medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Ternyata Aren Dapat Dimanfaatkan Sebagai Energi Ramah Lingkungan

Published in Informasi & Teknologi
Senin, 13 Maret 2017 15:17

Medialingkungan.com - Nira dari pohon aren (Anggera pinnata) ternyata bisa dijadikan alernatif energi ramah lingkungan. Adalah Boalemo, sebuah daerah di Gorontalo yang telah mencoba memanfaatkan nira aren menjadi bioethanol. Berdasarkan hasil inventarisasi KPHP Boalemo, di wilayah ini terdapat 15.000 pohon aren yang tumbuh alami dengan produktivitas yang cukup tinggi. Satu pohon bisa menghasilkan 15-20 liter aren perhari.

Sebelumnya, warga Boalemo hanya memanfaatkan nira aren untuk keperluan pangan saja. Namun berkat pendampingan KPHP Boalemo, kini nira aren dimanfaatkan menjadi bioethanol.

 “Kami ingin memanfaatkan jadi alternatif energi. Salah satunya desa binaan kami, Desa Bendungan Kecamatan Manangguh,” kata Dwi Sudharto, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan KLHK di Jakarta, Jumat (10/03) seperti dilansir Mongabay.

Dilihat dari segi ekonomi, mengelola nira aren menjadi bioethanol lebih menjanjikan. Untuk mengolah nira aren jadi gula, dalam setiap 50 liter akan menghasilkan tujuh kg. Dengan asumsi harga Rp80.000, keuntungan yang diperoleh sebesar Rp 5.000 per kg. Begitupun pengolahan panganan lain, seperti gula semut untung sebesar Rp 4.688 per kg.

Jika mengolah nira menjadi bioethanol, setiap 25 liter nira aren yang diolah dengan katalisator bisa menghasilkan dua liter bioethanol dengan kadar 90-92%. Yang diolah tanpa katalisator kadar ethanolnya 72%. Hasil bioethanol 216.000 liter perbulan dengan biaya produksi Rp6.700. Dengan asumsi harga jual bioethanol-mix per liter Rp10.000, harga jual Rp440.000 atau keuntungan yang diperoleh berkisar Rp145.200.

“Harusnya ini yang kita kembangkan. Jangan tabung gas mahal itu. Kalau alat ini kita buat dan serahkan ke desa-desa, yang notabene bahan baku ada, akan sangat menguntungkan. Hak paten ada di kita. Kalau mau tinggal minta gambar, masyarakat bisa membuat alatnya. Atau kalau tak menegrti, bisa undang kami. Akan mudah masalah kompor ini. Jadi kita bisa menghemat banyak sekali,” katanya.

Meski begitu, tantangan dalam mengembangkan ini ada pada pendanaan. Untuk itu, perlu peran dan komitmen banyak pihak. Selain itu, perlu ada peningkatan pemberdayaan kelembagaan demi keberlangsungan usaha.

“Peningkatan kapasitas masyarakat perlu agar mampu melaksanakan usaha mandiri. Disini peran lembaga litbang dan perguruan tinggi.”

Selain itu, persoalan kesinambungan bahan baku juga perlu diperhatikan. Penanaman varietas unggul juga penting, karena saat ini aren hanya ditumbuhkan secara alami. Balai Besar Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta, katanya, telah memulai penelitian pemuliaan aren.

“Telah diperoleh varietas unggul aren genjah Kutim yang dapat disadap sampai dengan mayang ketujuh, mulai umur lima sampai enam tahun, menghasilkan nira 25 liter per mayang perhari. Aren tak terlalu tinggi memudahkan pemanenan. Ia dapat dikembangkan di daerah-daerah yang ciri ekologi sama dengan Kutai Timur.”

Varietas bibit aren unggul lain “Dalam Akel Toumuung.” Ia bisa memproduksi nira dengan hasil tinggi, rata-rata lebih dari 30 liter aren per mayang perhari dengan masa sadap lebih dari tiga bulan.

“Nira aren juga bisa dikembangkan jadi bioavtur. Pengolahan bioavtur melalui proses konversi biomassa berupa serat, gula, tepung dan minyak nabati. Kami sedang menjajaki kerjasama penelitian mengenai ini dengan ITB,” katanya.

Tahap awal ini Desa Bendungan sebagai wilayah percontohan. Dia berharap, keberhasilan desa ini bisa direplikasi wilayah lain. Terlebih, katanya, di Sulawesi dari utara sampai selatan yang kaya akan aren. (Muchlas Dharmawan)

Lewat Lokakarya Kurikulum, Kehutanan Unismuh Kenalkan Mata Kuliah Baru

Published in Nasional
Jumat, 03 Juni 2016 16:25

Medialingkungan.com – Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menggelar kegiatan “Lokakarya Pengembangan Kurikulum dan Penyusunan Rencana Pembelajaran Semester Program Studi Kehutanan” pada Kamis (02/06) di Gedung Iqra Unismuh Makassar. Kegiatan ini merupakan upaya untuk mereview kembali kurikulum Prodi Kehutanan Unismuh menuju standar Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI).

Dalam salah satu sesi kegiatan tersebut, salah satu Dosen Prodi Kehutanan Unismuh yang ditugaskan sebagai Ketua Tim Penggodok Kurikulum, Muh. Daud, S.Hut, M.Si memperkenalkan beberapa mata kuliah baru untuk Mahasiswa Kehutanan. Selain itu, adapula tiga mata kuliah baru yang akan menjadi unggulan penciri-khas Unismuh, yakni Pengembangan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) Unggulan Lokal, Aplikasi Drone untuk Pengelolaan Sumber Daya Hutan, dan Energi Biomassa.

Ketua Program Studi Kehutanan, Husnah Latifah, S.Hut, M.Si menerangkan bahwa, “Seharusnya perubahan kurikulum ini dilakukan setiap 2 tahun sekali, tetapi karena adanya penambahan dari PP 44 terkait KKNI tahun 2015, untuk melihat kembali kurikulum agar disesuaikan dengan KKNI, disamping kurikulum yang lalu belum ada muatan unggulan untuk Prodi Kehutanan Fakultas Pertanian Unismuh.”

“Kami mengharapkan agar supaya kurikulum yang ada, dapat mencirikan Prodi Kehutanan sesuai visi misi dari Universitas yang diturunkan oleh Fakultas,” tambahnya.

Kegiatan ini juga menghadirkan Sekretaris Jurusan Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin, Dr. Ir. Baharauddin, MP. selaku narasumber pada sesi pertama lokakarya.

“Dalam merencanakan kurikulum harus disesuaikan dengan penjaminan mutu dan SDM yang ada”, kata Baharuddin. {Muchlas Dharmawan}

SCF Buat Terobosan, Pameran Produk Hasil Hutan ‘Bukan’ Kayu Pertama di Indonesia

Published in Nasional
Kamis, 02 April 2015 21:02

Medialingkungan.com – Produk hutan identik dengan kayu. Namun, potensi hutan tidak hanya terpaku pada kayu saja. Produk hasil hutan ‘bukan’ kayu (HHBK) seperti madu, rotan, gula aren, dan produk sejenis lainnya merupakan produk hutan yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi.

Atas dasar tersebut Sulawesi Community Foundation (SCF) menggelar pameran produk hutan HHBK yang merupakan rangakaian workshop regional hutan dan kemiskinan sekaligus peringatan Hari Kehutanan Internasional di Hotel Kenari, Makassar, pada tanggal 1-2 April.

Pameran ini bertujuan untuk mengoptimalkan potensi hutan yang bisa dikembangkan oleh masyarakat di dalam dan sekitar kawasan hutan dalam rangka pengentasan kemiskinan melalui maksimalisasi potensi di sektor kehutanan sebagai wujud implementasi program pemerintah – pengelolaan hutan berbasis masyarakat (PHBM).

Pameran yang dibuka oleh Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan, Syukri Mattinetta ini merupakan pameran produk hutan yang pertama di Indoneisa dan menjadi terobosan di bidang kehutanan.

Pihak SCF mengatakan, kegiatan ini merupakan embrio lahirnya produk-produk berkualitas hasil hutan lainnya yang bisa menjembatani masyarakat untuk memperoleh peningkatan kesejahteraan, dan tetap menjaga kelestarian hutan. “Ini sesuai dengan tujuan program PHBM, yang memusatkan peran masyarakat dalam pelestarian hutan, sekaligus mengentaskan kemiskinan melalui sektor kehutanan,” ujar SCF.

Kegiatan ini dihadiri sekitar 50 instansi dan lembaga non-profit (NGO) mulai dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang diwakili oleh Direktur Perhutanan Sosial dan Kemitraan KLHK, hingga hampir semua SKPD dari Dinas Kehutanan tingkat kabupaten di Sulawesi Selatan serta beberapa dari Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara. Kemudian sisanya adalah NGO di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, serta Sulawesi Tenggara.

Dalam pameran tersebut, salah satu yang menyedot perhatian para peserta adalah madu yang dipamerkan oleh Tim Layanan Kehutanan Masyarakat (TLKM). "Madu ini sangat unik dan berbeda dari madu lainnya karena madu ini berasal dari ekosistem hutan karst di Maros, yang merupakan ekosistem karst terbesar kedua di dunia dan ditumbuhi beragam pepohonan lokal, sehingga madu yang dihasilkan memiliki aroma, rasa, dan terkstur yang berbeda dengan madu-madu lainnya,” kata Direktur TLKM, Ichwan.

Wiratno, Direktur Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan sangat mengapresiasi madu khas yang diperoleh dari bukit karst ini. “Madunya bagus ya, unik dan dengan kemasan seperti ini, sudah layak untuk bersaing di pasaran,” ungkapnya.

Kadis Kehutanan Sul-Sel, Syukri juga mengungkapkan, produk-produk HHBK bisa menjadi senjata alternatif untuk mengentaskan kemiskinan masyarakat yang berada di dalam dan sekitar hutan. “Madu dan gula aren dengan kemasan yang bisa bersaing di pasaran merupakan langkah maju dalam pemberdayaan masyarakat hutan dalam proses pengentasan masyarakat miskin di sana,” ujarnya.

Sementara itu, LPM Mitra Baru, salah satu NGO yang hadir di pameran in mengatakan bahwa pengoptimalan produk hasil hutan bukan kayu seperti ini merupakan langkah awal yang baik, dan khusus untuk madu karst, madu ini punya ciri khas, bahkan dalam proses pengambilan dan pengolahannya sudah pasti berbeda dengan madu lainnya,” ungkap Mulyadi Makmur, Direktur LPM Mitra Baru. Fahrum Ahmad

Menhut-LH Optimalkan HHBK

Published in Nasional
Jumat, 21 November 2014 13:19

Medialingkungan.com – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar mengungkapkan potensi hasil hutan bukan kayu (HHBK) di Indonesia belum dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Seperti halnya madu hutan yang berada di pulau Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua merupakan madu kualitas nomor dua terbaik di dunia, namun pemanfaatannya belum optimal.

"Ketika madu hutan tersebut dapat diproduksi dan diekspor keluar negeri maka memiliki nilai ekonomis yang tinggi yang dampaknya akan dirasakan oleh masyarakat, pemerintah daerah hingga pemerintah pusat,"kata Siti, saat berkunjung ke Yogyakarta, Rabu kemarin (19/11).

Dia menambahkan, tidak hanya madu yang bisa menghasilkan – tetapi potensi ikan arwana yang hidup di kawasan hutan pedalaman di Kalimantan juga punya nilai jual tinggi di pasar domestik dan internasional. Namun demikian, karena belum ada aturan yang jelas terkait pemanfaatan ikan arwana tersebut sehingga kita tidak bisa mengoptimalkannya.

Menteri LH dan Kehutanan ini mengatakan kita sedang menggodok sebuah aturan agar HHBK ini juga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat yang nantinya akan berdampak perbaikan pada ekonomi masyarakat atau meningkatnya penghasilan masyarakat.

Perempuan kelahiran 28 Juli 1956 ini juga menargetkan akan terus memperbaiki hutan yang sudah gundul– daerahaliran sungai yang kritis dengan penanaman pohon sebanyak mungkin. Menurutnya, ada kesan program penanaman pohon belum terlihat dampak positifnya.Ia menerangkan, Kita sedang memikirkan jenis pohon yang ditanam dalam kurun waktu 4 tahun kedepan sudah terlihat seperti hutan.

Lanjutnya, Kementrian yang dipimpinnya saat ini sedang mengevaluasi berbagai perizinan terkait pemanfaatan hutan milik negara atau hutan rakyat agar kedepannya tidak ada lagi pembabatan hutan dan illegal logging.

"Perizinan akan kita tinjau ulang– termasuk pembuatan perizinan pada Kementerian LH dan Kehutanan yang butuh waktu lama akan coba dipersingkat waktunya, agar tidak ada lagi kasus masyarakat yang menjual hasil hutan miliknya, jika masih ada yang melakukan hal itu maka akan berurusan dengan pihak yang berwajib," tandasnya. (AH)

Industri HHBK Indonesia sebagai Industri Strategis

Published in Nasional
Senin, 30 Juni 2014 18:57

Medialingkungan.com – Potensi hasil hutan Indonesia yang sangat besar, mulai dari hasil hutan kayu hingga hasil hutan bukan kayu (HHBK). Dalam industri HHBK, Indonesia memiliki peluang menjadi produsen mebel dan kerajinan terbesar di kawasan regional saat ini, dan khusus untuk produk berbasis rotan, Indonesia dapat menjadi yang terbesar di dunia.

Asosiasi Mebel dan Kerajinan Rotan Indonesia (AMKRI) meyakini, Indonesia saat ini memiliki keunggulan komparatif berupa: ketersediaan bahan baku hasil hutan yang memadai, sumber daya manusia yang besar dan iklim pertumbuhan investasi yang menjanjikan. 

Melalui rilis resminya, AMKRI menargetkan terjadi pertumbuhan ekspor nasional dalam 5 tahun kedepan sebesar 5 milyar USD atau pertumbuhan di atas 20 persen rata-rata pertahun.

AMKRI juga mencatat, nilai ekspor mebel dan kerajinan Indonesia tahun 2013 menempati posisi ke-13 dunia dengan nilai 1,8 miliar dolar AS untuk mebel dan mencapai 800 juta dolar AS untuk produk kerajinan.

Angka-angka tersebut sangat tidak berbanding lurus, mengingat Indonesia menyandang gelar sebagai penghasil bahan baku rotan no.1 di dunia. Bahan baku yang melimpah, tenaga kerja terampil juga tidak kurang, desain kita juga tidak kalah.

Kementerian Perdagangan memperkirakan hampir setiap tahun sekitar 85% bahan baku rotan yang diserap oleh industri rotan di berbagai belahan dunia berasal dari Indonesia. Dari jumlah itu, 90% rotan dihasilkan dari hutan tropis di pulau Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.

Komoditi rotan merupakan bahan baku industri yang tergolong materi ramah lingkungan, sehingga produk hasil industri olahan rotan secara langsung juga merupakan produk yang ramah lingkungan atau green product.

Industri mebel dan kerajinan adalah industri yang strategis. Industri ini adalah bantalan ekonomi Indonesia. Karena itu, AMKRI meyakini apabila sektor industri ini cukup mendapat perhatian dari semua pihak terutama dari pemerintah sebagai regulator yang paling berkompeten, industri ini akan tumbuh sehat dan sangat berarti untuk penyerap tenaga kerja dalam jumlah yang sangat besar selain sebagai penghasil devisa negara yang dapat diandalkan.

Senada dengan pernyataan Kemendag, Wakil Menteri Perindustrian, Alex Retraubun mengklaim bahwa Pihaknya akan meningkatkan rotan sebagai bahan baku industri. Pasalnya, nilai tambah rotan mengalami peningkatan dalam industri hilir berbasis agro. (MFA)

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini