medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Ikan Mas Serbu dan Ganggu Ekosistem Danau Boulder, Amerika Serikat

Published in Internasional
Sabtu, 18 April 2015 10:49

Medialingkungan.com – Danau Boulder, Colorado, Amerika Serikat diserbu ribuan populasi ikan mas. Serbuan ikan mas itu disebabkan oleh seorang warga setempat yang mengaku telah melepaskan tiga atau empat ekor ikan mas peliharaannya ke dalam danau beberapa tahun yang lalu.

Ikan piaraan yang bukan merupakan spesies asli dari Amerika Utara itu kemudian berkembang biak cepat dan diluar kendali. Danau Boulder menjadi rumah bagi empat ribu ikan mas, yang kini mengancam ketidakseimbangan ekosistem dan spesies akuatik asli yang berada di danau tersebut.

Manager CPW Boulder, Jennifer Churchill mengungkapkan, Ikan mas bukanlah spesies asli danau dan sangat berbahaya bagi ekosistem perairan setempat. “Ikan mas atau Tamu ini bisa membawa penyakit atau justru membuang penghuni serta mengganggu ekosistem danau,” ucapnya.

Para pejabat satwa liar Colorado mengatakan bahwa manusialah yang harus disalahkan. “Kebanyakan orang tidak menyadari efek buruk memperkenalkan spesies eksotik terhadap lingkungan,” tambah CPW biologi perairan senior, Ken Kehmeier, seperti yang dilansir Odditycentral.com, Sabtu (18/04).

Kini para pejabat satwa liar Colorado tengah mencoba untuk menyingkirkan ribuan ikan mas tersebut, dan mereka dihadapkan dengan dua pilihan yang sulit. “Kita bisa menggunakan electrofishing atau berakhir dengan mengeringkan danau,” ungkap Jennifer.

Electrofishing dilakukan dengan menjuntaikan kabel listrik dari kapal ke air. Gelombang listrik yang keluar dari perangkat itu akan membuat ikan-ikan berenang ke permukaan sehingga kemudian bisa dijaring hidup-hidup. (Angga Pratama)

Nasib Nelayan ada Ditangan Pemerintahan Jokowi

Published in Nasional
Kamis, 09 April 2015 14:28

Medialingkungan.com – Negara Indonesia merayakan hari nelayan yang ke-55 Senin (06/04), akan tetapi sampai saat ini masih belum mengalami perbaikan signifikan. Padahal, di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo, sektor kemaritiman, termasuk nelayan menjadi prioritas pembangunan yang akan ditingkatkan, seperti yang dilansir Mongabay.co.id, Selasa (07/04).

Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) dalam aksi simpatiknya didepan kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan menyuarakan tuntutan untuk melindungi dan mensejahterakan nelayan.

“Kami tidak melihat ada perubahan berarti dalam kurun waktu lima bulan terakhir sejak Jokowi resmi menjalankan roda pemerintahannya. Yang terjadi, nelayan masih tetap ada dalam kubangan kemiskinan struktural, padahal nelayan menjadi salah satu tulang punggung pembangunan sektor maritim nasional,”ujar Abdul Halim yang juga Sekretaris Jenderal KIARA, seusai menggelar aksi peringatan Hari Nelayan Indonesia 2015 di Jakarta.

Dia menganalisis, belum berubahnya nasib nelayan di bawah kepemimpinan Jokowi, disebabkan karena belum terpenuhinya lima hal pokok yang menjadi parameter perbaikan nasib nelayan.

Halim menambahkan, kelima hal pokok itu adalah yang pertama, anggaran yang dialokasikan untuk bidang kelautan dan perikanan tidak diarahkan untuk melindungi dan mensejahterakan masyarakat pesisir skala kecil lintas profesi tersebut,yang kedua, meluasnya perampasan wilayah pesisir yang menjadi tempat tinggal dan ruang hidup masyarakat, yang ketiga, minusnya ruang partisipasi masyarakat nelayan meski di lapangan sudah sangat signifikan kontribusinya, yang keempat, tidak dihubungkannya aktivitas perikanan skala kecil dari hulu ke hilir, dan yang terakhir, tiadanya perhatian pemerintah terhadap relasi ABK dengan juragan atau pemilik kapal.

Menurut catatan Badan Informasi Geospasial, dua pertiga wilayah laut Indonesia terdiri dari 13.466 pulau dan mencapai luas laut keseluruhan 5,8 juta km2. Dengan luas lautan sepert itu, potensi perikanan yang ada di dalamnya mencapai 6,5 juta ton. (Iswanto)

Satgas Illegal Fishing Upayakan Penanganan Kasus Secara Online

Published in Nasional
Jumat, 20 Maret 2015 20:59

Medialingkungan.com – Satuan Tugas (Satgas) Pemberantasan illegal Unreported and Unregulated (IUU) Fishing tengah menjajaki kerjasama dengan Kejaksaan Agung (Kejagung) Republik Indonesia (RI) terkait penanganan kasus illegal fishing secara online.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Satgas IUU Fishing, Achmad Santosa, saat kunjungan kerja Satgas illegal fishing di Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (18/03).

Achmad Santosa mengungkapkan jika kerjasama ini berjalan lancar, kemungkinan besar system yang terbuka untuk umum ini dapat terlaksana pada April tahun ini.

Dia juga mengatakan pada system ini semua pihak penegak hukum illegal fishing seperti TNI AL, Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan dan Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) RI. Sehingga, menurutnya system ini mampu mengurangi kecurangan di lapangan.

“Kami wajib memastikan agar tidak ada permainan di lapangan, jangan sampai ada pelemahan,” ucapnya seperti dikutip dari situs resmi KKP.

Dalam situs tersebut, pihaknya juga berharap agar dalam penanganan kasus illegal fishing dapat menjerat hingga ke tingkat korporasi. (Irlan)

Greenpeace: Penenggelaman Kapal Asing tidak Ramah Lingkungan

Published in Nasional
Jumat, 26 Desember 2014 11:17

Medialingkungan.com – Keputusan pemerintah yang menyatakan bahwa kapal asing yang masuk ke Indonesia tanpa izin pemerintah akan ditenggelamkan memang benar. Kapal-kapal yang terbukti bersalah, langsung ditenggelamkan oleh satuan yang ditugaskan untuk mengawasi dan mengeksekusi kapal tersebut.

Namun, Indonesia Oceans Campaigner Greenpeace, Arifsyah M Nasution Arifsyah menegaskan, proses penenggelaman kapal nelayan asing yang mencuri ikan di laut Indonesia dapat merusak ekosistem laut. Menurunya, pasca diledakkan, puing kapal dan sisa-sia kebakaran berpotensi mencemari laut.

"Saya setuju tindakan tegas kapal asing yang mencuri ikan dilaut indonesia, tapi jika mau ditenggelamkan tidak perlu sampai diledakkan," katanya melalui telepon seluler kepada covesia, Selasa (23/12).

Menurutnya, pemerintah boleh saja menenggelamkan kapal asing itu, namun sepanjang proses penenggelaman kapal tersebut sesuai dengan prosedur dan aturannya seperti awak sudah tidak di kapal, bahan-bahan berbahaya yang ada di kapal sudah diamankan, termasuk pengosongan bahan bakar.

Dia beranggapan bahwa dalam upaya pemerintah mencegah illegal fishing sebaiknya kapal asing itu tidak diledakkan yang dalam hal ini tidak ramah lingkungan. Ia berharap agar pemerintah mencari cara lain untuk menenggelamkan kapal itu dengan berpedoman pada asas konservatif dan ramah lingkungan, seperti pelucutan atau dekonstruksi bagian-bagian kapal. Lalu bangkai atau rangka kapal yang telah diambil, digunakan kembali untuk keperluan lain.

"Yang paling penting posisi penenggelaman ini tidak menghancurkan terumbu karang, dan tidak dengan cara ledakan," ungkapnya.

Kemenristek: Nelayan akan Tangkap Ikan Pakai GPS

Published in Nasional
Jumat, 17 Oktober 2014 07:41

Medialingkungan.com – Dalam seminar nasional teknologi sistem pamantauan batubara di Indonesia, di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (16/10). Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhamad Hatta  menyatakan, Indonesia kini menerapkan penggunaan teknologi satelit untuk mencari ikan di laut .Penggunaan teknologi tersebut bertujuan untuk membantu nelayan dalam mendapatkan ikan dengan hasil yang memuaskan saat melaut.

"Kami ini mencoba untuk membatu nelayan agar mudah dalam penangkapan ikan di laut lepas, dari pada nelayanmenghabiskan solar dan ujung-ujungnya tak dapat ikan," kata Gusti.

Melalui satelit, Kemenristek bisa mendeteksi titik kumpul ikan di tengah lautan. Kemudian, titik koordinat tersebut diberikan kepada nelayan. Ini akan memudahkan nelayan mengingat mereka kini juga dilengkapi dengan Global Positioning System (GPS).

Gusti mengungkapkan, sistem kerja teknologi satelit tersebut dengan memanfaatkan deteksi suhu, dengan melihat tampilan klorofil laut yang mempunyai ciri tersendiri, kemudian dicatat koodinatnya dan disebarkan ke nelayan melalui GPS.

"Kami catat koordinat, kami kasikan ke nelayan, kami beri GPS dan melalui data yang kami berikan untuk mempermudah dalam penangkapan ikan," imbuhnya.

Tak hanya membatu mencari ikan, saat ini pemerintah sedang mengkaji pemanfaatan penggunaan teknologi satelit untuk mendeteksi ekspor batu bara di Negara Indonesia.

Dengan melihat implementasi seperti ini, Gusti M. Hatta semakin bersemangat mendorong pemanfaatan satelit untuk produksi dan penjualan batu bara. Dia juga menyakini pendekatan ini akan menekan jauh penjualan batu bara Indonesia secara ilegal. (AH)

Pemerintahan Baru Didorong untuk Membangun Poros Maritim

Published in Nasional
Sabtu, 04 Oktober 2014 15:25

Medialingkungan.com - Presiden dan wakil presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK) telah berkomitmen untuk membangun Indonesia sebagai poros maritim dunia abad ke-21. Untuk mewujudkan komitmen ini, Jokowi-JK didesak membangun poros maritim yang berbasis pada rute atau jalur rempah-rempah.

Pengembangan sektor maritim dikatakan mampu mendongkrak benefit perekonomian nasional. Hal ini sesuai dengan penyampaian pendiri Archipelago Solidarity Dipl-Oek, Engelina Pattiasina, dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Relawan Indonesia Timur di Graha Bethel, Jakarta pada Jumat (03/10).

Engelina menjelaskan bahwa bangsa Indonesia memilik sejarah maritim yang kuat. Dalam sejarah maritim tersebut, jalur rempah-rempah terbukti berabad-abad lalu mampu mengontrol ekonomi dunia dan menghubungkan kota-kota utama di dunia dan di Nusantara.

Disebutkan Engelina bahwa Perdagangan rempah-rempah dan produk-produk alam lainnya dalam jalur rempah-rempah ini akan meningkatkan rotasi dan reproduksi ekosistem, seperti lada, pala, cengkih, damar, cendana, kayu manis, hutan, bambu, lontar, jagung, sagu, enau, gaharu, pinang, kakao, kopra, vanili.

“Selain itu, upaya-upaya pemulihan dan penyehatan ekosistem kelautan dapat ditingkatkan. Sebagai negara kepulauan, pembangunan poros maritim berbasis rute rempah akan mengawal kedaulatan negara RI dan pemulihan atau penyehatan ekosistem negara RI, yang meningkatkan manfaat pembangunan ekonomi maritim,” katanya.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa dalam hal ini diharapkan agar strategi maritim jalur rempah-rempah ini dimulai dari kawasan timur Indonesia. Dia memaparkan enam nilai strategis yang akan diperoleh Indonesia dan KTI.

Pertama, poros maritim RI dan dunia dari Papua, Maluku, NTT, dan sekitarnya sangat bermanfaat bagi kawasan timur dan daya-saing negara RI. Luas KTI berkisar 68 persen dari luas wilayah negara RI, yang sangat sesuai strategi ekonomi pesisir dan kelautan.

Kedua, KTI memiliki tradisi maritim level dunia ratusan tahun. Penduduk di Maluku sangat kuat memiliki kearifan dan tradisi maritim. Sejak abad 4 masehi, KTI memasok kebutuhan-kebutuhan dunia seperti lada, pala, cengkih, damar, merica, kayu manis, cendana, kayu-kayu, dan berbagai komoditas lainnya. Penguasan maritim Nusantara dan perdagangan Asia-Afrika-Eropa selama 400 tahun oleh VOC, Belanda dan Inggris selama 1602-1945 berbasis zona Nusantara dari KTI saat ini.

Ketiga, hingga awal abad 21, sekitar 1.700 pulau besar dan kecil dari luas 705.645 km persegi Provinsi Maluku dan Papua memiliki titik geostrategis di Asia Pasifik. Maluku dan Papua adalah ruang terdepan Indonesia terhadap klaim tumpang-tindih dari enam negara terhadap Laut Tiongkok Selatan di Asia Pasifik.

Keempat, zona KTI memiliki kekayaan mineral strategis. Gerakan tektonik kerak lempengan Samudra Pasifik dan Australia jutaan tahun membuat Maluku dan Papua “terjepit” antara kedua lempengan raksasa ini. Instrusi batuan-batuan asidik menyebabkan mineralisasi logam-logam dasar, seperti tembaga, emas, batu bara, gambut, aluminium, nikel, kronium, kobalt, besi, timah, mangan, merkuri, timbel, tungsten, dan seng .

Kelima, secara historis, sejak abad 16 masehi, arsitektur, pelabuhan, benteng, dermaga, dan kamar dagang dibangun karena perdagangan rempah-rempah. Jalur kolonial dunia, yang mula-mula diberlakukan Inggris di Banda abad 16, menjual barang, jasa, pengetahuan, dan informasi di Batavia, Ambon, Malaka, Manila, Taiwan, Makau, Hong Kong, San Salvador, Deshima atau Nagasaki, Jepang. Bukti arkeologis menunjukkan sejak 3.000 tahun silam, rempah asal Maluku dijualbelikan ke Persia.

Keenam, menghidupkan kembali jalur-jalur maritim berbasis rute-rute rempah-rempah akan memulihkan ekosistem RI dan dunia.

Sejalan dengan alasan tersebut, pada Seminar Nasional Kemaritiman yang dilangsungkan pada 1-3 Oktober 2014 di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, disimpulkan bahwa pengembangan sektor maritim dapat menghasilkan 4 kali APBN RI atau sekitar  Rp 12 ribu trilliun. Demikian yang diungkapkan oleh Pakar Kemaritiman, Prof Jamaluddin Jompa PhD pada sesi panel besama para peserta.

Hal serupa disampaikan oleh Ditjen Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K), Sudirman Saad, dalam sambutannya ia ungkapkan bahwa Indonesia sangat dikenal dengan kejayaan masa lalu di sektor maritim. Kerajaan-kerajaan seperti Sriwijaya, Mulawarman dan Majapahit adalah corong kemaritiman di dunia.

Frame dan pandangan masyarakat tentang kejayaan masa lalu itu harus dibangkitkan kembali, indicator kemiskinan harus diubah, kita harus mencontoh Australia yang masyarakatnya dikatakan ‘mampu’ jika jumlah konsumsi ikannya lebih banyak daripada daging sapi dan lainnya, berbanding terbalik dengan Indonesia” ungkapnya.

Untuk itu, menurutnya pola pikir kemaritiman merupakan hal paling mendasar untuk dibangun di masyarakat. (MFA)

 

Angin Darat Pengaruhi Armada Penyebrangan Laut Untuk Sandar

Published in Nasional
Rabu, 23 Juli 2014 09:22

Medialingkungan.com – Angin kencang dari darat membuat Kapal feri 'roll on roll off' (ro-ro) Titian Murni yang berlayar di Selat Sunda kesulitan sandar di Dermaga II Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni di Lampung Selatan.

Manajer Operasional PT Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry Cabang Bakauheni Heru Purwanto di Bakauheni, mengatakan kecepatan angin tersebut mencapai 20 knot, yang membuat tiga kapal feri kesulitan sandar.

"Angin darat sangat mempengaruhi armada penyeberangan untuk sandar, mengingat pada saat kapal feri itu berusaha merapat akan terdorong menjauh," kata Heru .

Menurutnya, KMP Titian Murni setidaknya membutuhkan waktu satu jam untuk dapat merapat kembali ke Dermaga II, karena kecepatan angin yang tinggi tersebut. Sedangkan KMP Nusa Mulya, kata dia, harus dibantu dengan tug boat (kapal penarik) agar dapat merapat ke Dermaga III.

"Akibat kesulitan sandar kapal feri tersebut, fasilitas vendor atau penahan kapal sandar rusak dan jatuh ke laut akibat tersenggol kapal Titian Murni yang gagal sandar itu," ujarnya.

Ia juga menjelaskan vendor tersebut tidak mempengaruhi kapal lainnya untuk sandar maupun keluar. "Kalau posisi vendor melintang barulah mengakibatkan kesulitan bagi kapal lainnya,"ungkapnya. (DN)

 

 

 

Harapan Nelayan Sulawesi Tenggara Kepada Presiden Terpilih

Published in Nasional
Senin, 21 Juli 2014 11:53

Medialingkungan.com – Sebentar lagi Indonesia akan memiliki presiden baru. Harapan demi harapan terus berdatangan untuk sang nakhoda baru. Tidak terkecuali para nelayan yang ada di Sulawesi Tenggara. Ketua Perkumpulan Nelayan dan Perempuan Nelayan Sulawesi Tenggara, Beloro, mengisyaratkan Presiden terpilih harus segera membentuk payung hukum bagi perlindungan dan pemberdayaan nelayan.

"Sebab, nelayan melaut dengan risiko besar hilang dan meninggal dunia di laut akibat derasnya ombak Laut Banda dan Laut Flores, sehingga payung hukum itu dibutuhkan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka," kata Beloro.

Harapan lainnya agar lebih karena hingga hari ini kesejahteraan nelayan belum memadai, bahkan nelayan masih mengalami kesulitan ketika mengurus perizinan melaut.

Menurutnya, birokrasi yang berbelit dan minimnya pengetahuan nelayan tradisional Indonesia dalam mengurus izin mengakibatkan nelayan menjadi rentan diskriminasi.

"Hal ini secara langsung berdampak bagi kesejahteraan nelayan tradisional Indonesia dan mengakibatkan kemiskinan semakin merajalela di kampung nelayan," ungkapnya.

Juni 2014, FAO telah mengesahkan Internasional Guidelines for Small Scale Fisheries (IGSSF) yang secara jelas mengakui pentingnya peran nelayan serta pembudidaya skala kecil bagi pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat dunia.

Upaya FAO ini patut diapresiasi karena telah mengakui peran nelayan dan pembudidaya, sehingga penting pembahasan RUU Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan dipercepat penyelesaiannya.

Sementara itu, Abdul Halim, Sekretaris Jenderal KIARA memandang bahwa progam Legislasi Nasional DPR RI tahun 2010-2014 justru jalan di tempat.

"Sebab sampai akhir masa periode anggota DPR RI pun belum ada upaya konkret dari negara untuk memberikan payung hukum bagi perlindungan dan pemberdayaan nelayan Indonesia. Nelayan masih dianggap masyarakat kelas dua, padahal kontribusi mereka dalam pemenuhan gizi bangsa bisa dirasakan setiap hari "di piring-piring" masyarakat Indonesia,"ujarnya.

Bahkan dalam Rembug Pesisir Nelayan se-Sulawesi Tenggara yang difasilitasi oleh KIARA dan JPKP, kata Arman Manila, Koordinator JPKP Buton, 20 perwakilan nelayan dan perempuan nelayan dari 13 kabupaten kota mendesak negara untuk Menyegerakan (RUU Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan itu.

"Karena itu nelayan dan pembudidaya Indonesia menaruh harapan besar pada "hadirnya' negara sebagai payung hukum perlindungan hak-hak mereka sebagai pahlawan protein bangsa,"jelasnya lagi. (DN)

Kementrian Kelautan Dan Perikanan Terus Mengembangkan Konsep Blue Economy

Published in Nasional
Kamis, 17 Juli 2014 09:10

Medialingkungan.com - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tetap konsisten untuk mengembangkan program dan kebijakan industrialisasi kelautan dan perikanan yang berbasis Blue Economy.


“Program ini sebagai upaya optimalisasi pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan yang berwawasan lingkungan dengan memberi nilai tambah untuk peningkatan daya saing produk perikanan Indonesia, bagi kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan  RI, Sharif C. Sutardjo pada acara Peringatan Nuzulul Qur’an 1435 H, di Jakarta, Rabu (16/7/2014).

Syarif menjelaskan, pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan yang berkelanjutan merupakan upaya manusia sebagai hamba Allah SWT, dalam mensyukuri nikmat yang telah diberikan dari-Nya.

Laut harus dikelola dengan tetap memperhatikan kelangsungan sumber daya hayati di dalamnya. Ikan yang merupakan salah satu makhluk hidup ciptaan-Nya juga harus dijaga kelestariannya melalui budidaya secara berkelanjutan.


“Peningkatan kesejahteraan masyarakat khususnya masyarakat kelautan dan perikanan yang menjadi salah satu tujuan pembangunan kelautan dan perikanan akan terwujud apabila kita Istiqomah dalam menjaga, merawat, memberdayakan dan memanfaatkan kekayaan alam yang diberikan Allah SWT untuk kepentingan bersama,” kata Sharif.


Menurut Sharif, Indonesia harus mampu memberdayakan dan mengelola segenap potensi sumber daya perikanan budidaya yang ada secara berkelanjutan. Terutama untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi nasional bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia.


“Kami menyadari dalam pelaksanan program dan kebijakan industrialisasi tersebut memerlukan dukungan dan kerjasama yang baik dari lintas sektoral dan seluruh stakeholders pelaku usaha perikanan, untuk mewujudkan Indonesia sebagai bangsa yang maju,” jelas Sharif. (AH)

 

Menjaga Terumbu Karang Dengan Konser Musik Selama Empat Jam

Published in Internasional
Selasa, 15 Juli 2014 15:40

Medialingkungan.com – Kegiatan tahunan konser musik di bawah laut kembali di selenggarakan di Looe Key Reef di Amerika Serikat, Senin (14/7/2014).

Sekitar 500 penyelam dan perenang melakukan aksi yang sangat mengagumkan dalam konser ini.

Konser bawah laut ini dilakukan untuk memeriahkan acara tahunan Lower Keys Underwater Music Festival yang ke-30. Konser yang unik ini berlangsung selama empat jam dengan memainkan musik-musik terkenal dari seluruh dunia.

"Kami memulai ini sebagai seni dan acara budaya 30 tahun yang lalu," kata pendiri acara dan koordinator, Bill Becker.

“Ini adalah satu-satunya tempat yang bisa kita kunjungi jika ingin mendengarkan musik ketika sedang di bawah air bagi para penyelam, perenang, dan biota laut lainnya,” tambahnya.

Becker menjelaskan, selain menawarkan pengalaman yang tidak biasa untuk menyelam dan snorkeling, acara ini bertujuan untuk mempromosikan perlindungan terumbu karang.

"Kami mencoba untuk memberikan informasi kepada para penyelam untuk menyadari dampaknya terhadap terumbu karang, sehingga mereka bisa menjaganya dan karang ini bisa berada di sini untuk generasi mendatang," Ujar Becker.

Sejumlah musik yang dimainkan dalam konser ini adalah lagu-lagu seperti Octopus' s Garden dari The Beatles, soundtrack film Disney ‘The Little Mermaid’, dan soundtrack sebuah acara televisi Flipper.

Becker menambahkan, konser bawah laut ini dapat didengarkan sampai jarak 50 meter.

Salah seorang penyelam dari Munich, Jerman, Uli Clef, mengatakan bahwa dia sangat terkesan dengan warna dan ikan tropis yang hidup di bawah air.

"Saya telah melihat warna dari merah ke biru, dan bahkan nuansa matahari yang datang dari garis air. Semua ikan berwarna-warni dan terlihat sangat sempurna," kata Clef.

Yang unik dari konser ini yaitu ketika beberapa penyelam memakai berbagai macam jenis kostum dan berpura-pura memainkan alat musik yang diukir oleh seorang seniman asal Florida Keys,  August Powers. Mereka melakukan aksi yang unik seakan-akan sedang melakukan konser.

Konser ini diharapakan dapat memberi peyadaran kepada masyarakat betapa pentingnya menjaga dan melestarikan terumbu karang. Selain keindahannya dapat dinikmati, manfaatnya pun besar bagi lingkungan. (AH)

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini