medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Kawah Ijen: Atraksi dan Kombinasi Gejala Alam yang Menakjubkan

Published in Ekowista & Traveling
Senin, 13 November 2017 14:08

Medialingkungan.com - Indonesia tak usainya menyuguhkan kepada kita gejala alam yang sangat menakjubkan. Inilah salah satu yang menjadi ciri khas Indonesia. Tidak hanya itu, fenomena alam yang kemudian menjadi destinasi wisata tersebut, memiliki sumbangsi yang besar terhadap penambahan devisa negara dan juga membuka peluang kerja bagi masyarakat setempat. Salah satu dari fenomena mengagumkan itu ialah Kawah Ijen.

Kawah ijen yang terletak di perbatasan antara Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Indonesia, ini memiliki pesona alam yang dapat memanjakan suasana hati para wisatawan. Barisan gunung-gunung dapat terlihat jelas di depan mata pengunjung. Belum lagi kita dapat melihat kawah terbesar di Dunia ini dari dekat.

Berkombinasi dengan gejala alam lain, Kawah Ijen akan menjadi sangat indah. Dapat dilihat pada pagi hari ketika kawah yang berwarna hijau kebiruan yang kemudian disirami sinar matahari keemasan menjadi kombinasi yang sangat menakjubkan.

Selain itu, perpaduan antara lereng yang ditumbuhi tanaman Manis rejo (Vaccinium varingiaefolium) yang berdaun kemerahan serta batuan dinding kawah berwarna kekuningan tak luput dari pandangan. Selanjutnya, pemandangan yang paling banyak diharapkan oleh sebagian besar pengunjung tak lain adalah atraksi alam berupa api biru (Blue fire).

Blue fire ini memiliki waktu tertentu untuk dapat nampak dihadapan para pengunjung. Atraksi api biru baru dapat dilihat pada waktu dini hari yaitu pada kisaran pukul 05.00 WIB. Gejala alam ini hanya ada dua di dunia, yaitu di Indonesia dan Islandia.

Namun, perlu juga diketahui bahwa pengunjung harus tetap bersikap waspada terhadap asap dari belerang. Asap ini mengandung zat kimia beracun yang dapat mengganggu kesehatan.

Kawah Ijen merupakan danau diatas gunung yang terbentuk akibat ledakan besar di Gunung Ijen yang terjadi puluhan ribu tahun silam. Hingga saat ini, status gunung ijen masih aktif.

Tak perlu mengeluarkan uang dengan jumlah besar. Cukup dengan Rp. 5000,- (hari kerja), dan Rp. 7500,- (hari libur) wisatawan sudah mendapatkan tiket masuk menikmati keindahan karya Tuhan ini.

Beberapa hari lalu, Balai Besar Konservasi Sumber Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur mengeluarkan press release mengenai klarifikasi atas program pembangunan sarana dan prasarana di Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen.

Dr. Ir. Ayu Dewi Utari, M.Si., selaku Kepala BBKSDA menerangkan bahwa pembangunan yang dimaksudkan bukan toko, warung/resto, hotel, serta taman bermain, melainkan pagar pengaman pengunjung, pendopo perapian, dan toilet yang berlokasi di bibir Kawah Ijen. (Khalid Muhammad)

FORMA IPB Gelar Bedah Buku “DIBALIK KRISIS EKOSISTEM"

Published in Event & Komunitas
Minggu, 12 November 2017 15:08

Medialingkungan.com - FORMA pascasarjana Ilmu Pengelolaan Hutan Institut Pertanian Bogor (IPB) dibantu Forest Management Club IPB serta FORMA pascasarjana Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan IPB menyelenggarakan bedah buku yang berjudul  ‘Dibalik Krisis Ekosistem’, yang dihadiri langsung oleh penulis buku tersebut yaitu Prof. Dr. Ir. Hariadi Kartodihardjo, MS. Kegiatan ini diselenggarakan di Auditorium Sylva Pertamina Fahutan IPB, Sabtu (11/11/17).

Kegiatan ini ada karena melihat  berbagai permasalahan sektor kehutanan dan lingkungan saat ini hampir dikatakan sangatlah kompleks, satu diantaranya mengenai ketidakadilan pemanfaatan Sumberdaya Alam (SDA). Hal ini mengakibatkan adanya ketidak seimbangan pemamfaatan potensi alam yang berdampak pada timbulnya  krisis ekosistem.

Menurut Nursuhada selaku ketua panitia, kegiatan ini penting diadakan karena buku ini berisikan tentang bagaimana membangun cara pikir sehingga mereduksi nilai dari fakta sesungguhnya dilapangan.

“Buku ini merupakan hasil pemikiran penulis selama mendalami ilmu kebijakan SDA sehingga ini akan memperkaya ilmu pengetahuan kita dalam melihat masalah secara holistic melalui transdisiplin ilmu,” ujar Suhada.

Prof. Hariadi menjelaskan, bahwa judul buku ini muncul ketika membicarakan soal krisis ekosistem yang indikatornya pasti sudah jelas seperti banjir, longsor dan sebagainya. Namun, ada hal lain yang tak kalah penting dari itu yaitu pola pikir, gagasan, dan mandeknya ilmu pengetahuan. Menurutnya, hal tersebut lebih mengena dibanding membicarakan ekosistemnya secara rinci yang solusinya telah diketahui.

“Yang menjadi kegagalan dalam merumuskan solusi biasanya adalah kegagalan dalam mendefinisikan konteks. Konteksnya seperti apa? Bukan salah dalam mengambil analisis atau kesimpulan tetapi  kita tidak cukup baik  menghubungkan antara analisis simpulan dengan konteks yang  kita  hadapi,” tegas Prof. Hariadi.

Budi S.Hut., M.Sc. yang menjadi salah satu pemapar mengungkapkan bahwa, dalam buku ini disebutkan kerusakan-kerusakan SDA disebabkan karena kegiatan pembangunan hanya menitik beratkan pada produksi komuditas misalkan hutan hanya untuk menghasilkan kayu dan sebagianya.

“Selain itu, masalah lainnya adalah lemahnya kelembagaan dalam menyelesaikan konflik,” lanjut Budi. (Iswanto)

Siti Nurbaya Jawab Curhatan Petani

Published in Nasional
Minggu, 12 November 2017 12:29

Medialingkungan.com - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) mengadakan evaluasi program Perhutanan Sosial khusus untuk Pulau Jawa di Jakarta, Sabtu (11/11/17). Kegiatan ini dihadiri oleh 48 Kelompok Tani Wilayah Pulau Jawa. Setiap kelompok tani diwakilkan oleh satu ketua kelompok dan dua anggota, beserta satu pendamping kelompok.

Pertemuan yang diselenggarakan oleh Kementerian LHK ini, dibagi dalam tiga sesi yaitu; 1. Sesi Mendengar Pendapat Petani; 2. Mendengar Paparan Rencana Kerja Usaha serta Permodalan; dan 3. Klinik Pelatihan. 

Ada beberapa hal penting pasca pemberian SK Perhutanan Sosial ini. Hal yang paling sering terdengar adalah tentang Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai modal usaha petani. Beberapa ketua kelompok mengaku kesulitan melakukan verifikasi karena beberapa anggota kelompok ternyata masih memiliki kredit di bank. 

Menanggapi hal tersebut, Siti Nurbaya memberikan kesempatan kepada Himpunan Bank Milik Negara (HIMBARA) yang diwakili oleh pihak Bank BNI untuk menjawab pertanyaan ini.

“Diakui memang verifikasi KUR tersebut sering menjadi kendala utama. Namun pihaknya akan memikirkan jalan, untuk dapat meloloskan atau memprioritaskan para petani yang ikut dalam program PS ini,” Ujar salah satu pihak Bank BNI.

Hal krusial lainnya yang disampaikan oleh kelompok tani adalah masalah pendampingan. Perwakilan dari Muara Gembong menyampaikan, bahwa pengalaman mereka menanam mangrove tanpa pendampingan tidak berhasil. Karena mangrove yang ditanami terbawa ombak dan hilang. 

Menteri Siti, dalam forum ini menyampaikan, bahwa dirinya memerintahkan kepada Dirjen PSKL yang baru untuk segera menyelesaikan hal-hal tersebut diatas, dan segera melakukan pemetaan lokasi tanam dengan drone. 

"Kita berikan tenggang waktu dua minggu untuk seluruh proses verifikasi, sehingga petani bisa segera mengajukan KUR dan bisa segera menanam", tegas Menteri Siti.

Siti nurbaya menyadari, program Perhutanan Sosial ini memiliki tantangan besar. Karena program ini masuk bukan di lahan yang aman, namun di lahan yang statusnya cukup kompleks, sehingga perlu kehati-hatian dan banyak penyesuaian, baik di pihak pemerintah maupun petani. 

Catatan penting lainnya yang disampaikan  Menteri Siti adalah, kematangan kelompok yang belum merata. Sehingga akan ada kelompok yang sangat maju nantinya, dan ada yang mungkin sedang-sedang saja. 

"Ini juga perlu diperhatikan, Pendamping dan Evaluator diharapkan bisa jadi mesin penggerak, sehingga seluruh kelompok bergerak seimbang,” tegasnya. (Dedy)

Peringati Hari Pahlawan, PROFAUNA Ajak Siswa Menjadi WILDLIFE HERO

Published in Event & Komunitas
Jumat, 10 November 2017 18:00

Medialingkungan.com - Aktivis Protection of Forest & Fauna (PROFAUNA) di Malang mengajak siswa menjadi pahlawan bagi hutan dan satwa liar. Ajakan itu dilakukan dalam bentuk edukasi ke sekolah tentang konservasi hutan untuk memperingati Hari Pahlawan Nasional, yang dilakukan Jumat pagi (10/11/17) di SD Sriwedari, Jalan Bogor No. 1 Kota Malang.

Dalam kegiatan edukasi itu sejumlah aktivis profauna mengenakan atribut kepahlawanan berwarna merah putih dan membawa kostum primata. Atribut itu sebagai salah satu bentuk mengekspresikan kepahlawanan masa kini.

Sedikitnya 30 siswa-siswi itu diajak nonton film bersama dan diskusi seputar hutan dan satwa liar. Film yang diputar berjudul ‘Budeng dan Pelestarian Hutan di Jawa’, berisi tentang gambaran kehidupan Lutung Jawa dan manfaat hutan bagi satwa liar maupun manusia.

"Kami ingin adik-adik ini  tahu bagaimana kondisi hutan dan satwa liar saat ini, sekaligus mengajak untuk ikut menjaga serta melindunginya. Laju kerusakan hutan di Indonesia sangat cepat, sehingga membutuhkan banyak pahlawan lingkungan yang biasanya kami sebut Wildlife Hero," kata Muhamad Jayuli, Campaign Assistant PROFAUNA Indonesia.

Jayuli menambahkan bahwa menjadi pahlawan masa kini adalah berjuang dibidangnya masing-masing dan menyayangi satwa dan habitatnya merupakan bentuk kepahlawanan masa kini.

Dalam kesempatan itu aktivis PROFAUNA mengajak siswa untuk turut serta menjadi Wildlife Hero. Dengan cara-cara yang sederhana, yaitu mengurangi penggunaan kertas, tisu, penggunaan produk berbahan minyak kelapa sawit, serta membagikan informasi yang disampaikan kepada orang-orang yang ada disekitar.

Dra. Ari Wilujeng, Guru Kelas 4 SD Sriwedari yang menghubungi PROFAUNA mengaku sangat senang dengan  adanya edukasi tentang hutan dan satwa liar itu.

“Bersyukur adik-adik, kita telah diwariskan alam yang kaya oleh para pahlawan kita. Tugas kita adalah menjaganya agar tetap bisa kita nikmati sampai saat ini,” kata perempuan yang akrab disapa Bu Ari sebelum menutup acara.

Ia menambahkan bahwa kegiatan seperti ini sangatlah penting untuk membangun karakter siswa untuk peduli pada permasalahan disekitar. (Khalid Muhammad)

Padi ‘Nuklir’ Sidenuk Mulai Dikembangkan Di Semarang

Published in Nasional
Jumat, 10 November 2017 15:48

Medialingkungan.com - Padi varietas Sidenuk mulai diterapkan para petani Kecamatan Mijen, Semarang. Penggunaan padi ini merupakan salah satu program kegiatan Promosi Hasil Litbang Iptek Nuklir (PHLIN) Badan Tenaga Nuklir Naional (BATAN) yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan kemandirian petani melalui kegiatan penangkaran dan penyebaran benih padi varietas unggul.

Menurut Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang, W.P. Rusdiana, penanaman varietas sidenuk dilakukan dengan sistem pertanian organik. Hal ini dikarenakan tanah di Kota Semarang unsur haranya sudah sangat berkurang akibat dari penggunaan pupuk kimia yang berlebihan.

“Khusus untuk padi organik ini panennya bisa maju dua minggu dan hasilnya melebihi dari yang memakai pupuk anorganik,” ujar Rusdiana, disela-sela Kegiatan PHLIN BATAN di Agro Cepoko Dinas Pertanian, Kota Semarang.

Varietas padi Sidenuk merupakan hasil inovasi yang menggunakan teknologi nuklir dan telah memperoleh sertifikasi dari Kementrian Pertanian. Selain produktivitasnya tinggi yang mencapai 8-9 ton/ha, masa tanamnya hanya 110 hari dan tahan terhadap serangan hama wereng batang coklat serta rasa nasinya lebih pulen.

Marzuki menjelaskan bahwa hasil panen padi varietas sidenuk dengan full organik beberapa waktu lalu bisa mencapai hingga 7,1 ton/ha GKP (Gabah Kering Panen). Padahal menurut kebiasaan yang full organik itu tidak akan lebih dari 5 ton/ha GKP, tetapi dengan varietas Sidenuk bisa mencapai lebih dari itu. (Gede Tragya)

Tiga Dirjen Baru Kementerian LHK Dilantik

Published in Nasional
Selasa, 07 November 2017 21:55

Medialingkungan.com - Mengingat Keputusan Presiden Republik Indonesia No.126/TPA Tahun 2017 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan dari dan dalam Jabatan Pimpinan Tinggi Madya di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK). Hari ini (7/11/17) tiga pimpinan tinggi madya Kementerian LHK  baru saja dilantik oleh Menteri LHK, Siti Nurbaya di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta.

Tiga Pimpinan Tinggi Madya ini ialah Rosa Vivien Ratnawati sebagai Direktorat Jenderal (Dirjen) Pengolahan Sampah, Limbah Bahan Berbahaya Beracun; Sigit Hardwinanto sebagai Dirjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan; dan Bambang Supriyanto sebagai Dirjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan.

“Seorang Dirjen adalah CEO yang  pekerjaannya berkaitan dengan publik, sehingga perlu langkah nyata yang hati-hati namun konsisten,” ujar Menteri LHK pada sambutannya.

Dirjen memiliki tugas penting untuk masyarakat  dalam setiap bidangnya. Hal ini diharapkan seluruh Dirjen dapat melaksanakan tugas semaksimal mungkin.

“Dirjen dituntut untuk tidak ragu dalam mengambil langkah serta cepat merespon saat ada konflik di masyarakat sehingga masyarakat semakin percaya kepada pemerintah. Masyarakat sangat membutuhkan pencerahan dari para petugas,” harap Siti Nurbaya. (Ira Anugerah A.)

Pemkab Situbundo Ambisius Berantas Sampah dan Kerusakan Lingkungan

Published in Nasional
Senin, 31 Juli 2017 20:10

Medialingkungan.com – Pemkab Situbondo menanggapi serius persoalan sampah dan kerusakan lingkungan yang terjadi. Tak tinggal diam, Sekda Pemkab Situbondo, Syaifullah mengambil langkah cepat dengan mengeluarkan hukum lingkungan dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Indikator keberhasilan Pemkab Situbondo dalam penanganan sampah dapat dilihat dari volume produksi sampah yang dapat ditangani sebesar 75,35% pada tahun 2016. Tidak hanya itu, Syaifullah terus berusaha melakukan inovasi dalam menangani sampah agar kota yang dia tempati 100% bersih dari sampah.

“Secepatnya kasus sampah akan segera dibereskan begitupun kasus lingkungan yang tercemar,” ujar Syaifullah,” seperti yang dilansir Jawapos.com, Senin (31/7).

Langkah lain yang diterapkan oleh pemerintah dalam penanganan sampah melalui Dinas Lingkungan Hidup (KLH), yaitu menambah bak-bak sampah disetiap sudut-sudut kota. Ini bertujuan agar sampah yang sudah dipungut petugas tidak berceceran. Sebab, bak yang lama sudah tidak bisa memuat semua sampah.

“Kami juga mencoba menata sejumlah pasar agar lebih tertata dan bersih. Saat ini, dari 17 pasar tradisional, 12 diantaranya tergolong baik,” kata Syaifullah.

Sedangkan untuk urusan pekerjaan umum, panjang jalan Kab. Situbondo dalam kondisi baik. Syaifullah menerangkan, Pemkab terus mengupayakan agar kondisinya tetap bagus.

 “Usaha yang kita lakukan bisa terlihat hasilnya,” imbuhnya.

Masalah lingkungan ini adalah satu diantara 24 prioritas urusan wajib dikerjakan oleh Pemkab Situbundo. (Angga Pratama)

Pemerintah Hadiahi Masyarakat Lahan Hutan 2 Ha

Published in Nasional
Rabu, 26 Juli 2017 08:25

Medialingkungan.com – Angin segar bagi masyarakat, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) akan memberikan lahan kepada masyarakat untuk dikelola dan dikembangkan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution mengatakan nantinya tiap keluarga yang telah diidentifikasi bisa mendapatkan lahan hutan ini dengan luas rata-rata 2 hektar.

Lahan yang akan dikelola oleh masyarakat adalah lahan milik Perum Perhutani yang notabenenya merupakan perusahaan plat merah. Perum Perhutani akan meminjamkan lahan hutan menganggur kepada masyarakat selama 35 tahun melalui program Perhutanan Sosial.

“Mulai Agustus atau bahkan minggu ini perhutanan sosial akan launching, untuk akses rata-rata 2 hektar per keluarga,” kata Darmin, seperti yang dilansir kata.co.id, Selasa (25/7).

Tujuan dari program ini agar meningkatkan produktivitas tanaman yang ditanam semakin baik. Sebelumnya Darmin sempat menyebut Kabupaten Karawang sebagai tempat peluncuran program ini. Namun, kini dia prioritas awal perhutanan sosial ini di wilayah provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah. Setelah itu baru masuk ke Jawa Barat.

Pemerintah juga akan membantu mencari pembeli komoditas yang dihasilkan, agar konsep klaster di lahan hutan sosial ini bisa berhasil. Selain itu, dukungan logistik bagi perdesaan juga akan diatur, agar masyarakat dapat menggunakan fasilitas pascapanen sebagai bagian dari sarana penjualan komoditasnya. (Angga Pratama)

Tim Korem Garuda Putih dan Dishut Jambi Gagalkan Illegal Logging

Published in Nasional
Senin, 20 Maret 2017 13:17

Medialingkungan.com – Tim Intel Korem/042 Garuda Putih dan Dinas Kehutanan Provinsi Jambi berhasil amankan ribuan batang kayu hasil pembalakan liar yang terjadi di Desa Puding, Kumpeh Ulu, Kabupaten Muarojambi, Jambi. Menurut Danrem 042/Garuda Putih, Kolonel Inf Refrizal, terungkapnya temuan ratusan kubik kayu ini, dikarenakan adanya laporan dari pemilik Hak Pengusahaan Hutan (HPH) PT Pesona Belantara serta dari beberapa masyarakat sekitar yang sudah lama mencurigai aksi pembalakan tersebut.

Saat petugas melakukan penggerebekan, sejumlah pelaku pembalakan liar berhasil kabur melarikan diri ke kawasan hutan. Petugas yang memeriksa tempat kejadian menemukan ribuan batang kayu berbagai jenis terhampar di tepi parit serta ratusan kayu siap jual terlihat akan dihanyutkan melalui parit selebar dua meter tersebut.

“Setelah dicek dan dihitung teliti petugas, terdapat sekitar 3.491 batang kayu aneka jenis, seperti kayu meranti, kumpeh, meranti merah, balam,” ujar Refrizal, seperti yang dilansir oleh Sindonews.com, Minggu (19/03).

Dalam aksinya, para pelaku sudah mempersiapkan diri, pasalnya ada 6 pondok ditemukan di lokasi. Di antaranya, empat untuk kegiatan menggergaji kayu, dan dua pondok panggung dari kayu untuk kegiatan istirahat, makan dan tidur pelaku.

Sementara itu, Kepala Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Dinas Kehutanan Provinsi Jambi, Bastari mengatakan dalam operasi ini sudah sejak lama kami selalu bergandeng tangan dengan pihak TNI dalam memberantas pelaku illegal logging.

“Ini yang kedua kalinya terjadi, tahun 2015 lalu juga pernah terjadi. Kami mengamankan sekitar tujuh tersangka,” ungkapnya Bastari. {Angga Pratama}

Jejak Macan Tutul di Hutan Merapi Masih Jadi Misteri

Published in Nasional
Jumat, 03 Maret 2017 18:40

Medialingkungan.com – Keberadaan satwa macan tutul Panthera pardus melas di Hutan Merapi, Taman Nasional Gunung Merapi seakan masih menjadi misteri. Berbagai usaha telah dilakukan, seperti memasang kamera trap, namun tak jua membuahkan hasil dalam mendeteksi keberadaannya

Petugas Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) pada tahun 2015 secara tidak sengaja melihat langsung satwa tersebut masih ada dikawasan Hutan Merapi. Namun sayangnya, saat itu petugas tidak sempat mengambil gambar macan tutul tersebut.

Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Balai TNGM, Iskandar, seperti yang dilansir dari Kompas, Senin (27/02), mengatakan lokasi perjumpaan dengan macan tutul tersebut berada di kawasan hutan sisi timur, yang cenderung tidak terdampak erupsi Gunung Merapi. Tepatnya di antara Klaten dan Boyolali.

Dari laporan itu, Balai TNGM mencoba mendeteksi keberadaan macan tutul dengan memasang kamera trap. Hanya saja, sampai saat ini kamera trap yang dipasang belum berhasil merekam keberadaan macan tutul.

"Kita pasang tujuh kamera trap. Selama setahun terakhir, ada empat kali kegiatan, tetapi belum berhasil. Mungkin penempatan posisinya belum tepat," ucapnya.

Petugas beberapa kali menemukan adanya tanda-tanda keberadaan macan tutul saat melakukan penelusuran di kawasan hutan Merapi. Tanda-tanda itu seperti cakaran di batang pohon dan jejak macan tutul.

"Selama ini, kami hanya menemukan tanda-tandanya, cakaran di pohon dan jejak macan tutul. Tetapi, memang kami belum punya bukti fotonya," katanya.

Menurut dia, para aktivis satwa dan LSM menyampaikan mengenai keberadaan macan tutul di hutan Merapi. Data itu pasca-kejadian erupsi pada 2010 lalu.

Saat ini, Pihak Taman Nasioanl hanya dapat melakukan komunikasi personal dan belum melihat datanya. Namun, mereka bilang masih ada dan harus terus dicari untuk perlindungan habitat

"Permasalahan kepunahan maupun berkurangnya populasi di mana pun masalah utamanya paling dominan adalah gangguan manusia. Kerusakan habitat di Jawa khususnya, itu sudah sangat besar. Belum lagi ditambah tren perburuan liar., misalnya, menggunakan senapan angin.Kalau di dalam kawasan kami masih bisa tangani, tetapi kalau di luar kami tidak bisa," urainya.

Sementara itu, Putu Dhian, Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan, TNGM, menambahkan guna mendeteksi dan memastikan keberadaan macan tutul di kawasan hutan Merapi, pihaknya masih akan memasang kamera trap untuk beberapa bulan sekali pada lokasi yang dicurigai tempat aktivitas macan tutul. {Andi Wahyunira}

Halaman 1 dari 15

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini