di Hari Sejuta Pohon

Published in Event & Komunitas
Kamis, 14 Januari 2016 10:57

Medialingkungan.com – Dalam rangka memperingati Hari Sejuta Pohon yang jatuh pada tanggal 10 Januari 2016, Earth Hour Makassar bekerja sama dengan Balai Perbenihan Tanaman Hutan Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup Republik Indonesia mengadakan aksi menanam pohon. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Nelayan, Kelurahan Untia, Kecamatan Biringkanaya, Makassar.

Jumlah bibit yang ditanaman sebanyak 90 yang meliputi, bibit sukun, bibit pohon nangka, dan bibit pohon jambu, yang masing-masing terdiri dari 30 bibit. Penanaman itu dilakukan di beberapa lokasi yaitu di Puskesmas Pembantu Kelurahan Untia, SD Inpres Untia, Kebun Warga, dan di SMK Negeri 9.

Kegiatan ini membawa misi utama yaitu hendak mengajak masyarakat setempat untuk senantiasa melestarikan lingkungannya dengan menanam dan merawat pohon. “Tujuannya jelas, agar menyadarkan warga setempat untuk menciptakan lahan produktif” Ungkap ketua Earth Hour, Muhammad Fahmi.

Fahmi menambahkan, dengan terselenggaranya kegiata ini ia harap agar menanam pohon bukan saja di hari sejuta pohon tapi disetiap harinya. “Menanam pohon bisa dilakukan oleh semua orang, namun merawat pohon sangat sulit, karena itu kami telah bekerjasama dengan karang taruna setempat untuk terus mengawasi perkembangan bibit yang telah ditanam”.

Masyarakat setempat juga mengapresiasi kegiatan penanaman ini, hal tersebut juga dilihat dari keterlibatan masyarakat setempat dalam proses penanaman.

Menurut Pak Ambo, salah satu masyarakat Desa Nelayan, kegiatan ini sangat bagus apalagi anak-anak muda yang melakukan kegiatan tersebut, berhubung biasanya hanya pemerintah atau dari menteri. “Dan pohon yang ditanaman juga sangat bermanfaat kedepannya dikarenaka pohon sukun, pohon nangka dan jeruk bisa produktif untuk masyarakat setempat.” {Andi Tanti}

Halaman 1 dari 8

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini