medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Mengenal Pentingnya Koridor Hidupan Liar

Published in Informasi & Teknologi
Sabtu, 02 Juni 2018 13:41

Medialingkungan.com – Tahun 2016, Dirjen KSDAE telah menetapkan pedoman penentuan koridor hidupan liar sebagai kawasan ekosistem esensial. Penentuan dan pengelolaan Koridor Hidupan Liar sangat diperlukan dalam upaya perlindungan dan pengawetan satwa liar di luar kawasan konservasi.

Berdasarkan gap analisys keterwakilan ekologis kawasan konservasi di Indonesia tahun 2013, diperkirakan sekitar 80% keanekaragaman hayati yang bernilai penting berada di luar kawasan konservasi. Oleh karena berbagai upaya telah diusahakan oleh berbagai pihak untuk menjaga keutuhan keanekaragaman hayati di Indonesia. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah, khususnya KLHK, yaitu pengelolaan koridor hidupan liar.

Peraturan Dirjen KSDAE nomor 8 Tahun 2016 menerangkan bahwa Koridor Hidupan Liar adalah areal atau jalur bervegetasi yang cukup lebar, baik alami maupun buatan yang menghubungkan dua atau lebih habitat atau kawasan konservasi atau ruang terbuka da sumberdaya lainnya, yang memungkinkan terjadinya pergerakan atau pertukaran individu antar populasi satwa atau pergerakan faktor-faktor biotik sehingga mencegah terjadinya dampak buruk pada habitat yang terfragmentasi pada populasi karena in-breeding dan mencegah penurunan keanekaragaman genetik akibat erosi genetik yang sering terjadi pada populasi yang terisolasi.

“Selain bertujuan untuk restorasi dan proteksi keanekaragaman hayati, pengelolaan Koridor Hidupan Liar memiliki keuntungan lain seperti mereduksi erosi, memperbaki kualitas air, menghasilkan habitat lokal, dan menjaga iklim setempat,” ujar Hadi S Alikodra seperti dilansir Republika.co.id.

Sampai saat ini, pengelolaan koridor hidupan liar telah banyak diupayakan diberbagai daerah karena dianggap penting bagi keutuhan keanekaragaman hayati, seperti pengelolaan KEE koridor Orang Utan di Bentang Alam Wehea-Kelay Kalimantan Timur, pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial Koridor Gajah di Bentang alam Kerinci-Seblat Bengkulu, pengelolaan KEE koridor Satwa Grup Sawit BGA Kalimantan Barat.

Diharapkan pengelolaan Koridor Hidupan Liar dapat memberi manfaat lebih terhadap konservasi keanekaragaman hayati di negeri ini.  (Wardiman Mas’ud)

Habitatnya Diganggu; Kebiasaan Bekantan Berubah!

Published in Nasional
Rabu, 29 November 2017 20:53

Bekantan (Nasalis larvatus) merupakan satwa endemik dari kalimantan yang belakangan ini menjadi bahan penelitian Universitas Mulawarman bersama Tim Ecology and Conservation Center for Tropical Studies (Ecositrop) selama empat tahun. Mulai tahun 2013 hingga sekarang tim ecositrop memasang camera trap pada berbagai titik untuk melihat pergerakan bekantan. Kawasan yang dipasangi camera trap seperti kawasan perkebunan sawit, pertambangan, hutan tanaman industry (HTI), kawasan konservaasi, termasuk kawassan lindung di Kalimantan Timur.

Namun, dari hasil tangkapan camera trap kini ada yang berbeda dari kebiasaan bekantan. Dahulu,  mereka bergerak dan hidup dari pohon ke pohon, sekarang mereka terlihat bergerak diatas permukaan tanah.

“Perubahan perilaku dari arboreal (bergerak diatas tajuk pohon) ke terestrial (bergerak di atas permukaan tanah) akan membawa beberapa konsekuensi terhadap terganggunya kelestarian populasi bekantan,” ujar Yaya Rayadin, peneliti dari Universitas Mulawarman Samarinda dilansir Kaltim Post

Ironisnya beberapa dari mereka tertangkap camera trap berada di kawasan perkebunan sawit, HTI,dan kawasan reklamasi tambang, padahal kawaasan ini dikenal bukan sebagai habitat bekantan.

“Bekantan merupakan satwa endemik Kalimantan dan hanya tersebar di beberapa tipe mangrove dan rivian (kiri-kanan sungai),” tambah yaya dilansir republika.co.id

Populasi bekantan yang hanya hidup di Pulau Kalimantan ini sangat miris sekarang keadaannya akibat habitatanya rusak, seperti menipisnya kawasan hutan mangrove dan adanya pembangunan di daerah rivian. Bekantan yang sumber pakan mereka habis dan tajuk satu dan tajuk lainnya tidak lagi terhubung membuatnya mulai menyesuaikan diri terhadap perubahan tersebut dengan mengubah kebiasaannya menjadi terestrial. (Ira Anugerah A)

SRAK: Upaya Selamatkan Rangkong Gading

Published in Nasional
Jumat, 24 November 2017 11:58

Medialingkungan.com - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mulai mengkhawatirkan keberlangsungan populasi burung rangkong gading (Rhinoplax vigil) yang semakin memprihatinkan. Data Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2012 - 2016 menjelaskan bahwa, sebanyak 1.398 paruh rangkong gading berhasil disita di Indonesia dan lebih dari 2.000 paruh yang diselundupkan ke Tiongkok, Amerika, dan Malaysia.

Burung ini telah masuk kedalam Appendices I Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) yang berarti satwa tersebut dilarang untuk diperdagangkan, ini sungguh harus diperhatikan apalagi  angka yang didapat mengenai hasil sitaan penyelundupan sungguh sangat memilukan seperti yang dilansir KLHK, membuat Pemerintah segera mengadakan Konsultasi Publik Nasional untuk menyusun Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Rangkong Gading, Kamis, (23/11/17) di Jakarta.

“SRAK Rangkong Gading ini sangat penting untuk mendapatkan komitmen dari berbagai pihak, terutama dari akademisi, para peneliti, kelompok masyarakat, lembaga swadaya masyarakat serta penegak hokum karena populasinya semakin terdesak,” tegas Bambang Dahono Adji, Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati, KLHK. (Ira Anugerah A)

Kalkun Liar “Teror” Warga AS

Published in Internasional
Kamis, 23 November 2017 15:59

Medialingkungan.com - Masyarakat yang berada di wilayah pinggiran Amerika Serikat baru-baru ini mengaku telah ‘diteror’ oleh sekelompok burung kalkun liar. Kalkun dilaporkan mengganggu lalu lintas di New York  Barat, memecahkan genteng milik warga di Sacramento, serta mengejar seorang anak dan anjingnya di Cambridge. Jenis burung kalkun liar yang dilaporkan menyerang warga di pinggiran AS bukan jenis yang biasa diburu, sehingga tidak menganggap manusia sebagai acaman.

“Burung-burung tersebut mencari daerah terbuka seperti derah berumput dan lapangan golf. Semua tempat terbuka tersebut bagus untuk kalkun liar. Daerah pinggiran adalah habitat yang cukup bagus,” kata Mark Hatfield, Direktur Conservation Administration For The Turkey Federation seperti yang dilansir The Washington Post, Rabu malam (22/11/17).

Bersamaan dengan hal tersebut, National Wild Turkey Federation dan para peneliti mengungkapkan bahwa populasi burung kalkun liar di AS secara bertahap menurun. Pada tahun 2004, populasi kalkun liar mencapai 7  juta spesies dan menurun mencapai 6 juta spesies pada tahun 2014. Pembangunan yang mengambil alih habitat kalkun dan meningkatnya predator menjadi akibat penurunan spesies tersebut.

‘Konflik’ antara manusia dan kalkun ini dilihat oleh Michael Chamberlain, seorang Profesor Manajemen Ekologi dari Universitas Georgia, sebagai sebuah akibat dari pembangunan yang dilakukan oleh manusia. “Dalam 20, 30 dan 40 tahun terakhir, manusia telah mengekspansi hutan secara luas, merusak dan memotong menjadi potongan kecil,” kata Chamberlain. (Suterayani)

'Neraka Ada Disini' Menangkan Penghargaan Fotografi Satwa Liar

Published in Internasional
Jumat, 10 November 2017 21:21

Medialingkungan.com - Foto gajah yang dilempari bola api karya Biblap Hazra berjudul ‘Hell is here’ atau ‘Neraka ada disini’ menangkan penghargaan dari Sanctuary Asia dalam kategori Sanctuary’s Wildlife Photographer of the Year 2017. Foto tersebut diambil di Negara Bagian West Bengal, India. Negara bagian West Bengal adalah wilayah yang sering dilanda konflik antara manusia dan gajah.

Sanctuary Asia adalah majalah pertama dan salah satu majalah berita lingkungan terkemuka di India yang berdiri sejak tahun 1981. Organisasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran di kalangan orang India tentang warisan alam mereka yang mulai lenyap.

The Sanctuary Nature Foundation yang memberikan penghargaan tersebut seperti yang dilansir Mongabay.co.id, menyatakan bahwa, di distrik Bankura, West Bengal, penghinaan dan penyiksaan seperti itu rutin terjadi. Juga di negara-negara bagian lain yang menjadi habitat gajah, yakni Assam, Odisha, Chhattisgarh, Tamil Nadu dan lainnya.

Kontes foto tersebut dimaksudkan untuk menyoroti foto-foto yang bisa membangkitkan respons kuat manusia akan ketidaktahuan manusia yang menyerang hewan untuk bersenang-senang apalagi diperparah oleh kerusakan lahan, kehidupan dan harta benda dengan memburu gajah, serta ketidakpedulian pemerintah pusat dan negara bagian untuk mengantisipasi krisis yang terjadi di India yang merupakan rumah bagi sekitar 30 ribu gajah asia, yang merupakan 70% dari populasi gajah dunia, dan sekitar 800 ekor ada di West Bengal. (Gede Tragya)

Bunga Langka Di Bengkulu Ditemukan dalam Keadaan Rusak

Published in Nasional
Jumat, 10 November 2017 20:27

Medialingkungan.com - Rafflesia sp. bunga langka dan dilindungi kembali ditemukan dalam keadaan rusak di beberapa titik yang menjadi habitatnya di wilayah Kabupaten Bengkulu Utara dan Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu.

"Satu lokasi habitat kembali kami temukan, calon bunga dalam kondisi rusak karena dipotong-potong orang tak bertanggungjawab," ujar Koordinator Komunitas Peduli Puspa Langka (KPPL) Bengkulu Utara, Riki Septian, Jumat (10/11/17) seperti yang dilansir oleh Antara News.

Riki mengatakan, beberapa hari sebelumnya satu lokasi bunga Rafflesia sp. di hutan lindung Boven Lais juga ditemukan rusak dengan kondisi beberapa bonggol terpotong-potong. Perusakan bunga langka ini menurutnya dilakukan dengan sadar dan sengaja oleh orang tak bertangungjawab.

"Kami belum tahu siapa pelaku dan motif mereka merusak bunga langka yang menjadi aset wisata Bengkulu ini," tambahnya.

Koordinator KPPL Bengkulu Utara tersebut berharap kasus ini segera ditindak oleh aparat hukum baik dari polisi maupun polisi kehutanan sebab bunga Rafflesia merupakan flora dilindungi. Ia menambahkan, hutan lindung tersebut merupakan ‘Rumah’ terakhir bagi dua jenis Rafflesia sp. yakni Rafflesia gadutensis dan Rafflesia arnoldii.

Sementara itu, pengelola habitat bunga Rafflesia di Bengkulu Tengah, Ibnu Hajar mengatakan dalam satu tahun, lebih dari delapan lokasi habitat bunga langka itu dirusak orang tak bertanggungjawab.

"Kalau tidak ada tindakan dari aparat penegak hukum maka bunga Rafflesia sp. akan tinggal kenangan," ujar Ibnu.

Habitat dan keberadaan puspa langka ini menjadi salah satu andalan Provinsi Bengkulu untuk mendatangkan wisatawan ke daerah bengkulu, termasuk untuk menyukseskan program tahunan ‘Visit Wonderful Bengkulu 2020’.

Sejauh ini telah teridentifikasi empat jenis Rafflesia sp. di kawasan hutan Provinsi Bengkulu yakni Rafflesia bengkuluensis, Rafflesia arnoldii, Rafflesia gadutensis dan Rafflesia hasselti. (Dedy)

Anjing Laut Leopard Antartika Muncul di Australia

Published in Internasional
Selasa, 07 November 2017 20:58

Medialingkungan.com - Sejumlah anjing laut dari Leopard Antartika terlihat di berbagai wilayah Australia. Shona Lorigan dari Organisation for the Rescue and Research of Cetaceans in Australia (ORRCA) mengatakan bahwa mereka telah melacak penampakan anjing laut tersebut di Pantai New South Wales tahun ini.

“Tim telah pergi ke sejumlah wilayah yang tercatat ada penampakan anjing laut dan kami telah mampu mengidentifikasi tujuh inividu yang berbeda di New South Wales dan mereka juga sudah ada sejak beberapa bulan lalu, salah satunya bahkan telah ada sejak 10 Agustus.” kata Shona Lorigan dilansir dari Australian Broadcasting Corporation.

Seorang ahli biologi kelautan, Sam Thalmann menuturkan ada tiga sampai lima anjing laut macan tutul yang tertangkap mata berada di Tasmania sepanjang tahun.

“Tahun ini kami telah melihat lebih dari 10 individu selama tiga setengah sampai empat bulan terakhir.” kata Sam Thalmann

Anjing laut yang terlihat di Tasmania biasanya masih berusia remaja, umur yang belum cukup untuk berkembang biak.

“Di tahun-tahun muda mereka, saat mereka menemukan jangkauan mereka, mereka bisa menyebar jauh, lebih jauh daripada umur dewasa” lanjut Thalmann

Jika dikatakan ada lebih banyak predator Antartika tahun ini, namun Thalmann mengatakan lonjakan seperti itu terjadi setiap tujuh tahun sekali.

“Ada sedikit pengaruh yang berpotensi yaitu perbedaan sea-ice levels di antartika,” Katanya

Beberapa anjing laut telah didokumentasikan oleh Departemen Lingkungan Tasmania. Selain itu, para ahli juga mengumpulkan kotoran anjing laut untuk memantau kebiasan makan semua anjing laut itu. (Khalid Muhammad)

Jejak Macan Tutul di Hutan Merapi Masih Jadi Misteri

Published in Nasional
Jumat, 03 Maret 2017 18:40

Medialingkungan.com – Keberadaan satwa macan tutul Panthera pardus melas di Hutan Merapi, Taman Nasional Gunung Merapi seakan masih menjadi misteri. Berbagai usaha telah dilakukan, seperti memasang kamera trap, namun tak jua membuahkan hasil dalam mendeteksi keberadaannya

Petugas Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) pada tahun 2015 secara tidak sengaja melihat langsung satwa tersebut masih ada dikawasan Hutan Merapi. Namun sayangnya, saat itu petugas tidak sempat mengambil gambar macan tutul tersebut.

Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Balai TNGM, Iskandar, seperti yang dilansir dari Kompas, Senin (27/02), mengatakan lokasi perjumpaan dengan macan tutul tersebut berada di kawasan hutan sisi timur, yang cenderung tidak terdampak erupsi Gunung Merapi. Tepatnya di antara Klaten dan Boyolali.

Dari laporan itu, Balai TNGM mencoba mendeteksi keberadaan macan tutul dengan memasang kamera trap. Hanya saja, sampai saat ini kamera trap yang dipasang belum berhasil merekam keberadaan macan tutul.

"Kita pasang tujuh kamera trap. Selama setahun terakhir, ada empat kali kegiatan, tetapi belum berhasil. Mungkin penempatan posisinya belum tepat," ucapnya.

Petugas beberapa kali menemukan adanya tanda-tanda keberadaan macan tutul saat melakukan penelusuran di kawasan hutan Merapi. Tanda-tanda itu seperti cakaran di batang pohon dan jejak macan tutul.

"Selama ini, kami hanya menemukan tanda-tandanya, cakaran di pohon dan jejak macan tutul. Tetapi, memang kami belum punya bukti fotonya," katanya.

Menurut dia, para aktivis satwa dan LSM menyampaikan mengenai keberadaan macan tutul di hutan Merapi. Data itu pasca-kejadian erupsi pada 2010 lalu.

Saat ini, Pihak Taman Nasioanl hanya dapat melakukan komunikasi personal dan belum melihat datanya. Namun, mereka bilang masih ada dan harus terus dicari untuk perlindungan habitat

"Permasalahan kepunahan maupun berkurangnya populasi di mana pun masalah utamanya paling dominan adalah gangguan manusia. Kerusakan habitat di Jawa khususnya, itu sudah sangat besar. Belum lagi ditambah tren perburuan liar., misalnya, menggunakan senapan angin.Kalau di dalam kawasan kami masih bisa tangani, tetapi kalau di luar kami tidak bisa," urainya.

Sementara itu, Putu Dhian, Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan, TNGM, menambahkan guna mendeteksi dan memastikan keberadaan macan tutul di kawasan hutan Merapi, pihaknya masih akan memasang kamera trap untuk beberapa bulan sekali pada lokasi yang dicurigai tempat aktivitas macan tutul. {Andi Wahyunira}

Perubahan Iklim Ancam Populasi Capung

Published in Informasi & Teknologi
Selasa, 12 Juli 2016 20:49

Medialingkungan.com – Dampak dari perubahan iklim pada kehidupan sehari-hari kini ini makin terasa. Misalnya, curah hujan yang kian tinggi, musim kemarau yang lebih panjang, fenomena El Nino dan La Nina, dan sekarang juga telah berdampak pada penurunan populasi capung.

Capung merupakan serangga akuatik, dimana hidupnya berganutng pada kualitas air. Capung mengalami tiga fase utama dalam hidup yaitu telur, nimfa, dan capung dewasa (metamorfosis tidak sempurna). Dalam keseluruhan fase tersebut, dua fase di antaranya mengharuskan mereka hidup di dalam air yaitu ketika menjadi telur dan nimfa.

Sebagian besar capung hanya akan tinggal di lingkungan bersih sehingga bisa menjadi indikator kualitas air. Jika air sudah tercemar bahan beracun, capung tidak akan ada di sana. Ketika kondisi perairan tercemar, siklus hidup capung terganggu. Populasinya akan menurun. Begitu pula jika air di habitat mereka mengalami peningkatan suhu atau penurunan kualitasnya.

Beberapa sumber menyebut saat ini ada sekitar 6.000 jenis capung di seluruh dunia. Indonesia memiliki sekitar 750 – 900 jenis atau 12,5 sampai 15 persen dari total jenis capung di seluruh dunia. Banyaknya jenis capung Indonesia hanya kalah oleh Brazil.

Saat ini,belum ada riset khusus bagaimana dampak perubahan iklim terhadap populasi capung di Indonesia.Riset tentang dampak perubahan iklim terhadap capung di dunia pun masih sangat terbatas. Salah satunya Jurnal BioRisk 5 edisi khusus pada 2010 yang membahas topik tersebut. Jurnal ini menyampaikan laporan peneliti Eropa, Afrika, dan Amerika tentang bagaimana dampak perubahan iklim di beberapa negara.

Kesimpulan para peneliti tersebut yakni, capung memang bisa menjadi indikator dampak perubahan iklim. Jeffrey A. McNeely dalam pengantar jurnal menyatakan, capung bisa menjadi alat untuk memantau perubahan iklim dengan relatif mudah karena beberapa alasan.Capung mudah diidentifikasi, mereka sangat sensitif terhadap perubahan termasuk iklim, tiap spesies memiliki distribusi berbeda-beda, dan mereka berkembang biak relatif cepat.

“Penelitian terkini juga menunjukkan bahwa penyebaran capung juga sangat sensitif terhadap perubahan iklim,” tulis Jeffrey.

Josef Settele dalam jurnal yang sama menyatakan perubahan iklim termasuk salah satu dari empat penyebab utama berkurangnya keragaman capung. Tiga penyebab lain adalah penggunaan bahan kimia, invasi biologis, dan hilangnya penyerbuk.

Pernyataan para ahli capung dunia tersebut senada dengan jawaban Wahyu Sigit Rhd, pendiri Indonesian Dragonfly Society (IDS), komunitas pecinta capung. Perubahan iklim pasti berdampak terhadap populasi capung.“Logika saja, kita sekarang pun merasa lebih tidak nyaman. Gerah dengan perubahan suhu. Apalagi capung, serangga yang lebih sensitif terhadap perubahan,” kata Wahyu. Dia memberikan contoh satu spesies capung di Banyuwangi, Jawa Timur yang dulu ada tapi sekarang tidak ada lagi.

Suputa, ahli serangga dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, menyatakan perubahan iklim jelas menyebabkan kenaikan suhu air, yang mempengaruhi kadar oksigen di dalamnya. Makin panas air, maka makin sedikit kadar oksigennya. “Otomatis capung akan susah untuk hidup,” ujar Suputa.

Dilansir oleh MongabayIndonesia, telah dilakukan pengamatan di tiga wilayah di Bali yang menunjukkan adanya hubungan antara perbedaan suhu dengan penurunan populasi capung.Selain karena banyaknya penggunaan bahan kimia dalam pertanian, juga karena perubahan iklim.

Lokasi pertama di persawahan Banjar Junjungan, Kecamatan Ubud, Gianyar, Bali. Berdasarkan pengamatan secara amatir pada Juni 2015 dan Oktober 2015, di kawasan ini ditemukan jenis Capungsambar hijau (Orthetrum sabina), Capungtengger jala tunggal (Neurothemis ramburii), Capung sayap oranye (Brachythemis contaminata), dan Capungsambar garishitam (Crocothemis servilia).

Dari empat jenis capung itu, hanya ditemukan 12 ekor di lahan seluas kurang lebih 3 hektar.

“Padahal, zaman saya kecil dulu, kalau bulan-bulan ini capungnya sudah tak terhitung lagi. Sekarang paling banyak hanya separuhnya,”kata Ngakan Made Pinia, petani di Junjungan.

Menurut Ngakan, makin hilangnya capung di desanya terjadi bersamaan dengan makin meningkatnya suhu di Junjungan.

Lokasi kedua di Desa Peguyangan, Denpasar Utara. Dari pengamatan di sini, ditemukan spesies-spesies yang cenderung lebih adaptif terhadap perubahan lingkungan yaitu Orthetrum sabinaBrachythemis contaminata, dan Crocothemis servillia.Jumlah capung dari tiga spesies itu tak lebih dari 10. Padahal, pengamatan dilakukan tiga kali pada waktu berbeda-beda.

Pengamatan ketiga di Jatiluwih, Tabanan. Jatiluwih merupakan kawasan persawahan di kaki Gunung Batukaru, salah satu gunung di Bali. Hasil satu kali pengamatan pada Oktober 2015 menunjukkan di sini terdapat lebih banyak spesies capung yang lebih sensitif terhadap perubahan lingkungan. Empat spesies yang ditemukan di Denpasar dan Ubud juga ada di sini dengan jumlah lebih banyak.

Selain empat jenis yang ditemukan di Denpasar dan Ubud, ada lima jenis lain yang ditemukan di kawasan Jatiluwih yaitu Capungsambar cincinhitam (Onychothemis culminicola), Capungtengger biru (Diplacodes trivialis), Capungsambar merah (Orthetrum pruinosum), Capungjarum centil (Agriocnemis femina), dan Capungjarum gelap (Prodasineura autumnalis).

Umumnya mereka terbang atau hinggap di sekitar saluran irigasi. Dari sisi jumlah, capung di Jatiluwih juga lebih banyak. Jumlahnya lebih dari 30-an yang tersebar di beberapa titik.

Perbedaan beragam jenis maupun populasi capung di Denpasar, Ubud, dan Jatiluwih bisa jadi berhubungan pula dengan perbedaan suhu di tiga wilayah tersebut. Menurut data BMKG, suhu Denpasar berkisar 25,4 sampai 28,5 derajat Celcius, Ubud berkisar 24,1 sampai 25,7 derajat Celcius, sedangkan Jatiluwih antara 24 sampai 30 derajat Celcius.

Secara umum, Denpasar yang berada di dataran rendah memiliki kelembapan 58 sampai 85 persen. Ubud di tengah pulau memiliki kelembapan sekitar 65 sampai 90 persen. Adapun Jatiluwih, di kaki Gunung Batukaru, Tabanan, memiliki kelembapan 67 sampai 90 persen.

Dari data suhu dan kelembapan tiga wilayah itu terlihat bahwa daerah relatif lebih dingin dan lebih lembap memiliki jenis maupun jumlah capung lebih banyak. Selain faktor suhu, kelestarian lingkungan termasuk dari alih fungsi lahan dan bahan kimia pertanian juga amat berperan. Namun, nyatanya, daerah-daerah dingin seperti Jatiluwih pun kini kian mengalami peningkatan suhu serupa Denpasar dan Ubud.

Jika tidak ada mitigasi lebih serius dalam menangani perubahan iklim, bisa jadi capung di tiga wilayah itu akan menjadi yang terakhir.{Muchlas Dharmawan/Mongabay Indonesia}

Petugas Taman Nasional Temukan Jejak Harimau di Semeru

Published in Nasional
Kamis, 28 April 2016 08:40

Medialingkungan.com – Petugas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menemukan jejak harimau di jalur pendakian Gunung Semeru, Jawa Timur. Jejak harimau tersebut terdapat di kawasan Savana Oro-Oro Ombo.

Kepala Seksi Pengelolaan Wilayah III Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Budi Mulyanto mengatakan jejak tersebut terlihat saat petugas melakukan survei jalur pendakian Gunung Semeru belum lama ini. Survei dilakukan sebelum petugas membuka secara resmi jalur pendakian yang sempat ditutup.

“Ada jejak binatang mamalia besar bertebaran di Oro-oro Ombo. Belum tahu itu jejak harimau tutul atau harimau besar," ujar Budi, dikutip dari Tempo.

Penemuan jejak harimau menandakan bahwa satwa liar Taman Nasional leluasa bergerak di jalur pendakian. Ketika pendakian ditutup untuk pemulihan ekosistem, satwa liar ini akan bebas bepergian kemana-mana tanpa harus berpapasan dengan manusia.

Sebelumnya, pada musim pendakian tahun lalu sekelompok pendaki juga sempat menjumpai harimau di jalur pendakian. Kejadian ini sempat menggegerkan pendakian Semeru. Para pendaki bersembunyi karena takut diserang.

Selain penemuan jejak harimau, petugas juga menjumpai jalur pendakian yang tertimbun longsor serta terhalang pohon tumbang. Namun secara umum jalur tersebut sudah layak untuk dilewati para pendaki karena jalur yang terkena longsor telah dibenanhi dan pohon tumbang sebagian juga telah dibersihkan.

Terhadap pohon tumbang yang merintangi jalan, petugas sengaja tidak menyingkirkan seluruhnya. Hal itu dilakukan agar tantangan para pendaki kian bertambah. Keberadaan pohon yang merintangi jalur dinilai menjadi warna tersendiri.

Jalur pendakian akan di buka awal bulan mei mendatang. Namun sebelum resmi membuka jalur pendakian, petugas Taman Nasional lebih dulu berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi. {Andi Wahyunira}

Halaman 1 dari 7

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini