medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Kampanyekan Bioenergi, KESDM Gelar Seminar di Kampus UNHAS

Published in Event & Komunitas
Jumat, 04 Agustus 2017 13:55

Medialingkungan.com – Indonesia memiliki potensi energi baru dan terbarukan yang besar dan tersebar diseluruh pelosok tanah air. Namun, berbagai permasalahan yang ada seperti keterbatasan akses energi dan pengetahuan akan pemanfaatan sumber daya pada beberapa wilayah menyebabkan beberapa wilayah masih belum memperoleh akses energi.

Kementerian Sumber Daya Mineral (KESDM) menyadari akan pentingnya peran berbagai pihak dalam hal mewujudkan solusi bagi berbagai permasalahan energi tanah air. Salah satunya adalah dengan mengadakan transfer knowledge dengan tema “Bioenergy Goes to Campus”

Kegiatan Bionergy Goes to Campus diselenggarakan kemarin (3/8) di Aula Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin dengan melibatkan 200 mahasiswa sebagai peserta dan mendatangkan narasumber dari berbagai kalangan seperti Dosen, Yayasan Rumah Energi dan Lembaga asosiasi bidang bionergi yaitu APLIBI (Asosiasi Produsen Listrik Berbasis Bionergi) dan APROBI (Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia).

Kepala Subdirektorat Penyiapan Program Bioenergi, Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi, Trois Dilisusendi, dalam sambutannya mewakili Menteri mengatakan bahwa pemerintah mengajak mahasiswa untuk menciptakan berbagai terobosan baru berupa riset-riset dalam hal pemanfaatan bioenergi.

“Potensi Indonesia terhadap Energi Baru Terbarukan sangat besar, namun SDM yang masih belum siap untuk memanfaatkannya, untuk itu kami mengajak mahasiswa dan dosen untuk bersama-sama mencari solusi dan alternative baru mengembangkan bioenergi”, Ujar Trois pada sambutannya membuka acara Bioenergy Goes to Campus, Kamis (3/8) di Aula Fakultas Kehutanan Unhas.

Melalui kegiatan seminar ini, pemerintah berharap mahasiswa sebagai agen of change dapat ikut serta dalam mempercepat pengembangan bioenergy di Indonesia melalui penciptaan SDM yang handal. (Suterayani)

Fahutan Unismuh dan Unhas Gagas MoU Pengembangan Hutan Pendidikan

Published in Nasional
Rabu, 02 Maret 2016 09:01

Medialingkungan.com – Program Studi Kehutanan Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh) dan Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (Unhas) gagas kesepakatan (MoU) terkait pengembangan Hutan Pendidikan Unismuh di Ruang Dekanat Fakultas Kehutanan Unhas, pekan lalu (24/02).

Ketua Jurusan Kehutanan Unismuh, Husna Latifa mengatakan, tujuan kerjasama pengembangan ini merupakan perwujudan Tri Dharma perguruan tinggi: pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Namun, nota kesepakatan kerjasama tersebut belum terealisasi karena sejauh ini masih dalam tahap penjajakan.

“Rencananya dalam waktu dekat ini kedua belah pihak akan bertemu kembali di fakultas Kehutanan Unhas,” katanya.

Ia menambahkan, kerjasama ini diharapkan dapat menunjang pengembangan hutan pendidikan, melalui pertukaran dosen ataupun study banding ke hutan pendidikan masing-masing.

“Fakultas kehutanan Unhas telah diakui dan memiliki akreditasi cukup bagus dengan guru besarnya, apalagi unhas sendiri merupakan kampus besar di Indonesia Timur,” ujar Husna. {Mirawati / Fahrum Ahmad}

Ridwan Kamil Tantang Intelektual Muda Membuat Beton Penyerap Air

Published in Nasional
Jumat, 09 Oktober 2015 08:43

Medialingkungan.com – Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil ingin membuat terobosan baru dalam membenahi infrastruktur kota. Ia berencana membuat jalan yang mampu menyerap air, sehingga mengurangi resiko banjir di Bandung.

Emil (sapaan akrab Ridwan) mengatakan, pihak pemerintah akan mendukung karya-karya anak bangsa dalam proses pembangunan Kota Bandung, khususnya untuk riset pada pengembangan infrastruktur kota, termasuk jalan.

Untuk memuluskan gagasan itu, Emil menantang intelektual muda di Bandung untuk membuat beton yang mampu menyerap air.

"Saya mencari material beton yang bisa meresap air. Kalau ada, saya mau pakai," ujar Emil ketika menjadi pembicara dalam talkshow Indonesia Mencari Doktor di Aula Barat Institut Teknologi Bandung (ITB), Kamis (08/10).

Menurut pria lulusan arsitektur ini, seluruh daerah di Indonesia seharusnya sudah berbasis riset. Ia berharap hasil riset para doktor dapat dimanfaatkan secara positif bagi pembangunan daerah.

"Jangan (hasil riset Doktor) berakhir di laci, baiknya diimplementasikan menjadi kebijakan. Hasil riset para doktor ini saya tunggu. Saya punya power untuk mengiyakan hasil riset itu untuk menjadi kebijakan," ungkap Emil.

Selepas talkshow, Emil menjelaskan material yang ia maksudkan, yakni beton yang memiliki poros – yang fungsinya mengalirkan air (langsung) ke tanah.

"Kalau beton berporos, jadi saya tinggal ganti seluruh jalan di Bandung. Saat hujan enggak bikin banjir, lalu langsung hilang ke tanah. Beton sekarang kan airnya ke pinggir dulu, nyari sungai, nyari gorong-gorong," jelas Emil.

Ia mengatakan, gagasan itu muncul setelah melihat video di YouTube. Beton jalan dibentuk dengan poros penyerap air. Kendati lokasinya bukan di Indonesia, namun Emil tertarik mengadopsi material dan penggunaan beton penyerap air untuk Kota Bandung. "Lupa negara mananya, cuma saya kabita (tertarik)," ujarnya singkat. {Fahrum Ahmad}

CSIRO dan Unhas Evaluasi Dampak Penelitian SUD Mamminasata

Published in Nasional
Selasa, 28 April 2015 19:53

Medialingkungan.com – Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Natural Heritage, Biodiversity and Climate Change Universitas Hasanuddin (Unhas) bekerja sama dengan Commonwealth Scientify and Industry Research Organization (CSIRO), sebuah organisasi yang bergerak pada bidang perubahan iklim menggelar workshop dan diskusi ilmiah untuk mengevaluasi penelitian Sustainable Urban Development (Pembangunan Kota Berkelanjutan) di wilayah Makassar, Maros, Sungguminasa dan Takalar (Mamminasata) Selasa (28/04).

Kegiatan yang mengangkat tema ‘Evaluasi Dampak Penelitian Sustainable Urban Development di Wilayah Mamminasata : Refleksi dan Peluang Baru’ ini dihadiri oleh Kepala Puslitbang Natural Heritage, Biodiversity and Climate Change, Dr. Ir. Roland A. Barkey, serta beberapa guru besar Unhas antara lain Prof. Dr. Ir. H. Amran Achmad, M.Sc dan Prof Ananto, dan juga dihadiri oleh salah seorang peneliti dari CSIRO, Dewi Kirono.

Dewi dalam workshop tersebut menyebutkan setidaknya ada 4 hal yang berhasil dicapai dalam penelitian ini yakni simulasi iklim regional dengan menggunakan 5 model sejak tahun 1970 hingga 2010, pengetahuan terkait ketahanan air di Makassar yang menyebutkan tahun 2020 jika Makassar tidak menerapkan master plan yang berkelanjutan akan kekurangan air, strategi dan pilihan adaptasi untuk ketahanan pelayanan air serta Unhas yang kini menjadi centre of excellence terkait ketahanan air.

“Tugas Unhas sebagai peneliti telah selesai. Sekarang yang menjadi fokus dari proyek ini adalah bagaimana memperluas dampak penelitian dari ini. Unhas harus menjadi salah satu agen of change,” ucapnya.

Senada dengan hal tersebut, Prof. Dr. Ir Ananto Yudono, M.Eng juga mengungkapkan bahwa unhas tidak hanya berhenti pada tahap penelitian, namun juga harus melakukan pengabdian ke masyarakat sebagaimana yang terdapat dalam tri dharma perguruan tinggi.

“Unhas dapat berperan untuk mempublikasikan hasil penelitian ini kepada masyarakat dan itu dapat dilakukan dengan cara yang menarik dan bahasa yang sangat sederhana,” tegasnya.

Dewi juga menambahkan dari hasil evaluasi, terlihat pemerintah menyambut baik penelitian ini. “pemerintah sekarang getol mempropagandakan isu yang diangkat dari penelitian ini. Bahkan ada beberapa program yang lahir dari pemerintah berkat penelitian ini sebut saja proyek percontohan pemanenan air hujan serta taman edukasi ketahanan air,” lanjutnya.

Saat ditanya mengenai kesiapan Tim Unhas untuk melakukan proyek penelitian ini sendiri, Dewi mengatakan sebenarnya Tim Unhas telah siap untuk melakukannya sendiri tanpa ada bantuan lagi dari CSIRO.

“Terbukti sudah banyak yang hadir tadi telah menerapkan di beberapa mahasiswa bimbingannya untuk melakukan penelitian ini. Namun yang menjadi kendala utama adalah sumberdaya manusia Unhas sendiri. Ini kan tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri,” tambahnya.

Untuk saat ini, dampak penelitian ini hanya sampai kepada kebijakan dan program pembangunan belum sampai ketahap proses perencanaan partisipatif dan implementasi yang dapat dirasakan oleh penerima manfaat.

Namun, penelitian mengenai hal di atas telah dilakukan di beberapa daerah di luar wilayah mamminasata seperti serta ada beberapa penelitian lainnya yang sedang dipersiapkan untuk itu.(Irlan)

Pesawat Tanpa Awak (Drone), Kebutuhan Daerah dan Akademisi

Published in Nasional
Kamis, 09 April 2015 13:01

Medialingkungan.com – Perkembangan teknologi yang mutakhir secara harfiah akan mendorong kemudahan dalam segala ativitas manusia. Salah satu teknologi yang saat ini mulai berkembang adalah Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau yang lebih dikenal dengan sebutan Drone.

Drone merupakan sebuah mesin terbang bak pesawat yang dikontrol melalui kendali jarak jauh atau autopilot. Mekanisme terbang drone menggunakan hukum aerodinamika, sehingga alat ini mampu mengendalikan dirinya sendiri, bahkan mampu menagngkut muatan baik senjata maupun muatan lainnya

Secara historikal, drone awalnya digunakan untuk membantu tugas-tugas kemiliteran. Namun, seiring perkembangan, teknologi ini mulai dilirik untuk fungsi-fungsi lainnya.

Di Indonesia, drone mulai dikembangkan untuk fungsi sosial seperti, bantuan bencana (kemanusiaan), angkutan tranportasi yang spesifik, dan pemetaan sumberdaya. Kepopuleran drone semakin mencuat saat debat kandidat capres-cawapres pada 2014 silam. Kala itu, perbincangan seputar teknologi ini memberikan rasa optimisme yang tinggi manakala banyaknya manfaat yang diperoleh dari pemanfaatan drone dalam menyelesaikan persoalan-persoalan Negara, utamanya pemetaan sumberdaya (resource mapping) dan persoalan tenurial (batas wilayah).

Naufal Achmad, Ahli Sistem Informasi Geografis (GIS) mengatakan, saat ini drone dengan kategori professional yang biasanya digunakan dalam pemetaan potensi sumberdaya masih belum banyak digunakan di Indonesia, dan penggunaaannya belum terintegrasi secara meluas. Padahal, jika suatu kabupaten/kota, instansi bahkan perguruan tinggi memliki sebuah professional drone, “sama saja mereka mempunyai satelit sendiri yang secara real-time dapat bekerja secara cepat dan efisien,” ungkapnya saat diwawancarai via telepon pada Kamis (09/04).

Naufal yang saat ini tengah berada di kabupaten Kutai Kartanegara sebagai tim Ahli GIS untuk penyusunan profil sumber daya danau melintang dan semayang untuk ditetapkan sebagai kawasan konservasi menambahkan bahwa penggunaan drone saat ini cenderung masih dimanfaatkan sebagai penyalur hobi oleh kalangan menengah ke atas.

”Harga drone berkisar antara 300 ribu hingga puluhan juta, tetapi spesifikasi tersebut belum dapat digunakan dalam skala kabupaten/instansi ataupun kampus. Dari jarak tempuh, kekuatan, ketahanan dan teknologinya juga masih terbatas,” tambahnya.

Naufal yang juga berprofesi sebagai dosen kehutanan mengungkapkan lebih lanjut bahwa secara umum dari cara terbangnya drone terbagi atas dua jenis, yaitu Fixed Wing dan Copter. “Jenis fixed Wing menyerupai bentuk pesawat (memiliki sayap tetapi tidak memiliki baling-baling seperti helikopter), sedangkan jenis copter itu memiliki baling-baling layaknya helikopter. Drone jenis ini juga bermacam-macam, mulai dari satu bilah baling-baling (one copter) hingga 6 bilah baling-baling (hexa copter), bahkan ada yang belasan copter.”

Menurutnya, kabupaten/kota, instansi (unit-unit kemeterian, dll) hingga perguruan tinggi perlu memliki sebuah professional drone, sehingga dapat secara maksimal dalam memetakan dan melihat potensi sumberdaya yang di Indonesia. “Tentu hal tersebut sangat dibutuhkan dalam menajemen dan perencanaan,” selorohnya.

Contoh citra yang diambil menggunakan drone di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur (Gambar : Naufal Achmad)

Ia menyontohkan, untuk penggunaan drone di perkotaan, alat ini dapat digunakan untuk memantau aktivitas lalu lintas (terutama kemacetan), perpajakan, banjir, kecelakaan, bahkan saat menangani kasus kirimal. Sedangkan, untuk bidang kehutanan, drone akan bermanfaat untuk memantau dan mendeteksi kebakaran hutan, pengukuran potensi sumberdaya hutan, serta tindakan illegal logging sehingga polisi hutan akan lebih mudah mengakses lokasi yang sulit dijangkau.

“Untuk di universitas, drone akan sangat membantu ratusan dosen dan para peneliti untuk memperoleh data base secara cepat, akurat dan efisien,” ujar Naufal.

Dengan berbagai manfaat dan kemudahan yang diberikan, Naufal membantah jika harga professional drone sangat mahal. Pasalnya, saat ini Jerman merupakan negera yang cukup fokus mengembangakan drone untuk kebutuhan pemetaan sumberdaya. “Berdasarkan kisaran harga terbaru yang saya akses sekitar dua bulan lalu melalui kontak dengan pihak penyedia professional dronedi Jerman, dengan segala spesifikasi yang sangat mumpuni itu, harganya ditaksir sekitar Rp 500 juta per satu unit drone,” katanya.

“Kita bisa mengkalkulasi secara sederhana, dengan menggunakan citra peta beresolusi tinggi atau Quick Bird High Resolution dengan akurasi 0.5- 1 meter, kisaran harga jasanya bisa mencapai Rp 3 juta per 100 Ha. Jika yang kita mau indentifikasi misalnya kota Makassar dengan luas 17.500 Ha, maka kita membutuhkan biaya sekitar Rp 500 jutaan,” jelasnya.

Naufal mengatakan bahwa penggunaan citra tersebut tidak dapat memperoleh hasil rekaman yang maksimal. “Kita hanya memperoleh citra dan data pada saat itu. Kita tidak bisa peroleh data secara realtime kapan saja dan dimana saja, dan jika kita membutuhkan data baru yah harus beli lagi.”

Sedangkan, tambah Naufal, jika kita memiliki professional drone kapan saja kita butuh update data, pemilik drone bisa langusung melakukannya dengan mudah dan cepat. Belum lagi jika melihat dari segi resolusi dan keakuratan, professional drone resolusinya mencapai 10 cm dengan tingkat keakuratan yang sangat tinggi.

Selain itu, drone itu juga sudah dilengkapi beberapa kamera yang khusus digunakan untuk alat ini, misalnya multispectral camera dan thermal infrared. “Sampai saat ini, sepengetahuan saya baru kabupaten Kutai Kartanegara yang telah memiliki Profesional Drone,” ucapnya. (Fahrum Ahmad)

Jambi Harus Seperti Riau Dan Aceh, Beri 'Efek Jera' Pelaku Pembakaran Lahan

Published in Nasional
Senin, 16 Maret 2015 22:26

Medialingkungan.com – Provinsi Jambi, sebagai penyumbang kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terbanyak di Sumatera setelah Propinsi Riau, dituntut untuk menindaklanjuti pelaku kejahatan tersebut ke dalam ranah hukum.

Hal tersebut disampaikan Dekan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), Bambang Hero Saharjo, dalam Seminar Hasil Studi Valuasi Dampak Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut di Provinsi Jambi yang dilaksanakan Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi dan Fakultas Kehutanan IPB.

Bambang mengungkapkan Jambi harus menangkap dan memproses para pelaku secara hukum seperti yang dilakukan Riau dan Aceh.

“Seharusnya Jambi juga memberikan efek jera ini terahadap pelaku pembakaran. Puluhan tahun kita menghisap asap ini, tapi tidak ada satupun korporasi yang bisa diseret pertanggungjawabannya,” ucapnya, dikutip dari mongabay.

Hasil studi Kajian Valuasi Dampak Kebakaran Gambut di tiga kabupaten yaitu Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur dan Muaro Jambi ini menunjuk  Kabupaten Muaro Jambi sebagai kabupaten yang paling rawan terbakar diantara tiga kabupaten yang diteliti.

Hal ini terlihat dari besarnya persentase luasan potensi kebakaran di Kabupaten Muaro Jambi, baik untuk total luasan (41,1%) maupun total gambut terbakar (58,9%). Luasan gambut yang berpotensi terbakar di  Kabupaten Tanjung Jabung Timur dan Tanjung Jabung Barat adalah sebesar 65,3% dan 24,4% dari luasan gambut di kedua kabupaten.

”Beberapa kecamatan yang harus berada pada kondisi siaga kebakaran gambut akibat tingginya potensi kebakaran areal gambut di wilayah Kecamatan Kumpeh, Kumpeh Ulu, Maro Sebo dan Taman Rajo (Kabupaten Muaro Jambi); Kecamatan Beram Itam, Kuala Betara dan Senyerang (Kabupaten Tanjung Barat); Kecamatan Dendang, Geragai, Mendahara, Rantau Rasau, Muara Sabak Timur, Nipah Panjang, dan Muara Sabak Barat (Kabupaten Tanjung Jabung Timur),” lanjutnya.

Sementara itu, Staf Ahli Gubernur Jambi Bidang Hukum dan Politik, Husni Djamal, dalam sambutannya mengatakan selain penegakan hukum juga akan merekomendasikan kepada Gubernur untuk membangun sistem terpadu dalam pengendalian kebakaran.

“April ini diprediksi Jambi mengalami kekeringan dan rawan kebakaran hutan dan lahan. Karena seperti yang diketahui kebiasaan membuka lahan dengan sistem tebang dan bakar ini akan berakibat muncul hot spot dimana-mana. Jika tidak mau bencana asap berulang, Pemerintah Provinsi bekerja sama dengan semua stakeholder berusaha untuk mengendalikannya,” ucap Djamal.

Tercatat, hingga saat ini Jambi menderita kerugian ekonomi akibat bencana tersebut mencapai Rp19 triliun. (Irlan)

‘Pendidikan Lingkungan’ Ajar Generasi Muda Lebih Peka Lingkungan

Published in Event & Komunitas
Senin, 16 Maret 2015 18:47

Medialingkungan.com – Fenomena atau gejala-gejala alam sering kali tak disadari oleh masyarakat. Perilaku ini menjadikan kurangnya kewaspadaan dan ketanggapan terhadap bencana alam yang bisa saja terjadi tanpa disadari. Untuk itu, menurut tenaga pendidik pendidikan lingkungan, Jennifer Hacking asal Kanada, sangat perlu untuk dilakukan edukasi lingkungan hidup di kalangan masyarakat khususnya untuk usia remaja.

Hal tersebut dikatannya saat memfasilitasi pendidikan lingkungan yang diadakan Lembaga Kemahasiswaan Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (Unhas), Badan Eksekutif Keluarga Mahasiswa Sylva (PC) Unhas.

Kegiatan ini dilaksanakan selama 2 hari, yakni pada Senin hingga Selasa, 16-17 Maret 2015 di gedung Fakultas Kehutanan Unhas dan sekitarnya. Pada hari pertama ini, kegiatan dibuka pada pukul 10.00 WITA yang diawali dengan pembagian kelompok. Pembagian kelompoknya juga sangat unik. Peserta diminta untuk menyebutkan ciri-ciri yang dimiliki satwa tertentu kemudian dituliskan dalam potongan-potongan kertas kecil lalu dibagikan kepada seluruh peserta. Peserta yang mendapatkan ciri dari satwa yang sama dikumpul dalam satu kelompok.

Sasaran kegiatan adalah siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) se-Kota Makassar. Masing-masing sekolah mengirimkan 2 orang sebagai perseta dalam pendidikan lingkungan ini. Kegiatan ini kata panitia pelaksana, bertujuan untuk melatih para siswa agar menjadi leader di sekolahnya dan mengajak siswa lainnya untuk memberikan kontribusi terhadap lingkungan hidup di sekolah masing-masing.

Jennifer yang juga bekerja di Voluntary Service Overseas (VSO) mengatakan, pengenalan lebih lanjut (terapan) dari teori-teori konservasi yang selama ini diperoleh para siswa melalui proses belajar-mengajar di sekolahnya sangat penting untuk membentuk pemikiran mereka terhadap pentingnya menjaga suatu kesinambungan eksosistem dan makhluk hidup yang hidup pada habitat tersebut.

“Saya juga pernah menulis buku pedoman pendidikan lingkungan,” kata Jenifer. Pedoman itu, lanjut Jen, sapaan akrabnya, memuat panduan dasar secara sederhana untuk mebimbing pembaca mengaktualisasikan peran alam dalam memenuhi kebutuhan manusia, dan begitu juga peran manusia terhadap alam. 

Kegiatan ini didesain secara menarik dengan games yang disesuaikan dengan usia peserta. “Jadi setelah menerima materi di dalam ruangan, para peserta langsung diajak di luar ruangan untuk mengimplementasikan hasil kajian sebelumnya (di ruangan),” ungkap Nasri, salah satu fasilitator dalam kegiatan ini.

Games ini, lanjut Nasri, akan menstimulun sensor motorik peserta agar peka terhadap gejala-gejala alam. “Para peserta juga mampu mengetahui lebih jauh sifat-sifat istimewa yang dimiliki satwa,” sambungnya.

Games habitat, mengilustrasikan kalelawar saat mencari mangsanya (ngengat) menggunakan indera pendengaran (Gambar: Fahrum)

Dalam salah satu kegiatan outdoor, peserta diinstruksikan untuk membentuk lingkaran besar, kemudian salah satu peserta diminta menggunakan kain untuk menutup matanya. Hal tersebut merupakan bentuk ilusrrasi dari sifat kalelawar yang tidak menggunakan penglihatannya saat memangsa. Kemudian, peserta lainnya mengilusrasikan sifat satwa lainnya, sala satunya ‘ngengat’.

Si ngengat ini kemudian menirukan suara khas satwa ini, lalu si kalelawar, mengunakan sensor pendengarnya untuk mendiagnosis lokasi mangsanya. Kalelawar adalah hewan yang mampu menangkap gelombang ultrasonik (suara) sebagai alat navigasi dan menemukan lokasi mangsanya. “Jadi siswa ini mampu mengetahui lebih jauh keistimewaan yang dimiliki satwa, sehingga hal tersebut menjadi salah satu alasan untuk menjaga suatu ekosistem,” lanjut Nasri.  

Sementara itu, salah satu peserta dari SMA 2 Makassar, Muhammad Nur mengatakan, kegiatan ini sangat menyenangkan dan memberikan pemahaman yang lebih terhadap makhluk hidup, khususnya satwa yang berada disekitar kita.

Untuk hari kedua, peserta akan lebih aktif di lapangan. “Akan banyak hal-hal menarik, yang akan mereka peroleh besok, tutup Nasri. (Fahrum Ahmad)

Publikasi Baru, Ungkap Kaitan Perubahan Iklim dan Ketahanan Pangan

Published in Informasi & Teknologi
Rabu, 11 Maret 2015 13:42

Medialingkungan.com – Food Research International baru-baru ini merilis publikasi terbaru dengan edisi khusus mengenai dampak perubahan iklim terhadap ketahanan pangan.

Kumpulan penelitian ini secara spesifik mengemukakan isu-isu seperti penggunaan pestisida, transmisi parasit, produksi mikotoksin pada tomat, keracunan kerang paralitik, Vibrio parahaemolyticus, dan hubungan antara banjir dan kontaminasi terhadap jenis sayuran hijau.

Dikutip dari Food Safety News, penelitian ini diterbitkan oleh para peneliti di Wageningen University di Belanda dan Ghent University di Belgia, termasuk beberapa makalah dari proyek penelitian Veg-i-Trade yang dibiayai oleh Uni Eropa.

Studi awal mengungkap adanya zat beracun dari jamur menunjukkan indikasi adanya peningkatan risiko kontaminasi tomat di akhir abad ke-21 di Polandia, namun peningkatan suhu di Spanyol akan menurunkan risiko kontaminasi di sana.

Kemudian, studi lain menunjukkan bahwa banjir di bidang selada dapat mengakibatkan konsentrasi peningkatan bakteri berbahaya yang dengan cepat dapat dipecah lagi oleh sinar Ultra Violet.

Hasil penelitian tersebut menujukkan bahwa skenario iklim di masa depan dapat menyebabkan wabah keracunan yang akan berlangsung selama bulan-bulan awal di tahun ini.

Studi ini merupakan yang pertama, yang mengungkap kaitan perubahan iklim dan ketahanan pangan, dan para peneliti saat ini tengah mendiskusikan agar penelitian diperluas. (Fahrum Ahmad)

FWI Gelar Bedah Buku Bersama Mahasiswa Fakultas Kehutanan Unhas

Published in Event & Komunitas
Kamis, 12 Februari 2015 16:04

Medialingkungan.com – Forest Watch Indonesia (FWI) bekerjasama dengan Badan Eksekutif Kemahut (BEM) Sylva Indonesia (SI) Unhas dalam mengadakan Bedah Buku yang berjudul ‘Potret Keadaan Hutan Indonesia’ (PKHI) di Aula Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, Kamis, (12 /02).

Kegiatan bedah buku tesebut menghdirkan beberapa narasumber antara lain E.G. Togu Manurung dari FWI, Muh. Restu sebagai Dekan Fakultas Kehutanan, Yusran Yusuf sebagai Guru Besar Fakultas Kehutanan, Asmar Ekswar Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), dan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan, yang diwakili oleh Anhar.

”Buku PKHI ini merupakan terbitan berkala FWI yang memuat informasi alternatif mengenai kondisi laju deforestasi dan degradasi hutan di masa depan,” ujar Togu Manurung. Ia menambahkan bahwa kegiatan bedah buku ini pernah juga diadakan di berbagai daerah yaitu Universitas Sumatera Utara-Medan, Institute Pertanian Bogor (IPB), dan Universitas Tanjung Pura (Untan)-Pontianak.

Menurut Yusran Yusuf kegiatan bedah buku PKHI ini merupakan simbol perlawanan organisasi masyarakat sipil bagi keterbukaan informasi. Isi buku PKHI ini telah menyajikan data & informasi mengenai keadaan hutan yang saat ini terjadi, katanya.

“Sinergitas dan paradigma yang terjadi masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya, ditambah tata kelola hutan yang belum maksimal menjadi penyebab degradasi & deforestasinya hutan di Indonesia,” tuturnya.

Yusran menambahkan bahwa hadirnya konsep Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) dapat menjawab permasalahan yang terjadi, namun dalam konteks implementasi belum berjalan maksimal, yang terpenting bagaaimana kita secara bersama-sama mendorong berjalannya konsep KPH sehingga bisa berjalan maksimal.

“Acara ini sangat bagus dan begitu mendidik, apalagi bagi kita yang backgroundnya dari kehutanan, isi buku dar PKHI itu menyajikan data tentang keadaan hutan di Indonesia,” ungkap mahasiswa Fakultas Kehutanan, Aryadi.

Aryadi berharap dengan adanya buku PKHI ini, laju degradasi dan deforestasi hutan Indonesia berkurang dan para stakeholder atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dapat bersama-sama mengawal kebijakan yang dapat menekan laju degradasi dan deforestasi hutan. (AAI)

UI Kampus terhijau Se-Indonesia

Published in Nasional
Minggu, 18 Januari 2015 19:53

Medialingkungan.com – Universitas Indonesia (UI) kembali menduduki peringkat pertama sebagai kampus terhijau di Indonesia. Hal itu diumumkan dalam data pemeringkatan perguruan tinggi terbaik UI GreenMetric Ranking of World Universities 2014. Sementara itu, peringkat terbawah adalah Universitas Pelita Harapan.

UI GreenMetric merupakan pemeringkatan perguruan tinggi terbaik berdasarkan pengelolaan lingkungan hidup kampus yang diinisiasi oleh Universitas Indonesia (UI). Ini adalah tahun kelima UI menyelenggarakan pemeringkatan tersebut.

"Kerja keras kami membuahkan hasil bukan pada rangkingnya. Tetapi bagaimana agar anak cucu kita bisa bisa hidup seperti kita menikmati ruang terbuka hijau, dan kita harus kerja keras lagi," ujar Rektor Universitas Indonesia (UI) Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis, M.Met.

Peneliti GreenMatric, Prof. Gunawan Tjahjono mengatakan, kampus hijau baiknya ditopang dengan bebas kendaraan atau lokasi parkir. Misalnya, dengan membuat mahasiswa parkir di lokasi yang disediakan dan masuk kampus dengan sepeda.

"Institusi harus memperhatikan lingkungan. Soal bangunan parkir, kalau bisa mobil tak lagi masuk kampus. UI kerap menjadi tempat parkir bagi mahasiswa. Kurang lebih ada 3.000 kendaraan yang harus diperhatikan, masuk kampus harus ganti sepeda. Parkir di UI secara bertahap dihilangkan," ungkap Gunawan.

UI memiliki lima danau dan dicetuskan sebagai hutan kota. Kemudian pihak UI sementara memperbaiki sistem pengelolaan limbah serta sistem pengairan universitas. "Hutan kota itu hanya ada satu bangunan yakni faculty club. Bahkan ada 100 hektar hutan kota UI kami sumbang bagi DKI. DKI harus terimakasih pada UI, susah sekali cari lahan hijau," ungkap Gunawan.

Untuk revitalisasi lingkungan, sejumlah pohon yang lapuk di Hutan Kota UI secara berkala ditebang lalu ditanam ribuan pohon baru. Menurut pihak UI, terdapat sekitar 100 ribu pohon di UI dan membuat UI bertengger sebagai kampus terhijau.

Berikut 10 besar Universitas Terhijau di Indonesia antara lain: (1) Universitas Indonesia, (2) Institut Pertanian Bogor, (3) Universitas Negeri Semarang, (4) Universitas Andalas, (5) Universitas Diponegoro, (6) Institut Teknologi Bandung, (7) Institut Teknologi Sepuluh November, (8) Universitas Sebelas Maret, (9) Universitas Islam Indonesia, (10) Universitas Lampung. (MFA)

Halaman 1 dari 2

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini