medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com
medialingkungan.com
www.yoursite.com
Pasang Iklan Baris disni info@medialingkungan.com

Anjing Laut Leopard Antartika Muncul di Australia

Published in Internasional
Selasa, 07 November 2017 20:58

Medialingkungan.com - Sejumlah anjing laut dari Leopard Antartika terlihat di berbagai wilayah Australia. Shona Lorigan dari Organisation for the Rescue and Research of Cetaceans in Australia (ORRCA) mengatakan bahwa mereka telah melacak penampakan anjing laut tersebut di Pantai New South Wales tahun ini.

“Tim telah pergi ke sejumlah wilayah yang tercatat ada penampakan anjing laut dan kami telah mampu mengidentifikasi tujuh inividu yang berbeda di New South Wales dan mereka juga sudah ada sejak beberapa bulan lalu, salah satunya bahkan telah ada sejak 10 Agustus.” kata Shona Lorigan dilansir dari Australian Broadcasting Corporation.

Seorang ahli biologi kelautan, Sam Thalmann menuturkan ada tiga sampai lima anjing laut macan tutul yang tertangkap mata berada di Tasmania sepanjang tahun.

“Tahun ini kami telah melihat lebih dari 10 individu selama tiga setengah sampai empat bulan terakhir.” kata Sam Thalmann

Anjing laut yang terlihat di Tasmania biasanya masih berusia remaja, umur yang belum cukup untuk berkembang biak.

“Di tahun-tahun muda mereka, saat mereka menemukan jangkauan mereka, mereka bisa menyebar jauh, lebih jauh daripada umur dewasa” lanjut Thalmann

Jika dikatakan ada lebih banyak predator Antartika tahun ini, namun Thalmann mengatakan lonjakan seperti itu terjadi setiap tujuh tahun sekali.

“Ada sedikit pengaruh yang berpotensi yaitu perbedaan sea-ice levels di antartika,” Katanya

Beberapa anjing laut telah didokumentasikan oleh Departemen Lingkungan Tasmania. Selain itu, para ahli juga mengumpulkan kotoran anjing laut untuk memantau kebiasan makan semua anjing laut itu. (Khalid Muhammad)

Australia Naikkan Pengeluaran Untuk Selamatkan Great Barrier Reef

Published in Internasional
Senin, 05 Desember 2016 16:32

Medialingkungan.com - Sebuah laporan untuk UNESCO menunjukkan sekitar 1.3 Triliun Dollar Australia (atau sekitar Rp 13.000 Trilliun) akan dihabiskan Australia lima tahun ke depan dalam upaya meningkatkan kualitas air dan kelestarian terumbu karang Great Barrier Reef yang merupakan Situs Warisan Dunia oleh PBB.

Menteri Lingkungan dan Energi Australia, Josh Frydenberg seperti yang dikutip dari Reuters mengatakan bahwa berdasarkan laporan ini, Australia diharapkan dapat keluar dari daftar "bahaya" dalam pengawasan UNESCO.

Aktivis lingkungan percaya bahwa terumbu karang itu membutuhkan investasi lebih dari sekedar uang dari pemerintah berupa tindakan yang lebih konkret dalam melindungi salah satu terumbu karang terbesar didunia itu.

"Tidak dapat diterima bahwa pemerintah sekarang ini hanya memberi selamat sendiri atas penanganan kesehatan terumbu karang selama periode yang sama tanpa menjanjikan perbaikan yang berarti," kata Shani Tager, Reef Campaigner dari Greenpeace Australia.

Ilmuwan iklim berpendapat bahwa peningkatan karbon dioksida di atmosfer menyebabkan panas yang memancar dari bumi terperangkap, menciptakan pemanasan global dan merusak karang.

Australia adalah salah satu penghasil emisi karbon terbesar per kapita karena ketergantungannya pada pembangkit listrik berbahan bakar batubara.

Awal pekan ini, ilmuwan Australia mengatakan dua-pertiga dari 700 kilometer (atau 435 mil) Great Barrier Reef telah mati dalam sembilan bulan terakhir, yang merupakan kematian terburuk yang pernah tercatat di situs Warisan Dunia.

Kerusakan Great Barrier Reef yang terletak di lepas pantai timur utara Negara itu akan memalukan bagi pemerintah Australia dan dapat merusak industri pariwisata yang menguntungkan negara itu. (Mirawati)

Susi Pudjiastuti Ajak Nelayan Gunakan Alat Tangkap Ikan Ramah Lingkungan

Published in Nasional
Selasa, 06 September 2016 16:17

Medialingkungan.com - Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti didampingi Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo melakukan kunjungan kerja di Desa Kedung Malang, Kecamatan Kedung, Jepara, Jawa Tengah, pada Senin (05/09). Susi mengajak nelayan untuk mengganti alat tangkap dengan yang ramah lingkungan untuk mendorong kualitas produk perikanan.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengungkapkan untuk menjaga populasi ikan selain menggunakan alat tangkap ramah lingkungan, keberadaan pohon bakau juga tidak kalah penting. Selain bisa untuk menanggulangi abrasi, akar pohon bakau dapat dijadikan tempat ikan bertelur.

“Kalau diberi bantuan satu juta pohon bakau, masyarakat harus siap menanam. Jangan pohonnya datang, masyarakatnya malah pergi. Karena pohon bakau juga penting,” tandas Susi, seperti yang dilansir metrotvnews.com.

Untuk itu, pihaknya berupaya membantu memecahkan berbagai problem yang dihadapi para nelayan di pesisir jepara, menyusul kebijakan relokasi nelayan Pantura untuk memaksimalkan Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP)  711 yakni perairan Natuna.

"Pemerintah tahun ini dan tahun depan mulai kasih bantuan pada koperasi-koperasi nelayan. Saya juga tahu masyarakat Jepara selain tambak garam dan nelayan, punya kerajinan tangan yang sangat tinggi nilainya, kita akan coba bantu ke kementerian lain yang terkait," ungkap Susi.

Dalam kesempatan itu pula,  Susi memberikan bantuan berupa alat tangkap ramah lingkungan yakni Gilnet Millenium kepada 12 nelayan dan juga diserahkan 16 Surat Ijin Penangkapan Ikan (SIPI) baru dan tiga Surat Ijin Penangkapan Ikan (SIUP) secara simbolis. (Gede Tragya)

Selamatkan Lautan dengan Pelarangan Mikroplastik dalam Kosmetik

Published in Internasional
Kamis, 25 Agustus 2016 19:13

Medialingkungan.com - Butiran mikroplastik khususnya banyak ditemukan di produk untuk peeling wajah. Gunanya agar wajah lebih bersih dan bisa menghilangkan sisik-sisik pada kulit yang tidak diinginkan. Butiran plastik ini lunak dan juga dicampurkan pada pasta gigi. Karena mikroplastik mampu membersihkan tanpa menyerang email gigi. Selain itu mikroplastik juga bisa ditemukan pada lipstik, maskara, dan alas bedak.

Anggota komite audit lingkungan Inggris telah menyerukan larangan dalam waktu 18 bulan setelah mendengar bahwa triliunan potongan-potongan kecil dari plastik terakumulasi di laut, danau dan muara sungai di seluruh dunia, merugikan kehidupan laut bahkan memasuki rantai makanan. 

"Kita perlu dukungan penuh, larangan hukum, sebaiknya di tingkat internasional. Karena polusi tidak mengenal perbatasan. Cara terbaik untuk mengurangi polusi ini adalah mencegah plastik dibuang  di tempat pertama sebelum berakhir di  laut,"  ujar  Mary Creagh Ketua panitia audit.

Seperti yang diberitakan Guardian.com, banyak perusahaan kosmetik besar yang telah berkomitmen secara sukarela untuk meninggalkan microbeads tahun 2020. Namun panitia audit meminta agar larangan skala nasional sebaiknya dimulai dalam waktu 18 bulan,  sehingga memiliki keuntungan bagi konsumen dan industri dalam hal konsistensi, universalitas dan kepercayaan diri.

Microbeads adalah bagian dari masalah yang lebih luas dari microplastics. Ukurannya yang kecil berarti bahwa mereka dapat dicerna oleh kehidupan laut dan memiliki potensi untuk mentransfer bahan kimia ke dan dari lingkungan laut.

Jika seseorang makan enam tiram, kemungkinan mereka akan makan 50 partikel microplastics. Penelitian yang relatif kecil telah dilakukan pada dampak potensial terhadap kesehatan manusia atau ekologi laut.

Sebagian besar plastik yang berada di  lautan adalah potongan besar dari puing-puing (misalnya peralatan memancing, botol dan kantong plastik). Namun, jenis yang dominan dari puing-puing tersebut  berkuantitas microplastics, diperkirakan partikel microplastic 15-51tn telah terakumulasi di laut, dan di garis pantai di seluruh dunia. Mereka juga hadir di lokasi terpencil termasuk  dasar laut dan pada es di laut Arktik.

Richard Thompson, direktur unit penelitian sampah laut internasional di Plymouth University, mengatakan "Microbeads dalam kosmetik merupakan sumber yang dihindari dari microplastic, untuk itu dibentuknya undang-undang akan menjadi langkah awal."

Tamara Galloway, di University of Exeter, setuju. "Polusi dari microbeads adalah masalah yang benar-benar global," katanya. "Arus dapat membawa polusi di lautan itu ke negara-negara jarak jauh dari mana mereka awalnya dirilis. Idealnya, undang-undang untuk mengendalikan mereka harus pada tingkat internasional." {Mirawati}

Pulau Kapoposan Dan Surga Bawah Laut Selat Makassar

Published in Ekowista & Traveling
Jumat, 04 Maret 2016 16:21

Medialingkungan.com - Panorama bahari Indonesia sudah lama menjadi buah bibir di kalangan wisatawan. Bagi yang menyenangi wisata bahari, Sulawesi Selatan dapat Anda jadikan sebagai lokasi tujuan Anda selanjutnya. Salah satu tempat yang menyuguhkan pemandangan bawah laut yang eksotik di Provinsi ini adalah Pulau Kapoposang.

Pulau Kapoposang merupakan salah satu pulau spermonde yang ada di Selat Makassar. Tepatnya berada dalam wilayah Kecamatan Liukang Tuppabiring, Kabupaten Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan.

Dengan jarak sekitar 68 kilometer dari Kota Makassar, pulau ini dapat ditempuh dari Dermaga POPSA dengan speed boat sewaan, dari Pelabuhan Paotere dengan kapal kayu milik nelayan, dari Dermaga Kalibone di Kabupaten Maros atau Dermaga Tonasa di Kabupaten Pangkep.

Di pulau berpenghuni ini, Anda akan dijamu dengan pemandangan hamparan pasir putih sekitar pantai, lambaian teduhnya pepohonan serta kejernihan air laut yang membuat Anda bisa menikmati batu karang tanpa harus menyelam. Panorama sunrise dan sunset juga hal yang tidak boleh Anda lewatkan.

Bagi pecinta diving dan snorkling, pulau ini sangat cocok dengan Anda karena ditawarkan beberapa titik penyelaman yang masing-masing memberikan keindahan tersendiri.

Salah satunya di turtle point, Anda bisa mengamati aktivitas dan berfoto dengan penyu sisik, namun tidak diperbolehkan mengganggu penyu yang sedang bertelur ataupun mengusik biota laut lainnya. Pasalnya pulau ini sudah ditetapkan menjadi Kawasan Konservasi Taman Wisata Perairan Kepulauan Kapoposang.

Di bawah laut, Anda juga akan disambut oleh kawanan ikan dengan jenis dan warna yang berbeda serta berbagai koral dan terumbu karang yang indah nan sehat. Indahnya bawah laut dapat Anda eksplor dengan alat-alat penyelaman yang diatur oleh dive operator yang berada di kota Makassar.

Jika Anda berniat menikmati pesona pulau ini dalam beberapa hari, maka tidak perlu khawatir karena di pulau ini telah tersedia resort serta fasilitas olahraga milik pengusaha swasta dan juga beberapa home stay yang dikelola masyarakat.

Sayangnya di pulau ini sangat sulit menemukan jaringan ponsel. Tapi dengan keterbatasan tersebut membuat Anda akan lebih menikmati liburan Anda di Tempat ini. {Zidny Rezky}

1. Sunrise di salah satu spot Pulau kapoposang (Gambar: Felicia Noviana)

2. Eksotisme surga bawah laut kapoposang (Gambar: Anekawisatanuantara)

Indonesia Tetapkan LIPI Sebagai Wali Data Ekosistem Karang dan Lamun

Published in Nasional
Rabu, 10 Februari 2016 19:39

Medialingkungan.com – Pemerintah Indonesia melalui Keputusan Kepala Badan Informasi Geospasial No. 54 tahun 2015, menetapkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai Wali Data untuk bidang Ekosistem Terumbu Karang dan Padang Lamun.

Melalui siaran pers, Rabu (10/2), Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian (IPK) LIPI, Dr. Zainal Arifin, menjelaskan bahwa banyak manfaat yang dapat diperoleh dari terumbu karang dan padang lamun seperti pembersih air laut, perekam iklim masa lalu dan peredam pemanasan global.

“Terumbu karang juga memiliki manfaat langsung bagi kehidupan manusia yaitu sebagai gudang bahan makanan, bahan obat-obatan, penyedia bahan bangunan, pelindung pantai dari hempasan ombak, mempunyai nilai estetika tinggi sebagai daya tarik wisata, diperdagangkan sebagai hiasan akuarium dan pendidikan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala LIPI, Prof. Dr. Iskandar Zulkarnain mengungkapkan walaupun banyak institusi pemerintahan atau swasta yang bergerak pada sektor maritim namun data dan informasi terkait sektor tersebut masih sangat sedikit.

“Khusus untuk kelautan, LIPI memiliki Pusat Penelitian (Puslit) Oseanografi yang berdiri sejak tahun 1905. Selama 111 tahun telah melakukan riset dan menyimpan data kemaritiman, salah satunya terkait dengan terumbu karang (coral reefs) dan padang lamun (seagrass beds),” imbuhnya.

Kepala Pusat Penelitian (Puslit) Oseanografi LIPI, Dr. Dirhamsyah, MA menuturkan, Puslit Oseanografi LIPI telah memiliki pengalaman yang cukup panjang dan terlibat intesif dalam beberapa kegiatan pengelolaan ekosistem pesisir, seperti ekosistem terumbu karang sejak tahun 1993 yang lalu hingga saat ini.

“Informasi tentang status dan kondisi biota dan ekosistemnya tersebut harus disampaikan kepada masyarakat secara periodik,” tambahnya.

Dia juga menambahkan kondisi terumbu karang Indonesia secara umum telah mengalami perbaikan terutama dari kondisi terumbu karang yang jelek menjadi sedang dan dari kondisi sedang menjadi lebih baik.

Dia berharap dengan data dan informasi yang dimiliki, LIPI dapat berkontribusi dalam pembangunan di sektor maritim Indonesia.

Berdasarkan hasil temuan LIPI, status kondisi terumbu karang pada tahun 2015 yang diambil dari 93 daerah dan 1259 lokasi adalah 5 persen dalam kondisi sangat baik, 27,01 persen,dalam kondisi baik, 37,97 dalam kondisi sedang dan 30,02 dalam kondisi buruk.

Berbeda dengan terumbu karang, LIPI mengestimasi padang lamun Indonesia memiliki luasan 3 juta hektar. Dan hingga saat ini hanya seluas 25.742 hektar yang telah divalidasi oleh Puslit Oseanografi dari 29 lokasi.

Kondisi padang lamun di Indonesia didasarkan pada prosentase tutupan lamun dari 37 lokasi sampling, 5 lokasi berada pada kondisi tidak sehat/buruk, 27 pada kondisi kurang sehat dan 5 lokasi pada kondisi sehat. (Irlan)

Pemprov Maluku Gagas Gerakan Cinta Laut

Published in Nasional
Sabtu, 03 Oktober 2015 14:33

Medialingkungan.com – Indahnya laut biru di Maluku serta potensi sumber daya perikanan dan kelautan yang sangat tinggi membuat Pemerintah Provinsi Maluku Utara rencanakan Gerakan Cinta Laut dalam upaya mitigasi bencana dan siap beradaptasi pada perunbahan iklim.

Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Maluku Utara, Buyung Rajilun mengungkapkan Gerakan Cinta Laut merupakan langkah pemerintah mengkampanyekan pentingnya mengelola dan memanfaatkan sumber daya laut.

Gerakan cinta laut ini untuk mengajak masyarakat dalam menjaga kelestarian ekosistem laut, tambahnya.  

“Kami juga berharap, dengan Gerakan Cinta Laut, muncul kesadaran menjaga laut. Apalagi, di Maluku Utara, hampir semua wilayahnya merupakan laut,” ujar Buyung, Sabtu (03/10), sperti yang dilansir Tempo.

Menurutnya, berdasarkan data statistik, Maluku merupakan provinsi yang memiliki potensi sumber daya perikanan dan kelautan sangat tinggi. Setidaknya tercatat potensi perikanan tangkap di Maluku utara lebih dari 100 ribu ton per tahun. Itu belum termasuk potensi perikanan lainnya, seperti rumput laut, mutiara, dan wisata laut dll.

“Oleh sebab itu, sudah semestinya kita menjaga dan memanfaatkannya dengan baik,” ucapnya.

Sementara itu, Direktur Forum Studi Halmahera, Aisyah Bafaqi menyatakan gerakan kampanye pelestarian ekosistem laut memang harus dilakukan. Gerakan Cinta Laut yang digagas oleh Pemerintah Provinsi bisa menjadi terobosan yang baik untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga laut.

“Yang perlu ditekankan dalam Gerakan Cinta Laut itu mesti berlanjut dengan jangka panjang, jangan sampai hanya bersifat sementara saja,” ujarnya. (Angga Pratama)

Walhi Bali Protes ke Bupati Lotim Atas Penerbitan Izin Penambangan Pasir Laut

Published in Nasional
Rabu, 26 Agustus 2015 11:55

Medialingkungan.com – Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Bali kirimkan surat ke Bupati Lombok Timur (Lotim), Nusa Tenggara Barat (NTB), Moch. Ali Bin Dachlan terkait pemberian izin prinsip penambangan pasir laut. Pemberian izin yang dilakukan Bupati Lotim diyakini Walhi hanya untuk melengkapi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) yang berencana reklamasi di Teluk Benoa, Bali yang seluas 700 ha.

Surat protes tersebut pada Bupati Lotim tertanggal 14 Agustus ini ditembuskan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Menteri Kelautan dan Perikanan (KPP), Gubernur NTB, dan tiga instansi terkait lainnya.

Izin prinsip tertanggal 31 Januari 2015 itu dinilai menyalahi aturan karena pemerintah kabupaten tak lagi punya hak menerbitkan izin terkait pemanfaatan kawasan laut dan kini beralih ke pemerintah provinsi sesuai UU No.23/2014 tentang Pemerintah Daerah (Pemda).

“Walhi memandang (penerbitan izin) melampaui kewenangannya karena sejak Oktober 2014 bupati tak punya kewenangan menerbitkan izin pemanfaatan kawasan laut, dari jarak 0-12 mil kewenangannya provinsi,” ujar Direktur Walhi Bali, Suriadi Darmoko, seperti yang dilansir mongabay, Rabu (26/08).

Pasal 27 ayat 3 UU No.23/2014 menyebutkan kewenangan daerah provinsi untuk mengelola sumber daya alam di laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling jauh 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau ke arah perairan kepulauan.

Tidak hanya itu, Darmoko kritisi penerbitan surat izin prinsip Nomor: 473/ 503/PPT.I/2015 oleh Moch. Ali Bin Dachlan ini tak mencantumkan landasan hukumnya, dan hanya berdasar surat permintaan pemohon.

“Semestinya landasan hukumnya dicantumkan untuk memperjelas pertimbangan dalam pemberian izin,” tambahnya.

Selain itu, Walhi menyebut maksud dan tujuan penerbitan izin ini kabur, pada judul perihal izin prinsip, tapi dalam tubuh surat bupati menyatakan ini rekomendasi. “Ini izin prinsip atau rekomendasi? Kalau rekomendasi siapa yang minta? Biasanya atas permintaan atasan, tapi Gubernur NTB kan menolak penambangan pasir ini,” ujarnya.

“Kami memandang cacat hukum dan minta bupati mencabut izin prinsip yang dikeluarkan. Mendesak Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menghentikan proses kajian Amdal,” serunya.

Dilain hal, menurut Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti mengungkapkan “Saya tidak tahu menahu persoalan itu. Kan yang berwenang dalam hal tersebut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan”.

Melihat kondisi ini, Susi mengatakan dampak yang akan menimbulkan begitu besar dan sangat berisiko bagi hazard ekosistem yang berada disekitar Telik Benoa. (Angga Pratama)

Eksploitasi Besar-besaran, Ikan Tuna Terancam Kolaps

Published in Nasional
Selasa, 11 Agustus 2015 12:39

Medialingkungan.com – Aktivis Greenpeace Indonesia, Adhonian Canarisla bersama kru Kapal Rainbow Warrior berlayar arungi lautan pasifik untuk membawa pesan tegas kepada industri perikanan tuna dunia. Rantai industri tuna banyak yang berjalan lepas kendali, sejumlah aliran uang yang sangat besar dengan permintaan tinggi dari berbagai belahan dunia memicu eksploitasi tuna melebihi batas-batas kelestarian.

Eksploitasi besar-besaran yang terjadi mengakibatkan stok jenis ikan tuna terancam kolaps. Akibat yang ditimbulkan yakni, terjadinya perbudakan di laut, penangkapan yang berlebihan, dan penggunaan alat tangkap yang merusak lingkungan sekitar.

Saat ini Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Greenpeace Indonesia meluncurkan 5 video testimoni sejumlah ABK termasuk asal Indonesia yang menguak kekejaman di atas kapal perikanan tuna. “Masyarakat mesti nonton video tersebut dan menyebarluaskannya ke seluruh mata dunia agar kalian tahu betapa ngerinya tragedy yang terjadi di industri perikanan tuna,” kata Aktivis Greenpeace Indonesia, Adhonian.

Pasifik adalah lautan yang luas. “Kami tidak tahu pasti kapan dan apa saja yang yang bisa kami temukan di lautan sana, tetapi kami akan mengabarkan ketika menemukan apapun yang ingin kita saksikan dan ekspos bersama.,” ucapnya.

Dia menegaskan, perubahan mendasar penting segera terjadi dengan bagaimana tuna ditangkap  di lautan sekaligus memastikan ikan tuna yang kita makan ditangkap dengan cara yang baik dan bertanggungjawab serta bebas dari praktek perbudakan.

Jika kita terus bersuara dan bergerak bersama, kita bisa mendesakkan perubahan bagi perikanan tuna dunia, katanya. (Angga Pratama)

Pusaran Sampah Lautan Terbesar Dunia Berada di Great Pacific Garbage Patch

Published in Internasional
Sabtu, 08 Agustus 2015 18:55

Medialingkungan.com – Sampah selalu menjadi problem buat manusia, dan sampah juga menjadi persoalan kesehatan dan ekonomi. Sampah tidak hanya di darat ditemukan, namun di laut sampah juga bertebaran. Menurut press rilis Journal Science menyatakan, diperkirakan 8 juta ton sampah dialirkan ke laut tiap tahunnya.

Great Pacific Garbage Patch disebut menjadi wilayah dengan kandungan sampah dan limbah terbesar di dunia yang berada di tengah Samudera Pasifik Utara, tepatnya berada di dekat Jepang untuk Garbage Patch Barat dan diantara California-Hawaii untuk Garbage Patch Timur.

Ilmuan dunia menguyngkapkan, Great Pacific Garbage Patch menjadi lokasi pusaran sampah di lautan terbesar dunia.

Sebagian besar sampah merupakan limbah plastik yang tidak bisa terurai hanya berbentuk semakin kecil dan semakin kecil lalu menggumpal seperti awan mendung di bawah laut bercampur dengan sampah-sampah besar mulai dari monitor komputer, sepatu dan bangkai.

Banyaknya kandungan sampah yang terperangkap membahayakan ekosistem laut disana, banyaknya hewan mati atau terinfeksi dan limbah lautan.

Dari area dengan arus memutar searah jarum jam seluas 20 juta kilometer persegi itu, setiap 1 kilometer persegi mengandung 750.000 bit mikroplastik yang tidak bisa terurai. Fakta tersebut sungguh mengerikan, dimana kini ditemukan beberapa lokasi pusaran sampah di lautan lainnya yang tentu saja membahayakan bagi biota laut. (Angga Pratama)

Halaman 1 dari 7

Berita Terbaru

Dibaca Terbanyak

Opini

QR Code
Copy/Share link halaman ini