medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Sushi Ancam Kepunahan Ikan Tuna

Published in Nasional
Selasa, 08 Juli 2014 08:03

Medialingkungan.com – Sesaat terlihat maraknya rumah makan ala jepang yang menyajikan menu sushi, menjadikan masyarakat di luar Jepang tidak perlu lagi berkunjung ke sana untuk merasakan nikmatnya maskan khas tersebut.

Berdasarkan grafik permintaan konsumen, kebanyakan bahan yang digunakan sebagai komposisi utamanyanya adalah ikan tuna sirip biru. Jenis terbesar ikan ini memiliki panjang lebih dari empat meter dengan bobot lebih dari setengah ton.

Data WWF mengindikasikan para peneliti berhasil mencatat peningkatan industri perikanan tuna longline di Indonesia pada tahun 1995, dari 402 kapal yang beroperasi di Samudera Hindia kemudian meningkat menjadi 435 kapal pada tahun 1996, disusul 459 kapal tahun 1997, 460 kapal tahun 1998, 485 kapal tahun 1999, dan 537 kapal tahun 2000.

Tanpa adanya studi perhitungan kapasitas daya dukung usaha perikanan tuna yang layak untuk setiap zona perikanan di Indonesia, maka peningkatan ini menjerumuskan pada situasi overfishing. Ditambah lagi dengan renggangnya kebijakan politik untuk mencegah overfishing.

Tuna sirip biru diambang kepunahan

Ada jenis tertentu dari tuna di Indonesia yang tengah mengalami masa kritis populasi. Masalah ini tak ayal menyedot perhatian semua pihak, tak hanya para penggiat lingkungan dan konsumen, tapi juga pejabat pengambil kebijakan, terutama pengusaha industri longline.

Konsumsi ikan Tuna, terutama ikan Tuna Sirip Biru (Tuna Bluefin) memang sangat populer bagi pencinta sushi. Jumlah ikan tuna muda yang ditangkap terus mengalami kenaikan. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap punahnya jenis ikan tersebut.

Studi terbaru oleh para ilmuwan perikanan menunjukkan bahwa spesies telah menurun secara signifikan melebihi 80 persen sejak tahun 1970. Meskipun ada upaya perlindungan degradasi spesies ini, namun populasinya terus alami penurunan.

Meskipun spesies ini terancam punah dan menjadi subjek perjanjian seluruh dunia untuk tidak mengambil secara berlebihan, ikan Tuna Sirip Biru masih saja disajikan di restoran sushi di seluruh dunia.

Mayoritas penggemar sushi bahkan bersedia membayar lebih untuk menyantap ikan gemuk ini. Banyak yang tidak mengetahui tentang status Tuna atau tidak percaya berdasarkan temuan ilmuwan yang mengatakan jumlah ikan Tuna Sirip Biru semakin sedikit. Ikan-ikan ini bahkan terancam punah.

Permintaan terhadap ikan ini ‘tidak’ akan menurun. Restoran enggan untuk menghapus spesies ini dari menu atau menaikkan harga untuk mengekang permintaan, yang artinya ikan Tuna Sirip Biru ini akan terus mengalami penangkapan yang berlebihan sampai populasinya menurun drastis.

Setelah populasi yang menurun drastis, moratorium pelarangan penangkapan ikan Tuna Sirip Biru diberlakukan untuk memungkinkan populasinya pulih. Bilapun demikian, pemulihan populasi ini akan memakan waktu puluhan tahun karena kematangan seksual ikan ini memiliki kebutuhan khusus dan bertelur dalam jumlah yang terbatas (dua pertiga tidak berhasil). 

Selain itu, tingkat radioaktif dan merkuri yang ada dalam ikan Tuna Sirip Biru juga dipertimbangkan dalam pembuahan yang maksimal. (MFA)

KKP Kembangkan Model Tambak Udang 'Eco-Culture Vaname Estate'

Published in Nasional
Kamis, 26 Juni 2014 17:50

Medialingkungan.com - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berkomitmen untuk menjadikan komoditi udang sebagai penghasil devisa terbesar di Indonesia. Setelah berhasil mengembangkan budidaya udang super intensif, kini model tambak udang Eco-Culture Vaname Estate, yaitu tambak udang ramah lingkungan bakal dikembangkan lebih jauh lagi.

Sistem yang akan dilakukan itu memadukan tambak teknologi super intensif dengan unit pembesaran, unit pengolahan air, unit pengolahan udang dan unit pendukung seperti gudang dan pemukiman petambak.

Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif Sutardjo mengatakan, sejalan dengan keberhasilan yang telah diraih selama ini, maka Indonesia dinilai telah mampu menguasai teknologi tambak udang Eco-Culture Vaname Estate.

Ia menerangkan, salah satu perencanaan strategis yang lahir dari penelitian ini adalah konsep pengembangan Eco-Culture Vaname Estate. Salah satu hasil penelitian pada kawasan dengan kriteria layak produksi udang Vaname yang telah dipanen sebanyak tiga kali yaitu pada pemeliharaan hari ke 70, 90 dan hari ke 105, katanya.

Penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau (BPPBAP). Bertempat di Desa Punaga, Mangarabombang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Akan menjumlah total produksi dari tiga kali panen dengan tiga petak kepadatan 750 ekor/m2; 1.000 ekor/m2; 1.250 ekor/m2diestimasi sebesar 37 ton udang Vaname, Ujarnya.

Kinerja ini tentu menjadi prospek cerah bagi dunia usaha akuakultur karena pada tambak ukuran 1000 m2 didapatkan produksi yang sangat besar nantinya, tambahnya. (AP)

 

World Oceans Day 2014: Peneliti Dunia Ungkap Wilayah Perairan Paling Tercemar di Dunia

Published in Internasional
Minggu, 08 Juni 2014 18:43

Medialingkungan.com – Dalam sebuah acara untuk meningkatkan kesadaran global mengenai ancaman terhadap lautan dan mempromosikan konservasi laut dalam memperingati Hari Laut Sedunia (World Oceans Day) yang jatuh pada hari ini, Minggu, 8 Juni.

Menurut World Wide Fund for Nature (WWF), lebih dari 80% pencemaran laut disebabkan oleh kegiatan berbasis lahan yang menyebabkan tumpahan minyak, pupuk dan limbah kimia beracun yang pembuangan limbahnya yang tidak teratasi.

Beberapa pencemaran air biasanya juga diawali polusi udara, yang mengendap ke saluran air dan lautan, menurut Layanan Kelautan Nasional Amerika Serikat.

Internasional Bisnis -Times UK merilis beberapa wilayah dengan kondisi perairan yang paling tercemar di dunia.

Samudera Atlantik - Zona Mati Teluk Meksiko 

Teluk Meksiko adalah cekungan di Samudera Atlantik, dikelilingi oleh pantai Teluk dari Amerika Serikat, Meksiko dan Kuba.

Zona kematian di sini adalah salah satu yang terbesar di dunia. Perairan ini dipenuh dengan nitrogen dan fosfor yang berasal dari negara-negara pertanian utama di Lembah Sungai Mississippi, termasuk Minnesota, Iowa, Illinois, Wisconsin, Missouri, Tennessee, Arkansas, Mississippi, dan Louisiana.

Kehadiran bahan kimia di perairan Teluk Meksiko ini mengakibatkan hipoksia  atau kadar oksigen yang rendah. Hipoksia ini penyebab ikan kerap mati dalam jumlah besar.

"Hipoksia di dasar perairan tertutup rata-rata 8.000-9.000 km2 di 1985-92, namun meningkat menjadi 16,000-20,000 km2 di 1993-1999," menurut National Oceanic and Atmospheric Administration.

 

Samudera Atlantik - Garbage Patch Atlantik Utara

Patch ini pertama kali didokumentasikan pada tahun 1972 dan seluruhnya terdiri dari sampah laut buatan manusia mengambang di Atlantik Utara pilin.

Para ilmuwan memperkirakan bahwa Garbage Patch Atlantik Utara memiliki ukuran ratusan Km2 dengan 200.000 potongan-potongan sampah per kilometer persegi di beberapa tempat.

 

Samudera Pasifik - Great Pacific Garbage Patch

Terletak di Samudra Pasifik bagian utara, dekat Pasifik Utara pilin, koleksi ini dari sampah laut sebagian besar terdiri dari plastik dan kimia lumpur.

Patch ini diyakini telah terbentuk secara bertahap sebagai pencemaran laut yang terbawa bersama-sama oleh arus laut.

Ukuran yang tepat dari patch sampai saat ini belum diketahui, namun diperkirakan antara 700.000 km persegi (270.000 mil persegi) sampai lebih dari 15 juta km2 (5,8 juta mil persegi). Karena puing-puing mengambang sebagian besar terdiri dari potongan-potongan mikroskopis dari plastik, dan tidak terlihat dapat dipantau dari luar angkasa.

The Great Pacific Garbage Patch mengumpulkan sampah laut dari Amerika Utara dan Asia, serta kapal bepergian yang melalui area tersebut.

Sampah dari pantai Amerika Utara membutuhkan waktu sekitar enam tahun untuk mencapai Great Pacific Garbage Patch, sementara detritus dari Jepang dan negara-negara Asia lainnya membutuhkan waktu sekitar satu tahun.

 

Samudra India

Sebuah patch sampah di Samudera Hindia ditemukan pada tahun 2010. Patch ini, terutama dibentuk oleh sampah plastik dan lumpur kimia. Patch ini merupakan sepertiga dari total sampah plastik lautan dunia.

Menurut Samudera Hindia Experiment (INDOEX), Samudra Hindia secara preventif tercemar oleh sampah plastik dan limbah kimia, yang menyebabkan hipoksia.

INDOEX telah mendokumentasikan polusi luas mencakup sekitar 10 juta km persegi (3,86 juta mil persegi).

Menurut para ilmuwan, siklon tropis yang menyebabkan sejumlah besar kematian sekitar Laut Arab (wilayah di Samudra Hindia bagian utara) menjadi semakin umum sebagai akibat dari polusi.

 

Laut Tengah

The Mediterranean mungkin adalah laut yang paling tercemar di dunia.

The United Nations Environment Programme memperkirakan bahwa 650.000.000 ton limbah, 129.000 ton minyak mineral, 60.000 ton merkuri, 3.800 ton timah dan 36.000 ton fosfat dibuang ke Laut Tengah setiap tahun.

Menurut Greenpeace, karena kondisinya yang sangat tertutup, maka secara alami, kawasan Mediterania membutuhkan lebih dari 100 tahun untuk dapat bersih dan kembali ke keadaan normal.

Karena tingginya tingkat polusi, banyak spesies laut yang terancam punah, di antaranya Mediterania Monk Seal, salah satu mamalia laut yang paling terancam punah di dunia.

 

Laut Baltik

Over-fishing, tumpahan minyak dan polusi dari daratan adalah ancaman yang tertinggi Laut Baltik yang terletak di antara Eropa Tengah dan Timur.

Setengah dari spesies ikan di Baltik berada di bawah tingkat bawah biologis kritis.

Karena hanya memiliki ruang yang sempit ke laut, yakni antara Swedia dan Denmark, maka menurut IBT, kondisi air pada wilayah tersebut akan memakan waktu 25-30 tahun untuk memulihkan dirinya.

Pihak berwenang kesehatan Finlandia telah memperingatkan bahwa memakan beberapa spesies di wilayah itu, sama artinya dengan memakan ikan mati.

 

Laut Karibia

Terletak di bagian utara Samudera Atlantik, Laut Karibia adalah salah satu daerah yang mengalami kerusakan paling serius oleh aktivitas manusia.

Menurut sebuah studi oleh Pusat Nasional untuk Analisis Ekologis dan Sintesis (NCEAS) mengatakan bahwa akibat tumpahan minyak, over-fishing, polusi dan perubahan iklim sehingga kehidupan laut mati.

Lebih lanjut ia memprediksi bahwa oyster dan rumput laut, mangrove, ikan-ikan serta karang lambat laun akan menghilang dalam kurun waktu yang dekat. (MFA)

Menteri Perikanan dan Kelautan Keluhkan Lemahnya Pengawasan Perairan Indonesia

Published in Nasional
Minggu, 08 Juni 2014 13:05

Medialingkungan.com - Sharif C Sutardjo, Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia  mengakui, sistem pengawasan dan pengendalian laut di perairan Indonesia tidak optimal, bahkan sangat lemah. Hal ini ditengarai karena anggaran operasional kapal pengawas lautan sangat minim.

Sharif memaparkan, dari sekitar 5,58 juta kilometer persegi wilayah laut Indonesia, hanya ada 27 kapal yang beroperasi untuk mengawasi seluruh wilayah tersebut. 

"Yang lebih menyedihkan lagi, anggaran operasional untuk pengawasan (kendali) laut kita dari tahun ke tahun terus menurun. Kalau sebelumnya masih bisa 200 hari dari 365 hari dalam setahun, sekarang hanya untuk 120 hari saja," kata dia pada Antara di Malang, Jawa Timur, Minggu (08/06). 

Bahkan yang lebih menyedihkan lagi, sambungnya, untuk mengawasi kawasan Zona Eksklusif Ekonomi hanya ada tujuh buah kapal.

Lebih lanjut ia jelaskan, anggaran di sektor kelautan dan perikanan sampai saat ini terlalu fokus pada biaya bantuan untuk para nelayan, baik bantuan berupa pelatihan-pelatihan maupun peralatan penangkapan ikan.

Menyikapi hal ini, kata dia, pemerintah Prancis memberi bantuan alat deteksi keberadaan kapal legal maupun ilegal yang berlayar di wilayah laut Indonesia, yang ditempatkan di kawasan perairan Bali.

Sekarang pemerintah juga sedang merintis kerja sama dengan China berupa bantuan pesawat yang mampu memotret dari ketinggian 10-20 meter di atas laut guna memonitoring illegal fishing yang kerap menimbulkan kerusakan pada ekosistem laut, utamanya terumbu karang. (MFA)

MSDC Ajak Warga Buat Komitmen Merawat Karang Pada World Coral Triangle Day 2014

Published in Event & Komunitas
Minggu, 08 Juni 2014 11:31

Medialingkungan.com - Memperingati Hari Lautan Sedunia yang jatuh setiap tanggal 8 juni, Marine Science Diving Club (MSDC) Universitas Hasanuddin melakukan campaign di sekitar Anjungan Pantai Losari untuk membuat komitmen bersama masyarakat yang ditandai dengan pengumpulan tandatangan di atas spanduk yang menyerukan pentingnya menjaga ekosistem laut, khususnya terumbu karang (coral).

Ketua panitia, Asri Febriawan Amansyah mengatakan, kampanye ini bertujuan untuk menginformasikan ke publik tentang kerusakan terumbu karang saat ini sekaligus memberikan proyeksi tentang potensi kelautan yang sangat besar. Ia menekankan agar pengelolaan laut harus sesuai dengan kaidah sustainable development.

“Kampanye ini akan memberikan masyarakat gambaran kerusakan coral saat ini, kemudian kita juga ingin memberi tahu bahwa potensi kelautan Indonesia sangat besar, sehingga harus kita kelola dengan baik dan berkelanjutan,” ujar Ketua Panitia yang akrab disapa Asri ini.

Kampanye yang dimulai sejak pukul 07.00 – 10.00 WITA ini, tak ayal menyedot perhatian masyarakat, khususnya di jalur car free day (CFD). Pasalnya, beberapa orang dari aktivis lingkungan ini menggunakan kostum yang terbuat dari kardus yang bertuliskan testimoni tentang perkembangan kondisi terumbu karang saat ini.

Salah satu kostum itu bertuliskan fakta-fakta tentang kondisi aktual terumbu karang. Dikatakan sekitar 75 persen spesies coral dunia terdapat di perairan Raja Ampat, Maluku Utara, Indonesia.

Diprediksikan, jika kerusakan coral terus meningkat, maka 70 persen spesies coral dunia akan lenyap pada tahun 2050.

Salah satu aktivis yang tergabung dalam aksi ini, Ulil Amri mengatakan, sekalipun terumbu karang hanya meliputi sekitar 15 persen dari permukaan bumi, namun sekitar 25 persen dari semua spesies ikan di bumi memiliki habitat di terumbu karang tersebut.

“Total terumbu karang di bumi meliputi 15 persen permukaannya dan 25 persen total ikan di bumi tinggal disana,” ungkap Ulil.

Menanggapi perubahan iklim, Ulil mengatakan, perubahan iklim memberikan dampak begitu besar terhadap coral. Pasalnya, batas toleransi suhu terumbu karang berkisar 30-31 derajat celcius, karena zooxanthela pada struktur tubuh terumbu karang dapat mati. Jika demikian, maka tidak ada lagi yang menyuplai makanan ke terumbu karang dan mengakibatkan pemutihan karang (bleaching) lalu mati.

Salah satu pengunjung yang memeberikan tanda tangannya sebagai bentuk komitmen perlindungan coral di Indonesia, Malik (47) berkomentar, “Sangat baik sekali kampanye ini, terumbu karang merupakan nyawa dari pesisir laut. Sejauh ini, pemerintah masih mengabaikan hal ini, padahal investasi di sektor kelautan dan perikanan sangat besar potensinya.”

Setelah tanda tangan pada spanduk terisi penuh, mereka kemudian konvoi di sekitar Anjungan Pantai Losari sebagai bentuk ajakan kepada masyarakat yang belum sempat memberikan tanda tangan sebagai komitmen merawat SDA pesisir.

 

Asri juga mengemukakan bahwa kegiatan ini akan berlangsung hingga tanggal 10 Juni. Rangakain kegiatan ini akan diteruskan dengan kuliah umum di Aula Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin pada hari Senin (09/06), kemudian akan dilanjutkan di Pulau Pajenekang, Kabupaten Pangkep, pada hari Selasa 10 juni mendatang.

Disana, tambah Asri, “kami akan melakukan penyelaman bersama, underwater clean up, dan beach clean up. Selain itu, kami juga akan mengadakan games, lomba mewarnai, nonton bareng, dan pembagian buku untuk warga Pulau Pajenekang." (MFA)

Dongkrak Ekspor Ikan, KKP Janji Fasilitasi Sertifikat MSC

Published in Nasional
Rabu, 04 Juni 2014 10:31

Medialingkungan.com – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Indonesia telah melakukan kerjasama dengan World Wild Fund (WWF) dalam rangka memfasilitasi proses mendapatkan sertifikat The Marine stewardship Council (MSC) untuk komoditi perikanan.

Sekretaris Jenderal KKP Syarif Wijaya mengatakan, saat ini pihaknya telah bekerja sama dengan WWF guna mendongkrak pasar ekspor bagi industri perikanan nasional. Kamoditi perikanan yang diprioritaskan yang dimaksud antara lain, tuna mata besar, tuna sirip kuning, cakalang, kerapu, kakap merah, dan rajungan.

Untuk mendapatkan sertifikat MSC, katanya, perusahaan dan nelayan harus melalui proses pengujian yang sangat ketat. Pasalnya, sertifikasi ini sekaligus untuk program perbaikan sektor perikanan secara berkesinambungan.

“Kami terus mendorong perusahaan bersama nelayan mengikuti program sertifikasi itu,” katanya pada pertengahan bulan lalu (05/14).

Sekretaris Jenderal Serikat Nelayan Indonesia (SNI), Budi Laksana menilai, pembangunan di sektor kelautan dan perikanan selama ini belum membuahkan hasil memuaskan.

Ia mengatakan, tidak sedikit program-program yang dilakukan pemerintah guna meningkatkan taraf hidup nelayan.  Akan tetapi, hal ini tidak tampak di lapangan.

“Para nelayan tradisional pada kenyataannya masih terpinggirkan. Hal ini ditandai makin derasnya ikan impor yang masuk ke Indonesia seperti dari Vietnam dan Thailand,” katanya.

Budi lebih lanjut menjelaskan, kurangnya tempat pelelangan ikan (TPI) sebagai akses transaksi nelayan selama ini dinilai belum optimal. Sehingga, para nelayan masih mengandalkan tengkulak dalam menjual hasil produksinya.

Kondisi ini, lanjut dia, diperparah dengan sulitnya nelayan mengakses permodalan di perbankan, terutama bagi kapal nelayan di bawah 10 GT.

“Kami harap pemerintah membangun infrastruktur dasar seperti akses mudah diperbankan, tempat pelelangan ikan, dan microfinance berbasis komunitas nelayan. Sehingga hal ini diharapkan mampu menumbuhkan kesejahteraan nelayan,” tegasnya. 

Kendati demikian, KKP mengklaim, apabila potensi itu bisa diptimalkan, maka pendapatan yang diperoleh negara bisa mencapai US$1,2 triliun per tahun.Potensi ini lebih besar dibandingkan produk domestik bruto (PDB) nasional yang mencapai US$ 1 triliun.(MFA)

Halaman 3 dari 3

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini